Published Jumat, Februari 05, 2016 by

Apapun itu.

Sekiranya sekitar seminggu ini, ketika aku sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal kuliah dan kegiatan lain, tanpa aku sadari aku mulai mempelajari sesuatu. Ya, sesuatu yang belum tentu orang lain dapat memahami dan menerimanya. Sesuatu yang mungkin, semua orang tidak akan ingin mengalaminya. Sesuatu yang mungkin tampak begitu menyakitkan, namun Insya Allah dapat membuat orang yang merasakannya menjadi lebih kuat.

Kalian tahu? Seminggu ini aku baru mempelajari tentang penyakit lupus. Ya, sebuah penyakit autoimun, atau penyakit dimana sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang itu menyerang tubuhnya sendiri. Antibodi yang seharusnya melindungi tubuh dari bakteri, virus, atau yang lainnya justru menjadi error atau salah respon. Dan yang aku tahu, menurut seorang professor, penyebab dan obat dari penyakit ini belum diketahui dan masih dalam tahap penelitian. Sebenarnya autoimun sendiri bukan cuma lupus. Ada yang rematoid artritis (yang menyerang tulang dan sendi), scleroderma, diabetes tipe 1, syndrome sjorgen, anti pospolipid syndrome (darah cendurung mengental), ITP (menyerang trombosit), dan lain sebagainya.

Odapus (orang yang menderita lupus) biasanya benar-benar tidak bisa terkena paparan sinar matahari secara langsung dan terlalu lama, menderita kelelahan fisik, stress, berada di lingkungan yang salah, dan kedinginan. Kalau saja mereka mengalami salah satu dari itu, maka lupus itu pun langsung menyerang tulang dan sendi, sehingga rasanya linu sekali. Tidak hanya itu, lupus ini pun dapat menyerang jantung (aritmia), saraf (neuropati), dan hemiparese (lebih dominan tubuh bagian kanan). Ada pula beberapa yang timbul lebam-lebam di badan, pingsan (seperti koma), dan kejang-kejang. Kejang-kejang itu sendiri pun ada beberapa jenisnya, seperti tiba-tiba saja bengong atau blank, kejat-kejat (ini yang biasanya kita tahu), gemeretak giginya, dan ada juga yang seperti kesurupan.

Setiap odapus pun memiliki gejala yang berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Selain itu, hormon pun dapat menjadi pemicu kambuhnya penyakit lupus ini. Jadi, saat odapus mengalami masa-masa haid, maka lupus ini pun bisa bangkit kembali. Odapus menjadi moody-an, mudah sedih, mudah marah, atau tiba-tiba senang. Sel-sel yang muncul saat sedih, marah, atau terlalu exciting pun dapat menjadi salah satu pemicu kambuhnya si lupus ini. Odapus sendiri pun tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka mengalami hal-hal tersebut.

Ya, genetika seorang odapus sedang diteliti, namun memang tidak semudah kita mencari tahu tentang penyakit jantung maupun diabetes yang lebih mudah ditelusuri. Lalu, kalau kanker kan yang menyerang sel-sel itu sendiri  ya, sehingga dibutuhkannya peningkatan dari imunitas. Nah, kalau lupus ini justru imunitasnya harus ditekan, dan gejalanya pun menyerupai penyakit lain, jadi benar-benar tidak mudah untuk mendeteksinya. Sedihnya itu, lupus bisa membuat odapus menjadi benar-benar down. Ada yang sampai mengalami kebutaan, lumpuh, menyerang jantung, ginjal, kulit, sendi, tulang, dan paru-paru. Bahkan, ada odapus yang bisa jatuh pada titik nol dimana odapus merasa benar-benar kesakitan dan don’t know how to do.

Kebanyakan orang belum benar-benar mengetahui apa itu lupus ya, sehingga terkadang si odapus dikira manja karena tidak boleh panas-panasan, atau malas karena harus bedrest (saat tulang dan sendi terasa nyeri dan nggak bisa banyak gerak). Kadang juga tuh, sampai dipandang sebelah mata karena mau nggak mau harus tidak masuk sekolah/kuliah/kerja karena lupusnya sedang kambuh, meskipun beberapa menit sebelumnya masih terlihat baik-baik saja.

Ya, orang-orang di sekitar odapus ini benar-benar harus peka dan tidak langsung nge-judge ya, biar si odapus ini nggak jadi makin stress. At least, mereka mau mengerti tentang kondisi si odapus ini. Coba aja bayangin, waktu lagi ulangan atau ngerjain tugas dan tiba-tiba lupusnya kambuh, contohnya tiba-tiba nggak bisa nulis gitu, apa yang harus odapus lakuin coba? Dipaksain pun nggak akan bisa, karena benar-benar tangan kanan itu tiba-tiba lumpuh. Berarti, peran orang-orang di sekitar itu benar-benar penting kan untuk menyemangati si odapus ini saat lupus menyerang tubuhnya?

Inti dari postingan ini sih, aku cuma mau membagi informasi mengenai penyakit lupus ke pembaca sekalian. Ya, setidaknya kalian tahu apa itu lupus dan bagaimana ciri-cirinya, meskipun sebenarnya gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lupus ini terkadang benar-benar mirip dengan penyakit-penyakit lainnya. Dan setidaknya pun kalian bisa menghargai orang-orang yang tiba-tiba kita anggap manja karena tidak mau panas-panasan atau tidak mau bergerak. Meskipun aku tidak berharap itu merupakan gejala dari penyakit lupus, tapi setidaknya kita mau mengerti bahwa mereka memiliki alasan tersendiri mengapa mereka seperti itu.

Dan terakhir, asal kalian tahu, informasi ini aku dapatkan bukan hasil dari googling dari internet. Alhamdulillah, orang-orang yang memberitahu aku pengetahuan ini benar-benar sangat membantu dan pengertian ya. Mereka tidak patah semangat, sehingga odapus pun seharusnya tidak mudah menyerah dengan keadaan yang dialaminya. Benar begitu, bukan?
Read More
Published Selasa, Februari 02, 2016 by

Dilarang Jatuh Cinta

Tak terasa sudah 3 (tiga) minggu lamanya aku memasuki semester 6 (enam), dan tak ku sangka bahwa begitu banyak hal yang telah terjadi. Dimulai dari dosen yang entah mengapa pada semester ini terasa semakin ngaco. Ada 4 (empat) dosen yang cara pengajarannya sungguh tidak mengenakkan, sehingga membuat aku tidak lagi dapat bersantai seperti semester-semester sebelumnya. Keempat-empatnya sungguhlah baper (bawa perasaan), membuat kegiatan perkuliahan terasa sangat menegangkan. Selain itu, kelompok pada mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu dosen tersebut sangatlah memprihatinkan, sehingga aku mulai merasa takut dan sedikit putus asa. Berlebihan memang, namun itu apa adanya, lho.

Selain itu, pada semester ini aku mengambil kelas Tugas Akhir (TA), sehingga dibutuhkannya perhatian lebih. Luar biasa bukan? Masalah yang entah mengapa belum juga ketemu membuat judul tak juga kunjung tercipta. Selain itu, salah satu mata kuliah berhasil membuatku pusing, karena materi yang entah mengapa tidak juga dapat aku pahami. Padahal, dosennya termasuk enak, lho.

Pun di semester ini aku sedang suka-sukanya membaca novel, sehingga aku harus membagi waktu yang aku miliki tersebut untuk mencari judul TA, belajar, kuliah, dan membaca novel. Namun, mengapa sebanyak apapun aku membaca, aku tak juga kunjung mendapatkan niat yang kuat untuk menulis, ya? Payah memang.

Ah, rupanya semester 6 (enam) ini lebih berat, sehingga aku dilarang untuk jatuh cinta. Bisa gawat nantinya.
Read More
Published Jumat, Januari 29, 2016 by

Kembali Memulai

Menutup diri
Bak seorang introvert di tengah keramaian
Kehilangan teman, kehilangan kawan
Entah mengapa terasa lebih menyenangkan

Bahkan, menyendiri
Menutup impian akan sesuatu yang telah usai
Berakhir, pun berbekas
Terkadang sakit, benar adanya

Tidak,
Aku hanya ingin kembali memulai
Read More
Published Selasa, Desember 22, 2015 by

Seseorang Bercerita Padaku Pada Umur 20

Seseorang pernah bercerita padaku, dan beginilah ceritanya.
**
Jumat kemarin, saat ummi berkunjung ke Bandung, aku sempat bercerita dengannya sebelum tidur. Aku menceritakan tentang teman-temanku yang akan dan sudah menikah. Undangan yang bertumpuk-tumpuk dan meminta saran bagaimana untuk mendatanginya. Sepuluh menit, obrolan itu masih mengalir seperti biasanya, hingga sebuah kalimat tiba-tiba keluar dari bibir miliknya.
"Kalau kamu, kapan nikahnya?" Aku langsung tertawa seraya mengalihkan pembicaraan dengan mencari topik lain. Namun, sepertinya kali ini ummi tidak mau kalah.
"Umur sudah 20, kapan nikahnya?"
"Nggak tahu, mi. Masih lama mungkin, jodohnya aja belum kelihatan." Jawabku sekenanya. Kali ini ummi yang tertawa, dan membiarkanku berkutat dengan berbagai macam pikiran-pikiran yang berkemelut di otakku.
**
Menikah. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai sebuah hal yang tabu. Apalagi, bagi 'masyarakat modern' diumur dua puluhan yang masih duduk di bangku kuliah. Pikiran akan tugas akhir dan kuliah lanjutan yang akan dituju, ataupun perkantoran yang sesuai dengan minat dan kemampuan seakan menutupi salah satu list kehidupan tersebut. Namun, terdapat sebagian orang yang juga menganggap menikah merupakan sesuatu yang harus dipikirkan ketika sudah memasuki kepala dua.

Aku tidak tahu masuk ke dalam bagian yang mana. Namun, kalau dibilang aku sudah memikirkan mengenai hal itu, tentu saja sudah. Aku sudah lelah dengan cinta yang menye-menye dan hanya menyakitkan hati. Rasanya ingin menikah saja, merasakan menjadi istri dan ibu muda. Duh, sayangnya, aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah siap atau belum untuk menjalani hal tersebut. Sebagian hati kecilku terkadang berkata hal yang berbeda dengan bagian yang lain.

Aku jadi teringat saat aku masih duduk di tingkat 1, saat seseorang berkata bahwa ia telah serius padaku. Ia sudah menabung dan mempersiapkan semuanya. Pun, rencana untuk bertemu dengan orang tuaku sudah diutarakannya. Namun, aku menolaknya. Jujur, aku akui jika sebagian kecil dari alasan aku menolak adalah karena aku belum siap. Aku baru memasuki masa kuliah dan masih ingin bermain. Rasanya aku baru lulus SMK kemarin, dan belum siap untuk menghadapi semuanya. Tapi, tidak hanya itu saja. Karena seseorang itu hanya ingin mengungkapkan keseriusannya pada orang tuaku dan menyuruhku untuk menunggu hingga ia lulus kuliah, orang tuaku pun ikut menolaknya. Katanya, boleh bertamu, namun tidak ada ikatan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, namun, aku lebih memilih menolaknya terlebih dahulu sebelum ia bertamu pada orang tuaku.

Ah, kalau saja saat itu aku menerimanya, pasti saat ini akan ada orang yang intens menghubungiku. Menanyakan kabar serta menaruh perhatian lebih padaku. Mengisi hari-hari sepiku dengan pesan-pesan tak bermutu. Bertemu di kampus pun tidak akan canggung dan saling membuang muka. Ya, penyesalan pasti ada. Tapi itu sudah menjadi masa lalu yang sepertinya sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan masa depanku. Toh, saat ini ia telah bahagia dengan 'calon'-nya yang baru, walaupun terkadang aku harus mengelus dada karena melihat mereka berduaan atas nama taaruf yang mereka genggam. Kalau dipikir-pikir, ada baiknya juga, karena bukankah itu sama saja dengan berpacaran? Ah, kali ini aku harus berpegang teguh pada prinsipku. Harus.

Kembali ke topik.
Kata menikah yang sepertinya sudah tidak asing lagi di semester ini sepertinya mulai merasuki hidupku. Rencana kehidupan yang ingin menikah muda rasanya sudah mulai membuatku enek. Rasanya ingin cepat-cepat, namun takut. Takut melangkah dan terkesan terburu-buru. Namun, hati dan pikiran seakan resah menanti kedatangan pangeran berkuda putih yang tak kunjung datang. Ah, galau deh. Sebenarnya masih panjang, namun aku bingung bagaimana merangkai kata-katanya. Jadi, aku sudahi saja ya.

Intinya, seseorang mengatakan bahwa ia tidak ingin buru-buru menikah. Tetap ada target. Namun, jika ada yang ingin melamarnya sekarang, ia sudah siap. Insya Allah. Adek sudah cukup lelah bang, begitu katanya.
Berdoa saja, semoga Allah mempermudah jalan yang akan dilalui oleh jodohmu. Tak perlu resah, tunggu saja. Jodohmu sedang mempersiapkan kapal terbaiknya untuk berlabuh bersama keluarga kecilmu. Kamu juga harus mempersiapkan pakaian dan makanan terbaik untuknya. ― Ummi 

Seseorang pada umur 20 (Desember, 2015)
Read More