Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Published Selasa, Januari 08, 2019 by Hannan Izzaturrofa

Alhamdulillah, akhirnya...

Setelah sekian lama cuti menulis, akhirnya bulan Oktober tahun kemarin aku memberanikan diri untuk menulis lagi. Tulisannya masih sederhana sih, karena hanya menceritakan tentang rentetan mimpi dan cita-citaku selama ini. Tapi Alhamdulillahnya, tulisan itu mampu masuk ke 50 besar dari 1272 tulisan yang ada―ketika setelahnya aku iseng-iseng mnegikutsertakan tulisan itu ke dalam sebuah lomba.

Aku bersyukur, meski tulisan itu baru bisa ikut masuk ke dalam sebuah antologi yang diterbitkan secara indie, setidaknya akhirnya aku bisa kembali menulis seperti dulu-dulu. Ya, semoga saja ini merupakan awal yang baik, atau mungkin sebuah batu loncatan, agar kelak bisa menghasilkan sesuatu yang 'lebih' daripada ini. 
Habisnya, aku sudah rindu mengumpulkan antologi lagi, sih. :)


Semoga Allah meridhoi, Aamiin.
Read More
Published Minggu, Mei 27, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #2

Sembari menyunggingkan senyum yang agak sedikit canggung, perempuan itu berjalan ke pojokan surau yang paling belakang; mendekati perempuan lain yang tengah duduk sambil memegangi Al Quran dengan satu tangan. Belum sempat ia mengambil posisi duduk dengan sempurna, tiba-tiba saja perempuan di hadapannya itu langsung mengulurkan tangannya―mengajaknya berkenalan. "Nama saya Dizi. Kamu siapa?"

Sejenak perempuan itu terdiam, menatap perempuan berkerudung merah jambu yang tadi dilihatnya itu dengan tatapan yang tampak sedikit keheranan. Tentu saja ia merasa semakin canggung setelah ditodong pertanyaan seperti itu. Namun, melihat senyum tulus yang terpancar di balik wajah perempuan tadi, ia pun menyambut uluran tangan perempuan yang kini sudah sempurna berada di sampingnya. Tentu saja perempuan itu hanya menyebutkan namanya, yang setelahnya langsung meraih ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Ya, perempuan itu tidak begitu suka berbasa-basi, apalagi dengan kondisi pikirannya yang sedang tidak karuan seperti ini. 

Namun, melihat respon yang tidak bersahabat seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu tadi justru kembali tersenyum. Ia kemudian meraih sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan dua buah buku berukuran kecil; buku Al Matsurat. Disodorkannya salah satu dari kedua buku tadi kepada perempuan itu. "Udah dzikir pagi belum? Kalau belum, kita dzikir pagi sama-sama, yuk." Ajaknya.

Sejujurnya perempuan itu merasa tidak nyaman dengan sikap terlalu bersahabat yang ditunjukkan oleh perempuan berkerudung merah jambu itu. Ia pun hanya merespon dengan senyumannya yang tampak setengah-setengah sembari meraih buku Al Matsurat yang disodorkan kepadanya, yang kemudian ia buka-buka isinya dengan malas; berusaha menghargai perempuan yang entah mengapa tetap tersenyum kepadanya―menyebalkan sekali. Dan meski direspon seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu itu tidak menampakkan kegoyahannya sama sekali. Ia justru terlihat bersemangat dan malah menuntun perempuan itu untuk mengikuti apa-apa yang dibacanya dari buku kecil itu. Mau tidak mau, perempuan tadi pun akhirnya ikut membacanya; meski dengan setengah hati.

Namun, tidak sampai lebih dari lima menit waktu yang dibutuhkan oleh perempuan itu untuk tetap terfokus pada bacaan dzikir paginya saat itu. Perlahan-lahan ia pun mulai goyah, mengedarkan pandangannya ke pojok-pojok surau seperti yang dilakukannya saat pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam surau sambil bergumam; berusaha tetap mengikuti bacaan yang dilakukan perempuan berkerudung merah jambu itu. Dan diakhir perjalanan pandangannya ke setiap pojok-pojok surau, perempuan itu justru memerhatikan perempuan berkerudung merah jambu yang sedang duduk sempurna di sampingnya.

Cukup banyak yang ia perhatikan saat itu. Mulai dari wajah, tangan, cara berbicara, dan bagian-bagian lainnya. Sesekali ia mengagumi sosok perempuan itu, terlebih karena struktur wajahnya yang terlihat tegas dan berkharisma. Ia mengakui, bahwa perempuan yang berada di sampingnya itu memiliki wajah yang cantik―hidung mancung sedikit bengkok di ujungnya, kulit yang putih, alis tebal, bulu mata lentik, dan mata yang dalam―yang entah mengapa terlihat seperti campuran arab-sunda. Gamis yang digunakannya pun tampak anggun dengan aksen sulaman di bagian bawahnya.

Dan diperhatikan begitu, perempuan berkerudung merah jambu itu pun menghentikan sejenak bacaannya, yang lalu kemudian bertanya. "Kenapa? Ada yang aneh dengan saya?" Sehingga sempurna membuat perempuan itu terkejut dan menjadi sedikit terbata-bata setelahnya.


- To be continued.
Read More
Published Sabtu, Mei 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #1

Seorang perempuan berjalan tergesa-gesa dari ujung persimpangan. Jalanan ibu kota dan gang-gang yang terlalu sempit membuatnya terlambat setengah jam dari waktu yang telah ditentukan. Sempat tersasar dan harus berputar-putar pada jalanan yang sama membuatnya menghabiskan hampir satu jam di perjalanan. Padahal, jarak rumahnya dengan surau tidaklah seberapa.


Langkah kakinya sudah ia buat selebar-lebarnya. Dari kejauhan, tampak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain masak-masakan; tertawa riang dengan beberapa diantara mereka yang tampak berloncatan di ujung-ujung serambi surau. Mungkin energi mereka masih tersisa banyak, karena saat itu waktu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi―begitu pikirnya. Tetapi, meskipun berpikir begitu, tiba-tiba saja ia merasa seperti dikerubungi rasa malu yang sangat luar biasa. Lihatlah, ia bahkan sudah merasa haus dan kelelahan hanya karena ia baru saja menghadapi macetnya jalanan ibu kota. Ia merasa kalah dengan mereka. Padahal, usia mereka jelas terpaut sangat jauh dengannya. Mungkin hampir lima belas tahun.


Belum genap rasa malunya itu hilang, tiba-tiba saja kakinya terasa kaku. Ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya, menghela napas sejenak, memijat-mijat betisnya, sebelum kemudian kembali mempercepat langkahnya. Butuh sekitar lima menit lebih untuknya berjalan mendekati serambi surau. Kini sekumpulan anak perempuan itu hanya berjarak sekitar seratus meter di hadapannya. Namun, karena perempuan itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, derap langkahnya pun menjadi terdengar cukup berat; membuat seorang anak yang duduknya paling dekat dengan pintu masuk surau langsung berlari menghampirinya sebelum ia sempat memijakkan kakinya di atas serambi surau.

