Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Published Minggu, Mei 27, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #2

Sembari menyunggingkan senyum yang agak sedikit canggung, perempuan itu berjalan ke pojokan surau yang paling belakang; mendekati perempuan lain yang tengah duduk sambil memegangi Al Quran dengan satu tangan. Belum sempat ia mengambil posisi duduk dengan sempurna, tiba-tiba saja perempuan di hadapannya itu langsung mengulurkan tangannyamengajaknya berkenalan. "Nama saya Dizi. Kamu siapa?"

Sejenak perempuan itu terdiam, menatap perempuan berkerudung merah jambu yang tadi dilihatnya itu dengan tatapan yang tampak sedikit keheranan. Tentu saja ia merasa semakin canggung setelah ditodong pertanyaan seperti itu. Namun, melihat senyum tulus yang terpancar di balik wajah perempuan tadi, ia pun menyambut uluran tangan perempuan yang kini sudah sempurna berada di sampingnya. Tentu saja perempuan itu hanya menyebutkan namanya, yang setelahnya langsung meraih ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Ya, perempuan itu tidak begitu suka berbasa-basi, apalagi dengan kondisi pikirannya yang sedang tidak karuan seperti ini. 

Namun, melihat respon yang tidak bersahabat seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu tadi justru kembali tersenyum. Ia kemudian meraih sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan dua buah buku berukuran kecil; buku Al Matsurat. Disodorkannya salah satu dari kedua buku tadi kepada perempuan itu. "Udah dzikir pagi belum? Kalau belum, kita dzikir pagi sama-sama, yuk." Ajaknya.

Sejujurnya perempuan itu merasa tidak nyaman dengan sikap terlalu bersahabat yang ditunjukkan oleh perempuan berkerudung merah jambu itu. Ia pun hanya merespon dengan senyumannya yang tampak setengah-setengah sembari meraih buku Al Matsurat yang disodorkan kepadanya, yang kemudian ia buka-buka isinya dengan malas; berusaha menghargai perempuan yang entah mengapa tetap tersenyum kepadanyamenyebalkan sekali. Dan meski direspon seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu itu tidak menampakkan kegoyahannya sama sekali. Ia justru terlihat bersemangat dan malah menuntun perempuan itu untuk mengikuti apa-apa yang dibacanya dari buku kecil itu. Mau tidak mau, perempuan tadi pun akhirnya ikut membacanya; meski dengan setengah hati.

Namun, tidak sampai lebih dari lima menit waktu yang dibutuhkan oleh perempuan itu untuk tetap terfokus pada bacaan dzikir paginya saat itu. Perlahan-lahan ia pun mulai goyah, mengedarkan pandangannya ke pojok-pojok surau seperti yang dilakukannya saat pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam surau sambil bergumam; berusaha tetap mengikuti bacaan yang dilakukan perempuan berkerudung merah jambu itu. Dan diakhir perjalanan pandangannya ke setiap pojok-pojok surau, perempuan itu justru memerhatikan perempuan berkerudung merah jambu yang sedang duduk sempurna di sampingnya.

Cukup banyak yang ia perhatikan saat itu. Mulai dari wajah, tangan, cara berbicara, dan bagian-bagian lainnya. Sesekali ia mengagumi sosok perempuan itu, terlebih karena struktur wajahnya yang terlihat tegas dan berkharisma. Ia mengakui, bahwa perempuan yang berada di sampingnya itu memiliki wajah yang cantikhidung mancung sedikit bengkok di ujungnya, kulit yang putih, alis tebal, bulu mata lentik, dan mata yang dalamyang entah mengapa terlihat seperti campuran arab-sunda. Gamis yang digunakannya pun tampak anggun dengan aksen sulaman di bagian bawahnya.

Dan diperhatikan begitu, perempuan berkerudung merah jambu itu pun menghentikan sejenak bacaannya, yang lalu kemudian bertanya. "Kenapa? Ada yang aneh dengan saya?" Sehingga sempurna membuat perempuan itu terkejut dan menjadi sedikit terbata-bata setelahnya.


- To be continued.
Read More
Published Sabtu, Mei 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Laskar Pemimpi #1

Seorang perempuan berjalan tergesa-gesa dari ujung persimpangan. Jalanan ibu kota dan gang-gang yang terlalu sempit membuatnya terlambat setengah jam dari waktu yang telah ditentukan. Sempat tersasar dan harus berputar-putar pada jalanan yang sama membuatnya menghabiskan hampir satu jam di perjalanan. Padahal, jarak rumahnya dengan surau tidaklah seberapa.


Langkah kakinya sudah ia buat selebar-lebarnya. Dari kejauhan, tampak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain masak-masakan; tertawa riang dengan beberapa diantara mereka yang tampak berloncatan di ujung-ujung serambi surau. Mungkin energi mereka masih tersisa banyak, karena saat itu waktu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh pagibegitu pikirnya. Tetapi, meskipun berpikir begitu, tiba-tiba saja ia merasa seperti dikerubungi rasa malu yang sangat luar biasa. Lihatlah, ia bahkan sudah merasa haus dan kelelahan hanya karena ia baru saja menghadapi macetnya jalanan ibu kota. Ia merasa kalah dengan mereka. Padahal, usia mereka jelas terpaut sangat jauh dengannya. Mungkin hampir lima belas tahun.


Belum genap rasa malunya itu hilang, tiba-tiba saja kakinya terasa kaku. Ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya, menghela napas sejenak, memijat-mijat betisnya, sebelum kemudian kembali mempercepat langkahnya. Butuh sekitar lima menit lebih untuknya berjalan mendekati serambi surau. Kini sekumpulan anak perempuan itu hanya berjarak sekitar seratus meter di hadapannya. Namun, karena perempuan itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, derap langkahnya pun menjadi terdengar cukup berat; membuat seorang anak yang duduknya paling dekat dengan pintu masuk surau langsung berlari menghampirinya sebelum ia sempat memijakkan kakinya di atas serambi surau.

"Kalau mau masuk, ucapin password-nya dulu! Kalau nggak tau, berarti kakak harus ngasih kami uang seratus ribu!" Ujar anak itu sambil memegangi sisi-sisi pintu masuk; berusaha menghalangi perempuan itu untuk sekedar masuk ke serambi surau. Sejenak perempuan itu termenung. Satu detik... dua detik.. tiga detik.. perempuan itu terus berpikir, sampai tiba-tiba sebuah kalimat terlintas di pikirannya.

"Assalamu'alaikum..." Jawab perempuan itu. Anak perempuan di hadapannya itu pun tertawa, melepaskan kedua tangannya dari sisi-sisi pintu masuk, lalu kemudian berlagak seperti seorang pramugari yang sedang mempersilahkan para penumpang untuk masuk ke dalam pesawat. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengelus-elus kepala anak kecil di hadapannya, yang lalu setelahnya tampak berjalan terseok-seok ke dalam surau. Rupanya tadi kaki kirinya sempat menabrak rak sepatu yang diletakkan di samping serambi ketika sedang berusaha melepaskan sepatu yang digunakannyayang entah mengapa tiba-tiba saja menjadi susah dilepaskan.

Sambil menahan rasa sakit yang timbul dari ujung kaki kirinya, ia pun memasuki surau dengan mengedarkan pandangannya ke ujung-ujung surau. Namun, belum genap seluruh pojokan surau ia perhatikan, tiba-tiba saja matanya tidak sengaja bertatapan dengan seorang perempuan lain yang tengah tersenyum tulus kepadanya; membuatnya secara tidak sadar ikut menyunggingkan senyum yang selama ini sempat hilang dari wajahnya.

Allah, akhirnya perempuan itu kembali tersenyum.

- To be continued.
Read More
Published Kamis, Maret 15, 2012 by

Serial-Fazila: Ada Bintang Jatuh?

“Eh, katanya sekolah kita bakal kedatangan anak baru. Dan anak baru itu bakal sekelas sama kita loh!”, teriak Fita dari atas meja guru, persis seperti orang yang sedang berdemo. Tapi dari 39 murid yang diteriaki, tidak ada satupun yang menjawab. Semua asyik dengan kesibukannya masing-masing. Hanya ada satu-dua orang yang menoleh, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggerombol dengan geng-nya masing-masing.

Tapi bukan Fita namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia pun kembali berkoar-koar sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.

“Anak baru itu namanya Cikita Lilly, yang suka nongol di TV itu looh!”

Teriakan kali ini ternyata lebih manjur dari yang sebelumnya. Suasana kelas I-3 yang sebelumnya sunyi senyap pun berubah drastis. Ada yang berteriak, ada yang joget-joget nggak karuan, ada pula yang menangis, entah apa alasannya. Fita yang masih setia di atas meja pun tersenyum puas sambil berdecak pinggang. Satu menit, dua menit, pertanyaan demi pertanyaanpun terlontar. Dengan gayanya yang sok elegan, Fita pun turun dari singgasananya dan langsung menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar bak artis yang sedang diwawancarai.

Kabar kedatangan Cikita Lilly ke SMA 44 pun langsung menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Tidak hanya penghuni tetap saja, tetapi abang-abang becak, mbak-mbak kantin, sampai pedagang-pedagang kaki lima pun tahu kabar ini. Mereka para mbak-mbak kantin yang ngakunya terbelakang soal biaya tapi tetap gaul itu pun heboh mempersiapkan segala macamnya. Dari mandi pake kembang tujuh rupa sampai make up yang katanya bisa sedikit memperbaiki wajah. Padahal, lebih mirip ondel-ondel daripada terlihat makin cantik. Abis, menor gituu...

Tapi jelas, diantara mereka-mereka yang sibuk berlomba-lomba mempersiapkan kedatangan Cikita ke sekolah, kelas I-3 lah yang terlihat paling sibuk. Bukan hanya sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing, tetapi mereka juga sibuk menghebohkan kelas lain. Bagaimana tidak? Menurut sumber yang terpercaya, kepala sekolah akan menempatkan Cikita di kelas mereka. Tentu saja ini membuat iri kelas lain.

Walaupun begitu, dari beribu-ribu murid yang tampak heboh dengan segala sesuatunya, ternyata ada secuil murid yang cuek, atau malah terkesan masa bodo dengan kedatangan artis yang lagi ngetop-ngetopnya itu. Kalau kita tanya alasannya, pasti mereka dengan santai menjawab, Lah, sama-sama manusia, makan nasi juga, ngapain sampe heboh gitu, ya toh? 

Sebenarnya kalau kita mau berfikir sedikit, pendapat mereka juga banyak benarnya. Artis kan juga manusia. Sama-sama makan nasi walaupun kadang lauk-pauknya terlihat berkelas. Sama-sama manusia ciptaan Allah. Pokoknya banyak kesamaannya deh dengan orang bias. Tapi ya, walaupun begitu, artis tetap saja artis. Memiliki penggemar atau umumnya disebut  fans merupakan hal yang wajar bagi dunia per-artisan.
* * * * * *
“Mereka itu norak!”, komentar Tami saat jam kosong. Bu Dian, guru mata pelajaran Biologi yang seharusnya sekarang mengajar sedang berhalangan hadir.

“Setuju!”, jawab Tika antusias. Tangannya yang mengepal diangkatnya ke atas, persis seperti orang-orang yang sedang berdemo. Untung saat itu kelas sedang sepi.

“Mereka kayak nggak pernah ketemu artis aja ya!”, balas Fina, gadis subur yang baru sebulan ini memantapkan diri untuk memakai jilbab. Kedua tangannya sibuk menggenggam berbagai macam jenis coklat.

“Emang kamu pernah ketemu sama artis? Dimana? Dimana?”, kali ini Tika memasang wajah serius. Tangannya yang cukup lama terangkat itu pun dilipatnya di atas meja.

“Penyah dong! Di TV kan seying!”, jawab Fina mantap sambil mengunyah coklat. Fina yang sudah capek-capek serius langsung memasang wajah kecewa. Sedangkan Fazila yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bertiga pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Diantara keempat cewek berjilbab ini, memang Fazila lah yang paling terkesan pendiam. Mau bagaimana lagi? Ketiga temannya itu kelewat cerewetnya. Satu kalimat saja bisa jadi bahan obrolan sehari semalam.

“Udah ah, jangan ngomongin orang mulu. Cikitanya aja belum tentu dateng, udah pada heboh gitu”, kali ini Fazila ambil suara. Ditatapnya wajah teman-temannya sambil tersenyum.

“Ah kamu, ini masalah penting tau!”, jawab Tika dibarengi anggukan kedua temannya. Mereka terlihat gemas dengan sikap tenang Fazila. Dikroyok begitu, Fazila hanya cengengesan yang tentu membuat ketiga temannya bertambah gemas.

“Pentingan mana sama tugas bu Dian? Jam kosong begini jangan dibuat ngerumpi dong!”, balas Fazila sambil ngeloyor pergi meninggalkan ketiga temannya yang terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, terdengar suara koor teriakan mereka.

“Jangan dikumpulin dulu dooong, belum nyontek niih..!!!”
* * * * *
“Fazila nggak setia kawan nih!”
“Iya, setuju!”
“Setuju banget!”

Serempak ketiga jilbaber itu berdemo kecil-kecilan sesaat setelah disetrap oleh bu Dian karena tidak mengumpulkan tugas. Fazila hanya tertawa kecil menanggapi sikap ketiga temannya. Mereka pun jadi semakin jengkel. Melihat perubahan sikap dan wajah ketiga temannya yang semakin menyeramkan, Fazila pun angkat bicara.

“Iya deh maaf, habis kalian ngerumpinya nggak berhenti-berhenti sih”

Tika, yang paling jengkel dengan Fazila gara-gara bu Dian menambahkan hukumannya karena ketahuan memiliki kuku yang panjang pun buru-buru menjawab.

“Tapi kan nggak usah pake pelit cotekan gitu!”

Fazila langsung diam melihat Tami dan Fina yang mengangguk dan mendukung penuh kalimat Tika barusan. Sebenarnya, Fazila bukannya sengaja membuat ketiga temannya itu di hukum oleh bu Dian. Ia hanya ingin membuat mereka tidak selalu mengandalkan contekan. Hanya saja, mungkin bukan di waktu yang tepat.

“Iya deh maaf”, jawab Fazila tertunduk. Serempak ketiga temannya itu tertawa.
“Bercanda kaliiii..”
“Kita nggak semarah itu kok! Cuma lain kali jangan pelit contekan gitu dong!”

Fazila pun terdiam, bingung. Kejadian lima menit setelah itu juga membuat Fazila bertambah bingung. Namun kali ini, Fazila tidak sendirian. Ketiga temannya yang sejak tadi menertawakan Fazila juga ikut bingung. Mungkin malah lebih bingung dibandingkan dengan kebingungan yang dialami oleh Fazila. Saking bingungnya, mereka jadi terlihat membingungkan. Nah lhoo, kalian ikut bingung juga nggak? Hihi...

Kembali ke topik cerita. Yang membuat keempat gadis remaja itu bingung adalah kejadian di luar kelas yang dengan tidak sengaja mengundang perhatian mereka. Dari arah ruang Kepala Sekolah, tampak Fita sedang berlari diikuti gerombolan murid-murid dari berbagai kelas. Sepertinya dari kelas satu sampai tiga ada.

“Ada apaan sih?”, tanya Tika yang sudah nangkring di depan kelas. Kebetulan, saat itu Agus sang ketua kelas sedang berhenti di depan kelas sambil berdecak pinggang.

“Cikita Lilly yang selama ini jadi bahan omongan ternyata bukan artis! Mending kalo cakep, nah ini mukanya berbintang!”, jawab Agus sambil mengatur nafasnya yang naik turun nggak karuan. Wajahnya yang agak putih berubah menjadi merah karena saking marahnya.

“Lah terus kenapa Fita yang dikejer-kejer gitu? Kan katanya dia dapet informasi dari sumber yang terpercaya”, tanya Fina menimpali. Jilbabnya yang menjuntai ke bawah diikatnya di leher.

Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal, Agus pun menjawab dengan nada ketus. “Orang yang Fita sebut sumber yang terpercaya itu ya Fita sendiri! Dia cuma nggak sengaja nguping pembicaraannya Kepala Sekolah sama guru-guru!”.

“oooo..”
“Bantuin Fita dong, kasian tuh, kamu kan ketua kelas”, ujar Fazila menimpali. Raut wajahnya tampak prihatin.

“Ogah ah! Gue udah kesel berat!”, jawab Agus sambil ngeloyor pergi. Tampaknya memang Agus termasuk orang yang paling dirugikan dari kejadian ini. Maklum, Agus termasuk salah satu fans beratnya Cikita. Terlebih lagi, doi udah rela menghabiskan uang jajannya di salon untuk menyambut kedatangan sang bintang remaja itu.

“Trus gimana dong?”, Tami yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun buka suara. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ini menandakan bahwa Tami sedang berfikir keras.

“Yah, berhubung Agus udah nggak bisa diandalkan lagi. Berarti kita yang harus membantu Fita”, jawab Fazila sambil berjalan menghampiri kerumunan pada demonstran itu. Bukannya ikut menghampiri, ketiga gadis modis itu malah saling berpandangan. Satu menit, dua menit, terdengar teriakan koor mereka.

“Kita bantu dengan doa yaa..!!”

Saat itu juga, Fazila langsung berbalik badan dan menatap sinis ketiga temannya itu. Ditatap begitu, bukannya menghampiri, mereka malah ngacir tak tentu arah. Fazila pun hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung ketiga temannya yang berlari dengan arah yang berbeda-beda.


To be continued.
Read More
Published Minggu, Februari 19, 2012 by

Ingatan Masa Lalu (bagian 1)

Sore itu, langit begitu gelap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30. Tapi, suasana sekitar perumahanku sudah tampak seperti malam. Dzaaar!! Terdengar suara petir menyambar dengan kerasnya. Tubuhku menggigil, takut. Ku raih selimut untuk menutupi wajahku. Namun, petir kembali menyambar. Yang ini lebih keras dari sebelumnya. Badanku seperti membeku. Padahal AC di kamarku sudah kumatikan. Terbayang kembali peristiwa sepuluh tahun lalu, peristiwa yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku.

Waktu itu, aku dan keluargaku hendak pergi ke Jakarta untuk berlibur. Tidak ada perasaan atau prasangka yang buruk akan hari itu. Sepanjang perjalanan, kami bercanda ria dan tertawa. Hingga akhirnya sebuah truk dari arah berlawanan hilang kendali sehingga menabrak bagian depan mobil kami. Aku yang masih berumur tujuh tahun hanya diam. Bibirku terasa kaku, aku ingin berteriak. Tapi tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibirku. Aku merasa takut, benar-benar takut saat itu.

Truk itu telah merenggut kebahagiaanku! Kebahagiaan kami! Tak henti-hentinya aku menangis ketika melihat kedua orang tuaku telah terbujur kaku. Aku memang masih sangat kecil waktu itu. Tapi aku tahu, kalau kedua orang tuaku kini telah meninggalkanku. Kedua kakakku sedang mengalami masa kritis. Aku sangat takut. Begitu takut. Apa yang harus aku lakukan jika aku nantinya tidak memiliki siapa-siapa lagi? Dengan siapa aku harus berbagi kisah? Tetapi, Allah masih baik padaku. Kedua  kakakku masih bisa diselamatkan walaupun kini kondisinya masih sangat parah.

Tapi aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Ah, andai saja waktu itu aku tidak memaksa ayah untuk berlibur ke Jakarta, pasti tidak akan begini jadinya. Sampai sekarangpun, jika aku kembali meningat akan kejadian itu, aku pasti akan menangis. Aku rindu, rindu sekali dengan kedua orang tuaku.

“Re, kamu kenapa?”, tanya kak Rian membuyarkan lamunanku.

“Rere takut kak, Rere takut.. Peluk Rere kak, peluk..”, jawabku sambil terus meringkuk di atas tempat tidurku. Aku masih merasa takut, kedinginan, dan badanku masih menggigil.

“Kamu keinget peristiwa itu lagi ya?”, tanya kak Rian lembut. Tangannya membelai rambutku.

“Iya kak.. Rere, Rere takut.. Rere juga kangen kak..”, jawabku. Air mataku terus saja mengalir di kedua pipiku. Kejadian itu, benar-benar terbayang jelas di pikiranku.

“Sabar sayang.. Udah ya? Nggak usah di pikirin lagi.. Udah adzan tuh, sholat dulu yuk?”, ajak kak Rian sambil menggapai tanganku, menyuruhku berdiri dengan lembut.

Setelah berwudhu, aku merasa lebih tenang. Badanku sudah berhenti menggigil walaupun aku masih merasa kedingingan. Dalam sujudku, aku menangis. Sampai saat kak Rian selesai berdoa, aku masih menangis. Berdoa untuk kedua orang tuaku agar mereka ditempatkan di sisi-Nya. Kak Rian yang melihatku menangis hanya bisa menatapku. Hatinya mungkin juga menangis.

Ku usap kedua air mataku. Ku tatap kak Rian yang sedang tersenyum di hadapanku.

“Mau baca Qur’an sayang? Biar hatimu lega..”, kata kak Rian sambil menyodorkan Al-Qur’an padaku.

“Iya kak..”, jawabku sambil meraih Al-Qur’an di tangan kak Rian. Kak Rian tersenyum.

“Yaudah, habis baca Qur’an, ke ruang makan ya?”
“Iya kak..”

Aku pun memulai membaca ayat demi ayat. Ku lantunkan bacaan-bacaan indah itu dengan sangat tenang. Ya, hatiku merasa jauh lebih tenang. Ku sempatkan pula membaca arti dari ayat-ayat yang telah ku baca tadi. Sungguh, aku menjadi sangat tenang. Aku bisa mengontrol emosiku sehingga tidak ada lagi air mata yang mengalir di kedua pipiku. Terima kasih Ya Allah, Engkau perkenalkan aku dengan ayat seindah ini, ucapku dalam hati.

Setelah melipat mukenah, sajadah, dan menaruh Al-Qur’an, aku pun keluar kamar menuju ruang makan. Di sana kak Rian sudah menungguku, begitu pula dengan istrinya. Ku lahap dengan perlahan makanan yang telah di sediakan. Alhamdulillah..

“Kak, aku mau sholat isya dulu ya. Habis itu aku mau langsung tidur..”, kataku sambil meraih peralatan makan yang ada di hadapanku.

“Kakak saja yang nyuci ya, kamu langsung sholat saja..”, katanya lembut sambil mengibas lembut kedua tanganku. Ku pandang kak Rian yang masih makan. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum. Ku balas senyumannya dan langsung mengambil air wudhu.

Selesai sholat, aku langsung membaringkan badanku di kasur. Capek rasanya mata ini setelah cukup lama menangis. Ku pejamkan kedua mataku. Namun, kejadian itu, kejadian sepuluh tahun lalu kembali merasuki pikiranku.

“Kaaaak.. Kak Riaaan!”, teriakku. Suaraku serak, mungkin karena aku menangis.
“Apa sayang? Kok teriak-teriak?”, tanyanya lembut sembari mengusap air mataku.
“Rere.. Takut lagi.. Kejadian itu.. Kejadian itu..”, jawabku sambil terus menangis.

“Yaudah sini sayang, malam ini kakak tungguin deh sampai Rere tidur. Tapi jangan takut lagi ya? Nggak ada apa-apa kok. Lagian ada kak Rian di sini..”, balas kak Rian menenangkanku. Ia tersenyum. Ku pandang dalam-dalam wajah Kak Rian. Tuhan, rasanya aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan kak Rian. Seperti halnya Kau memisahkanku dengan kedua orang tuaku, batinku. Dan saat itu pula, air mataku mengalir kembali.

Malam itu, benar-benar malam yang menakutkan untukku. Petir menyambar dengan sangat kerasnya. Hujan pun turun dengan sangat derasnya, benar-benar deras. Mungkin, alam tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.


To be continued.
Read More