"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Jumat, 24 Agustus 2018

,
Dua hari yang lalu sempat bertanya kepada seorang kakak mengenai sebuah mimpi yang dahulu terpaksa dikubur dalam-dalam karena katanya tidak mungkin bisa terwujud. Namun kakak menjawab bahwa hal itu bisa, malah kebanyakan pun begitu. Masya Allah, betapa bahagianya saya mendengar kabar itu.

Bismillah. Ya Rabb, semoga Engkau memudahkan proses 'pen-wujud-an' hal ini. Aamiin.

Minggu, 12 Agustus 2018

,
Percakapan sederhana di suatu sore, sewaktu lagi nemenin Aqmar main seharian.

"Aqmar jadinya pake kereta yang ini."
"Kereta apa itu emangnya, Mar?"
"Bogowonto."
"Bogowonto emangnya kemana, Mar? Jogja?"
"Bukan."
"Lah? Kemana dong?"
"Stasiun Jogja."
"..."
"Mba Hannan seneng nggak pas ke Jogja?"
"Seneng. Aqmar seneng nggak?"
"Seneng. Mba Hannan pas ke Jogja masih kecil apa sudah besar?"
"Udah besar."
"Aqmar waktu ke Jogja masih kecil. Terus mainan slither.io terus kalah terus Aqmarnya nangis."
"..." (Di sini aku ngebatin, lha Aqmar aja kan sekarang masih kecil.)

Sengaja dituliskan tanpa mencantumkan maksud penulisannya, untuk diserahkan pada pemikiran masing-masing pembaca sekalian.



Aqmar, 3.8 years old.
Yang pengucapan huruf r dan l-nya masih belum begitu fasih.

Sabtu, 11 Agustus 2018

,
Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.  ― (QS. At-Tahrim: 8)

Sabtu malam, untuk tidak menyebutnya dengan istilah malam minggu.
Seseorang mengirimiku ayat ini sebagai pengingat.
,
Kadang-kadang Dia menurukan hujan dan petir. Lalu aku menangis mencari kemana hilangnya matahari. Aku lupa bahwa Dia hendak memberiku pelangi. ― Anonymous

Rabu, 08 Agustus 2018

,
Di suatu ketika, saya pernah bertanya kepada beberapa orang.

"Mengapa rasanya hati selalu gelisah, sedangkan sudah banyak-banyak berdoa dan berdzikir?"

Dan dari sekian tanggapan, saya belum menemukan jawaban tepatnya.


Beberapa hari yang lalu, dan saya masih mencari.

Senin, 06 Agustus 2018

,
 The world is a book, those who do not travel read only one page.  ― St. Agustine
Lama sekali aku sudah tidak pernah ke Jogja lagi. Seingatku, terakhir itu sewaktu awal-awal kuliah, saat masih bisa ikut Abi dinas ke luar kota. Duh, rasanya rindu. Tetapi minggu kemarin, saat diundang ke acara walimahnya Willi dan Rika (keduanya teman sekolah dan kuliah dulu, bahkan Willi sempat menjadi rekan kerja di kantor yang sekarang), aku kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali menjelajahi kota Jogja. Dan karena cerita perjalanan itu menjadi perjalanan pertamaku bersama teman-teman yang sampai sejauh itu, maka ceritanya akan aku rangkum dalam beberapa bagian (hari). Mungkin tidak akan banyak narasinya, tetapi hasil momen-momennya akan sedikit-banyak. Aku mulai saja, ya...

Jumat, 20 Juli 2018
Perjalanan itu diawali dari Jumat malam. Karena aku berencana untuk menggunakan commuter line (krl) untuk mencapai stasiun Pasar Senen, maka aku sudah berangkat ke stasiun Pasar Minggu di jam-jam setelah sholat maghrib, mengantisipasi adanya keterlambatan krl atau hal-hal lainnya. Dan alhamdulillah, setelahnya aku sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah sembilan malam, dengan jadwal keberangkatan kereta dari Jakarta adalah pukul 21.45 WIB. Tidak banyak yang kami (aku dan keempat teman yang lain) lakukan di stasiun dan di sepanjang perjalanan itu, selain menunggu kereta dan berbincang-bincang untuk mengisi kebosanan sebelum akhirnya sibuk dengan mimpinya masing-masing.
Dan perjalanan dari Jakarta ke Jogja itu kami tempuh menggunakan kereta api Bogowonto yang bergerbong ekonomi. Namun ada catatan tersendiri untuk kalian yang tidak terbiasa dalam menghadapi suhu AC yang cukup dingin; yaitu lebih baik menggunakan pakaian dan jaket yang cukup tebal. Karena meskipun gerbong yang kami pesan adalah ekonomi, namun cukup mampu membuat kami menggigil kedinginan.

Sabtu, 21 Juli 2018
Setelah melalui kurang-lebih 8,5 jam perjalanan, alhamdulillah kami sampai di kota Jogja dengan selamat. Dan karena kami menggunakan jasa penyewaan mobil di sana, maka setelah sholat shubuh dan melakukan hal pribadi yang lainnya, kami pun langsung berjalan keluar stasiun untuk menghampiri rombongan lain yang sudah terlebih dahulu sampai. Sekitar 19 orang, dan sebagian besarnya adalah rombongan dari laboratorium Artificial Intelligent (AI). Di sini aku dan dua orang temanku yang lain memang istilahnya seperti menumpang gitu sih, karena selain biar perjalanan ke Jogja itu terasa lebih ramai, juga agar aku tidak (jadi perempuan) sendirian.
Singkat cerita, setelah mobil dan segala urusannya selesai, maka kami pun langsung sarapan di tempat yang sebenarnya aku lupa letaknya dimana, tetapi katanya cukup terkenal. Namun ada sedikit hal yang terjadi setelah selesai sarapan di sana. Dari tiga mobil yang dibawa, rupanya mobil yang aku dan teman-temanku tumpangi itu tiba-tiba mengalami kebocoran rem. Aku lupa sih sebenarnya apakah kebocoran atau remnya yang kurang pakem, tapi intinya mobil itu tidak bisa digunakan untuk mengerem dengan baik. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun langsung mencari bengkel terdekat untuk memperbaiki rem mobil itu.
Cukup lama mobil itu diperbaiki, sampai-sampai beberapa temanku yang mungkin tidak bisa tidur nyeyak di perjalanan semalam jadi tertidur seperti itu. Tapi setelah semua dipastikan aman dan tidak ada masalah lagi, maka kami pun melanjutkan perjalanan. Dan destinasi wisata pertama kami adalah Pantai Sepanjang.
Alhamdulillah meskipun awalnya diberitakan kalau gelombang di pantai ini sedang pasang, namun ketika kami berkunjung ke sana, gelombangnya masih dalam batas aman meskipun sesekali terlihat ombak yang tinggi. Robbana maakhalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaban naar.
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (Q.S. Ali Imran: 191)
Cukup lama kami berada di pantai ini. Menghabiskan waktu untuk mensyukuri nikmat-Nya, mengagumi indah ciptaan-Nya, sembari mengabadikan momen-momen yang ada.
Dan setelah puas bermain di pantai, kami pun bergegas membersihkan badan serta ganti baju secara bergantian. Bersiap-siap untuk berangkat ke destinasi selanjutnya. Tebing Breksi.
Sayangnya kami sampai di sini saat dekat-dekat mau ditutup, yaitu sekitar jam 5 sore lebih sedikit, disaat memang lokawisata ini akan ditutup tepat pada pukul 6 sore. Jadinya tidak banyak momen yang dapat diabadikan di tempat ini. Saat mau mencari sunset pun, mataharinya tidak begitu terlihat karena tertutup oleh awan.
Padahal ada banyak hal yang sepertinya menarik dan bagus untuk diabadikan di kondisi-kondisi terbaiknya. Seingatku, di tebing ini menyediakan berbagai macam spot foto dengan biaya seikhlasnya. Dan ada pintu kemana sajanya milik Doraemon juga, lho.
Maka, karena tidak begitu banyak hal yang bisa diabadikan, beberapa diantara kami pun jadi sibuk dengan urusannya masing-masing. Alias foto sendiri-sendiri, dengan gayanya sendiri-sendiri. Menghabiskan waktu sampai tebing itu benar-benar mendekati menit-menit akan ditutup.
Dan setelahnya, kami pun bergegas untuk sholat maghrib dan makan malam, yang selanjutnya dilanjutkan dengan perjalanan ke penginapan yang ada di Magelang.

Minggu, 22 Juli 2018
Di Magelang, kami menginap di tempat yang sudah disediakan oleh Willi. Dan karena perjalanan ini pun sebenarnya terjadi karena kami ingin menghadiri acara walimahan Willi dan Rika, maka pagi-pagi di hari Minggu itu, kami pun menghadiri acara mereka seperti seharusnya.
Sayangnya di sini aku bergabung dengan teman sekolahku secara mendadak, sehingga aku pun tidak memiliki satu fotopun bersama Willi dan Rika. Ada, tetapi di galeri milik temanku yang mungkin ia bagikan di grup rombongannya. Sedangkan aku kan datang bersama rombongan AI, namun tidak ikut berfoto dengan mereka. Sehingga momen yang tersimpan dalam galeriku hanyalah foto kedua temanku itu, yang juga bukan termasuk anak AI. Tapi mereka ikut berfoto dengan rombongan kelas lain, serta ikut mendapatkan fotonya (hiks, sedih *lho).
Dan suasana walimahan Willi dan Rika ini termasuk yang bagus dan cukup mewah. Berlatarkan pemandangan yang indah, serta makanan yang disediakan pun bermacam-macam. Kalau dibandingkan dengan bulan Agustus nanti, sepertinya sangat jauh, ya, hehe. Tapi tetap semua harus disyukuri, kan? :" Lanjut. Setelah acara walimahan itu selesai, kami pun langsung bergegas untuk beranjak ke destinasi selanjutnya. Ketep Pass. Iya, setelahnya kami kembali ke Jogja.

Ada cerita menarik dari behind the scene foto ini, saat sedang mengabadikan momen-momen di Ketep Pass itu. Di balik foto mbak-mbak di atas, ada fotografer yang totalitas dalam pengambilan gambarnya. Mereka berdua adalah Hilmy dan Tedy. Karena demi si mbak-mbak itu tidak kebingungan dalam memilih fokus, maka kedua temanku ini pun jadinya bertumpuk-tumpuk begitu, wkwk.
Dan di sini pun, terdapat penyewaan teropong yang harga sewanya adalah 5000. Tentu saja, demi menghemat sekaligus sepertinya yang lainnya juga hanya ingin meminjam sebentar tapi malas menyewanya, maka teropong yang disewa pun hanya satu untuk bergantian.
Aku nggak ngerti sih sebenarnya dengan kedua temanku ini. Disetiap tingkah lakunya, ada saja hal-hal lucu yang mereka lakukan. Contohnya seperti menggunakan teropong bersaman seperti ini.
Tapi padahal mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat biasa-biasa saja, ya. Tapi buatku, entahlah, hal-hal yang seperti ini tuh lucu dan mungkin suatu saat nanti bisa menjadi salah satu momen yang dirindukan, namun hanya bisa dikenang.
Dan destinasi Ketep Pass ini pun menjadi destinasi terakhir perjalanan Jakarta-Jogja-Magelang yang mereka namai sebagai Willi-Rika (WR) Marriage Trip.

Minggu, 23 Juli 2018
Alhamdulillah, kami sampai di Bandung dan Jakarta dengan selamat. Kembali beranjak dan berkutat dengan aktivitasnya masing-masing; yaitu kerja-kuliah-TA seperti biasa.
And I'd like to give special-big thanks to our tour guide. Kak Yasin. Yang telah menyediakan mobil dan mengajak jalan-jalan  ke berbagai destinasi wisata selama di Jogja. Terbaik! Benar-benar tidak mengecewakan. Serta, rombongan AI yang memperbolehkan aku, Hilmy dan Keju (yang sebenarnya dari lab sebelah) untuk ikut serta dalam perjalanan wisata kalian. Thank you so much, guys!



Jakarta, 6 Agustus 2018; 01.36
This is actually a very late post!

Minggu, 05 Agustus 2018

,
Selama hari ini kita masih punya banyak rezeki, lebih baik kita maksimalkan untuk membantu orang lain. Bukan karena mengharap kita akan dibantu juga oleh orang lain suatu saat nanti ketika kita berada di titik terbawah, tetapi karena untuk berjaga-jaga. Barangkali beberapa hari ke depan, kita sudah tidak punya kesempatan untuk membantu orang lain lagi. Karena membantu orang lain itu berpahala, dan merupakan nikmat juga yang harus patut kita syukuri. ― Seseorang