Published Rabu, September 12, 2012 by

Ulasan Cerpenku oleh FAM Indonesia

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerpen “tanpa judul” karya Hannan Izzaturrofa, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Purwokerto. Ya, cerpen ini benar-benar tidak berjudul, disengaja oleh penulisnya dan diserahkan ke Tim FAM untuk diulas. Tentu diharapkan nanti cerpen ini diberikan judul. Ibarat tubuh manusia, judul adalah kepalanya. (Sebenernya berjudul, hanya saja judulnya aku jadikan nama file untuk menyimpan naskah cerpen ini-Hannan Izzaturrofa)  

Cerpen ini berkisah tentang Dido, seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental. Ia sulit berbicara. Tentu saja ini menjadi kekhawatiran orangtuanya. Bagaimanapun, orangtua pasti ingin anaknya lahir dalam keadaan normal dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Namun hal ini tidak terjadi dalam keluarga miskin, yang seharinya-harinya mengais rejeki dengan menjadi pembantu di kediaman pak Suryo.

Ada sebuah pesan yang menarik yang diungkapkan penulis dalam cerpen ini. Diceritakan, ayah Dido sangat marah ketika Dido dihina oleh Tuan Suryo. Ia rela jika dirinya dihina, tapi tidak untuk anaknya. Ini adalah sebuah pesan yang ditujukan bagi siapa pun yang memiliki anak dalam kondisi tidak normal bahwa sebagai orangtua yang baik seharusnya tetap memperlakukan anaknya dengan baik. Jika kita lihat, banyak orangtua yang merasa malu memiliki anak cacat, bahkan ada yang tega membuang dan tidak mengakui anaknya.

Pemilihan kata yang digunakan oleh penulis cukup bagus. Teknik penulisannya juga. Hanya saja, ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan EYD. Misalnya kata ‘ditangannya’ pada paragraf ketiga, seharusnya ditulis ‘di tangannya’. Penulisan kata ‘di’ jika diikuti kata tempat adalah dipisah.

Secara keseluruhan cerpen ini baik, termasuk juga dalam segi ide cerita. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin membaik.
Semangat berkarya!

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

CERPEN (TANPA MENYERTAKAN JUDUL)
Oleh Hannan Izaturrofa
IDFAM861S Anggota FAM Purwokerto

Pagi itu memang pagi yang indah. Anak-anak yang seharusnya tahu diri membantu orang tuanya malah masih tertidur pulas bercengkerama dengan mimpi masing-masing. Suara adzan subuh yang terdengar lantang itu hanya mampu membuat mereka sedikit bergerak, lalu kembali tertidur pulas. Berbeda sekali dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu.

Anak itu sedang sibuk memetik buah apel berwarna hijau di kebun milik majikannya, Tuan Suryo. Wajahnya serius. Dengan susah payah, tangan kanannya berusaha meraih buah apel tertinggi. Gesit. Terampil tangannya meraih. Ia tersenyum, mengumpulkan apel-apel yang terjatuh, kemudian kembali mencari buah apel yang cukup matang untuk dipetik. Ia cekatan dan sangat teliti.

10 menit. Ia masih sibuk. Malangnya, tumpuan kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya yang tidak seimbang. GUBRAK! Seketika itu juga apel-apel hijau ditangannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa kayu-kayu. Ia tidak menangis, hanya meringis menahan sakit. Tangan dan kakinya terluka.

“Baaa.. Maa…”, teriak anak itu. Ia merangkak, berusaha bangkit. Tangan dan kakinya terasa perih.

Dari kejauhan, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya penuh guratan-guratan lelah. Kulitnya hitam legam, terlalu lama terbakar sinar matahari. Wajahnya ramah, sangat bersahabat. Walaupun seketika berubah menjadi cemas.

Dengan sigap, digendongnya anak itu menuju gubuk tua yang tidak jauh dari situ. Gubuk itu memang sudah tua. Pondasinya sudah rapuh, dengan kayu-kayu yang sudah berlubang di sana-sini. Bukan cinta alasan yang tepat untuk tinggal di gubuk tua itu, namun karena tidak memiliki uang lebih untuk membangun gubuk yang lebih layak. Untuk membeli makan saja masih harus berhutang.

Dengan kain abu-abu tua dan air seadanya, dibersihkannya luka-luka itu. Cepat, namun berhati-hati. Anak itu tertawa. Tangannya terangkat meraih. Rupanya ia ingin mengobati lukanya sendiri. Pria itu menggeleng, lalu tersenyum. Tahu keinginannya tidak dituruti, anak itu sontak menangis. Meronta-ronta, menarik-narik apa saja yang ada di hadapannya.

Setelah sekian lama meronta-ronta, anak itu lalu terdiam. Lelah. Ia malah sibuk memandangi luka-lukanya. Mungkin ia terheran mengapa luka itu bisa ada di tubuhnya. Atau mungkin juga sedang mencari tahu mengapa luka-luka itu bisa memerah, terasa sakit ketika disentuh, atau yang lainnya.

“Apa yang terjadi dengan Dido?”, terdengar suara serak parau dari arah dapur. Seorang wanita dengan sehelai kain yang menutupi kepalanya menghampiri dengan senyum yang agak dipaksakan. Wajahnya tidak kalah lelah dengan pria tadi.

“Dido terjatuh. Tangan dan kakinya terluka. Tapi sudah diobati”, jawab pria itu seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Masih sakit?”, tanya wanita itu lembut. Dido mengangguk pelan, menunjukkan tangan dan kakinya yang masih memerah.

“Sebentar lagi pasti sembuh. Ini tidak akan lama”, ucap wanita itu sambil tersenyum. Diambilnya sepiring nasi dan lauk seadanya dari atas meja tua.

“Baaa.. Maa..”, teriak Dido girang. Lahap sekali ia makan. Sepiring nasi aking dan bayam goreng.
***
7 tahun silam. Ketika itu langit masih berwarna kemerah-merahan. Seorang wanita dengan pakaiannya yang lusuh sedang bermain bersama anak semata wayangnya. Tampak di sudut matanya sebuah kekhawatiran. Di ujung sana, sekumpulan wanita paruh baya sedang menyuapi anak-anaknya yang terus berlarian entah kemana. Ada yang berteriak, ada yang saling lempar, dan ada pula yang duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Mereka semua tertawa, menikmati sisa-sisa sinar matahari yang masih ada.

Ada sebersit rasa iri di benak wanita itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Dibelainya kepala anaknya yang masih sibuk dengan gumpalan tanah. Sesekali anak itu berteriak, melempar seluruh tanah yang digenggamnya. Tidak peduli jika tanah yang dilemparnya itu mengenai matanya. Ia hanya tertawa, mengucek-ngucek matanya yang memerah, lalu kembali bermain dengan tanah-tanah itu.

Ya Allah, mengapa anakku berbeda?

Dido, anak semata wayang yang dulu diharapkannya tidak seperti anak-anak lainnya. Entahlah, Dido tidak bisa berbicara dengan lancar. Bibir mungilnya hanya bisa mengucapkan kata ‘Maa’ dan ‘Baa’ setiap kali ia ingin berbicara. Dido juga mengalami keterbatasan mental. Sebuah kenyataan yang buruk jika melihat kondisi keluarganya yang pas-pasan.

Keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalimat itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir dari-Nya.
***
“Itu apel milikku!”, teriak seorang anak laki-laki dari balik pintu bangunan yang megah. Dengan sigap, ia berlari menghampiri Dido dan langsung merebut karung gandum itu. Kasar sekali. Wajahnya tampak garang. Apel-apel di dalam karung gandum itu ditumpahkannya ke tanah.

“Baa.. Maa..”, merasa terganggu, Dido berteriak. Tangannya berusaha mengumpulkan apel-apel yang jatuh ke tanah. Tapi anak itu menghalaunya. Dido menggeram keras.

“Ini apel milikku! Kau tidak boleh mengambilnya!”
“Baa.. Maa..”

Dido menangis. Ia meronta-ronta. Anak laki-laki yang merebut apel-apel itu tertawa mengejek. Dengan santai, ia memakan apel-apel itu, lalu melempari Dido dengan sisa apel yang dimakannya. Kali ini Dido merasa sangat terganggu. Dengan cepat, ia mengambilnya batu di sekitarnya.

Sepersekian detik, batu itu mendarat tepat mengenai pelipis mata anak itu. Sontak ia menangis, berteriak memanggil ayahnya. Lima menit. Seorang pria berkulit putih bersih keluar dari pintu bangunan mewah itu. Berjalan dengan gagah, namun tampak sombong. Wajahnya merah padam.

“Apa yang kau lakukan dengan anakku!”, bentaknya. Ia lalu mendorong Dido keras. Terjerembab. Lukanya yang sudah agak mengering basah kembali.

“Baa.. Maa..”

“Jangan sakiti anakku tuan”, suara lantang itu memecah, terdengar jelas. Pria berkulit hitam itu melangkah menghampiri Dido yang sedang meringis kesakitan.

“Kau membelanya? Apa yang bisa kau banggakan dari anakmu yang cacat ini?!”, hardiknya keras. Jari telunjuknya teracung-acung ke depan.

Sontak saja pria berkulit hitam itu marah. Wajahnya memerah, menggeram garang. Bukan karena keadaannya yang miskin. Bukan. Ia marah karena Dido, anak semata wayangnya dihina. Tidak ada yang boleh menghina Dido.

“Tuan tidak boleh menghina Dido!”, teriaknya lantang. Ditariknya Dido menjauh.

“Akan saya kurangi gaji kau karena telah melawanku!”, teriak Tuan Suryo. Pria itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan beriringan dengan Dido meninggalkan Tuan Suryo dan anaknya.

“Baa.. Maa..”, Dido melawan. Ia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam pria itu. Tuan Suryo dan anaknya sudah berbalik. Dido membungkuk. Diraihnya sisa-sisa apel tadi.
***
“Darimana kau dapatkan apel itu Dido!”, hardik wanita itu. Dengan keras ia menggenggam dan memukul lengan Dido dengan ranting sisa kayu bakar. Sakit. Dido berteriak meronta-ronta. Genggaman itu semakin kuat. Dido berusaha melepaskan genggaman itu.

“Diam! Siapa yang mengajarimu untuk menjadi seorang pencuri! Kau mau memberi Ibu apel hasil curian?!”

“Baa.. Maa..”, tangisan Dido semakin mengeras. Ia kembali meronta-ronta, berteriak mencari pertolongan. Pria yang sedari tadi memperhatikan Dido dan wanita itu hanya bisa meringis mengelus dada. Ia ingin membela, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.

“Kembalikan apel itu! Ayo kembalikan!”, dengan keras, wanita itu menarik lengan Dido keluar rumah. Dido kembali meronta-ronta namun tidak dipedulikan.

Baru beberapa langkah, kaki wanita itu terhenti ketika melihat sebuah pohon apel yang baru dilihatnya. Pohon itu tumbuh tidak jauh dari gubuk tuanya. Tampak cukup besar, namun ia sama sekali tidak menyadari keberadaan pohon itu. Ditatapnya pohon apel itu lumat-lumat. Genggaman tangannya perlahan terlepas. Dido yang merasa sudah terbebas itupun langsung berlari menghampiri pohon apel itu.

“Baa.. Maa..”, teriaknya sambil melambai-lambai.

Wanita itu menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya.

“Mengapa ada pohon apel tumbuh di situ? Bukankah batas kebun milik Tuan Suryo ada di depan rumah kita? Ini kan diluar jalur mereka”, tanya wanita itu terheran-heran.

“Itu bukan milik Tuan Suryo”, jawab pria itu. Pandangannya lurus menatap Dido.
“Maksudnya?”

Pria itu tidak menjawab. Ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Dido yang masih berteriak, tertawa-tertawa. Wanita itu semakin penasaran. Diikutinya langkah suaminya itu.

“Dido yang menanamnya. Ia menanamnya dari sisa apel yang dibuang oleh anak Tuan Suryo. Dia yang merawatnya. Ia sangat sayang padamu. Ia tahu kau sangat menyukai buah apel”

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh wanita itu bergetar. Air matanya tak mampu dibendung lagi, mengalir deras. Tubuhnya melemas. Ia tersungkur persis di depan Dido.

“Baa.. Maa..”, ucap Dido menghampiri. Dijulurkannya buah apel yang baru dipetiknya. Dido tersenyum, manis sekali.

Tangis wanita itu semakin keras. Dipeluknya tubuh Dido. Ia masih bergetar.

Wanita itu tersadar. Sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan, Dido bukanlah seorang pencuri seperti yang ia kira. Dido bukan seorang pengecut. Keterbatasan ternyata tidak menghambat keinginannya untuk memetikkan buah apel, hadiah untuknya. Betapa bodohnya ia, tidak menyadari kesibukan Dido selama ini. Yang ia tahu, Dido hanya bermain dan terus bermain. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Dido telah bersusah payah untuk menanamkan pohon apel untuknya.

Ia sangat menyesal dengan tindakannya. Sangat menyesal. Lihatlah. Dido masih mau dipeluknya. Ia masih mau tersenyum, bahkan kembali memetikkan buah apel untukknya. Padahal, luka di lengannya masih mengeluarkan darah. Perih sekali.

“Maaf sayang.. Maafkan Ibu.. Ibu sayang Dido..”, sesalnya.

“Tidak usah menangis. Lihatlah, Dido tidak suka dengan raut wajahmu yang terlihat sedih”, ucap pria itu. Dibopongnya tubuh wanita itu, bangun.

Ibu sayang Dido.. Ibu akan selalu menjaga Dido.. Sekuat Ibu.
Read More
Published Kamis, Maret 15, 2012 by

Serial-Fazila: Ada Bintang Jatuh?

“Eh, katanya sekolah kita bakal kedatangan anak baru. Dan anak baru itu bakal sekelas sama kita loh!”, teriak Fita dari atas meja guru, persis seperti orang yang sedang berdemo. Tapi dari 39 murid yang diteriaki, tidak ada satupun yang menjawab. Semua asyik dengan kesibukannya masing-masing. Hanya ada satu-dua orang yang menoleh, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggerombol dengan geng-nya masing-masing.

Tapi bukan Fita namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia pun kembali berkoar-koar sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.

“Anak baru itu namanya Cikita Lilly, yang suka nongol di TV itu looh!”

Teriakan kali ini ternyata lebih manjur dari yang sebelumnya. Suasana kelas I-3 yang sebelumnya sunyi senyap pun berubah drastis. Ada yang berteriak, ada yang joget-joget nggak karuan, ada pula yang menangis, entah apa alasannya. Fita yang masih setia di atas meja pun tersenyum puas sambil berdecak pinggang. Satu menit, dua menit, pertanyaan demi pertanyaanpun terlontar. Dengan gayanya yang sok elegan, Fita pun turun dari singgasananya dan langsung menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar bak artis yang sedang diwawancarai.

Kabar kedatangan Cikita Lilly ke SMA 44 pun langsung menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Tidak hanya penghuni tetap saja, tetapi abang-abang becak, mbak-mbak kantin, sampai pedagang-pedagang kaki lima pun tahu kabar ini. Mereka para mbak-mbak kantin yang ngakunya terbelakang soal biaya tapi tetap gaul itu pun heboh mempersiapkan segala macamnya. Dari mandi pake kembang tujuh rupa sampai make up yang katanya bisa sedikit memperbaiki wajah. Padahal, lebih mirip ondel-ondel daripada terlihat makin cantik. Abis, menor gituu...

Tapi jelas, diantara mereka-mereka yang sibuk berlomba-lomba mempersiapkan kedatangan Cikita ke sekolah, kelas I-3 lah yang terlihat paling sibuk. Bukan hanya sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing, tetapi mereka juga sibuk menghebohkan kelas lain. Bagaimana tidak? Menurut sumber yang terpercaya, kepala sekolah akan menempatkan Cikita di kelas mereka. Tentu saja ini membuat iri kelas lain.

Walaupun begitu, dari beribu-ribu murid yang tampak heboh dengan segala sesuatunya, ternyata ada secuil murid yang cuek, atau malah terkesan masa bodo dengan kedatangan artis yang lagi ngetop-ngetopnya itu. Kalau kita tanya alasannya, pasti mereka dengan santai menjawab, Lah, sama-sama manusia, makan nasi juga, ngapain sampe heboh gitu, ya toh? 

Sebenarnya kalau kita mau berfikir sedikit, pendapat mereka juga banyak benarnya. Artis kan juga manusia. Sama-sama makan nasi walaupun kadang lauk-pauknya terlihat berkelas. Sama-sama manusia ciptaan Allah. Pokoknya banyak kesamaannya deh dengan orang bias. Tapi ya, walaupun begitu, artis tetap saja artis. Memiliki penggemar atau umumnya disebut  fans merupakan hal yang wajar bagi dunia per-artisan.
* * * * * *
“Mereka itu norak!”, komentar Tami saat jam kosong. Bu Dian, guru mata pelajaran Biologi yang seharusnya sekarang mengajar sedang berhalangan hadir.

“Setuju!”, jawab Tika antusias. Tangannya yang mengepal diangkatnya ke atas, persis seperti orang-orang yang sedang berdemo. Untung saat itu kelas sedang sepi.

“Mereka kayak nggak pernah ketemu artis aja ya!”, balas Fina, gadis subur yang baru sebulan ini memantapkan diri untuk memakai jilbab. Kedua tangannya sibuk menggenggam berbagai macam jenis coklat.

“Emang kamu pernah ketemu sama artis? Dimana? Dimana?”, kali ini Tika memasang wajah serius. Tangannya yang cukup lama terangkat itu pun dilipatnya di atas meja.

“Penyah dong! Di TV kan seying!”, jawab Fina mantap sambil mengunyah coklat. Fina yang sudah capek-capek serius langsung memasang wajah kecewa. Sedangkan Fazila yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bertiga pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Diantara keempat cewek berjilbab ini, memang Fazila lah yang paling terkesan pendiam. Mau bagaimana lagi? Ketiga temannya itu kelewat cerewetnya. Satu kalimat saja bisa jadi bahan obrolan sehari semalam.

“Udah ah, jangan ngomongin orang mulu. Cikitanya aja belum tentu dateng, udah pada heboh gitu”, kali ini Fazila ambil suara. Ditatapnya wajah teman-temannya sambil tersenyum.

“Ah kamu, ini masalah penting tau!”, jawab Tika dibarengi anggukan kedua temannya. Mereka terlihat gemas dengan sikap tenang Fazila. Dikroyok begitu, Fazila hanya cengengesan yang tentu membuat ketiga temannya bertambah gemas.

“Pentingan mana sama tugas bu Dian? Jam kosong begini jangan dibuat ngerumpi dong!”, balas Fazila sambil ngeloyor pergi meninggalkan ketiga temannya yang terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, terdengar suara koor teriakan mereka.

“Jangan dikumpulin dulu dooong, belum nyontek niih..!!!”
* * * * *
“Fazila nggak setia kawan nih!”
“Iya, setuju!”
“Setuju banget!”

Serempak ketiga jilbaber itu berdemo kecil-kecilan sesaat setelah disetrap oleh bu Dian karena tidak mengumpulkan tugas. Fazila hanya tertawa kecil menanggapi sikap ketiga temannya. Mereka pun jadi semakin jengkel. Melihat perubahan sikap dan wajah ketiga temannya yang semakin menyeramkan, Fazila pun angkat bicara.

“Iya deh maaf, habis kalian ngerumpinya nggak berhenti-berhenti sih”

Tika, yang paling jengkel dengan Fazila gara-gara bu Dian menambahkan hukumannya karena ketahuan memiliki kuku yang panjang pun buru-buru menjawab.

“Tapi kan nggak usah pake pelit cotekan gitu!”

Fazila langsung diam melihat Tami dan Fina yang mengangguk dan mendukung penuh kalimat Tika barusan. Sebenarnya, Fazila bukannya sengaja membuat ketiga temannya itu di hukum oleh bu Dian. Ia hanya ingin membuat mereka tidak selalu mengandalkan contekan. Hanya saja, mungkin bukan di waktu yang tepat.

“Iya deh maaf”, jawab Fazila tertunduk. Serempak ketiga temannya itu tertawa.
“Bercanda kaliiii..”
“Kita nggak semarah itu kok! Cuma lain kali jangan pelit contekan gitu dong!”

Fazila pun terdiam, bingung. Kejadian lima menit setelah itu juga membuat Fazila bertambah bingung. Namun kali ini, Fazila tidak sendirian. Ketiga temannya yang sejak tadi menertawakan Fazila juga ikut bingung. Mungkin malah lebih bingung dibandingkan dengan kebingungan yang dialami oleh Fazila. Saking bingungnya, mereka jadi terlihat membingungkan. Nah lhoo, kalian ikut bingung juga nggak? Hihi...

Kembali ke topik cerita. Yang membuat keempat gadis remaja itu bingung adalah kejadian di luar kelas yang dengan tidak sengaja mengundang perhatian mereka. Dari arah ruang Kepala Sekolah, tampak Fita sedang berlari diikuti gerombolan murid-murid dari berbagai kelas. Sepertinya dari kelas satu sampai tiga ada.

“Ada apaan sih?”, tanya Tika yang sudah nangkring di depan kelas. Kebetulan, saat itu Agus sang ketua kelas sedang berhenti di depan kelas sambil berdecak pinggang.

“Cikita Lilly yang selama ini jadi bahan omongan ternyata bukan artis! Mending kalo cakep, nah ini mukanya berbintang!”, jawab Agus sambil mengatur nafasnya yang naik turun nggak karuan. Wajahnya yang agak putih berubah menjadi merah karena saking marahnya.

“Lah terus kenapa Fita yang dikejer-kejer gitu? Kan katanya dia dapet informasi dari sumber yang terpercaya”, tanya Fina menimpali. Jilbabnya yang menjuntai ke bawah diikatnya di leher.

Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal, Agus pun menjawab dengan nada ketus. “Orang yang Fita sebut sumber yang terpercaya itu ya Fita sendiri! Dia cuma nggak sengaja nguping pembicaraannya Kepala Sekolah sama guru-guru!”.

“oooo..”
“Bantuin Fita dong, kasian tuh, kamu kan ketua kelas”, ujar Fazila menimpali. Raut wajahnya tampak prihatin.

“Ogah ah! Gue udah kesel berat!”, jawab Agus sambil ngeloyor pergi. Tampaknya memang Agus termasuk orang yang paling dirugikan dari kejadian ini. Maklum, Agus termasuk salah satu fans beratnya Cikita. Terlebih lagi, doi udah rela menghabiskan uang jajannya di salon untuk menyambut kedatangan sang bintang remaja itu.

“Trus gimana dong?”, Tami yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun buka suara. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ini menandakan bahwa Tami sedang berfikir keras.

“Yah, berhubung Agus udah nggak bisa diandalkan lagi. Berarti kita yang harus membantu Fita”, jawab Fazila sambil berjalan menghampiri kerumunan pada demonstran itu. Bukannya ikut menghampiri, ketiga gadis modis itu malah saling berpandangan. Satu menit, dua menit, terdengar teriakan koor mereka.

“Kita bantu dengan doa yaa..!!”

Saat itu juga, Fazila langsung berbalik badan dan menatap sinis ketiga temannya itu. Ditatap begitu, bukannya menghampiri, mereka malah ngacir tak tentu arah. Fazila pun hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung ketiga temannya yang berlari dengan arah yang berbeda-beda.


To be continued.
Read More
Published Kamis, Maret 01, 2012 by

Jurit (Tebak-Tebak Berhadiah)


Jumat. Hari yang indah, hari yang istimewa, dan tentunya hari yang penuh makna. Kenapa? Ya karena hari Jumat adalah hari yang sangat special. Ditambah karena mulai besok aku libur. Berhubung kelas 12 atau yang jaman dulu disebutnya sebagai kelas 3 SMA bakal ngalamin yang namanya Ujian Sekolah. So? Sebagai adik yang kelas yang baik dan yang selalu menghormati kakak kelasnya yang sedang ujian, maka kita-kita setuju banget kalau libur!

Well, kali ini aku bukannya mau membahas soal libur setengah panjang itu. Aku cuma mau berbagi sedikit foto Jurit minggu ini. Jurit itu singkatan dari (Jumat Rutin) yang memang biasanya dalam dua minggu sekali diadakan di aula SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto. Kali ini, temanya Game, gamenya tebak-tebak berhadiah (walaupun sebenarnya hadiahnya masih menyusul, hehe). Seru loh Juritnya.

Anak-anak yang ikut dibagi menjadi beberapa kelompok, pokoknya satu kelompok ada 4 orang. Terus, ada salah satu dari kelompok itu yang dijadikan koordinator oleh anggota kelompoknya. Terus, koordinator yang ditunjuk itu harus meragain apa yang ada di dalam kertas sampai anggotanya bisa menebak. Yang paling lucu itu waktu disuruh nebak kata yang sebenarnya nggak ada gerakan yang bisa mewakili kata itu. Seperti ‘Sambil’. Hayoo, gerakannya bagaimana?

Oke, langsung aja ya ini ada beberapa foto-foto yang berhasil diambil oleh adik kelas 10 ditengah-tengah serunya permainan :
Peserta JURIT hari ini
Para MC JURIT yang cantik-cantik
Peserta JURIT berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing
Koordinator kelompok beraksi (part 1)
Koordinator kelompok beraksi (lagi)
Ekspresi penonton yang terlihat bingung

Seru kan? Naah, makanya buat warga SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, khusunya akhwatnya (cewek) kudu ikut Jurit lagi. Lumayan kan, menghibur suasana hati yang sedang galau :) Well, Jurit itu nggak seburuk yang kalian bayangkan kok. Bener deh!

Itu sebenarnya belum semua foto aku upload lho. Masih banyak foto yang menggambarkan keceriaan Jurit tadi siang. Tapi, berhubung Bluetoothnya lamaa banget jadinya cuma segitu aja yang bisa aku upload. Kapan-kapan deh kalau aku sempet. Yang penting, satu pesenku. Jangan pernah melewatkan jurit yang satu ini atau kalian akan menyesal seumur hidup. hohoho.
Read More
Published Kamis, Maret 01, 2012 by

2 Bulan Masa Prakerin

Beberapa waktu yang lalu, sekitar dua bulan lamanya aku mengalami yang namanya masa-masa praktek kerja industri atau yang biasa disingkat dengan sebutan prakerin/pe-ka-el seperti murid-murid SMK pada umumnya. Hanya saja, yang membuat beda adalah tempat prakerin yang sama sekali asing buat aku. Kudus. Kota yang dikenal dengan suasananya yang masih sangat-sangat-sangat religius. Kota yang penuh dengan anak-anak pesantren. Dan tentu saja kota yang merupakan tempat dimana salah satu wali songo pernah tinggal di situ, Sunan Kudus.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku juga heran kenapa aku bisa memilih Kudus sebagai lokasi prakerin. Pernah ke sana? Enggak. Punya saudara di sana? Enggak. Punya kenalan di sana? Juga enggak. Awalnya sih karena kapasitas lokasi Purwokerto yang terbatas, hingga akhirnya sekolah memutuskan untuk menolak beberapa peminat lokasi Purwokerto, ya termasuk aku ini. Sempat terpikir buat nunggu pengumuman Bandung. Kebetulan, lokasi Garut berbarengan dengan Bandung. Dan peminatnya juga baru dua orang. Tapi apa daya, karena sudah terlanjur was-was dan Bandung belum mengeluarkan pengumuman, alhasil aku positif prakerin di Kudus.

Ada penyesalan? Sebenarnya ada dan lumayan banyak. Yang pertama, karena Purwokerto membuka lokasi lain walaupun berbanding terbalik dengan jurusanku. Kedua, karena ternyata di Kudus, lokasi prakerinku satu jalur dengan lokasi yang di Purwokerto, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusanku. Ketiga, karena Kudus itu ternyata jauh, sangat jauh dibandingkan dengan Garut yang lumayan dekat dengan Cirebon. Berhubung aku punya banyak saudara di Cirebon, jadi seenggaknya sabtu dan minggu aku bisa mampir, hehehe. Dan yang keempat, karena nggak tau kenapa rasanya nggak bisa jauh dari keluarga. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kalau aku kuliah bukannya bakal jauh dari keluarga ya (?)

Oh ya, selain keempat alasan di atas, ada satu alasan lagi yang membuatku sedikit tidak betah di Kudus. Tahu kan ya kalau semboyan kota Kudus adalah Kota Kretek. Kota Rokok. Ya memang benar, sejauh mata memandang, iklan-iklan yang terpajang adalah iklan Rokok. Berbagai macam rokok ada di sini. Pabrik-pabrik besar juga merupakan pabrik rokok. Dan parahnya lagi, pegawai-pegawai di lokasi prakerinku adalah perokok aktif. Terkecuali untuk yang perempuan ya. Pokoknya, diruangan yang ber-AC dan dingin itu penuh dengan asap-asap rokok yang bebas berterbangan. Bisa terbayang kan bagaimana rasanya? Padahal perokok pasif itu lebih banyak mendapatkan kerugian dibandingkan dengan perokok aktif. Benar-benar sesak deh pokoknya!

But, aku cukup senang di Kudus. Rumah kosku dekat dengan masjid, sangat dekat. Bahkan ada lebih dari satu masjid. Pokoknya sampai-sampai aku bingung deh kalau mau menyempatkan diri untuk sholat di Masjid. Habis, banyak banget sih. Trus, buat mengisi waktu luang sabtu-minggu, aku sempet berkunjung ke makam sunan Kudus sama sunan Muria. Yang bikin berkesan sih waktu berkunjung ke sunan Muria. Soalnya butuh perjuangan yang berat buat sampai ke sunan Muria itu. Berhubung handphone batrenya mulai melemah, jadi aku nggak sempet mengabadikan suasana makam sunan Kudus sama sunan Muria. Tapi setelah tanya-tanya ke mbah google, aku dikasih foto menara Kudus dengan gratis :
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/85/Masjid_Menara_Kudus.jpg/1200px-Masjid_Menara_Kudus.jpg
Panjang banget ya ceritanya? Hehe. Intinya sih, biar banyak alasan yang membuat aku sedikit tidak betah dan tidak tenang di Kudus, ada banyak hal baru yang aku dapetin di sana. Mungkin nggak akan pernah aku dapetin kalau aku nggak prakerin di Kudus. Selalu ada banyak hikmah dibalik suatu kejadian. So, apapun yang terjadi sama kalian walaupun itu berbanding terbalik dengan keinginan kalian, jalanin aja apa adanya. Allah pasti ngasih yang terbaik buat kita kok. Fighting! :)
Read More