"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Kamis, 08 November 2018

,
Kemarin sewaktu membaca tulisan Keju di blognya yang menceritakan soal bagaimana kondisi Ibunya sewaktu sakit dulu, aku jadi teringat Ummi. Teringat bagaimana ketika Ummi harus berjuang melawan sakitnya, dari yang kini harus terus disuntik setiap hari sebanyak 3-4 kali, lalu soal jenis makanan yang sudah tidak beragam lagi, sampai badan yang terus mengurus dan menampakkan tulang-tulangnya. Dan sedikit saja terlewat kerutinan soal suntikan ataupun kelewatan ingin mencoba sebuah makanan 'terlarang' meskipun hanya sesuap, Ummi justru menjadi muntah-muntah dan tak akan bisa menampung makanan apapun sampai harus diberikan obat ini-itu. Bahkan terkadang, sampai makannya pun harus menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidung hingga tenggorokan. Semata-mata, agar Ummi bisa makan, selain dari infus yang diberikan.

Tapi, sudah agak lama Ummi kembali bisa ceria seperti sedia kala. Bisa bersenda gurau dengan anak-anaknya dan juga mampu berjalan-jalan keliling kota. Bahkan kemarin-kemarin masih sering ikut Abi keluar kota, mengekori tugas dinas yang sedang diamanahkan. Berfoto di depan baliho besar bertuliskan 'Selamat Atas Kemenangan Yang Diraih' dengan foto Ais yang terpajang di dalamnya. Makan banyak daging dan minum banyak air putih. Mengambil nasi pun sudah bisa bersuap-suap, dan sudah bisa tertawa dengan pancaran mata yang sudah tak lagi sayu. Ya, beberapa bulan kemarin, Ummi masih terlihat sehat bugar. Sekitar delapan bulanan lebih. Meski segala macam suntikan dan batasan-batasan soal makanan itu tetap harus dilakukan setiap harinya.

Namun, soal sehat dan sakit memang hanya Allah yang tahu. Kini, Ummi kembali harus terbaring di rumah sakit setelah selama dua hari belakangan ini tidak bisa makan. Apapun makanan yang masuk, akan selalu dimuntahkan dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Aku kembali harus menyaksikan Ummi yang terbaring lemah tak berdaya di atas kasur sembari melihat tangan-tangannya yang penuh dengan jarum infus, juga dengan hidungnya yang tersumbat oleh suatu alat. Beruntung kali ini tidak perlu dipasangkan selang makanan ataupun kateter urin. Tapi tetap saja, melihatnya membuatku ingin menangis dan tak bisa tenang.

Ya Allah, tolong angkat penyakit Ummiku :( Aku benar-benar nggak tega ngelihat kondisi Ummi yang sekarang :((((((