"Kalau mau masuk, ucapin password-nya dulu! Kalau nggak tau, berarti kakak harus ngasih kami uang seratus ribu!" Ujar anak itu sambil memegangi sisi-sisi pintu masuk; berusaha menghalangi perempuan itu untuk sekedar masuk ke serambi surau. Sejenak perempuan itu termenung. Satu detik... dua detik.. tiga detik.. perempuan itu terus berpikir, sampai tiba-tiba sebuah kalimat terlintas di pikirannya.

"Assalamu'alaikum..." Jawab perempuan itu. Anak perempuan di hadapannya itu pun tertawa, melepaskan kedua tangannya dari sisi-sisi pintu masuk, lalu kemudian berlagak seperti seorang pramugari yang sedang mempersilahkan para penumpang untuk masuk ke dalam pesawat. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengelus-elus kepala anak kecil di hadapannya, yang lalu setelahnya tampak berjalan terseok-seok ke dalam surau. Rupanya tadi kaki kirinya sempat menabrak rak sepatu yang diletakkan di samping serambi ketika sedang berusaha melepaskan sepatu yang digunakannya―yang entah mengapa tiba-tiba saja menjadi susah dilepaskan.

Sambil menahan rasa sakit yang timbul dari ujung kaki kirinya, ia pun memasuki surau dengan mengedarkan pandangannya ke ujung-ujung surau. Namun, belum genap seluruh pojokan surau ia perhatikan, tiba-tiba saja matanya tidak sengaja bertatapan dengan seorang perempuan lain yang tengah tersenyum tulus kepadanya; membuatnya secara tidak sadar ikut menyunggingkan senyum yang selama ini sempat hilang dari wajahnya.

Allah, akhirnya perempuan itu kembali tersenyum.

- To be continued.
Read More
Published Selasa, April 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Aku Ini Monster

Aku ini monster.
Tapi topengku sangatlah cantik.
Bak bunga di musim semi.
Senyumku mampu hilangkan pilu.

Aku ini monster.
Terlahir dari sebuah penyakit.
Bermuka dua penuh kepalsuan.
Demi bertahan untuk tidak dikucilkan.

Aku ini monster.
Lalu mereka mulai membenciku.
Tapi tidak dengan topengku.
Karena aku ibu peri dengan itu.

Aku ini monster.
Dan sempat terbesit dalam hati.
Apakah menghilang pilihan terbaik?
Karena tak selamanya aku menyembunyikan itu.


Selasa, 24 April 2018;
saat menulis ini, aku bertanya dalam hati;
apakah cinta hanya memandang bahagianya saja?
secepat itu melepaskan hati; meninggalkan luka;
tanpa peduli apa yang telah tergoreskan.
Read More
Published Selasa, April 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Biasanya, Dia...

Dia yang selalu bahagia;
biasanya yang paling sedih hatinya.

Dia yang selalu tersenyum;
biasanya yang paling sering menangis di malam-malamnya.

Dia yang selalu ceria;
biasanya yang paling terpuruk harinya.

Ya, dia;
yang lebih suka menutup diri,
yang pandai menyembunyikan rasa,
hanya akan terbuka pada dirinya,
atau setidaknya hanya satu orang,
yang sangat disayangkan,
biasanya tak dapat menerima, kekurangannya;
biasanya yang paling butuh dukungan untuk hidupnya.

Karena dia yang sebenarnya lemah;
biasanya hanya dicintai karena topeng cantiknya.


Selasa, pada malam-malam yang panjang.
Read More
Published Kamis, April 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Berpura-pura

Berpura-pura,
tapi tak mengapa.
Aku tak terbiasa,
tapi ini pilihmu.

Yang katanya bertahap,
tak berlaku untukku.
Apa yang ku bilang,
tak jadi pikirmu.

Selamat.
Akhirnya waktu yang kau tunggu pun datang juga.


Jakarta, 19 April 2018; 07:11
Penyakit ini, ku harap bisa sembuh.
Karena mereka mulai menyebutku gila.

Read More
Published Selasa, Maret 27, 2018 by

Ya Rabb, Aku Lemah..

Ya Rabb..

Terima kasih
Hari ini kau telah benar-benar mengajariku
Tentang apa itu arti kehilangan
Bahwa semua adalah milik-Mu
Manusia tak berkuasa, sedang Kau lah Maha Kuasa

Ya Rabb..
Tak ku sangka kepalaku terasa berat
Rasanya hendak tersungkur
Tetapi tanggungjawab masih banyak
Hingga bila mampu ku meminta
Tak ku pinta agar dimudahkan

Ya Rabb..
Harapanku adalah sebuah kekuatan
Agar aku mengerti arti kesabaran
Agar aku kuat dalam setiap ujian
Karena Oh Allah, aku lemah..
Dan kadang-kadang aku susah

Ya Rabb, Kuatkan aku..
Read More
Published Senin, Maret 05, 2018 by

Teruntuk: Kamu

Teruntuk, kamu yang hanya melihat keindahan.

Aku tidak akan menyalahkan.
Karena yang sudah adalah sudah.
Dan yang berlalu akan terus berlalu.
Meski, harus ada pengorbanan,
untuk sebuah pertemanan.
Aku pastikan tak akan ada dendam.

Karena aku mulai memahami,
sejatinya yang membuat nyaman,
tak selamanya mampu bertahan.


Jakarta, 5 Maret 2018
Dari perempuan yang telah kau patahkan hatinya.
Read More
Published Kamis, September 14, 2017 by

Puisi: 14 September 2017

Banyak kata yang tak dapat diucapkan
Banyak kisah yang tak dapat diceritakan
Banyak air mata yang harus dihilangkan
Banyak kesedihan yang harus dilupakan

Meski hadirmu memberi warna
Pada akhirnya akan berakhir duka dan nestapa
Untuk itu, maaf dan terima kasih
Atas segala yang sudah-sudah Read More
Published Selasa, September 12, 2017 by

Puisi: 12 September 2017

Sejatinya hidup itu pilihan
Pilihan untuk bangkit atau terpuruk
Pilihan untuk berjalan atau berlari
Pilihan untuk berpindah atau berdiam

Dan memang benar-benar pilihan
Pilihan untuk menunggu atau berlalu
Pilihan untuk bersedih atau bahagia
Pilihan untuk berjuang atau menyerah

Ya, hidup memang pilihan
Tidak seperti mati yang kepastian
Hidup butuh keberanian
Keberanian untuk memilih dan bertahan

Karena hidup adalah pilihan
Dan setiap pilihan menentukan
Apakah hidup menjadi seorang pemenang
Atau mati dengan kesia-siaan

Untuk itu, bisa kah aku percaya padamu?
Di masa depan, meskipun, terpisah jarak yang panjang
Karena hidup memang pilihan, tapi tidak dengan kamu
Karena kamu adalah tujuan yang pantas diperjuangkan Read More
Published Senin, September 11, 2017 by

Puisi: 11 September 2017

Terkadang, hidup ini lucu
Beberapa kata tak dapat terucap
Beberapa pesan tak dapat tersampaikan
Beberapa asa hanya menjadi angan

Hingga hidup dipenuhi kepalsuan
Bertopeng semu, menjadi penipu
Terkadang malah jadi benalu
Namun, bukannya tak mau, hanya saja tak mampu

Lalu, ada kah cara lain selain kata?
Yang mampu menghantarkan rindu
Mampu menjelaskan maksud
Mampu menghantarkan asa

Karena terkadang, diri ini ingin didengarkan
Meskipun bibir tak dapat berucap

*sungguh, aku benar-benar tidak panda membuat puisi Read More
Published Senin, November 14, 2016 by

Puisi: 14 November 2016

Aku tidak pernah sesedih ini, terperangkap
Bersama semua kenangan yang terukir
Bersama semua canda, tawa, tangis, luka yang hadir
Bersama keputusasaan di saat aku benar-benar cinta

Mungkin aku telah dibutakan
Oleh cinta yang sepertinya penuh luka
Oleh rindu yang sebenarnya salah
Hingga aku terlupa, bahwa hanya kepada Allah lah tempat ku labuhkan diri

Tapi kini, aku harus bangkit
Mengikhlaskan apa yang memang harus diikhlaskan
Karena aku tidak sebodoh itu untuk terus di sini
Hidup dalam pengharapan akan cinta yang sia-sia

Terima kasih, karena telah mengingatkanku
Untuk mencintai apa yang seharusnya aku cintai
Membuatku membuka mata dan mampu melangkah
Membuatku mampu beranjak pergi

Semoga persahabatan ini, 'kan tetap abadi
Menjadi satu dari tujuh persahabatan
Menjadi sahabat dunia akhirat
Bersama berada di Jannah-Nya

Dan untuk kamu, selamat tinggal
Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan
Karena apa yang kamu sia-siakan,
Tidak akan pernah bisa kamu dapatkan kembali Read More
Published Jumat, Januari 29, 2016 by

Kembali Memulai

Menutup diri
Bak seorang introvert di tengah keramaian
Kehilangan teman, kehilangan kawan
Entah mengapa terasa lebih menyenangkan

Bahkan, menyendiri
Menutup impian akan sesuatu yang telah usai
Berakhir, pun berbekas
Terkadang sakit, benar adanya

Tidak,
Aku hanya ingin kembali memulai
Read More
Published Selasa, Oktober 13, 2015 by

Puisi: 13 Oktober 2015

Jatuh cinta memang sakit.
Terlebih ketika harus menjadi salah satu dari dua orang yang saling mencintai,
namun berprinsip untuk saling memantaskan diri.
Berusaha untuk sekadar mengagumi,
namun hasrat terus meninggi.

Jatuh cinta memang sakit.
Ketika harus mengontrol diri untuk tidak saling berkomunikasi.
Lelah hati menahan rindu yang bergejolak dalam diri.
Hanya mampu berdoa kepada Sang Pemilik Hati. 

Jatuh cinta memang sakit.
Tapi yakinlah, di balik sabar dan sakitmu,
akan ada bahagia menanti.
Ya, suatu saat nanti.
Ketika cintamu dihalalkan oleh ikatan janji suci.

Jatuh cinta memang sakit.
Namun bersabarlah.
Karena sesungguhnya pacaran setelah menikah jauh lebih indah.
Read More
Published Senin, September 15, 2014 by

Embun

Embun
Datang menemui pagi
Di tempat gadis kecil berdiam diri
Berteman sepi
Setiap pagi
Gadis kecil selalu menanti
Datangnya embun pagi
Berharap embun mengerti
Akan harapan diri
Tapi
Embun tak suka didekati
Embun tiba-tiba pergi
Meninggalkan gadis kecil sendiri
Kembali berteman sepi
Embun lebih memilih pergi
Embun lebih suka pagi
Embun lebih suka sendiri
Read More
Published Rabu, September 12, 2012 by

Ulasan Cerpenku oleh FAM Indonesia

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerpen “tanpa judul” karya Hannan Izzaturrofa, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Purwokerto. Ya, cerpen ini benar-benar tidak berjudul, disengaja oleh penulisnya dan diserahkan ke Tim FAM untuk diulas. Tentu diharapkan nanti cerpen ini diberikan judul. Ibarat tubuh manusia, judul adalah kepalanya. (Sebenernya berjudul, hanya saja judulnya aku jadikan nama file untuk menyimpan naskah cerpen ini-Hannan Izzaturrofa)  

Cerpen ini berkisah tentang Dido, seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental. Ia sulit berbicara. Tentu saja ini menjadi kekhawatiran orangtuanya. Bagaimanapun, orangtua pasti ingin anaknya lahir dalam keadaan normal dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Namun hal ini tidak terjadi dalam keluarga miskin, yang seharinya-harinya mengais rejeki dengan menjadi pembantu di kediaman pak Suryo.

Ada sebuah pesan yang menarik yang diungkapkan penulis dalam cerpen ini. Diceritakan, ayah Dido sangat marah ketika Dido dihina oleh Tuan Suryo. Ia rela jika dirinya dihina, tapi tidak untuk anaknya. Ini adalah sebuah pesan yang ditujukan bagi siapa pun yang memiliki anak dalam kondisi tidak normal bahwa sebagai orangtua yang baik seharusnya tetap memperlakukan anaknya dengan baik. Jika kita lihat, banyak orangtua yang merasa malu memiliki anak cacat, bahkan ada yang tega membuang dan tidak mengakui anaknya.

Pemilihan kata yang digunakan oleh penulis cukup bagus. Teknik penulisannya juga. Hanya saja, ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan EYD. Misalnya kata ‘ditangannya’ pada paragraf ketiga, seharusnya ditulis ‘di tangannya’. Penulisan kata ‘di’ jika diikuti kata tempat adalah dipisah.

Secara keseluruhan cerpen ini baik, termasuk juga dalam segi ide cerita. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin membaik.
Semangat berkarya!

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

CERPEN (TANPA MENYERTAKAN JUDUL)
Oleh Hannan Izaturrofa
IDFAM861S Anggota FAM Purwokerto

Pagi itu memang pagi yang indah. Anak-anak yang seharusnya tahu diri membantu orang tuanya malah masih tertidur pulas bercengkerama dengan mimpi masing-masing. Suara adzan subuh yang terdengar lantang itu hanya mampu membuat mereka sedikit bergerak, lalu kembali tertidur pulas. Berbeda sekali dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu.

Anak itu sedang sibuk memetik buah apel berwarna hijau di kebun milik majikannya, Tuan Suryo. Wajahnya serius. Dengan susah payah, tangan kanannya berusaha meraih buah apel tertinggi. Gesit. Terampil tangannya meraih. Ia tersenyum, mengumpulkan apel-apel yang terjatuh, kemudian kembali mencari buah apel yang cukup matang untuk dipetik. Ia cekatan dan sangat teliti.

10 menit. Ia masih sibuk. Malangnya, tumpuan kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya yang tidak seimbang. GUBRAK! Seketika itu juga apel-apel hijau ditangannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa kayu-kayu. Ia tidak menangis, hanya meringis menahan sakit. Tangan dan kakinya terluka.

“Baaa.. Maa…”, teriak anak itu. Ia merangkak, berusaha bangkit. Tangan dan kakinya terasa perih.

Dari kejauhan, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya penuh guratan-guratan lelah. Kulitnya hitam legam, terlalu lama terbakar sinar matahari. Wajahnya ramah, sangat bersahabat. Walaupun seketika berubah menjadi cemas.

Dengan sigap, digendongnya anak itu menuju gubuk tua yang tidak jauh dari situ. Gubuk itu memang sudah tua. Pondasinya sudah rapuh, dengan kayu-kayu yang sudah berlubang di sana-sini. Bukan cinta alasan yang tepat untuk tinggal di gubuk tua itu, namun karena tidak memiliki uang lebih untuk membangun gubuk yang lebih layak. Untuk membeli makan saja masih harus berhutang.

Dengan kain abu-abu tua dan air seadanya, dibersihkannya luka-luka itu. Cepat, namun berhati-hati. Anak itu tertawa. Tangannya terangkat meraih. Rupanya ia ingin mengobati lukanya sendiri. Pria itu menggeleng, lalu tersenyum. Tahu keinginannya tidak dituruti, anak itu sontak menangis. Meronta-ronta, menarik-narik apa saja yang ada di hadapannya.

Setelah sekian lama meronta-ronta, anak itu lalu terdiam. Lelah. Ia malah sibuk memandangi luka-lukanya. Mungkin ia terheran mengapa luka itu bisa ada di tubuhnya. Atau mungkin juga sedang mencari tahu mengapa luka-luka itu bisa memerah, terasa sakit ketika disentuh, atau yang lainnya.

“Apa yang terjadi dengan Dido?”, terdengar suara serak parau dari arah dapur. Seorang wanita dengan sehelai kain yang menutupi kepalanya menghampiri dengan senyum yang agak dipaksakan. Wajahnya tidak kalah lelah dengan pria tadi.

“Dido terjatuh. Tangan dan kakinya terluka. Tapi sudah diobati”, jawab pria itu seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Masih sakit?”, tanya wanita itu lembut. Dido mengangguk pelan, menunjukkan tangan dan kakinya yang masih memerah.

“Sebentar lagi pasti sembuh. Ini tidak akan lama”, ucap wanita itu sambil tersenyum. Diambilnya sepiring nasi dan lauk seadanya dari atas meja tua.

“Baaa.. Maa..”, teriak Dido girang. Lahap sekali ia makan. Sepiring nasi aking dan bayam goreng.
***
7 tahun silam. Ketika itu langit masih berwarna kemerah-merahan. Seorang wanita dengan pakaiannya yang lusuh sedang bermain bersama anak semata wayangnya. Tampak di sudut matanya sebuah kekhawatiran. Di ujung sana, sekumpulan wanita paruh baya sedang menyuapi anak-anaknya yang terus berlarian entah kemana. Ada yang berteriak, ada yang saling lempar, dan ada pula yang duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Mereka semua tertawa, menikmati sisa-sisa sinar matahari yang masih ada.

Ada sebersit rasa iri di benak wanita itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Dibelainya kepala anaknya yang masih sibuk dengan gumpalan tanah. Sesekali anak itu berteriak, melempar seluruh tanah yang digenggamnya. Tidak peduli jika tanah yang dilemparnya itu mengenai matanya. Ia hanya tertawa, mengucek-ngucek matanya yang memerah, lalu kembali bermain dengan tanah-tanah itu.

Ya Allah, mengapa anakku berbeda?

Dido, anak semata wayang yang dulu diharapkannya tidak seperti anak-anak lainnya. Entahlah, Dido tidak bisa berbicara dengan lancar. Bibir mungilnya hanya bisa mengucapkan kata ‘Maa’ dan ‘Baa’ setiap kali ia ingin berbicara. Dido juga mengalami keterbatasan mental. Sebuah kenyataan yang buruk jika melihat kondisi keluarganya yang pas-pasan.

Keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalimat itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir dari-Nya.
***
“Itu apel milikku!”, teriak seorang anak laki-laki dari balik pintu bangunan yang megah. Dengan sigap, ia berlari menghampiri Dido dan langsung merebut karung gandum itu. Kasar sekali. Wajahnya tampak garang. Apel-apel di dalam karung gandum itu ditumpahkannya ke tanah.

“Baa.. Maa..”, merasa terganggu, Dido berteriak. Tangannya berusaha mengumpulkan apel-apel yang jatuh ke tanah. Tapi anak itu menghalaunya. Dido menggeram keras.

“Ini apel milikku! Kau tidak boleh mengambilnya!”
“Baa.. Maa..”

Dido menangis. Ia meronta-ronta. Anak laki-laki yang merebut apel-apel itu tertawa mengejek. Dengan santai, ia memakan apel-apel itu, lalu melempari Dido dengan sisa apel yang dimakannya. Kali ini Dido merasa sangat terganggu. Dengan cepat, ia mengambilnya batu di sekitarnya.

Sepersekian detik, batu itu mendarat tepat mengenai pelipis mata anak itu. Sontak ia menangis, berteriak memanggil ayahnya. Lima menit. Seorang pria berkulit putih bersih keluar dari pintu bangunan mewah itu. Berjalan dengan gagah, namun tampak sombong. Wajahnya merah padam.

“Apa yang kau lakukan dengan anakku!”, bentaknya. Ia lalu mendorong Dido keras. Terjerembab. Lukanya yang sudah agak mengering basah kembali.

“Baa.. Maa..”

“Jangan sakiti anakku tuan”, suara lantang itu memecah, terdengar jelas. Pria berkulit hitam itu melangkah menghampiri Dido yang sedang meringis kesakitan.

“Kau membelanya? Apa yang bisa kau banggakan dari anakmu yang cacat ini?!”, hardiknya keras. Jari telunjuknya teracung-acung ke depan.

Sontak saja pria berkulit hitam itu marah. Wajahnya memerah, menggeram garang. Bukan karena keadaannya yang miskin. Bukan. Ia marah karena Dido, anak semata wayangnya dihina. Tidak ada yang boleh menghina Dido.

“Tuan tidak boleh menghina Dido!”, teriaknya lantang. Ditariknya Dido menjauh.

“Akan saya kurangi gaji kau karena telah melawanku!”, teriak Tuan Suryo. Pria itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan beriringan dengan Dido meninggalkan Tuan Suryo dan anaknya.

“Baa.. Maa..”, Dido melawan. Ia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam pria itu. Tuan Suryo dan anaknya sudah berbalik. Dido membungkuk. Diraihnya sisa-sisa apel tadi.
***
“Darimana kau dapatkan apel itu Dido!”, hardik wanita itu. Dengan keras ia menggenggam dan memukul lengan Dido dengan ranting sisa kayu bakar. Sakit. Dido berteriak meronta-ronta. Genggaman itu semakin kuat. Dido berusaha melepaskan genggaman itu.

“Diam! Siapa yang mengajarimu untuk menjadi seorang pencuri! Kau mau memberi Ibu apel hasil curian?!”

“Baa.. Maa..”, tangisan Dido semakin mengeras. Ia kembali meronta-ronta, berteriak mencari pertolongan. Pria yang sedari tadi memperhatikan Dido dan wanita itu hanya bisa meringis mengelus dada. Ia ingin membela, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.

“Kembalikan apel itu! Ayo kembalikan!”, dengan keras, wanita itu menarik lengan Dido keluar rumah. Dido kembali meronta-ronta namun tidak dipedulikan.

Baru beberapa langkah, kaki wanita itu terhenti ketika melihat sebuah pohon apel yang baru dilihatnya. Pohon itu tumbuh tidak jauh dari gubuk tuanya. Tampak cukup besar, namun ia sama sekali tidak menyadari keberadaan pohon itu. Ditatapnya pohon apel itu lumat-lumat. Genggaman tangannya perlahan terlepas. Dido yang merasa sudah terbebas itupun langsung berlari menghampiri pohon apel itu.

“Baa.. Maa..”, teriaknya sambil melambai-lambai.

Wanita itu menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya.

“Mengapa ada pohon apel tumbuh di situ? Bukankah batas kebun milik Tuan Suryo ada di depan rumah kita? Ini kan diluar jalur mereka”, tanya wanita itu terheran-heran.

“Itu bukan milik Tuan Suryo”, jawab pria itu. Pandangannya lurus menatap Dido.
“Maksudnya?”

Pria itu tidak menjawab. Ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Dido yang masih berteriak, tertawa-tertawa. Wanita itu semakin penasaran. Diikutinya langkah suaminya itu.

“Dido yang menanamnya. Ia menanamnya dari sisa apel yang dibuang oleh anak Tuan Suryo. Dia yang merawatnya. Ia sangat sayang padamu. Ia tahu kau sangat menyukai buah apel”

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh wanita itu bergetar. Air matanya tak mampu dibendung lagi, mengalir deras. Tubuhnya melemas. Ia tersungkur persis di depan Dido.

“Baa.. Maa..”, ucap Dido menghampiri. Dijulurkannya buah apel yang baru dipetiknya. Dido tersenyum, manis sekali.

Tangis wanita itu semakin keras. Dipeluknya tubuh Dido. Ia masih bergetar.

Wanita itu tersadar. Sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan, Dido bukanlah seorang pencuri seperti yang ia kira. Dido bukan seorang pengecut. Keterbatasan ternyata tidak menghambat keinginannya untuk memetikkan buah apel, hadiah untuknya. Betapa bodohnya ia, tidak menyadari kesibukan Dido selama ini. Yang ia tahu, Dido hanya bermain dan terus bermain. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Dido telah bersusah payah untuk menanamkan pohon apel untuknya.

Ia sangat menyesal dengan tindakannya. Sangat menyesal. Lihatlah. Dido masih mau dipeluknya. Ia masih mau tersenyum, bahkan kembali memetikkan buah apel untukknya. Padahal, luka di lengannya masih mengeluarkan darah. Perih sekali.

“Maaf sayang.. Maafkan Ibu.. Ibu sayang Dido..”, sesalnya.

“Tidak usah menangis. Lihatlah, Dido tidak suka dengan raut wajahmu yang terlihat sedih”, ucap pria itu. Dibopongnya tubuh wanita itu, bangun.

Ibu sayang Dido.. Ibu akan selalu menjaga Dido.. Sekuat Ibu.
Read More
Published Kamis, Maret 15, 2012 by

Serial-Fazila: Ada Bintang Jatuh?

“Eh, katanya sekolah kita bakal kedatangan anak baru. Dan anak baru itu bakal sekelas sama kita loh!”, teriak Fita dari atas meja guru, persis seperti orang yang sedang berdemo. Tapi dari 39 murid yang diteriaki, tidak ada satupun yang menjawab. Semua asyik dengan kesibukannya masing-masing. Hanya ada satu-dua orang yang menoleh, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggerombol dengan geng-nya masing-masing.

Tapi bukan Fita namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia pun kembali berkoar-koar sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.

“Anak baru itu namanya Cikita Lilly, yang suka nongol di TV itu looh!”

Teriakan kali ini ternyata lebih manjur dari yang sebelumnya. Suasana kelas I-3 yang sebelumnya sunyi senyap pun berubah drastis. Ada yang berteriak, ada yang joget-joget nggak karuan, ada pula yang menangis, entah apa alasannya. Fita yang masih setia di atas meja pun tersenyum puas sambil berdecak pinggang. Satu menit, dua menit, pertanyaan demi pertanyaanpun terlontar. Dengan gayanya yang sok elegan, Fita pun turun dari singgasananya dan langsung menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar bak artis yang sedang diwawancarai.

Kabar kedatangan Cikita Lilly ke SMA 44 pun langsung menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Tidak hanya penghuni tetap saja, tetapi abang-abang becak, mbak-mbak kantin, sampai pedagang-pedagang kaki lima pun tahu kabar ini. Mereka para mbak-mbak kantin yang ngakunya terbelakang soal biaya tapi tetap gaul itu pun heboh mempersiapkan segala macamnya. Dari mandi pake kembang tujuh rupa sampai make up yang katanya bisa sedikit memperbaiki wajah. Padahal, lebih mirip ondel-ondel daripada terlihat makin cantik. Abis, menor gituu...

Tapi jelas, diantara mereka-mereka yang sibuk berlomba-lomba mempersiapkan kedatangan Cikita ke sekolah, kelas I-3 lah yang terlihat paling sibuk. Bukan hanya sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing, tetapi mereka juga sibuk menghebohkan kelas lain. Bagaimana tidak? Menurut sumber yang terpercaya, kepala sekolah akan menempatkan Cikita di kelas mereka. Tentu saja ini membuat iri kelas lain.

Walaupun begitu, dari beribu-ribu murid yang tampak heboh dengan segala sesuatunya, ternyata ada secuil murid yang cuek, atau malah terkesan masa bodo dengan kedatangan artis yang lagi ngetop-ngetopnya itu. Kalau kita tanya alasannya, pasti mereka dengan santai menjawab, Lah, sama-sama manusia, makan nasi juga, ngapain sampe heboh gitu, ya toh? 

Sebenarnya kalau kita mau berfikir sedikit, pendapat mereka juga banyak benarnya. Artis kan juga manusia. Sama-sama makan nasi walaupun kadang lauk-pauknya terlihat berkelas. Sama-sama manusia ciptaan Allah. Pokoknya banyak kesamaannya deh dengan orang bias. Tapi ya, walaupun begitu, artis tetap saja artis. Memiliki penggemar atau umumnya disebut  fans merupakan hal yang wajar bagi dunia per-artisan.
* * * * * *
“Mereka itu norak!”, komentar Tami saat jam kosong. Bu Dian, guru mata pelajaran Biologi yang seharusnya sekarang mengajar sedang berhalangan hadir.

“Setuju!”, jawab Tika antusias. Tangannya yang mengepal diangkatnya ke atas, persis seperti orang-orang yang sedang berdemo. Untung saat itu kelas sedang sepi.

“Mereka kayak nggak pernah ketemu artis aja ya!”, balas Fina, gadis subur yang baru sebulan ini memantapkan diri untuk memakai jilbab. Kedua tangannya sibuk menggenggam berbagai macam jenis coklat.

“Emang kamu pernah ketemu sama artis? Dimana? Dimana?”, kali ini Tika memasang wajah serius. Tangannya yang cukup lama terangkat itu pun dilipatnya di atas meja.

“Penyah dong! Di TV kan seying!”, jawab Fina mantap sambil mengunyah coklat. Fina yang sudah capek-capek serius langsung memasang wajah kecewa. Sedangkan Fazila yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bertiga pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Diantara keempat cewek berjilbab ini, memang Fazila lah yang paling terkesan pendiam. Mau bagaimana lagi? Ketiga temannya itu kelewat cerewetnya. Satu kalimat saja bisa jadi bahan obrolan sehari semalam.

“Udah ah, jangan ngomongin orang mulu. Cikitanya aja belum tentu dateng, udah pada heboh gitu”, kali ini Fazila ambil suara. Ditatapnya wajah teman-temannya sambil tersenyum.

“Ah kamu, ini masalah penting tau!”, jawab Tika dibarengi anggukan kedua temannya. Mereka terlihat gemas dengan sikap tenang Fazila. Dikroyok begitu, Fazila hanya cengengesan yang tentu membuat ketiga temannya bertambah gemas.

“Pentingan mana sama tugas bu Dian? Jam kosong begini jangan dibuat ngerumpi dong!”, balas Fazila sambil ngeloyor pergi meninggalkan ketiga temannya yang terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, terdengar suara koor teriakan mereka.

“Jangan dikumpulin dulu dooong, belum nyontek niih..!!!”
* * * * *
“Fazila nggak setia kawan nih!”
“Iya, setuju!”
“Setuju banget!”

Serempak ketiga jilbaber itu berdemo kecil-kecilan sesaat setelah disetrap oleh bu Dian karena tidak mengumpulkan tugas. Fazila hanya tertawa kecil menanggapi sikap ketiga temannya. Mereka pun jadi semakin jengkel. Melihat perubahan sikap dan wajah ketiga temannya yang semakin menyeramkan, Fazila pun angkat bicara.

“Iya deh maaf, habis kalian ngerumpinya nggak berhenti-berhenti sih”

Tika, yang paling jengkel dengan Fazila gara-gara bu Dian menambahkan hukumannya karena ketahuan memiliki kuku yang panjang pun buru-buru menjawab.

“Tapi kan nggak usah pake pelit cotekan gitu!”

Fazila langsung diam melihat Tami dan Fina yang mengangguk dan mendukung penuh kalimat Tika barusan. Sebenarnya, Fazila bukannya sengaja membuat ketiga temannya itu di hukum oleh bu Dian. Ia hanya ingin membuat mereka tidak selalu mengandalkan contekan. Hanya saja, mungkin bukan di waktu yang tepat.

“Iya deh maaf”, jawab Fazila tertunduk. Serempak ketiga temannya itu tertawa.
“Bercanda kaliiii..”
“Kita nggak semarah itu kok! Cuma lain kali jangan pelit contekan gitu dong!”

Fazila pun terdiam, bingung. Kejadian lima menit setelah itu juga membuat Fazila bertambah bingung. Namun kali ini, Fazila tidak sendirian. Ketiga temannya yang sejak tadi menertawakan Fazila juga ikut bingung. Mungkin malah lebih bingung dibandingkan dengan kebingungan yang dialami oleh Fazila. Saking bingungnya, mereka jadi terlihat membingungkan. Nah lhoo, kalian ikut bingung juga nggak? Hihi...

Kembali ke topik cerita. Yang membuat keempat gadis remaja itu bingung adalah kejadian di luar kelas yang dengan tidak sengaja mengundang perhatian mereka. Dari arah ruang Kepala Sekolah, tampak Fita sedang berlari diikuti gerombolan murid-murid dari berbagai kelas. Sepertinya dari kelas satu sampai tiga ada.

“Ada apaan sih?”, tanya Tika yang sudah nangkring di depan kelas. Kebetulan, saat itu Agus sang ketua kelas sedang berhenti di depan kelas sambil berdecak pinggang.

“Cikita Lilly yang selama ini jadi bahan omongan ternyata bukan artis! Mending kalo cakep, nah ini mukanya berbintang!”, jawab Agus sambil mengatur nafasnya yang naik turun nggak karuan. Wajahnya yang agak putih berubah menjadi merah karena saking marahnya.

“Lah terus kenapa Fita yang dikejer-kejer gitu? Kan katanya dia dapet informasi dari sumber yang terpercaya”, tanya Fina menimpali. Jilbabnya yang menjuntai ke bawah diikatnya di leher.

Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal, Agus pun menjawab dengan nada ketus. “Orang yang Fita sebut sumber yang terpercaya itu ya Fita sendiri! Dia cuma nggak sengaja nguping pembicaraannya Kepala Sekolah sama guru-guru!”.

“oooo..”
“Bantuin Fita dong, kasian tuh, kamu kan ketua kelas”, ujar Fazila menimpali. Raut wajahnya tampak prihatin.

“Ogah ah! Gue udah kesel berat!”, jawab Agus sambil ngeloyor pergi. Tampaknya memang Agus termasuk orang yang paling dirugikan dari kejadian ini. Maklum, Agus termasuk salah satu fans beratnya Cikita. Terlebih lagi, doi udah rela menghabiskan uang jajannya di salon untuk menyambut kedatangan sang bintang remaja itu.

“Trus gimana dong?”, Tami yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun buka suara. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ini menandakan bahwa Tami sedang berfikir keras.

“Yah, berhubung Agus udah nggak bisa diandalkan lagi. Berarti kita yang harus membantu Fita”, jawab Fazila sambil berjalan menghampiri kerumunan pada demonstran itu. Bukannya ikut menghampiri, ketiga gadis modis itu malah saling berpandangan. Satu menit, dua menit, terdengar teriakan koor mereka.

“Kita bantu dengan doa yaa..!!”

Saat itu juga, Fazila langsung berbalik badan dan menatap sinis ketiga temannya itu. Ditatap begitu, bukannya menghampiri, mereka malah ngacir tak tentu arah. Fazila pun hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung ketiga temannya yang berlari dengan arah yang berbeda-beda.


To be continued.
Read More
Published Minggu, Februari 19, 2012 by

Kenangan

Pernah aku mengingat
Sebuah nama, sebuah cerita
Indah manis madu menyengat
Hidup bagai di hamparan awan angkasa

Sakit, memang sakit
Tapi itu manis, meski teriris-iris
Aku lelah, aku letih
Ketidakberdayaan membelengguku
Mengikat kuat asaku

Kenangan, tinggal-lah kenangan
Yang dulu indah, kini menjatuhkan
Sebesar apapun aku berangan-angan
Kenangan, tetaplah kenangan
Read More
Published Minggu, Februari 19, 2012 by

Ingatan Masa Lalu (bagian 1)

Sore itu, langit begitu gelap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30. Tapi, suasana sekitar perumahanku sudah tampak seperti malam. Dzaaar!! Terdengar suara petir menyambar dengan kerasnya. Tubuhku menggigil, takut. Ku raih selimut untuk menutupi wajahku. Namun, petir kembali menyambar. Yang ini lebih keras dari sebelumnya. Badanku seperti membeku. Padahal AC di kamarku sudah kumatikan. Terbayang kembali peristiwa sepuluh tahun lalu, peristiwa yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku.

Waktu itu, aku dan keluargaku hendak pergi ke Jakarta untuk berlibur. Tidak ada perasaan atau prasangka yang buruk akan hari itu. Sepanjang perjalanan, kami bercanda ria dan tertawa. Hingga akhirnya sebuah truk dari arah berlawanan hilang kendali sehingga menabrak bagian depan mobil kami. Aku yang masih berumur tujuh tahun hanya diam. Bibirku terasa kaku, aku ingin berteriak. Tapi tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibirku. Aku merasa takut, benar-benar takut saat itu.

Truk itu telah merenggut kebahagiaanku! Kebahagiaan kami! Tak henti-hentinya aku menangis ketika melihat kedua orang tuaku telah terbujur kaku. Aku memang masih sangat kecil waktu itu. Tapi aku tahu, kalau kedua orang tuaku kini telah meninggalkanku. Kedua kakakku sedang mengalami masa kritis. Aku sangat takut. Begitu takut. Apa yang harus aku lakukan jika aku nantinya tidak memiliki siapa-siapa lagi? Dengan siapa aku harus berbagi kisah? Tetapi, Allah masih baik padaku. Kedua  kakakku masih bisa diselamatkan walaupun kini kondisinya masih sangat parah.

Tapi aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Ah, andai saja waktu itu aku tidak memaksa ayah untuk berlibur ke Jakarta, pasti tidak akan begini jadinya. Sampai sekarangpun, jika aku kembali meningat akan kejadian itu, aku pasti akan menangis. Aku rindu, rindu sekali dengan kedua orang tuaku.

“Re, kamu kenapa?”, tanya kak Rian membuyarkan lamunanku.

“Rere takut kak, Rere takut.. Peluk Rere kak, peluk..”, jawabku sambil terus meringkuk di atas tempat tidurku. Aku masih merasa takut, kedinginan, dan badanku masih menggigil.

“Kamu keinget peristiwa itu lagi ya?”, tanya kak Rian lembut. Tangannya membelai rambutku.

“Iya kak.. Rere, Rere takut.. Rere juga kangen kak..”, jawabku. Air mataku terus saja mengalir di kedua pipiku. Kejadian itu, benar-benar terbayang jelas di pikiranku.

“Sabar sayang.. Udah ya? Nggak usah di pikirin lagi.. Udah adzan tuh, sholat dulu yuk?”, ajak kak Rian sambil menggapai tanganku, menyuruhku berdiri dengan lembut.

Setelah berwudhu, aku merasa lebih tenang. Badanku sudah berhenti menggigil walaupun aku masih merasa kedingingan. Dalam sujudku, aku menangis. Sampai saat kak Rian selesai berdoa, aku masih menangis. Berdoa untuk kedua orang tuaku agar mereka ditempatkan di sisi-Nya. Kak Rian yang melihatku menangis hanya bisa menatapku. Hatinya mungkin juga menangis.

Ku usap kedua air mataku. Ku tatap kak Rian yang sedang tersenyum di hadapanku.

“Mau baca Qur’an sayang? Biar hatimu lega..”, kata kak Rian sambil menyodorkan Al-Qur’an padaku.

“Iya kak..”, jawabku sambil meraih Al-Qur’an di tangan kak Rian. Kak Rian tersenyum.

“Yaudah, habis baca Qur’an, ke ruang makan ya?”
“Iya kak..”

Aku pun memulai membaca ayat demi ayat. Ku lantunkan bacaan-bacaan indah itu dengan sangat tenang. Ya, hatiku merasa jauh lebih tenang. Ku sempatkan pula membaca arti dari ayat-ayat yang telah ku baca tadi. Sungguh, aku menjadi sangat tenang. Aku bisa mengontrol emosiku sehingga tidak ada lagi air mata yang mengalir di kedua pipiku. Terima kasih Ya Allah, Engkau perkenalkan aku dengan ayat seindah ini, ucapku dalam hati.

Setelah melipat mukenah, sajadah, dan menaruh Al-Qur’an, aku pun keluar kamar menuju ruang makan. Di sana kak Rian sudah menungguku, begitu pula dengan istrinya. Ku lahap dengan perlahan makanan yang telah di sediakan. Alhamdulillah..

“Kak, aku mau sholat isya dulu ya. Habis itu aku mau langsung tidur..”, kataku sambil meraih peralatan makan yang ada di hadapanku.

“Kakak saja yang nyuci ya, kamu langsung sholat saja..”, katanya lembut sambil mengibas lembut kedua tanganku. Ku pandang kak Rian yang masih makan. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum. Ku balas senyumannya dan langsung mengambil air wudhu.

Selesai sholat, aku langsung membaringkan badanku di kasur. Capek rasanya mata ini setelah cukup lama menangis. Ku pejamkan kedua mataku. Namun, kejadian itu, kejadian sepuluh tahun lalu kembali merasuki pikiranku.

“Kaaaak.. Kak Riaaan!”, teriakku. Suaraku serak, mungkin karena aku menangis.
“Apa sayang? Kok teriak-teriak?”, tanyanya lembut sembari mengusap air mataku.
“Rere.. Takut lagi.. Kejadian itu.. Kejadian itu..”, jawabku sambil terus menangis.

“Yaudah sini sayang, malam ini kakak tungguin deh sampai Rere tidur. Tapi jangan takut lagi ya? Nggak ada apa-apa kok. Lagian ada kak Rian di sini..”, balas kak Rian menenangkanku. Ia tersenyum. Ku pandang dalam-dalam wajah Kak Rian. Tuhan, rasanya aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan kak Rian. Seperti halnya Kau memisahkanku dengan kedua orang tuaku, batinku. Dan saat itu pula, air mataku mengalir kembali.

Malam itu, benar-benar malam yang menakutkan untukku. Petir menyambar dengan sangat kerasnya. Hujan pun turun dengan sangat derasnya, benar-benar deras. Mungkin, alam tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.


To be continued.
Read More
Published Rabu, Desember 21, 2011 by

Cerpen Pertamaku

Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 ketika aku baru bangun dari tidurku. Udara terasa lebih dingin dari pagi-pagi yang sebelumnya. Iseng-iseng ku sentuhkan jemari kecilku ke jendela kamar. Dingin. Menjalar ke seluruh tubuhku. Dengan raut wajah setengah mengantuk, ku paksakan beranjak dari kasurku. Malas. Tapi harus ku lakukan. Hari ini, aku ada janji dengan mbak Ninda. 

“Pagi sayang, nyenyak kah tidurmu semalam?”, sapa ibu dari ruang tengah. 

“Nyenyak bu. Hari ini aku ke rumah mbak Ninda ya bu?”, jawabku balik bertanya. Ibu tersenyum mengangguk. Aku juga tersenyum, kemudian kembali berjalan. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. 20 menit. Aku bersiap-siap pergi. 

