Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Published Selasa, Juni 26, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Surat Untuk Kamu Di Masa Depan

Dear Mas,
beberapa hari belakangan ini Jakarta lagi sering hujan. Biasanya kalau paginya langitnya terang, seringnya sorenya akan hujan deras. Atau begitu juga sebaliknya. Bahkan dua hari belakangan ini aku lagi bolak-balik kehujanan, Mas. Belum sampai flu (semoga tidak), tapi sudah sedikit merasa satu-dua kali menggigil di penghujung malam. Tapi semoganya sih tidak akan sakit. Doakan saja ya, Mas. Eh iya ngomong-ngomong, kalau Mas sendiri, cuaca di kotamu sekarang bagaimana keadaannya? Apa sedang hujan juga, sekadar mendung, atau justru langitnya terang-benderang? Tapi bagaimanapun cuaca di sana, semoga kebaikan selalu tercurah kepadamu, dan semoga Mas senantiasa berada dalam lindunganNya, ya. Jangan sampai sakit, Mas. Dan kalaupun tidak sedang sakit, tetap jangan sampai lupa untuk terus bersyukur atas nikmat sehat yang telah Allah kasih, ya.

Dear Mas,
sebenarnya agak lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Aku bahkan belum bertemu denganmu, juga belum tahu bagaimana rupa dan perangaimu, tapi aku justru sudah membuat surat ini untukmu. Dan nulis ini sebenarnya tujuanku cuma ingin membagikan sedikitnya keinginanku, sih. Iya, membagikan apa-apa yang selama ini pernah berputar-putar di otakku kepadamu, Imam masa depanku. Seseorang yang Insya Allah nantinya akan menjadi pendamping hidupku. Mungkin satu-dua hal akan terbaca seperti sedang menuntut sesuatu. Dan tiga-empat-lebih hal lainnya akan terdengar seperti celotehan-celotehan keinginanku akan sesuatu. Tapi hal-hal yang begini kalau ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan pendapatmu selanjutnya bisa kita bahas berdua kok. Tentunya dengan pembahasan yang lebih dalam dan lebih rahasia. Kan yang surat ini, cuma pembukanya aja. Jadi mungkin bisa dianggap seperti aku sedang bercerita seperti biasa saja kepadamu, Mas.

Dear Mas,
sebelum aku bercerita, mungkin alangkah baiknya jika aku meminta maaf terlebih dahulu kepadamu atas beberapa hal yang pernah aku lakukan di masa lalu. Karena bisa saja ketika nanti akhirnya kita dipertemukan, atau ketika aku menyodorkan isi surat ini langsung kepadamu, ternyata aku belum sepenuhnya bisa menjadi perempuan yang sesuai dengan harapanmu. Aku benar-benar minta maaf, Mas. Mungkin terbilang cukup terlambat, tetapi aku saat ini memang masih sedang berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku masih banyak kurangnya. Dan mungkin saat Mas mulai ingin mengenalku dan mencoba untuk mencari tahu tentangku dari sosial mediaku, akan ada sisa-sisa hal-hal terdahulu dari kehidupanku yang belum sempurna menguap. Mungkin Mas akan melihat beberapa kenakalanku di masa lalu, atau cerita-ceritaku dengan teman lelakiku. Tapi sungguh, asal Mas tahu, saat ini aku benar-benar sedang berusaha untuk menghapus setidaknya 99% dari kisah hidupku dengan beberapa orang sebelum kamu. Iya, aku memang belum bisa menjanjikan kesempurnaan 100% itu, tapi kalau boleh aku meminta, aku ingin Mas justru menganggap bahwa mereka tidak lebih dari sekadar seorang teman yang sempat memberikanku pelajaran serta moral hidup. Kan akunya juga sudah berusaha, Mas :"

Dear Mas,
awalnya aku memang ingin bercerita. Bahkan aku sudah sampai men-list semua hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tapi sewaktu aku sedang menyusun kalimat-kalimat itu, tiba-tiba aku jadi bersin-bersin terus. Sebenarnya nggak nyambung sih, tapi pas lagi bersin-bersin begitu aku malahan jadi berpikiran kalau hal-hal yang begini justru lebih romantis kalau hanya Mas dan aku saja yang tahu. Iya nggak, sih? Hehe. Tapi biar kesannya nggak kayak php, aku bakal tetap menceritakan beberapa hal yang mungkin memang seharusnya aku ceritakan di sini saja. Soalnya kalau diceritakan langsung itu akunya malu, dan jadi kurang kece, hehe. Maafkan aku ya Mas, aku emang masih labil begini. Tapi soal mengarungi bahtera rumah tangga denganmu, pastinya aku sudah tahu batasan-batasan akan kedewasaan yang seharusnya dipersiapkan kok, Mas. Insya Allah.

Dear Mas,
aku itu orangnya pendiam. Sangat pendiam. Makanya jadi tidak begitu suka jika harus menjadi perhatian publik. Jadi kalau nanti aku ada salah atau bersikap menyebalkan kepadamu, tolong tegur saja, tapi tidak di depan orang banyak, ya? Tegur saja pelan-pelan secara sembunyi-sembunyi, atau langsung peluk saja aku, hehe. Tapi tetap sembunyi-sembunyi, jangan di depan orang banyak. Dan nanti kalau misalkan kita sedang berada di dalam situasi yang serius, tentunya kamu tetap boleh kok mengajakku untuk berdiskusi panjang atas apa-apa yang menjadi kesalahanku atau sifat-sifat burukku. Terus selain itu, aku juga tidak begitu suka berfoto, apalagi selfie. Foto-fotoku yang begitu tuh bisa dihitung jari, jadi jangan sering-sering mengajakku untuk berfoto, ya? Kalau kamu mau, kamu boleh mengambil fotoku secara sembunyi-sembunyi saja. Kan jadinya juga terlihat lebih romantis bukan? Hehe.

Dan untuk beberapa hal yang lain, mungkin aku mau meminta maaf soal kemungkinan timbulnya sikapku yang terkadang moody-an, seperti misalnya ketika aku sedang pms. Tapi kalau aku sudah mulai kelihatan begitu, tolong tanya saja, ya. Dan kalau misalkan setelah ditanya akunya justru malah jadi semakin tidak mood, mungkin dengan membelikanku es krim atau buku bacaan yang aku suka bisa membuat suasana hatiku kembali normal. Sebenarnya aku juga bukan seorang perempuan yang mudah marah sih, tapi suatu ketika aku memang bisa jadi terlalu sensitif dan mudah ngambek. Apalagi asal Mas tahu, terkadang (atau seringnya) perempuan itu lebih menyukai laki-laki yang bisa membaca pikiran dan situasi. Jadi kalau laki-lakinya kurang peka, itu bisa menjadi masalah tersendiri bagi perempuan. Tapi aku percaya kok, lama kelamaan Mas pasti mengerti, bahwa perempuan itu lebih menyukai aksi yang spontanitas dan tidak suka ditanya. Hmm, perempuan itu sangat susah untuk dimengerti ya, Mas? Hehe. Maaf ya, Mas. Tapi untuk hal-hal yang begini, Insya Allah aku juga akan terus belajar dan berusaha untuk meredam ego dan mengelola suasana hati dengan sebaik mungkin. Bantu aku ya, Mas.

Dear Mas,
soal kesukaanku akan dunia tulis-menulis, travelling, mimpiku soal memiliki perpustakaan pribadi di rumah, bahkan sampai bagaimana nantinya kita mendidik anak, biarlah nanti kita bahas berdua saja, ya? Rasanya aku mulai mengantuk, dan biar hal-hal itu jadi rahasia kita berdua saja. Lagipula kalaupun aku tulis semuanya di sini, nantinya saat kita bertemu juga Mas bakalan minta dijelaskan ulang dengan penjelasan yang lebih rinci, kan? Makanya biar sekalian saja nanti aku ngejelasinnya, hehe. Jadi untuk sekarang, persiapkan dirimu saja terlebih dahulu ya. Bukan hanya soal pernikahan, tetapi juga soal kematian. Karena kita tidak akan pernah tahu jodoh mana yang akan menjemput kita terlebih dahulu. Apakah soal pernikahan, atau justru soal kematian. Jadi, jangan pernah letih untuk terus memperbaiki diri dan kembali meluruskan apa yang menjadi niatan kita untuk beribadah, ya?

Dan kalaupun nantinya kita diberi rezeki untuk bisa menyempurnakan separuh agama ini, aku harap pertemuan kita nantinya dilalui dengan cara yang baik-baik, juga dengan proses yang baik-baik.

Jangan sampai kita membiarkan syaitan mencampuri urusan kita ya, Mas :)


Dari, perempuan yang ingin diusahakan oleh kamu dengan cara yang baik-baik
Mulai ditulis pada tanggal 19 Mei 2018, dan baru terselesaikan pada tanggal 26 Juni 2018
Alhamdulillah akhirnya selesai :"
Read More
Published Rabu, Juni 06, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Surat Cinta Untuk Aisyah

Ahad, 3 Juni 2018

Dear Aisyah,

Hari ini, di kota metropolitan yang selama ini (tidak) begitu aku sukai, untuk pertama kalinya aku merasa nyaman. Ya meskipun harus meluangkan waktu berjam-jam untuk menikmati macetnya jalanan ibu kota dari ujung-ujung ke ujung, hal itu justru terasa lebih menyenangkan dibandingkan semalaman berada di rumah kos sendirian, lho. Ngobrol-ngobrol sama kamu semalaman suntuk itu seru, meski apa yang kita obrolin pun sebenarnya juga bukan soal yang heart to heart gitu. Tapi entah kenapa meski capek bawa motor macet-macetan atau malah desak-desakan di busway, rasanya kalo udah ngobrol ketawa-ketawa di atas kasur sambil lihat-lihat video lucu itu semua rasa capek dan pegalnya kayak hilang semua. Allah memang baik banget ya, Is, menjadikan kita berdua pasangan kakak-adik yang bisa saling melengkapi :" Semoga kamu juga merasakan hal yang sama kayak apa yang aku rasain ya, Is.

Dear Aisyah. Sebenarnya aku pengen nulis surat pakai tulisan yang agak-agak puitis gitu, tapi kok kayaknya malah susah ya (wkwk). Jadi aku tulis biasa aja ya, Is. Langsung aja. Kamu inget nggak Is, waktu kamu masih sd dan aku masih smp, waktu pertama kalinya kita nekat pakai motor ke sekolah karena nggak ada yang bisa nganterin kita sekolah? Yang karena sekolah kita satu lokasi dan cuma dipisahin sama gang-gang kecil, kita naik motor bertiga sama Mas Hilmi pagi-pagi banget biar nggak ketangkep polisi karena aku belum punya sim dan biar aku juga nggak ketahuan bawa motor sama ustadz/ustadzah―sekaligus biar aku bisa sembunyi-sembunyi nyimpen motor di masjid deket sekolah? Itu kita belum sedekat ini, ya? Kita jarang banget ngobrol waktu itu, paling obrolan kita cuma soal janjian berangkat sama pulang sekolah aja, atau kalo kamu kesusahan nyelesain soal-soal matematika itu, kan?

Kalau dipikir-pikir, kita malah jadi dekat semenjak aku kuliah di Bandung kan, ya? Bahkan waktu aku smk, karena kamu sekolahnya gantian dianterin sama Mas Hilmi dan akunya gantian nganterin Azizah, ditambah sekolah kita yang mulainya pagi-pagi banget dan selesai sore-sore banget, intensitas kita ketemu pun jadi semakin jarang. Kita berdua sibuk sama urusan masing-masing, aku juga lebih dekat sama Azizah dibandingkan sama kamu. Paling satu-dua obrolan kalau kamu minta dianterin ke rumah teman atau kemana gitu pas mau main sama teman-teman, atau kalau Ummi minta aku ngegantiin Ummi datang ke acara-acara sekolah kamu. Aneh banget ya, Is, kita serumah kok malah nggak dekat gitu, ya? Padahal tidurnya mah bareng, makannya juga bareng, setiap hari ketemu, tapi kok kayak berada di dunia yang berbeda gitu ya :" Malah pas aku masuk kuliah dan mulai jarang pulang baru kamu mulai jadi sering nyariin aku gitu. Hampir setiap dua minggu sekali gitu kan ya kamu selalu ngirimin aku pesan dan nanyain kapan aku pulang?

Kamu inget nggak, Is, waktu kamu lebih milih liburan di Bandung dibandingkan di Jakarta sama Ummi-Abi, yang padahalnya mah di Bandung juga kamunya aku tinggal di kos terus karena akunya sibuk kuliah dan kegiatan di lab? Itu aku seneng banget tau, soalnya pulang-pulang aku jadi nggak ngerasa kesepian dan tidurnya juga jadi nggak sendirian gitu. Ya walaupun kamu lebih banyak ditinggalnya, tapi selama satu minggu lebih itu, setiap sore atau malam kita (berusaha) main ngebolang berdua naik motor yang sampai nyasar-nyasar karena cuma ngandelin maps kan ya? Lucu tahu kalau diinget-inget tuh, mau ke ciwalk aja sampai nyasar-nyasar ke lembang, nyasarnya jauh banget wkwk. Udah gitu kayaknya aku banyak tahu jalanan Bandung justru karena main sama kamu, bukan sama teman-teman lho. Aku juga nggak nyangka kalau liburan-liburan setelahnya malah justru kamu yang minta liburannya di Bandung aja. Dan kalau diingat-ingat, justru mulai dari sini kan ya kita baru dekat tuh? Yang akhirnya pertama kalinya kita bisa ngomongin hal-hal yang secret-secret gitu. Mulai dari sini juga akhirnya aku tahu apa-apa yang kamu rasain, yang selama ini aku kira baik-baik aja dan ternyata banyak yang kamu sembunyiin.

Tapi kalau semua kejadian-kejadian itu aku tulis di sini, nanti jadi panjang banget dan jari-jari aku bisa pegel, Is. Ditambah itu tuh terlalu banyak dan terlalu ngangenin untuk dikenang :" Makanya aku mau langsung ke inti dari surat yang aku tulis ini aja deh ya, hehe. Tujuan aku nulis surat ini tuh sebenarnya karena aku pengen sedikit mengungkapkan rasa bersyukurku ke kamu―yang pastinya juga ke Allah―karena udah menghadirkan sesosok Aisyah di hidup aku, hihi. Aku tuh bersyukur banget Is, karena Allah udah ngasih adik perempuan yang rasanya nggak cuma sebagai adik perempuan aja, tapi juga sahabat sekaligus tempat curhat aku. Aku jadi nggak ngerasa sendiri lagi, karena aku tahu meskipun misalkan nantinya semua teman-teman aku satu per satu mulai pergi, aku masih punya kamu, Is. Ini juga berlaku buat Azizah, sih. Tapi karena sekarang Azizah masih terlalu kecil, jadi saat ini aku bilangnya masih ke kamu aja. Begitu pun dengan kamu ya, semoga kamu juga merasa bahwa selama aku masih hidup, akan selalu ada aku di sisi kamu. Semoga kita bisa selalu saling mendukung dan mengisi satu sama lain ya, Is.

Oh iya, soal apa cita-cita kamu ke depannya, apapun itu asalkan baik, aku bakal selalu ngedukung kamu, Is. Aku tahu kamu nggak mau jadi dokter karena kamu takut sama darah, kan? Soalnya dari kecil setiap tangan kamu kegores dan berdarah meskipun itu cuma sedikit aja, muka kamu udah langsung pucet banget gitu. Tapi setiap darahnya berhenti dan lukanya kering, kamu langsung jadi ceria lagi padahal sebelumnya juga nggak diapa-apain. Meskipun sebenarnya aku nggak menyarankan kamu ngambil informatika juga kayak aku (serius ini Is, susah tau, dan masa semuanya ke IT sih wkwkwk), tapi kalau itu memang passion kamu ya aku pasti bakal mendukung kamu. Aku nggak akan kode-kode kayak Abi yang dari aku mau masuk kuliah, terus ke Mas Hilmi dan sampai sekarang kamu tinggal setahun lagi bakal kuliah juga bolak-balik bilang soal ahli nuklir―yang ternyata nggak ada satupun yang tertarik ke situ wkwk―atau kayak Ummi yang pengen kamu kuliah di luar negeri, kok. Itu semua terserah kamu dan itu juga pilihan kamu, karena kamu sendiri yang akan ngejalaninnya nanti.

Tapi kamu tahu kan, kalau Ummi sama Abi itu juga bukan lagi memaksakan kehendak kamu? Mereka cuma lagi sedikit berharap, kayak aku yang juga berharap kamu mau jadi dokter kandungan. Abisnya, dokter kandungan perempuan itu sedikit loh, Is. Aku mikirnya bakal ada banyak calon ibu muslimah di luar sana yang jadi terselamatkan dari proses melahirkan yang dibantu sama laki-laki. Dulu aku pengen jadi dokter kandungan juga soalnya, tapi karena sekolahnya di smk jadinya nggak bisa, deh. Dan karena aku nggak bisa ipa biologi juga sih, wkwk. Lah malah curhat, ya, hehe. Tapi sekali lagi, apapun cita-cita kamu, itu hak kamu, kok. Aku bakal selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Dan semoga apa yang kamu cita-citakan itu nggak cuma bisa memberikan manfaat untuk kamu sendiri atau keluarga, tapi juga untuk ummat, ya?
  
Dan soal hafalan kamu, barakallah ya Is karena udah berhasil menyandang gelar hafidzah di usia kamu yang masih remaja ini. Padahal kamu masuk sma itu baru megang 6 juz, tapi alhamdulillahnya selama dua tahun ini langsung bisa menyelesaikan sisanya, ya? Dibarengin sama sekolah, main, kegiatan OSIS, lomba, dll―ih, terbaik lah pokoknya. Doain kakakmu ini juga bisa menyusul, ya. Tipsnya apa sih, Is? Kok aku hafalannya muter-muter di situ aja :( Apa karena aku kebanyakan dosa kali, ya? Jadinya hafalannya sih nambah, tapi juga sekaligus hilang yang belakang-belakangnya. Tapi intinya doain aku juga bisa nyusul kayak kamu ya, Is, begitu juga buat Azizah, Ummi, Mas Hilmi dan Abi. Dan terus jaga hafalan kamu ya, jangan sampai hilang. Karena kayaknya sebenarnya lebih susah menjaga hafalannya daripada menambah hafalannya. Dan itu tanggungjawab yang berat loh, Is :"

Hmm, apa lagi ya? Sebenarnya ada banyak banget hal-hal yang pengen aku ungkapin, tapi rasanya berat banget buat dikenang-kenang gitu, jadi banyak rindunya. Dan aku juga punya banyak doa-doa buat kamu, tapi aku sampaikan langsung pada Allah saja, ya. Tapi harapan aku, semoga kamu bisa terus menjadi wanita tangguh yang cerdas, yang mencintai al quran sekaligus memberikan manfaat untuk ummat, ya. Oh iya ada yang lupa. Makasih juga ya Is buat hadiah tempat minum lucu itu. Aih, kamu kayak tahu banget kalau aku tuh lagi butuh tempat minum. Dan tempat minum ini tuh lucu banget :" Aku sayang Ais pokoknya.

Allah, terima kasih ya...


Pertama kali ditulis di Purwokerto, 2 Juni 2018
dan baru sempat terselesaikan di Jakarta, 6 Juni 2018
Read More
Published Rabu, Mei 16, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Teruntuk Semua Orang yang Masih dan Sempat Hadir di Hidupku

"Seorang teman mengetahui semua cerita terbaik dalam hidupmu. Seorang sahabat, ada dalam semua cerita itu." - Seseorang
*

Teruntuk semua orang yang masih dan sempat hadir di hidupku.

Bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan, yang katanya merupakan bulan penuh berkah dan pengampunan; maka hari ini aku ingin membagikan sepatah-dua patah paragraf (bukan kata, karena akan banyak isinya hehe) kepada orang-orang yang masih dan mungkin sempat hadir di hidupku; mengenai ucapan terima kasih dan permohonan maaf. Memang tidak semua orang akan aku tulis di sini, hanya beberapa yang mungkin hadir sejak aku masuk ke dunia kampus sampai saat ini. Soalnya kalau semua, nanti terlalu panjang dan jadi pada males bacanya, ya kan? hehe. Dan mungkin sebagian besarnya sudah aku sampaikan lewat pesan secara langsung, dan beberapa memang sengaja tidak aku sampaikan. Untuk itu, izinkan aku menuliskan semuanya di sini saja ya. Selain karena aku berharap mereka yang tidak aku kirimi pesan dapat membacanya lewat tulisan ini, juga agar orang lain pun mengetahui betapa berterima kasihnya aku kepada Allah karena telah menghadirkan orang-orang ini di kehidupanku.

Dan, ya, aku mulai saja ya...

Teruntuk Bu Febrianti Sthevanie;

Maafin aku ya bu, karena aku sempat mengecewakan Ibu. Aku tahu, saat itu, aku benar-benar mengecewakan dan hanya menyusahkan Ibu. Padahal, Ibu sudah baik kepadaku. Ibu suka mentraktirku makan, mengajakku liqo, sampai menemaniku ketika aku sedang tidak memiliki teman. Bahkan, Ibu pernah sampai bela-belain kembali ke kampus, karena takut aku melakukan hal-hal yang diluar nalar kan, bu? Meskipun sebenarnya, itu hanya sandiwara aku saja karena saat itu, kami ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun Ibu, hehe. Maafkan aku ya bu, mungkin saat itu aku sudah berlebihan :( Ibu sampai menangis dan memelukku dengan erat soalnya.
Tapi, setelah semua kekecewaan yang aku berikan kepada Ibu, aku berterima kasih karena rupanya Ibu mau kembali memaafkanku. Padahal, aku sudah membuat Ibu kecewa, apalagi soal amanah menjadi salah satu asisten laboratorium multimedia yang sepertinya aku tidak maksimal dalam menjalankannya. Tapi, Ibu tetap mau menerimaku. Ya, Ibu tetap mau memelukku kembali, meskipun sebelumnya sempat mengasingkanku. Aku sangat berterima kasih bu, karena Ibu adalah orang tua kedua bagiku di kampus. Oh ya, sampaikan permintaan maafku ke Pak Kur juga ya bu. Karena aku juga telah mengecewakan Pak Kur selama masa-masa TA sampai sidang, hiks.
Doaku, semoga Ibu, Pak Kur, dan keluarga kecil Ibu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamiin.

Teruntuk Faradilla Naily Jihan;

Hai Jihan. Apa kabarmu? Semoga kamu baik-baik saja. Sudah lama kita tidak bertemu ya? Padahal beberapa bulan kemarin kita sempat janjian ketemu di Purwokerto, eh, rupanya aku tidak bisa pulang :( Tapi tak apa, semoga kita masih diberikan kesempatan untuk kembali bertemu, ya.
Oh iya Ji, terima kasih ya karena selama ini kamu tetap menjadi sahabat terbaik aku. Kita sahabatan udah lama loh, udah hampir 7 tahun. Tapi selama itu, kamu tetap mau menjaga komunikasi denganku padahal kita sudah tidak pernah bertemu. Bahkan dulu, kamu sering menyempatkan diri untuk mengunjungiku di Bandung. Kamu juga tetap mau mendengarkan cerita-cerita kelabilanku, meskipun kamu selalu menyebutku babo. Tapi tak apa, aku memang babo kok, hihi.
Aku masih ingat loh, kalimat yang kamu lontarkan waktu kita jalan-jalan ke PVJ dan menyempatkan untuk makan di salah satu restoran di situ. Kalimat yang ini, "udah, aku aja yang bayar, kamu belum bisa menghasilkan uang sendiri aja mau sok-sokan makan di tempat beginian. Aku yang ngajak, jadi aku yang bayar." Dan sekarang aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri Ji, jadi, kapan kita bertemu? Biar aku bisa membalas kebaikanmu saat itu.
Pokoknya, senang bisa memiliki sahabat sepertimu, Ji. Kamu tuh cantik, tapi hatinya juga cantik. Semoga mimpimu bersama Andar bisa segera terwujud ya, hehe. Dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamiin.

Teruntuk Ummi Rosyidah;

Hai Ummi. Makasih ya mi, karena telah menjadi sahabatku dari awal masuk kuliah sampai saat ini. Terima kasih karena Ummi tidak pernah lelah untuk terus menasehatiku, mengingatkan ketika aku salah tanpa menghakimiku. Terima kasih karena sampai saat inipun, Ummi masih mau menerima teleponku yang serba mendadak setiap kali aku merasa sedih dan kesepian. Terima kasih karena mau mendengar ceritaku. Terima kasih karena telah menawarkan diri untuk mengisi hari-hariku yang sepi ditengah-tengah kesibukanmu.
Terima kasih karena dulu telah memperbolehkan aku tiba-tiba datang ke kosanmu ketika aku sedang galau. Terima kasih karena telah menjagaku dan terus mengajakku ke dalam kebaikan. Terima kasih karena telah memasukkan aku ke Al Fath tanpa melalui proses penyeleksian, karena telah percaya bahwa aku mampu memegang amanah itu. Terima kasih karena telah mengajakku bersama-sama mengerjakan TA di proclub (lab kampus), apalagi sampai memperbolehkanku menginap di sana; setelah aku bercerita bahwa aku malas mengerjakan TA di lab multimedia karena aku tidak memiliki teman yang sama-sama sedang mengerjakan TA. 
Terima kasih karena terus menanyai kabarku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Intinya... terima kasih untuk semuanya, mi. Semoga Allah membalas segala kebaikan Ummi, dan semoga Ummi senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Nurmasyitah;

Hai Nurmasyitah, sahabatku, sekaligus 'Mamak'-ku (hehe). Makasih ya mak, selama ini sudah mau menjadi teman curhatku. Tidak pernah meninggalkanku meskipun berkali-kali aku melakukan hal bodoh di hadapanmu. Pokoknya, terima kasih karena sudah mau terus mengingatkan akan kesalahanku. Terima kasih karena telah menganggapku sebagai anak kecil ketika kita berpergian, karena sungguh, aku ini memang belum bisa mandiri (hiks). Terima kasih karena mau selalu menyempatkan diri untuk mengangkat teleponku dan mendengarkan ceritaku yang terkadang terbata-bata. Terima kasih karena dulu selalu membukakan pintu kamarmu ketika aku ingin ditemani makan atau ingin menangis seharian. Terima kasih karena telah menemaniku selama ini.
Dan sekarang, Alhamdulillah akhirnya kewajibanmu sebagai seorang mahasiswa telah tergugurkan. Selamat ya mak, karena akhirnya semua usahamu terbalaskan dengan hasil yang memuaskan. Tinggal wisuda, dan setelahnya kamu akan memasuki dunia yang baru. Aku tidak bermaksud untuk menakuti, tapi dunia kerja lebih kejam daripada dunia perkuliahan loh, mak. Untuk itu, persiapkan mentalmu sebaik-baiknya, ya. Kamu kan tahu, aku saja sering menangis dan mengadukan hal ini kepadamu, kan?
Tapi intinya, terima kasih untuk semuanya ya, mak. Semoga Allah membalas segala kebaikan kamu, dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Devi Alfiani;

Hai Devi Alfiani, sahabat cinaku (hehe). Makasih ya dev, selama ini kamu sudah mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih karena mau mendekati aku duluan, dan membersamai aku dalam berbagai hal semasa kuliah. Kayaknya selama kita kuliah, kegiatan dan kelas kita tidak begitu banyak perbedaannya, ya? Bahkan dulu kita sempat satu kantor, meskipun setelahnya kita berpisah. Dan ya, sekarangpun akhirnya kita tetap bekerja di kota yang sama.
Tapi, aku tetap berterima kasih meskipun sekarang kita seperti dipisahkan oleh jarak (hiks). Terima kasih karena tetap meluangkan waktumu untuk bermain denganku ditengah-tengah kesibukanmu, meskipun entah sudah tak terhitung berapa banyaknya wacana yang aku berikan padamu (hehe). Intinya, terima kasih untuk semuanya ya, dev. Semoga impianmu untuk melanjutkan S2 dan mendapatkan beasiswa dapat segera terwujud. Dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Muh. Aswan Abidin;

Hai Aswan, adik kelas kesayanganku. Cieee, akhirnya kemarin sudah sidang dan lulus, ya? Selamat ya wan, semoga ilmu dan gelarnya berkah, aamiin. Oh iya wan, di tulisan ini, aku pengen berterima kasih untuk beberapa hal sama kamu.
Terima kasih karena telah mengajakku dan teman-teman 'Para Pencari Jodoh' a.k.a 'Gerakan Anti Wacana' untuk menghadiri acara Shift Pemuda Hijrah. Terima kasih karena telah mau direpoti menyetir mobil setiap kita berdelapan ingin jalan-jalan. Terima kasih karena telah mengingatkan tentang apa-apa yang menjadi kesalahanku tanpa menghakimi. Terima kasih karena tetap mau menerimaku dan tidak membenciku dengan semua drama yang terjadi kepadaku. Terima kasih karena telah mau menjaga perasaanku, dan tidak membiarkanku merasakan cemburu serta kesepian disaat kamu mengetahui hal-hal yang 'dia' lakukan kepadaku. Pokoknya, terima kasih untuk semuanya. Dan terima kasih juga karena telah mengajariku memasang screen saver cony di mac, ya. Kata teman-teman kantor, cony-nya mirip aku banget. Malas dan tidak bersemangat gitu (wkwk).
Dan ya, kamu memang lebih muda dariku, tapi sepertinya kamu memiliki sifat dan sikap yang lebih dewasa daripada aku. Semoga kamu terus istiqomah dengan hijrahmu ya, wan. Aku sudah menyukai kamu yang dulu, dan sepertinya menjadi semakin menyukai kamu yang sekarang. Tetap menjadi seorang Aswan yang aku kenal ya, yang baik tapi juga terkadang rada sengklek (hehe). Semoga startup yang sedang kamu bangun ini terus berkembang pesat, sukses, dan bermanfaat bagi ummat, ya. Dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, aamin.

Teruntuk Kak Hafizh Akmal dan Kak Syahid Yogga P;

Hai Kak Seki (Hafizh) dan Kak Panda (Yogga). Di tulisan ini, adik kecilmu ingin berterima kasih akan banyak hal, boleh ya? Bismilah, aku mulai ya, kak.
Untuk Kak Seki, makasih ya kak karena dulu waktu awal-awal aku masuk lab multimedia, Kak Seki mau repot-repot membantu merawat laptopku yang suka ngambek. Padahal, terkadang Kak Seki harus ngebela-belain ke kampus di hari minggu. Dan aku tahu, berpergian di hari minggu disaat Kak Seki adalah orang Bandung asli pasti tidaklah mudah. Susah izinnya kan, kak? Dan juga, terima kasih ya kak karena dulu sudah mau terus menasehati aku. Bahkan dulu kakak sering banget menceramahi aku, atau menyampaikan hasil ceramah yang baru saja kakak dapat di kajian-kajian yang kakak datangi atau sehabis sholat Jumat. Makasih juga karena dulu sempat menjadi teman curhatku, walaupun kayaknya banyakan kakak deh cuhatnya (hehe). Dulu awal-awal kenal, aku kira Kak Seki itu perempuan loh. Abis rambutnya panjang gitu dan cantik, sih. Aku aja kalah cantik (huft). Tapi Alhamdulillah sekarang udah mempertahankan rambut pendeknya ya, meskipun tetap saja cantik, sih...
Lanjut. Dan untuk Kak Panda, makasih ya kak karena sudah mau menjadi kakakku, kakak semua anak Matlab. Terima kasih karena telah membela kami ditengah-tengah cibiran member lain yang tidak menyetujui adanya kami. Terima kasih karena telah mengajak dan terus berusaha membuat kami bisa membaur dengan member yang lain, sehingga kini sudah tidak ada perbedaan lagi diantara kami. Terima kasih juga telah mengenalkan aku dengan Kak Seki, yang walaupun sebenarnya kakak mengenalkan aku juga tujuannya biar aku minta tolong ngebenerin laptopnya sama Kak Seki aja kan :|
Dan terakhir, untuk kedua kakakku di kampus. Terima kasih ya kak, karena telah mempersilahkan aku untuk berkarya di lab multimedia. Terima kasih karena telah memilihku untuk menjadi sekertaris meskipun aku hanyalah seorang member pendiam yang bergaulnya hanya dengan orang yang itu-itu saja. Sungguh, aku dikenal banyak orang seperti ini tidak luput dari peran Kak Seki dan Kak Panda loh. Karena aku jadi sekertaris, aku jadi lebih banyak berbicara, sehingga aku menjadi lebih dikenal dan disukai. Ah, pokoknya terima kasih banyak ya kak.
Semoga Allah membalas segala kebaikan kakak-kakak sekalian, dan semoga kakak-kakak senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Setyono Dwi Utomo;

Hai Yono, teman seduluranku. Makasih ya yon, karena sudah mau meminjami aku charger laptop kamu selama aku sibuk berkutat dengan TA-TA itu. Bahkan aku diperbolehkan membawa charger itu pulang ke kos lagi (hehe). Nama kamu udah aku tulis di buku TA aku loh yon (wkwk). Dan terima kasih juga karena sudah mau menanyaiku ketika aku tidak masuk kantor. Pun aku juga berterima kasih karena kamu mau memberitahu apa saja keputusanmu (yang berhubungan dengan pekerjaan) karena mengingat bahwa tinggal kamu teman seduluranku di sana. Intinya, terima kasih karena mau menghargai dan menjagaku selama kita sekantor.
Eh iya, makasih juga karena selalu menawariku pekerjaan sampingan, dan memberiku beberapa pilihan tempat kerja yang baru. Semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamiin.

Teruntuk Rahmat Ridha Mustakim;

Hai Rahmat, kahimku. Kita memang bukan dua orang yang sering berinteraksi atau berteman baik, tapi aku tetap berterima kasih, Mat. Terima kasih karena telah memercayaiku untuk menjadi sekertaris kolaboratif saat itu. Terima kasih karena mau mengajariku dan menemaniku ketika aku kesusahan membuat proposal kegiatan, sampai kita harus duduk di depan laptop berjam-jam di malam hari; di bangku-bangku ujung dekat lab multimedia. Juga, terima kasih karena telah kembali memercayaiku menjadi sekertarismu di kantor, meskipun hanya bertahan beberapa minggu saja; dan popup reminder daily sprint meeting-nya masih sering muncul di laptopku loh. Terus, terima kasih karena masih mau menanyakan kabarku meskipun sekarang kamu sudah memiliki tempat kerja yang baru. Terima kasih karena telah menjadi tempatku mengadu dan menceritakan segala keluh kesahku selama bekerja di kantor itu. Intinya, terima kasih untuk semuanya, ya, Mat! Alhamdulilah, sekarang kamu sudah menjadi anak t*lkomsel, ya. Emang kahimku terbaik, deh.
Dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk M. Hilmy An Nabhany;

Hai Hilmy, teman menulisku. Terima kasih ya my, kamu sudah mau mendekatiku dan mengajakku berbicara, di saat yang lain tidak pernah menyadari kehadiranku. Terima kasih karena telah memperbolehkan aku membaca ceritamu, dan mengajakku ikut lomba Anti Korupsi. Sungguh, itu lomba pertama dan terakhirku di kampus loh, meskipun kita tidak menang. Memang sih, karya ilmiah milik pemenang yang lainnya itu bagus-bagus. Tapi tak apa, aku tetap berterima kasih, my!
Terima kasih juga karena telah mengajakku untuk menulis bersama, membuat deadline dan semacamnya untuk menjaga keproduktifitasan kita. Terima kasih karena telah mau membersamaiku dalam mengerjakan TA, sampai mengadukan kepada Kak Panda setiap kali aku terlihat malas dan malah bermain-main. Eh tapi, malah akhirnya aku duluan yang lulus, ya (wkwk). Tapi tak apa, dengan ketidakjadian kamu lulus 3,5 tahun, akhirnya kamu justru bisa merasakan apa yang selama ini kamu idam-idamkan, kan? Bisa ikut lomba sampai keluar negeri gitu, terbaik memang.
Selain itu, terima kasih juga karena telah mengajakku ke kantorku yang sekarang, setelah sebelumnya kamu selalu mendengar keluh-kesahku yang bosan berada di rumah terus-terusan. Terima kasih karena telah mengenalkanku dengan Kak Adzim, Mba Manda, dan teman-teman 'alumnus' yang lain. Pokoknya, terima kasih untuk semuanya ya.
Pesanku, mulai sekarang, selain menulis, coba biasakan membaca juga, ya. Membaca itu asyik loh, kita jadi bisa tahu banyak hal, apalagi tentang perasaan-perasaan seseorang yang sulit diungkapkan secara langsung. Dan juga, berhenti jadi founder brocodile, ya (hehe, yang ini aku bercanda). Aku tahu kamu sudah berubah, dan aku menyukai perubahanmu itu. Semoga tetap istiqomah, ya! Dan semoga kamu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya. Aamin.

Teruntuk Mba Elistiana Siswanti;

Hai mba Elis. Mungkin dari semua orang yang aku berikan ucapan terima kasih, cuma mba Elis yang berbeda sendiri. Ya gitu, karena kita tuh tidak kenal dekat, dan memang jarang berinteraksi. Satu-satunya interaksi kita itu pas dulu aku dan mba Elis satu kelompok danusan di Iwakmas kan? Waktu itu kita kebagian tugas untuk berjualan di sebuah perumahan, dan mba Elis bawa motor sendiri karena tidak ingin berboncengan dengan lawan jenis. Dan karena kita seprinsip, jadilah kita berboncengan (hehe). Meskipun saat itu, kita tidak banyak berbicara ya. Maafin ya, mba, akunya pendiem, sih :(
Tapi, aku tetap berterima kasih karena Allah sudah mengenalkan aku dengan seorang Elistiana Siswanti. Asal mba Elis tahu, aku tuh pembaca setia linimasa milik mba Elis loh. Entah mengapa, melihat tulisan-tulisan di situ tuh kayak membaca ceritaku sendiri. Apalagi bagian episode Untitled yang mba Elis tulis tahun 2014, itu benar-benar menggambarkan aku banget. Dan ada banyak hal yang tidak pernah bisa aku ungkapkan, tapi bisa mba Elis tuliskan dengan jelas di situ. Tentang kesedihan, jatuh, bangkit, jatuh lagi, semuanya. Pokoknya, tulisan mba Elis tuh aku banget! Dan aku jadi ngerasa senasib (hiks).
Tapi, banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari tulisan-tulisan mba Elis itu. Makanya, aku berterima kasih banget karena sudah diperbolehkan membaca linimasa milik mba Elis. Oh iya, beberapa ada yang aku repost juga ya mba, hehe.
Dan yang terakhir, barakallah ya mba, akhirnya sekarang mba Elis sudah menemukan pangeran berkuda putih yang berhasil mengusahakan mba Elis dengan cara yang baik-baik. Cerita kita sama, tapi sekarang mba Elis sudah berbahagia. Jadi, doakan aku juga ya mba, biar aku minimal punya akhir cerita yang mirip dengan mba Elis. Dan semoga mba Elis senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Keluarga INFININE (Kelas IF-37-09);

Teruntuk semua keluarga INFININE, terima kasih karena telah menjadi keluarga pertama di kampus; dan keluarga kedua setelah keluarga kandungku. Kehangatan yang tercipta, tawa dan canda, tangis dan air mata, amarah dan kesedihan, semuanya sangat berharga untukku. Terima kasih karena telah mau menerimaku. Terima kasih karena mau mengakrabkan diri satu sama lain, sehingga kelas lain pun sampai iri dengan kekompakan kita. Terima kasih karena telah selalu ada untukku, dan terima kasih karena telah banyak membantu.
Meskipun sempat ada beberapa masalah internal, tapi aku bersyukur karena hal tersebut tidak sampai terdengar oleh kelas yang lain. Terima kasih karena telah menjadi dewasa, dan mengajarkan aku untuk selalu menyelesaikan masalah tanpa membawa masalah yang baru. Kekonyolan kalian, kenangan saat bersama-sama mengerjakan tubes di saung asrama dan gedung E, lomba Dies Natalis Informatika, kemenangan saat futsal, jalan-jalan, buka puasa bersama, makrab yang sampai tiga kali kita lakukan, foto bersama, dan kenangan-kenangan indah lainnya akan selalu aku kenang, kok. Pokoknya, aku sayang banget sama kalian.
Dan semoga kalian semua senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamiin.

Teruntuk Keluarga Multimedia;

Teruntuk semua keluarga laboratorium multimedia, terima kasih ya karena telah menyediakan rumah dan lingkungan yang nyaman untukku. Kehangatan yang tercipta, tawa dan canda, semuanya sangat berharga untukku. Terima kasih atas pelajaran-pelajaran yang secara tidak langsung kalian ajarkan kepadaku. Terima kasih karena sudah mau menjadi keluarga ketiga setelah infinine dan keluarga kandungku. Terima kasih karena telah banyak membantu.
Kekonyolan kalian, kenangan saat lomba, kegiatan upgrading, kegiatan camp, jalan-jalan, menonton film bareng (sampai satu bioskop serasa milik lab mulmed), membuat booth, menata ulang ruangan lab, karaokean di dalam lab, membuat video-video konyol, dan kenangan-kenangan indah lainnya akan selalu aku kenang, kok. Pokoknya, aku sayang banget sama kalian.
Dan semoga kalian semua senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Teman-Teman di Kantor;

Untuk teman-temanku di kantor, terima kasih banyak ya, karena sudah mau menghargaiku sebagai satu-satunya perempuan di divisi IT. Terima kasih karena selalu menanyakan dan mengutamakan aku di setiap kegiatan di kantor. Terima kasih karena sudah mau menghormati prinsipku. Meskipun terkadang kalian suka menggombaliku (padahal aku selalu memasang ekspresi canggung dan bingung), tetapi kalian tetaplah teman terbaikku!
Dan ya, seperti yang lainnya, semoga kalian senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamiin.

Teruntuk Adik-adik di Masjid Al Ibadah, Kemang;

Untuk adik-adik cantikku. Terima kasih ya dik, karena sudah mau mengajakku kenalan ketika aku sudah tidak memiliki teman perempuan untuk diajak sholat di Masjid; walaupun seharusnya aku yang duluan mengajak kenalan, sih. Dan terima kasih juga karena selalu menyalamiku setiap habis sholat, serta selalu melontarkan senyuman manis kalian setiap kali kita bertemu. Meskipun kalian selalu memanggilku dengan sebutan 'kakak yang kemarin' dan terkadang menanyakan siapa namaku disaat aku sudah berkali-kali memberitahu, tapi tak apa, aku juga nggak begitu ingat nama kalian kok (wkwk). Abisnya, kalian terlalu banyak dan entah mengapa terlihat mirip satu sama lain, sih. Kan aku jadi susah menghafalnya..
Tapi intinya, terima kasih ya karena telah membuatku merasa masih memiliki teman setiap pergi ke Masjid. Jujur, kalau kalian sekali saja tidak datang ke Masjid, aku nyariin loh. Tapi aku juga bersyukur, waktu aku juga nggak masuk beberapa hari, keesokan harinya kalian juga menanyakan kenapa aku beberapa hari itu tidak pernah kelihatan lagi. Duh, sayang kalian deh.
Semoga kalian terus istiqomah untuk menjaga sholat lima waktu dengan tepat waktu, ya. Dan semoga kalian senantiasa berada di dalam lindungan-Nya. Aamin.

Teruntuk Ibu Pemilik Warteg samping Masjid Al Ibadah, Kemang;

Untuk Ibu pemilik warteg kesukaanku. Terima kasih ya bu, karena telah menganggapku sebagai anak sendiri; terlebih saat mengetahui bahwa teman-teman perempuanku sudah tidak bekerja lagi di situ. Terima kasih karena telah menanyaiku setiap kali aku tidak makan di warteg. Meskipun sekarang aku sudah tidak pernah ke warteg lagi karena tidak memiliki teman yang bisa diajak makan bareng di situ, tapi aku selalu berdoa untuk kelancaran rezeki warteg milik Ibu.
Oh iya bu, aku juga masih ingat kalimat Ibu waktu aku memprotes harga makanan yang dimurahin dan segelas air putih yang digratiskan oleh Ibu, loh. Kalimat yang ini, "Ibu juga punya anak yang lagi meratau, jadi Ibu berharap dengan kebaikan Ibu ini, anak Ibu juga mendapatkan kebaikan di sana." Duh, kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya memang tidak ada duanya, ya. Aku jadi semakin sayang sama Ibu, deh.
Semoga Allah membalas segala kebaikan Ibu, dan semoga Ibu senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.

Teruntuk Teman-Temanku yang Lain;

Untuk semua teman-temanku yang lain, yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu. Terima kasih ya, karena telah hadir di kehidupanku dan mau memberi warna-warna indah tentang kehidupan; setelah sebelumnya warna yang aku miliki hanyalah hitam dan putih. Terima kasih atas pelajaran-pelajaran hidup yang telah kalian berikan kepadaku. Terima kasih karena sudah mau menerima sifatku yang pendiam dan tidak banyak bicara ini. Dan terima kasih karena sudah mau menjadi temanku. Aku sayang kalian semua pokoknya!
Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian, dan semoga kalian senantiasa berada di dalam lindungan-Nya, ya. Aamin.



Dari, perempuan yang sangat berterima kasih akan kehadiran kalian. 
Read More
Published Rabu, Mei 16, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Teruntuk Lelaki yang Tempat Minumnya Sempat Aku Pinjam

“Terkadang, menulis membuat dirimu bebas berbicara tanpa harus berkata. Bebas mengutarakan tanpa butuh didengar. Puas melampiaskan tanpa harus mengacungkan tangan.” - mbeeer


*

Teruntuk lelaki yang tempat minumnya sempat aku pinjam.

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Tapi, sepertinya kamu memang sedang baik-baik saja, ya? Melihat linimasamu, sepertinya lingkunganmu sudah semakin baik dari sebelumnya. Aku bahagia jika memang kamu sudah berhasil menentukan, sehingga akhirnya kamu menemukan jalan hidup yang selama ini kamu idamkan. Keraguanmu kini perlahan mulai hilang, kan? Dan aku harap memang benar begitu adanya.

Oh iya, kamu ingin tahu kabarku, tidak? Terlalu percaya diri dan lancang memang jika aku masih berharap kamu mau tetap peduli kepadaku, setelah apa yang selama ini terjadi diantara kita. Tapi, bolehkah jika aku tetap lancang dan percaya diri untuk menceritakan kabarku? Ya, meskipun sebenarnya belum tentu juga kamu mau ataupun akan membaca tulisan ini, tapi, tidak salah kan jika aku masih berharap kamu mau membacanya? Tidak banyak kok, hanya beberapa paragraf saja. Aku mulai ya...

Tentang kabarku, seperti yang kamu tahu, aku baru mulai berjalan. Aku baik-baik saja, tetapi masih terseok-seok; berjalan sambil memeluk serpihan-serpihan hati yang dulu sempat kamu patahkan. Eh, tapi mungkin sekarang kondisinya sudah tidak berbentuk serpihan lagi kali ya? Mungkin lebih tepatnya sudah menjadi sekecil butiran pasir, karena semalam serpihan itu sudah kamu hancurkan sehancur-hancurnya. Tapi tak apa, karena aku pun sudah tidak memiliki wadah lagi untuk menampungnya. Tanganku sudah terlalu sakit untuk menahan luka akibat tergores serpihan-serpihan itu. Jadi, biarkan kini aku tetap menggenggamnya dan membiarkan butiran itu habis terhempas angin sepanjang perjalananku ke tempat yang baru, ya? Jangan paksa aku untuk langsung membuangnya. Aku belum sanggup untuk melakukan itu.

Aku tahu, kesalahanku di masa lalu mungkin memang sudah tidak lagi masuk ke dalam nalarmu. Tentang sikapku, keegoisanku, kelabilanku, kebohonganku, semuanya. Aku tahu, mengenalku memang tidak memberikan manfaat yang baik untukmu, kan? Seperti yang kamu katakan semalam, mengenalku hanya membuatmu menambah dosa; karena setiap harinya kamu harus merasakan kekecewaan, marah, cemburu, dan membuang-buang waktu dengan hal yang sia-sia. Aku tahu kok. Aku juga tahu, kekecewaanmu akanku kini sudah mencapai batasmu. Tapi, tidak hanya kamu yang kecewa, kok. Aku juga kecewa dengan diri aku sendiri; lebih tepatnya dengan diri aku yang sekarang. Jadi, jangan merasa kecewa sendirian ya? Karena akupun merasakan itu.

Dan tentang kesalahanmu, Insya Allah aku sudah memaafkannya. Malah mungkin jauh sebelum kamu sempat menyesalinya. Meskipun orang lain mengatakan bahwa kamu lebih bersalah daripada aku, tapi aku tidak akan menyalahkanmu kok. Bukan kah memang manusia itu tempatnya salah dan dosa? Yang penting kan, kita mau berproses dan berubah agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ya kan? Dan sepengetahuanku, kamu memang sudah berubah. Itu kan alasan mengapa kamu kini membangun benteng dan membentangkan jarak? Agar aku mau beranjak dan berlalu. Agar aku tidak berlebihan dalam mencintaimu. Ya kan? Meskipun aku tidak tahu apa alasan sebenarnya, izinkan aku berimajinasi sendiri ya, karena aku benar-benar tidak ingin membencimu.

Maafkan jika setelah mengenalku, hari-harimu jadi penuh penat dan pilu. Mungkin aku terlalu naif dan terlalu sombong, memercayai teman-temanmu yang mengatakan bahwa kamu menjadi lebih baik setelah mengenal aku. Nyatanya, kamu malah merasa semakin buruk, ya? Aku benar-benar minta maaf soal itu. Aku juga minta maaf, karena setelah mengenalku, kamu malah jadi kehilangan banyak teman. Sungguh, aku sudah berusaha untuk memperbaiki citramu di hadapan mereka, mencoba mengembalikan apa-apa yang pernah menjadi milikmu. Tapi entahlah, susah sekali rasanya. Tapi, aku yang kurang berusaha, atau memang kamu yang kelewat salah, ya? Hehe. Apapun jawabannya, biarlah itu menjadi hal yang mampu membangun kita ke arah yang lebih baik lagi. Jadikan ini alasan untuk kita terus bermuhasabah, ya.

Dan soal penggambaranmu tentangku, aku ingin meluruskannya. Aku memang tidak sebaik yang kamu kira pada awalnya. Tapi, aku juga tidak seburuk penggambaranmu tentangku sekarang. Aku tidak akan berusaha kembali membuatmu memercayai aku yang dulu, tapi, aku memiliki hak untuk menolak dianggap terlalu rendah seperti itu, kan? Entahlah, aku memang bukan perempuan baik-baik, tapi aku juga sedang berusaha menjadi perempuan yang baik-baik. Dan, aku boleh minta satu permintaan lagi nggak? Suatu saat nanti, misalkan kamu kembali melihatku dan ternyata aku belum berubah, atau justru semakin mengecewakanmu, tolong jangan hakimi aku, ya? Jangan mencibir atau mengomentari aku, apalagi sampai menyindir dan merendahkan harga diriku. Doakan saja, agar aku mau berubah, ya? Tidak perlu berdoa sebagai teman lamaku, tetapi cukup sebagai saudara seiman. Kan, kita ini bersaudara bukan?

Ya, cukup doakan aku, seperti aku mendoakanmu di setiap sujudku, dulu.

Oh iya, sejujurnya, jika kamu membandingkan aku dengan wanita pilihanmu saat ini, yang katanya ingin kamu usahakan secara baik-baik, jelas saja aku akan kalah telak. Wanita itu begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah pendosa yang masih berusaha dan belajar untuk terus berproses menjadi lebih baik lagi. Pilihanmu memang tidak pernah salah ya, dan kriteriamu memang selalu yang terbaik. Dan aku sadar, hubungan kita memang tercipta dari sebuah ketidaksengajaan, sehingga aku juga tahu diri kok, aku memang bukan 'wanita pilihan'-mu. Tapi, yang pasti, aku akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Mungkin benar katamu, kamu butuh orang yang bisa membimbingmu, yang jauh lebih dewasa dan berilmu, yang bisa membuatmu terpacu untuk berproses karena kamu ingin menyetarainya. Dan ya, itu bukan aku. Karena rupanya, aku justru membutuhkan orang yang mau sama-sama belajar bersamaku. Dan sepertinya aku pun masih dibawahmu.

Tapi terima kasih karena mau mendekatiku, menjadi temanku, disaat aku sedang menjadi orang yang susah dalam berinteraksi. Terima kasih karena telah mengajariku apa arti sebuah kesabaran, bagaimana mempercayai seseorang dengan hati dan bukan akal pikiran, serta bagaimana caranya untuk meredam amarah dan mengecilkan ego. Sebenarnya banyak terima kasih-terima kasih yang lain, tapi rasanya susah sekali untuk dituliskan di sini. Intinya, terima kasih untuk semuanya. Mengenalmu sungguh menyenangkan, meskipun tak bisa aku pungkiri memang lebih banyak sedihnya (hehe).

Oh ya, terima kasih juga karena telah meminjami aku tempat minum milikmu, membantuku agar aku tidak bolak-balik ke dapur untuk mengisi minum; setelah aku mengatakan bahwa aku malas sekali melewati smoking area di kantor. Terima kasih karena telah mengerti aku. Semoga tujuan barumu di tahun 2020 dapat segera terwujud, ya. Aamiin.

"Aku menuliskannya semua disini agar kenangan yang ada di otak di hatiku pun pindah dan tidak akan menyisakan apa-apa lagi. Sudah tidak ada apa-apa.

Jikalau kisah ini adalah sebuah buku, maka aku adalah orang pertama yang tak akan membacanya. 
  
Kututup kamarmu di hatiku. Kuncinya sudah ku buang ke lautan. Tak ada yang bisa menunjukkannya kecuali Allah." - Elistianas


"Ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk ada hanya di dalam hati kita. Tapi bukan di dalam hidup kita." - kurniawangunadi

Dan bersamaan dengan sekembalinya tempat minum itu semalam, ku lepas engkau dari hatiku.
Allah, jika memang bukan ia orangnya, hapuskanlah perasaan ini sampai ke akar-akarnya.
Read More
Published Rabu, Mei 16, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Kepada Pria Baik, Benarkah Kau Jatuh Cinta?

Kepada pria baik,

Halo pria baik, ini adalah suratku yang pertama dan mungkin juga yang terakhir untukmu. Bukan, bukan berarti aku tak ingin lagi berinteraksi denganmu. Hanya saja belakangan ini semua terbaca terlalu aneh di mataku. Gerak-gerikmu, isyarat yang kau selipkan di setiap statusmu, dan bagaimana kau mencari kesempatan hanya untuk bertanya 'apa aku baik-baik saja?'
Semuanya terlalu berlebihan untuk disebut normal menurutku.

Wahai pria baik, benarkah kau jatuh cinta?
Padaku? Dengan seorang perempuan seperti ini? Kadang aku bertanya pada pertemuan manakah kau mulai jatuh cinta jika benar seperti itu? Apakah saat aku memakai baju terbaikku? Atau saat jilbabku sedang rapi-rapinya? Atau dalam suatu ketika dimana aku sedang mengoceh dan kau menjadi pendengarnya?
Kuberitahu, mungkin yang saat itu kau lihat adalah aku dengan sisi-sisi baikku. Sisi burukku tentu lebih banyak daripada yang kau tahu. Aku adalah perempuan yang punya kepala sekeras batu, mudah panik dan labil, tentu saja tidak mudah mengendalikan seseorang seperti aku. Bukan, aku bukan tengah menjelekkan diri sendiri. Tapi sedang memeringatimu. Sanggupkah kau bertahan dengan wanita sepertiku?
Itulah sebabnya, kau pun harus berpikir baik-baik sebelum memutuskan jatuh pada hati seseorang.

Jika memang benar kau jatuh cinta.
Simpanlah cinta itu baik-baik. Masukkan mereka dalam kotak kaca. Kau tahu, terkadang cinta bisa jadi seperti bunga. Jika kau beri pupuk dengan baik maka ia akan tumbuh dengan indah, mekar ketika sudah waktunya. Tapi jika kau beri pupuk berlebihan maka mereka akan tumbuh tak karuan, akarnya mungkin akan membelit, durinya bisa melukai dan aromanya membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Kau tahu kan, sesuatu yang berlebihan tak pernah baik. Jadi taruh saja mereka di sudut rumah atau di tempat yang sulit kau temukan, di bawah tempat tidur misalnya. Tentu saja sesekali kau boleh mengunjungi mereka, bertanya kabar dan bertegur sapa. Tapi hanya sekadar begitu saja.

Bukan, bukan berarti kau buruk. Atau berarti aku baik. Hanya saja setiap perasaan perlu pertanggungjawaban. Dan kita bertanggungjawab penuh pada apa yang kita izinkan masuk, tumbuh, dan berkembang di hati kita. Aku tak mau memberatkanmu di hadapan Tuhan. Karena cinta yang baik seharusnya membuat semakin dekat dengan Yang Maha Cinta, bukan malah menjauhi dan melanggar perintah-Nya.
Maaf. Maaf untuk semua kesalahan dan semua yang mungkin kau salah artikan. Dan maaf untuk pesan-pesanmu yang tidak pernah aku balas.
Lupakan aku.

* * *

Jodoh itu cerminan dirimu sendiri, percayalah jika jodohmu sekarang tengah melakukan hal yang sama dengan dirimu. Maka, jangan repotkan dirimu dengan cinta yang belum saatnya, pada perasaan yang hanya akan menyusahkan dirimu sendiri, pada pengharapan yang kau buat-buat sendiri.

Bagi perempuan baik-baik, ketika ada seorang laki-laki yang mulai menunjukkan rasa sukanya tapi tidak siap dengan komitmen itu seperti tamparan keras, karena mereka kerap merasa gagal menjaga hijab dengan baik. Maka jangan sukai mereka dengan cara yang tidak baik, jemputlah mereka secara baik-baik. Jika kau belum mampu, maka terus perbaiki diri dan bersabarlah...


Dari, seorang gadis yang ingin menjadi perempuan baik-baik.
Dan tulisan ini saya repost dari linimasa milik Mba Elis;
yang sepertinya juga ia repost dari tumblr milik seseorang;
yang sudah saya tambahkan beberapa agar seperti 'aku'.
Read More