Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Published Rabu, September 12, 2012 by

Ulasan Cerpenku oleh FAM Indonesia

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerpen “tanpa judul” karya Hannan Izzaturrofa, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Purwokerto. Ya, cerpen ini benar-benar tidak berjudul, disengaja oleh penulisnya dan diserahkan ke Tim FAM untuk diulas. Tentu diharapkan nanti cerpen ini diberikan judul. Ibarat tubuh manusia, judul adalah kepalanya. (Sebenernya berjudul, hanya saja judulnya aku jadikan nama file untuk menyimpan naskah cerpen ini-Hannan Izzaturrofa)  

Cerpen ini berkisah tentang Dido, seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental. Ia sulit berbicara. Tentu saja ini menjadi kekhawatiran orangtuanya. Bagaimanapun, orangtua pasti ingin anaknya lahir dalam keadaan normal dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Namun hal ini tidak terjadi dalam keluarga miskin, yang seharinya-harinya mengais rejeki dengan menjadi pembantu di kediaman pak Suryo.

Ada sebuah pesan yang menarik yang diungkapkan penulis dalam cerpen ini. Diceritakan, ayah Dido sangat marah ketika Dido dihina oleh Tuan Suryo. Ia rela jika dirinya dihina, tapi tidak untuk anaknya. Ini adalah sebuah pesan yang ditujukan bagi siapa pun yang memiliki anak dalam kondisi tidak normal bahwa sebagai orangtua yang baik seharusnya tetap memperlakukan anaknya dengan baik. Jika kita lihat, banyak orangtua yang merasa malu memiliki anak cacat, bahkan ada yang tega membuang dan tidak mengakui anaknya.

Pemilihan kata yang digunakan oleh penulis cukup bagus. Teknik penulisannya juga. Hanya saja, ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan EYD. Misalnya kata ‘ditangannya’ pada paragraf ketiga, seharusnya ditulis ‘di tangannya’. Penulisan kata ‘di’ jika diikuti kata tempat adalah dipisah.

Secara keseluruhan cerpen ini baik, termasuk juga dalam segi ide cerita. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin membaik.
Semangat berkarya!

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

CERPEN (TANPA MENYERTAKAN JUDUL)
Oleh Hannan Izaturrofa
IDFAM861S Anggota FAM Purwokerto

Pagi itu memang pagi yang indah. Anak-anak yang seharusnya tahu diri membantu orang tuanya malah masih tertidur pulas bercengkerama dengan mimpi masing-masing. Suara adzan subuh yang terdengar lantang itu hanya mampu membuat mereka sedikit bergerak, lalu kembali tertidur pulas. Berbeda sekali dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu.

Anak itu sedang sibuk memetik buah apel berwarna hijau di kebun milik majikannya, Tuan Suryo. Wajahnya serius. Dengan susah payah, tangan kanannya berusaha meraih buah apel tertinggi. Gesit. Terampil tangannya meraih. Ia tersenyum, mengumpulkan apel-apel yang terjatuh, kemudian kembali mencari buah apel yang cukup matang untuk dipetik. Ia cekatan dan sangat teliti.

10 menit. Ia masih sibuk. Malangnya, tumpuan kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya yang tidak seimbang. GUBRAK! Seketika itu juga apel-apel hijau ditangannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa kayu-kayu. Ia tidak menangis, hanya meringis menahan sakit. Tangan dan kakinya terluka.

“Baaa.. Maa…”, teriak anak itu. Ia merangkak, berusaha bangkit. Tangan dan kakinya terasa perih.

Dari kejauhan, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya penuh guratan-guratan lelah. Kulitnya hitam legam, terlalu lama terbakar sinar matahari. Wajahnya ramah, sangat bersahabat. Walaupun seketika berubah menjadi cemas.

Dengan sigap, digendongnya anak itu menuju gubuk tua yang tidak jauh dari situ. Gubuk itu memang sudah tua. Pondasinya sudah rapuh, dengan kayu-kayu yang sudah berlubang di sana-sini. Bukan cinta alasan yang tepat untuk tinggal di gubuk tua itu, namun karena tidak memiliki uang lebih untuk membangun gubuk yang lebih layak. Untuk membeli makan saja masih harus berhutang.

Dengan kain abu-abu tua dan air seadanya, dibersihkannya luka-luka itu. Cepat, namun berhati-hati. Anak itu tertawa. Tangannya terangkat meraih. Rupanya ia ingin mengobati lukanya sendiri. Pria itu menggeleng, lalu tersenyum. Tahu keinginannya tidak dituruti, anak itu sontak menangis. Meronta-ronta, menarik-narik apa saja yang ada di hadapannya.

Setelah sekian lama meronta-ronta, anak itu lalu terdiam. Lelah. Ia malah sibuk memandangi luka-lukanya. Mungkin ia terheran mengapa luka itu bisa ada di tubuhnya. Atau mungkin juga sedang mencari tahu mengapa luka-luka itu bisa memerah, terasa sakit ketika disentuh, atau yang lainnya.

“Apa yang terjadi dengan Dido?”, terdengar suara serak parau dari arah dapur. Seorang wanita dengan sehelai kain yang menutupi kepalanya menghampiri dengan senyum yang agak dipaksakan. Wajahnya tidak kalah lelah dengan pria tadi.

“Dido terjatuh. Tangan dan kakinya terluka. Tapi sudah diobati”, jawab pria itu seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Masih sakit?”, tanya wanita itu lembut. Dido mengangguk pelan, menunjukkan tangan dan kakinya yang masih memerah.

“Sebentar lagi pasti sembuh. Ini tidak akan lama”, ucap wanita itu sambil tersenyum. Diambilnya sepiring nasi dan lauk seadanya dari atas meja tua.

“Baaa.. Maa..”, teriak Dido girang. Lahap sekali ia makan. Sepiring nasi aking dan bayam goreng.
***
7 tahun silam. Ketika itu langit masih berwarna kemerah-merahan. Seorang wanita dengan pakaiannya yang lusuh sedang bermain bersama anak semata wayangnya. Tampak di sudut matanya sebuah kekhawatiran. Di ujung sana, sekumpulan wanita paruh baya sedang menyuapi anak-anaknya yang terus berlarian entah kemana. Ada yang berteriak, ada yang saling lempar, dan ada pula yang duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Mereka semua tertawa, menikmati sisa-sisa sinar matahari yang masih ada.

Ada sebersit rasa iri di benak wanita itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Dibelainya kepala anaknya yang masih sibuk dengan gumpalan tanah. Sesekali anak itu berteriak, melempar seluruh tanah yang digenggamnya. Tidak peduli jika tanah yang dilemparnya itu mengenai matanya. Ia hanya tertawa, mengucek-ngucek matanya yang memerah, lalu kembali bermain dengan tanah-tanah itu.

Ya Allah, mengapa anakku berbeda?

Dido, anak semata wayang yang dulu diharapkannya tidak seperti anak-anak lainnya. Entahlah, Dido tidak bisa berbicara dengan lancar. Bibir mungilnya hanya bisa mengucapkan kata ‘Maa’ dan ‘Baa’ setiap kali ia ingin berbicara. Dido juga mengalami keterbatasan mental. Sebuah kenyataan yang buruk jika melihat kondisi keluarganya yang pas-pasan.

Keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalimat itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir dari-Nya.
***
“Itu apel milikku!”, teriak seorang anak laki-laki dari balik pintu bangunan yang megah. Dengan sigap, ia berlari menghampiri Dido dan langsung merebut karung gandum itu. Kasar sekali. Wajahnya tampak garang. Apel-apel di dalam karung gandum itu ditumpahkannya ke tanah.

“Baa.. Maa..”, merasa terganggu, Dido berteriak. Tangannya berusaha mengumpulkan apel-apel yang jatuh ke tanah. Tapi anak itu menghalaunya. Dido menggeram keras.

“Ini apel milikku! Kau tidak boleh mengambilnya!”
“Baa.. Maa..”

Dido menangis. Ia meronta-ronta. Anak laki-laki yang merebut apel-apel itu tertawa mengejek. Dengan santai, ia memakan apel-apel itu, lalu melempari Dido dengan sisa apel yang dimakannya. Kali ini Dido merasa sangat terganggu. Dengan cepat, ia mengambilnya batu di sekitarnya.

Sepersekian detik, batu itu mendarat tepat mengenai pelipis mata anak itu. Sontak ia menangis, berteriak memanggil ayahnya. Lima menit. Seorang pria berkulit putih bersih keluar dari pintu bangunan mewah itu. Berjalan dengan gagah, namun tampak sombong. Wajahnya merah padam.

“Apa yang kau lakukan dengan anakku!”, bentaknya. Ia lalu mendorong Dido keras. Terjerembab. Lukanya yang sudah agak mengering basah kembali.

“Baa.. Maa..”

“Jangan sakiti anakku tuan”, suara lantang itu memecah, terdengar jelas. Pria berkulit hitam itu melangkah menghampiri Dido yang sedang meringis kesakitan.

“Kau membelanya? Apa yang bisa kau banggakan dari anakmu yang cacat ini?!”, hardiknya keras. Jari telunjuknya teracung-acung ke depan.

Sontak saja pria berkulit hitam itu marah. Wajahnya memerah, menggeram garang. Bukan karena keadaannya yang miskin. Bukan. Ia marah karena Dido, anak semata wayangnya dihina. Tidak ada yang boleh menghina Dido.

“Tuan tidak boleh menghina Dido!”, teriaknya lantang. Ditariknya Dido menjauh.

“Akan saya kurangi gaji kau karena telah melawanku!”, teriak Tuan Suryo. Pria itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan beriringan dengan Dido meninggalkan Tuan Suryo dan anaknya.

“Baa.. Maa..”, Dido melawan. Ia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam pria itu. Tuan Suryo dan anaknya sudah berbalik. Dido membungkuk. Diraihnya sisa-sisa apel tadi.
***
“Darimana kau dapatkan apel itu Dido!”, hardik wanita itu. Dengan keras ia menggenggam dan memukul lengan Dido dengan ranting sisa kayu bakar. Sakit. Dido berteriak meronta-ronta. Genggaman itu semakin kuat. Dido berusaha melepaskan genggaman itu.

“Diam! Siapa yang mengajarimu untuk menjadi seorang pencuri! Kau mau memberi Ibu apel hasil curian?!”

“Baa.. Maa..”, tangisan Dido semakin mengeras. Ia kembali meronta-ronta, berteriak mencari pertolongan. Pria yang sedari tadi memperhatikan Dido dan wanita itu hanya bisa meringis mengelus dada. Ia ingin membela, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.

“Kembalikan apel itu! Ayo kembalikan!”, dengan keras, wanita itu menarik lengan Dido keluar rumah. Dido kembali meronta-ronta namun tidak dipedulikan.

Baru beberapa langkah, kaki wanita itu terhenti ketika melihat sebuah pohon apel yang baru dilihatnya. Pohon itu tumbuh tidak jauh dari gubuk tuanya. Tampak cukup besar, namun ia sama sekali tidak menyadari keberadaan pohon itu. Ditatapnya pohon apel itu lumat-lumat. Genggaman tangannya perlahan terlepas. Dido yang merasa sudah terbebas itupun langsung berlari menghampiri pohon apel itu.

“Baa.. Maa..”, teriaknya sambil melambai-lambai.

Wanita itu menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya.

“Mengapa ada pohon apel tumbuh di situ? Bukankah batas kebun milik Tuan Suryo ada di depan rumah kita? Ini kan diluar jalur mereka”, tanya wanita itu terheran-heran.

“Itu bukan milik Tuan Suryo”, jawab pria itu. Pandangannya lurus menatap Dido.
“Maksudnya?”

Pria itu tidak menjawab. Ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Dido yang masih berteriak, tertawa-tertawa. Wanita itu semakin penasaran. Diikutinya langkah suaminya itu.

“Dido yang menanamnya. Ia menanamnya dari sisa apel yang dibuang oleh anak Tuan Suryo. Dia yang merawatnya. Ia sangat sayang padamu. Ia tahu kau sangat menyukai buah apel”

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh wanita itu bergetar. Air matanya tak mampu dibendung lagi, mengalir deras. Tubuhnya melemas. Ia tersungkur persis di depan Dido.

“Baa.. Maa..”, ucap Dido menghampiri. Dijulurkannya buah apel yang baru dipetiknya. Dido tersenyum, manis sekali.

Tangis wanita itu semakin keras. Dipeluknya tubuh Dido. Ia masih bergetar.

Wanita itu tersadar. Sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan, Dido bukanlah seorang pencuri seperti yang ia kira. Dido bukan seorang pengecut. Keterbatasan ternyata tidak menghambat keinginannya untuk memetikkan buah apel, hadiah untuknya. Betapa bodohnya ia, tidak menyadari kesibukan Dido selama ini. Yang ia tahu, Dido hanya bermain dan terus bermain. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Dido telah bersusah payah untuk menanamkan pohon apel untuknya.

Ia sangat menyesal dengan tindakannya. Sangat menyesal. Lihatlah. Dido masih mau dipeluknya. Ia masih mau tersenyum, bahkan kembali memetikkan buah apel untukknya. Padahal, luka di lengannya masih mengeluarkan darah. Perih sekali.

“Maaf sayang.. Maafkan Ibu.. Ibu sayang Dido..”, sesalnya.

“Tidak usah menangis. Lihatlah, Dido tidak suka dengan raut wajahmu yang terlihat sedih”, ucap pria itu. Dibopongnya tubuh wanita itu, bangun.

Ibu sayang Dido.. Ibu akan selalu menjaga Dido.. Sekuat Ibu.
Read More
Published Rabu, Desember 21, 2011 by

Cerpen Pertamaku

Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 ketika aku baru bangun dari tidurku. Udara terasa lebih dingin dari pagi-pagi yang sebelumnya. Iseng-iseng ku sentuhkan jemari kecilku ke jendela kamar. Dingin. Menjalar ke seluruh tubuhku. Dengan raut wajah setengah mengantuk, ku paksakan beranjak dari kasurku. Malas. Tapi harus ku lakukan. Hari ini, aku ada janji dengan mbak Ninda. 

“Pagi sayang, nyenyak kah tidurmu semalam?”, sapa ibu dari ruang tengah. 

“Nyenyak bu. Hari ini aku ke rumah mbak Ninda ya bu?”, jawabku balik bertanya. Ibu tersenyum mengangguk. Aku juga tersenyum, kemudian kembali berjalan. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. 20 menit. Aku bersiap-siap pergi. 

Di halaman depan, kupanaskan motorku. Hanya Honda model lama. Tapi tidak berarti sudah tidak terpakai lagi. Justru motor inilah yang selalu menemaniku kemana saja. Walaupun terkadang sulit untuk digunakan, tapi inilah motorku satu-satunya. Motor pemberian almarhum ayah dua tahun silam. 10 menit, aku pergi. 

Sebenarnya aku agak malas kalau harus keluar pagi ini. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah. Pulang paling cepat jam 9 malam, dan tidur paling cepat jam 2 pagi. Itupun terkadang tidak nyenyak karena terbayang-bayang tugas yang belum selesai. Dan hari ini adalah hari kosong buatku. Hari yang pas untuk beristirahat. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlanjur janji pada mbak Ninda untuk menemuinya hari ini. Tujuanku satu. Menjadi seorang penulis. 

Ya, cita-citaku sejak duduk dibangku SMP adalah menjadi seorang penulis. Sebenarnya aku sudah mulai menulis dari kelas 1 SMP. Hanya saja aku tidak PD dengan karyaku. Berkali-kali aku mengirimkannya ke beberapa media cetak, tapi tetap saja tidak ada yang dimuat, ataupun diterbitkan. Malah pernah ada yang membalasnya dengan mengatakan bahwa karyaku tidak layak disebut sebagai karya. Sakit. Tapi itulah kenyataannya. 

Cukup 15 menit untuk berkendara ke rumah mbak Ninda. Jalanan Purwokerto masih terbilang sepi. Paling hanya sekali-dua kali terjadi kemacetan. Itupun karena ada pengemudi angkutan umum yang berhenti semaunya. Aku tiba tepat pukul 08.05. Aku terlambat 5 menit. Tapi sepertinya mbak Ninda tidak seperti bu Dian, dosen kampus yang galak itu. 

“Pagi Dinda, rupanya kau terlambat 5 menit dari perjanjian”, sapa mbak Ninda mengagetkanku. 
“Iya mbak maaf, tadi aku malas sekali untuk bangun”, jawabku. 

“Pasti karena tugas kuliah itu ya? Yasudah, aku bukan bu Dian kok”, goda mbak Ninda. Aku hanya tersenyum, lalu berjalan masuk. 

Mulai saat itupun aku mulai belajar banyak. Dari mulai mencari inspirasi untuk ceritaku, mengoreksi bahasa yang kugunakan dalam kalimatku, dan cara mengatasi rasa malas. Lengkap. Sempurna. Tidak ada yang terlewatkan. Hingga akhirnya, setelah dua bulan berlalu, mbak Ninda menyuruhku untuk mengirimkan beberapa cerpen yang telah aku buat. Tidak banyak. Tetapi menarik. Begitu katanya. Yang terpenting adalah keselarasan antara satu cerita dengan cerita yang lainnya. Dan permintaan itupun aku turuti. Aku mengirimkan sepuluh buah karyaku. Semuanya aku kumpulkan jadi satu, lalu aku bukukan. Dan mbak Ninda memberiku dua buah alamat penerbit. Awalnya aku ragu. Walaupun sudah dua bulan belajar, tapi aku masih ragu dengan kemampuanku. Aku takut. Ketakutanku sama. Takut ditolak. Takut diejek. Takut dihina. 

“Bagaimana caranya kamu bisa jadi penulis jika untuk mengirimkan karyamu saja kamu takut? Memangnya penerbit-penerbit itu bisa langsung tahu tentang karyamu? Tidak kan?”, begitu katanya ketika aku mengutarakan ketakutanku ini. 
* * * * * 
Oh iya, aku lupa mengenalkan siapa diriku. Namaku Adinda Saputri. Biasanya, orang-orang memanggilku dengan nama pendek, Dinda. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di rumah, aku hanya tinggal dengan ibuku dan kedua adikku. Ayahku sudah lama meninggal karena sakit kankernya. Cukup menyedihkan. Tapi aku harus kuat dengan keadaan ini. 

Aku duduk dibangku kuliah. Aku juga menyambi kerja paruh waktu pada sebuah toko kue. Penghasilanku lumayan. Walaupun sebenarnya tetap saja tidak mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan motor Honda butut itu adalah satu-satunya harta warisan ayah yang tersisa. Selain itu, tidak ada. 

Kondisi keluargaku yang seperti inilah yang memaksaku untuk bekerja. Dan aku berharap, aku benar-benar bisa menjadi seorang penulis yang kondang. Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu kondisi keuangan keluargaku. Aku tidak tega jika harus melihat ibu berusaha mati-matian untuk membiayai kuliahku, dan kedua adik-adikku yang sebentar lagi akan pindah sekolah. Itu pasti membutuhkan biaya yang cukup banyak. 

Kembali pada cita-citaku. Aku telah mengirimkan karyaku itu ke salah satu penerbit yang disarankan oleh mbak Ninda. Dan ternyata usaha pertamaku gagal. Enam bulan lamanya aku menunggu, penerbit itu sama sekali tidak menghubungiku. 

“Untuk menjadi seorang penulis, bukan hanya karya yang bagus saja. Tetapi nama juga diutamakan. Mungkin saat karyamu sampai, ada banyak karya-karya dari penulis lain yang sudah memiliki nama. Biasanya, para penerbit mengutamakan mereka, karena pasti karya-karya merekalah yang banyak pembaca cari. Jangan patah semangat. Coba saja lebih sering mengirimkan karya-karyamu. Mbak yakin, pasti penerbit-penerbit itu lama-lama akan tertarik dengan karyamu, karena begitu seringnya namamu muncul disana”, hibur mbak Ninda. Aku hanya tersenyum paksa. Sangat terpaksa. 

Tapi bagaimanapun juga, aku bukanlah tipe orang yang gampang berputus asa. Keraguan itu pasti ada, tapi tidak akan membunuh semangatku. Seminggu vakum, aku mulai menulis lagi. Setiap ada waktu senggang, aku menulis apa saja yang ada di benakku. Saat jam kosong, menjaga toko kue, dan lain sebagainya. Tapi tetap aku tidak mengabaikan kewajiban-kewajibanku. Itu selalu aku utamakan. 

Tidak lama, hanya tiga bulan berusaha, akhirnya usahaku terbalaskan. Salah satu karya yang aku kirimkan ternyata menarik perhatian salah satu penerbit. Alasannya sama dengan apa yang dikatakan oleh mbak Ninda. Persis. Mirip. Mereka tertarik karena memang ceritaku menarik, dan namaku sering ada dihadapan mereka. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa persyaratan-persyaratan yang harus aku penuhi. 

Butuh waktu satu bulan untuk menerbitkan karyaku. Tidak buruk. Walaupun bukan termasuk best seller, setidaknya aku dapat bayaran yang lumayan. Keraguanku mulai hilang, musnah. Kini aku semakin semangat untuk memunculkan ide-ideku. Setahun kemudian, aku bergabung dengan forum dunia tulis. Mbak Ninda lah yang mengajakku untuk bergabung dalam forum itu. Katanya, biar aku lebih bisa mengembangkan bakatku. Lumayan lah, setidaknya aku bisa mewujudkan ceritaku sekaligus membantu ibu. Kalau kata peribahasa, sambil menyelam minum air :-)
Read More
Published Minggu, November 13, 2011 by

Tetes Darah yang Terlupakan

Hadi buru-buru masuk kamar. Dicarinya buku sejarah kemerdekaan Indonesia yang biasa ia taruh di atas meja belajar. Haduh, dimana ya buku itu? 

“Hadi, nanti temani ibu ke toko sepatu ya?”

“Aduh ibu, nggak lihat apa Hadi lagi sibuk kayak gini. Minta ditemenin sama kak Dinda kan juga bisa bu!”, jawab Hadi sambil terus mengacak-acak meja belajarnya. Kening Hadi berkerut. Ibu hanya melihatnya dengan prihatin.

“Kak Dinda lagi ada kuliah sore ini nak. Sebentar saja temani ibu. Nanti malam ibu ada arisan, ibu tidak punya sepatu.”

“Sendiri sajalah bu!”, jawab Hadi sambil berlari menuju ruang keluarga meninggalkan ibu yang hanya bisa menatap bayangannya. Pikiran Hadi dipenuhi rasa cemas. Bagaimana tidak? Bu Gita, guru sejarahnya itu memberikannya tugas untuk membuat rangkuman tentang sejarah kemerdekaan. Dan parahnya buku sejarah yang dimilikinya hilang. Kalaupun mencari referensi dari internet, ia sama sekali tidak punya waktu untuk pergi ke warnet. Jarak warnet dengan rumahnya memakan waktu yang cukup lama.

“Kau lihat kakekmu?”, tegur ibu.
“Di kamar kali bu!”, jawab Hadi sambil terus mencari. Ia sama sekali tidak menatap ibu yang sedang mengajaknya bicara.
“Kenapa tidak kau tanyakan sejarah kemerdekaan itu kepada kakekmu? Daripada mencari buku terus menerus”, usul ibu.
“Eh? Iya benar juga! Makasih ya bu!”

Tanpa banyak kata lagi, Hadi langsung menuju kamar kakek. Di ketuknya perlahan pintu kamar kakek. Biasanya, saat-saat seperti ini kakek sedang tertidur di kamarnya. Dan kakek akan cepat emosi jika merasa terganggu.

“Kek, ini Hadi kek. Ijinkan Hadi masuk ya?”
“Ya, sebentar.”

Beberapa menit kemudian, kakek pun membuka pintu kamarnya. Wajahnya terliat seperti baru bangun tidur. Untung saja kakeknya tidak marah karena tidurnya terganggu oleh kedatangan Hadi.

“Ada apa?”, tanya kakek sambil memakai kacamata.
“Kakek masih ingat cerita waktu jaman kemerdekaan kan? Hadi ada tugas sejarah kek.”

“Oh, yasudah masuk saja dulu.”, ujar kakek. Pintu kamar dibukanya lebih lebar. Walaupun Indonesia sudah semakin modern, tapi kamar kakek tetap saja seperti dulu. Jam tua, kasur tua, dan barang-barang lainnya yang sudah terlihat tua. Namun barang-barang tersebut masih terlihat awet dan terjaga.

“Ceritain dong kek tentang jaman kemerdekaan dulu.”, pinta Hadi. Sebelumnya ia telah menyiapkan kertas dan bolpen untuk mencatat. Wajahnya terlihat serius untuk mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibir kakeknya.

“Iya baiklah. Ekhm.. Dulu itu para pejuang kemerdekaan kita berjuang setengah mati untuk mempertahankan Indonesia. Orang-orang Eropa, terutama Belanda memanfaatkan kelemahan Indonesia untuk mengambil kekayaan bangsa kita…”

Kakek terus melanjutkan ceritanya. Tidak seperti ketika mendengarkan cerita dari bu Gita, Hadi tidak merasakan kantuk walaupun kakek bercerita terus menerus tanpa henti. Hanya sesekali kakek berhenti untuk meminum kopinya. Itupun hanya beberapa detik.

“Anak-anak muda jaman dulu semangat juangnya tinggi. Tidak seperti anak muda jaman sekarang. Untuk sekolah saja susah. Padahal sekolah itu juga salah satu cara untuk mempertahankan Indonesia.”, ujar kakek di akhir ceritanya. Hadi hanya mengangguk-angguk. Tangannya masih sibuk mencatat.

“Mereka sama saja seperti kamu! Sama saja!”, hardik kakek tiba-tiba. Hadi langsung berhenti menulis. Keningnya berkerut. Takut.
“Hadi kenapa kek?”, tanya Hadi hati-hati.
“Ya, kamu! Hanya kalau ada tugas saja kamu mau mendengarkan sejarah seperti ini. Sama sekali tidak menghargai usaha pahlawan kita!”

Kakek tiba-tiba berteriak tidak karuan. Hadi jadi kalang kabut. Dirayunya kakek sebisa mungkin. Ya beginilah kakek, emosinya bisa dengan cepat terpancing. Kalau tidak diam seharian penuh, pasti kakek akan marah-marah atau mengomel-omel secara tibatiba.

“Hadi bingung kek.”
“Kakek lebih bingung dengan sikap kamu dan anak muda yang lain!”

Hadi terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia takut emosi kakek menjadi lebih besar. Untung saja ibu segera datang. Mungkin terkejut karena tiba-tiba kakek berteriak. Disuruhnya Hadi untuk keluar dari kamar. Hadi tidak tahu apa yang ibu bicarakan di dalam dengan kakeknya. Hanya sesekali terdengar kakek berteriak memaki-maki.
* * * * *
“Semuanya sudah mengerjakan tugas yang ibu berikan minggu lalu kan?”, tanya bu Gita saat pelajaran sejarah.
“Sudah buu!”
“Yasudah, kalau begitu ibu minta tolong sama kamu Pandu, kumpulkan semua tugas teman-temanmu. Urutkan sesuai nomor absen”
“Iya bu”

Dengan cepat Pandu menarik satu persatu tugas teman-temannya dan langsung memberikannya pada bu Gita. Hampir semuanya telah menyelesaikan tugas mereka. Hanya ada beberapa yang masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Namun, Pandu langsung mengambilnya secara paksa.

“Terima kasih Pandu.”
“Iya bu.”
“Oke, kita bahas sejarah yang telah kalian tulis ya? Coba Dion, apa inti dari rangkumanmu?”
“Pahlawan kita tidak mengenal lelah untuk memerdekakan bangsa kita bu!”
“Bagus, kalau kamu Putri?”
“Semangat para pejuang begitu besar bu, walaupun mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan bangsa kita!”

“Iya, jawaban dari Dion dan Putri memang benar. Intinya juga sama. Para pejuang kemerdekaan memang patut kita acungi jempol. Mereka tidak egois, tidak memikirkan dirinya sendiri. Tapi mereka lebih memikirkan nasib bangsa kita. Coba kita bandingkan dengan orang-orang jaman sekarang? Hanya ada beberapa yang mempunyai sifat seperti mereka”

“Iya bu, kata kakek saya orang-orang jaman sekarang terutama yang masih muda memang sangat berbeda dengan orang-orang jaman dulu. Kakek saya saja sering sekali memprotes sikap para anak muda jaman sekarang”, ujar Hadi mengutarakan apa yang kakeknya katakan kemarin.

“Ya, memang benar. Kalian juga sebenarnya menyadari kan? Kita ambil contoh yang sederhana saja. Seusia kalian, untuk sekolah saja pasti ada rasa malas kan? Padahal sekolah juga untuk kebaikan kalian sendiri. Apa kalian tidak tahu kalau kita sebenarnya masih dijajah?”

“Loh, bukannya kita telah merdeka bu?”
“Ya, kita memang telah merdeka. Namun, sebenarnya kita masih dijajah. Namun memang cara penjajahannya berbeda dengan jaman penjajahan dulu. Jaman sekarang, kita dijajah oleh kebodohan dan kemiskinan”
“Tapi kan banyak bu orang Indonesia yang pinter”
“Tapi jika dibandingkan dengan orang Indonesia yang bodoh dan miskin, lebih banyak mana? Coba kalian pikirkan. Untuk membuat diri sendiri terlepas dari kebodohan dan kemiskinan saja susah. Apa lagi untuk berjuang mempertahankan Indonesia? Berjuang untuk orang lain?”

Deg. Hadi merasa sedikit tersindir. Ia menyadari kalau selama ini memang ia malas sekali untuk sekolah. Apalagi untuk belajar. Rasanya malas sekali untuk berhadapan dengan buku-buku atau bacaan-bacaan yang berbau pelajaran. Hadi pun mengakui kalau prestasinya di kelas memang terbilang cukup buruk karena kemalasannya itu.

“Bu, boleh tanya tidak?”, tanya Hadi sopan.
“Boleh, mau tanya apa?”
“Maaf sebelumnya bu. Ibu kenapa bisa suka sama sejarah?”
Bu Gita hanya tersenyum lalu melepas kacamatanya. Dilapnya kacamata itu dengan hati-hati, lalu dipakainya kembali.
“Kamu mau tahu kenapa ibu suka dengan sejarah?”
“Iya bu!”

“Baiklah. Alasan ibu suka dengan sejarah karena ibu tertarik dengan cerita-cerita perjuangan jaman kemerdekaan dulu. Ini juga termasuk salah satu bentuk penghargaan yang kita berikan kepada para pejuang.”

“Memangnya tidak membosankan ya bu?”, kali ini Dian yang bertanya. Sepertinya tidak hanya Hadi saja yang penasaran dengan alasan bu Gita menyukai pelajaran sejarah.

“Dulu waktu ibu masih sekolah seperti kalian juga ibu merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan. Pelajaran sejarah cuma bikin ngantuk, membosankan, dan lain-lain. Tapi apa kalian tidak memikirkan apa yang para pejuang kita rasakan? Mereka sudah bertaruh nyawa untuk mempertahankan bangsa kita, tapi kita tidak menghargainya sama sekali.”

“Tapi kan kita tetap menghargai mereka bu tanpa harus tahu tentang sejarah”
“Loh, bagaimana caranya kita mau menghargai kalau tentang sejarahnya saja kita tidak tahu?”

Semua menjadi terdiam. Kata-kata bu Gita memang ada benarnya. Kita memang tidak akan bisa menghargai sesuatu jika kita tidak tahu sejarahnya. Apalagi tentang kemerdekaan. Tidak banyak yang tahu sejarah tentang kemerdekaan. Padahal, seharusnya kita sangat berterima kasih kepada para pejuang bangsa yang telah menyelamatkan Indonesia dari para penjajah, bukannya malah melupakan mereka.

Jaman sekarang dengan jaman dulu memang sangat berbeda. Pola pikir jaman sekarang mungkin memang lebih maju dibandingkan dengan jaman dulu. Namun, pola pikir kebersamaan jaman dulu lebih kuat dibandingkan dengan jaman sekarang. Jaman sekarang, hanya kebahagiaan individual saja yang diutamakan. Sedangkan kebersamaan dinomor duakan. Sudah saatnya kita mulai merubah cara berpikir kita.

Hadi masih termenung meresapi kalimat-kalimat bu Gita. Ia jadi tahu alasan mengapa kakeknya sering emosi secara tiba-tiba. Mungkin, kakeknya kecewa dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini.
Read More
Published Minggu, Oktober 23, 2011 by

Hujan

Pagi ini aku merasa seperti sebuah robot. Ya, sebuah robot yang hanya bisa bergerak apabila diperintah oleh pemiliknya. Di kantor, aku hanya mengetik ulang naskah cerpen yang akan diterbitkan bulan depan. Padahal sebenarnya kerjaanku masih menumpuk. Entah mengapa saat ini aku malas untuk melakukan kegiatan apapun. 

Aku memandang kosong ke luar jendela. Di luar, hujan turun dengan sangat derasnya. Tampak beberapa pengojek payung cilik berlari kesana-kemari mengejar setoran. Mereka rela mandi hujan dan melawan dinginnya suasana saat itu hanya untuk mendapatkan uang seribu rupiah. Itupun kalau ada yang memberi, karena tak jarang setelah sampai ke tempat tujuan orang-orang itu akan langsung pergi tanpa mempedulikan mereka yang sedang menggigil kedinginan.

Sudah sekitar sejam lamanya hujan turun dengan derasnya. Namun belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku masih asyik melamun memandang suasana siang itu. Pikiranku campur aduk seperti gado-gado. Mataku seperti melihat dengan jelas peristiwa yang tidak asing bagiku, namun aku tidak pernah tahu tentang peristiwa itu. Dan tiba-tiba kepalaku terasa sakit, sangat sakit.

“Dian, kamu kenapa? Trus, kok tulisannya aneh gitu?”, tegur Syifa membuyarkan lamunanku.
“Ah.. Eh.. Iya maaf syif, aku lagi nggak konsen”, jawabku terbata-bata. Tangan kananku sibuk menghapus tulisan-tulisan “aneh” itu dengan tangan kiri tetap memegang kepala, menahan sakit.
“Kamu lagi sakit? Atau lagi ada masalah?”, tanya Syifa prihatin.
“Ah engga, aku cuma lagi nggak enak badan aja”, jawabku seraya meninggalkan Syifa yang heran dengan sikapku.
* * * * * *
Sore ini, aku dibebastugaskan dari segala macam pekerjaan di kantor karena kantor tempat aku bekerja akan direnovasi. Bukan gedungnya yang akan dibongkar, melainkan perabotannya akan diatur ulang agar menimbulkan isnpirasi dan suasana baru. Aku yang sedang menganggur menghampiri mama yang sedang asyik membaca novel di halaman belakang.

“Ma, kemarin peristiwa aneh itu datang lagi ke pikiranku. Tapi kali ini beda, aku seperti melihat dua mobil yang saling bertabrakan. Penumpangnya tidak ada yang selamat kecuali seorang anak perempuan. Umurnya kira-kira 9 tahun gitu. Serem deh ma..”, kataku sambil memperagakan kejadian itu dengan kedua tanganku. Mama hanya melirik, lalu melanjutkan membaca novelnya. 

“Idih mama aku kan lagi cerita, masa nggak didengerin gitu sih?”
“Mama bosan mendengar kamu bercerita khayalan-khayalan itu setiap hari. Sudahlah!”

Setelah menaruh kembali novel yang tadi dibacanya, mama bergegas menuju kamarnya. Mama tidak menghiraukanku yang terus memanggilnya. Sebenarnya aku merasa sedikit curiga dengan sikap mama akhir-akhir ini. Sekalipun karena memang ia menganggap cerita-ceritaku itu hanya sebuah khayalan, tidak seharusnya ia bersikap dingin seperti ini setiap kali aku memulai cerita tentang hal itu.

Karena saking penasarannya, ku hampiri mama yang entah sedang melakukan apa di kamarnya. Tok.. Tok.. Tok.. Ku ketuk pintu kamar mama perlahan, takut mengganggu.

“Siapa?”, tanya mama dari dalam kamar. Suaranya terdengar lirih.
“Dian ma.. Boleh Dian masuk?”
“Boleh nak..”

Ku buka pintu kamar mama perlahan. Astaghfirullah.. Ternyata mama sedang menangis. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi dengan mama. Padahal, tadi ia bersikap biasa saja, hanya mungkin kesal dengan ceritaku. Tapi aku tidak menyangka kalau mama sampai menangis seperti ini.

“Mama kenapa?”
“Mama nggak papa nak..”
“Mama harus cerita.. Mama kenapa?”
Mama terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan harus darimana ia bercerita. Aku melihatnya dengan prihatin.
“Maafkan mama nak.. Maafkan mama..”
“Emang kenapa ma? Mama nggak salah apa-apa kenapa harus meminta maaf?”
“Sebenarnya..”

Mama mulai menceritakan peristiwa yang mirip dengan peristiwa yang sering muncul tiba-tiba di pikiranku. Ternyata, gadis kecil yang selamat dalam peristiwa itu adalah aku sendiri. Ya, peristiwa yang sering muncul dipikiranku mungkin adalah sisa-sisa ingatan tujuh tahun yang lalu, saat aku masih berumur sembilan tahun. Dan pada kenyataannya kini aku bukan anak kandungnya.

Aku menangis, benar-benar menangis. Air mataku keluar dengan derasnya tanpa bisa dibendung lagi. Sebenarnya aku marah, sangat marah dengan mama yang menyembunyikan ini semua dariku. Namun aku tidak terlalu lama memendam amarah itu. Aku cukup sadar bahwa mama adalah satu-satunya orang yang mau merawatku sejak peristiwa tragis itu terjadi.

“Dian.. Kamu nggak marah sama mama kan?”
Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku langsung memeluk mama sekencang-kencangnya.

Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan menyakiti mama dan akan menjaga mama seperti mama menjagaku.
Read More