Rabu, Mei 16, 2018

# curhat # diary # surat

Teruntuk Lelaki yang Tempat Minumnya Sempat Aku Pinjam

“Terkadang, menulis membuat dirimu bebas berbicara tanpa harus berkata. Bebas mengutarakan tanpa butuh didengar. Puas melampiaskan tanpa harus mengacungkan tangan.” - mbeeer


*

Teruntuk lelaki yang tempat minumnya sempat aku pinjam.

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Tapi, sepertinya kamu memang sedang baik-baik saja, ya? Melihat linimasamu, sepertinya lingkunganmu sudah semakin baik dari sebelumnya. Aku bahagia jika memang kamu sudah berhasil menentukan, sehingga akhirnya kamu menemukan jalan hidup yang selama ini kamu idamkan. Keraguanmu kini perlahan mulai hilang, kan? Dan aku harap memang benar begitu adanya.

Oh iya, kamu ingin tahu kabarku, tidak? Terlalu percaya diri dan lancang memang jika aku masih berharap kamu mau tetap peduli kepadaku, setelah apa yang selama ini terjadi diantara kita. Tapi, bolehkah jika aku tetap lancang dan percaya diri untuk menceritakan kabarku? Ya, meskipun sebenarnya belum tentu juga kamu mau ataupun akan membaca tulisan ini, tapi, tidak salah kan jika aku masih berharap kamu mau membacanya? Tidak banyak kok, hanya beberapa paragraf saja. Aku mulai ya...

Tentang kabarku, seperti yang kamu tahu, aku baru mulai berjalan. Aku baik-baik saja, tetapi masih terseok-seok; berjalan sambil memeluk serpihan-serpihan hati yang dulu sempat kamu patahkan. Eh, tapi mungkin sekarang kondisinya sudah tidak berbentuk serpihan lagi kali ya? Mungkin lebih tepatnya sudah menjadi sekecil butiran pasir, karena semalam serpihan itu sudah kamu hancurkan sehancur-hancurnya. Tapi tak apa, karena aku pun sudah tidak memiliki wadah lagi untuk menampungnya. Tanganku sudah terlalu sakit untuk menahan luka akibat tergores serpihan-serpihan itu. Jadi, biarkan kini aku tetap menggenggamnya dan membiarkan butiran itu habis terhempas angin sepanjang perjalananku ke tempat yang baru, ya? Jangan paksa aku untuk langsung membuangnya. Aku belum sanggup untuk melakukan itu.

Aku tahu, kesalahanku di masa lalu mungkin memang sudah tidak lagi masuk ke dalam nalarmu. Tentang sikapku, keegoisanku, kelabilanku, kebohonganku, semuanya. Aku tahu, mengenalku memang tidak memberikan manfaat yang baik untukmu, kan? Seperti yang kamu katakan semalam, mengenalku hanya membuatmu menambah dosa; karena setiap harinya kamu harus merasakan kekecewaan, marah, cemburu, dan membuang-buang waktu dengan hal yang sia-sia. Aku tahu kok. Aku juga tahu, kekecewaanmu akanku kini sudah mencapai batasmu. Tapi, tidak hanya kamu yang kecewa, kok. Aku juga kecewa dengan diri aku sendiri; lebih tepatnya dengan diri aku yang sekarang. Jadi, jangan merasa kecewa sendirian ya? Karena akupun merasakan itu.

Dan tentang kesalahanmu, Insya Allah aku sudah memaafkannya. Malah mungkin jauh sebelum kamu sempat menyesalinya. Meskipun orang lain mengatakan bahwa kamu lebih bersalah daripada aku, tapi aku tidak akan menyalahkanmu kok. Bukan kah memang manusia itu tempatnya salah dan dosa? Yang penting kan, kita mau berproses dan berubah agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ya kan? Dan sepengetahuanku, kamu memang sudah berubah. Itu kan alasan mengapa kamu kini membangun benteng dan membentangkan jarak? Agar aku mau beranjak dan berlalu. Agar aku tidak berlebihan dalam mencintaimu. Ya kan? Meskipun aku tidak tahu apa alasan sebenarnya, izinkan aku berimajinasi sendiri ya, karena aku benar-benar tidak ingin membencimu.

Maafkan jika setelah mengenalku, hari-harimu jadi penuh penat dan pilu. Mungkin aku terlalu naif dan terlalu sombong, memercayai teman-temanmu yang mengatakan bahwa kamu menjadi lebih baik setelah mengenal aku. Nyatanya, kamu malah merasa semakin buruk, ya? Aku benar-benar minta maaf soal itu. Aku juga minta maaf, karena setelah mengenalku, kamu malah jadi kehilangan banyak teman. Sungguh, aku sudah berusaha untuk memperbaiki citramu di hadapan mereka, mencoba mengembalikan apa-apa yang pernah menjadi milikmu. Tapi entahlah, susah sekali rasanya. Tapi, aku yang kurang berusaha, atau memang kamu yang kelewat salah, ya? Hehe. Apapun jawabannya, biarlah itu menjadi hal yang mampu membangun kita ke arah yang lebih baik lagi. Jadikan ini alasan untuk kita terus bermuhasabah, ya.

Dan soal penggambaranmu tentangku, aku ingin meluruskannya. Aku memang tidak sebaik yang kamu kira pada awalnya. Tapi, aku juga tidak seburuk penggambaranmu tentangku sekarang. Aku tidak akan berusaha kembali membuatmu memercayai aku yang dulu, tapi, aku memiliki hak untuk menolak dianggap terlalu rendah seperti itu, kan? Entahlah, aku memang bukan perempuan baik-baik, tapi aku juga sedang berusaha menjadi perempuan yang baik-baik. Dan, aku boleh minta satu permintaan lagi nggak? Suatu saat nanti, misalkan kamu kembali melihatku dan ternyata aku belum berubah, atau justru semakin mengecewakanmu, tolong jangan hakimi aku, ya? Jangan mencibir atau mengomentari aku, apalagi sampai menyindir dan merendahkan harga diriku. Doakan saja, agar aku mau berubah, ya? Tidak perlu berdoa sebagai teman lamaku, tetapi cukup sebagai saudara seiman. Kan, kita ini bersaudara bukan?

Ya, cukup doakan aku, seperti aku mendoakanmu di setiap sujudku, dulu.

Oh iya, sejujurnya, jika kamu membandingkan aku dengan wanita pilihanmu saat ini, yang katanya ingin kamu usahakan secara baik-baik, jelas saja aku akan kalah telak. Wanita itu begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah pendosa yang masih berusaha dan belajar untuk terus berproses menjadi lebih baik lagi. Pilihanmu memang tidak pernah salah ya, dan kriteriamu memang selalu yang terbaik. Dan aku sadar, hubungan kita memang tercipta dari sebuah ketidaksengajaan, sehingga aku juga tahu diri kok, aku memang bukan 'wanita pilihan'-mu. Tapi, yang pasti, aku akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Mungkin benar katamu, kamu butuh orang yang bisa membimbingmu, yang jauh lebih dewasa dan berilmu, yang bisa membuatmu terpacu untuk berproses karena kamu ingin menyetarainya. Dan ya, itu bukan aku. Karena rupanya, aku justru membutuhkan orang yang mau sama-sama belajar bersamaku. Dan sepertinya aku pun masih dibawahmu.

Tapi terima kasih karena mau mendekatiku, menjadi temanku, disaat aku sedang menjadi orang yang susah dalam berinteraksi. Terima kasih karena telah mengajariku apa arti sebuah kesabaran, bagaimana mempercayai seseorang dengan hati dan bukan akal pikiran, serta bagaimana caranya untuk meredam amarah dan mengecilkan ego. Sebenarnya banyak terima kasih-terima kasih yang lain, tapi rasanya susah sekali untuk dituliskan di sini. Intinya, terima kasih untuk semuanya. Mengenalmu sungguh menyenangkan, meskipun tak bisa aku pungkiri memang lebih banyak sedihnya (hehe).

Oh ya, terima kasih juga karena telah meminjami aku tempat minum milikmu, membantuku agar aku tidak bolak-balik ke dapur untuk mengisi minum; setelah aku mengatakan bahwa aku malas sekali melewati smoking area di kantor. Terima kasih karena telah mengerti aku. Semoga tujuan barumu di tahun 2020 dapat segera terwujud, ya. Aamiin.

"Aku menuliskannya semua disini agar kenangan yang ada di otak di hatiku pun pindah dan tidak akan menyisakan apa-apa lagi. Sudah tidak ada apa-apa.

Jikalau kisah ini adalah sebuah buku, maka aku adalah orang pertama yang tak akan membacanya. 
  
Kututup kamarmu di hatiku. Kuncinya sudah ku buang ke lautan. Tak ada yang bisa menunjukkannya kecuali Allah." - Elistianas


"Ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk ada hanya di dalam hati kita. Tapi bukan di dalam hidup kita." - kurniawangunadi

Dan bersamaan dengan sekembalinya tempat minum itu semalam, ku lepas engkau dari hatiku.
Allah, jika memang bukan ia orangnya, hapuskanlah perasaan ini sampai ke akar-akarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar