"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Selasa, 19 Juni 2018

Mengakhiri Untuk Memulai

"Karena mencintai berarti rela untuk melepaskan." ― Seseorang
*

Hari ini Purwokerto lagi panas-panasnya. Tanaman di depan rumah pun jadi kelihatan agak layu karena lima hari kemarin tidak pernah disiram.

Mungkin suasana lebaran hari ini masih sedikit terasa. Sebulan penuh berpuasa rasanya seperti berlalu begitu saja. Semoganya sih tidak sia-sia, tapi aku masih merasa seperti kurang memanfaatkan waktu yang ada. Ah, rasanya seperti ingin mengulang waktu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Namun kalau mau menilas balik, aku jadi ingat sewaktu hari pertama lebaran beberapa hari yang lalu.

Lebaran kan bagi sebagian besar orang identik dengan maaf-maafannya kan, ya. Kalau tahun-tahun sebelumnya, biasanya aku bakal mengirimi pesan permintaan maaf ke sebagian kontak yang ada di ponselku satu persatu. Mau itu perempuan atau laki-laki, pokoknya semuanya aku kirimi pesan. Tapi kalau tahun ini, aku cuma mengirim pesan ke beberapa teman perempuan. Itupun terbatas hanya pada teman-teman yang memang sehari-harinya sering berkomunikasi denganku. Sisanya cuma aku ucapkan via grup-grup atau via sosmed aja.

Bukan apa-apa. Kalau misalnya aku mengirim pesan ke semua kontak yang ada di ponsel, akunya takut ponselku bakalan ngehang karena saking banyaknya. Lagian, kalau misalnya aku punya ponsel yang tahan banting, kan jadinya waktunya banyak terbuang buat saling berbalas pesan kan, ya? Padahal aku lagi kumpul bareng keluarga besar, yang kira-kira cuma bisa ketemu tuh setahun sekali aja. Lah yang utama malah keluarga yang lagi kumpul itu toh, bukan teman dunia maya kita? Makanya tahun ini aku nggak begitu banyak ngelihat ponsel, cukup berbalas pesan sama beberapa orang aja. Itupun jedanya agak lama.

Aku belajar dari seorang teman juga, sih. Jadi sewaktu lebaran beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengirimi salah satu temanku yang laki-laki sebuah pesan maaf-maafan yang sampai sekarang tidak pernah dibalas. Kesal? Pasti. Padahal dia update di sana-sini, eh tapinya malahan tidak membalas pesan aku. Padahal dia itu termasuk teman dekatku dulu, meskipun semakin ke sini memang semakin dijauhkan. Aku jadi ngerasa kayak nggak dianggap gitu, dan juga menganggap temanku itu sombong, lupa sama teman lama. Dan jadi ngerasa aneh juga sih, karena dulunya dekat tapi sekarang malah jadi kayak stranger gitu. Dibilang musuh bukan, tapi dibilang teman atau sekedar kenal juga kayaknya kurang pas.

Tapi beberapa hari belakangan ini aku mulai tahu sih apa penyebabnya. Rupanya dia memang sengaja nggak ngebalas pesan aku karena memang pengen menjaga hati. Lah memangnya dia suka sama aku? Ya enggak juga. Kalau tidak salah dari apa yang dia tulis di sosmednya sih, dia cuma pengen lebih berhati-hati aja dalam bergaul. Dia takut zina. Lah iya, aku baru ingat kalau zina itu bukan cuma soal fisik, tapi juga hati, pandangan, sama pikiran. Terus setan kan juga punya banyak cara buat menjerumuskan manusia kan, ya? Dan katanya juga, semua pesan dari perempuan yang masuk ke ponselnya tapi nggak penting-penting banget, langsung aja dia hapus gitu aja tanpa sempat dia baca. Kalau yang soal maaf-maafan, dia maafin aja gitu dalam hati tanpa harus ngebales pesannya. Makanya aku langsung menyimpulkan, oh iya berarti aku juga termasuk ke perempuan-perempuan itu kali, ya?

Terus aku juga jadi ingat sama kalimat Ummi sewaktu aku lagi mainan ponsel sambil lihat-lihat video kpop sehabis sholat dan baca qur'an. Katanya, "lah, baru baca qur'an kok langsung khilaf? Emangnya udah ngerasa amalannya cukup buat nonton-nonton video kayak begituan?" Dan kalau dulu sih, setiap digituin sama Ummi aku bakal cuma merengut-merengut aja sambil tetep nonton-nonton video kpop. Tapi kalau sekarang udah enggak. Iya lah, orang akunya juga udah jarang nonton video kpopnya hehe. Bukan itu ding intinya. Maksudnya, kalau sekarang aku jadi lebih mikir, iya ya, emangnya amalan aku udah cukup, makanya aku jadi sombong dan tidak berhati-hati dalam bertindak? Malahan membuang-buang waktu sama hal yang sia-sia begitu.

Dan nggak tahu sih bisa disambungin apa enggak, tapi aku jadi kepikiran soal temanku itu. Terus juga jadi mikir, jangan-jangan kalau aku pas lebaran jadi saling berkirim pesan ke teman-teman laki-laki, yang pastinya beberapa bakal jadi ditambahin kata 'wkwk' dan 'haha' atau saling bertanya satu-dua hal untuk basa-basi, amalan yang aku lakuin di bulan Ramadhan kemarin jadi sia-sia? Kan kita nggak pernah tahu ya, amalan yang kita lakuin itu dihitungnya berapa, dan dosa yang kita lakuin juga dihitungnya berapa. Maksudnya misal kayak tau-tau amalan sholat sebulan penuh itu ternyata cuma bisa buat ngehilangin dosa interaksi sama lawan jenis lewat chat. Nah, kalau misalnya benar begitu, berarti amalan kita langsung habis gitu aja dong? Karena yang tahu perhitungan amalan dan dosa hanya Allah semata, makanya berarti kita justru harus lebih berhati-hati kan, ya?

Terus aku juga jadi mikir, kok aku banyak mikirnya ya? wkwk. Bukan ding. Aku jadi mikir lagi, mungkin udah saatnya kali ya aku harus mengakhiri sesuatu untuk memulai? Maksudnya kayak aku kan punya banyak teman lawan jenis, yang mungkin kalau aku upload story bakalan ada yang komen, atau aku sendiri malahan yang komen-komen ke story mereka. Ya mungkin awal-awal bakalan dianggap sombong, kayak sewaktu aku balas pesan temanku singkat-singkat dan malahan kadang-kadang sengaja nggak dibalas. Terus waktu ketemu dia bilang gini, "sombong banget kalau ketemu padahal pegang hp terus, tapi kalau di chat lama banget balesnya." Tapi waktu dibilang gitu aku cuma senyam-senyum aja karena bingung mau jawab apa, masa iya aku bilang kalau aku lagi menjaga hati? Lah nanti makin panjang pembahasannya biar dianya nggak salah paham, padahal kan aku lagi nggak pengen ngobrol lama-lama sama dia berduaan.

Tapi maksudnya ya itu, mungkin udah seharusnya aku itu mulai mengakhiri sesuatu yang sekiranya hanya membawa mudhorot buat diri aku sendiri. Kayak chat sama lawan jenis ngobrolin hal-hal yang nggak penting, menghabiskan waktu cuma buat nonton film-film gitu, atau yang lainnya. Jadi mengakhiri untuk memulai sesuatu yang baru. Mungkin kayak memulai untuk banyak-banyak belajar ilmu agama? Atau mulai untuk mempersiapkan bekal kalau-kalau nanti ketemu jodohnya? Ya, jodoh bisa berupa kematian atau manusia. Tapi intinya begitu. Mengakhiri yang tidak baik, untuk memulai yang baik-baik. Mungkin kalau buat aku mengakhiri begitu saja masih terlalu ekstrim ya, tapi setidaknya tetap harus berusaha untuk memulai secara bertahap, kan?

Dan aku juga tahu kok, mengakhiri sesuatu dengan orang yang selama ini cukup dekat dengan kita itu agak sedikit susah. Kayak misalnya punya teman lawan jenis dari sd, terus tiba-tiba kayak harus diakhiri begitu saja, padahal nggak ada masalah apa-apa. Dari yang biasanya tiap dia atau kita update sesuatu di sosmed kitanya saling komen-komen cekikikan nggak jelas, sekarang harus ditahan-tahan. Dari yang biasanya diajakin main kumpul-kumpul nggak jelas sampai malam kitanya hayuk-hayuk aja, sekarang harus cari-cari alasan untuk menolak tanpa menyinggung. Tapi walaupun susah, bukan berarti nggak mungkin kan, ya? Dan semua perubahan itu bagiku butuh proses, nggak bisa dadakan, makanya harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Harus dilatih dengan waktu yang nggak sebentar.

Dan karena mencintai berarti harus rela melepaskan, lalu kita juga mencintai teman kita itu karena Allah sehingga nggak mau mereka justru terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik, berarti kita juga harus rela untuk melepaskan segala apa yang justru membuat mereka semakin terjerumus ke situ kan?



Oh iya ada satu tulisan yang pengen aku share. Jadi waktu aku lagi buka-buka fb sebentar, tiba-tiba nemu status fb yang ditulis sama budeku. Dan pas aku baca, aku langsung mikir, lah kok agak sejalur sama yang lagi aku pikirin? Kok sesuai sama apa yang lagi aku alamin? Jadinya aku tulis ulang di sini. Tapi tulisan itu juga di repost sama bude dari sumber yang kayaknya lupa ditulis sama bude, soalnya di bawahnya cuma dikasih keterangan kalau status itu tuh copas, tapi nggak ada keterangan sumber aslinya. Ya kurang lebih kayak gini tulisannya.

Untuk para suami...

Ketika istrimu begitu menjaga kehormatannya di rumah, maka jaga pulalah kehormatanmu sendiri diluar sana. Wanita berbeda banget sama pria. Jangan kaget hanya dengan anggukan kepalamu saja, akan ada wanita lain yang merasa diperlakukan dengan istimewa. Jangan kaget meski niatmu sekedar membantu saja, tapi yang dibantu malah jadi diam-diam menyimpan cinta. Bahkan yang sekedar lewat aja, bisa diartikan lain sama wanita.

Serba salah memang, tapi selama ada sang istri kenapa tidak kau pindahkan segala urusan beramah tamah dengan wanita ke pundak istrimu? Agar Izzah lelakimu tak tergadai dengan 1000 fitnah wanita. Agar sejuta kebaikan dan kehangatanmu hanya bisa dinikmati keluargamu saja.

Kadang di otak logikamu mungkin terbersit, "ah cuma begini aja masa bikin fitnah?" Tapi percayalah, hati wanita penuh kejutan-kejutan khayalan romantis yang bisa kapan aja dibumbui syaithon-syaithon agar semakin dalam perasaan yang awalnya hanya selewat aja. Maka jangan marahi para istri-istri yang cemburu karena mereka tahu apa yang mereka sedang hadapi. Ketika sebuah perasaan ngga berdaya dipaksa menghadang serbuan perasaan menggebu-gebu yang belum halal. Bagai prajurit yang mendadak siaga ketika mendengar kebaikan suami dibicarakan wanita lain.
Maka berterimakasih lah pada setiap kecemburuan istrimu, karena kecemburuan merekalah yang akan membantu menjaga lurus jalanmu. 
Ada hati yang musti engkau jaga.

Eh tapi bukan soal suami-istrinya ya, tapi lebih ke bagian kalau apa yang dilakuin oleh laki-laki meskipun sedikit ternyata bisa menimbulkan benih-benih cinta di hati perempuan. Meskipun yang laki-lakinya ngerasanya ya biasa aja.

Tapi aku bilang begini pun bukan berarti aku sudah sepenuhnya menjalankannya. Namanya manusia, namanya Hannan, masih banyak khilafnya. Masih lagi berproses dan masih belajar. Tapi setidaknya hal-hal yang begini mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran juga. Terutama buat aku tentunya. Dan maaf jika ada salah-salah kata atau kalimat yang kurang mengenakkan. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, dan kalau ada kesalahan tentu datangnya dari diri aku sendiri. Tapi kalau ada hal-hal yang sekiranya salah dari apa yang aku tulis di atas, mohon koreksinya, ya. Aku masih lagi belajar :"



Btw empal gentong sama sup kimlo buatan Ummi enak, bikin aku jadi bolak-balik ke dapur. Duh, sepertinya jarum di timbangan bakalan mulai jalan ke kanan lagi setelah beberapa bulan belakangan ini jalannya ke kiri terus.
#enggaknyambungemang
#tapigapapadeh
#pengencurhatajagara2beratbadannyamulainaik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar