"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Rabu, 25 Juli 2018

Membandingkan

Awalnya aku sama sekali nggak ada niatan untuk main ke kosan Abi meskipun aku tahu kalau Ummi akan ke Jakarta minggu ini. Tapi sewaktu hari Senin kemarin, tiba-tiba Ummi bilang kalau Abi hari Selasa malam mau mabit, jadi aku disuruh nginep di kos Abi buat nemenin Ummi. Tentunya pas disuruh begitu tanpa sempat banyak-banyak mikir aku pun langsung bilang iya, dan bela-belain naik transjakarta sambil desak-desakan sampai kurang lebih 2 jam lamanya dengan kondisi jalanan yang benar-benar macet saat itu. Soalnya kalau mau bawa motor, nggak dibolehin sama Abi.

***

Singkat cerita, aku baru sampai kos Abi itu sekitar jam 7 kurang sedikit. Padahal aku udah berangkat dari jam setengah 5-an gitu. Dan sampai kos Abi, aku langsung ditodong disuruh makan nasi beserta lauk-pauknya dan juga udah disediain buah banyak-banyak. Duh, jadi terharu gitu kan, wkwk. Apalagi karena memang aku itu belum makan apapun dari pagi karena lagi males, haha.

Dan pas lagi makan gitu, tiba-tiba aku jadi ingat Ais dan Azizah. Makanya hal pertama yang aku tanyain di kosan Abi itu adalah soal kabar Azizah, karena ini minggu pertama Azizah boarding dan juga karena ini pertama kalinya Azizah pisah sama orang tua. Dan dari pembicaraan itu, aku jadi kepikiran kalau model boarding Ais dan Azizah itu ternyata sangat berbeda. Iya, jadi tanpa sadar aku malah jadi membandingkan kondisi keduanya.

Dimulai dari cara pengajarannya yang berbeda. Kalau di boardingnya Ais, proses belajar-mengajar dilakukan seperti di sekolah-sekolah lainnya. Hanya saja memang kegiatannya tentu berbeda, seperti sekolah-sekolah boarding pada umumnya. Namun, dari segi fasilitas dan guru-gurunya tidak jauh berbeda dengan sekolah reguler yang lainnya. Sedangkan Azizah, di sekolahnya benar-benar diajarkan untuk hidup sederhana. Apalagi bangunan sekolahnya yang memang seperti model-model sekolah zaman dahulu, dengan meja dan bangku kayu berwarna cokelat dan papan tulis yang sepertinya masih menggunakan kapur. Dan yang paling mencolok pun, adalah dari segi pakaiannya.

Iya, entah kenapa sewaktu ngelihat foto-foto yang dikirimin oleh ustadzahnya masing-masing, aku melihat perbedaan yang cukup signifikan. Suasana dan pakaian yang dikenakan Ais dan teman-temannya, juga Azizah dan teman-temannya itu seperti berkebalikan. Ais seperti merepresentasikan anak-anak kaya raya yang pakaiannya bagus-bagus serta mahal, sedangkan Azizah seperti merepresentasikan anak-anak sederhana yang pakaiannya pun terlihat sederhana. Ya kalau dilihat dari biaya sekolahnya pun memang berbeda jauh sih, karena sekolahnya Ais memang biayanya cukup mahal. Kan kalau bukan karena Ais dapat beasiswa di sekolah boarding itu, Ais juga sepertinya tidak akan sekolah di situ karena biayanya yang terbilang cukup mahal, hehe.

Tapi selain soal kesederhanaan, ada juga hal-hal lain yang sempat aku banding-bandingkan. Seperti Ais yang kalau waktunya penjemputan pasti bakal bawa banyak baju kotor untuk dicuci di rumah, serta bakal minta banyak jajan untuk dibawa kembali ke asramanya. Sedangkan untuk Azizah, saat penjemputan pertama kemarin, dia tidak mau dibawakan jajan apapun meskipun sudah ditawarin. Dan biasanya Ais itu kalau waktunya kembali ke asrama, dia bakal sedikit malas-malasan dan menunda-nunda. Sedangkan Azizah, kata Ummi kemarin malah bilang begini, "Jijah nggak mau terlambat ah ke asramanya. Jijah belum nyuci baju, belum nyetrika juga." Waduh... Soalnya emang kalau Azizah ini, di boardingnya ada peraturan bahwa setiap penjemputan anak-anak tidak diperbolehkan untuk membawa baju ganti maupun baju kotor, dan diwajibkan untuk menggunakan seragam identitas. Pantes saja...

Dan selain soal penjemputan, ada lagi hal yang berbeda dari keduanya. Sebenarnya aku lupa kalau Ais itu dibatesin untuk boleh bawa uang berapa selama sebulan, tapi kalau untuk Azizah itu maksimal 300 ribu. Dan dulu itu seingatku, Ais meskipun tidak banyak jajan juga sih, tapi di asramanya ada kantin yang memang menyediakan banyak jajanan seperti punya minimarket sendiri. Sedangkan untuk Azizah, kata Ummi kemarin sewaktu penjemputan pertama dia malah bilang begini. "Jijah seminggu uangnya cuma habis 6 ribu, buat beli es pop ice sama makaroni satu." wkwk. Bisa dibayangkan sendiri kan ya bagaimana perbedaan kondisi kantin keduanya.

Pokoknya tadi malam itu aku sama Ummi benar-benar membahas banyak hal, yang juga akhirnya jadi terkesan membanding-bandingkan banyak hal. Tapi Alhamdulillah, dari semua cerita yang Ummi ceritakan malam itu, aku jadi tahu kalau Azizah sudah betah di boardingnya, setelah selama ini hal itu yang menjadi kekhawatiran sendiri bagi aku dan Ummi. Soalnya Azizah ini tipe anak yang pemalu dan susah bergaul (kayak aku, wkwk) yang tapinya terbantahkan karena kata Azizah, dia betah di sana dan teman-temannya juga semuanya enak buat diajak main, nggak ada yang aneh-aneh. Alhamdulillah ya, dek..

Eh, tapi meskipun kondisi boarding keduanya yang seperti berkebalikan itu, aku berharap output yang diberikan oleh keduanya itu tidak akan berbeda jauh. Karena aku berharap, semoga keduanya sama-sama bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, menjadi hafidzah, memiliki ilmu yang bermanfaat baik untuk dunia dan akhirat, dan bisa menjadi anak yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Ummi dan Abi. Aamiin. Duh, jadi kangen kan, hiks...


Ditulis di sepertiga malam, gara-gara dibangunin sama nyamuk yang entah kenapa tumben-tumbenannya datang dan menganggu tidur nyenyakku. Padahal lagi halangan :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar