"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Selasa, 26 Juni 2018

Hujan #2

Masih berbicara soal hujan seperti sebelumnya. Sebelum aku nge-post tulisan tadi sebenarnya udah ada driver yang menerima orderan. Tapi karena tiba-tiba hujannya jadi semakin deras dan beliau tidak bawa jas hujan, jadinya aku kembali menunggu.

Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

"Saya otw ke situ ya, pak." (Lah, aku dipanggil 'pak' :" huhu)

Tapi nggak apa-apa. Yang penting aku bisa pulang. Dan baru sekitar seperempat? Seperdelapan? Pokoknya baru beberapa meter jalan ternyata hujannya kembali deras, jadinya kami meneduh di sebuah supermarket. Nggak begitu lama, hanya sekitar lima menitan sampai akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan.

"Wah mbak, hujannya deras lagi."

Sesungguhnya aku jadi sedih, tapi mau bagaimana lagi. Kasihan juga driver-nya kalau aku paksa jalan terus meskipun kami baru berjalan lima menitan. Ya sudah. Jadinya habis itu kami melipir lagi, mencari tempat berteduh. Tapi di sini rupanya hujannya lebih awet dari sebelumnya. Hampir 45 menit kami berteduh, tapi hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Malah semakin deras...

"Maaf ya mbak, jadinya lama. Saya lupa bawa jas hujan soalnya."

Mendengar begitu aku nggak bisa berkata apa-apa dan cuma ketawa-ketawa aja sambil mengangguk-angguk. Lah, kan bukan salahnya beliau juga soal malam ini hujan. Dan soal lupa itu, ya namanya juga orangnya lupa, jadi mau gimana lagi. Jadinya ya sudah, mungkin aku lagi diuji tentang sabar. Meskipun rasanya kayak pengen cepet-cepet sampai kosan, tapi ya aku harus tetap sabar. Sabar Nan, sabar...

"Yuk mbak, udah agak redaan."

Kali ini aku agak sedikit tersenyum, baru sadar kalau hujannya sudah tinggal gerimis rintik-rintik karena saking asiknya membalas chat satu-dua orang teman. Dan kali ini beliau ngebawa motornya agak ngebut, mungkin takut kejebak hujan lagi, meskipun sepanjang usahanya beliau menarik pedal gas kuat-kuat ini beliau berkali-kali meminta maaf. Sempat kasihan juga sih karena beliau ini bolak-balik kelihatan menggigil gitu di sepanjang perjalanan. Tapi agak ngebut gitu kan kemauannya beliau, katanya biar cepat sampainya, yang Alhamdulillahnya memang beberapa menit setelahnya kami pun sampai di depan kosan dengan selamat. Dan tentunya di akhir-akhir kalimatnya beliau kembali meminta maaf dengan nada yang kayak ngerasa nggak enakan.

Tapi dibilang begitu aku cuma senyum dan mengatakan dua-tiga kalimat yang intinya mewanti-wanti beliau untuk lebih berhati-hati, takutnya hujannya akan kembali turun dan jalanan gang-gang dari kosan itu kan naik-turun. Takut terpeleset. Sempat ingin membahas soal menggigil tadi juga, tapi aku lebih memilih untuk ditahan dan kuucapkan dalam hati saja. Dan ya sudah, sampai di situ saja ceritaku bersama hujan hari ini.




***
Dan ketika menulis ini, aku sempat kepikiran lagi soal driver tadi
takut beliaunya sakit karena tadi udah bolak-balik menggigil kedinginan begitu
tapi karena saking fokusnya berkutat sama pikiran-pikiran itu, aku baru sadar kalau aku juga sekarang lagi menggigil kedinginan
huhu, yang kuat, Nan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar