Published Senin, Juli 09, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Catatan dari Teman(s)


Kalau tidak salah, waktu itu hari pertama meja kerja saya dipindah ke pojokan dekat pendingin ruangan.

Ini (mungkin) posisi terakhir setelah berulang kali meja saya ini bolak-balik berpindah tempat. Dari pojokan dekat pintu smoking area, lalu di tengah-tengah ruangan, sampai akhirnya di sini―di pojokan dekat jendela luar. Tapi saya bukan mau membahas soal posisi meja kerja saya di sini.
***
Setelah beberapa kali ada pergantian posisi dan pergantian teman kerja, seorang teman memindahkan layar monitor yang biasanya ada di atas mejanya ke atas meja saya. Katanya, biar saya saja yang pakai monitor ini, dia mau pakai monitor yang baru. Ya walaupun sebenarnya saya tidak begitu butuh monitor, tetapi saya iyakan saja, sekalian biar apa yang saya kerjakan di atas meja saya ini tidak begitu kelihatan sama orang lain (lah?). Dan sewaktu monitor itu dipindahkan, sebuah sticky notes yang tertempel di bagian bawah layar monitor itu menjadi perhatian saya. Gambarnya ada di sebelah.

Awalnya saya tidak tahu itu punya siapa. Tapi melihat catatan yang tertulis di situ, entah kenapa tangan dan pikiran saya tergerak untuk menuliskannya kembali, yang setelahnya keduanya saya gabungkan dan saya tempelkan di monitor bagian atas. Iya, jadi tulisan yang punya saya itu sengaja saya taruh di atas tulisan yang sebelumnya memang sudah tertempel. Dan salah satu alasan kenapa saya menuliskannya pun sebenarnya karena kedisiplinan bagi saya itu penting, dan saya ini paling sensitif soal disiplin. Makanya melihat tulisan yang begini, rasanya saya senang aja gitu dan sebagai pengingat juga untuk diri saya sendiri.

Dan tentu saja saya menulis ini bukan dengan maksud dan tujuan apa-apa, semata-mata cuma karena iseng dan suka saja dengan kalimatnya. Namun yang tak saya duga, beberapa hari setelahnya justru muncul tulisan dengan topik yang serupa, tetapi tanpa identitas dari si penulis. Tulisan itu juga agaknya terbaca seperti berlawanan dengan apa yang saya tulis sebelumnya, seperti gambar yang ada di sebelah kanan ini.

Awalnya saya bertanya ke beberapa teman yang duduknya tidak jauh dari saya, tapi tidak ada satupun yang tahu dan mau mengaku. Dan karena bertanya ke sana kemari pun rupanya tidak membuahkan hasil, akhirnya tulisan itu pun saya sandingkan bersamaan dengan tulisan saya yang sebelumnya. Ditambah dengan keisengan saya untuk mempublikasikan kedua tulisan itu ke dalam instasory milik saya. Cukup banyak yang merespon, satu-dua orang bilang kalau catatan itu ada benarnya, satu-dua lain bilang kalau saya kayaknya punya musuh di kantor (yang ini apa banget deh wkwk), dan sisanya malah mengomentari dan memprotes saya karena monitor yang malahan dipakai untuk menempelkan catatan, bukan digunakan sebagaimana mestinya. Membaca komentar-komentar itu saya sih ketawa-ketawa saja, sampai seorang teman saya ikut berkomentar dan bilang kalau catatan yang saya tulis sebelumnya itu juga pernah ditulis oleh Kak Adzim. Lalu saya berpikir, oh ternyata itu tulisannya Kak Adzim toh. Fyi Kak Adzim ini adalah leader pertama saya, yang juga jadi orang yang bertanya banyak hal ke saya saat di Bandung dulu―ketika saya sedang melamar kerja di kantor ini. Lucu ya, kantor saya ini ada di Jakarta Selatan, tapi saya wawancaranya justru di salah satu restoran fastfood dekat kampus. Tetapi di sini juga saya bukan bermaksud untuk membahas Kak Adzimnya, sih.

Intinya setelah beberapa hari monitor saya ini adem-ayem saja tanpa ada tambahan catatan apapun lagi, tiba-tiba saja sewaktu saya masuk kantor, saya justru dibuat terkejut dengan kondisi monitor saya yang semakin ramai alias semakin banyak tempelannya. Berawal dari bertambah dua-tiga catatan, lalu tiba-tiba jadi ada yang menempelkan struk belanjaan segala, sampai akhirnya satu-dua orang bukannya menuliskan quote begitu malah jadi nulis pesan dan kesan untuk saya. Tapi melihat hal yang begitu saya jadi senang sih, karena tulisan mereka itu bermacam-macam dan lucu-lucu. Dan yang beginian tentu saja tak lepas dari keisengan saya untuk mempublikasikannya ke instastory milik saya. Apalagi kan, entah kenapa saya jadi ngerasa kayak banyak teman aja gitu, karena mereka dengan kesadaran sendiri malah menuliskan pesan-pesan untuk saya, meskipun beberapa diantaranya ditambahi dengan quotes yang membangun maupun jokes yang (sedikit) receh. Tapi sebagian besar catatan yang isinya jokes receh juga udah nggak ada di monitor ini sih, soalnya diambilin satu per satu sama teman-temanku dan ditempel di monitornya masing-masing. Katanya biar kalau lagi bete bisa ketawa.
Dan saya pun menyebut monitor di atas sebagai notes board. Tapi kebanyakan yang menulis di situ tuh sebenarnya sudah tidak bekerja lagi di kantor ini, makanya dua-tiga tulisan justru terbaca seperti pesan perpisahan. Malahan ada seorang teman kerja saya yang justru sengaja menulis catatan untuk saya sebagai pesan perpisahannya. Dan sewaktu saya mempublikasikan gambar yang serupa dengan gambar di atas, tiba-tiba salah seorang teman kuliah saya berkomentar dan bilang kalau dia juga mau ikutan nulis pesan untuk saya. Yang akhirnya ternyata beneran dia mengirimi saya sebuah gambar seperti di bawah.

Sebenarnya sewaktu teman saya mengirimkan itu, saya ada rasa sedikit sebel-sebelnya gitu sih. Soalnya hashtag-nya ituloh, entah mengapa terbaca cukup menyebalkan. Tetapi karena teman saya ini sudah menuliskannya khusus untuk saya, ditambah ternyata sampai sekarang pun catatan itu masih tertempel di tembok kamar miliknya, jadinya saya pun menuliskannya kembali untuk ditempelkan di notes board milik saya itu. Dan sewaktu saya mempublikasikan tulisan miliknya itu ke instastory milik saya (lagi, kebanyakan publikasi ya, Nan), dia bilang kalau tanpa disensor pun sebenarnya orang-orang tahu siapa yang saya maksud di story itu. Dikomentari begitu saya sih ketawa-ketawa saja, dan bilang kalau biarin saja lah kalau ternyata banyak orang yang tahu, toh maksudnya saya cuma mau mempublikasikan isi tulisannya, bukan dianya. Dan dia cuma mengirimi saya emoticon sebal karena jawaban saya yang seperti itu.

Dan nulis ini sebenarnya juga karena saya sedang rindu dengan teman-teman yang sudah menorehkan tulisannya di atas kertas yang saya tempel di monitor itu, sih. Soalnya semua yang pernah menulis di situ tuh sebenarnya sudah tidak ada lagi yang bekerja di sini, jadi sudah tidak pernah ketemu lagi. Eh masih ada ding dua temanku yang ada di sini, tetapi minggu ini juga merupakan minggu terakhir untuk mereka berdua di sini. Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi. Toh tidak mungkin ada teman kerja yang menjadi teman kerja untuk selamanya, kan? Dan setiap orang memiliki kesempatan dan jalannya masing-masing.

Pun nulis ini juga sekaligus untuk pengingat, karena barangkali saya mulai lupa dengan catatan yang saya tempel sendiri.


Juni 2018, sengaja saya publikasikan dengan terlambat
dan tulisan serupa pernah saya publikasikan di sini

Read More
Published Senin, Juli 09, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Kado Ulang Tahun

Kalau tidak salah, waktu itu adalah hari Senin. Dan saya sedang beberes kamar yang sudah kurang-lebih dua minggu lamanya ditinggal mudik.

Seharusnya hari itu saya masuk kantor, tetapi rupanya hujan turun dengan derasnya sejak pagi sampai sore hari tanpa jeda. Allahumma shayyiban naafi'aan. Karena hal itulah akhirnya saya pun memutuskan untuk remote kerjaan saja dari kamar kosan setelah menunggu dua-tiga jam sambil menghubungi beberapa teman kantor, meskipun sebenarnya saya sudah bersiap-siap untuk berangkat dan sudah mengenakan pakaian yang rapih. Awalnya saya membuka laptop, mengedit-edit beberapa baris kodingan sambil mengecek beberapa fitur yang kemarin-kemarin telah saya kerjakan. Alhamdulillah belum ada masalah. Sedikit bingung karena tidak tahu mau diapakan lagi barisan-barisan itu, akhirnya beberapa saat kemudian saya kembali menghubungi seorang teman untuk bertanya satu-dua hal, tapi dijawab kalau ternyata dari kantor belum ada task atau permintaan apa-apa. Dan karena dijawab begitu, maka kegiatan mengutak-atik kodingan itu pun hanya bertahan kurang dari setengah jam.

Agak aneh sebenarnya, karena saya sedang (berusaha) membiasakan diri untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan to do list yang telah saya buat sebelumnya. Namun karena ketidakjadian saya berangkat ke kantor dan ketidakadaan task hari itu membuat saya berpikir untuk mencari kegiatan lain―menghindari berlama-lama membuka sosmed atau menonton video apapun itu untuk mengisi waktu luang. Tapi namanya manusia, namanya seorang Hannan, tentu saja ada sedikit tergoda-tergodanya. Iya, beberapa kali sempat terbersit keinginan untuk membuka beberapa situs, terutama soal episode detective conan yang sudah dijadwalkan hanya bisa ditonton di akhir pekan. Namun Alhamdulillah, tiba-tiba ditengah kebingungan itu perhatian saya terpusatkan pada sebuah kontainer berbahan plastik yang terletak tepat di bawah jendela kamar. Pikiran saya pun akhirnya teralihkan.

Diawal-awal itu sebenarnya saya berpikirnya ingin mulai membereskan barang-barang, seperti memasukkan kembali buku-buku yang terpajang di atas lemari ke dalam kontainer yang setelahnya dilanjutkan dengan memasukkan pakaian-pakaian yang sekiranya sudah jarang digunakan ke dalam koper. Tapi setelah melihat-lihat isinya sebentar, rupanya saya menemukan sekotak kado ulang tahun yang saya lupa itu diberikan di tahun keberapa, tapi hal itu sukses membuat saya memilih untuk bernostalgia sejenak.
Sebuah kotak kado ulang tahun yang dibentuk sendiri menggunakan kardus dan kertas kado seukuran buku catatan begitu. Dan melihat kotak kado di atas saya jadi senyum-senyum sendiri. Keingat masa-masa sewaktu teman-teman saya memberikan hadiah ini, karena kado ini juga sebenarnya adalah hasil dari kreatifitas hampir semua teman kelas saya (iya hampir, nggak semua, soalnya beberapa belum sempat memberikan kertas pesan-kesannya, katanya gara-gara sayanya udah keburu ulang tahun). Tapi yang tidak sempat itu tetap mengirimi saya doa dan menyisipkan satu-dua foto di dalamnya.

Dan agak lucu sih sewaktu membaca pesan dan kesan yang ditulis dengan tulisan tangan teman-teman saya itu. Meskipun beberapa diantaranya agak sedikit susah untuk dibacanya, tetapi saya paham inti dari apa yang mereka ingin sampaikan. Apalagi tulisan dari teman-teman terdekat saya yang isinya bernada menyindir-nyindir lucu begitu. Pokoknya hari itu saya benar-benar menjadi kangen sama teman-teman sekelas saya semasa di kampus, dicampur dengan rasa agak sedikit terharu dan ada sedih-sedihnya yang lumayan banyak. Rasanya seperti udah lama banget nggak ketemu sama mereka-mereka itu, dan kayak hal-hal yang begitu tuh kayaknya udah nggak akan bisa terulang lagi. Udah pada lulus, sebagian sudah bekerja dan melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda-beda, yang tentunya masing-masing individu memiliki kesibukannya sendiri-sendiri dan memiliki prioritas yang berbeda-beda. Makanya kami-kami ini pun jadi semakin susah untuk mengatur waktu ketemunya.
 
Tapi diantara semua foto dan tulisan dari teman-teman saya itu, saya agaknya lebih tertarik sama puisi yang dituliskan oleh salah seorang teman saya. Dan fyi, teman saya ini sebenarnya laki-laki, tetapi soal puisi-puisi begitu dia justru paling jago menurut saya. Bahkan sewaktu kuliah, disaat teman-teman yang lain itu mengisi kebosanan dengan menyoret-nyoret buku dengan gambar-gambar yang sepintas lewat di pikiran, teman saya ini justru memenuhi beberapa halaman terakhir buku catatannya dengan puisi-puisi. Dan bagi saya laki-laki yang membuat puisi itu keren, makanya dulu saya sempat agak sedikit me-ngepo-in blog dia yang isinya itu cuma kumpulan-kumpulan puisi buatan dia. Soalnya saya itu paling suka puisi, tapi nggak pernah bisa bikinnya. Makanya pas tahu teman saya ini jago bikin puisi, saya langsung jadi tertarik sama kepribadian dia. Tapi tentu dengan batasan-batasan yang sewajarnya.

Apalagi dia ini juga sering berkunjung ke beberapa rumah baca yang ada di Bandung. Katanya sih, mencari inspirasi untuk menulis gitu. Pernah beberapa kali mengajak saya dan seorang teman yang lain ke salah satu rumah baca, tapi sayanya suka susah ketemu waktunya. Dan sewaktu akhirnya dia membiarkan saya ke sana sendirian dengan hanya membekali saya alamat tempatnya yang ada di aplikasi maps, sayanya malah jadi kesasar-sasar dan tidak jadi ke sana. Bahkan sampai hari ini pun saya belum kembali menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat itu. Ah, mungkin kalau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke Bandung lagi, tempat itu bakal saya jadikan list teratas dari deretan tempat-tempat yang akan saya kunjungi. Insya Allah. Soalnya kata teman saya itu, tempatnya memang menarik dan cozy gitu. Dan saya juga pernah lihat foto-fotonya di hp teman saya itu sih, dan memang terlihat menarik. Semoga saja masih ada kesempatan, ya. Sekalian untuk melepas rindu, huhu.

Dan inti dari postingan ini selain karena ingin bernostalgia, tujuan sebenarnya buat saya itu lebih ke arah bersyukur, sih. Bersyukur karena rupanya saya memiliki teman-teman yang peduli dan perhatian dengan saya, sampai mau repot-repot membuat hadiah ulang tahun sampai sebegininya. Sekaligus bersyukur karena masih diberikan ingatan dan kesempatan untuk bernostalgia, mengingat kembali hal-hal yang sekiranya berkesan dan bikin kangen. Alhamdulillah, terima kasih Yaa Allah :"



Selasa, 26 Juni 2018
Banyak-banyak bersyukur ya, Nan.
Read More
Published Senin, Juli 09, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Manusia Kekinian

Dulu waktu kuliah saya sering dikomentari oleh beberapa teman soal pakaian yang saya kenakan. Katanya, pakaian dan kerudungnya bermodelkan yang itu-itu saja. Warnanya juga nggak akan jauh-jauh dari warna hitam dan biru, atau cokelat dan abu-abu tanpa motif apa-apa. Pokoknya yang terlihat netral dan bisa dipadukan dengan warna apapun gitu. Saking motif dan warnanya yang seputaran itu-itu saja, sampai-sampai salah seorang teman saya pernah membelikan saya kerudung berwarna kuning-polkadot yang jauh-jauh ia beli sampai ke pasar baru demi ingin melihat saya menggunakan kerudung yang berwarna-warni―yang meskipun sampai saat ini kerudung itu pun cuma satu kali saja saya pakainya karena warnanya yang bukan "saya banget". Maaf ya :"

Foto ini diambil di waktu dan tempat yang berbeda-beda.
Dan karena hal itu juga dulunya saya sempat dianggap orang yang zuhud pisan, yang padahalnya mah sebenarnya sebelum-sebelumnya saya bukan tipe orang yang seperti ini dan memang dulu tidak pernah ada pikiran apa-apa soal ini. Saya juga sempat menjadi remaja-remaja lain yang sibuk memadu padakan pakaian yang matching dari atas sampai bawah, kok. Pokoknya kalau lagi pakai baju biru, kerudungnya juga harus biru. Pakai baju ungu, hijau, oren, ya kerudungnya juga harus senada. Jadi kalau beli baju baru ya harus sama kerudungnya sekalian biar kelihatan bagus. Apalagi waktu awal-awal kuliah itu saya doyan banget "jajan" di pasar kaget. Beli kerudung paris berbahan tipis-tipis yang kalau beli sepuluh ribu itu bisa dapet tiga, ditambah sama kaos kaki yang bentuknya lucu-lucu dan berwarna-warni. Ya meskipun memang dari dulu untuk hal-hal seperti itu saya tidak pernah suka sama yang motifnya terlalu nyentrik, alias yang polos-polos saja atau hanya ada sedikit motif biasa, tetapi saya punya banyak kerudung dan baju dengan warna yang berbeda-beda.

Dan hal itu tidak terbatas pada ketiga benda itu saja. Kamar kosan saya udah kayak gudang, dipenuhi oleh barang-barang yang sebenarnya nggak begitu saya butuhkan. Apalagi hal ini juga didukung oleh asupan uang jajan tambahan karena sempat menjadi asisten praktikum, sehingga merasa udah punya penghasilan sendiri dan bisa semakin banyak "jajan". Apa-apa mau dibeli. Entah itu sebulan kalau beli kerudung bisa berlusin-lusin dengan warna yang sebenarnya nggak begitu berbeda, sepatu dan kaos kaki yang modelnya agak mirip-mirip―yang sekilas orang juga sebenarnya bakal susah ngebedainnya, berbagai macam model tas dari yang shoulderbag, slingbag, handbag, dan yang lain sebagainya, sampai kaos yang warna dan modelnya sebenarnya nggak begitu jauh berbeda kayak yang satunya garis-garis vertikal sedangkan yang satunya lagi garis-garis horizontal. Dan kalau diingat-ingat lagi, saya justru ngerasa kayak hidup saya kok berasa mubazir banget, ya. Mungkin kalau dulu uang buat ngebeli hal-hal itu dikumpulin, saya udah bisa beli bergram-gram emas, deh. Atau bahkan sampai ratusan gram, ya?

Apalagi kan waktu itu udah mulai terkenal tuh yang namanya belanja online. Yang biasanya banyak promo plus ditambahin iming-iming free ongkir. Belanja sambil tiduran pun kita udah bakal dapetin banyak barang yang lucu-lucu dan murah-murah, atau kalaupun mahal pun biasanya udah banyak promonya. Kayak waktu itu saya pernah ditawari ikutan beli sepatu lari yang katanya kalau beli dua gratis satu, jadi kalau tiga orang beli ya harganya jadi lebih murah karena harga dua sepatu bakal dibagi tiga. Dan anehnya saya mau, padahal saya itu nggak pernah olahraga lari. Tapi saya mau karena tertarik sama promo dan desain sepatunya yang bagus. Terus sewaktu sudah kerja juga teman saya nawarin saya buat ikutan beli tas karena ada promo beli dua shoulderbag bakal dapet dua walkerbag, dan saya mau juga. Dan akhirnya karena kerakusan saya itu, sepatu larinya sekarang cuma nangkring cantik di rak sepatu karena sayanya nggak pernah olahraga lari, dan entah kenapa sepatu lari juga bagi saya agak aneh kalau sekedar dipakai jalan-jalan. Begitu juga dengan tasnya yang akhirnya justru saya kasihin ke adik saya yang laki-laki.

Dan singkat cerita di masa-masa kuliah itu, seiring dengan berjalannya waktu entah kenapa lama-lama saya jadi mulai merasa risih dan agak nggak enakan kalau pakai kerudung yang tipis-tipis atau pendek-pendek gitu. Kan bahan paris itu kalau dipakai sebenarnya agak nerawang gitu kan ya, makanya kalau dipakai jadi pendek-pendek karena harus dilipat banyak-banyak biar bahannya jadi kedobel-dobel. Dan sewaktu saya mulai risih begitu, saya jadi suka pakai kerudungnya didobel-dobel. Jadi warna apapun saya dobelin pake kerudung yang warnanya gelap dulu baru dilipet buat dipakai biar kerudungnya bisa lebih panjang dan lebar, dan itu benar-benar memakan waktu yang nggak sebentar. Saya jadi sering terlambat kuliah karena kesusahan memakai kerudung yang didobel-dobel begitu. Dan karena sering kesusahan begitu, akhirnya di bulan berikutnya pun saya memutuskan untuk membeli kerudung yang lebih panjang dan lebih tebal. Namun karena harganya yang tidak murah dan saya juga sudah tidak jadi asisten praktikum lagi, jadinya waktu itu saya hanya membeli tiga warna saja―hitam, navy dan cokelat, yang sekiranya bisa dipasangkan dengan pakaian warna apapun.

Di sini sih sebenarnya awal mula adanya titik balik dalam hidup saya. Karena terlalu nyaman dengan ketiga warna yang ternyata bisa dipasangkan dengan berbagai macam warna pakaian, akhirnya saya kalau beli baju juga warnanya jadi seputaran ketiga warna tadi. Dan karena warna-warna itu juga netral, jadinya saya udah nggak banyak beli baju-baju baru yang jadinya ngebuat saya pakai bajunya ya seputaran warna dan model yang itu-itu saja. Apalagi sewaktu saya lagi beberes pakaian karena mau pindah kosan, ngeliat banyak kerudung paris bertumpuk-tumpuk begitu malah jadi bikin saya engap. Sebanyak itu ternyata sekarang jadi nggak ada satupun lagi yang saya pakai. Dan perubahan ini juga didukung oleh komentar seorang teman saya, sih. Jadi sewaktu lagi mau pindahan gitu saya sempat cerita kalau ternyata saya punya banyak sepatu, dan teman saya malah bilang begini, "Masa sih? Kok kayaknya aku lihatnya kamu pakai sepatu yang itu-itu aja?" Yang hal itu justru sukses membuat saya berpikir, kalau selama ini saya cuma lapar mata. Jadi suka ngebelinya, tapi nggak begitu suka makenya. Cuma jadi koleksi semata, dan membuat saya jadi kepikiran sama istilah manusia kekinian.

Kan sering tuh kita lihat banyak remaja atau mahmud-pahmud, bahkan sampai para bapak-ibu yang eksis di IG, entah yang pakaiannya syar'i atau tidak. Sukanya nampang di beranda IG dengan pakaian, kerudung, tas, sepatu, jam tangan, atau barang-barang lainnya yang kebanyakan adalah hasil dari endorse-an suatu produk tertentu. Padahal terkadang wajahnya nggak begitu kelihatan, tapi entah kenapa aura cantik atau gantengnya itu bisa jadi ujian buat kaum-kaum jomblo. Terutama ujian yang bisa mengguncang isi dompet, hehe. Soalnya ngelihat barang-barang itu dipakai sama mereka kitanya jadi mikir, "Ih kok bagus, ya? Kalau kalau aku beli dan pakai kayak gitu, aku juga bisa jadi keren kayak mereka kali, ya?" Yang intinya jadi menaruh harapan agar bisa terlihat keren kalau pakai barang yang sama, dan akhirnya malah membuat kita jadi khilaf pengen "jajan" terus. Atau terkadang juga jadi lapar mata karena ngelihat barang branded atau barang-barang lain yang kelihatan keren dan kitanya kayak nggak mau kalah aja gitu sama model barang yang lagi in saat itu. Padahal di rumah ada banyak barang serupa yang malah nggak sempet dipakai karena saking banyaknya model yang kita punya. Dan parahnya, banyak orang yang terjerat akan hal ini meskipun tahu kalau hidup kayak gini tuh sebenarnya capek dan mubazir. Buktinya? Lihat ke diri sendiri aja :)

Dan hidup dengan cara seperti ini juga sebenarnya menurut saya itu nggak sehat. Karena lapar mata, akhirnya kita jadi sering ngebelanjain barang-barang yang ujung-ujungnya cuma disimpen di lemari atau tempat-tempat lain yang malah bikin barang-barang itu jadi usang dan rusak dengan sendirinya, padahal nggak pernah dipakai. Udah gitu karena saking banyaknya barang yang kita punya, ngerawatnya pun jadi susah. Coba deh diperhatiin, satu-dua barang yang jarang dipakai pasti lebih gampang rusaknya, karena kita nggak memperlakukan mereka dengan hati-hati―karena punya perasaan kalau kita masih punya banyak barang lainnya yang serupa kegunaannya. Dan diakhir-akhir baru sadar kalau ternyata udah banyak menghambur-hamburkan uang yang sebenarnya uangnya tuh bisa dialihfungsikan ke hal-hal yang lain, kayak misalnya infaq-shodaqoh-zakat yang justru memberikan pahala yang kalau dibandingkan dengan nambah-nambah dosa karena udah menghambur-hamburkan uang itu pastinya jauh lebih baik. Atau mungkin bisa dipakai travelling ke berbagai tempat yang justru memorable, berkesan gitu. Pokoknya melakukan hal-hal lain yang lebih ada manfaatnya.

Soalnya kerasa banget sewaktu pindahan dan jadinya bingung kerudung-kerudung lama itu mau diapain. Dan adik kelas saya bilang kalau dikasihin ke orang lain takut dosa karena ngasihin kerudung tipis dan pendek, disaat seharusnya mulai mengajarkan ke orang lain buat membiasakan diri memakai kerudung yang tebal dan lebar. Apalagi soal tas kembaran berempat yang dibeli gara-gara ngeburu bonus walkerbag itu, karena model yang saya suka cuma satu dan ternyata itu juga disukain sama dua orang teman saya yang lainnya, jadinya kita bertiga pun punya tas dengan model yang sama tapi warnanya aja yang beda. Dan karena teman kantor saya bilang kalau kami berempat―sama satu orang yang punya model tas beda tapi masih dengan merk yang sama―itu kayak lagi di-endorse sama produsen tas, terus salah seorang kakak tingkat juga bilang kalau kami bertiga kayak anak panti asuhan yang lagi diajak jalan-jalan sama beliau karena punya tas yang sama sewaktu lagi perjalanan Jakarta-Depok-Bandung, saya pun jadi agak jarang pakai tas itu karena ngerasa ada sedikit rasa nggak enak-nggak enaknya gitu. Soalnya waktu itu, genre saya memang yang berbeda sendiri.

Tapi Alhamdulillahnya secara kebetulan adik saya yang laki-laki itu lagi butuh tas juga, sih. Jadinya tas kembaran itu pun akhirnya dihibahkan ke adik saya biar nggak terbengkalai lagi. Dan sewaktu saya ngirimin tas itu ke Bandung, disitu ingatan saya langsung terbang ke hari pas saya beli barang itu. Iya, saya jadi dihantui perasaan bersalah. Perasaan bersalah karena banyak hal. Perasaan yang sama kayak yang saya rasakan sewaktu melihat tumpukan kerudung berbahan paris itu dulu. Perasaan yang mungkin setelahnya justru membuat saya memutuskan untuk menerapkan konsep hidup minimalis.

Yapp. Jadi sekarang tuh saya lagi (berusaha) mencoba untuk tidak membeli apa-apa sebelum barang yang saya punya dan saya pakai itu benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi, atau habis. Sudah berjalan hampir setahun saya menerapkan konsep hidup seperti ini. Dan saat ini saya juga sedang menerapkan konsep one-in-one-out yang saya tiru dari seorang selebgram ibu-ibu muda, yang maksudnya adalah kalau habis beli barang baru ya barang lamanya harus dikeluarin. Jadi misalnya saya habis beli baju baru, berarti setelahnya saya juga harus mengeluarkan baju lama saya, entah baju itu jadinya disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan atau menjadi baju lungsuran untuk adik-adik saya. Pokoknya jangan sampai bajunya malah jadi tidak terpakai atau justru terbuang. Dan bagi saya hal ini justru membuat perasaan saya menjadi jauh lebih tenang.

Apalagi saya pernah dengar juga, kelak di akhirat nanti kita akan ditanya tentang apa-apa yang kita miliki di dunia, termasuk soal harta kita tuh sudah digunakan dan dibelanjakan untuk apa saja. Dan saya selalu terharu dan malu sendiri kalau ingat sirah obrolan Rasulullah dengan shahabat yang mempertanyakan kehidupan Rasulullah yang sederhana banget. Hiks, Masya Allah... Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang lebih fokus ke penampilan tapi melupakan soal hati kita, ya.

So, semangat teman-teman! Semangat untuk men-istiqomah-kan konsep hidup yang lebih baik.
Dan semangat buat kamu juga, Nan :"



Jakarta, 25 Juni 2018
Read More
Published Minggu, Juli 08, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Sesuatu Hal

"Dan atau mungkin rasa kecewa itu datangnya dari kesalahan yang kita pilih dalam meletakkan harapan yang terlalu banyak kepada makhluk. Padahal dengan begitu, ada hal lain yang seharusnya menjadi keharusan bagi kita untuk mempersiapkannya, yaitu kekecewaan.
Betapa tidak, ibarat menyandarkan diri pada sebuah bayangan tembok, yang ada adalah jatuh dan terjungkalnya kita, karena bayangan adalah sesuatu yang semu. Satu pertanyaan yang kemudian muncul, kita posisikan Allah di mana?" - Seseorang.
***

Sesuatu hal membuatku yakin akan sesuatu hal yang lain. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah menegur sekaligus menunjukkan jalan yang lebih baik agar diri ini tidak semakin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan sebagaimana semestinya. Alhamdulillah.

Dan untuk keputusan ini, bismillah.
Read More