Published Kamis, November 08, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Teringat Ummi

Kemarin sewaktu membaca tulisan Keju di blognya yang menceritakan soal bagaimana kondisi Ibunya sewaktu sakit dulu, aku jadi teringat Ummi. Teringat bagaimana ketika Ummi harus berjuang melawan sakitnya, dari yang kini harus terus disuntik setiap hari sebanyak 3-4 kali, lalu soal jenis makanan yang sudah tidak beragam lagi, sampai badan yang terus mengurus dan menampakkan tulang-tulangnya. Dan sedikit saja terlewat kerutinan soal suntikan ataupun kelewatan ingin mencoba sebuah makanan 'terlarang' meskipun hanya sesuap, Ummi justru menjadi muntah-muntah dan tak akan bisa menampung makanan apapun sampai harus diberikan obat ini-itu. Bahkan terkadang, sampai makannya pun harus menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidung hingga tenggorokan. Semata-mata, agar Ummi bisa makan, selain dari infus yang diberikan.

Tapi, sudah agak lama Ummi kembali bisa ceria seperti sedia kala. Bisa bersenda gurau dengan anak-anaknya dan juga mampu berjalan-jalan keliling kota. Bahkan kemarin-kemarin masih sering ikut Abi keluar kota, mengekori tugas dinas yang sedang diamanahkan. Berfoto di depan baliho besar bertuliskan 'Selamat Atas Kemenangan Yang Diraih' dengan foto Ais yang terpajang di dalamnya. Makan banyak daging dan minum banyak air putih. Mengambil nasi pun sudah bisa bersuap-suap, dan sudah bisa tertawa dengan pancaran mata yang sudah tak lagi sayu. Ya, beberapa bulan kemarin, Ummi masih terlihat sehat bugar. Sekitar delapan bulanan lebih. Meski segala macam suntikan dan batasan-batasan soal makanan itu tetap harus dilakukan setiap harinya.

Namun, soal sehat dan sakit memang hanya Allah yang tahu. Kini, Ummi kembali harus terbaring di rumah sakit setelah selama dua hari belakangan ini tidak bisa makan. Apapun makanan yang masuk, akan selalu dimuntahkan dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Aku kembali harus menyaksikan Ummi yang terbaring lemah tak berdaya di atas kasur sembari melihat tangan-tangannya yang penuh dengan jarum infus, juga dengan hidungnya yang tersumbat oleh suatu alat. Beruntung kali ini tidak perlu dipasangkan selang makanan ataupun kateter urin. Tapi tetap saja, melihatnya membuatku ingin menangis dan tak bisa tenang.

Ya Allah, tolong angkat penyakit Ummiku :( Aku benar-benar nggak tega ngelihat kondisi Ummi yang sekarang :((((((
Read More
Published Senin, Oktober 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mencintai Kehilangan



Saya awalnya tahu video ini dari akun instagram milik @ananditodwis, dimana beliau ini sebelumnya pernah bermain di beberapa proyek serupa, seperti: Cinta Positif dan Film 212 The Power of Love. Kenal dan sampai men-follow begitu pun awalnya karena saat kuliah dulu, salah seorang teman saya sempat (sangat) mengagumi sosok Hamas Syahid saat marak-maraknya film Ketika Mas Gagah Pergi yang diadaptasi dari novel karya Helvy Tiana Rosa, yang membuat saya sedikit "kepo" juga di akun instagramnya Bang Hamas itu. Dan dari ke-kepo-an itu lah makanya saya jadi kenal dan tahu dengan beberapa selebgram yang suka membuat suatu proyek untuk berdakwah dan mengampanyekan sesuatu yang positif.

Lalu, dari beberapa proyek film serupa yang telah saya tonton, entah mengapa proyek terbaru yang berjudul "Singelillah"―yang merupakan bagian dari channel Teladan Cintaini menurut saya justru yang benar-benar ngena dan pas dengan keadaan saya saat ini. Eh enggak juga sih, mungkin hanya pas di bagian keduanya saja. Tapi intinya, setelah menonton video part 2 ini, saya langsung jadi jatuh cinta aja gitu. Kalau yang tahu tentang bagaimana kisah saya dan sudah menonton videonya pasti setuju dengan kalimat saya di atas. 11-12 lah ya meskipun tidak sempurna mirip, hehe. Dan, rupanya sebelum berbentuk serial begini, konten awalnya sebenarnya berbentuk film musikal. Subhanallah, saya jadi rindu menonton pertunjukan drama-drama musikal begitu, huhu.

Dan bagian yang saya suka dari serial ini adalah di kalimat yang begini:
Kalau kamu tidak diperjuangkan oleh seseorang yang kamu harapkan, kamu akan diperjuangkan oleh seseorang yang mengharapkanmu.
Tak perlu menangisi seseorang yang tidak peduli padamu.
Karena hidupmu terlalu berharga, waktumu jangan sampai tersita.
Seseorang yang menolakmu, belum tentu dia lebih baik darimu.
Bisa jadi menurut Allah, kamu adalah pribadi yang lebih baik.
Sehingga Allah menginginkanmu bertemu dengan seseorang yang lebih baik daripada dia.
Kosongkan hatimu untuk cinta-Nya.
Agar Dia hadirkan seseorang, yang bisa mencintaimu sepenuh hatinya.
Huaaaaaa :"

Hehe. Oh iya, dan bagi kalian yang ingin menonton serialnya dari awal, kalian bisa membuka channel Teladan Cinta yang ada di youtube. Atau kalau kalian malas nyarinya, kalian bisa tonton di sini: part 1, part 2, part 3 - taarufpart 3 - khitbah, dan part 3 - nikah. So, sudah siap melepaskan? *eh


Juni 2018, dipublikasikan terlambat karena menunggu keseluruhannya selesai dirilis
Yang ternyata malah jadi latepost banget :" telat sebulan
Read More
Published Jumat, Oktober 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Barakallah, Ais!

Farah (Kiri) - Ais (Kanan)
Barakallah, Ais! Dari sekian banyak prestasi yang sudah kamu raih, Alhamdulillah yang ini ada hubungannya juga dengan dunia tulis-menulis, ya :" Kamu memang the best lah pokoknya. Serba bisa gitu. Semoga ilmu dan pengalamannya berkah ya, Is. Dan juga, sampai ketemu besok di Purwokerto! Nanti kita cerita-cerita banyak lagi, ya. Inshaa Allah.


Ditulis setelah barusan dikirimi pesan langsung pakai tulisan besar-besar
Katanya, AIS DAPAT MEDALI EMAS
Heuu.
Read More
Published Jumat, Oktober 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Keresahan Hati #2

Sholat di Masjid
Sekitar sebulan-lebih yang lalu, aku sempat bertemu dengan ibu-ibu yang usianya sudah tidak muda lagi sedang berjalan menuju salah satu sajadah yang ada di sampingku. Padahal beliau berjalanannya sudah menggunakan tongkat, namun langkahnya terlihat mantap sekali. Bahkan meskipun beliau tidak bisa berlama-lama berdiri karena mungkin kedua kakinya yang sudah tidak lagi sekuat dulu, beliau sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk terus sholat dengan postur terbaiknya. Masya Allah. Jadi terpikir, apa kabar generasi muda yang masih sehat-bugar? Masa mau kalah dengan ibu-ibu ini? Setua itu saja masih semangat untuk sholat di masjid tepat waktu. Dan tentu saja ini pun jadi reminder bagi diri sendiri.

Travelling
Dulu sewaktu masih dalam masa-masa taaruf, aku pernah menyampaikan kepada Mas Suami kalau aku itu suka jalan-jalan. Lalu setelah menikah, ketika Mas Suami menawarkan untuk jalan-jalan ke luar kota, entah kenapa aku malah jadi tidak terlalu berminat gitu. Kayak hilang aja gitu rasa pengen jalan-jalannya, nggak kayak dulu sewaktu masih single. Masih ada keinginannya, tapi tidak terlalu pengen-pengen banget. Makanya setelah itu aku dan Mas Suami pun menyepakati suatu hal: bahwa boleh jalan-jalan ke luar kota, asal ada maksud dan tujuannya. Maksudnya, tidak hanya sekadar soal jalan-jalan saja.
Dan Alhamdulillah, Allah memang Maha Baik. Setelah menyepakati hal itu, Qadarullah banyak hal-hal yang terjadi. Seperti tiba-tiba harus ke Bandung untuk menurus berkas yudisium milik Mas Suami menggunakan kendaraan pribadi, yang jadinya bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya Husna yang ada di Cikampek. Lalu di minggu depannya kami berdua pergi ke Cirebon untuk menghadiri walimatul 'ursy milik Mas Akram, salah satu kakak sepupuku. Dan selanjutnya diakhiri dengan terbang ke Pontianak untuk mengantar nenek dan nek Timah seperti apa yang aku ceritakan di postingan yang sebelumnya. Dan perjalanan ke empat kota berbeda itu pun terjadi dalam waktu satu bulan saja. Masya Allah!
Rasanya kayak langsung dikasih hadiah gitu sama Allah :"

Buku Pertama
Beberapa minggu kemarin, kak Nia sempat menanyakan perihal penerbitan kepadaku. Setelah membantu mencarikan beberapa penerbitan yang sekiranya sesuai, aku jadi kepengen mulai untuk menulis cerita lagi. Tapi ya, rupanya keinginan hanyalah keinginan. Sampai buku pertama milik kak Nia itu terbit, aku malah belum menyentuh naskah sama sekali. Cuma nulis-nulis aja di blog begini. Hiks. Jadi butuh 'cambuk' buat nulis lagi kayak dulu sewaktu masih kuliah.

Diari Pernikahan
Masya Allah. Rupanya menikah itu rasanya nano-nano. Dan sekarang nggak tahu kenapa aku malah jadi suka ngebukain situs-situs resep masakan gitu. Sekaligus jadi suka nyoba-nyobain resep baru. Kadang-kadang karena kekurangan bahan dan peralatan, aku jadi berkreasi sendiri saja gitu. Yang Alhamdulillahnya rupanya Mas Suami suka dan malah memuji, meski aku nggak tahu sih sebenarnya beneran suka apa pura-pura suka, hehehe. Tapi semoga suka ya, Mas :"
Dan aku juga jadi suka menghitung-hitung kira-kira berapa lamanya waktu yang dibutuhkan buat memasak, mencuci, menyetrika, dan lain sebagianya. Buat mengira-ngira, harus dari jam berapa aku mulai 'beraktifitas' biar sebelum dhuhur seluruh kegiatan itu sudah selesai semua. Meski seringnya masih suka meleset sih, hehe. Tapi lagi berusaha kok, Inshaa Allah.

Keju dan Blognya
Kemarin iseng-iseng ngebuka blognya Keju dan ngebaca-baca sebagian isinya (soalnya sebagiannya lagi udah pernah aku baca). Dan yang aku suka dari blognya Keju itu, adalah karena tulisan-tulisannya itu enak buat dibaca. Ringan gitu pokoknya. Juga ditambah karena aku baru tahu kalau ternyata Keju juga suka menulis, setelah sekian lama aku tahunya dia cuma suka foto, desain, dan ngoding. Masya Allah, Keju itu banyak bisanya, ya.
Tapi juga pas lagi baca blognya itu, aku jadi inget sama cerita yang ditulisnya soal alm. Mamanya. Terusnya lagi, aku juga jadi inget sama Ummi dulu sewaktu sakit. Hampir persis seperti apa yang diceritain sama Keju. Yang harus diobservasi terus, yang harus disuntik terus, yang nggak bisa kemana-mana dan lemas banget. Rasanya sedih banget gitu ngelihatnya :( Bahkan sekarang pun, Ummi masih harus disuntik setiap harinya biar tidak sakit-sakit lagi. Huhu. Semoga penyakit Ummi merupakan salah satu cara untuk menggugurkan dosa-dosa Ummi, dan semoga penyakit Ummi bisa segera diangkat ya, Mi...

Menulis
Akhir-akhir ini lagi membiasakan diri untuk menulis lagi. Makanya jadi sering mencuri-curi waktu meski kadang-kadang baru menulis sebentar udah ke-distracted sama hal-hal yang lain. Dan makanya juga, tulisannya kadang agak-agak berbau nggak penting gitu. Hehe.

Dan tulisan inipun sebenarnya adalah lanjutan dari tulisanku yang sebelumnyayang pernah aku tulis di sini: Keresahan Hati #1
Read More
Published Jumat, Oktober 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Jalan-Jalan ke Kota Khatulistiwa

Jembatan Kapuas. Kegedean ya fotonya, hehehe. Sengaja :p
Selasa, 11 September 2018 yang lalu, aku dan Mas Suami dimintai tolong oleh Papa untuk mengantar nenek dan adiknya (kami memanggilnya dengan panggilan 'nek Timah') pulang ke Pontianak. Jujur sedari dulu aku selalu bertanya-tanya, moment apa ya yang bakal mengantarkan aku ke pulau Kalimantan? Disaat pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatera sudah pernah aku tinggali. Eh, ternyata jawabannya adalah ini. Iya, jadi Mama itu orang Pontianak asli, kota yang merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Barat itu. Dan sebagian besar keluarga besar dari Mama itu ya tinggalnya di Pontianak. Makanya saat nenek dan nek Timah mau pulang ke Pontianak setelah hampir sebulanan tinggal di Purbalingga, Papa pun meminta tolong kami untuk mengantarkan mereka pulang sekaligus agar bisa berkenalan dengan keluarga besar yang ada di Pontianak.
Terus saat itu, ada cukup banyak barang yang kami bawa. Empat koper besar dan 1 kardus kecil. Kami berempat menggunakan kereta untuk berangkat ke Jogja, yang setelahnya dilanjutkan dengan menggunakan pesawat menuju Pontianak. Kurang lebih sekitar 7 jam lamanya kami menunggu pemberangkatan di bandara Adisutjipto karena Mama terlalu khawatir jika jeda antara kereta dan pesawat hanya sekitar 1-2 jam saja. Takut terburu-buru. Katanya, kasihan kalau nenek dan nek Timah disuruh lari-lari begitu. Agak bosan juga sih menunggu selama itu, karena kondisi cuaca yang sedikit panas sehingga tidak terlalu nyaman jika harus menunggu di luar, namun juga tidak bisa menunggu di dalam karena counter check-in yang ada belum tersedia untuk kami. Kami berempat jadi mati gaya gitu karena tidak ada apa-apa dan juga tidak bisa kemana-mana, ditambah dengan tempat duduk yang juga terbatas. Hanya sekitar 8 bangku saja yang tersedia di situ. Makanya nenek dan nek Timah juga jadi sedikit-sedikit berdiri dan berjalan-jalan karena mungkin agak capek juga kalau harus duduk berlama-lama. Tapi, tentu saja semua kebosanan itu seolah sirna ketika sekitar jam 4 lebih belasan menit kami mulai terbang menuju Pontianak.
Sebenarnya ada pemandangan bagus saat berada di atas pesawat saat itu, hanya saja tidak sempat aku abadikan karena posisi duduknya yang kurang mendukung. Jadi waktu mau mendarat di bandara Supadio, matahari itu lagi mulai terbenam sehingga warna langit pun jadi oren-oren kemerahan. Masya Allah. Terus juga banyak lampu-lampu yang dinyalakan di sekitaran laut dan bandara, yang bikin kalau ngelihat ke jendela tuh kayak lagi lihat lautan lampu berwarna-warni yang juga kerlap-kerlip gitu. Indah banget pokoknya. Rasanya mirip kayak lampu-lampu yang aku lihat sewaktu nge-camp bareng anak-anak lab multimedia, tapi ini versi lebih bagusnya lagi. Hehe. Dan perjalanan Purwokerto-Jogja-Pontianak hari itu pun diakhiri dengan makan di salah satu rumah makan milik kerabat. Rumah makan Arab (karena katanya di sana, kalau mau makan di luar rumah itu lebih aman di rumah makan Arab, yang sudah terjamin kehalalannya).

Rabu, 12 September 2018
Tidak banyak yang aku dan Mas Suami lakukan di Pontianak. Karena di sana Mas Suami masih dalam mode kerja (model kantornya memang kebanyakan karyawan remote-nya daripada yang onsite), maka kegiatan pergi-pergi alias jalan-jalan hanya bisa dilakukan di sore hari. Makanya kegiatanku sehari-hari dari pagi sampai sore ya tidak ada bedanya dengan yang biasa aku lakukan di Purbalingga. Makan - nyuci - njemur - nyetrika - tidur. Itu-itu saja. Bedanya di sana lebih banyak teman ngobrolnya (nenek) dan juga memang nenek selalu menyengaja menunggu-nunggu kami makan baru beliau makan, dan tidak mau kalau disuruh makan duluan :" Mungkin biar lebih kerasa kalau ada temennya kali ya, soalnya biasanya sambil makan nenek akan bercerita banyak hal gitu. Sedangkan nek Timah biasanya sudah makan duluan karena sekalian mengasuh cucunya yang biasa dititipkan selagi orang tuanya melaut dan bekerja.
Lalu sorenya kami jalan-jalan ke rumah Om Anto (adik ipar Mama) dan Kak Yan (sepupu Mas Suami yang tinggalnya masih satu komplek dengan Om Anto), sekaligus bermain dengan ketiga anaknya Kak Yan: dek Bintang yang baru lahir dan kedua kakak kembarnya, Langit dan Bumi. Unik ya namanya, hehe. Dan cukup lama kami di rumah Kak Yan karena si kembar yang baru pulang mengaji di Rumah Tahfidz ba'da Isya, yang pulangnya langsung mengajak aku dan Mas Suami untuk bermain Ludo sampai sekitar jam 10-an setelah sebelumnya saling pamer hafalan dan keahlian mengaji mereka. Tapi lucu juga sih main sama si kembar yang masih kelas 1 SD itu. Soalnya meski kembar identik, namun kepribadian keduanya sedikit bertolak belakang. Si kakak yang pemberani dan ambisius, dengan si adek yang pendiam dan malu-malu. Apalagi kan, logat orang sana itu melayu-melayu gitu ya. Jadinya lucu aja gitu kalau pionnya si kakak termakan oleh pion yang lain, pasti dia langsung teriak, "alamaaak". Persis kayak yang di film upin dan ipin itu, hihihi.
Dan seperti yang aku tulis sebelumnya, acara main-bermain itu pun berakhir sekitar jam 10-an, setelah semua pion yang masih bertahan di jalurnya mulai diacak-acak oleh keponakan yang lain (maafkan aku, aku lupa namanya siapa :" huhu).

Kamis, 13 September 2018
Seperti hari sebelumnya, di hari ini aku dan Mas Suami kembali menjadwalkan diri untuk berkunjung ke salah satu kerabat yang ada di sana. Kali ini kami mengunjungi rumah salah satu saudara Papa yang juga tinggal di Pontianak: Pakde Pri. Agak lama juga perjalanan ke sana karena Mas Suami yang lupa-lupa ingat dengan jalannya. Dan juga di sebagian perjalanannya itu ada sedikit rasa tidak nyamannya karena harus melewati pabrik ban yang baunya sangat menyengat sampai ke jalan-jalan besar. Aku sampai sesak napas dibuatnya. Terus di jalan-jalan pemukimannya juga ada banyak anjingnya, kan jadi takut ya :" Tapi jadi nostalgia sedikit sih sama zaman dulu pas tinggal di Kendari. Ya mirip-mirip gini, banyak anjing yang memang dilepas di jalanannya gitu.
Lanjut. Hampir satu jam lamanya kami mencari rumah Pakde Pri. Sayangnya ketika sampai di sana, Pakde dan Bude sedang ikut kajian rutin malam Jumat dan pulangnya pun agak malam, sehingga kami tidak sempat bertemu. Makanya sore itu kami hanya ngobrol-ngobrol dengan salah satu anaknya Pakde, yaitu Mbak Ema. Sejujurnya setiap aku ikut ngobrol-ngobrol dengan kerabat Mas Suami itu, aku agak sedikit kagok dan canggung. Masalahnya logat mereka kan melayu ya, terus juga ditambah dengan nadanya yang tinggi dan gaya bicaranya yang lumayan cepat. Jadi seringnya aku agak lama gitu menerjemahkan maksud demi maksud yang disampaikan. Makanya, aku benar-benar belum bisa jauh-jauh dari Mas Suami selama di Pontianak itu. Takut jadi bengong sendiri setiap diajak ngobrol. Kan, jadi nggak asik ya kalau lagi diajak ngobrol malah plonga-plongo gitu. Hehe.
Dan cerita perjalanan hari itu pun ditutup dengan muter-muter sebagian kota Pontianak karena tiba-tiba aku kepengen makan pentol kuah dan telor gulung :"

Jumat, 14 September 2018
Sudah mau mendekati hari terakhir di Pontianak, tapi masih banyak list kerabat yang belum sempat dikunjungin. Akhirnya pagi-pagi sekitar jam setengah 10-an gitu, aku dan Mas Suami ikut nek Timah ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah nenek. Sekalian karena pengen ketemu sama kerabat yang lain. Oh iya, rumah nek Timah ini letaknya persis di pinggir sungai kapuas, sehingga model rumahnya pun adalah rumah panggung yang bawahnya masih air-air sungai gitu. Sebenarnya rumah nenek juga rumah panggung, hanya saja bagian depannya sudah berbentuk tanah yang sebagiannya lagi sudah beraspal. Sedangkan kalau rumah nek Timah ini benar-benar masih berbentuk rumah panggung.
Dan di sana pun aku diajak oleh nek Timah untuk melihat-lihat sungai kapuas yang sudah direnovasi pinggirannya dan dibangun jembatan baru. Katanya, ada banyak rumah-rumah yang dihancurkan untuk pembangunan jembatan itu. Tapi kelebihannya, sebagian besar warga yang masih tinggal di situ pun jadi memanfaatkan hal itu untuk membuka rumah makan kecil-kecilan yang menjual beberapa makanan khas Pontianak. Soalnya kalau sore, biasanya ada banyak orang yang bermain di jembatan itu. Istilahnya jembatannya malah jadi salah satu tempat wisata gitu deh.
Eh, ada satu hal lagi. Sewaktu dalam perjalanan ke Pontianak, Mas Suami sempat bercerita kalau anak-anaknya nek Timah itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Putih-putih banget gitu kulitnya, berbeda dengan anak-anaknya nenek yang sebagian putih dan sebagian lagi sawo matang. Awalnya aku pikir karena kebetulan saja nek Timah dapet kebagian yang putih-putih gitu. Eh, ternyata oh ternyata. Rupanya Datuk, suami nek Timah itu ternyata berperawakan tinggi dengan kulitnya yang putih. Pokoknya di usia yang sudah tidak lagi muda begitu, masih kelihatan ganteng dan gagah deh. Jalannya juga masih tegap dan suka beraktifitas gitu, alias nggak bisa diam. Pantesan saja ya... Eh, astaghfirullah, aku kok malah ngomongin fisik ya... Tapi emang beneran Datuk tuh ganteng banget hehehe.
Lanjut. Sewaktu lagi lihat-lihat sungai di sana, nek Timah bilang kalau mending ke sininya sore-sore aja biar lebih rame dan juga lebih bagus pemandangannya. Jadinya karena memang sudah mau mendekati waktu sholat Jumat dan matahari juga sudah lagi panas-panasnya, akhirnya aku dan Mas Suami pun memutuskan untuk kembali ke sungai kapuas sore harinya, dan berpamitan ke nek Timah untuk kembali ke rumah nenek. Mas Suami kan juga harus kerja, hehehe. Dan memang pengen ke situ lagi juga pas sorenya karena pengen nyobain makanan khas Pontianaknya.
Mie SaguBubur Padas
Nah, itu dia penampakan salah dua makanan khas Pontianak yang dijual di sana. Awalnya aku kira namanya bubur pedas. Tapi kok ya pas dirasa-rasa malah nggak ada pedas-pedasnya. Sampai sempat nanya juga ke nek Timah dan salah satu anaknya yang ikut menemani aku dan Mas Suami makan di pinggiran sungai kapuas di sore harinya, tetapi malah tidak ada yang tahu kenapa dinamakan bubur pedas. Sampai akhirnya pas sudah sampai Purbalingga dan nanya ke Mama, rupanya katanya namanya bukan bubur pedas, tapi bubur padas. Pantesan saja... Eh, tapi kedua makanan ini enak loh. Meski katanya orang-orang tidak begitu suka dengan bubur padas karena tampilannya yang kurang menarik itu. Apalagi buburnya juga isinya lebih banyak sayur hijau-hijaunya, yang rasanya juga mirip-mirip sama dedaunan gitu. Tapi nggak begitu pahit.
Terus kami juga di sana sampai sempat melihat matahari sewaktu lagi terbenam dan kapal yang lagi berlayar untuk pulang. Masya Allah, bagus banget nggak sih? Tapi beneran deh, ngelihat hal-hal yang kayak gini tuh benar-benar mengingatkan aku sewaktu kecil dulu, waktu tinggal di Kendari itu. Soalnya dulu kalau sore-sore gitu sering diajakin Ummi dan Abi makan di pinggiran pantai. Iya, jadi aku, Hilmi sama Ais itu dibawain makanan dari rumah, tapi makannya di pinggiran pantai yang juga merupakan pinggiran jalan raya. Jadi samping-samping jalanan besar beraspal itu langsung pantai. Terus juga suka banyak kapal-kapal atau perahu yang berlayar pulang gitu, dan emang banyak orang yang sore-sore gitu sekedar duduk-duduk di pinggiran itu buat makan atau sekadar lihat-lihat pemandangan saja.
Dan setelah puas menikmati indahnya ciptaan Allah itu, kami pun bergegas pulang ke rumah. Mengejar waktu sholat Maghrib yang sudah seperdelapan jalan. Tapi tentu saja perjalanan kami tidak sampai di situ saja. Karena besok pagi-pagi sudah harus kembali ke Purbalingga, makanya setelah sholat Maghrib kami pun berpamitan dengan nenek dan meminta izin untuk menginap di rumah Om Anto. Agak sedih juga sewaktu berpamitan dengan nenek. Apalagi nenek di sana itu tinggalnya sendirian, meski anak-anaknya ya sebenarya masih sering menyempatkan diri untuk berkunjung. Rasanya nggak tega gitu. Aku sampai hampir mau nangis, sedangkan nenek malah sudah sampai menangis.
Dan terus setelah berpamitan dengan nenek, aku dan Mas Suami pun langsung beranjak ke rumah Om Anto. Tidak mau berlama-lama pamitannya karena takut semakin berat untuk pulang meninggalkan nenek. Pun di sana rupanya kami sudah ditunggu oleh Kak Yan. Kami sudah ditagih-tagih disuruh berkunjung ke rumah Abah (ayahnya Kak Yan) karena katanya mau disuguhi banyak makanan. Tapi sebelum pergi ke rumah Abah, kami meminta Kak Yan dan suaminya untuk menemani ke rumah nek Rukiah untuk memberikan titipan Mama. Mengobrol sebentar, menjemput si kembar, lalu setelahnya langsung menuju ke rumah Abah.
Dan benar saja, sesampainya di rumah Abah, rupanya Abah dan istrinya sedang sibuk memasak di dapur. Kami benar-benar dijamu dengan baik. Dari udang yang besar-besar, sotong, cumi, dan aneka makanan laut lainnya. Terus juga di situ ada sambal khas istrinya Abah. Kenapa dibilang khas? Soalnya rasanya pedaaaaaaaas banget. Aku yang suka pedas saja sampai kewalahan karena baru nyolek sedikit udah kepedasan, huhu. Dan di sana kami bermain dan ngobrol-ngobrol sampai hampir jam 10-an juga kalau tidak salah, atau malah kurang ya? Agak lupa sih. Tapi sewaktu pulang, kami masih juga dibawain oleh-oleh sama Abah sekotak kardus yang ukurannya lumayan besar dan juga berat.

Sabtu, 15 September 2018
Pesawat yang kami tumpangi akan take-off sekitar jam 10-an, tetapi Abah menyuruh Om Anto untuk mengantarkan aku dan Mas Suami ke tokonya. Katanya kami disuruh milih oleh-oleh sebanyak apapun. Sesukanya pokoknya. Tapi meskipun dibilang gratis, tentu saja kami malah jadi ada rasa tidak enaknya begitu kan. Makanya setelah dipaksa-paksa bawa ini itu, akhirnya kami pun hanya membawa beberapa pakaian dan dompet saja.
Itu yang paling depan kiri Abah, dan sebelahnya itu Om Anto. Terus kalau yang di paling depan kanan itu Tante Ade (istrinya Om Anto), dan sebelahnya itu istrinya Abah. Itu foto di toko oleh-oleh milik Abah. Kalau kata kerabat yang lain, emang kalau ada saudara yang berkunjung ke Pontianak itu pasti bakal disuruh Abah mampir ke tokonya. Disuruh bawa oleh-oleh sebanyak-banyaknya secara cuma-cuma gitu. Masya Allah.
Dan cerita perjalanan 'berlibur' ke kota Khatulistiwa itu pun berakhir dengan penerbangan dari Pontianak ke Jakarta, yang setelahnya dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kereta dari Stasiun Senen ke Stasiun Purwokerto. Alhamdulillah!

Catatan
Sebenarnya ada beberapa hal yang jadi perhatianku selama tinggal di Pontianak saat itu. Yang pertama adalah cuaca di sana yang sangat panas. Benar-benar panas. Sampai-sampai aku baru menjemur jam 11 siang saja, jam 12 siangnya sudah kering lagi. Benar-benar kering yang bajunya sampai panas gitu loh sewaktu dipegang. Terus yang kedua, adalah soal banyaknya makanan yang tidak halal di sana. Iya, jadi sewaktu aku lihat-lihat di plang rumah makan begitu, aku melihat tulisan 'mie kwetiau (halal)'. Dan Mas Suami pun waktu ngelihat itu langsung bilang ke aku, kalau di rumah-rumah makan di situ, sampai harus diberi tulisan 'halal' untuk memberitahu bahwa makanan yang dijual di sana ya makanan yang halal. Pantas saja Mama cerita kalau nenek itu benar-benar memperhatikan apa yang dimakannya. Pokoknya nenek jarang mau makan makanan yang tidak dimasak sendiri. Dan nenek juga tidak mau makan bakso di sana. Soalnya katanya takut olahannya terbuat dari daging babi. Apalagi kata Edo (salah satu sepupu Mas Suami), di sana ada rumah makan yang menjual Nasi Ayam, yang meski namanya ayam, tetapi terbuat dari daging babi. Astaghfirullah...


Jumat, 19 Oktober 2018
Alhamdulillah, diberi kesempatan untuk berlibur di Kalimantan!
Read More
Published Kamis, Oktober 18, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Insomnia


Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan untuk tidur. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. (Wikipedia)
in·som·nia n Dok keadaan tidak dapat tidur krn gangguan jiwa

Wah, aku baru tahu kalau artinya seperti ini di KBBI.
Read More
Published Sabtu, Oktober 13, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mati Lampu

Rabu malam kemarin, di Purwokerto lagi ada pemadaman listrik. Aku yang sedang tinggal di rumah karena menemani Ummi yang lagi pulang ke Purwokerto pun jadi menyibukkan diri di kamar dengan hanya diterangi oleh sebuah lilin yang aku temukan di sudut rak yang ada di dapur.

Tapi karena awalnya aku bingung mau ngapain soalnya nggak punya paket dan ponsel pun baterainya sudah mau habis, akhirnya aku pun memutuskan untuk membaca salah satu novel yang tidak sengaja aku temukan di tumpukan buku-buku lama. Rupanya masih ada buku yang terlewat tidak sempat terbaca.
Ini penampakan bagian bukunya beserta before dan after kondisi saat pemadaman, hehehehehe.

Ternyata pemadaman listriknya jadi nggak begitu kerasa gara-gara keasyikan membaca XD Alhamdulillah.
Read More
Published Sabtu, Oktober 13, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Anak Kecil dan Game-nya

Mungkin anak kecil itu seluruh pemikirannya simple, dan tidak begitu banyak permintaannya. Mereka cuma mau ditemenin main atau ngobrol doang, nggak lebih. Yang penting kitanya masih ngerespon kalau diajak ngobrol atau ngiyain kalau diajak main. Udah itu aja. Mungkin, hehe.

Btw, ini foto Aqmar yang tiba-tiba minta ditemenin main dan ngobrol pas aku lagi ngoding. Dia inisiatif ngegeret kursi plastiknya sendiri ke sebelahku dan ngajakin aku ngomong sambil sesekali minta tolong aku mainin permainan di ponselnya sewaktu dianya udah gemas karena nggak menang-menang. Atau kalau ada bagian yang katanya dia nggak bisa.  Alhamdulillah. Mungkin lagi disuruh belajar. Barangkali besok-besok harus melakukan hal-hal yang seperti ini lagi, setiap hari.


Purwokerto, di hari yang aku lupa kapan karena udah agak lama
Read More
Published Sabtu, Oktober 13, 2018 by Hannan Izzaturrofa

A&D Walimatul 'Ursy

Tidak ada penawar yang lebih manjur bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan. ― (HR. Ibnu Majah)
8 September 2018. Sekitar sebulan yang lalu, Mas Akram (kakak sepupuku) melangsungkan pernikahannya di Cirebon. Ya, hanya beda sekitar 3 minggu saja dari hari pernikahanku. Dan Mas Akram ini salah satu kakak sepupu yang sebenarnya jarang bisa ditebak jalan pikiran serta unik perilakunya, sehingga ketika ia meminta izin dan restu kepada ibunya dan mbah put untuk menikahi seorang anak perempuan, hal tersebut menjadi kehebohan tersendiri. Apalagi, Mas Akram dan calonnya saat itu hanya baru saling mengenal beberapa bulan saja (tanpa adanya proses taaruf dengan perantara).

Singkat cerita, karena penentuan tanggal pernikahan yang begitu mendadak membuat beberapa anggota keluarga besar tidak bisa hadir. Terlalu mepet untuk meminta izin atau sudah ada jadwal lain yang tidak bisa dibatalkan, katanya. Tapi meskipun begitu, keluarga yang hadir juga sudah cukup banyak, sih. Buktinya saja panggungnya sampai penuh begitu, hehe. Terlebih karena sebagian besar acara ini dikoordinir oleh keluarga sendiri. Jadi maksudnya, hampir seluruh keluarga ikut ambil bagian dalam mensukseskan acara. Dari MC, makan besar, snack, dekorasi, dan lain sebagainya. Masya Allah.

Dan berikut serpihan-serpihan momen di hari bahagia itu.
Anyway, barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoir Mas Akram dan Mba Dewani! Ini baru permulaan, baru gerbang menuju keberkahan dari ibadah terlama sepanjang hidup di dunia. Semoga kelak keberkahan selalu tercurah di keluarga kalian, dan diberkahi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin...


Purbalingga, 13 Oktober 2018
Maafkan postingan yang isinya malah foto semua
Karena memang postingan ini sebenarnya blog galeri ala aku, hehe
Read More
Published Jumat, Oktober 12, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Obrolan Siang Menjelang Sore Tadi

Siang menjelang sore tadi, tiba-tiba seorang teman menghubungiku via dm instagram. Katanya dia mau cerita sesuatu, yang setelah aku tanya mau cerita apa malah berbelok jadi mau sharing-sharing aja. Mau ngobrol-ngobol sedikit gitu katanya. Awalnya kami ngobrol-ngobrol biasa. Soal sekarang jadinya menetap dimana, soal rencana ke depannya bakal gimana, dan lain sebagainya yang sebenarnya sudah pernah kami obrolin beberapa bulan kemarin. Sampai akhirnya di empat-lima pertanyaan itu, tiba-tiba temanku itu mulai menceritakan titik masalah yang sebenarnya ingin dia ceritain ke aku. Di situ aku agak sedikit mikir yang kayak, "duh X, mau cerita aja pembukaannya sampai banyak banget gitu" wkwk. Tapi ya kalau aku jadi dia mungkin juga bakal ngalor-ngidul kemana-mana dulu sih saking bingungnya memulai curhatan tuh gimana, hehe.

Lanjut. Jadi di situ dia cerita yang pada intinya dia sedang galau akan sesuatu. Aku tidak akan menceritakan apa isi ceritanya sih, kan itu rahasia kami berdua kan ya. Eh bertiga ding, sama Allah. Tapi ada beberapa hal yang pengen aku share dari obrolan aku dan temanku itu. Bukan sepenuhnya tentang obrolan kami sih, tapi sebagian kesimpulan yang mungkin jadi permasalahan bagi beberapa perempuan yang baru menikah (Hannan sok tahu banget wkwk). Ya intinya gitu deh. Aku mulai saja, ya. Bismillah.

***

Fulltime Wife/Mother
Yang pertama adalah soal keinginan kita sebagai perempuan untuk bekerja, tetapi tidak diperbolehkan oleh calon/pak suami. Nah beberapa tahun ke belakang, aku sering banget ngelihat beberapa storygram atau update-an timeline/blog tentang orang-orang yang tiba-tiba ngerasa galau karena dia pengen kerja, tetapi nggak dibolehin sama suaminya. Katanya suaminya pengen dia jadi fulltime wife, yang selanjutnya bisa jadi fulltime mother. Bahkan kegalauan ini juga udah mulai muncul dari awal pas mau menikah atau sewaktu masa-masa taaruf. Jadi kayak misal ada dua orang yang sudah saling suka, sudah satu visi dan misi, tapi berbeda pendapat di soal 'bekerja' ini. Terus salah satunya jadi galau, deh. Atau juga, yang galau karena tiba-tiba jadi pengen kerja meskipun di awal sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah si pak suami saja.
Sebenarnya permasalahan ini sebagiannya pernah dialami oleh teman dekatku sendiri. Yaitu soal yang meski dari sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah pak suami, tetapi tiba-tiba di tengah jalan sang istri jadi pengen kerja gitu. Subhanallah. Lalu jadinya gimana? Mereka banyak beratemnya? Iya. Mereka jadi sering diskusi meski terakhir-terakhirnya jadi saling ngambek-ngambekan. Sang suami yang tetap kekeuh dengan prinsipnya bahwa ia ingin istrinya tidak bekerja kantoran, alias kerjanya ya di rumah saja mengurusi suami, anak, dan rumah; sedangkan sang istri masih terus-terusan merengek agar diperbolehkan melamar pekerjaan karena ingin sekali bekerja dengan berbagai macam alasan.
Dan dulu sewaktu aku masih bekerja di sebuah startup, seorang temanku pernah bilang kalau dia ingin punya istri yang tidak bekerja, alias full mengurusi permasalahan rumah tangga. Alasannya karena biar dia saja yang mencari nafkah, karena dia tau bagaimana susah dan beratnya dunia kerja itu. Dan sewaktu aku bilang kalau mungkin beberapa pekerjaan saja yang keras, tapi ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, dia tetep kekeuh dengan prinsipnya itu. Katanya lagi, justru dia berharap dengan tidak bekerjanya istrinya itu, dia jadi lebih termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Sekaligus juga biar kalau dia lagi jenuh dengan pekerjaannya itu, dia jadi ingat kalau di rumah ada keluarganya yang sudah mempercayakan seluruh kebutuhan hidupnya kepadanya. Jadi penyemangat gitu istilahnya. Kan, dia yang sudah melarang istrinya itu untuk bekerja. Berarti, dia jadi bertanggungjawab dan tidak boleh gampang menyerah kan?
Atau juga temanku yang lain, yang katanya masih memperbolehkan istrinya itu untuk bekerja, asal tidak banyak menyita waktunya. Seperti misalnya berjualan secara online atau membuka toko sendiri di rumah, menjadi guru atau dosen yang katanya masih lebih banyak waktu dan lebih agak santai kerjanya, atau mengerjakan pekerjaan yang bisa menyalurkan hobinya. Kayak misal menulis, menjahit, mendekor rumah, atau membuat prakarya begitu. Asal tidak menjadikan pekerjaan itu sebagai kegiatan primer, melainkan hanya hobi yang dilakukan di sela-sela hari-harinya. Begitu katanya. Apalagi kan, mereka juga mungkin takut ya misalnya suami dan istri sama-sama bekerja, sama-sama capek, terus pas pulang dari kantornya masing-masing pengen ngelihat raut wajah yang ceria penuh senyuman gitu buat membangkitkan semangatnya, eh yang dilihat malah muka kusut capek bete karena misal kerjaannya banyak atau berat waktu di kantor. Kan, bisa jadi sumber masalah tersendiri gitu. Hmm. Lah terus, dengan kedua cerita di atas, kita sebagai seorang istri harus bagaimana dong?
Nah, kalau menurutku, dari kedua cerita temanku di atas itu bisa ditarik kesimpulan―terlepas dari ada orang yang membebaskan istrinya untuk menjadi wanita karir, karena itu tidak masuk hitunganbahwa ada laki-laki yang sama sekali tidak memperbolehkan istrinya bekerja karena merasa dirinya masih sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya itu, dan ada juga laki-laki yang masih memperbolehkan istrinya untuk bekerja, tapi kerjaannya itu tidak boleh sesuatu yang membebani atau kalau bisa cuma sebagai penyalur hobi saja. Dan kedua prinsip itu Insya Allah tidak ada yang salah, karena tentunya mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka sampai berpikiran seperti itu. Tentu kita sebagai seorang istri, kewajiban kita adalah patuh kepada suami kan? Apalagi jika itu tidak melanggar perintah Allah, maka tidak ada alasan untuk kita tidak patuh kepada perintah suami kan?
Mungkin kita bisa saja memaksa untuk tetap bekerja yang pada akhirnya suami jadi memperbolehkan meski tidak begitu ikhlas. Terus, kalau iya kita sudah bekerja tapi suami sebenarnya tidak ridho, apa pekerjaan kita itu akan membawa berkah? Atau justru membawa celaka? Astaghfirullah... Hmm, ya jadi intinya sih, setiap suami pasti memiliki alasan tersendiri mengapa mereka melarang sesuatu kepada istrinya. Dan kita sebagai istri mereka, harus selalu patuh kepada suami. Toh, ketika sudah menikah, ridho Allah ada pada ridho suami, bukan? :)

Mengisi Waktu Luang
Yang kedua adalah soal mengisi waktu luang saat sudah menikah. Melanjutkan permasalahan sebelumnya, tidak sedikit perempuan yang merasa bingung dan bertanya-tanya soal jika nantinya sudah menikah dan tidak diperbolehkan bekerja, nanti di rumah mau melakukan kegiatan apa? Yang mungkin ujung-ujungnya jadi takut kalau-kalau nanti sehari-harinya jadi bosan atau bingung mau ngapain karena nggak ada kegiatan, nggak kayak sewaktu masih single dulu. Apalagi misalnya dia dulu adalah seorang aktivis ataupun wanita karir yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dari pagi sampai malam. Kan kalau sudah terbiasa berkegiatan gitu dan setelah menikah malah terus-terusan di rumah seharian kan bisa badmood juga kan ya, hehe.
Nah kalau soal ini, menurutku justru istri-istri yang tidak diperbolehkan bekerja itu malah jadi punya banyak kelebihan loh. Maksudnya kayak justru dengan banyaknya waktu luang yang dimiliki, kita jadi lebih bisa menyalurkan hobi yang mungkin dulu-dulu terpendam karena adanya kesibukan kuliah atau kantor misalnya. Contohnya kayak mungkin aku itu suka membaca novel. Dulu rasanya sewaktu kerja itu menyelesaikan satu novel aja agak susah dan nggak tenang karena dikejar-kejar deadline terus. Atau kalopun lagi nggak ada deadline, sampai kosan itu sudah capek karena seharian berkegiatan di kantor. Nah dengan adanya banyak waktu luang yang sekarang ini, aku jadi bisa banyak menghabiskan waktu untuk membaca.
Atau mungkin buat yang hobinya suka ngegambar, jadi bisa iseng-iseng bikin gambar yang bertemakan dakwah gitu misalnya. Atau juga yang kayak sebelumnya aku sebutin, suka mendekorasi rumah yang perabotannya dibuat jadi lucu-lucu; ngebikin prakarya kayak misalnya bikin buket bunga, gantungan kunci, dll; menjahit, berjualan, menulis, dan lain sebagainya. Pokoknya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, yang bisa dilakukan di rumah. Apalagi hal-hal yang bermanfaat itu merupakan hobi kita. Bersyukur nggak tuh jadinya?

Memiliki Penghasilan Sendiri
Yang terakhir adalah soal ingin memiliki penghasilan sendiri. Aku sering banget denger cerita beberapa temanku yang sudah menikah, lalu ada beberapa barang yang pengen dibeli atau keinginan-keinginan lainnya yang membutuhkan biaya yang cukup besar, namun merasa tidak enakan gitu untuk meminta kepada suaminya. Atau juga soal teman-temanku yang ingin bekerja dan memiliki penghasilan sendiri karena biar bebas kalau mau ngasih ngejajanin adik-adiknya, sekaligus biar dianya juga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang menurutnya tidak sedikit biayanya. Meskipun mungkin suami-suami mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu, yang dalam arti sebenarnya kalau emang butuh atau ingin sesuatu ya tinggal bilang saja, Insya Allah akan dituruti. Atau juga yang kalau mau ngasih jajan ke adik-adik atau orang tua ya tinggal kasih-kasih saja. Tapi, tetap ngerasa nggak bebas karena harus minta-minta ke suami.
Nah sebenarnya untuk hal yang ini, aku juga kadang ngerasain sih gimana rasa nggak enakannya itu. Tapi balik lagi, kita kan sudah menjadi istri. Kewajiban kita adalah nurut sama suami. Dengan suami melarang kita untuk bekerja dan bilang kalau kita mau apa saja atau misal ingin ngasih apa ke keluarga tinggal bilang aja, berarti tandanya mereka merasa bahwa mereka sanggup memenuhi seluruh kebutuhan kita kan? Malah seharusnya kita bersyukur, karena kita memiliki suami yang berani menjamin nafkah lahir batin kita disaat di luar sana masih ada perempuan-perempuan yang terpaksa harus bekerja untuk keluarganya.
Dan kalaupun memang masih kekeuh ingin memiliki penghasilan sendiri, ya kayak kesimpulan yang sebelumnya. Misal kita punya hobi menjahit, hasil jahitan-jahitannya itu siapa tahu bisa dijual. Atau misal membuka berjualan dengan membuka toko di rumah atau bikin online shop gitu, dan lain sebagainya. Setidaknya walaupun mungkin penghasilannya tidak sebesar kerja di kantoran, yang penting tetap ada penghasilan sendiri tanpa harus melawan suami. Toh, rezeki sudah ada yang mengatur kan? Barangkali dengan kita patuh dengan suami, Allah jadi lebih mengalirkan rezekinya kepada pak suami sehingga benar-benar bisa memenuhi seluruh kebutuhan kita tanpa kurang satu hal pun.

***

Hannan sok paling tahu sekali ya, tulisannya sampai panjang begitu :') Hehe. Tapi inti dari tiga hal di atas sebenarnya satu sih, yaitu: nurut dengan suami, selama itu adalah hal yang baik. Jadi kayak misal ada beberapa orang yang bilang, "loh sekolah tinggi-tinggi kok ujung-ujungnya kerja di dapur juga?" ya nggak apa-apa. Dengan kita kuliah tinggi-tinggi begitu, kita jadi mengajarkan ke anak-anak kita bahwa pendidikan itu penting. Ada loh orang yang kuliahnya sampai S3 tapi beliau sama sekali tidak bekerja dan benar-benar full mengurusi keluarganya. Padahal beliau menyelesaikan S3-nya itu ketika sudah punya anak 4. Masya Allah. Terus beliau ngeluh meski dicibir begitu oleh orang lain? Ya enggak. Justru beliau itu pengen nunjukkin ke anak-anaknya, kalau mengejar ilmu ya memang harus semaksimal mungkin.

Toh juga, misal kayak aku yang dulu sewaktu single sering mengeluh dan ngerasa berat waktu banyak kerjaan, kok ya masa waktu menikah malah jadi maksa buat kerja lagi? Kayak yang, sekarang aja pengen, nanti capek malah ngeluh lagi wkwk. Ya gitu. Kan malah seharusnya bersyukur kan, kita jadi nggak perlu capek-capek kerja di luar. Cuma di rumah aja nurut sama suami dan mengurusi keluarga, eh sudah bisa terpenuhi semua kebutuhannya. Berpahala lagi. Bisa sambil ngegunain waktu luangnya juga buat menyalurkan hobi dan menambah pengetahuan. Alhamdulillah banget kan? Pokoknya ya, nggak perlu meragukan kesanggupan suami untuk memenuhi kebutuhan kita deh. Dan juga, daripada malah kita jadi menghabiskan waktu kita untuk melakukan hal-hal rutin yang sebenarnya kita tidak suka gitu kan? Masa udah nggak suka, ada tekanan, resiko, waktu dan tenaga yang terkuras juga lagi, hehe.

Ya kecuali misal kerjaan itu adalah hal yang kita suka, sih. Cuma ya tadi, harus sesuai jalurnya. Tidak boleh menjadi aktivitas primer, alias sebatas kayak hobi yang dilakuin di waktu luang aja. Dan sekali lagi, ini terlepas dari kalau memang suaminya memperbolehkan untuk bekerja ya... Soalnya aku saja, yang baru sehari-harinya mengurus rumah dan suami kadang-kadang gampang ngerasain capek. Apalagi misal nantinya kalau Allah memberi amanah untuk mengurus anak? Wah, udah nggak kebayang lagi itu kalau iya juga kekeuh mau kerja, hehe. Apalagi kalau misal kerjanya cuma dilandasin sama alasan tidak mau dicibir sama orang, makin nggak berkah itu nantinya karena mungkin bisa jadi banyak ngeluhnya, huhu.

Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga tidak terkesan menggurui atau sok tahu.

***

Tadi sewaktu di akhir obrolanku dengan temanku itu, dia mengirimi kalimat seperti ini. Padahal sewaktu membalas curhatannya itu aku malah jadi banyak curhat baliknya, tapi Alhamdulillah kalau ternyata curhatanku itu justru sedikit membantu. Soalnya waktu habis curhat panjang-panjang aku juga ngerasa takut, takut ternyata bukannya membantu malah dianya jadi sebel karena kok malah akunya yang jadi banyak cerita disaat dia bilang mau cerita ke aku.

