Tampilkan postingan dengan label catatan-kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan-kehidupan. Tampilkan semua postingan
Published Kamis, Januari 17, 2019 by Hannan Izzaturrofa

Musim Hujan

Beberapa minggu belakangan ini, Purwokerto sedang mengalami musim hujan. Dari yang hujannya cuma dimulai dari sore hari hingga selepas Isya, sampai yang seharian penuh hujan terus-menerus. Paling berhenti sesekali atau gerimis, lalu hujan lagi dengan cukup deras. Cucian yang terus menumpuk pun jadi susah keringnya, walau kadang-kadang sebelum hujan dari pagi sampai sorenya matahari bersinar dengan cukup panas. Makanya kalau langit lagi kelihatan cerah, biasanya di depan-depan rumah banyak berjejer tempat jemuran. Dan kalau langit mulai kelihatan mendung, tempat jemuran itu pun langsung dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Soalnya, hujannya biasanya nggak pakai aba-aba, alias langsung deras begitu saja tanpa ada rintik-rintik kecilnya terlebih dahulu. Juga seringnya, disertai angin yang cukup kencang.

Lalu, mungkin karena hujannya disertai petir dan cukup besar, di Purwokerto ini sempat dua-tiga hari mati listrik. Dan itu cukup lama, bisa dari siang ke maghrib, atau dari maghrib ke jam sembilanan. Dan juga, mungkin karena hujannya cukup deras berhari-hari, air yang mengalir ke rumah pun sempat berubah warna menjadi kekuningan. Aku sempat kaget karena tiba-tiba air di bak mandi berubah jadi kotor sekali. Tapi Alhamdulillahnya setelah airnya dibiarkan terus-menerus mengalir dengan cukup lama, akhirnya airnya pun kembali bersih. Kalau kata Ummi, kayaknya ada longsoran tanah atau sejenis yang tercampur ke saluran air yang ada. Meskipun begitu, rupanya air yang sempat menguning itu sedikit berimbas ke Hilmi.

Waktu aku lagi nonton TV bareng Azizah di ruang tengah, Hilmi yang baru bangun tidur selepas Isya pun langsung mengadu. Katanya, badannya jadi bintik-bintik merah karena alergi, dan sedikit gatal. Emang sih, waktu dia bilang gitu aku sempat ngelihat sendiri kalau badannya emang jadi merah-merah. Karena aku mikirnya Hilmi sempat kena air yang menguning itu, jadinya aku pun nyuruh dia pakai bedak bayi yang biasa aku pakai atau caladine yang berbentuk lotion. Awalnya dia pakai bedak bayi biasa. Tapi setelah dua hari tidak juga sembuh, akhirnya dia pun ganti pakai caladine itu. Soalnya, badannya juga sampai bengkak-bengkak gitu setelah dua harian.

Aku sempat cerita kondisi Hilmi ke Ummi. Dan kata Ummi, mungkin seprei di kamar Hilmi juga harus diganti. Pas aku mau bilang gitu ke Hilmi, rupanya dia udah pindah duluan tidurnya ke kamar atas, kamar yang emang lebih sering dibersihin karena itu kamar tidur Ummi dan Abi—sebenarnya kamar Azizah dan Ais, tapi jadi dipakai sama Ummi dan Abi karena kamarnya mereka sekarang dipakai aku dan Mas Suami, hehehe. Dan kebetulan, sewaktu minggu kemarin Abi dan Ummi nggak pulang, jadinya kamar atas sudah sempat dibereskan karena habis dipakai tidur oleh aku dan Azizah yang saat itu sedang minggu penjemputan. Ya udah, karena Hilmi pun udah pindah ke atas, jadinya seprei di kamar itu pun ditunda digantinya. Soalnya, cucian kotor pun udah menumpuk di belakang. Tapi karena sempat ditunda, terus jadi kelupaan deh sampai sekarang. Lah, iya lupa...

Meskipun begitu, badan Hilmi Alhamdulillahnya sekarang udah nggak bintik-bintik merah dan gatal-gatal lagi. Aku juga udah suruh dia banyak-banyak minum air putih meskipun agak susah juga ya ngebilanginnya. Terus, aku juga udah ngelarang dia buat kebanyakan makan mie kalau tengah malam. Ya emang sih, Hilmi ini meskipun sudah sempat makan malam dengan porsi yang banyak, biasanya tengah malam gitu dia bakal kelaparan lagi dan langsung masak mie. Kalau aku lagi nginep di Purbalingga dan dia sendirian di rumah pun, seringnya dia malah masak mie, bukan beli makan di luar. Mungkin karena malas dan hujan kali ya, jadi dia malas untuk keluar meski punya mantel. Mau gofood pun, katanya dia kasihan sama driver-nya. Dan telor ataupun nugget yang biasa aku sediain di kulkas biasanya nggak begitu sering kesentuh, kalah sama popularitas si mie instan itu.

Lanjut ke masalah hujan tadi. Dan seperti di hari-hari sebelumnya, meski kemarin seharian penuh hujan terus-menerus mengguyur Purwokerto, dan tadi pagi sempat panas sekali cuacanya, ternyata siangnya kembali hujan angin dengan sangat derasnya... Allahumma shoyyiban naafi'an.
Hujan yang turun siang ini, dibarengi dengan langit yang tampak sangat cerah.
***

Foto di atas diambil saat hujannya sudah mulai mereda. Dan saat tulisan ini dipublikasikan, hujannya sudah tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya,
Read More
Published Kamis, Januari 17, 2019 by Hannan Izzaturrofa

Darurat Sampah

"Mulai hari ini kalau buang sampah harus dipisah ya, berdasarkan jenisnya."
"Emangnya kenapa, Mi?"
"Banyumas lagi darurat sampah."

***

Pantas saja, beberapa hari ini tempat sampah di depan rumah tidak pernah kosong alias nggak ada petugas yang ngambil-ngambil lagi kayak biasa. Paling ada beberapa bapak-bapak aja yang sesekali ngambil, tapi itu buat ngambilin sampah-sampah kayak botol-botol bekas, kardus, dan sejenisnya. Karena lama tidak diambil, sampah bekas makanan pun jadi membusuk di depan rumah dan bikin tempat sampahnya banyak dihinggapi lalat. Pokoknya kalau buka gerbang tuh langsung kecium bau yang nggak enak.

Terus aku jadi mikir, ini Banyumas lagi darurat sampah karena tempat sampahnya yang udah penuh, atau kenapa? Kalau udah penuh, berarti masyarakat Banyumas "rajin" banget dong dalam menghasilkan sampah? Kayak, Banyumas tuh udah kebanyakan sampah. Tapi sewaktu iseng nyari-nyari info tentang itu, ternyata aku baru tahu kalau nggak cuma di Banyumas aja yang lagi darurat sampah. Berarti, Indonesia memang lagi darurat sampah!

Dan agak susah juga sih menerapkan sistem memilah sampah di rumah. Apalagi buat adik-adik aku yang kebiasaan buang sampahnya tuh asal masukin ke tempat sampahnya aja. Jadi kadang-kadang aku sama Ummi itu harus mindah-mindahin sampahnya ke tempatnya masing-masing *meski lebih sering Ummi sih yang mindahin, hehe. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Alhamdulillah di rumah jadi lebih terbiasa dengan sistem memilah sampah itu. Ya, sesekali cheating juga sih kalau nggak ada Ummi, hehehe.

Lalu karena masih penasaran kenapa Banyumas ini bisa darurat sampah, akhirnya aku coba searching gitu di google soal masalah ini. Rupanya... Darurat sampah ini terjadi karena adanya penutupan salah satu TPA di Kalibagor. Katanya, TPA tersebut bikin air di sekitar daerah situ jadi tercemari, dan juga menimbulkan bau yang kurang enak karena udah kebanyakan sampah yang dikumpulin di situ. Apalagi, salah satu sumur yang menjadi sumber air di daerah situ jadi nggak bisa dipake lagi karena berbau, juga karena warga jadi gagal panen. Dan karena masalah ini, sampah jadi menumpuk di sekitar perumahan dan juga sampai GOR loh. Soalnya kan TPS juga nggak mungkin nampung semua sampah-sampah yang ada. Sehingga, tentu saja ini malah menimbulkan masalah baru di Banyumas.

Iya, sekarang sampah jadi menumpuk dimana-mana. Apalagi karena sekarang di Banyumas ini lagi musim hujan, yang bisa seharian penuh itu hujan turun terus nggak berhenti-berhenti. Dan kata Ummi, sekarang lagi musimnya nyamuk demam berdarah. Makanya Ummi ngewanti-wanti banget soal ini, dan bikin segala macam peraturan untuk pencegahan. Tapi sekarang katanya sih TPAnya udah dibuka lagi, cuma dibatasin gitu sama warga di sekitar sana. Kalau yang aku baca sih, dari 40 truk sampah yang ada, warga sana cuma ngebolehin 15 truk sampah aja yang boleh membuang sampah ke TPA itu. Bayangin, sisa 25 truk sampah yang penuh itu mau ngebuang sampahnya kemana lagi coba? Dan juga, kok bisa ya sehari ada 40 truk sampah di Banyumas? 40 loh, kan truknya pada gede-gede. Berarti sehari banyak juga ya sampah yang dihasilin sama masyarakat di Banyumas ini? Subhanallah..

Dan yaudah, meski sudah dibuka kembali dan sedikit membantu mengurangi sampah di pemukiman warga, Banyumas tetap darurat sampah. Kemarin aku juga sempat lihat story teman yang lagi 'berkreasi' dengan botol-botol dan kardus bekas dengan caption: Banyumas Darurat Sampah. Ummi juga, jadi ngirim sampah-sampah yang bisa didaur ulang ke rumah salah satu temannya yang memang mengolah sampah-sampah itu. Katanya, mau dijadiin pupuk kompos. Ya, semoga saja hal ini bisa membuat Banyumas jadi semakin membaik ya. Begitu juga dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Dan semoga, penghasilan sampah di Indonesia ini bisa menurun seiring dengan bertambahnya masyarakat kreatif yang bisa mendaur ulang sampah-sampah itu. Aamiin.
Read More
Published Senin, Oktober 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mencintai Kehilangan



Saya awalnya tahu video ini dari akun instagram milik @ananditodwis, dimana beliau ini sebelumnya pernah bermain di beberapa proyek serupa, seperti: Cinta Positif dan Film 212 The Power of Love. Kenal dan sampai men-follow begitu pun awalnya karena saat kuliah dulu, salah seorang teman saya sempat (sangat) mengagumi sosok Hamas Syahid saat marak-maraknya film Ketika Mas Gagah Pergi yang diadaptasi dari novel karya Helvy Tiana Rosa, yang membuat saya sedikit "kepo" juga di akun instagramnya Bang Hamas itu. Dan dari ke-kepo-an itu lah makanya saya jadi kenal dan tahu dengan beberapa selebgram yang suka membuat suatu proyek untuk berdakwah dan mengampanyekan sesuatu yang positif.

Lalu, dari beberapa proyek film serupa yang telah saya tonton, entah mengapa proyek terbaru yang berjudul "Singelillah"―yang merupakan bagian dari channel Teladan Cintaini menurut saya justru yang benar-benar ngena dan pas dengan keadaan saya saat ini. Eh enggak juga sih, mungkin hanya pas di bagian keduanya saja. Tapi intinya, setelah menonton video part 2 ini, saya langsung jadi jatuh cinta aja gitu. Kalau yang tahu tentang bagaimana kisah saya dan sudah menonton videonya pasti setuju dengan kalimat saya di atas. 11-12 lah ya meskipun tidak sempurna mirip, hehe. Dan, rupanya sebelum berbentuk serial begini, konten awalnya sebenarnya berbentuk film musikal. Subhanallah, saya jadi rindu menonton pertunjukan drama-drama musikal begitu, huhu.

Dan bagian yang saya suka dari serial ini adalah di kalimat yang begini:
Kalau kamu tidak diperjuangkan oleh seseorang yang kamu harapkan, kamu akan diperjuangkan oleh seseorang yang mengharapkanmu.
Tak perlu menangisi seseorang yang tidak peduli padamu.
Karena hidupmu terlalu berharga, waktumu jangan sampai tersita.
Seseorang yang menolakmu, belum tentu dia lebih baik darimu.
Bisa jadi menurut Allah, kamu adalah pribadi yang lebih baik.
Sehingga Allah menginginkanmu bertemu dengan seseorang yang lebih baik daripada dia.
Kosongkan hatimu untuk cinta-Nya.
Agar Dia hadirkan seseorang, yang bisa mencintaimu sepenuh hatinya.
Huaaaaaa :"

Hehe. Oh iya, dan bagi kalian yang ingin menonton serialnya dari awal, kalian bisa membuka channel Teladan Cinta yang ada di youtube. Atau kalau kalian malas nyarinya, kalian bisa tonton di sini: part 1, part 2, part 3 - taarufpart 3 - khitbah, dan part 3 - nikah. So, sudah siap melepaskan? *eh


Juni 2018, dipublikasikan terlambat karena menunggu keseluruhannya selesai dirilis
Yang ternyata malah jadi latepost banget :" telat sebulan
Read More
Published Sabtu, Oktober 13, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Anak Kecil dan Game-nya

Mungkin anak kecil itu seluruh pemikirannya simple, dan tidak begitu banyak permintaannya. Mereka cuma mau ditemenin main atau ngobrol doang, nggak lebih. Yang penting kitanya masih ngerespon kalau diajak ngobrol atau ngiyain kalau diajak main. Udah itu aja. Mungkin, hehe.

Btw, ini foto Aqmar yang tiba-tiba minta ditemenin main dan ngobrol pas aku lagi ngoding. Dia inisiatif ngegeret kursi plastiknya sendiri ke sebelahku dan ngajakin aku ngomong sambil sesekali minta tolong aku mainin permainan di ponselnya sewaktu dianya udah gemas karena nggak menang-menang. Atau kalau ada bagian yang katanya dia nggak bisa.  Alhamdulillah. Mungkin lagi disuruh belajar. Barangkali besok-besok harus melakukan hal-hal yang seperti ini lagi, setiap hari.


Purwokerto, di hari yang aku lupa kapan karena udah agak lama
Read More
Published Jumat, Oktober 12, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Obrolan Siang Menjelang Sore Tadi

Siang menjelang sore tadi, tiba-tiba seorang teman menghubungiku via dm instagram. Katanya dia mau cerita sesuatu, yang setelah aku tanya mau cerita apa malah berbelok jadi mau sharing-sharing aja. Mau ngobrol-ngobol sedikit gitu katanya. Awalnya kami ngobrol-ngobrol biasa. Soal sekarang jadinya menetap dimana, soal rencana ke depannya bakal gimana, dan lain sebagainya yang sebenarnya sudah pernah kami obrolin beberapa bulan kemarin. Sampai akhirnya di empat-lima pertanyaan itu, tiba-tiba temanku itu mulai menceritakan titik masalah yang sebenarnya ingin dia ceritain ke aku. Di situ aku agak sedikit mikir yang kayak, "duh X, mau cerita aja pembukaannya sampai banyak banget gitu" wkwk. Tapi ya kalau aku jadi dia mungkin juga bakal ngalor-ngidul kemana-mana dulu sih saking bingungnya memulai curhatan tuh gimana, hehe.

Lanjut. Jadi di situ dia cerita yang pada intinya dia sedang galau akan sesuatu. Aku tidak akan menceritakan apa isi ceritanya sih, kan itu rahasia kami berdua kan ya. Eh bertiga ding, sama Allah. Tapi ada beberapa hal yang pengen aku share dari obrolan aku dan temanku itu. Bukan sepenuhnya tentang obrolan kami sih, tapi sebagian kesimpulan yang mungkin jadi permasalahan bagi beberapa perempuan yang baru menikah (Hannan sok tahu banget wkwk). Ya intinya gitu deh. Aku mulai saja, ya. Bismillah.

***

Fulltime Wife/Mother
Yang pertama adalah soal keinginan kita sebagai perempuan untuk bekerja, tetapi tidak diperbolehkan oleh calon/pak suami. Nah beberapa tahun ke belakang, aku sering banget ngelihat beberapa storygram atau update-an timeline/blog tentang orang-orang yang tiba-tiba ngerasa galau karena dia pengen kerja, tetapi nggak dibolehin sama suaminya. Katanya suaminya pengen dia jadi fulltime wife, yang selanjutnya bisa jadi fulltime mother. Bahkan kegalauan ini juga udah mulai muncul dari awal pas mau menikah atau sewaktu masa-masa taaruf. Jadi kayak misal ada dua orang yang sudah saling suka, sudah satu visi dan misi, tapi berbeda pendapat di soal 'bekerja' ini. Terus salah satunya jadi galau, deh. Atau juga, yang galau karena tiba-tiba jadi pengen kerja meskipun di awal sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah si pak suami saja.
Sebenarnya permasalahan ini sebagiannya pernah dialami oleh teman dekatku sendiri. Yaitu soal yang meski dari sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah pak suami, tetapi tiba-tiba di tengah jalan sang istri jadi pengen kerja gitu. Subhanallah. Lalu jadinya gimana? Mereka banyak beratemnya? Iya. Mereka jadi sering diskusi meski terakhir-terakhirnya jadi saling ngambek-ngambekan. Sang suami yang tetap kekeuh dengan prinsipnya bahwa ia ingin istrinya tidak bekerja kantoran, alias kerjanya ya di rumah saja mengurusi suami, anak, dan rumah; sedangkan sang istri masih terus-terusan merengek agar diperbolehkan melamar pekerjaan karena ingin sekali bekerja dengan berbagai macam alasan.
Dan dulu sewaktu aku masih bekerja di sebuah startup, seorang temanku pernah bilang kalau dia ingin punya istri yang tidak bekerja, alias full mengurusi permasalahan rumah tangga. Alasannya karena biar dia saja yang mencari nafkah, karena dia tau bagaimana susah dan beratnya dunia kerja itu. Dan sewaktu aku bilang kalau mungkin beberapa pekerjaan saja yang keras, tapi ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, dia tetep kekeuh dengan prinsipnya itu. Katanya lagi, justru dia berharap dengan tidak bekerjanya istrinya itu, dia jadi lebih termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Sekaligus juga biar kalau dia lagi jenuh dengan pekerjaannya itu, dia jadi ingat kalau di rumah ada keluarganya yang sudah mempercayakan seluruh kebutuhan hidupnya kepadanya. Jadi penyemangat gitu istilahnya. Kan, dia yang sudah melarang istrinya itu untuk bekerja. Berarti, dia jadi bertanggungjawab dan tidak boleh gampang menyerah kan?
Atau juga temanku yang lain, yang katanya masih memperbolehkan istrinya itu untuk bekerja, asal tidak banyak menyita waktunya. Seperti misalnya berjualan secara online atau membuka toko sendiri di rumah, menjadi guru atau dosen yang katanya masih lebih banyak waktu dan lebih agak santai kerjanya, atau mengerjakan pekerjaan yang bisa menyalurkan hobinya. Kayak misal menulis, menjahit, mendekor rumah, atau membuat prakarya begitu. Asal tidak menjadikan pekerjaan itu sebagai kegiatan primer, melainkan hanya hobi yang dilakukan di sela-sela hari-harinya. Begitu katanya. Apalagi kan, mereka juga mungkin takut ya misalnya suami dan istri sama-sama bekerja, sama-sama capek, terus pas pulang dari kantornya masing-masing pengen ngelihat raut wajah yang ceria penuh senyuman gitu buat membangkitkan semangatnya, eh yang dilihat malah muka kusut capek bete karena misal kerjaannya banyak atau berat waktu di kantor. Kan, bisa jadi sumber masalah tersendiri gitu. Hmm. Lah terus, dengan kedua cerita di atas, kita sebagai seorang istri harus bagaimana dong?
Nah, kalau menurutku, dari kedua cerita temanku di atas itu bisa ditarik kesimpulan―terlepas dari ada orang yang membebaskan istrinya untuk menjadi wanita karir, karena itu tidak masuk hitunganbahwa ada laki-laki yang sama sekali tidak memperbolehkan istrinya bekerja karena merasa dirinya masih sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya itu, dan ada juga laki-laki yang masih memperbolehkan istrinya untuk bekerja, tapi kerjaannya itu tidak boleh sesuatu yang membebani atau kalau bisa cuma sebagai penyalur hobi saja. Dan kedua prinsip itu Insya Allah tidak ada yang salah, karena tentunya mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka sampai berpikiran seperti itu. Tentu kita sebagai seorang istri, kewajiban kita adalah patuh kepada suami kan? Apalagi jika itu tidak melanggar perintah Allah, maka tidak ada alasan untuk kita tidak patuh kepada perintah suami kan?
Mungkin kita bisa saja memaksa untuk tetap bekerja yang pada akhirnya suami jadi memperbolehkan meski tidak begitu ikhlas. Terus, kalau iya kita sudah bekerja tapi suami sebenarnya tidak ridho, apa pekerjaan kita itu akan membawa berkah? Atau justru membawa celaka? Astaghfirullah... Hmm, ya jadi intinya sih, setiap suami pasti memiliki alasan tersendiri mengapa mereka melarang sesuatu kepada istrinya. Dan kita sebagai istri mereka, harus selalu patuh kepada suami. Toh, ketika sudah menikah, ridho Allah ada pada ridho suami, bukan? :)

Mengisi Waktu Luang
Yang kedua adalah soal mengisi waktu luang saat sudah menikah. Melanjutkan permasalahan sebelumnya, tidak sedikit perempuan yang merasa bingung dan bertanya-tanya soal jika nantinya sudah menikah dan tidak diperbolehkan bekerja, nanti di rumah mau melakukan kegiatan apa? Yang mungkin ujung-ujungnya jadi takut kalau-kalau nanti sehari-harinya jadi bosan atau bingung mau ngapain karena nggak ada kegiatan, nggak kayak sewaktu masih single dulu. Apalagi misalnya dia dulu adalah seorang aktivis ataupun wanita karir yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dari pagi sampai malam. Kan kalau sudah terbiasa berkegiatan gitu dan setelah menikah malah terus-terusan di rumah seharian kan bisa badmood juga kan ya, hehe.
Nah kalau soal ini, menurutku justru istri-istri yang tidak diperbolehkan bekerja itu malah jadi punya banyak kelebihan loh. Maksudnya kayak justru dengan banyaknya waktu luang yang dimiliki, kita jadi lebih bisa menyalurkan hobi yang mungkin dulu-dulu terpendam karena adanya kesibukan kuliah atau kantor misalnya. Contohnya kayak mungkin aku itu suka membaca novel. Dulu rasanya sewaktu kerja itu menyelesaikan satu novel aja agak susah dan nggak tenang karena dikejar-kejar deadline terus. Atau kalopun lagi nggak ada deadline, sampai kosan itu sudah capek karena seharian berkegiatan di kantor. Nah dengan adanya banyak waktu luang yang sekarang ini, aku jadi bisa banyak menghabiskan waktu untuk membaca.
Atau mungkin buat yang hobinya suka ngegambar, jadi bisa iseng-iseng bikin gambar yang bertemakan dakwah gitu misalnya. Atau juga yang kayak sebelumnya aku sebutin, suka mendekorasi rumah yang perabotannya dibuat jadi lucu-lucu; ngebikin prakarya kayak misalnya bikin buket bunga, gantungan kunci, dll; menjahit, berjualan, menulis, dan lain sebagainya. Pokoknya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, yang bisa dilakukan di rumah. Apalagi hal-hal yang bermanfaat itu merupakan hobi kita. Bersyukur nggak tuh jadinya?

Memiliki Penghasilan Sendiri
Yang terakhir adalah soal ingin memiliki penghasilan sendiri. Aku sering banget denger cerita beberapa temanku yang sudah menikah, lalu ada beberapa barang yang pengen dibeli atau keinginan-keinginan lainnya yang membutuhkan biaya yang cukup besar, namun merasa tidak enakan gitu untuk meminta kepada suaminya. Atau juga soal teman-temanku yang ingin bekerja dan memiliki penghasilan sendiri karena biar bebas kalau mau ngasih ngejajanin adik-adiknya, sekaligus biar dianya juga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang menurutnya tidak sedikit biayanya. Meskipun mungkin suami-suami mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu, yang dalam arti sebenarnya kalau emang butuh atau ingin sesuatu ya tinggal bilang saja, Insya Allah akan dituruti. Atau juga yang kalau mau ngasih jajan ke adik-adik atau orang tua ya tinggal kasih-kasih saja. Tapi, tetap ngerasa nggak bebas karena harus minta-minta ke suami.
Nah sebenarnya untuk hal yang ini, aku juga kadang ngerasain sih gimana rasa nggak enakannya itu. Tapi balik lagi, kita kan sudah menjadi istri. Kewajiban kita adalah nurut sama suami. Dengan suami melarang kita untuk bekerja dan bilang kalau kita mau apa saja atau misal ingin ngasih apa ke keluarga tinggal bilang aja, berarti tandanya mereka merasa bahwa mereka sanggup memenuhi seluruh kebutuhan kita kan? Malah seharusnya kita bersyukur, karena kita memiliki suami yang berani menjamin nafkah lahir batin kita disaat di luar sana masih ada perempuan-perempuan yang terpaksa harus bekerja untuk keluarganya.
Dan kalaupun memang masih kekeuh ingin memiliki penghasilan sendiri, ya kayak kesimpulan yang sebelumnya. Misal kita punya hobi menjahit, hasil jahitan-jahitannya itu siapa tahu bisa dijual. Atau misal membuka berjualan dengan membuka toko di rumah atau bikin online shop gitu, dan lain sebagainya. Setidaknya walaupun mungkin penghasilannya tidak sebesar kerja di kantoran, yang penting tetap ada penghasilan sendiri tanpa harus melawan suami. Toh, rezeki sudah ada yang mengatur kan? Barangkali dengan kita patuh dengan suami, Allah jadi lebih mengalirkan rezekinya kepada pak suami sehingga benar-benar bisa memenuhi seluruh kebutuhan kita tanpa kurang satu hal pun.

***

Hannan sok paling tahu sekali ya, tulisannya sampai panjang begitu :') Hehe. Tapi inti dari tiga hal di atas sebenarnya satu sih, yaitu: nurut dengan suami, selama itu adalah hal yang baik. Jadi kayak misal ada beberapa orang yang bilang, "loh sekolah tinggi-tinggi kok ujung-ujungnya kerja di dapur juga?" ya nggak apa-apa. Dengan kita kuliah tinggi-tinggi begitu, kita jadi mengajarkan ke anak-anak kita bahwa pendidikan itu penting. Ada loh orang yang kuliahnya sampai S3 tapi beliau sama sekali tidak bekerja dan benar-benar full mengurusi keluarganya. Padahal beliau menyelesaikan S3-nya itu ketika sudah punya anak 4. Masya Allah. Terus beliau ngeluh meski dicibir begitu oleh orang lain? Ya enggak. Justru beliau itu pengen nunjukkin ke anak-anaknya, kalau mengejar ilmu ya memang harus semaksimal mungkin.

Toh juga, misal kayak aku yang dulu sewaktu single sering mengeluh dan ngerasa berat waktu banyak kerjaan, kok ya masa waktu menikah malah jadi maksa buat kerja lagi? Kayak yang, sekarang aja pengen, nanti capek malah ngeluh lagi wkwk. Ya gitu. Kan malah seharusnya bersyukur kan, kita jadi nggak perlu capek-capek kerja di luar. Cuma di rumah aja nurut sama suami dan mengurusi keluarga, eh sudah bisa terpenuhi semua kebutuhannya. Berpahala lagi. Bisa sambil ngegunain waktu luangnya juga buat menyalurkan hobi dan menambah pengetahuan. Alhamdulillah banget kan? Pokoknya ya, nggak perlu meragukan kesanggupan suami untuk memenuhi kebutuhan kita deh. Dan juga, daripada malah kita jadi menghabiskan waktu kita untuk melakukan hal-hal rutin yang sebenarnya kita tidak suka gitu kan? Masa udah nggak suka, ada tekanan, resiko, waktu dan tenaga yang terkuras juga lagi, hehe.

Ya kecuali misal kerjaan itu adalah hal yang kita suka, sih. Cuma ya tadi, harus sesuai jalurnya. Tidak boleh menjadi aktivitas primer, alias sebatas kayak hobi yang dilakuin di waktu luang aja. Dan sekali lagi, ini terlepas dari kalau memang suaminya memperbolehkan untuk bekerja ya... Soalnya aku saja, yang baru sehari-harinya mengurus rumah dan suami kadang-kadang gampang ngerasain capek. Apalagi misal nantinya kalau Allah memberi amanah untuk mengurus anak? Wah, udah nggak kebayang lagi itu kalau iya juga kekeuh mau kerja, hehe. Apalagi kalau misal kerjanya cuma dilandasin sama alasan tidak mau dicibir sama orang, makin nggak berkah itu nantinya karena mungkin bisa jadi banyak ngeluhnya, huhu.

Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga tidak terkesan menggurui atau sok tahu.

***

Tadi sewaktu di akhir obrolanku dengan temanku itu, dia mengirimi kalimat seperti ini. Padahal sewaktu membalas curhatannya itu aku malah jadi banyak curhat baliknya, tapi Alhamdulillah kalau ternyata curhatanku itu justru sedikit membantu. Soalnya waktu habis curhat panjang-panjang aku juga ngerasa takut, takut ternyata bukannya membantu malah dianya jadi sebel karena kok malah akunya yang jadi banyak cerita disaat dia bilang mau cerita ke aku.

Tapi aku juga jadi bersyukur, dari obrolan siang menjelang sore tadi, aku jadi nemuin orang yang mungkin setipe sama aku. Dari soal apa yang dipikirin, dialamin, sampai yang bener-bener kayak kita punya cerita dan nasib yang sama. Masya Allah.

Terima kasih Ya Allah :' Akhirnya aku punya teman yang bisa diajak diskusi soal apa yang aku alamin selama ini. Soalnya selama ini aku agak takut gitu buat cerita sama orang lain, karena merasa sudah harus punya batasan dari apa yang bisa diceritakan :')



Purbalingga, 12 Oktober 2018
Alhamdulillah aku bisa menulis sepanjang ini setelah sekian lama.
Dan untuk kamu, terima kasih karena sudah berdiskusi pajang denganku hari ini :)
Aku jadi punya bahan untuk menulis, hehe
Read More
Published Sabtu, Agustus 11, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Taubat

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.  ― (QS. At-Tahrim: 8)

Sabtu malam, untuk tidak menyebutnya dengan istilah malam minggu.
Seseorang mengirimiku ayat ini sebagai pengingat.
Read More
Published Minggu, Agustus 05, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Membantu Orang Lain

Selama hari ini kita masih punya banyak rezeki, lebih baik kita maksimalkan untuk membantu orang lain. Bukan karena mengharap kita akan dibantu juga oleh orang lain suatu saat nanti ketika kita berada di titik terbawah, tetapi karena untuk berjaga-jaga. Barangkali beberapa hari ke depan, kita sudah tidak punya kesempatan untuk membantu orang lain lagi. Karena membantu orang lain itu berpahala, dan merupakan nikmat juga yang harus patut kita syukuri. ― Seseorang
Read More
Published Kamis, Juli 26, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Singelillah

Menikah tidak semudah yang kita kira. Setelah akad terucap, masih ada perjuangan yang harus dihadapi. Jangan hanya berpikir untuk hari itu saja, tetapi juga untuk ke depannya seperti apa. Nggak mesti harus terburu-buru. Kalau Allah belum menghendaki, apa boleh buat? Sambil menunggu jodoh datang ke rumah menemui orang tuamu, memantaskan sajalah dirimu terlebih dahulu. Semua ingin pasangan yang baik bukan? Maka dari itu, perbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Tergantung pada diri kita mau berubah atau tidak.

Jangan tanya kapan, tapi doakan.
― Nabilah Rihadatul'aisy
Read More
Published Jumat, Juli 13, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Lihatlah ke Bawah


"Lihatlah mereka yang ada di bawahmu (dalam urusan pencapaian duniawi), dan janganlah kalian memandang orang yang di atas kalian. Itu lebih layak, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah untuk kalian."
― HR. Bukhari dan Muslim


Soal bersyukur dan kerendahan hati. Semoga hal-hal yang begini, kamu tidak sampai melupakannya ya, Nan.
Read More
Published Minggu, Juli 08, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Sesuatu Hal

"Dan atau mungkin rasa kecewa itu datangnya dari kesalahan yang kita pilih dalam meletakkan harapan yang terlalu banyak kepada makhluk. Padahal dengan begitu, ada hal lain yang seharusnya menjadi keharusan bagi kita untuk mempersiapkannya, yaitu kekecewaan.
Betapa tidak, ibarat menyandarkan diri pada sebuah bayangan tembok, yang ada adalah jatuh dan terjungkalnya kita, karena bayangan adalah sesuatu yang semu. Satu pertanyaan yang kemudian muncul, kita posisikan Allah di mana?" - Seseorang.
***

Sesuatu hal membuatku yakin akan sesuatu hal yang lain. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah menegur sekaligus menunjukkan jalan yang lebih baik agar diri ini tidak semakin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan sebagaimana semestinya. Alhamdulillah.

Dan untuk keputusan ini, bismillah.
Read More
Published Minggu, Juni 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Patah

Seringnya, kau bertanya-tanya kepada Allah mengapa Allah berikan kau rasa cinta kepada orang yang salah? Mengapa kau tidak langsung Allah pertemukan dan Allah berikan rasa cinta kepada orang yang sudah jelas-jelas tertulis sebagai pendamping hidupmu? Why, Allah? Why?
Pertanyaan ini sering sekali kau tanyakan ketika berusaha berbincang dengan-Nya, di saat hatimu sedang sakit-sakitnya, di saat dirimu sedang terluka sangat parah oleh orang yang sempat kau cintai tetapi ia ternyata lebih memilih melukaimu dengan meninggalkanmu.
Jawaban dari pertanyaanmu di atas mungkin sangat sederhana;

"Karena Allah ingin mengajarkan kepadamu bahwa tidak semua hal yang kau cintai itu selalu baik untukmu."

Thats why.

Tapi Allah, mengapa sakit sekali rasanya cara-Mu mengajarkanku saat aku pada akhirnya mengetahui bahwa yang aku cintai ini tidak baik untukku?

My dear, kenapa terasa sakit? Karena sebenarnya apa yang Allah ajarkan kepadamu itu tidak hanya sebatas itu. Dari kejadian itu kau belajar bagaimana caranya melepaskan, bagaimana caranya mengontrol rasa cinta yang belum pada tempatnya, bagaimana kau belajar untuk bisa berdiri tegak dengan anggun di situasi yang sulit, belajar untuk memaafkannya, belajar untuk melepaskan seseorang yang sangat beracun bagi kehidupanmu selanjutnya...
Belajar untuk percaya. Percaya kepada dirimu sendiri, percaya agar tidak menyalahkan diri dan lebih mencintai dirimu sendiri dan belajar untuk lebih percaya kepada-Nya bahwa apa yang Allah berikan kepadamu adalah jalan yang paling baik meskipun terasa sulit.
Belajar untuk terus percaya, bahwa diantara banyak wanita lainnya, Allah memilihmu untuk melalui proses berat ini. Karena Allah ingin kau menjadi berlian. Allah tahu kau sanggup menjadi berlian.

Itulah sebabnya mengapa Allah memilihmu, my dear. 

Situasinya adalah jika kau mengalami rasa sakit akibat hati yang patah atau masalah yang tak kunjung usai, hati yang sulit menerima, lalu kemudian berakhir membuat hatimu terasa kosong, terasa hampa...
Itu adalah tanda sebenarnya bahwa Allah sengaja ingin kau mengosongkan hatimu menjadi kosong sekosong-kosongnya. Untuk menghilangkan rasa cintamu yang berlebihan kepada manusia, harapanmu yang terlalu dalam kepada orang lain, semua hal-hal yang kau tuhankan Allah habisi sampai tak bersisa.
Sehingga kemudian kau pada akhirnya tanpa sadar bergerak mengisi hatiamu yang kosong itu dengan mencari cintanya Allah.

"Mengapa hal tersebut sering terjadi menimpamu?"

Karena Allah sedang menjaga hatimu, membersihkannya dari hal-hal yang tidak baik. Karena Ia terlalu cemburu melihatmu lebih mencintai orang lain ketimbang diri-Nya.
Allah ingin kau memberikan cintamu, impianmu, harapanmu hanya kepada-Nya bukan kepadanya.

Karena yang sanggup mengabulkan segala keinginanmu itu diri-Nya bukan dirinya.

- Nadhira Arini
ditulis tepat dua bulan yang lalu, pada tanggal dan jam yang sama.
Read More
Published Jumat, Juni 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Hambanya Siapa (?)

Notes to my self. Tentunya sebagian besar manusia sudah paham, bahwa bulan Ramadhan memang merupakan bulan penuh kebaikan. Bulan yang di dalamnya terdapat keberkahan dan penuh dengan ampunan. Apalagi setiap amalan yang kita lakukan akan dihitung berkali-kali lipat.

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
― (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Tapi tentunya kita harus ingat, seperti nasihat para ulama salafush shalih yang mengatakan bahwa kita sesungguhnya adalah hamba Allah, bukan 'ibadurramadhan (hamba Ramadhan). Hamba Ramadhan itu, hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ia akan banyak beribadah di bulan Ramadhan saja. Sedangkan hamba Allah itu, akan mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala sepanjang hayatnya, yaitu di seluruh bulan sepanjang tahun. Tidak hanya di bulan Ramadhan.

Astaghfirullah. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan rizki istiqomah dalam beramal kepada kita semua. Aamiin...


22062018; 11.07
Dikutip dari story WA milik ammah Nita
yang merupakan murrobbi terakhir di Bandung
Read More
Published Selasa, Juni 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mengakhiri Untuk Memulai

"Karena mencintai berarti rela untuk melepaskan." ― Seseorang
*

Hari ini Purwokerto lagi panas-panasnya. Tanaman di depan rumah pun jadi kelihatan agak layu karena lima hari kemarin tidak pernah disiram.

Mungkin suasana lebaran hari ini masih sedikit terasa. Sebulan penuh berpuasa rasanya seperti berlalu begitu saja. Semoganya sih tidak sia-sia, tapi aku masih merasa seperti kurang memanfaatkan waktu yang ada. Ah, rasanya seperti ingin mengulang waktu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Namun kalau mau menilas balik, aku jadi ingat sewaktu hari pertama lebaran beberapa hari yang lalu.

Lebaran kan bagi sebagian besar orang identik dengan maaf-maafannya kan, ya. Kalau tahun-tahun sebelumnya, biasanya aku bakal mengirimi pesan permintaan maaf ke sebagian kontak yang ada di ponselku satu persatu. Mau itu perempuan atau laki-laki, pokoknya semuanya aku kirimi pesan. Tapi kalau tahun ini, aku cuma mengirim pesan ke beberapa teman perempuan. Itupun terbatas hanya pada teman-teman yang memang sehari-harinya sering berkomunikasi denganku. Sisanya cuma aku ucapkan via grup-grup atau via sosmed aja.

Bukan apa-apa. Kalau misalnya aku mengirim pesan ke semua kontak yang ada di ponsel, akunya takut ponselku bakalan ngehang karena saking banyaknya. Lagian, kalau misalnya aku punya ponsel yang tahan banting, kan jadinya waktunya banyak terbuang buat saling berbalas pesan kan, ya? Padahal aku lagi kumpul bareng keluarga besar, yang kira-kira cuma bisa ketemu tuh setahun sekali aja. Lah yang utama malah keluarga yang lagi kumpul itu toh, bukan teman dunia maya kita? Makanya tahun ini aku nggak begitu banyak ngelihat ponsel, cukup berbalas pesan sama beberapa orang aja. Itupun jedanya agak lama.

Aku belajar dari seorang teman juga, sih. Jadi sewaktu lebaran beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengirimi salah satu temanku yang laki-laki sebuah pesan maaf-maafan yang sampai sekarang tidak pernah dibalas. Kesal? Pasti. Padahal dia update di sana-sini, eh tapinya malahan tidak membalas pesan aku. Padahal dia itu termasuk teman dekatku dulu, meskipun semakin ke sini memang semakin dijauhkan. Aku jadi ngerasa kayak nggak dianggap gitu, dan juga menganggap temanku itu sombong, lupa sama teman lama. Dan jadi ngerasa aneh juga sih, karena dulunya dekat tapi sekarang malah jadi kayak stranger gitu. Dibilang musuh bukan, tapi dibilang teman atau sekedar kenal juga kayaknya kurang pas.

Tapi beberapa hari belakangan ini aku mulai tahu sih apa penyebabnya. Rupanya dia memang sengaja nggak ngebalas pesan aku karena memang pengen menjaga hati. Lah memangnya dia suka sama aku? Ya enggak juga. Kalau tidak salah dari apa yang dia tulis di sosmednya sih, dia cuma pengen lebih berhati-hati aja dalam bergaul. Dia takut zina. Lah iya, aku baru ingat kalau zina itu bukan cuma soal fisik, tapi juga hati, pandangan, sama pikiran. Terus setan kan juga punya banyak cara buat menjerumuskan manusia kan, ya? Dan katanya juga, semua pesan dari perempuan yang masuk ke ponselnya tapi nggak penting-penting banget, langsung aja dia hapus gitu aja tanpa sempat dia baca. Kalau yang soal maaf-maafan, dia maafin aja gitu dalam hati tanpa harus ngebales pesannya. Makanya aku langsung menyimpulkan, oh iya berarti aku juga termasuk ke perempuan-perempuan itu kali, ya?

Terus aku juga jadi ingat sama kalimat Ummi sewaktu aku lagi mainan ponsel sambil lihat-lihat video kpop sehabis sholat dan baca qur'an. Katanya, "lah, baru baca qur'an kok langsung khilaf? Emangnya udah ngerasa amalannya cukup buat nonton-nonton video kayak begituan?" Dan kalau dulu sih, setiap digituin sama Ummi aku bakal cuma merengut-merengut aja sambil tetep nonton-nonton video kpop. Tapi kalau sekarang udah enggak. Iya lah, orang akunya juga udah jarang nonton video kpopnya hehe. Bukan itu ding intinya. Maksudnya, kalau sekarang aku jadi lebih mikir, iya ya, emangnya amalan aku udah cukup, makanya aku jadi sombong dan tidak berhati-hati dalam bertindak? Malahan membuang-buang waktu sama hal yang sia-sia begitu.

Dan nggak tahu sih bisa disambungin apa enggak, tapi aku jadi kepikiran soal temanku itu. Terus juga jadi mikir, jangan-jangan kalau aku pas lebaran jadi saling berkirim pesan ke teman-teman laki-laki, yang pastinya beberapa bakal jadi ditambahin kata 'wkwk' dan 'haha' atau saling bertanya satu-dua hal untuk basa-basi, amalan yang aku lakuin di bulan Ramadhan kemarin jadi sia-sia? Kan kita nggak pernah tahu ya, amalan yang kita lakuin itu dihitungnya berapa, dan dosa yang kita lakuin juga dihitungnya berapa. Maksudnya misal kayak tau-tau amalan sholat sebulan penuh itu ternyata cuma bisa buat ngehilangin dosa interaksi sama lawan jenis lewat chat. Nah, kalau misalnya benar begitu, berarti amalan kita langsung habis gitu aja dong? Karena yang tahu perhitungan amalan dan dosa hanya Allah semata, makanya berarti kita justru harus lebih berhati-hati kan, ya?

Terus aku juga jadi mikir, kok aku banyak mikirnya ya? wkwk. Bukan ding. Aku jadi mikir lagi, mungkin udah saatnya kali ya aku harus mengakhiri sesuatu untuk memulai? Maksudnya kayak aku kan punya banyak teman lawan jenis, yang mungkin kalau aku upload story bakalan ada yang komen, atau aku sendiri malahan yang komen-komen ke story mereka. Ya mungkin awal-awal bakalan dianggap sombong, kayak sewaktu aku balas pesan temanku singkat-singkat dan malahan kadang-kadang sengaja nggak dibalas. Terus waktu ketemu dia bilang gini, "sombong banget kalau ketemu padahal pegang hp terus, tapi kalau di chat lama banget balesnya." Tapi waktu dibilang gitu aku cuma senyam-senyum aja karena bingung mau jawab apa, masa iya aku bilang kalau aku lagi menjaga hati? Lah nanti makin panjang pembahasannya biar dianya nggak salah paham, padahal kan aku lagi nggak pengen ngobrol lama-lama sama dia berduaan.

Tapi maksudnya ya itu, mungkin udah seharusnya aku itu mulai mengakhiri sesuatu yang sekiranya hanya membawa mudhorot buat diri aku sendiri. Kayak chat sama lawan jenis ngobrolin hal-hal yang nggak penting, menghabiskan waktu cuma buat nonton film-film gitu, atau yang lainnya. Jadi mengakhiri untuk memulai sesuatu yang baru. Mungkin kayak memulai untuk banyak-banyak belajar ilmu agama? Atau mulai untuk mempersiapkan bekal kalau-kalau nanti ketemu jodohnya? Ya, jodoh bisa berupa kematian atau manusia. Tapi intinya begitu. Mengakhiri yang tidak baik, untuk memulai yang baik-baik. Mungkin kalau buat aku mengakhiri begitu saja masih terlalu ekstrim ya, tapi setidaknya tetap harus berusaha untuk memulai secara bertahap, kan?

Dan aku juga tahu kok, mengakhiri sesuatu dengan orang yang selama ini cukup dekat dengan kita itu agak sedikit susah. Kayak misalnya punya teman lawan jenis dari sd, terus tiba-tiba kayak harus diakhiri begitu saja, padahal nggak ada masalah apa-apa. Dari yang biasanya tiap dia atau kita update sesuatu di sosmed kitanya saling komen-komen cekikikan nggak jelas, sekarang harus ditahan-tahan. Dari yang biasanya diajakin main kumpul-kumpul nggak jelas sampai malam kitanya hayuk-hayuk aja, sekarang harus cari-cari alasan untuk menolak tanpa menyinggung. Tapi walaupun susah, bukan berarti nggak mungkin kan, ya? Dan semua perubahan itu bagiku butuh proses, nggak bisa dadakan, makanya harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Harus dilatih dengan waktu yang nggak sebentar.

Dan karena mencintai berarti harus rela melepaskan, lalu kita juga mencintai teman kita itu karena Allah sehingga nggak mau mereka justru terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik, berarti kita juga harus rela untuk melepaskan segala apa yang justru membuat mereka semakin terjerumus ke situ kan?



Oh iya ada satu tulisan yang pengen aku share. Jadi waktu aku lagi buka-buka fb sebentar, tiba-tiba nemu status fb yang ditulis sama budeku. Dan pas aku baca, aku langsung mikir, lah kok agak sejalur sama yang lagi aku pikirin? Kok sesuai sama apa yang lagi aku alamin? Jadinya aku tulis ulang di sini. Tapi tulisan itu juga di repost sama bude dari sumber yang kayaknya lupa ditulis sama bude, soalnya di bawahnya cuma dikasih keterangan kalau status itu tuh copas, tapi nggak ada keterangan sumber aslinya. Ya kurang lebih kayak gini tulisannya.

Untuk para suami...

Ketika istrimu begitu menjaga kehormatannya di rumah, maka jaga pulalah kehormatanmu sendiri diluar sana. Wanita berbeda banget sama pria. Jangan kaget hanya dengan anggukan kepalamu saja, akan ada wanita lain yang merasa diperlakukan dengan istimewa. Jangan kaget meski niatmu sekedar membantu saja, tapi yang dibantu malah jadi diam-diam menyimpan cinta. Bahkan yang sekedar lewat aja, bisa diartikan lain sama wanita.

Serba salah memang, tapi selama ada sang istri kenapa tidak kau pindahkan segala urusan beramah tamah dengan wanita ke pundak istrimu? Agar Izzah lelakimu tak tergadai dengan 1000 fitnah wanita. Agar sejuta kebaikan dan kehangatanmu hanya bisa dinikmati keluargamu saja.

Kadang di otak logikamu mungkin terbersit, "ah cuma begini aja masa bikin fitnah?" Tapi percayalah, hati wanita penuh kejutan-kejutan khayalan romantis yang bisa kapan aja dibumbui syaithon-syaithon agar semakin dalam perasaan yang awalnya hanya selewat aja. Maka jangan marahi para istri-istri yang cemburu karena mereka tahu apa yang mereka sedang hadapi. Ketika sebuah perasaan ngga berdaya dipaksa menghadang serbuan perasaan menggebu-gebu yang belum halal. Bagai prajurit yang mendadak siaga ketika mendengar kebaikan suami dibicarakan wanita lain.
Maka berterimakasih lah pada setiap kecemburuan istrimu, karena kecemburuan merekalah yang akan membantu menjaga lurus jalanmu. 
Ada hati yang musti engkau jaga.

Eh tapi bukan soal suami-istrinya ya, tapi lebih ke bagian kalau apa yang dilakuin oleh laki-laki meskipun sedikit ternyata bisa menimbulkan benih-benih cinta di hati perempuan. Meskipun yang laki-lakinya ngerasanya ya biasa aja.

Tapi aku bilang begini pun bukan berarti aku sudah sepenuhnya menjalankannya. Namanya manusia, namanya Hannan, masih banyak khilafnya. Masih lagi berproses dan masih belajar. Tapi setidaknya hal-hal yang begini mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran juga. Terutama buat aku tentunya. Dan maaf jika ada salah-salah kata atau kalimat yang kurang mengenakkan. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, dan kalau ada kesalahan tentu datangnya dari diri aku sendiri. Tapi kalau ada hal-hal yang sekiranya salah dari apa yang aku tulis di atas, mohon koreksinya, ya. Aku masih lagi belajar :"



Btw empal gentong sama sup kimlo buatan Ummi enak, bikin aku jadi bolak-balik ke dapur. Duh, sepertinya jarum di timbangan bakalan mulai jalan ke kanan lagi setelah beberapa bulan belakangan ini jalannya ke kiri terus.
#enggaknyambungemang
#tapigapapadeh
#pengencurhatajagara2beratbadannyamulainaik
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Depresi?

Gambar di bawah ini sengaja saya taroh besar-besar, biar bisa jadi pengingat buat sayanya juga. Soalnya beberapa bulan belakangan ini kayak terlalu berharap sama hal-hal yang sebenarnya nggak pantas untuk diharapin, dan jadi lupa bersyukur. Jadi gambarnya sekalian dipakai buat menyentil saya kalau sayanya lagi khilaf, sekaligus biar sayanya nggak berharap sama selain Allah lagi dan lebih bisa mensyukuri segala nikmat yang telah Allah beri selama ini :" Penasaran kayak apa gambarnya? Sok dibaca aja.



webtoons.com
"Perasaan saya saja atau memang benar, akhir-akhir ini di sekitar Kak Radith sering terdengar ucapan 'depresi manis'?"

"Oooohh, itu! Bukan apa-apa, ngga usah dipikirin. Cuma materi farmakologi kemarin, kok."

"Hee..."

"King tahu kan, kalo dikaitkan dengan sesuatu di sekitar kita, materi pelajarannya jadi lebih mudah buat diingat. Dan kayaknya mereka mengaitkan soal 'depresi manis' ke aku untuk itu."

"Memangnya depresi manis itu seperti apa, kak?"

"Itu kondisi dimana seseorang mengalami depresif dan manis secara bergantian. Masa depresif saat merasa murung dan turun mood, lalu masa manis ketika merasa gembira berlebihan."

"Oh... Pantesan! Cirinya sesuai sama Kak Radith!"

"Emangnya ciri apa yang sesuai denganku?"

"Um... Soal gembira berlebihannya, sih..."

"Walah, aku kelihatan gitu ya? wkwk."

"Tapi baru bisa dibilang depresi manis kalau mengalami 'depresif' dan 'manis', kan? Apa Kak Radith merasakan depresi juga?"

"Depresi?"




Notes: Btw saya lupa itu ada di episode keberapa karena pas ngeliat gambarnya langsung asal nge-screenshot aja. Tapi intinya ini ada di season keduanya. Dan kalau nggak salah di episode-episode selanjutnya sang creator-nya merevisi istilah depresi manis dengan istilah manik-depresif yang ternyata lebih umum dikenal. 



#WeArePharmacists
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Berhijab Tapi Omongannya Kok Kasar Banget, Sih?

"Lactosa-nya kenapa dihabisin?! Jangan nyusahin orang, dong!"

"Tapi kan bisa diisi lagi."

"Diiitthh!! Sudah kubilang kalo udah kelar dipake, balikin lagi bahan obatnya ke rak!!"

"Ya kan tinggal ambil di mejaku."

"Mana kami tahu itu adanya di mejamu, bego!! Nyemplung sana ke sungai musi!"

"Lev, kamu berhijab tapi kelakuan sama omongan kok kasar banget, sih? Yang bener dong!"

(Ekspektasi Radith, Levy bakal ngomong kayak gini) "Nggak usah ngurusin orang, deh! Mau dilemparin lagi, hah?!" 

(Kenyataannya, Levy malah murung~ Dan ini pertama kali lihat Levy murung)

"Eh? Dia murung?!"

"Radith..."

"I-iya?!" (Refleks hormat)

"Aku berhijab, bukan berarti telah memiliki akhlak yang sempurna. Aku hanya ingin menutup satu pintu dosa yang biasa dilakukan wanita. Banyak yang bilang untuk berhijab setelah punya akhlak yang sempurna. Tapi ukuran sempurna itu yang seperti apa? Sebatas apa? Kupikir, kalau terus berkutat dengan itu, selamanya aku takkan berhijab. Makanya kuputuskan untuk berhijab sembari memperbaiki semua kekuranganku secara perlahan, agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, atas perkataan dan perlakuan kasar yang kuperbuat, aku mohon maaf. Aku permisi."

"...."

Kemudian, Levy terus saja mendiamkan Radith...

***

Mohon disikapi dengan bijak ya kalimat yang saya cetak tebal di atas. Saya menuliskannya di sini bukan karena saya memperbolehkan atau setuju-setuju saja dengan kondisi orang yang berhijab tetapi masih belum mencerminkan akhlak yang baik (dalam hal ini contohnya adalah masih menggunakan kata-kata dan perlakuan yang kasar). Tapi saya cuma ingin membagi sekiranya siapa tahu, ada beberapa di antara kita yang sebenarnya sedang berjuang untuk memperbaiki diri. Iya, siapa tahu aja dia memang sedang berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Makanya, saya membagi cuplikan ini agar kita semua tidak langsung men-judge seseorang. Sekaligus biar kita lebih mengutamakan berkhusnudzon daripada langsung bersuudzon, dan (berusaha) menghargai proses seseorang... :)


#WeArePharmacists Episode XX (Lupa)
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Orang yang Sudah Dewasa

"Daddy!"

"Hm?"

"I decided to stay (aku memutuskan untuk tinggal)."

"Kamu yakin?"

"Ya. But my unstable mind spent too much episodes (tapi aku jadi menghabiskan banyak episode gara-gara kelabilanku). Kalau pada akhirnya tetap tinggal, rasanya jadi sia-sia saja."

"Who says? (Siapa bilang?) Tidak mudah untuk membuat suatu keputusan. Orang yang sudah berani membuat keputusan dalam hidupnya, tak peduli apapun itu pilihannya, menandakan bahwa orang itu sudah dewasa. So congrats, my sweetheart."

(Pelukan) "Thank you so much, Daddy!"


Kalau yang ini ditulis karena saya suka sama kata-kata yang saya cetak tebal. Kayak lagi pas banget buat menyemangati saya gitu.


#WeArePharmacists Episode 50
Read More
Published Senin, Juni 04, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Ikan Salmon dan Hiu Kecil

"Jadi bagaimana tadi? Sudah bicara dengan Ibu Retnonya?"

"Bu Retno memberi waktu 3 hari untuk memikirkan lagi, Dad."

"Hoo.. I see.. Tapi kalau memang mau ke univ swasta X, Dad rasa tidak perlu memikirkan lagi, iya kan?"

"Dad... I just realized (aku baru sadar) kalau Sastra Inggris juga bukan minatku... Tapi keputusan untuk pindah, I think I'll do it (kurasa akan tetap kulakukan). Even if I (meski aku) pindah lagi ke jurusan yang bukan berdasarkan minat, setidaknya di jurusan itu bisa lebih dikuasai dibanding farmasi. Kalau seperti itu, tetap tak apa-apa kan Daddy?"

"Charlotte..."

"Yes, Dad?"

"Kamu tahu tidak cerita tentang ikan salmon dan hiu kecil? Orang-orang meyakini bahwa ikan salmon yang masih hidup lebih enak diolah untuk masakan Jepang? Karena itu para nelayan Jepang berusaha membuat ikan salmon yang ditangkap agar tetap hidup selama perjalanan menuju pantai. Tetapi ikan salmon yang dimasukkan ke kolam buatan banyak yang mati karena terkurung dalam satu tempat hingga kurang bergerak. Pada percobaan kedua, para nelayan mencoba memasukkan hiu kecil ke dalam kolam ikan salmon. Ternyata hasilnya bikin kaget para nelayan. Semua ikan salmon jadi aktif bergerak karena terus melarikan diri dari kejaran sang hiu kecil. Berkat hiu kecil, jumlah ikan salmon yang mati jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya. Pesan moral yang bisa diambil dari kisah ikan salmon dan hiu kecil tadi... 'diam' membuat mati, dan 'bergerak' membuat hidup. Orang biasanya 'diam' ketika tak ada masalah atau saat berada di zona aman. Untuk 'bergerak', yang kamu butuhkan adalah masalah dan tekanan."

"I did good, right? (Yang kulakukan sudah benar, kan?) I 'move' on from the old to the new university (Aku 'bergerak' dari univ lama ke univ baru)."

"Kamu bergerak untuk menuju zona aman. Benar kan, Charlotte?"

"...."

"Kamu berpikir farmasi bukan minatmu karena itu kamu mencari jurusan lain yang menurutmu lebih bisa kamu kuasai. Menurut Dad, itu lebih seperti melarikan diri. Tapi lain ceritanya kalau Sastra Inggris itu benar minatmu sesungguhnya."

"...."

"Sweetheart, bagaimana kalau kamu coba menghadapi masalahmu? Menghadapi 'hiu' kecilmu? Tetapi ini adalah hidupmu. Silahkan putuskan jalan mana yang ingin kamu tempuh."

***

Kisah di atas merupakan cuplikan dari salah satu webtoon berjudul "We Are Pharmacists" yang secara tidak sengaja saya temukan saat sedang mengisi waktu luang di atas lajunya kereta api Kamis kemarin. Cerita yang digambarkan di dalam webtoon ini sebenarnya sederhana, hanya sebatas kehidupan perkuliahan anak-anak D3 Farmasi. Namun, rupanya creator-nya cukup ahli dalam mengemas jalan cerita dan karakter masing-masing tokohnya sehingga ketika membacanya, secara tidak langsung kita akan seperti sedang diajarkan sebuah pelajaran hidup tanpa bermaksud menggurui.

Dan ya, tentu saja webtoon ini pun langsung jadi favorit saya. Sebenarnya masih banyak cuplikan-cuplikan lain yang ingin saya tulis. Tapi karena sayanya masih lagi keasyikan baca dan belum mau flashback-flashback gitu (apalah bahasanya flashback wkwk), jadinya nanti saja lah ya, hehe. Tapi akan lebih baik lagi jika kalian langsung membacanya sendiri, biar pesannya terasa lebih ngena.


#WeArePharmacists Episode 49-50
Read More
Published Minggu, Juni 03, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Cieee yang Nggak Sadar

Cieee yang nggak sadar, tiba-tiba bilang. "Wah, targetku udah paling bagus, nih." atau "Tadi tuh, aku udah ngelakuin banyak hal, ini itu blablabla." Aduh, udah merasa puas nih ceritanya?

Terus nggak sadar lagi, tiba-tiba bilang. "Tadi kenapa bisa gitu tuh gara-gara aku abis gini-gitu, tahu." Wah, mulai merasa sombong nih?

Atau tiba-tiba bilang, "Duh, kok rasanya kerja tuh nggak pernah bener, ya." Hmmm, kalo sekarang lagi ngeluh ya?

Udah gitu, nularin virusnya ke orang sebelah lagi. Tiba-tiba di siang bolong ngomong gini. "Iya emang, dia itu gini-gitu." Wah, suudzon nih ceritanya? Padahal belum pernah ngeliat sendiri tapi udah nelen berita mentah-mentah aja nggak sempat berkhusnudzon dulu :" Jangan kesel dong kalau cuma ikut-ikutan, apalagi sampai ngajak-ngajak.

Sampai terakhirnya malah bilang gini. "Ah, udah minta terus plus ngelakuin ini-itu juga nggak pernah dikasih-kasih. Giliran mereka yang nggak ngapa-ngapain malah hidupnya enak. Nggak adil, nih." Lah, malah menyalahi Allah.

*

Hehe. Jadi, sekarang udah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, nih. Udah sampai mana targetnya? Semakin membaik, sama aja, atau justru malah semakin menurun? Duh, duh, jangan sampai nggak sadar kalau diri kita malah semakin merugi ya :)


#catatankajianlinimasa
Sebenarnya kayak pernah lihat tulisan serupa tapi lupa dimana
Read More
Published Jumat, Juni 01, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Lupa Bersyukur

Di suatu malam di hari keempat belas bulan Ramadhan.

"Aku iri tahu (mbak) sama kamu. Kerja di kantor yang suasananya islami, jadi kalau mau sholat pasti banyak temannya, dan di kantor juga ada banyak perempuannya. Terus, teman-teman kantor isinya orang-orang yang bisa diajak dateng ke kajian gitu. Ngajakin malah, ya kan?" Ujar seorang perempuan berkerudung hitam yang duduknya paling pojok.

"Masya Allah. Aku lebih iri sama kamu tahu (mbak). Soalnya belum tentu dengan suasana kantor aku yang kayak kantor kamu sekarang, aku masih bisa istiqomah buat shaum sunnah dan sholat tepat waktu, di masjid lagi. Kalau sholat kamu ke masjidnya sendirian terus, kan? Udah gitu, bukannya malah kebawa arus, kamu malah berusaha menghindari arus dengan terus mencari lingkungan baru; sendirian juga." Balas seorang perempuan berkerudung cokelat tua yang duduk tepat di hadapan perempuan berkerudung hitam tadi.

Sejenak mereka berdua terdiam, sampai seorang perempuan berkerudung biru navy yang sejak tadi sedang melipat mukenahnya pun ikut menimpali. "Tapi (mbak), seharusnya aku yang iri sama kalian berdua. Kalian enak, dikasih nikmat buat bisa kerja di kantor begitu, jadi setiap bulannya pasti punya penghasilan yang tetap lah istilahnya. Sedangkan aku cuma buka warung di rumah, yang penghasilannya tergantung ramai tidaknya warung."

"Tapi bukannya lebih enak, (mbak)? Kerja di rumah bisa sekalian birrul walidain, kan? Kan itu keinginan (mbak) selama ini, ingin menjaga kedua orang tua sebelum akhirnya dibawa suami." Ujar perempuan berkerudung hitam lagi.

"Iya gitu. Terus juga warung (mbak) Alhamdulillahnya besar dan laku terus selama ini, kan? Sebulan omsetnya akhir-akhir ini selalu lebih besar daripada gaji kami berdua." Tambah perempuan berkerudung cokelat.

Lalu mereka bertiga pun kembali terdiam, sebelum setelahnya langsung mengucap istighfar dan hamdalah sebanyak-banyaknya. Rupanya mereka kelewat berharap dan jadi lupa bersyukur. Padahal nikmat Allah bagi mereka sudah kelewat banyak.


#bagiandarijurnalkajian
Lagi-lagi diingatkan soal bersyukur
dan sekali lagi redaksinya tidak akan selalu sama
Read More
Published Rabu, Mei 30, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Kehidupan yang Jomplang

"Semenjak tinggal di Jakarta, gue jadi ngeliat kehidupan yang jomplang tahu, Nan."

Saya berpikir sebentar. "Jomplang gimana maksudnya?"

"Ya gitu. Ada orang yang kaya banget, kehidupannya glamour. Setiap hari bisa belanja sampai berjuta-juta di mall-mall besar. Rumah, pakaian sama mobilnya bagus-bagus dan pastinya mahal-mahal. Tapi ada juga kayak yang tadi kita lihat. Baju compang-camping, yang kayaknya bisa makan sehari sekali aja udah Alhamdulillah, terus tidurnya malah di gerobak pinggir jalan. Jomplang banget, kan?"

Saya mengangguk-angguk, lalu baru memahami alasan mengapa teman saya ini tadi agak sedikit terkejut sewaktu melihat seorang bapak-bapak yang sedang menata barang-barangnya ke dalam gerobakyang di dalamnya juga terdapat seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita.

"Berarti seharusnya kita harus lebih bersyukur dengan apa yang kita punya kan, X?"

"Iya. Sayangnya terkadang kita lupa bersyukur karena terlalu banyak berharap, padahal Allah udah banyak banget ngasih kita nikmat yang kalau dihitung-hitung ya nggak akan bisa, kelewat banyak."


#bagiandarijurnalkajian
mungkin redaksinya berbeda, tapi Insya Allah intinya sama
Read More