Di halaman depan, kupanaskan motorku. Hanya Honda model lama. Tapi tidak berarti sudah tidak terpakai lagi. Justru motor inilah yang selalu menemaniku kemana saja. Walaupun terkadang sulit untuk digunakan, tapi inilah motorku satu-satunya. Motor pemberian almarhum ayah dua tahun silam. 10 menit, aku pergi. 

Sebenarnya aku agak malas kalau harus keluar pagi ini. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah. Pulang paling cepat jam 9 malam, dan tidur paling cepat jam 2 pagi. Itupun terkadang tidak nyenyak karena terbayang-bayang tugas yang belum selesai. Dan hari ini adalah hari kosong buatku. Hari yang pas untuk beristirahat. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlanjur janji pada mbak Ninda untuk menemuinya hari ini. Tujuanku satu. Menjadi seorang penulis. 

Ya, cita-citaku sejak duduk dibangku SMP adalah menjadi seorang penulis. Sebenarnya aku sudah mulai menulis dari kelas 1 SMP. Hanya saja aku tidak PD dengan karyaku. Berkali-kali aku mengirimkannya ke beberapa media cetak, tapi tetap saja tidak ada yang dimuat, ataupun diterbitkan. Malah pernah ada yang membalasnya dengan mengatakan bahwa karyaku tidak layak disebut sebagai karya. Sakit. Tapi itulah kenyataannya. 

Cukup 15 menit untuk berkendara ke rumah mbak Ninda. Jalanan Purwokerto masih terbilang sepi. Paling hanya sekali-dua kali terjadi kemacetan. Itupun karena ada pengemudi angkutan umum yang berhenti semaunya. Aku tiba tepat pukul 08.05. Aku terlambat 5 menit. Tapi sepertinya mbak Ninda tidak seperti bu Dian, dosen kampus yang galak itu. 

“Pagi Dinda, rupanya kau terlambat 5 menit dari perjanjian”, sapa mbak Ninda mengagetkanku. 
“Iya mbak maaf, tadi aku malas sekali untuk bangun”, jawabku. 

“Pasti karena tugas kuliah itu ya? Yasudah, aku bukan bu Dian kok”, goda mbak Ninda. Aku hanya tersenyum, lalu berjalan masuk. 

Mulai saat itupun aku mulai belajar banyak. Dari mulai mencari inspirasi untuk ceritaku, mengoreksi bahasa yang kugunakan dalam kalimatku, dan cara mengatasi rasa malas. Lengkap. Sempurna. Tidak ada yang terlewatkan. Hingga akhirnya, setelah dua bulan berlalu, mbak Ninda menyuruhku untuk mengirimkan beberapa cerpen yang telah aku buat. Tidak banyak. Tetapi menarik. Begitu katanya. Yang terpenting adalah keselarasan antara satu cerita dengan cerita yang lainnya. Dan permintaan itupun aku turuti. Aku mengirimkan sepuluh buah karyaku. Semuanya aku kumpulkan jadi satu, lalu aku bukukan. Dan mbak Ninda memberiku dua buah alamat penerbit. Awalnya aku ragu. Walaupun sudah dua bulan belajar, tapi aku masih ragu dengan kemampuanku. Aku takut. Ketakutanku sama. Takut ditolak. Takut diejek. Takut dihina. 

“Bagaimana caranya kamu bisa jadi penulis jika untuk mengirimkan karyamu saja kamu takut? Memangnya penerbit-penerbit itu bisa langsung tahu tentang karyamu? Tidak kan?”, begitu katanya ketika aku mengutarakan ketakutanku ini. 
* * * * * 
Oh iya, aku lupa mengenalkan siapa diriku. Namaku Adinda Saputri. Biasanya, orang-orang memanggilku dengan nama pendek, Dinda. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di rumah, aku hanya tinggal dengan ibuku dan kedua adikku. Ayahku sudah lama meninggal karena sakit kankernya. Cukup menyedihkan. Tapi aku harus kuat dengan keadaan ini. 

Aku duduk dibangku kuliah. Aku juga menyambi kerja paruh waktu pada sebuah toko kue. Penghasilanku lumayan. Walaupun sebenarnya tetap saja tidak mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan motor Honda butut itu adalah satu-satunya harta warisan ayah yang tersisa. Selain itu, tidak ada. 

Kondisi keluargaku yang seperti inilah yang memaksaku untuk bekerja. Dan aku berharap, aku benar-benar bisa menjadi seorang penulis yang kondang. Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu kondisi keuangan keluargaku. Aku tidak tega jika harus melihat ibu berusaha mati-matian untuk membiayai kuliahku, dan kedua adik-adikku yang sebentar lagi akan pindah sekolah. Itu pasti membutuhkan biaya yang cukup banyak. 

Kembali pada cita-citaku. Aku telah mengirimkan karyaku itu ke salah satu penerbit yang disarankan oleh mbak Ninda. Dan ternyata usaha pertamaku gagal. Enam bulan lamanya aku menunggu, penerbit itu sama sekali tidak menghubungiku. 

“Untuk menjadi seorang penulis, bukan hanya karya yang bagus saja. Tetapi nama juga diutamakan. Mungkin saat karyamu sampai, ada banyak karya-karya dari penulis lain yang sudah memiliki nama. Biasanya, para penerbit mengutamakan mereka, karena pasti karya-karya merekalah yang banyak pembaca cari. Jangan patah semangat. Coba saja lebih sering mengirimkan karya-karyamu. Mbak yakin, pasti penerbit-penerbit itu lama-lama akan tertarik dengan karyamu, karena begitu seringnya namamu muncul disana”, hibur mbak Ninda. Aku hanya tersenyum paksa. Sangat terpaksa. 

Tapi bagaimanapun juga, aku bukanlah tipe orang yang gampang berputus asa. Keraguan itu pasti ada, tapi tidak akan membunuh semangatku. Seminggu vakum, aku mulai menulis lagi. Setiap ada waktu senggang, aku menulis apa saja yang ada di benakku. Saat jam kosong, menjaga toko kue, dan lain sebagainya. Tapi tetap aku tidak mengabaikan kewajiban-kewajibanku. Itu selalu aku utamakan. 

Tidak lama, hanya tiga bulan berusaha, akhirnya usahaku terbalaskan. Salah satu karya yang aku kirimkan ternyata menarik perhatian salah satu penerbit. Alasannya sama dengan apa yang dikatakan oleh mbak Ninda. Persis. Mirip. Mereka tertarik karena memang ceritaku menarik, dan namaku sering ada dihadapan mereka. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa persyaratan-persyaratan yang harus aku penuhi. 

Butuh waktu satu bulan untuk menerbitkan karyaku. Tidak buruk. Walaupun bukan termasuk best seller, setidaknya aku dapat bayaran yang lumayan. Keraguanku mulai hilang, musnah. Kini aku semakin semangat untuk memunculkan ide-ideku. Setahun kemudian, aku bergabung dengan forum dunia tulis. Mbak Ninda lah yang mengajakku untuk bergabung dalam forum itu. Katanya, biar aku lebih bisa mengembangkan bakatku. Lumayan lah, setidaknya aku bisa mewujudkan ceritaku sekaligus membantu ibu. Kalau kata peribahasa, sambil menyelam minum air :-)
Read More