"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Jumat, 22 Juni 2018

Mengelola Hati

Rupanya sampai hari ini aku masih harus berada di Purwokerto. Tapi Ummi sama Abi lagi di Jakarta, dan rasanya aku kayak lagi jadi single parent. Sendirian ngurusin tiga orang anak yang memiliki kepribadian dan kebiasaan yang berbeda-beda, maunya ini-itu yang tentunya berbeda juga ternyata jadi tantangan tersendiri buat aku. Udah pada gede, tapi masih lebih sering manja dan banyak permintaannya. Ditambah aku lagi kedatangan tamu yang rupanya kali ini lebih butuh 'perhatian' lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi dari itu aku jadi belajar kalau sebenarnya sifat sensitif akibat dari kedatangan tamu bulanan itu sebenarnya bisa diatur sendiri dan dikelola dengan baik. Tergantung bagaimana kita (berusaha) membentuk suasana hati. Yang berartinya juga setiap orang itu bisa mengelola sendiri suasana hatinya masing-masing tanpa harus bergantung dengan kondisi yang ada.

Buktinya walaupun kemarin lagi repot-repotnya dan ngurusin adik-adik yang banyak permintaannya, ditambah rasa kesensitifan dari si tamu yang luar biasa itu sama sekali nggak bikin aku jadi dikit-dikit marah dan mudah tersinggung. Malah kayaknya sewaktu lagi puncak-puncaknya, suasana hati tuh kayak lagi bersahabat dan gampang diaturnya. Atau karena memang udah jadi kebiasaan kali, ya? Karena akhir-akhir ini aku juga udah jadi males marah-marah atau ngambek-ngambekan. Rasanya kayak hal-hal yang begituan tuh malah justru bikin aku jadi makin tambah tua *lah. Tapi kalau memang alasannya karena sudah terbiasa nggak marah-marah lagi, berarti sebenarnya sesuatu yang buruk itu bisa dialihkan ke yang baik-baik asalkan kitanya mau (berusaha) membiasakan yang baik-baik itu. Cuma masalahnya terkadang kita terlalu asik dengan tameng kalimat, "mungkin karena dulu aku tuh diginiin makanya waktu gede jadi gini-gitu", ya toh? Yang intinya itu menyalahkan kejadian masa lalu dan menjadikannya sebuah alasan untuk membenarkan setiap kejadian dan perilaku buruk yang ada di diri kita. Astaghfirullah... Ini jadi catatan tersendiri buat diri aku juga, sih.

Tapi intinya dari tulisan ini tuh sebenarnya hal-hal yang terjadi beberapa hari ini rupanya jadi mengantarkan aku ke pemikiran gimana selama ini Ummi dan Abi―terutama Ummi―yang ngurusin empat anak sekaligus. Tanpa keluhan. Tanpa minta dibalas. Tanpa minta dibayar. Semuanya dilakukan sepenuh hati semata-mata hanya karena kasih sayang mereka berdua kepada kami―anak-anaknya―yang terkadang suka lupa dan nggak tahu diri. Masya Allah. Meskipun ucapan terima kasih aja tentunya belum cukup, tapi tetap terima kasih ya Mi, Bi. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk kalian berdua, yang tentunya juga disertai dengan kebahagiaan dunia-akhirat :"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar