Tampilkan postingan dengan label sepenggal-hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepenggal-hikmah. Tampilkan semua postingan
Published Jumat, Oktober 12, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Obrolan Siang Menjelang Sore Tadi

Siang menjelang sore tadi, tiba-tiba seorang teman menghubungiku via dm instagram. Katanya dia mau cerita sesuatu, yang setelah aku tanya mau cerita apa malah berbelok jadi mau sharing-sharing aja. Mau ngobrol-ngobol sedikit gitu katanya. Awalnya kami ngobrol-ngobrol biasa. Soal sekarang jadinya menetap dimana, soal rencana ke depannya bakal gimana, dan lain sebagainya yang sebenarnya sudah pernah kami obrolin beberapa bulan kemarin. Sampai akhirnya di empat-lima pertanyaan itu, tiba-tiba temanku itu mulai menceritakan titik masalah yang sebenarnya ingin dia ceritain ke aku. Di situ aku agak sedikit mikir yang kayak, "duh X, mau cerita aja pembukaannya sampai banyak banget gitu" wkwk. Tapi ya kalau aku jadi dia mungkin juga bakal ngalor-ngidul kemana-mana dulu sih saking bingungnya memulai curhatan tuh gimana, hehe.

Lanjut. Jadi di situ dia cerita yang pada intinya dia sedang galau akan sesuatu. Aku tidak akan menceritakan apa isi ceritanya sih, kan itu rahasia kami berdua kan ya. Eh bertiga ding, sama Allah. Tapi ada beberapa hal yang pengen aku share dari obrolan aku dan temanku itu. Bukan sepenuhnya tentang obrolan kami sih, tapi sebagian kesimpulan yang mungkin jadi permasalahan bagi beberapa perempuan yang baru menikah (Hannan sok tahu banget wkwk). Ya intinya gitu deh. Aku mulai saja, ya. Bismillah.

***

Fulltime Wife/Mother
Yang pertama adalah soal keinginan kita sebagai perempuan untuk bekerja, tetapi tidak diperbolehkan oleh calon/pak suami. Nah beberapa tahun ke belakang, aku sering banget ngelihat beberapa storygram atau update-an timeline/blog tentang orang-orang yang tiba-tiba ngerasa galau karena dia pengen kerja, tetapi nggak dibolehin sama suaminya. Katanya suaminya pengen dia jadi fulltime wife, yang selanjutnya bisa jadi fulltime mother. Bahkan kegalauan ini juga udah mulai muncul dari awal pas mau menikah atau sewaktu masa-masa taaruf. Jadi kayak misal ada dua orang yang sudah saling suka, sudah satu visi dan misi, tapi berbeda pendapat di soal 'bekerja' ini. Terus salah satunya jadi galau, deh. Atau juga, yang galau karena tiba-tiba jadi pengen kerja meskipun di awal sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah si pak suami saja.
Sebenarnya permasalahan ini sebagiannya pernah dialami oleh teman dekatku sendiri. Yaitu soal yang meski dari sebelum menikah sudah saling sepakat bahwa yang bekerja di keluarga hanyalah pak suami, tetapi tiba-tiba di tengah jalan sang istri jadi pengen kerja gitu. Subhanallah. Lalu jadinya gimana? Mereka banyak beratemnya? Iya. Mereka jadi sering diskusi meski terakhir-terakhirnya jadi saling ngambek-ngambekan. Sang suami yang tetap kekeuh dengan prinsipnya bahwa ia ingin istrinya tidak bekerja kantoran, alias kerjanya ya di rumah saja mengurusi suami, anak, dan rumah; sedangkan sang istri masih terus-terusan merengek agar diperbolehkan melamar pekerjaan karena ingin sekali bekerja dengan berbagai macam alasan.
Dan dulu sewaktu aku masih bekerja di sebuah startup, seorang temanku pernah bilang kalau dia ingin punya istri yang tidak bekerja, alias full mengurusi permasalahan rumah tangga. Alasannya karena biar dia saja yang mencari nafkah, karena dia tau bagaimana susah dan beratnya dunia kerja itu. Dan sewaktu aku bilang kalau mungkin beberapa pekerjaan saja yang keras, tapi ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, dia tetep kekeuh dengan prinsipnya itu. Katanya lagi, justru dia berharap dengan tidak bekerjanya istrinya itu, dia jadi lebih termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Sekaligus juga biar kalau dia lagi jenuh dengan pekerjaannya itu, dia jadi ingat kalau di rumah ada keluarganya yang sudah mempercayakan seluruh kebutuhan hidupnya kepadanya. Jadi penyemangat gitu istilahnya. Kan, dia yang sudah melarang istrinya itu untuk bekerja. Berarti, dia jadi bertanggungjawab dan tidak boleh gampang menyerah kan?
Atau juga temanku yang lain, yang katanya masih memperbolehkan istrinya itu untuk bekerja, asal tidak banyak menyita waktunya. Seperti misalnya berjualan secara online atau membuka toko sendiri di rumah, menjadi guru atau dosen yang katanya masih lebih banyak waktu dan lebih agak santai kerjanya, atau mengerjakan pekerjaan yang bisa menyalurkan hobinya. Kayak misal menulis, menjahit, mendekor rumah, atau membuat prakarya begitu. Asal tidak menjadikan pekerjaan itu sebagai kegiatan primer, melainkan hanya hobi yang dilakukan di sela-sela hari-harinya. Begitu katanya. Apalagi kan, mereka juga mungkin takut ya misalnya suami dan istri sama-sama bekerja, sama-sama capek, terus pas pulang dari kantornya masing-masing pengen ngelihat raut wajah yang ceria penuh senyuman gitu buat membangkitkan semangatnya, eh yang dilihat malah muka kusut capek bete karena misal kerjaannya banyak atau berat waktu di kantor. Kan, bisa jadi sumber masalah tersendiri gitu. Hmm. Lah terus, dengan kedua cerita di atas, kita sebagai seorang istri harus bagaimana dong?
Nah, kalau menurutku, dari kedua cerita temanku di atas itu bisa ditarik kesimpulan―terlepas dari ada orang yang membebaskan istrinya untuk menjadi wanita karir, karena itu tidak masuk hitunganbahwa ada laki-laki yang sama sekali tidak memperbolehkan istrinya bekerja karena merasa dirinya masih sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya itu, dan ada juga laki-laki yang masih memperbolehkan istrinya untuk bekerja, tapi kerjaannya itu tidak boleh sesuatu yang membebani atau kalau bisa cuma sebagai penyalur hobi saja. Dan kedua prinsip itu Insya Allah tidak ada yang salah, karena tentunya mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka sampai berpikiran seperti itu. Tentu kita sebagai seorang istri, kewajiban kita adalah patuh kepada suami kan? Apalagi jika itu tidak melanggar perintah Allah, maka tidak ada alasan untuk kita tidak patuh kepada perintah suami kan?
Mungkin kita bisa saja memaksa untuk tetap bekerja yang pada akhirnya suami jadi memperbolehkan meski tidak begitu ikhlas. Terus, kalau iya kita sudah bekerja tapi suami sebenarnya tidak ridho, apa pekerjaan kita itu akan membawa berkah? Atau justru membawa celaka? Astaghfirullah... Hmm, ya jadi intinya sih, setiap suami pasti memiliki alasan tersendiri mengapa mereka melarang sesuatu kepada istrinya. Dan kita sebagai istri mereka, harus selalu patuh kepada suami. Toh, ketika sudah menikah, ridho Allah ada pada ridho suami, bukan? :)

Mengisi Waktu Luang
Yang kedua adalah soal mengisi waktu luang saat sudah menikah. Melanjutkan permasalahan sebelumnya, tidak sedikit perempuan yang merasa bingung dan bertanya-tanya soal jika nantinya sudah menikah dan tidak diperbolehkan bekerja, nanti di rumah mau melakukan kegiatan apa? Yang mungkin ujung-ujungnya jadi takut kalau-kalau nanti sehari-harinya jadi bosan atau bingung mau ngapain karena nggak ada kegiatan, nggak kayak sewaktu masih single dulu. Apalagi misalnya dia dulu adalah seorang aktivis ataupun wanita karir yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dari pagi sampai malam. Kan kalau sudah terbiasa berkegiatan gitu dan setelah menikah malah terus-terusan di rumah seharian kan bisa badmood juga kan ya, hehe.
Nah kalau soal ini, menurutku justru istri-istri yang tidak diperbolehkan bekerja itu malah jadi punya banyak kelebihan loh. Maksudnya kayak justru dengan banyaknya waktu luang yang dimiliki, kita jadi lebih bisa menyalurkan hobi yang mungkin dulu-dulu terpendam karena adanya kesibukan kuliah atau kantor misalnya. Contohnya kayak mungkin aku itu suka membaca novel. Dulu rasanya sewaktu kerja itu menyelesaikan satu novel aja agak susah dan nggak tenang karena dikejar-kejar deadline terus. Atau kalopun lagi nggak ada deadline, sampai kosan itu sudah capek karena seharian berkegiatan di kantor. Nah dengan adanya banyak waktu luang yang sekarang ini, aku jadi bisa banyak menghabiskan waktu untuk membaca.
Atau mungkin buat yang hobinya suka ngegambar, jadi bisa iseng-iseng bikin gambar yang bertemakan dakwah gitu misalnya. Atau juga yang kayak sebelumnya aku sebutin, suka mendekorasi rumah yang perabotannya dibuat jadi lucu-lucu; ngebikin prakarya kayak misalnya bikin buket bunga, gantungan kunci, dll; menjahit, berjualan, menulis, dan lain sebagainya. Pokoknya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, yang bisa dilakukan di rumah. Apalagi hal-hal yang bermanfaat itu merupakan hobi kita. Bersyukur nggak tuh jadinya?

Memiliki Penghasilan Sendiri
Yang terakhir adalah soal ingin memiliki penghasilan sendiri. Aku sering banget denger cerita beberapa temanku yang sudah menikah, lalu ada beberapa barang yang pengen dibeli atau keinginan-keinginan lainnya yang membutuhkan biaya yang cukup besar, namun merasa tidak enakan gitu untuk meminta kepada suaminya. Atau juga soal teman-temanku yang ingin bekerja dan memiliki penghasilan sendiri karena biar bebas kalau mau ngasih ngejajanin adik-adiknya, sekaligus biar dianya juga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang menurutnya tidak sedikit biayanya. Meskipun mungkin suami-suami mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu, yang dalam arti sebenarnya kalau emang butuh atau ingin sesuatu ya tinggal bilang saja, Insya Allah akan dituruti. Atau juga yang kalau mau ngasih jajan ke adik-adik atau orang tua ya tinggal kasih-kasih saja. Tapi, tetap ngerasa nggak bebas karena harus minta-minta ke suami.
Nah sebenarnya untuk hal yang ini, aku juga kadang ngerasain sih gimana rasa nggak enakannya itu. Tapi balik lagi, kita kan sudah menjadi istri. Kewajiban kita adalah nurut sama suami. Dengan suami melarang kita untuk bekerja dan bilang kalau kita mau apa saja atau misal ingin ngasih apa ke keluarga tinggal bilang aja, berarti tandanya mereka merasa bahwa mereka sanggup memenuhi seluruh kebutuhan kita kan? Malah seharusnya kita bersyukur, karena kita memiliki suami yang berani menjamin nafkah lahir batin kita disaat di luar sana masih ada perempuan-perempuan yang terpaksa harus bekerja untuk keluarganya.
Dan kalaupun memang masih kekeuh ingin memiliki penghasilan sendiri, ya kayak kesimpulan yang sebelumnya. Misal kita punya hobi menjahit, hasil jahitan-jahitannya itu siapa tahu bisa dijual. Atau misal membuka berjualan dengan membuka toko di rumah atau bikin online shop gitu, dan lain sebagainya. Setidaknya walaupun mungkin penghasilannya tidak sebesar kerja di kantoran, yang penting tetap ada penghasilan sendiri tanpa harus melawan suami. Toh, rezeki sudah ada yang mengatur kan? Barangkali dengan kita patuh dengan suami, Allah jadi lebih mengalirkan rezekinya kepada pak suami sehingga benar-benar bisa memenuhi seluruh kebutuhan kita tanpa kurang satu hal pun.

***

Hannan sok paling tahu sekali ya, tulisannya sampai panjang begitu :') Hehe. Tapi inti dari tiga hal di atas sebenarnya satu sih, yaitu: nurut dengan suami, selama itu adalah hal yang baik. Jadi kayak misal ada beberapa orang yang bilang, "loh sekolah tinggi-tinggi kok ujung-ujungnya kerja di dapur juga?" ya nggak apa-apa. Dengan kita kuliah tinggi-tinggi begitu, kita jadi mengajarkan ke anak-anak kita bahwa pendidikan itu penting. Ada loh orang yang kuliahnya sampai S3 tapi beliau sama sekali tidak bekerja dan benar-benar full mengurusi keluarganya. Padahal beliau menyelesaikan S3-nya itu ketika sudah punya anak 4. Masya Allah. Terus beliau ngeluh meski dicibir begitu oleh orang lain? Ya enggak. Justru beliau itu pengen nunjukkin ke anak-anaknya, kalau mengejar ilmu ya memang harus semaksimal mungkin.

Toh juga, misal kayak aku yang dulu sewaktu single sering mengeluh dan ngerasa berat waktu banyak kerjaan, kok ya masa waktu menikah malah jadi maksa buat kerja lagi? Kayak yang, sekarang aja pengen, nanti capek malah ngeluh lagi wkwk. Ya gitu. Kan malah seharusnya bersyukur kan, kita jadi nggak perlu capek-capek kerja di luar. Cuma di rumah aja nurut sama suami dan mengurusi keluarga, eh sudah bisa terpenuhi semua kebutuhannya. Berpahala lagi. Bisa sambil ngegunain waktu luangnya juga buat menyalurkan hobi dan menambah pengetahuan. Alhamdulillah banget kan? Pokoknya ya, nggak perlu meragukan kesanggupan suami untuk memenuhi kebutuhan kita deh. Dan juga, daripada malah kita jadi menghabiskan waktu kita untuk melakukan hal-hal rutin yang sebenarnya kita tidak suka gitu kan? Masa udah nggak suka, ada tekanan, resiko, waktu dan tenaga yang terkuras juga lagi, hehe.

Ya kecuali misal kerjaan itu adalah hal yang kita suka, sih. Cuma ya tadi, harus sesuai jalurnya. Tidak boleh menjadi aktivitas primer, alias sebatas kayak hobi yang dilakuin di waktu luang aja. Dan sekali lagi, ini terlepas dari kalau memang suaminya memperbolehkan untuk bekerja ya... Soalnya aku saja, yang baru sehari-harinya mengurus rumah dan suami kadang-kadang gampang ngerasain capek. Apalagi misal nantinya kalau Allah memberi amanah untuk mengurus anak? Wah, udah nggak kebayang lagi itu kalau iya juga kekeuh mau kerja, hehe. Apalagi kalau misal kerjanya cuma dilandasin sama alasan tidak mau dicibir sama orang, makin nggak berkah itu nantinya karena mungkin bisa jadi banyak ngeluhnya, huhu.

Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga tidak terkesan menggurui atau sok tahu.

***

Tadi sewaktu di akhir obrolanku dengan temanku itu, dia mengirimi kalimat seperti ini. Padahal sewaktu membalas curhatannya itu aku malah jadi banyak curhat baliknya, tapi Alhamdulillah kalau ternyata curhatanku itu justru sedikit membantu. Soalnya waktu habis curhat panjang-panjang aku juga ngerasa takut, takut ternyata bukannya membantu malah dianya jadi sebel karena kok malah akunya yang jadi banyak cerita disaat dia bilang mau cerita ke aku.

Tapi aku juga jadi bersyukur, dari obrolan siang menjelang sore tadi, aku jadi nemuin orang yang mungkin setipe sama aku. Dari soal apa yang dipikirin, dialamin, sampai yang bener-bener kayak kita punya cerita dan nasib yang sama. Masya Allah.

Terima kasih Ya Allah :' Akhirnya aku punya teman yang bisa diajak diskusi soal apa yang aku alamin selama ini. Soalnya selama ini aku agak takut gitu buat cerita sama orang lain, karena merasa sudah harus punya batasan dari apa yang bisa diceritakan :')



Purbalingga, 12 Oktober 2018
Alhamdulillah aku bisa menulis sepanjang ini setelah sekian lama.
Dan untuk kamu, terima kasih karena sudah berdiskusi pajang denganku hari ini :)
Aku jadi punya bahan untuk menulis, hehe
Read More
Published Senin, Juli 09, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Manusia Kekinian

Dulu waktu kuliah saya sering dikomentari oleh beberapa teman soal pakaian yang saya kenakan. Katanya, pakaian dan kerudungnya bermodelkan yang itu-itu saja. Warnanya juga nggak akan jauh-jauh dari warna hitam dan biru, atau cokelat dan abu-abu tanpa motif apa-apa. Pokoknya yang terlihat netral dan bisa dipadukan dengan warna apapun gitu. Saking motif dan warnanya yang seputaran itu-itu saja, sampai-sampai salah seorang teman saya pernah membelikan saya kerudung berwarna kuning-polkadot yang jauh-jauh ia beli sampai ke pasar baru demi ingin melihat saya menggunakan kerudung yang berwarna-warni―yang meskipun sampai saat ini kerudung itu pun cuma satu kali saja saya pakainya karena warnanya yang bukan "saya banget". Maaf ya :"

Foto ini diambil di waktu dan tempat yang berbeda-beda.
Dan karena hal itu juga dulunya saya sempat dianggap orang yang zuhud pisan, yang padahalnya mah sebenarnya sebelum-sebelumnya saya bukan tipe orang yang seperti ini dan memang dulu tidak pernah ada pikiran apa-apa soal ini. Saya juga sempat menjadi remaja-remaja lain yang sibuk memadu padakan pakaian yang matching dari atas sampai bawah, kok. Pokoknya kalau lagi pakai baju biru, kerudungnya juga harus biru. Pakai baju ungu, hijau, oren, ya kerudungnya juga harus senada. Jadi kalau beli baju baru ya harus sama kerudungnya sekalian biar kelihatan bagus. Apalagi waktu awal-awal kuliah itu saya doyan banget "jajan" di pasar kaget. Beli kerudung paris berbahan tipis-tipis yang kalau beli sepuluh ribu itu bisa dapet tiga, ditambah sama kaos kaki yang bentuknya lucu-lucu dan berwarna-warni. Ya meskipun memang dari dulu untuk hal-hal seperti itu saya tidak pernah suka sama yang motifnya terlalu nyentrik, alias yang polos-polos saja atau hanya ada sedikit motif biasa, tetapi saya punya banyak kerudung dan baju dengan warna yang berbeda-beda.

Dan hal itu tidak terbatas pada ketiga benda itu saja. Kamar kosan saya udah kayak gudang, dipenuhi oleh barang-barang yang sebenarnya nggak begitu saya butuhkan. Apalagi hal ini juga didukung oleh asupan uang jajan tambahan karena sempat menjadi asisten praktikum, sehingga merasa udah punya penghasilan sendiri dan bisa semakin banyak "jajan". Apa-apa mau dibeli. Entah itu sebulan kalau beli kerudung bisa berlusin-lusin dengan warna yang sebenarnya nggak begitu berbeda, sepatu dan kaos kaki yang modelnya agak mirip-mirip―yang sekilas orang juga sebenarnya bakal susah ngebedainnya, berbagai macam model tas dari yang shoulderbag, slingbag, handbag, dan yang lain sebagainya, sampai kaos yang warna dan modelnya sebenarnya nggak begitu jauh berbeda kayak yang satunya garis-garis vertikal sedangkan yang satunya lagi garis-garis horizontal. Dan kalau diingat-ingat lagi, saya justru ngerasa kayak hidup saya kok berasa mubazir banget, ya. Mungkin kalau dulu uang buat ngebeli hal-hal itu dikumpulin, saya udah bisa beli bergram-gram emas, deh. Atau bahkan sampai ratusan gram, ya?

Apalagi kan waktu itu udah mulai terkenal tuh yang namanya belanja online. Yang biasanya banyak promo plus ditambahin iming-iming free ongkir. Belanja sambil tiduran pun kita udah bakal dapetin banyak barang yang lucu-lucu dan murah-murah, atau kalaupun mahal pun biasanya udah banyak promonya. Kayak waktu itu saya pernah ditawari ikutan beli sepatu lari yang katanya kalau beli dua gratis satu, jadi kalau tiga orang beli ya harganya jadi lebih murah karena harga dua sepatu bakal dibagi tiga. Dan anehnya saya mau, padahal saya itu nggak pernah olahraga lari. Tapi saya mau karena tertarik sama promo dan desain sepatunya yang bagus. Terus sewaktu sudah kerja juga teman saya nawarin saya buat ikutan beli tas karena ada promo beli dua shoulderbag bakal dapet dua walkerbag, dan saya mau juga. Dan akhirnya karena kerakusan saya itu, sepatu larinya sekarang cuma nangkring cantik di rak sepatu karena sayanya nggak pernah olahraga lari, dan entah kenapa sepatu lari juga bagi saya agak aneh kalau sekedar dipakai jalan-jalan. Begitu juga dengan tasnya yang akhirnya justru saya kasihin ke adik saya yang laki-laki.

Dan singkat cerita di masa-masa kuliah itu, seiring dengan berjalannya waktu entah kenapa lama-lama saya jadi mulai merasa risih dan agak nggak enakan kalau pakai kerudung yang tipis-tipis atau pendek-pendek gitu. Kan bahan paris itu kalau dipakai sebenarnya agak nerawang gitu kan ya, makanya kalau dipakai jadi pendek-pendek karena harus dilipat banyak-banyak biar bahannya jadi kedobel-dobel. Dan sewaktu saya mulai risih begitu, saya jadi suka pakai kerudungnya didobel-dobel. Jadi warna apapun saya dobelin pake kerudung yang warnanya gelap dulu baru dilipet buat dipakai biar kerudungnya bisa lebih panjang dan lebar, dan itu benar-benar memakan waktu yang nggak sebentar. Saya jadi sering terlambat kuliah karena kesusahan memakai kerudung yang didobel-dobel begitu. Dan karena sering kesusahan begitu, akhirnya di bulan berikutnya pun saya memutuskan untuk membeli kerudung yang lebih panjang dan lebih tebal. Namun karena harganya yang tidak murah dan saya juga sudah tidak jadi asisten praktikum lagi, jadinya waktu itu saya hanya membeli tiga warna saja―hitam, navy dan cokelat, yang sekiranya bisa dipasangkan dengan pakaian warna apapun.

Di sini sih sebenarnya awal mula adanya titik balik dalam hidup saya. Karena terlalu nyaman dengan ketiga warna yang ternyata bisa dipasangkan dengan berbagai macam warna pakaian, akhirnya saya kalau beli baju juga warnanya jadi seputaran ketiga warna tadi. Dan karena warna-warna itu juga netral, jadinya saya udah nggak banyak beli baju-baju baru yang jadinya ngebuat saya pakai bajunya ya seputaran warna dan model yang itu-itu saja. Apalagi sewaktu saya lagi beberes pakaian karena mau pindah kosan, ngeliat banyak kerudung paris bertumpuk-tumpuk begitu malah jadi bikin saya engap. Sebanyak itu ternyata sekarang jadi nggak ada satupun lagi yang saya pakai. Dan perubahan ini juga didukung oleh komentar seorang teman saya, sih. Jadi sewaktu lagi mau pindahan gitu saya sempat cerita kalau ternyata saya punya banyak sepatu, dan teman saya malah bilang begini, "Masa sih? Kok kayaknya aku lihatnya kamu pakai sepatu yang itu-itu aja?" Yang hal itu justru sukses membuat saya berpikir, kalau selama ini saya cuma lapar mata. Jadi suka ngebelinya, tapi nggak begitu suka makenya. Cuma jadi koleksi semata, dan membuat saya jadi kepikiran sama istilah manusia kekinian.

Kan sering tuh kita lihat banyak remaja atau mahmud-pahmud, bahkan sampai para bapak-ibu yang eksis di IG, entah yang pakaiannya syar'i atau tidak. Sukanya nampang di beranda IG dengan pakaian, kerudung, tas, sepatu, jam tangan, atau barang-barang lainnya yang kebanyakan adalah hasil dari endorse-an suatu produk tertentu. Padahal terkadang wajahnya nggak begitu kelihatan, tapi entah kenapa aura cantik atau gantengnya itu bisa jadi ujian buat kaum-kaum jomblo. Terutama ujian yang bisa mengguncang isi dompet, hehe. Soalnya ngelihat barang-barang itu dipakai sama mereka kitanya jadi mikir, "Ih kok bagus, ya? Kalau kalau aku beli dan pakai kayak gitu, aku juga bisa jadi keren kayak mereka kali, ya?" Yang intinya jadi menaruh harapan agar bisa terlihat keren kalau pakai barang yang sama, dan akhirnya malah membuat kita jadi khilaf pengen "jajan" terus. Atau terkadang juga jadi lapar mata karena ngelihat barang branded atau barang-barang lain yang kelihatan keren dan kitanya kayak nggak mau kalah aja gitu sama model barang yang lagi in saat ituPadahal di rumah ada banyak barang serupa yang malah nggak sempet dipakai karena saking banyaknya model yang kita punya. Dan parahnya, banyak orang yang terjerat akan hal ini meskipun tahu kalau hidup kayak gini tuh sebenarnya capek dan mubazir. Buktinya? Lihat ke diri sendiri aja :)

Dan hidup dengan cara seperti ini juga sebenarnya menurut saya itu nggak sehat. Karena lapar mata, akhirnya kita jadi sering ngebelanjain barang-barang yang ujung-ujungnya cuma disimpen di lemari atau tempat-tempat lain yang malah bikin barang-barang itu jadi usang dan rusak dengan sendirinya, padahal nggak pernah dipakai. Udah gitu karena saking banyaknya barang yang kita punya, ngerawatnya pun jadi susah. Coba deh diperhatiin, satu-dua barang yang jarang dipakai pasti lebih gampang rusaknya, karena kita nggak memperlakukan mereka dengan hati-hati―karena punya perasaan kalau kita masih punya banyak barang lainnya yang serupa kegunaannya. Dan diakhir-akhir baru sadar kalau ternyata udah banyak menghambur-hamburkan uang yang sebenarnya uangnya tuh bisa dialihfungsikan ke hal-hal yang lain, kayak misalnya infaq-shodaqoh-zakat yang justru memberikan pahala yang kalau dibandingkan dengan nambah-nambah dosa karena udah menghambur-hamburkan uang itu pastinya jauh lebih baik. Atau mungkin bisa dipakai travelling ke berbagai tempat yang justru memorable, berkesan gitu. Pokoknya melakukan hal-hal lain yang lebih ada manfaatnya.

Soalnya kerasa banget sewaktu pindahan dan jadinya bingung kerudung-kerudung lama itu mau diapain. Dan adik kelas saya bilang kalau dikasihin ke orang lain takut dosa karena ngasihin kerudung tipis dan pendek, disaat seharusnya mulai mengajarkan ke orang lain buat membiasakan diri memakai kerudung yang tebal dan lebar. Apalagi soal tas kembaran berempat yang dibeli gara-gara ngeburu bonus walkerbag itu, karena model yang saya suka cuma satu dan ternyata itu juga disukain sama dua orang teman saya yang lainnya, jadinya kita bertiga pun punya tas dengan model yang sama tapi warnanya aja yang beda. Dan karena teman kantor saya bilang kalau kami berempat―sama satu orang yang punya model tas beda tapi masih dengan merk yang sama―itu kayak lagi di-endorse sama produsen tas, terus salah seorang kakak tingkat juga bilang kalau kami bertiga kayak anak panti asuhan yang lagi diajak jalan-jalan sama beliau karena punya tas yang sama sewaktu lagi perjalanan Jakarta-Depok-Bandung, saya pun jadi agak jarang pakai tas itu karena ngerasa ada sedikit rasa nggak enak-nggak enaknya gitu. Soalnya waktu itu, genre saya memang yang berbeda sendiri.

Tapi Alhamdulillahnya secara kebetulan adik saya yang laki-laki itu lagi butuh tas juga, sih. Jadinya tas kembaran itu pun akhirnya dihibahkan ke adik saya biar nggak terbengkalai lagi. Dan sewaktu saya ngirimin tas itu ke Bandung, disitu ingatan saya langsung terbang ke hari pas saya beli barang itu. Iya, saya jadi dihantui perasaan bersalah. Perasaan bersalah karena banyak hal. Perasaan yang sama kayak yang saya rasakan sewaktu melihat tumpukan kerudung berbahan paris itu dulu. Perasaan yang mungkin setelahnya justru membuat saya memutuskan untuk menerapkan konsep hidup minimalis.

Yapp. Jadi sekarang tuh saya lagi (berusaha) mencoba untuk tidak membeli apa-apa sebelum barang yang saya punya dan saya pakai itu benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi, atau habis. Sudah berjalan hampir setahun saya menerapkan konsep hidup seperti ini. Dan saat ini saya juga sedang menerapkan konsep one-in-one-out yang saya tiru dari seorang selebgram ibu-ibu muda, yang maksudnya adalah kalau habis beli barang baru ya barang lamanya harus dikeluarin. Jadi misalnya saya habis beli baju baru, berarti setelahnya saya juga harus mengeluarkan baju lama saya, entah baju itu jadinya disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan atau menjadi baju lungsuran untuk adik-adik saya. Pokoknya jangan sampai bajunya malah jadi tidak terpakai atau justru terbuang. Dan bagi saya hal ini justru membuat perasaan saya menjadi jauh lebih tenang.

Apalagi saya pernah dengar juga, kelak di akhirat nanti kita akan ditanya tentang apa-apa yang kita miliki di dunia, termasuk soal harta kita tuh sudah digunakan dan dibelanjakan untuk apa saja. Dan saya selalu terharu dan malu sendiri kalau ingat sirah obrolan Rasulullah dengan shahabat yang mempertanyakan kehidupan Rasulullah yang sederhana banget. Hiks, Masya Allah... Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang lebih fokus ke penampilan tapi melupakan soal hati kita, ya.

