Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Published Jumat, Oktober 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Jalan-Jalan ke Kota Khatulistiwa

Jembatan Kapuas. Kegedean ya fotonya, hehehe. Sengaja :p
Selasa, 11 September 2018 yang lalu, aku dan Mas Suami dimintai tolong oleh Papa untuk mengantar nenek dan adiknya (kami memanggilnya dengan panggilan 'nek Timah') pulang ke Pontianak. Jujur sedari dulu aku selalu bertanya-tanya, moment apa ya yang bakal mengantarkan aku ke pulau Kalimantan? Disaat pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatera sudah pernah aku tinggali. Eh, ternyata jawabannya adalah ini. Iya, jadi Mama itu orang Pontianak asli, kota yang merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Barat itu. Dan sebagian besar keluarga besar dari Mama itu ya tinggalnya di Pontianak. Makanya saat nenek dan nek Timah mau pulang ke Pontianak setelah hampir sebulanan tinggal di Purbalingga, Papa pun meminta tolong kami untuk mengantarkan mereka pulang sekaligus agar bisa berkenalan dengan keluarga besar yang ada di Pontianak.
Terus saat itu, ada cukup banyak barang yang kami bawa. Empat koper besar dan 1 kardus kecil. Kami berempat menggunakan kereta untuk berangkat ke Jogja, yang setelahnya dilanjutkan dengan menggunakan pesawat menuju Pontianak. Kurang lebih sekitar 7 jam lamanya kami menunggu pemberangkatan di bandara Adisutjipto karena Mama terlalu khawatir jika jeda antara kereta dan pesawat hanya sekitar 1-2 jam saja. Takut terburu-buru. Katanya, kasihan kalau nenek dan nek Timah disuruh lari-lari begitu. Agak bosan juga sih menunggu selama itu, karena kondisi cuaca yang sedikit panas sehingga tidak terlalu nyaman jika harus menunggu di luar, namun juga tidak bisa menunggu di dalam karena counter check-in yang ada belum tersedia untuk kami. Kami berempat jadi mati gaya gitu karena tidak ada apa-apa dan juga tidak bisa kemana-mana, ditambah dengan tempat duduk yang juga terbatas. Hanya sekitar 8 bangku saja yang tersedia di situ. Makanya nenek dan nek Timah juga jadi sedikit-sedikit berdiri dan berjalan-jalan karena mungkin agak capek juga kalau harus duduk berlama-lama. Tapi, tentu saja semua kebosanan itu seolah sirna ketika sekitar jam 4 lebih belasan menit kami mulai terbang menuju Pontianak.
Sebenarnya ada pemandangan bagus saat berada di atas pesawat saat itu, hanya saja tidak sempat aku abadikan karena posisi duduknya yang kurang mendukung. Jadi waktu mau mendarat di bandara Supadio, matahari itu lagi mulai terbenam sehingga warna langit pun jadi oren-oren kemerahan. Masya Allah. Terus juga banyak lampu-lampu yang dinyalakan di sekitaran laut dan bandara, yang bikin kalau ngelihat ke jendela tuh kayak lagi lihat lautan lampu berwarna-warni yang juga kerlap-kerlip gitu. Indah banget pokoknya. Rasanya mirip kayak lampu-lampu yang aku lihat sewaktu nge-camp bareng anak-anak lab multimedia, tapi ini versi lebih bagusnya lagi. Hehe. Dan perjalanan Purwokerto-Jogja-Pontianak hari itu pun diakhiri dengan makan di salah satu rumah makan milik kerabat. Rumah makan Arab (karena katanya di sana, kalau mau makan di luar rumah itu lebih aman di rumah makan Arab, yang sudah terjamin kehalalannya).

Rabu, 12 September 2018
Tidak banyak yang aku dan Mas Suami lakukan di Pontianak. Karena di sana Mas Suami masih dalam mode kerja (model kantornya memang kebanyakan karyawan remote-nya daripada yang onsite), maka kegiatan pergi-pergi alias jalan-jalan hanya bisa dilakukan di sore hari. Makanya kegiatanku sehari-hari dari pagi sampai sore ya tidak ada bedanya dengan yang biasa aku lakukan di Purbalingga. Makan - nyuci - njemur - nyetrika - tidur. Itu-itu saja. Bedanya di sana lebih banyak teman ngobrolnya (nenek) dan juga memang nenek selalu menyengaja menunggu-nunggu kami makan baru beliau makan, dan tidak mau kalau disuruh makan duluan :" Mungkin biar lebih kerasa kalau ada temennya kali ya, soalnya biasanya sambil makan nenek akan bercerita banyak hal gitu. Sedangkan nek Timah biasanya sudah makan duluan karena sekalian mengasuh cucunya yang biasa dititipkan selagi orang tuanya melaut dan bekerja.
Lalu sorenya kami jalan-jalan ke rumah Om Anto (adik ipar Mama) dan Kak Yan (sepupu Mas Suami yang tinggalnya masih satu komplek dengan Om Anto), sekaligus bermain dengan ketiga anaknya Kak Yan: dek Bintang yang baru lahir dan kedua kakak kembarnya, Langit dan Bumi. Unik ya namanya, hehe. Dan cukup lama kami di rumah Kak Yan karena si kembar yang baru pulang mengaji di Rumah Tahfidz ba'da Isya, yang pulangnya langsung mengajak aku dan Mas Suami untuk bermain Ludo sampai sekitar jam 10-an setelah sebelumnya saling pamer hafalan dan keahlian mengaji mereka. Tapi lucu juga sih main sama si kembar yang masih kelas 1 SD itu. Soalnya meski kembar identik, namun kepribadian keduanya sedikit bertolak belakang. Si kakak yang pemberani dan ambisius, dengan si adek yang pendiam dan malu-malu. Apalagi kan, logat orang sana itu melayu-melayu gitu ya. Jadinya lucu aja gitu kalau pionnya si kakak termakan oleh pion yang lain, pasti dia langsung teriak, "alamaaak". Persis kayak yang di film upin dan ipin itu, hihihi.
Dan seperti yang aku tulis sebelumnya, acara main-bermain itu pun berakhir sekitar jam 10-an, setelah semua pion yang masih bertahan di jalurnya mulai diacak-acak oleh keponakan yang lain (maafkan aku, aku lupa namanya siapa :" huhu).

Kamis, 13 September 2018
Seperti hari sebelumnya, di hari ini aku dan Mas Suami kembali menjadwalkan diri untuk berkunjung ke salah satu kerabat yang ada di sana. Kali ini kami mengunjungi rumah salah satu saudara Papa yang juga tinggal di Pontianak: Pakde Pri. Agak lama juga perjalanan ke sana karena Mas Suami yang lupa-lupa ingat dengan jalannya. Dan juga di sebagian perjalanannya itu ada sedikit rasa tidak nyamannya karena harus melewati pabrik ban yang baunya sangat menyengat sampai ke jalan-jalan besar. Aku sampai sesak napas dibuatnya. Terus di jalan-jalan pemukimannya juga ada banyak anjingnya, kan jadi takut ya :" Tapi jadi nostalgia sedikit sih sama zaman dulu pas tinggal di Kendari. Ya mirip-mirip gini, banyak anjing yang memang dilepas di jalanannya gitu.
Lanjut. Hampir satu jam lamanya kami mencari rumah Pakde Pri. Sayangnya ketika sampai di sana, Pakde dan Bude sedang ikut kajian rutin malam Jumat dan pulangnya pun agak malam, sehingga kami tidak sempat bertemu. Makanya sore itu kami hanya ngobrol-ngobrol dengan salah satu anaknya Pakde, yaitu Mbak Ema. Sejujurnya setiap aku ikut ngobrol-ngobrol dengan kerabat Mas Suami itu, aku agak sedikit kagok dan canggung. Masalahnya logat mereka kan melayu ya, terus juga ditambah dengan nadanya yang tinggi dan gaya bicaranya yang lumayan cepat. Jadi seringnya aku agak lama gitu menerjemahkan maksud demi maksud yang disampaikan. Makanya, aku benar-benar belum bisa jauh-jauh dari Mas Suami selama di Pontianak itu. Takut jadi bengong sendiri setiap diajak ngobrol. Kan, jadi nggak asik ya kalau lagi diajak ngobrol malah plonga-plongo gitu. Hehe.
Dan cerita perjalanan hari itu pun ditutup dengan muter-muter sebagian kota Pontianak karena tiba-tiba aku kepengen makan pentol kuah dan telor gulung :"

Jumat, 14 September 2018
Sudah mau mendekati hari terakhir di Pontianak, tapi masih banyak list kerabat yang belum sempat dikunjungin. Akhirnya pagi-pagi sekitar jam setengah 10-an gitu, aku dan Mas Suami ikut nek Timah ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah nenek. Sekalian karena pengen ketemu sama kerabat yang lain. Oh iya, rumah nek Timah ini letaknya persis di pinggir sungai kapuas, sehingga model rumahnya pun adalah rumah panggung yang bawahnya masih air-air sungai gitu. Sebenarnya rumah nenek juga rumah panggung, hanya saja bagian depannya sudah berbentuk tanah yang sebagiannya lagi sudah beraspal. Sedangkan kalau rumah nek Timah ini benar-benar masih berbentuk rumah panggung.
Dan di sana pun aku diajak oleh nek Timah untuk melihat-lihat sungai kapuas yang sudah direnovasi pinggirannya dan dibangun jembatan baru. Katanya, ada banyak rumah-rumah yang dihancurkan untuk pembangunan jembatan itu. Tapi kelebihannya, sebagian besar warga yang masih tinggal di situ pun jadi memanfaatkan hal itu untuk membuka rumah makan kecil-kecilan yang menjual beberapa makanan khas Pontianak. Soalnya kalau sore, biasanya ada banyak orang yang bermain di jembatan itu. Istilahnya jembatannya malah jadi salah satu tempat wisata gitu deh.
Eh, ada satu hal lagi. Sewaktu dalam perjalanan ke Pontianak, Mas Suami sempat bercerita kalau anak-anaknya nek Timah itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Putih-putih banget gitu kulitnya, berbeda dengan anak-anaknya nenek yang sebagian putih dan sebagian lagi sawo matang. Awalnya aku pikir karena kebetulan saja nek Timah dapet kebagian yang putih-putih gitu. Eh, ternyata oh ternyata. Rupanya Datuk, suami nek Timah itu ternyata berperawakan tinggi dengan kulitnya yang putih. Pokoknya di usia yang sudah tidak lagi muda begitu, masih kelihatan ganteng dan gagah deh. Jalannya juga masih tegap dan suka beraktifitas gitu, alias nggak bisa diam. Pantesan saja ya... Eh, astaghfirullah, aku kok malah ngomongin fisik ya... Tapi emang beneran Datuk tuh ganteng banget hehehe.
Lanjut. Sewaktu lagi lihat-lihat sungai di sana, nek Timah bilang kalau mending ke sininya sore-sore aja biar lebih rame dan juga lebih bagus pemandangannya. Jadinya karena memang sudah mau mendekati waktu sholat Jumat dan matahari juga sudah lagi panas-panasnya, akhirnya aku dan Mas Suami pun memutuskan untuk kembali ke sungai kapuas sore harinya, dan berpamitan ke nek Timah untuk kembali ke rumah nenek. Mas Suami kan juga harus kerja, hehehe. Dan memang pengen ke situ lagi juga pas sorenya karena pengen nyobain makanan khas Pontianaknya.
Mie SaguBubur Padas
Nah, itu dia penampakan salah dua makanan khas Pontianak yang dijual di sana. Awalnya aku kira namanya bubur pedas. Tapi kok ya pas dirasa-rasa malah nggak ada pedas-pedasnya. Sampai sempat nanya juga ke nek Timah dan salah satu anaknya yang ikut menemani aku dan Mas Suami makan di pinggiran sungai kapuas di sore harinya, tetapi malah tidak ada yang tahu kenapa dinamakan bubur pedas. Sampai akhirnya pas sudah sampai Purbalingga dan nanya ke Mama, rupanya katanya namanya bukan bubur pedas, tapi bubur padas. Pantesan saja... Eh, tapi kedua makanan ini enak loh. Meski katanya orang-orang tidak begitu suka dengan bubur padas karena tampilannya yang kurang menarik itu. Apalagi buburnya juga isinya lebih banyak sayur hijau-hijaunya, yang rasanya juga mirip-mirip sama dedaunan gitu. Tapi nggak begitu pahit.
Terus kami juga di sana sampai sempat melihat matahari sewaktu lagi terbenam dan kapal yang lagi berlayar untuk pulang. Masya Allah, bagus banget nggak sih? Tapi beneran deh, ngelihat hal-hal yang kayak gini tuh benar-benar mengingatkan aku sewaktu kecil dulu, waktu tinggal di Kendari itu. Soalnya dulu kalau sore-sore gitu sering diajakin Ummi dan Abi makan di pinggiran pantai. Iya, jadi aku, Hilmi sama Ais itu dibawain makanan dari rumah, tapi makannya di pinggiran pantai yang juga merupakan pinggiran jalan raya. Jadi samping-samping jalanan besar beraspal itu langsung pantai. Terus juga suka banyak kapal-kapal atau perahu yang berlayar pulang gitu, dan emang banyak orang yang sore-sore gitu sekedar duduk-duduk di pinggiran itu buat makan atau sekadar lihat-lihat pemandangan saja.
Dan setelah puas menikmati indahnya ciptaan Allah itu, kami pun bergegas pulang ke rumah. Mengejar waktu sholat Maghrib yang sudah seperdelapan jalan. Tapi tentu saja perjalanan kami tidak sampai di situ saja. Karena besok pagi-pagi sudah harus kembali ke Purbalingga, makanya setelah sholat Maghrib kami pun berpamitan dengan nenek dan meminta izin untuk menginap di rumah Om Anto. Agak sedih juga sewaktu berpamitan dengan nenek. Apalagi nenek di sana itu tinggalnya sendirian, meski anak-anaknya ya sebenarya masih sering menyempatkan diri untuk berkunjung. Rasanya nggak tega gitu. Aku sampai hampir mau nangis, sedangkan nenek malah sudah sampai menangis.
Dan terus setelah berpamitan dengan nenek, aku dan Mas Suami pun langsung beranjak ke rumah Om Anto. Tidak mau berlama-lama pamitannya karena takut semakin berat untuk pulang meninggalkan nenek. Pun di sana rupanya kami sudah ditunggu oleh Kak Yan. Kami sudah ditagih-tagih disuruh berkunjung ke rumah Abah (ayahnya Kak Yan) karena katanya mau disuguhi banyak makanan. Tapi sebelum pergi ke rumah Abah, kami meminta Kak Yan dan suaminya untuk menemani ke rumah nek Rukiah untuk memberikan titipan Mama. Mengobrol sebentar, menjemput si kembar, lalu setelahnya langsung menuju ke rumah Abah.
Dan benar saja, sesampainya di rumah Abah, rupanya Abah dan istrinya sedang sibuk memasak di dapur. Kami benar-benar dijamu dengan baik. Dari udang yang besar-besar, sotong, cumi, dan aneka makanan laut lainnya. Terus juga di situ ada sambal khas istrinya Abah. Kenapa dibilang khas? Soalnya rasanya pedaaaaaaaas banget. Aku yang suka pedas saja sampai kewalahan karena baru nyolek sedikit udah kepedasan, huhu. Dan di sana kami bermain dan ngobrol-ngobrol sampai hampir jam 10-an juga kalau tidak salah, atau malah kurang ya? Agak lupa sih. Tapi sewaktu pulang, kami masih juga dibawain oleh-oleh sama Abah sekotak kardus yang ukurannya lumayan besar dan juga berat.

Sabtu, 15 September 2018
Pesawat yang kami tumpangi akan take-off sekitar jam 10-an, tetapi Abah menyuruh Om Anto untuk mengantarkan aku dan Mas Suami ke tokonya. Katanya kami disuruh milih oleh-oleh sebanyak apapun. Sesukanya pokoknya. Tapi meskipun dibilang gratis, tentu saja kami malah jadi ada rasa tidak enaknya begitu kan. Makanya setelah dipaksa-paksa bawa ini itu, akhirnya kami pun hanya membawa beberapa pakaian dan dompet saja.
Itu yang paling depan kiri Abah, dan sebelahnya itu Om Anto. Terus kalau yang di paling depan kanan itu Tante Ade (istrinya Om Anto), dan sebelahnya itu istrinya Abah. Itu foto di toko oleh-oleh milik Abah. Kalau kata kerabat yang lain, emang kalau ada saudara yang berkunjung ke Pontianak itu pasti bakal disuruh Abah mampir ke tokonya. Disuruh bawa oleh-oleh sebanyak-banyaknya secara cuma-cuma gitu. Masya Allah.
Dan cerita perjalanan 'berlibur' ke kota Khatulistiwa itu pun berakhir dengan penerbangan dari Pontianak ke Jakarta, yang setelahnya dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kereta dari Stasiun Senen ke Stasiun Purwokerto. Alhamdulillah!

Catatan
Sebenarnya ada beberapa hal yang jadi perhatianku selama tinggal di Pontianak saat itu. Yang pertama adalah cuaca di sana yang sangat panas. Benar-benar panas. Sampai-sampai aku baru menjemur jam 11 siang saja, jam 12 siangnya sudah kering lagi. Benar-benar kering yang bajunya sampai panas gitu loh sewaktu dipegang. Terus yang kedua, adalah soal banyaknya makanan yang tidak halal di sana. Iya, jadi sewaktu aku lihat-lihat di plang rumah makan begitu, aku melihat tulisan 'mie kwetiau (halal)'. Dan Mas Suami pun waktu ngelihat itu langsung bilang ke aku, kalau di rumah-rumah makan di situ, sampai harus diberi tulisan 'halal' untuk memberitahu bahwa makanan yang dijual di sana ya makanan yang halal. Pantas saja Mama cerita kalau nenek itu benar-benar memperhatikan apa yang dimakannya. Pokoknya nenek jarang mau makan makanan yang tidak dimasak sendiri. Dan nenek juga tidak mau makan bakso di sana. Soalnya katanya takut olahannya terbuat dari daging babi. Apalagi kata Edo (salah satu sepupu Mas Suami), di sana ada rumah makan yang menjual Nasi Ayam, yang meski namanya ayam, tetapi terbuat dari daging babi. Astaghfirullah...


Jumat, 19 Oktober 2018
Alhamdulillah, diberi kesempatan untuk berlibur di Kalimantan!
Read More
Published Kamis, Oktober 11, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Bandung dan Dek Kafiya

Kalau tidak salah, tanggal 30 Juli yang lalu, aku pernah menulis sesuatu di twitter yang kurang lebih terbaca seperti ini:
Tiba-tiba pengen makan bakso ikan, seblak, tahu crispy, tahu gejrot, tahu bulat, ayam pedas mulyarasa, kentang bumbu, es pisang ijo, es podeng, terus.. hmm.
Yang lalu dibalas oleh salah seorang temanku dan bilang kalau aku itu banyak maunya. Tapi memang aku lagi kangen sama semua jajanan itu, huhu. Terlebih karena jajanan itu merupakan jajanan yang memang sering aku beli saat kuliah di Bandung dulu, yang tidak aku temukan di Jakarta (atau memang belum menemukan, ya) kecuali es podeng. Tapi intinya aku kangen Bandung dan pengen jajan. Yang setelahnya temanku itu kembali membalasnya dan bilang kalau aku honeymoon-nya di Bandung saja kalau memang kangen. Meski awalnya aku hanya menimpalinya dengan tertawaan, namun rupanya sebulan kemudian Allah memberikanku kesempatan untuk benar-benar mengunjungi kota Bandung meski bukan unuk honeymoon seperti yang dibilang temanku itu.

Jadi singkat cerita pada bulan Agustus yang lalu, Mas Suami mengajakku untuk menemaninya ke Bandung karena harus mengurus beberapa berkas yudisiumnya. Tapi di sini aku tidak akan menceritakan soal bagaimana aku di Bandung sih, karena memang tidak terjadi apa-apa dan juga aku pun tidak jajan apa-apa meski sebelumnya bilang kalau kangen. Soalnya memang tidak sempat. Aku hanya sempat bermain di lab MM saja beberapa jam, itupun karena Mas Suami menyuruhku untuk tidak ikut beliau mengurus yudisium karena antriannya yang terlalu panjang, takut aku capek, sekaligus karena salah satu adik tingkatku yang juga satu lab mengajakku untuk menunggu di lab saja daripada menunggu sendirian. Katanya juga, karena lab sedang ramai. Ya tidak apa-apa juga sih, habis ternyata sampai Bandung pun aku sampai tidak kepikiran soal jalan-jalan kemana atau pengen jajanan-jajanan itu. Malah tertariknya sama telur gulung yang dijual sama bapak-bapak di samping Masjid Syamsul 'Ulum (MSU), hehe. Dan memang soal Bandung yang aku tulis di atas pun sebenarnya karena pengen ditulis saja wkwk. Soalnya, yang sebenarnya mau aku ceritain itu adalah sewaktu pulang dari Bandungnya.

Eh, tapi sehari sebelum pulang, aku sempat pergi ke TSM ding, bertiga dengan Mas Suami dan Hilmi untuk makan malam. Rasanya kayak jalan-jalan sama bodyguard, dijagain kanan-kiri, hehehe.
Lanjut. Jadi karena beberapa hal, yang awalnya kami mau menggunakan kendaraan umum untuk ke Bandung pun, Qadarullah jadi dibatalkan dan diganti dengan mengendarai kendaraan pribadi. Alhamdulillahnya karena hal ini, kami jadi gampang kemana-mana di Bandung tanpa memikirkan soal kendaraan. Jadi bebas untuk mampir-mampir gitu. Dan karena beberapa minggu sebelum menikah aku sempat berbalas pesan dengan Husna—teman yang aku kenal karena kamar kami hadap-hadapan saat di asrama dulu—dan Husna juga bilang kalau sebenarnya dia ingin datang ke walimahanku tapi tidak bisa karena sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL) anaknya yang pertama, lalu kebetulan juga Husna adalah teman sekelas Mas Suami, yang ternyata suaminya Husna pun adalah teman Mas Suami saat dulu mereka berdua menjadi anggota DKM MSU (wah, banyak 'ternyata'-nya ya hehe), aku pun langsung mengajak Mas Suami untuk bersilaturrahim ke rumah Husna sekalian pulang ke Purbalingga karena memang arah tol dari Bandung ke Purbalingga itu lewat Cikampek.

Iya, jadi karena Husna baru saja melahirkan seminggu sebelumnya, dan ini pun adalah anak pertama, jadi Husna tinggal di rumah orang tuanya yang ada di Cikampek. Aku berinisiatif untuk mengajak Mas Suami pun karena saat aku iseng men-upload story di instagram, Husna men-reply story-ku itu dan mengajakku untuk bermain ke rumahnya. Apalagi karena memang aku ingin sekali bertemu dengan dek Kafiya. Iya, jadi anak pertama Husna itu namanya Fathimah Kafiya Azizah. Dipanggilnya Kafiya. Kulitnya waktu itu masih sangat merah, dan ukurannya pun masih keciiiiil sekali. Waktu aku ke sana memang umurnya masih satu minggu sih. Dan Alhamdulillah tidak susah juga untuk mencari rumahnya, karena letaknya yang persis di pinggir jalan dan dekat dengan gerbang tol.

Dan sewaktu aku bermain ke rumah dek Kafiya ini, kebetulan bertepatan dengan hari aqiqahannya. Jadi di rumahnya itu ramaaai sekali. Bahkan dek Kafiya saja saat aku datang, masih sedang dicukur gitu rambutnya. Lalu karena ukurannya yang masih kecil dan umurnya yang baru seminggu, aku tidak berani untuk menggendongnya, hehe. Jadi aku hanya sempat berfoto saja beramai-ramai dan ngobrol-ngobrol banyak. Dari mulai bertanya soal bagaimana rasanya menikah, sampai hamil dan melahirkan. Juga soal Husna itu masih ngoding atau tidak, karena kami kan basic-nya sama-sama dari jurusan yang ada koding-kodingannya, hehe. Yang lalu akhirnya kami menyimpulkan kalau kami itu ibu rumah tangga sekaligus freelance, meski lebih banyak free-nya wkwk. Ya, sekali-kali tetap ngoding atau update akan sesuatu sih, biar ilmunya tidak benar-benar hilang.
Cukup lama kami berbincang, sampai kalau tidak salah jam setengah 6 kurang, sehingga akhirnya kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Huhu, sedih sih sebenarnya karena tidak bisa berlama-lama. Tapi kapan-kapan kalau kamu sudah agak besar, dan diizinkan oleh Allah, boleh ya Ammah main-main lagi ke rumah. Biar Ammah berani nggendong kamunya, dek, hehehe.


Purwokerto, 11 Oktober 2018
Sudah lama sekali ingin dipost, tapi baru kesampaian sekarang
Alhamdulillah
Read More
Published Senin, Agustus 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

WR Marriage Trip

 The world is a book, those who do not travel read only one page.  ― St. Agustine
Lama sekali aku sudah tidak pernah ke Jogja lagi. Seingatku, terakhir itu sewaktu awal-awal kuliah, saat masih bisa ikut Abi dinas ke luar kota. Duh, rasanya rindu. Tetapi minggu kemarin, saat diundang ke acara walimahnya Willi dan Rika (keduanya teman sekolah dan kuliah dulu, bahkan Willi sempat menjadi rekan kerja di kantor yang sekarang), aku kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali menjelajahi kota Jogja. Dan karena cerita perjalanan itu menjadi perjalanan pertamaku bersama teman-teman yang sampai sejauh itu, maka ceritanya akan aku rangkum dalam beberapa bagian (hari). Mungkin tidak akan banyak narasinya, tetapi hasil momen-momennya akan sedikit-banyak. Aku mulai saja, ya...

Jumat, 20 Juli 2018
Perjalanan itu diawali dari Jumat malam. Karena aku berencana untuk menggunakan commuter line (krl) untuk mencapai stasiun Pasar Senen, maka aku sudah berangkat ke stasiun Pasar Minggu di jam-jam setelah sholat maghrib, mengantisipasi adanya keterlambatan krl atau hal-hal lainnya. Dan alhamdulillah, setelahnya aku sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah sembilan malam, dengan jadwal keberangkatan kereta dari Jakarta adalah pukul 21.45 WIB. Tidak banyak yang kami (aku dan keempat teman yang lain) lakukan di stasiun dan di sepanjang perjalanan itu, selain menunggu kereta dan berbincang-bincang untuk mengisi kebosanan sebelum akhirnya sibuk dengan mimpinya masing-masing.
Dan perjalanan dari Jakarta ke Jogja itu kami tempuh menggunakan kereta api Bogowonto yang bergerbong ekonomi. Namun ada catatan tersendiri untuk kalian yang tidak terbiasa dalam menghadapi suhu AC yang cukup dingin; yaitu lebih baik menggunakan pakaian dan jaket yang cukup tebal. Karena meskipun gerbong yang kami pesan adalah ekonomi, namun cukup mampu membuat kami menggigil kedinginan.

Sabtu, 21 Juli 2018
Setelah melalui kurang-lebih 8,5 jam perjalanan, alhamdulillah kami sampai di kota Jogja dengan selamat. Dan karena kami menggunakan jasa penyewaan mobil di sana, maka setelah sholat shubuh dan melakukan hal pribadi yang lainnya, kami pun langsung berjalan keluar stasiun untuk menghampiri rombongan lain yang sudah terlebih dahulu sampai. Sekitar 19 orang, dan sebagian besarnya adalah rombongan dari laboratorium Artificial Intelligent (AI). Di sini aku dan dua orang temanku yang lain memang istilahnya seperti menumpang gitu sih, karena selain biar perjalanan ke Jogja itu terasa lebih ramai, juga agar aku tidak (jadi perempuan) sendirian.
Singkat cerita, setelah mobil dan segala urusannya selesai, maka kami pun langsung sarapan di tempat yang sebenarnya aku lupa letaknya dimana, tetapi katanya cukup terkenal. Namun ada sedikit hal yang terjadi setelah selesai sarapan di sana. Dari tiga mobil yang dibawa, rupanya mobil yang aku dan teman-temanku tumpangi itu tiba-tiba mengalami kebocoran rem. Aku lupa sih sebenarnya apakah kebocoran atau remnya yang kurang pakem, tapi intinya mobil itu tidak bisa digunakan untuk mengerem dengan baik. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun langsung mencari bengkel terdekat untuk memperbaiki rem mobil itu.
Cukup lama mobil itu diperbaiki, sampai-sampai beberapa temanku yang mungkin tidak bisa tidur nyeyak di perjalanan semalam jadi tertidur seperti itu. Tapi setelah semua dipastikan aman dan tidak ada masalah lagi, maka kami pun melanjutkan perjalanan. Dan destinasi wisata pertama kami adalah Pantai Sepanjang.
Alhamdulillah meskipun awalnya diberitakan kalau gelombang di pantai ini sedang pasang, namun ketika kami berkunjung ke sana, gelombangnya masih dalam batas aman meskipun sesekali terlihat ombak yang tinggi. Robbana maakhalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaban naar.
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (Q.S. Ali Imran: 191)
Cukup lama kami berada di pantai ini. Menghabiskan waktu untuk mensyukuri nikmat-Nya, mengagumi indah ciptaan-Nya, sembari mengabadikan momen-momen yang ada.
Dan setelah puas bermain di pantai, kami pun bergegas membersihkan badan serta ganti baju secara bergantian. Bersiap-siap untuk berangkat ke destinasi selanjutnya. Tebing Breksi.
Sayangnya kami sampai di sini saat dekat-dekat mau ditutup, yaitu sekitar jam 5 sore lebih sedikit, disaat memang lokawisata ini akan ditutup tepat pada pukul 6 sore. Jadinya tidak banyak momen yang dapat diabadikan di tempat ini. Saat mau mencari sunset pun, mataharinya tidak begitu terlihat karena tertutup oleh awan.
Padahal ada banyak hal yang sepertinya menarik dan bagus untuk diabadikan di kondisi-kondisi terbaiknya. Seingatku, di tebing ini menyediakan berbagai macam spot foto dengan biaya seikhlasnya. Dan ada pintu kemana sajanya milik Doraemon juga, lho.
Maka, karena tidak begitu banyak hal yang bisa diabadikan, beberapa diantara kami pun jadi sibuk dengan urusannya masing-masing. Alias foto sendiri-sendiri, dengan gayanya sendiri-sendiri. Menghabiskan waktu sampai tebing itu benar-benar mendekati menit-menit akan ditutup.
Dan setelahnya, kami pun bergegas untuk sholat maghrib dan makan malam, yang selanjutnya dilanjutkan dengan perjalanan ke penginapan yang ada di Magelang.

Minggu, 22 Juli 2018
Di Magelang, kami menginap di tempat yang sudah disediakan oleh Willi. Dan karena perjalanan ini pun sebenarnya terjadi karena kami ingin menghadiri acara walimahan Willi dan Rika, maka pagi-pagi di hari Minggu itu, kami pun menghadiri acara mereka seperti seharusnya.
Sayangnya di sini aku bergabung dengan teman sekolahku secara mendadak, sehingga aku pun tidak memiliki satu fotopun bersama Willi dan Rika. Ada, tetapi di galeri milik temanku yang mungkin ia bagikan di grup rombongannya. Sedangkan aku kan datang bersama rombongan AI, namun tidak ikut berfoto dengan mereka. Sehingga momen yang tersimpan dalam galeriku hanyalah foto kedua temanku itu, yang juga bukan termasuk anak AI. Tapi mereka ikut berfoto dengan rombongan kelas lain, serta ikut mendapatkan fotonya (hiks, sedih *lho).
Dan suasana walimahan Willi dan Rika ini termasuk yang bagus dan cukup mewah. Berlatarkan pemandangan yang indah, serta makanan yang disediakan pun bermacam-macam. Kalau dibandingkan dengan bulan Agustus nanti, sepertinya sangat jauh, ya, hehe. Tapi tetap semua harus disyukuri, kan? :" Lanjut. Setelah acara walimahan itu selesai, kami pun langsung bergegas untuk beranjak ke destinasi selanjutnya. Ketep Pass. Iya, setelahnya kami kembali ke Jogja.

Ada cerita menarik dari behind the scene foto ini, saat sedang mengabadikan momen-momen di Ketep Pass itu. Di balik foto mbak-mbak di atas, ada fotografer yang totalitas dalam pengambilan gambarnya. Mereka berdua adalah Hilmy dan Tedy. Karena demi si mbak-mbak itu tidak kebingungan dalam memilih fokus, maka kedua temanku ini pun jadinya bertumpuk-tumpuk begitu, wkwk.
Dan di sini pun, terdapat penyewaan teropong yang harga sewanya adalah 5000. Tentu saja, demi menghemat sekaligus sepertinya yang lainnya juga hanya ingin meminjam sebentar tapi malas menyewanya, maka teropong yang disewa pun hanya satu untuk bergantian.
Aku nggak ngerti sih sebenarnya dengan kedua temanku ini. Disetiap tingkah lakunya, ada saja hal-hal lucu yang mereka lakukan. Contohnya seperti menggunakan teropong bersaman seperti ini.
Tapi padahal mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat biasa-biasa saja, ya. Tapi buatku, entahlah, hal-hal yang seperti ini tuh lucu dan mungkin suatu saat nanti bisa menjadi salah satu momen yang dirindukan, namun hanya bisa dikenang.
Dan destinasi Ketep Pass ini pun menjadi destinasi terakhir perjalanan Jakarta-Jogja-Magelang yang mereka namai sebagai Willi-Rika (WR) Marriage Trip.

Minggu, 23 Juli 2018
Alhamdulillah, kami sampai di Bandung dan Jakarta dengan selamat. Kembali beranjak dan berkutat dengan aktivitasnya masing-masing; yaitu kerja-kuliah-TA seperti biasa.
And I'd like to give special-big thanks to our tour guide. Kak Yasin. Yang telah menyediakan mobil dan mengajak jalan-jalan  ke berbagai destinasi wisata selama di Jogja. Terbaik! Benar-benar tidak mengecewakan. Serta, rombongan AI yang memperbolehkan aku, Hilmy dan Keju (yang sebenarnya dari lab sebelah) untuk ikut serta dalam perjalanan wisata kalian. Thank you so much, guys!



Jakarta, 6 Agustus 2018; 01.36
This is actually a very late post!
Read More
Published Sabtu, Juli 14, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Rindu Bandung

Foto diambil dari google karena waktu itu nggak sempat ke sini (cuma sekedar lewat).
*
Banyak hal yang aku rindukan dari tempat ini. Dari suasana kampusnya, teman-teman seperjuangan dan teman-teman bermainnya, lingkungannya, dan banyak hal lainnya. Rasanya dua hari di Bandung itu belum cukup untuk melepaskan rindu yang ada. Tapi biarlah aku membagikan sedikitnya momen-momen yang sempat terekam, meski tidak semuanya, ya.
Jadi ingat dulu-dulu, sewaktu tiap pagi atau sore menyempatkan diri untuk jalan-jalan di tempat ini. Atau kadang-kadang ngerjain tugas kelompok di saung-saung yang banyak nyamuk dan kucingnya. Dua gedung, A dan B, yang menjadi tempat menuntut ilmu selama ini, yang harus lari-lari kalau lagi beruntung dapat kelas yang berjauh-jauhan. Duh, nggak kebayang kalau sekarang gimana. Naik-turun di gedung yang lantainya cuma 3 tingkat aja udah ngos-ngosan. Apalagi yang sekarang udah ada gedung sepuluh lantainya, heuu.
Bahkan aku baru tahu kalau punclut sekarang bukan cuma tempat makan dengan suasana pegunungan (atau perbukitan ya?) aja. Ternyata udah banyak wahana dan spot menariknya. Kalau dulu ke punclut cuma buat duduk-duduk di saung sambil mainan satu-dua hal, terus makannya model makanan yang biasa ada di angkringan gitu, sekarang makannya udah banyak yang middle sampai high class. Duh ngomongin soal angkringan, jadi inget sama angkringan ITB. Sayang kemarin nggak sempat ke situ, hiks. Btw, foto di atas emang sengaja difokusin ke lampunya, bukan orangnya.
Dan juga sekarang punclut udah ada tempat kayak gambar di atas. Mirip istana-istana kerajaan gitu. Sayangnya waktu mau naik ke situ ternyata udah tutup karena kita datangnya kemalaman, jadinya nggak bisa menikmati pemandangan dari atas situ. Padahal kata temanku yang udah pernah ke situ, di sana itu lebih bagus pemandangannya daripada tempat yang kami datangi, yang waktu itu masih buka sendiri. Makanannya pun unik-unik, dan waktu itu kami berempat beli makanan yang sama tapi beda di bagian bumbu yang disiram ke nasinya aja. Dan itu lucu, karena satu temanku heboh sendiri waktu makanannya datang, soalnya takut telornya gosong katanya.
Dan besoknya sewaktu jalan-jalan lagi ke sepanjang jalan Riau, aku nemuin lampu-lampu ini di salah satu factory outlet yang ada di sana. Di saat temanku sibuk nyari baju dan jaket, aku malah sibuk nyari pemandangan yang menarik. Aku jadi ingat juga sewaktu abis dari sini dan kami mau nyari masjid terdekat dan malah nemunya masjid yang ada di dalam Kodam III Bandung. Waktu itu sempat ragu karena yang jaga gerbangnya serem, kan bawa senapan gitu. Tapi sewaktu memberanikan diri untuk bertanya malah sadar kalau udah suudzon karena mas-masnya justru ramah dan baik. Duh.
Dan yang terakhir emang nggak ada hubungannya sama soal rindu hal-hal yang ada di Bandung sih. Tapi sewaktu lagi main di kos temanku, aku yang takut kucing tiba-tiba didatengin sama tiga kucing ini. Dan teman-temanku itu nggak ada yang mau nolongin, alias cuma ketawa-ketawa aja sambil ngeliatin aku yang duduknya agak gelisah gitu. Tapi sewaktu ngelihat kucing-kucing itu cuma berbaring dan nggak ngapa-ngapain, akunya jadi tertarik aja gitu buat ngambil momen itu dan senang sendiri, sampai temanku bilang kalau kucing itu gini-gitu biar aku nggak takut lagi. Tapi aku mengakui kok, kucing itu emang lucu. Cuma aku emang takut aja, hehe.

Dan ya udah, nggak kerasa waktu begitu cepat berlalu. Sekarang kalau mau ke Bandung harus nunggu momen yang tepat, nggak bisa sesering dulu. Ah, rasanya banyak banget hal yang bisa dilakuin di Bandung, juga banyak banget hal yang bikin rindu sama kota ini. Kayak soal jalan-jalannya, main di Braganya, nonton film yang isinya anak lab sebioskop, camp-nya, makrabnya, dan banyak hal lainnya. Hal-hal yang begini memang cepat berlalunya ya. Dari yang setiap hari kayak bosen ketemu orang dan hal yang itu-itu aja, sampai sekarang yang kalau rindu harus ditahan-tahan. Jadi sedih akutuh, heuuu.



Sabtu dan Minggu, 7 dan 8 Juli 2018.
Kira-kira aku masih bisa main sama teman-teman lagi nggak ya :( 
Read More
Published Selasa, Juni 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Hari Bahagia Untuk Mbah Put

Stasiun Cirebon

Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Perasaan baru kemarin aku nunggu-nunggu hari libur, eh sekarang udah mau masuk kerja aja. Kayak ada rasa nggak rela-nggak relanya gitu, masih pengen lama-lama di rumah. Rasanya di Jakarta tuh kayak nggak betah, nggak ada asik-asiknya. Tapi masih ada orang lain yang justru berharap bisa dapat kerjaan―meskipun itu di Jakarta―jadi aku tetap harus bersyukur, kan?

Tapi kadang kalau lagi galau begini aku tuh jadi keinget banyak hal. Kayak tiba-tiba dikerubung sama segerombolan rindu gitu. Salah satunya ya soal mudik lebaran ke Cirebon kemarin, yang padahal mah baru aja berlalu sehari doang. Tapi rasanya emang kayak pengen bisa mengulang waktu, pengen balik ke Cirebon lagi, pengen ngerasain euforia lebaran di sana lagi. Tapi butuh waktu satu tahun untuk merasakan hal itu, itu pun kalau memang masih diberi umur sampai tahun depan. Makanya rasanya kayak rindu banget.

Soalnya kebetulan keluarga Abi itu termasuk keluarga besar. Anaknya mbah put ada 8 orang, yang Alhamdulillahnya masing-masing punya anak lagi yang lumayan banyak-banyak. Makanya kalau lagi kumpul tuh pasti rame, nggak pernah sepi. Apalagi mereka semua Alhamdulillahnya juga kompak dan suka mudikan, alias sukanya nengokin mbah put jadi bikin anak-anaknya juga paling suka ya liburan ke Cirebon ini. Rasanya tuh kayak pengennya ketemu sama mbah put terus. Apalagi mbah put ini orangnya energik banget, nggak pernah bisa diem. Dan masakan mbah put sama bude lies (anak pertama mbah put yang tinggalnya serumah sama beliau) juga menurutku paling enak diantara masakan yang pernah aku makan selama ini. Bahkan dulu pernah ada tamu yang menawari modal ke mereka berdua lho biar mbah put sama bude lies mau bikin restoran gitu saking enaknya masakannya ini. Tapi karena mereka ngerasa udah semakin tua, ya jadinya ditolak secara halus deh tawaran itu.

Rajungan
Tapi selain karena masakannya enak, mbah put sama bude lies ini juga jago bikin masakan yang macem-macem. Kayak kemarin aja, padahal aku tuh di Cirebon cuma nginep 4 hari 3 malem, tapi aku udah ngerasain banyak makanan. Dari sop iga, blekutak, steamboat kuah tom yum, nasi uduk ayam penyetan, opor ayam, sambel goreng daging, empal gentong, rawon, ceker setan, sampai pepes telur kepiting. Itu aku baru nyebutin makanan utamanya, belum sama makanan pendamping kayak tempe yang nggak tau diapain tapi rasanya enak dan menu-menu lainnya. Bahkan sewaktu aku baru sampai Purwokerto, tiba-tiba bude lies ngirimin foto rajungan yang baru selesai dikukus. Agak sedih sih, soalnya biasanya dari tahun ke tahun kalau lebaran aku pasti makan rajungan sama kerang ijo, tapi kali ini malah nggak kesampaian karena harus buru-buru pulang ke Purwokerto :( Btw rajungan ini rasanya enak banget loh, apalagi kalau kedapatan rajungan yang perempuan dan ada telurnya yang menempel di cangkangnya. Masya Allah, jadi ngiler saya...

Dan itu kan baru makanannya loh, belum dessert-nya. Kalau lebaran kemarin tuh mbah put nyediain es yogurt―es lilin yang paling dicari kalau ke Cirebon―yang nggak tanggung-tanggung biasanya di freezer tuh bisa sampai ada 5-6 bungkus (1 bungkus isinya 30 buah), es buah, es cincau, es krim 16 liter, salad buah, sama puding buah. Pokoknya kalau mudik lebaran ke Cirebon itu rasanya mirip-mirip sama mudik ke restoran all you can eat. Rasanya makanannya kayak nggak habis-habis dan bermacam-macam, terus bisa diambil sepuas-puasnya. Malahan kalau kelihatan cuma duduk-duduk di depan tv sambil mainan hp pasti mbah put bakal bilang gini, "Mba Hannan, itu ada es buah di kulkas seger diambil gih." atau "Mba, itu tadi mbah nyoba bikin makanan XX cobain dulu mumpung masih anget." Pokoknya bakal ditawarin makan terus. Aku aja, sehari bisa makan sampai lima kali, ditambah ngemilnya yang nggak kehitung banyaknya hehehehe.

Terus selain soal makanan, hal lain yang aku kangenin dari suasana lebaran di Cirebon itu ya soal kumpul-kumpulnya. Kalau zaman dulu sewaktu sebagian anak-anaknya mbah put masih jadi perantau, di rumah mbah put itu kalau malam dari ruang tamu sampai dapur itu pasti bakal banyak kasur yang terbentang―yang isinya orang-orang yang tidurnya berjejer kayak ikan pindang. Pokoknya penuh, sampai kalau mau jalan dari ruang tamu ke dapur aja harus jinjit-jinjit dulu karena takut nginjek badan orang yang lagi tidur. Biasanya kalau pas gini aku tuh kebagian tidur di ruang tamu bareng yang remaja perempuan, atau di tempat sholat bareng ummi. Dan tidurnya pakai jilbab gitu karena kan nggak semua sodara itu marhom kita kan, ya? Makanya kadang ngerasa agak risih juga, sih.

Tapi sekarang karena udah banyak yang beli rumah dan menetap di Cirebon, alhasil formasi tidurnya pun berubah. Jadi agak kebagi-bagi itu. Apalagi rumah mbah put sekarang udah ditingkat, jadinya remaja-remaja laki-laki itu tidurnya pada di lantai dua―tapi dengan posisinya yang sama, masih berjejer-jejer kayak ikan pindang hihi. Sedangkan yang perempuannya di kamar, sekeluarga masing-masing gitu. Dan beberapa juga ada yang diungsikan ke rumah sodara yang lain. Sebenarnya bisa aja sih kalau semuanya nginep di rumah mbah put, tapi orang sebanyak itu kalau ngumpul di situ semua, pas pagi-pagi mau sholat ied tuh ngantrinya jadi panjang banget :( Walaupun kadang suasana rebutan kamar mandi yang cuma ada 2 sedangkan orangnya ada 41 itu bikin kangen, tapi kalau pas ngerasainnya tuh rasanya kayak pengen teriak saking gemesnya. Yang laki-laki tuh suka banget mengintimidasi yang perempuan, jago banget ngebohong dan nyalip-nyalip antriannya...

Nah, lanjut. Kalau seperempat dari jumlah orangnya udah ada yang siap berangkat ke alun-alun buat sholat ied, biasanya mereka langsung berangkat ke alun-alun buat 'ngejagain' tempat. Iya, jadi mereka bakal bawa tikar besar-besar buat digelar di sana, biar kedapatan sholat di shaf awal-awal, bukan di jalan rayanya. Nanti sisanya menyusul, soalnya alun-alunnya juga nggak jauh-jauh banget, jadi jalan kaki setengah jam juga udah nyampe―tinggal saling berkabar aja dapet tempatnya dimana. Terus setelah selesai sholat dan mendengarkan khutbah idul fitri, kami serombongan pulang deh. Kalau yang perempuannya langsung pulang ke rumah, biasanya yang laki-lakinya malah foto-foto dulu di depan loko tua yang letaknya di depan stasiun Cirebon. Biasa, nambah-nambah stok foto profil katanya. Lha, malah kebalik, ya? Yang perempuannya malah pengen cepet-cepet pulang, ngabisin stok es krim dan cemilan yang ada di rumah.

Terus, kalau udah puas foto-foto atau cemit-cemot makanan di rumah dan udah kumpul semua, kami bakal langsung mulai salam-salaman maaf-maafan gitu berurutan. Jadi dari mbah put dan diikuti sama keluarga anak-anaknya dimulai dari yang paling tua. Di sini nih, suasana paling harunya. Banyak yang nangis, meskipun yang remaja-remaja nggak nangis sih, malah berlomba-lomba saling ngejedutin tangan ke kepala adik-adiknya pas lagi salaman cium tangan (ini jangan ditiru ya, hehe). Tapi justru ini yang ngangenin. Dipeluk, dicium, ketawa-ketawa, rasanya kayak duh, keluarga kami sekompak dan saling menyayangi begini, ya? Rasanya rasa bersyukur itu nggak ada habisnya. Dan kayak hal beginian tuh nggak semua orang bisa ngerasain.

Antri Foto
Fotografer
Udah gitu setelah salam-salaman dan bagi-bagi thr (kalau ada yang ngasih thr), kami langsung atur jadwal foto. Jadi kami bakal foto satu-satu per keluarga gitu, bergilir. Dan sisanya emang kayak beneran lagi nungguin antrian foto, duduk-duduk nontonin sesi foto-foto yang lucu bikin ketawa karena banyak humornya. Iya, jadi kadang pas mau foto tiba-tiba ada yang sengaja lewat buat ngeganggu hasil fotonya. Atau fotografernya malah selfie sendiri. Apa ajalah pokoknya yang iseng-iseng gitu. Tapi kalau yang punya bayi atau balita jarang digangguin sih, soalnya tanpa digangguin pun udah keganggu sendiri wkwk. Dan yang ngefotoin itu nggak cuma satu orang, tapi dua-tiga gitu tergantung dari banyaknya pemilik kamera. Nah biasanya satu keluarga itu punya banyak jatah foto. Dari foto
Pengganggu Foto
formal, foto bebas, foto yang dirusakin (wkwk), dan foto bareng mbah put. Pokoknya setiap keluarga itu wajib ada foto bareng mbah putnya. Dan itu permintaan sendiri, bukan disengaja emang harus ada fotonya. Bahkan beberapa keluarga ada yang bapak-ibunya minta foto bertiga aja sama mbah put. Kadang sedih sih, mbah put tuh setiap lagi foto kayak gini kelihatan banget raut wajah kangen sama mbah kakungnya. Makanya, di sini ini peran anak-anaknya buat bikin mbah put nggak ngerasa hampa dan bahagia gitu. Terus kalau semua keluarga udah pada foto, langsung deh dilanjutin sama foto bareng-bareng semuanya. 


Foto bareng-bareng di garasi depan rumah.

Dan kalau lagi foto begini, kan biasanya pake fitur continous shooting, ya.  Jadinya take 1 dan 2 itu masih formal, tapi ketiga dan seterusnya bakal rusuh kayak gini :"
Foto bareng-bareng di ruang tamu.
Yang rusuh remajanya? Enggak. Justru yang rusuh itu malah bapak-bapaknya. Sukanya ngegangguin anak-anak di depannya, entah dijewer, ditutupin mukanya, di tindih-tindih. Pokoknya rusuh banget. Tapi lihat deh ketawanya mbah put di foto di atas, bahagia banget kan, ya? Hehe. Semoga aja mbah put bisa terhibur, ya.

Lanjut. Selesai foto-foto ramean gini, hal lain yang aku rindukan itu soal kami sekeluarga yang serombongan konvoi ke rumah sodara-sodara. Biasanya kami ke rumah sodara-sodaranya mbah put, kayak kakaknya atau sepupunya. Kebetulan rumahnya nggak jauh-jauh dan masih sekitaran Cirebon. Dulu juga sewaktu masih ada mbah uyut, biasanya kami ke rumah mbah uyut buat silaturrahim sekalian ngehabisin jajanan di warungnya mbah uyut (hehehe). Tapi tetep dibayar kok. Sama bapak-bapaknya wkwk.

Mas Adit keluar dari pintu bagasi.
Nah terus, kan orangnya ada banyak nih, tapi nggak semua keluarga itu punya mobil. Kayak tahun ini aja, ada 7 keluarga tapi mobilnya cuma 4. Alhasil, semua ditumpuk deh di satu mobil. Pokoknya, dimuat-muatin. Sampe akhirnya mobil kecil yang harusnya cuma muat buat 5 orang bisa dimasukin sama 7 orang. Jadi ada yang sampai duduknya di bagasi, yang keluar-masuknya juga dari bagasi, bukan pintu :" Tapi yang diumpel-umpel di mobil itu juga yang laki-lakinya kok. Yang perempuan mah umpel-umpelannya nggak sebegitunya, hehe. Jadi semobil kecil itu tuh isinya remaja laki-laki semua. Penuh. Sisanya masuk ke tiga mobil sisanya.

Kalau ada Om Opiq biasanya beliau ngebawain handie talkie (ht) buat dibagi-bagiin ke setiap mobil, biar komunikasinya gampang. Tapi berhubung Om Opiq baru datang di hari kedua lebaran, alhasil yang duduk di sebelah supir itu punya tanggungjawab buat ngeliatin terus grup wa keluarga besar, mengantisipasi kalau-kalau ada perubahan rute. Pokoknya komunikasinya di grup itu. Dan kan kami itu serombongan yang lumayan banyak ya, jadinya kadang kalau sampai di rumah sodara tuh kami ngantri gitu salaman masuk ke dalam yang langsung dilanjut keluar lagi gara-gara saking penuhnya. Jadi biasanya cuma mbah put sama anak-anaknya aja yang masuk ke dalam rumah dan sisanya di teras atau halaman luar gitu.

Nah, perjalanan konvoi silaturrahim ini tuh berakhirnya di rumahnya Om Isa. Jadi setelah keliling ke semua tempat sodara yang masih ada dan rumahnya nggak jauh-jauh dari Cirebon, siangnya kami langsung menuju ke rumah Om Isa buat ngehabisin stok makanan di sana wkwk. Iya, jadi biasanya makan tuh udah ada kloternya. Jadi kloter pertama (sarapan) di rumah mbah put, kloter kedua (makan siang) di rumah Om Isa, kloter ketiga (makan malam) di rumah Om Wisnu. Tapi kalau yang ketiga mah sesekali aja sih, nggak setiap tahun begitu. Kalau tahun ini, ifthar hari terakhirnya aja yang di rumahnya Om Wisnu.


Di sini juga kayak lagi di restoran all you can eat, semuanya ada. Dari makanan berat, cemilan, sampai es krim. Pokoknya es krim itu ada dimana-mana, hehe. Alhamdulillah. Dan kemarin kan lebarannya pas hari jumat ya, walaupun jatuhnya jadi sunnah, tapi kemarin itu yang laki-laki tetap sholat jumat. Jadi sewaktu yang laki-lakinya sholat jumat di masjid yang letaknya cuma 500 meter dari rumah, yang perempuannya ngaso di rumah. Beberapa nyiapin makanan lain, beberapa antri wudhu, dan beberapanya lagi ada yang tiduran. Terus kalau udah selesai, kami antri makan (lagi). Pokoknya di sini tuh makanannya ada dua macam dan dua kloter gitu. Kalau mau satu kloter aja ya silahkan, mau dua-duanya juga boleh. Kalau aku sih, dua-duanya, hehe.

Biasanya kalau sesi makan udah selesai kami bakal foto-foto lagi terus dilanjut sama main tenis meja, bola sepak, atau badminton di halaman depan rumah. Tapi tahun ini rupanya suhu di Cirebon lagi panas-panasnya, makanya semuanya pada diem aja di rumah―sampai foto-foto juga ikut kelupaan. Yang akhirnya jam-jam sekitar setengah tiga kami semua pun pamit dari rumahnya Om Isa, kembali ke rumah masing-masing. Karena aku rumahnya di Purwokerto, jadinya baliknya ya ke rumah mbah put, hehe (padahal mah kalian udah tahu lah ya, masa iya langsung balik ke pwt). Dan ya gitu, setelahnya ya istirahat masing-masing, nyelonjorin kaki.

Hehe. Panjang banget ya cerita mudik lebaranku tahun ini? Oh iya, Alhamdulillahnya tahun ini lebarannya ramai, lho. Jadi kan biasanya Om Wisnu atau Pakde Upe tuh harus ngejaga posko mudik lebaran karena beliau berdua itu kerjanya di kereta api, tapi kali ini kebagian dinasnya malam, jadinya bisa ikut berlebaran dulu. Terus keluarga Om Isa juga tahun ini lagi giliran berlebaran hari pertama di Cirebon dan hari keduanya yang di Depok, jadinya lengkap juga. Mas Adit sama Mba Nina juga kebetulan lagi libur, setelah biasanya kedapatan jaga rumah sakit di pagi hari. Pokoknya, tahun ini tuh Alhamdulillahnya pas hari pertama pada bisa hadir kecuali keluarga Om Opiq yang baru bisa datang di hari kedua.

Dan aku tuh pernah sekali nanya ke mbah put soal kenapa mbah put tuh suka banget beli jajanan dan nyediain makanan yang luar biasa kalau lebaran begini. Dan tahu apa jawabannya? Katanya, momen lebaran ini tuh justru jadi hari bahagia buat beliau. Ngeliat anak-anak, mantu-mantu dan cucu-cucunya pada kumpul tuh bikin mbah put seneng. Yang biasanya di rumah cuma berdua sama bude lies, kali ini ramean gitu. Yang biasanya cuma bisa denger suara tv, kali ini yang didenger suara celotehan dan ketawa-ketawa cucu-cucunya. Terus katanya juga, beliau itu sudah tua, udah rasanya hidup cuma tinggal ibadah dan kumpul sama keluarga aja. Sesederhana itu kebahagiaan mbah put. Dan kebahagiaan yang sederhana begini biasanya justru yang paling sering terlupakan oleh anak-anaknya karena terlalu sibuk dengan urusan pribadinya :" Allah, semoga Engkau memberikan umur yang panjang untuk mbah put...

Dan untuk semua yang membaca tulisan ini, aku minta maaf ya kalau-kalau aku punya banyak salah baik yang disengaja maupun yang tidak ke kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan, dan semoga ibadah yang kita lakukan kemarin-kemarin itu diterima oleh Allah. Sudah lebaran bukan berarti selanjutnya jadi kendor, ya! Btw, masih ada amalan di bulan syawal selain menikah (ini nih, bulan syawal mah sama orang-orang dikenalnya sebagai bulannya orang menikah aja, kan? hehehe) lho. Iya, masih ada puasa enam hari di bulan syawal yang juga bisa kita lakukan.


“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Tentunya, setelah melunasi kalau-kalau punya hutang puasa di bulan Ramadhan, ya. Semangat teman-teman!
Read More