Tampilkan postingan dengan label laskarpemimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laskarpemimpi. Tampilkan semua postingan
Published Minggu, Mei 27, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #2

Sembari menyunggingkan senyum yang agak sedikit canggung, perempuan itu berjalan ke pojokan surau yang paling belakang; mendekati perempuan lain yang tengah duduk sambil memegangi Al Quran dengan satu tangan. Belum sempat ia mengambil posisi duduk dengan sempurna, tiba-tiba saja perempuan di hadapannya itu langsung mengulurkan tangannyamengajaknya berkenalan. "Nama saya Dizi. Kamu siapa?"

Sejenak perempuan itu terdiam, menatap perempuan berkerudung merah jambu yang tadi dilihatnya itu dengan tatapan yang tampak sedikit keheranan. Tentu saja ia merasa semakin canggung setelah ditodong pertanyaan seperti itu. Namun, melihat senyum tulus yang terpancar di balik wajah perempuan tadi, ia pun menyambut uluran tangan perempuan yang kini sudah sempurna berada di sampingnya. Tentu saja perempuan itu hanya menyebutkan namanya, yang setelahnya langsung meraih ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Ya, perempuan itu tidak begitu suka berbasa-basi, apalagi dengan kondisi pikirannya yang sedang tidak karuan seperti ini. 

Namun, melihat respon yang tidak bersahabat seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu tadi justru kembali tersenyum. Ia kemudian meraih sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan dua buah buku berukuran kecil; buku Al Matsurat. Disodorkannya salah satu dari kedua buku tadi kepada perempuan itu. "Udah dzikir pagi belum? Kalau belum, kita dzikir pagi sama-sama, yuk." Ajaknya.

Sejujurnya perempuan itu merasa tidak nyaman dengan sikap terlalu bersahabat yang ditunjukkan oleh perempuan berkerudung merah jambu itu. Ia pun hanya merespon dengan senyumannya yang tampak setengah-setengah sembari meraih buku Al Matsurat yang disodorkan kepadanya, yang kemudian ia buka-buka isinya dengan malas; berusaha menghargai perempuan yang entah mengapa tetap tersenyum kepadanyamenyebalkan sekali. Dan meski direspon seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu itu tidak menampakkan kegoyahannya sama sekali. Ia justru terlihat bersemangat dan malah menuntun perempuan itu untuk mengikuti apa-apa yang dibacanya dari buku kecil itu. Mau tidak mau, perempuan tadi pun akhirnya ikut membacanya; meski dengan setengah hati.

Namun, tidak sampai lebih dari lima menit waktu yang dibutuhkan oleh perempuan itu untuk tetap terfokus pada bacaan dzikir paginya saat itu. Perlahan-lahan ia pun mulai goyah, mengedarkan pandangannya ke pojok-pojok surau seperti yang dilakukannya saat pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam surau sambil bergumam; berusaha tetap mengikuti bacaan yang dilakukan perempuan berkerudung merah jambu itu. Dan diakhir perjalanan pandangannya ke setiap pojok-pojok surau, perempuan itu justru memerhatikan perempuan berkerudung merah jambu yang sedang duduk sempurna di sampingnya.

Cukup banyak yang ia perhatikan saat itu. Mulai dari wajah, tangan, cara berbicara, dan bagian-bagian lainnya. Sesekali ia mengagumi sosok perempuan itu, terlebih karena struktur wajahnya yang terlihat tegas dan berkharisma. Ia mengakui, bahwa perempuan yang berada di sampingnya itu memiliki wajah yang cantikhidung mancung sedikit bengkok di ujungnya, kulit yang putih, alis tebal, bulu mata lentik, dan mata yang dalamyang entah mengapa terlihat seperti campuran arab-sunda. Gamis yang digunakannya pun tampak anggun dengan aksen sulaman di bagian bawahnya.

Dan diperhatikan begitu, perempuan berkerudung merah jambu itu pun menghentikan sejenak bacaannya, yang lalu kemudian bertanya. "Kenapa? Ada yang aneh dengan saya?" Sehingga sempurna membuat perempuan itu terkejut dan menjadi sedikit terbata-bata setelahnya.


- To be continued.
Read More
Published Sabtu, Mei 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #1

Seorang perempuan berjalan tergesa-gesa dari ujung persimpangan. Jalanan ibu kota dan gang-gang yang terlalu sempit membuatnya terlambat setengah jam dari waktu yang telah ditentukan. Sempat tersasar dan harus berputar-putar pada jalanan yang sama membuatnya menghabiskan hampir satu jam di perjalanan. Padahal, jarak rumahnya dengan surau tidaklah seberapa.


Langkah kakinya sudah ia buat selebar-lebarnya. Dari kejauhan, tampak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain masak-masakan; tertawa riang dengan beberapa diantara mereka yang tampak berloncatan di ujung-ujung serambi surau. Mungkin energi mereka masih tersisa banyak, karena saat itu waktu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh pagibegitu pikirnya. Tetapi, meskipun berpikir begitu, tiba-tiba saja ia merasa seperti dikerubungi rasa malu yang sangat luar biasa. Lihatlah, ia bahkan sudah merasa haus dan kelelahan hanya karena ia baru saja menghadapi macetnya jalanan ibu kota. Ia merasa kalah dengan mereka. Padahal, usia mereka jelas terpaut sangat jauh dengannya. Mungkin hampir lima belas tahun.


Belum genap rasa malunya itu hilang, tiba-tiba saja kakinya terasa kaku. Ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya, menghela napas sejenak, memijat-mijat betisnya, sebelum kemudian kembali mempercepat langkahnya. Butuh sekitar lima menit lebih untuknya berjalan mendekati serambi surau. Kini sekumpulan anak perempuan itu hanya berjarak sekitar seratus meter di hadapannya. Namun, karena perempuan itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, derap langkahnya pun menjadi terdengar cukup berat; membuat seorang anak yang duduknya paling dekat dengan pintu masuk surau langsung berlari menghampirinya sebelum ia sempat memijakkan kakinya di atas serambi surau.

"Kalau mau masuk, ucapin password-nya dulu! Kalau nggak tau, berarti kakak harus ngasih kami uang seratus ribu!" Ujar anak itu sambil memegangi sisi-sisi pintu masuk; berusaha menghalangi perempuan itu untuk sekedar masuk ke serambi surau. Sejenak perempuan itu termenung. Satu detik... dua detik.. tiga detik.. perempuan itu terus berpikir, sampai tiba-tiba sebuah kalimat terlintas di pikirannya.

"Assalamu'alaikum..." Jawab perempuan itu. Anak perempuan di hadapannya itu pun tertawa, melepaskan kedua tangannya dari sisi-sisi pintu masuk, lalu kemudian berlagak seperti seorang pramugari yang sedang mempersilahkan para penumpang untuk masuk ke dalam pesawat. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengelus-elus kepala anak kecil di hadapannya, yang lalu setelahnya tampak berjalan terseok-seok ke dalam surau. Rupanya tadi kaki kirinya sempat menabrak rak sepatu yang diletakkan di samping serambi ketika sedang berusaha melepaskan sepatu yang digunakannyayang entah mengapa tiba-tiba saja menjadi susah dilepaskan.

Sambil menahan rasa sakit yang timbul dari ujung kaki kirinya, ia pun memasuki surau dengan mengedarkan pandangannya ke ujung-ujung surau. Namun, belum genap seluruh pojokan surau ia perhatikan, tiba-tiba saja matanya tidak sengaja bertatapan dengan seorang perempuan lain yang tengah tersenyum tulus kepadanya; membuatnya secara tidak sadar ikut menyunggingkan senyum yang selama ini sempat hilang dari wajahnya.

Allah, akhirnya perempuan itu kembali tersenyum.

- To be continued.
Read More
Published Sabtu, Mei 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Percakapan di Suatu Sore

Seseorang bertanya kepada sekelompok anak kecil di suatu sore. "Kalau sudah besar nanti mau jadi apa?"

Anak-anak itu terdiam, lalu setelahnya salah seorang diantara mereka menjawab. "Aku ingin jadi tukang sampah!" Diikuti dengan tertawaan yang lainnya.

Ditertawakan begitu, anak itu langsung menunduk dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Seseorang itu tersenyum, lalu kemudian mengajukan pertanyaan khusus kepadanya. "Kenapa kamu mau menjadi tukang sampah?"

Ditanya begitu, anak itu pun menjawab dengan malu-malu. "Biar dunia menjadi lebih bersih dan rumahku tidak bau lagi. Aku ingin menempatkan sampah-sampah yang sengaja ditumpuk di dekat rumahku ke tempat yang lain."

Seseorang itu kembali tersenyum, menghembuskan napasnya perlahan, lalu setelahnya menatap satu per satu wajah sekelompok anak kecil yang duduk mengitarinya itu. "Tidak ada salahnya jika Fulan ingin menjadi tukang sampah. Tapi kalau mau jadi tukang sampah, harus tukang sampah yang sukses. Bosnya tukang sampah." Ujarnya.

Mendengar jawaban itu, anak yang tadinya sedikit menyembulkan bibirnya itupun tersenyum, lalu membusungkan dadanya sambil berucap. "Tuh kan! Tidak ada yang salah dengan bercita-cita menjadi tukang sampah!" Adunya dengan sisa-sisa kepercayaan dirinya. Ia merasa telah dibela dan menjadi lebih yakin dengan apa yang sempat diucapkannya.

Kali ini, anak-anak yang lain pun ikut mengangguk. Lalu, satu persatu diantara mereka mulai ikut menyuarakan apa yang selama ini menjadi keinginan mereka.

"Kalau begitu, aku ingin jadi tukang parkir!"
"Kalau aku ingin jadi supir bus!"
"Kalau aku ingin punya warung makan di pinggir jalan! Biar ayahku dan teman-temannya bisa makan sepuasnya di warungku!"
"Kalau aku ingin jadi petani!"
"Kalau aku... belum tahu. Tapi nanti aku akan menanyakannya pada ibuku. Sekarang mau jadi anak baik-baik saja dulu."

Seseorang itu pun kembali tersenyum. Entah sudah berapa kali ia tersenyum, namun kali ini senyumnya tampak lebih lebar dari sebelumnya. Anak-anak di hadapannya kini terlihat lebih bersemangat. Beberapa diantaranya menjadi saling bercerita, seorang lainnya tampak sedang bertopang dagumungkin masih memikirkan ingin jadi apa jika ia sudah besar nanti, dan beberapa bersenda gurau satu sama lain; hingga Adzan maghrib berkumandang.

Tanpa dikomando, salah seorang yang bertubuh paling besar langsung memimpin doa, lalu mempersilahkan teman-temannya meraih gelas-gelas di hadapan mereka. Serentak meneguk isinya, dan kemudian langsung berlarian dan bergilir mengambil air wudhu di belakang masjid, berlomba-lomba untuk duduk di shaf paling terdepan; membuat seseorang itu menjadi tersadar akan sesuatu hal.

Ternyata karakter yang terbentuk dari kerasnya jalanan justru mampu membuat mereka lebih memahami arti kehidupan yang sebenarnya.
Read More