Tapi aku juga jadi bersyukur, dari obrolan siang menjelang sore tadi, aku jadi nemuin orang yang mungkin setipe sama aku. Dari soal apa yang dipikirin, dialamin, sampai yang bener-bener kayak kita punya cerita dan nasib yang sama. Masya Allah.

Terima kasih Ya Allah :' Akhirnya aku punya teman yang bisa diajak diskusi soal apa yang aku alamin selama ini. Soalnya selama ini aku agak takut gitu buat cerita sama orang lain, karena merasa sudah harus punya batasan dari apa yang bisa diceritakan :')



Purbalingga, 12 Oktober 2018
Alhamdulillah aku bisa menulis sepanjang ini setelah sekian lama.
Dan untuk kamu, terima kasih karena sudah berdiskusi pajang denganku hari ini :)
Aku jadi punya bahan untuk menulis, hehe
Read More
Published Kamis, Oktober 11, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Bandung dan Dek Kafiya

Kalau tidak salah, tanggal 30 Juli yang lalu, aku pernah menulis sesuatu di twitter yang kurang lebih terbaca seperti ini:
Tiba-tiba pengen makan bakso ikan, seblak, tahu crispy, tahu gejrot, tahu bulat, ayam pedas mulyarasa, kentang bumbu, es pisang ijo, es podeng, terus.. hmm.
Yang lalu dibalas oleh salah seorang temanku dan bilang kalau aku itu banyak maunya. Tapi memang aku lagi kangen sama semua jajanan itu, huhu. Terlebih karena jajanan itu merupakan jajanan yang memang sering aku beli saat kuliah di Bandung dulu, yang tidak aku temukan di Jakarta (atau memang belum menemukan, ya) kecuali es podeng. Tapi intinya aku kangen Bandung dan pengen jajan. Yang setelahnya temanku itu kembali membalasnya dan bilang kalau aku honeymoon-nya di Bandung saja kalau memang kangen. Meski awalnya aku hanya menimpalinya dengan tertawaan, namun rupanya sebulan kemudian Allah memberikanku kesempatan untuk benar-benar mengunjungi kota Bandung meski bukan unuk honeymoon seperti yang dibilang temanku itu.

Jadi singkat cerita pada bulan Agustus yang lalu, Mas Suami mengajakku untuk menemaninya ke Bandung karena harus mengurus beberapa berkas yudisiumnya. Tapi di sini aku tidak akan menceritakan soal bagaimana aku di Bandung sih, karena memang tidak terjadi apa-apa dan juga aku pun tidak jajan apa-apa meski sebelumnya bilang kalau kangen. Soalnya memang tidak sempat. Aku hanya sempat bermain di lab MM saja beberapa jam, itupun karena Mas Suami menyuruhku untuk tidak ikut beliau mengurus yudisium karena antriannya yang terlalu panjang, takut aku capek, sekaligus karena salah satu adik tingkatku yang juga satu lab mengajakku untuk menunggu di lab saja daripada menunggu sendirian. Katanya juga, karena lab sedang ramai. Ya tidak apa-apa juga sih, habis ternyata sampai Bandung pun aku sampai tidak kepikiran soal jalan-jalan kemana atau pengen jajanan-jajanan itu. Malah tertariknya sama telur gulung yang dijual sama bapak-bapak di samping Masjid Syamsul 'Ulum (MSU), hehe. Dan memang soal Bandung yang aku tulis di atas pun sebenarnya karena pengen ditulis saja wkwk. Soalnya, yang sebenarnya mau aku ceritain itu adalah sewaktu pulang dari Bandungnya.

Eh, tapi sehari sebelum pulang, aku sempat pergi ke TSM ding, bertiga dengan Mas Suami dan Hilmi untuk makan malam. Rasanya kayak jalan-jalan sama bodyguard, dijagain kanan-kiri, hehehe.
Lanjut. Jadi karena beberapa hal, yang awalnya kami mau menggunakan kendaraan umum untuk ke Bandung pun, Qadarullah jadi dibatalkan dan diganti dengan mengendarai kendaraan pribadi. Alhamdulillahnya karena hal ini, kami jadi gampang kemana-mana di Bandung tanpa memikirkan soal kendaraan. Jadi bebas untuk mampir-mampir gitu. Dan karena beberapa minggu sebelum menikah aku sempat berbalas pesan dengan Husna—teman yang aku kenal karena kamar kami hadap-hadapan saat di asrama dulu—dan Husna juga bilang kalau sebenarnya dia ingin datang ke walimahanku tapi tidak bisa karena sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL) anaknya yang pertama, lalu kebetulan juga Husna adalah teman sekelas Mas Suami, yang ternyata suaminya Husna pun adalah teman Mas Suami saat dulu mereka berdua menjadi anggota DKM MSU (wah, banyak 'ternyata'-nya ya hehe), aku pun langsung mengajak Mas Suami untuk bersilaturrahim ke rumah Husna sekalian pulang ke Purbalingga karena memang arah tol dari Bandung ke Purbalingga itu lewat Cikampek.

Iya, jadi karena Husna baru saja melahirkan seminggu sebelumnya, dan ini pun adalah anak pertama, jadi Husna tinggal di rumah orang tuanya yang ada di Cikampek. Aku berinisiatif untuk mengajak Mas Suami pun karena saat aku iseng men-upload story di instagram, Husna men-reply story-ku itu dan mengajakku untuk bermain ke rumahnya. Apalagi karena memang aku ingin sekali bertemu dengan dek Kafiya. Iya, jadi anak pertama Husna itu namanya Fathimah Kafiya Azizah. Dipanggilnya Kafiya. Kulitnya waktu itu masih sangat merah, dan ukurannya pun masih keciiiiil sekali. Waktu aku ke sana memang umurnya masih satu minggu sih. Dan Alhamdulillah tidak susah juga untuk mencari rumahnya, karena letaknya yang persis di pinggir jalan dan dekat dengan gerbang tol.

Dan sewaktu aku bermain ke rumah dek Kafiya ini, kebetulan bertepatan dengan hari aqiqahannya. Jadi di rumahnya itu ramaaai sekali. Bahkan dek Kafiya saja saat aku datang, masih sedang dicukur gitu rambutnya. Lalu karena ukurannya yang masih kecil dan umurnya yang baru seminggu, aku tidak berani untuk menggendongnya, hehe. Jadi aku hanya sempat berfoto saja beramai-ramai dan ngobrol-ngobrol banyak. Dari mulai bertanya soal bagaimana rasanya menikah, sampai hamil dan melahirkan. Juga soal Husna itu masih ngoding atau tidak, karena kami kan basic-nya sama-sama dari jurusan yang ada koding-kodingannya, hehe. Yang lalu akhirnya kami menyimpulkan kalau kami itu ibu rumah tangga sekaligus freelance, meski lebih banyak free-nya wkwk. Ya, sekali-kali tetap ngoding atau update akan sesuatu sih, biar ilmunya tidak benar-benar hilang.
Cukup lama kami berbincang, sampai kalau tidak salah jam setengah 6 kurang, sehingga akhirnya kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Huhu, sedih sih sebenarnya karena tidak bisa berlama-lama. Tapi kapan-kapan kalau kamu sudah agak besar, dan diizinkan oleh Allah, boleh ya Ammah main-main lagi ke rumah. Biar Ammah berani nggendong kamunya, dek, hehehe.


Purwokerto, 11 Oktober 2018
Sudah lama sekali ingin dipost, tapi baru kesampaian sekarang
Alhamdulillah
Read More