So, semangat teman-teman! Semangat untuk men-istiqomah-kan konsep hidup yang lebih baik.
Dan semangat buat kamu juga, Nan :"



Jakarta, 25 Juni 2018
Read More
Published Minggu, Juni 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Patah

Seringnya, kau bertanya-tanya kepada Allah mengapa Allah berikan kau rasa cinta kepada orang yang salah? Mengapa kau tidak langsung Allah pertemukan dan Allah berikan rasa cinta kepada orang yang sudah jelas-jelas tertulis sebagai pendamping hidupmu? Why, Allah? Why?
Pertanyaan ini sering sekali kau tanyakan ketika berusaha berbincang dengan-Nya, di saat hatimu sedang sakit-sakitnya, di saat dirimu sedang terluka sangat parah oleh orang yang sempat kau cintai tetapi ia ternyata lebih memilih melukaimu dengan meninggalkanmu.
Jawaban dari pertanyaanmu di atas mungkin sangat sederhana;

"Karena Allah ingin mengajarkan kepadamu bahwa tidak semua hal yang kau cintai itu selalu baik untukmu."

Thats why.

Tapi Allah, mengapa sakit sekali rasanya cara-Mu mengajarkanku saat aku pada akhirnya mengetahui bahwa yang aku cintai ini tidak baik untukku?

My dear, kenapa terasa sakit? Karena sebenarnya apa yang Allah ajarkan kepadamu itu tidak hanya sebatas itu. Dari kejadian itu kau belajar bagaimana caranya melepaskan, bagaimana caranya mengontrol rasa cinta yang belum pada tempatnya, bagaimana kau belajar untuk bisa berdiri tegak dengan anggun di situasi yang sulit, belajar untuk memaafkannya, belajar untuk melepaskan seseorang yang sangat beracun bagi kehidupanmu selanjutnya...
Belajar untuk percaya. Percaya kepada dirimu sendiri, percaya agar tidak menyalahkan diri dan lebih mencintai dirimu sendiri dan belajar untuk lebih percaya kepada-Nya bahwa apa yang Allah berikan kepadamu adalah jalan yang paling baik meskipun terasa sulit.
Belajar untuk terus percaya, bahwa diantara banyak wanita lainnya, Allah memilihmu untuk melalui proses berat ini. Karena Allah ingin kau menjadi berlian. Allah tahu kau sanggup menjadi berlian.

Itulah sebabnya mengapa Allah memilihmu, my dear. 

Situasinya adalah jika kau mengalami rasa sakit akibat hati yang patah atau masalah yang tak kunjung usai, hati yang sulit menerima, lalu kemudian berakhir membuat hatimu terasa kosong, terasa hampa...
Itu adalah tanda sebenarnya bahwa Allah sengaja ingin kau mengosongkan hatimu menjadi kosong sekosong-kosongnya. Untuk menghilangkan rasa cintamu yang berlebihan kepada manusia, harapanmu yang terlalu dalam kepada orang lain, semua hal-hal yang kau tuhankan Allah habisi sampai tak bersisa.
Sehingga kemudian kau pada akhirnya tanpa sadar bergerak mengisi hatiamu yang kosong itu dengan mencari cintanya Allah.

"Mengapa hal tersebut sering terjadi menimpamu?"

Karena Allah sedang menjaga hatimu, membersihkannya dari hal-hal yang tidak baik. Karena Ia terlalu cemburu melihatmu lebih mencintai orang lain ketimbang diri-Nya.
Allah ingin kau memberikan cintamu, impianmu, harapanmu hanya kepada-Nya bukan kepadanya.

Karena yang sanggup mengabulkan segala keinginanmu itu diri-Nya bukan dirinya.

- Nadhira Arini
ditulis tepat dua bulan yang lalu, pada tanggal dan jam yang sama.
Read More
Published Jumat, Juni 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mie Goreng

Ceritanya tadi habis masak mie goreng setelah sekian lama udah nggak pernah masak dan makan mie. Terus sewaktu lagi masak, aku jadi keingat sama masa-masa sewaktu masih kuliah. Iya, waktu makrab pertama kali bareng teman-teman sekelas.

Jadi sewaktu awal-awal masuk kuliah itu aku jarang banget masak dan makan mie karena emang nggak ada tempat masaknya. Sebenarnya ada dapur di setiap lantai asrama, tapi rasanya tuh males masak di sana karena tempatnya yang dekat dengan ruang tv, dan biasanya di sana bakal rame baget sama anak-anak asrama yang lain. Jadi aku males ketemu banyak orang gitu *lah ansos. Dan ya jadinya pengalaman pertama masak mie di Bandung itu ya semasa makrab itu.

Sebenarnya aku lupa gimana kejadian pastinya, tapi sekilas yang aku ingat itu, entah kenapa tiba-tiba temanku minta tolong dimasakin mie dan kebetulannya yang lagi berdiri di depan kompor itu aku. Dan aku mau dimintain tolong begitu. Nggak tau juga apa alasannya kenapa aku mau padahal kami itu bukan teman deket meskipun sering main bareng, tapi intinya aku mau. Dan keadaan kami yang nggak deket itu malah bikin aku jadi hati-hati banget sewaktu masak mie itu. Dari yang awalnya aku kalau masak mie asal jadi, waktu itu jadi benar-benar serius dan ditungguin, sampai pakai diukur benar-benar tingkat kematangannya segala. Dan singkat cerita, sewaktu mie gorengnya itu udah jadi dia langsung bilang terima kasih tapi ditambahin kalimat yang mengatakan kalau masakan aku itu enak karena dibuat pakai cinta *halah* yang bikin seisi dapur ketawa.

Tapi dari situ aku belajar sih, yang ternyata malah kebawa-bawa sampai sekarang. Tentang sesuatu yang sekecil apapun itu atau meskipun sebenarnya biasa aja dan tidak berarti apa-apa itu sebaiknya tetap harus kita beri apresiasi. Karena rasanya diberi apresiasi begitu tuh aku seneng, walaupun aku tahu sebenarnya mie goreng instan ya rasanya begitu-begitu aja, standard. Dan juga tentang hal-hal yang sederhana, yang kayaknya nggak ada spesial-spesialnya sewaktu dulu ternyata bisa bikin kangen kalau udah berlalu.

Duh, aku jadi kangen temen-temen kuliah kan... hiks.
Read More
Published Jumat, Juni 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mengelola Hati

Rupanya sampai hari ini aku masih harus berada di Purwokerto. Tapi Ummi sama Abi lagi di Jakarta, dan rasanya aku kayak lagi jadi single parent. Sendirian ngurusin tiga orang anak yang memiliki kepribadian dan kebiasaan yang berbeda-beda, maunya ini-itu yang tentunya berbeda juga ternyata jadi tantangan tersendiri buat aku. Udah pada gede, tapi masih lebih sering manja dan banyak permintaannya. Ditambah aku lagi kedatangan tamu yang rupanya kali ini lebih butuh 'perhatian' lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi dari itu aku jadi belajar kalau sebenarnya sifat sensitif akibat dari kedatangan tamu bulanan itu sebenarnya bisa diatur sendiri dan dikelola dengan baik. Tergantung bagaimana kita (berusaha) membentuk suasana hati. Yang berartinya juga setiap orang itu bisa mengelola sendiri suasana hatinya masing-masing tanpa harus bergantung dengan kondisi yang ada.

Buktinya walaupun kemarin lagi repot-repotnya dan ngurusin adik-adik yang banyak permintaannya, ditambah rasa kesensitifan dari si tamu yang luar biasa itu sama sekali nggak bikin aku jadi dikit-dikit marah dan mudah tersinggung. Malah kayaknya sewaktu lagi puncak-puncaknya, suasana hati tuh kayak lagi bersahabat dan gampang diaturnya. Atau karena memang udah jadi kebiasaan kali, ya? Karena akhir-akhir ini aku juga udah jadi males marah-marah atau ngambek-ngambekan. Rasanya kayak hal-hal yang begituan tuh malah justru bikin aku jadi makin tambah tua *lah. Tapi kalau memang alasannya karena sudah terbiasa nggak marah-marah lagi, berarti sebenarnya sesuatu yang buruk itu bisa dialihkan ke yang baik-baik asalkan kitanya mau (berusaha) membiasakan yang baik-baik itu. Cuma masalahnya terkadang kita terlalu asik dengan tameng kalimat, "mungkin karena dulu aku tuh diginiin makanya waktu gede jadi gini-gitu", ya toh? Yang intinya itu menyalahkan kejadian masa lalu dan menjadikannya sebuah alasan untuk membenarkan setiap kejadian dan perilaku buruk yang ada di diri kita. Astaghfirullah... Ini jadi catatan tersendiri buat diri aku juga, sih.

Tapi intinya dari tulisan ini tuh sebenarnya hal-hal yang terjadi beberapa hari ini rupanya jadi mengantarkan aku ke pemikiran gimana selama ini Ummi dan Abi―terutama Ummi―yang ngurusin empat anak sekaligus. Tanpa keluhan. Tanpa minta dibalas. Tanpa minta dibayar. Semuanya dilakukan sepenuh hati semata-mata hanya karena kasih sayang mereka berdua kepada kami―anak-anaknya―yang terkadang suka lupa dan nggak tahu diri. Masya Allah. Meskipun ucapan terima kasih aja tentunya belum cukup, tapi tetap terima kasih ya Mi, Bi. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk kalian berdua, yang tentunya juga disertai dengan kebahagiaan dunia-akhirat :"
Read More
Published Selasa, Juni 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mengakhiri Untuk Memulai

"Karena mencintai berarti rela untuk melepaskan." ― Seseorang
*

Hari ini Purwokerto lagi panas-panasnya. Tanaman di depan rumah pun jadi kelihatan agak layu karena lima hari kemarin tidak pernah disiram.

Mungkin suasana lebaran hari ini masih sedikit terasa. Sebulan penuh berpuasa rasanya seperti berlalu begitu saja. Semoganya sih tidak sia-sia, tapi aku masih merasa seperti kurang memanfaatkan waktu yang ada. Ah, rasanya seperti ingin mengulang waktu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Namun kalau mau menilas balik, aku jadi ingat sewaktu hari pertama lebaran beberapa hari yang lalu.

Lebaran kan bagi sebagian besar orang identik dengan maaf-maafannya kan, ya. Kalau tahun-tahun sebelumnya, biasanya aku bakal mengirimi pesan permintaan maaf ke sebagian kontak yang ada di ponselku satu persatu. Mau itu perempuan atau laki-laki, pokoknya semuanya aku kirimi pesan. Tapi kalau tahun ini, aku cuma mengirim pesan ke beberapa teman perempuan. Itupun terbatas hanya pada teman-teman yang memang sehari-harinya sering berkomunikasi denganku. Sisanya cuma aku ucapkan via grup-grup atau via sosmed aja.

Bukan apa-apa. Kalau misalnya aku mengirim pesan ke semua kontak yang ada di ponsel, akunya takut ponselku bakalan ngehang karena saking banyaknya. Lagian, kalau misalnya aku punya ponsel yang tahan banting, kan jadinya waktunya banyak terbuang buat saling berbalas pesan kan, ya? Padahal aku lagi kumpul bareng keluarga besar, yang kira-kira cuma bisa ketemu tuh setahun sekali aja. Lah yang utama malah keluarga yang lagi kumpul itu toh, bukan teman dunia maya kita? Makanya tahun ini aku nggak begitu banyak ngelihat ponsel, cukup berbalas pesan sama beberapa orang aja. Itupun jedanya agak lama.

Aku belajar dari seorang teman juga, sih. Jadi sewaktu lebaran beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengirimi salah satu temanku yang laki-laki sebuah pesan maaf-maafan yang sampai sekarang tidak pernah dibalas. Kesal? Pasti. Padahal dia update di sana-sini, eh tapinya malahan tidak membalas pesan aku. Padahal dia itu termasuk teman dekatku dulu, meskipun semakin ke sini memang semakin dijauhkan. Aku jadi ngerasa kayak nggak dianggap gitu, dan juga menganggap temanku itu sombong, lupa sama teman lama. Dan jadi ngerasa aneh juga sih, karena dulunya dekat tapi sekarang malah jadi kayak stranger gitu. Dibilang musuh bukan, tapi dibilang teman atau sekedar kenal juga kayaknya kurang pas.

Tapi beberapa hari belakangan ini aku mulai tahu sih apa penyebabnya. Rupanya dia memang sengaja nggak ngebalas pesan aku karena memang pengen menjaga hati. Lah memangnya dia suka sama aku? Ya enggak juga. Kalau tidak salah dari apa yang dia tulis di sosmednya sih, dia cuma pengen lebih berhati-hati aja dalam bergaul. Dia takut zina. Lah iya, aku baru ingat kalau zina itu bukan cuma soal fisik, tapi juga hati, pandangan, sama pikiran. Terus setan kan juga punya banyak cara buat menjerumuskan manusia kan, ya? Dan katanya juga, semua pesan dari perempuan yang masuk ke ponselnya tapi nggak penting-penting banget, langsung aja dia hapus gitu aja tanpa sempat dia baca. Kalau yang soal maaf-maafan, dia maafin aja gitu dalam hati tanpa harus ngebales pesannya. Makanya aku langsung menyimpulkan, oh iya berarti aku juga termasuk ke perempuan-perempuan itu kali, ya?

Terus aku juga jadi ingat sama kalimat Ummi sewaktu aku lagi mainan ponsel sambil lihat-lihat video kpop sehabis sholat dan baca qur'an. Katanya, "lah, baru baca qur'an kok langsung khilaf? Emangnya udah ngerasa amalannya cukup buat nonton-nonton video kayak begituan?" Dan kalau dulu sih, setiap digituin sama Ummi aku bakal cuma merengut-merengut aja sambil tetep nonton-nonton video kpop. Tapi kalau sekarang udah enggak. Iya lah, orang akunya juga udah jarang nonton video kpopnya hehe. Bukan itu ding intinya. Maksudnya, kalau sekarang aku jadi lebih mikir, iya ya, emangnya amalan aku udah cukup, makanya aku jadi sombong dan tidak berhati-hati dalam bertindak? Malahan membuang-buang waktu sama hal yang sia-sia begitu.

Dan nggak tahu sih bisa disambungin apa enggak, tapi aku jadi kepikiran soal temanku itu. Terus juga jadi mikir, jangan-jangan kalau aku pas lebaran jadi saling berkirim pesan ke teman-teman laki-laki, yang pastinya beberapa bakal jadi ditambahin kata 'wkwk' dan 'haha' atau saling bertanya satu-dua hal untuk basa-basi, amalan yang aku lakuin di bulan Ramadhan kemarin jadi sia-sia? Kan kita nggak pernah tahu ya, amalan yang kita lakuin itu dihitungnya berapa, dan dosa yang kita lakuin juga dihitungnya berapa. Maksudnya misal kayak tau-tau amalan sholat sebulan penuh itu ternyata cuma bisa buat ngehilangin dosa interaksi sama lawan jenis lewat chat. Nah, kalau misalnya benar begitu, berarti amalan kita langsung habis gitu aja dong? Karena yang tahu perhitungan amalan dan dosa hanya Allah semata, makanya berarti kita justru harus lebih berhati-hati kan, ya?

Terus aku juga jadi mikir, kok aku banyak mikirnya ya? wkwk. Bukan ding. Aku jadi mikir lagi, mungkin udah saatnya kali ya aku harus mengakhiri sesuatu untuk memulai? Maksudnya kayak aku kan punya banyak teman lawan jenis, yang mungkin kalau aku upload story bakalan ada yang komen, atau aku sendiri malahan yang komen-komen ke story mereka. Ya mungkin awal-awal bakalan dianggap sombong, kayak sewaktu aku balas pesan temanku singkat-singkat dan malahan kadang-kadang sengaja nggak dibalas. Terus waktu ketemu dia bilang gini, "sombong banget kalau ketemu padahal pegang hp terus, tapi kalau di chat lama banget balesnya." Tapi waktu dibilang gitu aku cuma senyam-senyum aja karena bingung mau jawab apa, masa iya aku bilang kalau aku lagi menjaga hati? Lah nanti makin panjang pembahasannya biar dianya nggak salah paham, padahal kan aku lagi nggak pengen ngobrol lama-lama sama dia berduaan.

Tapi maksudnya ya itu, mungkin udah seharusnya aku itu mulai mengakhiri sesuatu yang sekiranya hanya membawa mudhorot buat diri aku sendiri. Kayak chat sama lawan jenis ngobrolin hal-hal yang nggak penting, menghabiskan waktu cuma buat nonton film-film gitu, atau yang lainnya. Jadi mengakhiri untuk memulai sesuatu yang baru. Mungkin kayak memulai untuk banyak-banyak belajar ilmu agama? Atau mulai untuk mempersiapkan bekal kalau-kalau nanti ketemu jodohnya? Ya, jodoh bisa berupa kematian atau manusia. Tapi intinya begitu. Mengakhiri yang tidak baik, untuk memulai yang baik-baik. Mungkin kalau buat aku mengakhiri begitu saja masih terlalu ekstrim ya, tapi setidaknya tetap harus berusaha untuk memulai secara bertahap, kan?

Dan aku juga tahu kok, mengakhiri sesuatu dengan orang yang selama ini cukup dekat dengan kita itu agak sedikit susah. Kayak misalnya punya teman lawan jenis dari sd, terus tiba-tiba kayak harus diakhiri begitu saja, padahal nggak ada masalah apa-apa. Dari yang biasanya tiap dia atau kita update sesuatu di sosmed kitanya saling komen-komen cekikikan nggak jelas, sekarang harus ditahan-tahan. Dari yang biasanya diajakin main kumpul-kumpul nggak jelas sampai malam kitanya hayuk-hayuk aja, sekarang harus cari-cari alasan untuk menolak tanpa menyinggung. Tapi walaupun susah, bukan berarti nggak mungkin kan, ya? Dan semua perubahan itu bagiku butuh proses, nggak bisa dadakan, makanya harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Harus dilatih dengan waktu yang nggak sebentar.

Dan karena mencintai berarti harus rela melepaskan, lalu kita juga mencintai teman kita itu karena Allah sehingga nggak mau mereka justru terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik, berarti kita juga harus rela untuk melepaskan segala apa yang justru membuat mereka semakin terjerumus ke situ kan?



Oh iya ada satu tulisan yang pengen aku share. Jadi waktu aku lagi buka-buka fb sebentar, tiba-tiba nemu status fb yang ditulis sama budeku. Dan pas aku baca, aku langsung mikir, lah kok agak sejalur sama yang lagi aku pikirin? Kok sesuai sama apa yang lagi aku alamin? Jadinya aku tulis ulang di sini. Tapi tulisan itu juga di repost sama bude dari sumber yang kayaknya lupa ditulis sama bude, soalnya di bawahnya cuma dikasih keterangan kalau status itu tuh copas, tapi nggak ada keterangan sumber aslinya. Ya kurang lebih kayak gini tulisannya.

Untuk para suami...

Ketika istrimu begitu menjaga kehormatannya di rumah, maka jaga pulalah kehormatanmu sendiri diluar sana. Wanita berbeda banget sama pria. Jangan kaget hanya dengan anggukan kepalamu saja, akan ada wanita lain yang merasa diperlakukan dengan istimewa. Jangan kaget meski niatmu sekedar membantu saja, tapi yang dibantu malah jadi diam-diam menyimpan cinta. Bahkan yang sekedar lewat aja, bisa diartikan lain sama wanita.

Serba salah memang, tapi selama ada sang istri kenapa tidak kau pindahkan segala urusan beramah tamah dengan wanita ke pundak istrimu? Agar Izzah lelakimu tak tergadai dengan 1000 fitnah wanita. Agar sejuta kebaikan dan kehangatanmu hanya bisa dinikmati keluargamu saja.

Kadang di otak logikamu mungkin terbersit, "ah cuma begini aja masa bikin fitnah?" Tapi percayalah, hati wanita penuh kejutan-kejutan khayalan romantis yang bisa kapan aja dibumbui syaithon-syaithon agar semakin dalam perasaan yang awalnya hanya selewat aja. Maka jangan marahi para istri-istri yang cemburu karena mereka tahu apa yang mereka sedang hadapi. Ketika sebuah perasaan ngga berdaya dipaksa menghadang serbuan perasaan menggebu-gebu yang belum halal. Bagai prajurit yang mendadak siaga ketika mendengar kebaikan suami dibicarakan wanita lain.
Maka berterimakasih lah pada setiap kecemburuan istrimu, karena kecemburuan merekalah yang akan membantu menjaga lurus jalanmu. 
Ada hati yang musti engkau jaga.

Eh tapi bukan soal suami-istrinya ya, tapi lebih ke bagian kalau apa yang dilakuin oleh laki-laki meskipun sedikit ternyata bisa menimbulkan benih-benih cinta di hati perempuan. Meskipun yang laki-lakinya ngerasanya ya biasa aja.

Tapi aku bilang begini pun bukan berarti aku sudah sepenuhnya menjalankannya. Namanya manusia, namanya Hannan, masih banyak khilafnya. Masih lagi berproses dan masih belajar. Tapi setidaknya hal-hal yang begini mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran juga. Terutama buat aku tentunya. Dan maaf jika ada salah-salah kata atau kalimat yang kurang mengenakkan. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, dan kalau ada kesalahan tentu datangnya dari diri aku sendiri. Tapi kalau ada hal-hal yang sekiranya salah dari apa yang aku tulis di atas, mohon koreksinya, ya. Aku masih lagi belajar :"



Btw empal gentong sama sup kimlo buatan Ummi enak, bikin aku jadi bolak-balik ke dapur. Duh, sepertinya jarum di timbangan bakalan mulai jalan ke kanan lagi setelah beberapa bulan belakangan ini jalannya ke kiri terus.
#enggaknyambungemang
#tapigapapadeh
#pengencurhatajagara2beratbadannyamulainaik
Read More
Published Selasa, Juni 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Hari Bahagia Untuk Mbah Put

Stasiun Cirebon

Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Perasaan baru kemarin aku nunggu-nunggu hari libur, eh sekarang udah mau masuk kerja aja. Kayak ada rasa nggak rela-nggak relanya gitu, masih pengen lama-lama di rumah. Rasanya di Jakarta tuh kayak nggak betah, nggak ada asik-asiknya. Tapi masih ada orang lain yang justru berharap bisa dapat kerjaan―meskipun itu di Jakarta―jadi aku tetap harus bersyukur, kan?

Tapi kadang kalau lagi galau begini aku tuh jadi keinget banyak hal. Kayak tiba-tiba dikerubung sama segerombolan rindu gitu. Salah satunya ya soal mudik lebaran ke Cirebon kemarin, yang padahal mah baru aja berlalu sehari doang. Tapi rasanya emang kayak pengen bisa mengulang waktu, pengen balik ke Cirebon lagi, pengen ngerasain euforia lebaran di sana lagi. Tapi butuh waktu satu tahun untuk merasakan hal itu, itu pun kalau memang masih diberi umur sampai tahun depan. Makanya rasanya kayak rindu banget.

Soalnya kebetulan keluarga Abi itu termasuk keluarga besar. Anaknya mbah put ada 8 orang, yang Alhamdulillahnya masing-masing punya anak lagi yang lumayan banyak-banyak. Makanya kalau lagi kumpul tuh pasti rame, nggak pernah sepi. Apalagi mereka semua Alhamdulillahnya juga kompak dan suka mudikan, alias sukanya nengokin mbah put jadi bikin anak-anaknya juga paling suka ya liburan ke Cirebon ini. Rasanya tuh kayak pengennya ketemu sama mbah put terus. Apalagi mbah put ini orangnya energik banget, nggak pernah bisa diem. Dan masakan mbah put sama bude lies (anak pertama mbah put yang tinggalnya serumah sama beliau) juga menurutku paling enak diantara masakan yang pernah aku makan selama ini. Bahkan dulu pernah ada tamu yang menawari modal ke mereka berdua lho biar mbah put sama bude lies mau bikin restoran gitu saking enaknya masakannya ini. Tapi karena mereka ngerasa udah semakin tua, ya jadinya ditolak secara halus deh tawaran itu.

Rajungan
Tapi selain karena masakannya enak, mbah put sama bude lies ini juga jago bikin masakan yang macem-macem. Kayak kemarin aja, padahal aku tuh di Cirebon cuma nginep 4 hari 3 malem, tapi aku udah ngerasain banyak makanan. Dari sop iga, blekutak, steamboat kuah tom yum, nasi uduk ayam penyetan, opor ayam, sambel goreng daging, empal gentong, rawon, ceker setan, sampai pepes telur kepiting. Itu aku baru nyebutin makanan utamanya, belum sama makanan pendamping kayak tempe yang nggak tau diapain tapi rasanya enak dan menu-menu lainnya. Bahkan sewaktu aku baru sampai Purwokerto, tiba-tiba bude lies ngirimin foto rajungan yang baru selesai dikukus. Agak sedih sih, soalnya biasanya dari tahun ke tahun kalau lebaran aku pasti makan rajungan sama kerang ijo, tapi kali ini malah nggak kesampaian karena harus buru-buru pulang ke Purwokerto :( Btw rajungan ini rasanya enak banget loh, apalagi kalau kedapatan rajungan yang perempuan dan ada telurnya yang menempel di cangkangnya. Masya Allah, jadi ngiler saya...

Dan itu kan baru makanannya loh, belum dessert-nya. Kalau lebaran kemarin tuh mbah put nyediain es yogurt―es lilin yang paling dicari kalau ke Cirebon―yang nggak tanggung-tanggung biasanya di freezer tuh bisa sampai ada 5-6 bungkus (1 bungkus isinya 30 buah), es buah, es cincau, es krim 16 liter, salad buah, sama puding buah. Pokoknya kalau mudik lebaran ke Cirebon itu rasanya mirip-mirip sama mudik ke restoran all you can eat. Rasanya makanannya kayak nggak habis-habis dan bermacam-macam, terus bisa diambil sepuas-puasnya. Malahan kalau kelihatan cuma duduk-duduk di depan tv sambil mainan hp pasti mbah put bakal bilang gini, "Mba Hannan, itu ada es buah di kulkas seger diambil gih." atau "Mba, itu tadi mbah nyoba bikin makanan XX cobain dulu mumpung masih anget." Pokoknya bakal ditawarin makan terus. Aku aja, sehari bisa makan sampai lima kali, ditambah ngemilnya yang nggak kehitung banyaknya hehehehe.

Terus selain soal makanan, hal lain yang aku kangenin dari suasana lebaran di Cirebon itu ya soal kumpul-kumpulnya. Kalau zaman dulu sewaktu sebagian anak-anaknya mbah put masih jadi perantau, di rumah mbah put itu kalau malam dari ruang tamu sampai dapur itu pasti bakal banyak kasur yang terbentang―yang isinya orang-orang yang tidurnya berjejer kayak ikan pindang. Pokoknya penuh, sampai kalau mau jalan dari ruang tamu ke dapur aja harus jinjit-jinjit dulu karena takut nginjek badan orang yang lagi tidur. Biasanya kalau pas gini aku tuh kebagian tidur di ruang tamu bareng yang remaja perempuan, atau di tempat sholat bareng ummi. Dan tidurnya pakai jilbab gitu karena kan nggak semua sodara itu marhom kita kan, ya? Makanya kadang ngerasa agak risih juga, sih.

Tapi sekarang karena udah banyak yang beli rumah dan menetap di Cirebon, alhasil formasi tidurnya pun berubah. Jadi agak kebagi-bagi itu. Apalagi rumah mbah put sekarang udah ditingkat, jadinya remaja-remaja laki-laki itu tidurnya pada di lantai dua―tapi dengan posisinya yang sama, masih berjejer-jejer kayak ikan pindang hihi. Sedangkan yang perempuannya di kamar, sekeluarga masing-masing gitu. Dan beberapa juga ada yang diungsikan ke rumah sodara yang lain. Sebenarnya bisa aja sih kalau semuanya nginep di rumah mbah put, tapi orang sebanyak itu kalau ngumpul di situ semua, pas pagi-pagi mau sholat ied tuh ngantrinya jadi panjang banget :( Walaupun kadang suasana rebutan kamar mandi yang cuma ada 2 sedangkan orangnya ada 41 itu bikin kangen, tapi kalau pas ngerasainnya tuh rasanya kayak pengen teriak saking gemesnya. Yang laki-laki tuh suka banget mengintimidasi yang perempuan, jago banget ngebohong dan nyalip-nyalip antriannya...

Nah, lanjut. Kalau seperempat dari jumlah orangnya udah ada yang siap berangkat ke alun-alun buat sholat ied, biasanya mereka langsung berangkat ke alun-alun buat 'ngejagain' tempat. Iya, jadi mereka bakal bawa tikar besar-besar buat digelar di sana, biar kedapatan sholat di shaf awal-awal, bukan di jalan rayanya. Nanti sisanya menyusul, soalnya alun-alunnya juga nggak jauh-jauh banget, jadi jalan kaki setengah jam juga udah nyampe―tinggal saling berkabar aja dapet tempatnya dimana. Terus setelah selesai sholat dan mendengarkan khutbah idul fitri, kami serombongan pulang deh. Kalau yang perempuannya langsung pulang ke rumah, biasanya yang laki-lakinya malah foto-foto dulu di depan loko tua yang letaknya di depan stasiun Cirebon. Biasa, nambah-nambah stok foto profil katanya. Lha, malah kebalik, ya? Yang perempuannya malah pengen cepet-cepet pulang, ngabisin stok es krim dan cemilan yang ada di rumah.

Terus, kalau udah puas foto-foto atau cemit-cemot makanan di rumah dan udah kumpul semua, kami bakal langsung mulai salam-salaman maaf-maafan gitu berurutan. Jadi dari mbah put dan diikuti sama keluarga anak-anaknya dimulai dari yang paling tua. Di sini nih, suasana paling harunya. Banyak yang nangis, meskipun yang remaja-remaja nggak nangis sih, malah berlomba-lomba saling ngejedutin tangan ke kepala adik-adiknya pas lagi salaman cium tangan (ini jangan ditiru ya, hehe). Tapi justru ini yang ngangenin. Dipeluk, dicium, ketawa-ketawa, rasanya kayak duh, keluarga kami sekompak dan saling menyayangi begini, ya? Rasanya rasa bersyukur itu nggak ada habisnya. Dan kayak hal beginian tuh nggak semua orang bisa ngerasain.

Antri Foto
Fotografer
Udah gitu setelah salam-salaman dan bagi-bagi thr (kalau ada yang ngasih thr), kami langsung atur jadwal foto. Jadi kami bakal foto satu-satu per keluarga gitu, bergilir. Dan sisanya emang kayak beneran lagi nungguin antrian foto, duduk-duduk nontonin sesi foto-foto yang lucu bikin ketawa karena banyak humornya. Iya, jadi kadang pas mau foto tiba-tiba ada yang sengaja lewat buat ngeganggu hasil fotonya. Atau fotografernya malah selfie sendiri. Apa ajalah pokoknya yang iseng-iseng gitu. Tapi kalau yang punya bayi atau balita jarang digangguin sih, soalnya tanpa digangguin pun udah keganggu sendiri wkwk. Dan yang ngefotoin itu nggak cuma satu orang, tapi dua-tiga gitu tergantung dari banyaknya pemilik kamera. Nah biasanya satu keluarga itu punya banyak jatah foto. Dari foto
Pengganggu Foto
formal, foto bebas, foto yang dirusakin (wkwk), dan foto bareng mbah put. Pokoknya setiap keluarga itu wajib ada foto bareng mbah putnya. Dan itu permintaan sendiri, bukan disengaja emang harus ada fotonya. Bahkan beberapa keluarga ada yang bapak-ibunya minta foto bertiga aja sama mbah put. Kadang sedih sih, mbah put tuh setiap lagi foto kayak gini kelihatan banget raut wajah kangen sama mbah kakungnya. Makanya, di sini ini peran anak-anaknya buat bikin mbah put nggak ngerasa hampa dan bahagia gitu. Terus kalau semua keluarga udah pada foto, langsung deh dilanjutin sama foto bareng-bareng semuanya. 


Foto bareng-bareng di garasi depan rumah.

Dan kalau lagi foto begini, kan biasanya pake fitur continous shooting, ya.  Jadinya take 1 dan 2 itu masih formal, tapi ketiga dan seterusnya bakal rusuh kayak gini :"
Foto bareng-bareng di ruang tamu.
Yang rusuh remajanya? Enggak. Justru yang rusuh itu malah bapak-bapaknya. Sukanya ngegangguin anak-anak di depannya, entah dijewer, ditutupin mukanya, di tindih-tindih. Pokoknya rusuh banget. Tapi lihat deh ketawanya mbah put di foto di atas, bahagia banget kan, ya? Hehe. Semoga aja mbah put bisa terhibur, ya.

Lanjut. Selesai foto-foto ramean gini, hal lain yang aku rindukan itu soal kami sekeluarga yang serombongan konvoi ke rumah sodara-sodara. Biasanya kami ke rumah sodara-sodaranya mbah put, kayak kakaknya atau sepupunya. Kebetulan rumahnya nggak jauh-jauh dan masih sekitaran Cirebon. Dulu juga sewaktu masih ada mbah uyut, biasanya kami ke rumah mbah uyut buat silaturrahim sekalian ngehabisin jajanan di warungnya mbah uyut (hehehe). Tapi tetep dibayar kok. Sama bapak-bapaknya wkwk.

Mas Adit keluar dari pintu bagasi.
Nah terus, kan orangnya ada banyak nih, tapi nggak semua keluarga itu punya mobil. Kayak tahun ini aja, ada 7 keluarga tapi mobilnya cuma 4. Alhasil, semua ditumpuk deh di satu mobil. Pokoknya, dimuat-muatin. Sampe akhirnya mobil kecil yang harusnya cuma muat buat 5 orang bisa dimasukin sama 7 orang. Jadi ada yang sampai duduknya di bagasi, yang keluar-masuknya juga dari bagasi, bukan pintu :" Tapi yang diumpel-umpel di mobil itu juga yang laki-lakinya kok. Yang perempuan mah umpel-umpelannya nggak sebegitunya, hehe. Jadi semobil kecil itu tuh isinya remaja laki-laki semua. Penuh. Sisanya masuk ke tiga mobil sisanya.

Kalau ada Om Opiq biasanya beliau ngebawain handie talkie (ht) buat dibagi-bagiin ke setiap mobil, biar komunikasinya gampang. Tapi berhubung Om Opiq baru datang di hari kedua lebaran, alhasil yang duduk di sebelah supir itu punya tanggungjawab buat ngeliatin terus grup wa keluarga besar, mengantisipasi kalau-kalau ada perubahan rute. Pokoknya komunikasinya di grup itu. Dan kan kami itu serombongan yang lumayan banyak ya, jadinya kadang kalau sampai di rumah sodara tuh kami ngantri gitu salaman masuk ke dalam yang langsung dilanjut keluar lagi gara-gara saking penuhnya. Jadi biasanya cuma mbah put sama anak-anaknya aja yang masuk ke dalam rumah dan sisanya di teras atau halaman luar gitu.

Nah, perjalanan konvoi silaturrahim ini tuh berakhirnya di rumahnya Om Isa. Jadi setelah keliling ke semua tempat sodara yang masih ada dan rumahnya nggak jauh-jauh dari Cirebon, siangnya kami langsung menuju ke rumah Om Isa buat ngehabisin stok makanan di sana wkwk. Iya, jadi biasanya makan tuh udah ada kloternya. Jadi kloter pertama (sarapan) di rumah mbah put, kloter kedua (makan siang) di rumah Om Isa, kloter ketiga (makan malam) di rumah Om Wisnu. Tapi kalau yang ketiga mah sesekali aja sih, nggak setiap tahun begitu. Kalau tahun ini, ifthar hari terakhirnya aja yang di rumahnya Om Wisnu.


Di sini juga kayak lagi di restoran all you can eat, semuanya ada. Dari makanan berat, cemilan, sampai es krim. Pokoknya es krim itu ada dimana-mana, hehe. Alhamdulillah. Dan kemarin kan lebarannya pas hari jumat ya, walaupun jatuhnya jadi sunnah, tapi kemarin itu yang laki-laki tetap sholat jumat. Jadi sewaktu yang laki-lakinya sholat jumat di masjid yang letaknya cuma 500 meter dari rumah, yang perempuannya ngaso di rumah. Beberapa nyiapin makanan lain, beberapa antri wudhu, dan beberapanya lagi ada yang tiduran. Terus kalau udah selesai, kami antri makan (lagi). Pokoknya di sini tuh makanannya ada dua macam dan dua kloter gitu. Kalau mau satu kloter aja ya silahkan, mau dua-duanya juga boleh. Kalau aku sih, dua-duanya, hehe.

Biasanya kalau sesi makan udah selesai kami bakal foto-foto lagi terus dilanjut sama main tenis meja, bola sepak, atau badminton di halaman depan rumah. Tapi tahun ini rupanya suhu di Cirebon lagi panas-panasnya, makanya semuanya pada diem aja di rumah―sampai foto-foto juga ikut kelupaan. Yang akhirnya jam-jam sekitar setengah tiga kami semua pun pamit dari rumahnya Om Isa, kembali ke rumah masing-masing. Karena aku rumahnya di Purwokerto, jadinya baliknya ya ke rumah mbah put, hehe (padahal mah kalian udah tahu lah ya, masa iya langsung balik ke pwt). Dan ya gitu, setelahnya ya istirahat masing-masing, nyelonjorin kaki.

Hehe. Panjang banget ya cerita mudik lebaranku tahun ini? Oh iya, Alhamdulillahnya tahun ini lebarannya ramai, lho. Jadi kan biasanya Om Wisnu atau Pakde Upe tuh harus ngejaga posko mudik lebaran karena beliau berdua itu kerjanya di kereta api, tapi kali ini kebagian dinasnya malam, jadinya bisa ikut berlebaran dulu. Terus keluarga Om Isa juga tahun ini lagi giliran berlebaran hari pertama di Cirebon dan hari keduanya yang di Depok, jadinya lengkap juga. Mas Adit sama Mba Nina juga kebetulan lagi libur, setelah biasanya kedapatan jaga rumah sakit di pagi hari. Pokoknya, tahun ini tuh Alhamdulillahnya pas hari pertama pada bisa hadir kecuali keluarga Om Opiq yang baru bisa datang di hari kedua.

Dan aku tuh pernah sekali nanya ke mbah put soal kenapa mbah put tuh suka banget beli jajanan dan nyediain makanan yang luar biasa kalau lebaran begini. Dan tahu apa jawabannya? Katanya, momen lebaran ini tuh justru jadi hari bahagia buat beliau. Ngeliat anak-anak, mantu-mantu dan cucu-cucunya pada kumpul tuh bikin mbah put seneng. Yang biasanya di rumah cuma berdua sama bude lies, kali ini ramean gitu. Yang biasanya cuma bisa denger suara tv, kali ini yang didenger suara celotehan dan ketawa-ketawa cucu-cucunya. Terus katanya juga, beliau itu sudah tua, udah rasanya hidup cuma tinggal ibadah dan kumpul sama keluarga aja. Sesederhana itu kebahagiaan mbah put. Dan kebahagiaan yang sederhana begini biasanya justru yang paling sering terlupakan oleh anak-anaknya karena terlalu sibuk dengan urusan pribadinya :" Allah, semoga Engkau memberikan umur yang panjang untuk mbah put...

Dan untuk semua yang membaca tulisan ini, aku minta maaf ya kalau-kalau aku punya banyak salah baik yang disengaja maupun yang tidak ke kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan, dan semoga ibadah yang kita lakukan kemarin-kemarin itu diterima oleh Allah. Sudah lebaran bukan berarti selanjutnya jadi kendor, ya! Btw, masih ada amalan di bulan syawal selain menikah (ini nih, bulan syawal mah sama orang-orang dikenalnya sebagai bulannya orang menikah aja, kan? hehehe) lho. Iya, masih ada puasa enam hari di bulan syawal yang juga bisa kita lakukan.


“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Tentunya, setelah melunasi kalau-kalau punya hutang puasa di bulan Ramadhan, ya. Semangat teman-teman!
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Depresi?

Gambar di bawah ini sengaja saya taroh besar-besar, biar bisa jadi pengingat buat sayanya juga. Soalnya beberapa bulan belakangan ini kayak terlalu berharap sama hal-hal yang sebenarnya nggak pantas untuk diharapin, dan jadi lupa bersyukur. Jadi gambarnya sekalian dipakai buat menyentil saya kalau sayanya lagi khilaf, sekaligus biar sayanya nggak berharap sama selain Allah lagi dan lebih bisa mensyukuri segala nikmat yang telah Allah beri selama ini :" Penasaran kayak apa gambarnya? Sok dibaca aja.



webtoons.com
"Perasaan saya saja atau memang benar, akhir-akhir ini di sekitar Kak Radith sering terdengar ucapan 'depresi manis'?"

"Oooohh, itu! Bukan apa-apa, ngga usah dipikirin. Cuma materi farmakologi kemarin, kok."

"Hee..."

"King tahu kan, kalo dikaitkan dengan sesuatu di sekitar kita, materi pelajarannya jadi lebih mudah buat diingat. Dan kayaknya mereka mengaitkan soal 'depresi manis' ke aku untuk itu."

"Memangnya depresi manis itu seperti apa, kak?"

"Itu kondisi dimana seseorang mengalami depresif dan manis secara bergantian. Masa depresif saat merasa murung dan turun mood, lalu masa manis ketika merasa gembira berlebihan."

"Oh... Pantesan! Cirinya sesuai sama Kak Radith!"

"Emangnya ciri apa yang sesuai denganku?"

"Um... Soal gembira berlebihannya, sih..."

"Walah, aku kelihatan gitu ya? wkwk."

"Tapi baru bisa dibilang depresi manis kalau mengalami 'depresif' dan 'manis', kan? Apa Kak Radith merasakan depresi juga?"

"Depresi?"




Notes: Btw saya lupa itu ada di episode keberapa karena pas ngeliat gambarnya langsung asal nge-screenshot aja. Tapi intinya ini ada di season keduanya. Dan kalau nggak salah di episode-episode selanjutnya sang creator-nya merevisi istilah depresi manis dengan istilah manik-depresif yang ternyata lebih umum dikenal. 



#WeArePharmacists
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Berhijab Tapi Omongannya Kok Kasar Banget, Sih?

"Lactosa-nya kenapa dihabisin?! Jangan nyusahin orang, dong!"

"Tapi kan bisa diisi lagi."

"Diiitthh!! Sudah kubilang kalo udah kelar dipake, balikin lagi bahan obatnya ke rak!!"

"Ya kan tinggal ambil di mejaku."

"Mana kami tahu itu adanya di mejamu, bego!! Nyemplung sana ke sungai musi!"

"Lev, kamu berhijab tapi kelakuan sama omongan kok kasar banget, sih? Yang bener dong!"

(Ekspektasi Radith, Levy bakal ngomong kayak gini) "Nggak usah ngurusin orang, deh! Mau dilemparin lagi, hah?!" 

(Kenyataannya, Levy malah murung~ Dan ini pertama kali lihat Levy murung)

"Eh? Dia murung?!"

"Radith..."

"I-iya?!" (Refleks hormat)

"Aku berhijab, bukan berarti telah memiliki akhlak yang sempurna. Aku hanya ingin menutup satu pintu dosa yang biasa dilakukan wanita. Banyak yang bilang untuk berhijab setelah punya akhlak yang sempurna. Tapi ukuran sempurna itu yang seperti apa? Sebatas apa? Kupikir, kalau terus berkutat dengan itu, selamanya aku takkan berhijab. Makanya kuputuskan untuk berhijab sembari memperbaiki semua kekuranganku secara perlahan, agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, atas perkataan dan perlakuan kasar yang kuperbuat, aku mohon maaf. Aku permisi."

"...."

Kemudian, Levy terus saja mendiamkan Radith...

***

Mohon disikapi dengan bijak ya kalimat yang saya cetak tebal di atas. Saya menuliskannya di sini bukan karena saya memperbolehkan atau setuju-setuju saja dengan kondisi orang yang berhijab tetapi masih belum mencerminkan akhlak yang baik (dalam hal ini contohnya adalah masih menggunakan kata-kata dan perlakuan yang kasar). Tapi saya cuma ingin membagi sekiranya siapa tahu, ada beberapa di antara kita yang sebenarnya sedang berjuang untuk memperbaiki diri. Iya, siapa tahu aja dia memang sedang berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Makanya, saya membagi cuplikan ini agar kita semua tidak langsung men-judge seseorang. Sekaligus biar kita lebih mengutamakan berkhusnudzon daripada langsung bersuudzon, dan (berusaha) menghargai proses seseorang... :)


#WeArePharmacists Episode XX (Lupa)
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Orang yang Sudah Dewasa

"Daddy!"

"Hm?"

"I decided to stay (aku memutuskan untuk tinggal)."

"Kamu yakin?"

"Ya. But my unstable mind spent too much episodes (tapi aku jadi menghabiskan banyak episode gara-gara kelabilanku). Kalau pada akhirnya tetap tinggal, rasanya jadi sia-sia saja."

"Who says? (Siapa bilang?) Tidak mudah untuk membuat suatu keputusan. Orang yang sudah berani membuat keputusan dalam hidupnya, tak peduli apapun itu pilihannya, menandakan bahwa orang itu sudah dewasa. So congrats, my sweetheart."

(Pelukan) "Thank you so much, Daddy!"


Kalau yang ini ditulis karena saya suka sama kata-kata yang saya cetak tebal. Kayak lagi pas banget buat menyemangati saya gitu.


#WeArePharmacists Episode 50
Read More
Published Senin, Juni 04, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Ikan Salmon dan Hiu Kecil

"Jadi bagaimana tadi? Sudah bicara dengan Ibu Retnonya?"

"Bu Retno memberi waktu 3 hari untuk memikirkan lagi, Dad."

"Hoo.. I see.. Tapi kalau memang mau ke univ swasta X, Dad rasa tidak perlu memikirkan lagi, iya kan?"

"Dad... I just realized (aku baru sadar) kalau Sastra Inggris juga bukan minatku... Tapi keputusan untuk pindah, I think I'll do it (kurasa akan tetap kulakukan). Even if I (meski aku) pindah lagi ke jurusan yang bukan berdasarkan minat, setidaknya di jurusan itu bisa lebih dikuasai dibanding farmasi. Kalau seperti itu, tetap tak apa-apa kan Daddy?"

"Charlotte..."

"Yes, Dad?"

"Kamu tahu tidak cerita tentang ikan salmon dan hiu kecil? Orang-orang meyakini bahwa ikan salmon yang masih hidup lebih enak diolah untuk masakan Jepang? Karena itu para nelayan Jepang berusaha membuat ikan salmon yang ditangkap agar tetap hidup selama perjalanan menuju pantai. Tetapi ikan salmon yang dimasukkan ke kolam buatan banyak yang mati karena terkurung dalam satu tempat hingga kurang bergerak. Pada percobaan kedua, para nelayan mencoba memasukkan hiu kecil ke dalam kolam ikan salmon. Ternyata hasilnya bikin kaget para nelayan. Semua ikan salmon jadi aktif bergerak karena terus melarikan diri dari kejaran sang hiu kecil. Berkat hiu kecil, jumlah ikan salmon yang mati jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya. Pesan moral yang bisa diambil dari kisah ikan salmon dan hiu kecil tadi... 'diam' membuat mati, dan 'bergerak' membuat hidup. Orang biasanya 'diam' ketika tak ada masalah atau saat berada di zona aman. Untuk 'bergerak', yang kamu butuhkan adalah masalah dan tekanan."

"I did good, right? (Yang kulakukan sudah benar, kan?) I 'move' on from the old to the new university (Aku 'bergerak' dari univ lama ke univ baru)."

"Kamu bergerak untuk menuju zona aman. Benar kan, Charlotte?"

"...."

"Kamu berpikir farmasi bukan minatmu karena itu kamu mencari jurusan lain yang menurutmu lebih bisa kamu kuasai. Menurut Dad, itu lebih seperti melarikan diri. Tapi lain ceritanya kalau Sastra Inggris itu benar minatmu sesungguhnya."

"...."

"Sweetheart, bagaimana kalau kamu coba menghadapi masalahmu? Menghadapi 'hiu' kecilmu? Tetapi ini adalah hidupmu. Silahkan putuskan jalan mana yang ingin kamu tempuh."

***

Kisah di atas merupakan cuplikan dari salah satu webtoon berjudul "We Are Pharmacists" yang secara tidak sengaja saya temukan saat sedang mengisi waktu luang di atas lajunya kereta api Kamis kemarin. Cerita yang digambarkan di dalam webtoon ini sebenarnya sederhana, hanya sebatas kehidupan perkuliahan anak-anak D3 Farmasi. Namun, rupanya creator-nya cukup ahli dalam mengemas jalan cerita dan karakter masing-masing tokohnya sehingga ketika membacanya, secara tidak langsung kita akan seperti sedang diajarkan sebuah pelajaran hidup tanpa bermaksud menggurui.

Dan ya, tentu saja webtoon ini pun langsung jadi favorit saya. Sebenarnya masih banyak cuplikan-cuplikan lain yang ingin saya tulis. Tapi karena sayanya masih lagi keasyikan baca dan belum mau flashback-flashback gitu (apalah bahasanya flashback wkwk), jadinya nanti saja lah ya, hehe. Tapi akan lebih baik lagi jika kalian langsung membacanya sendiri, biar pesannya terasa lebih ngena.


#WeArePharmacists Episode 49-50
Read More