"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Senin, 14 Mei 2018

Suatu Siang di Stasiun Pasar Senen

Siang itu, ketika matahari hampir berada tepat di atas ubun-ubun.

"Mbak, saya nitip tas sebentar, ya. Saya mau beli minum di situ." Ujar seorang Bapak separuh baya kepadaku sambil menunjuk ke sebuah tempat yang berada di depan tempatku duduk. Aku tersenyum sambil mengangguk, mempersilahkan Bapak itu untuk masuk ke sebuah mini market yang tadi ditunjuknya.

Memang, saat itu, aku sedang duduk di depan sebuah mini market yang letaknya persis di samping pintu masuk peron stasiun. Saat itu jam ponselku baru menunjukkan pukul setengah 11, sedangkan kereta yang akan membawaku pulang ke Purwokerto baru akan datang pukul setengah satu. Masih ada waktu yang cukup lama, dan suasana stasiun saat itu memang sedang begitu ramai, sehingga aku memutuskan untuk duduk-duduk saja di tempat itu untuk menghabiskan waktu.

Tidak banyak yang aku lakukan, hanya memainkan ponsel untuk membalas pesan beberapa teman dan membaca beberapa artikel Islam. Cukup lama aku bermain ponsel, sampai tiba-tiba seorang perempuan yang mungkin umurnya hanya terpaut satu-dua tahun di atasku menghampiriku--duduk di tempat Bapak tadi; di sampingku.

"Mau kemana, Mbak?"
"Purwokerto. Mbaknya mau kemana?"
"Aku baru aja sampai dari malang ini, 16 jam perjalanan jadi mau istirahat dulu. Mbaknya asli Jakarta?"
"Oh nggak, saya asli Purwokerto. Ini saya mau pulang."

Aku tidak mengenal perempuan itu, dan ini pun pertama kalinya aku bertemu dengannya. Namun, ia mengajakku berbicara dengan akrab sekali. Rasanya aku seperti sedang berbicara dengan kakak sepupuku yang tinggal di Jombang (Malang dan Jombang letaknya sama-sama di Jawa Timur) sehingga obrolan kami mengalir begitu saja tanpa ada kecanggungan sedikitpun. Padahal, sesekali ia keceplosan menggunakan bahasa "jawa timur-an" karena mungkin ia memang sudah terbiasa menggunakan bahasa itu ketika tinggal di Malang; tapi aku tetap memahaminya, karena aku pun pernah dua tahun tinggal di Jombang.

Obrolan kami tidak banyak, hanya tentang pekerjaan dan kerabat di Jakarta. Katanya, ia datang ke Jakarta karena mau melakukan tanda tangan kontrak karena ia baru saja diterima di salah satu perusahaan milik pemerintah. Namun, ia datang dengan tidak membawa barang apapun selain tas kecil yang dia selempangkan di tubuhnya, serta sebuah tas ransel yang juga berukuran tidak kalah kecilnya. Katanya, kopernya sudah sampai duluan di asrama perusahaan yang akan didatanginya. Dan, ya, kami berbincang-bincang cukup lama, sekitar hampir satu jam; sampai tiba-tiba ia mengangkat telepon dari temannya.

Sebetulnya awalnya aku tidak menaruh curiga sedikitpun. Namun, seingatku, aku tidak mendengar ataupun melihat ada panggilan masuk di ponselnya. Ya, tiba-tiba saja ia meletakkan ponselnya di samping telinganya, lalu berbicara dengan temannya itu. Pun saat panggilannya berakhir, ia langsung mematikan ponselnya. Namun, beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja ia menjadi panik dan mengatakan bahwa dompetnya terbawa temannya yang di Tegal (sebelumnya ia bercerita bahwa awalnya ia berangkat dari Malang bersama salah seorang temannya, namun temannya itu turun di Tegal).

Aku tidak bisa membedakan apakah ia sedang bersandiwara atau tidak, karena saat itu ia sedang memakai masker dan kacamata. Tapi, entah mengapa, ia seperti menyembunyikan layar ponselnya setiap kali ia menerima dan mengakhiri panggilan telepon dari temannya itu. Dan katanya, dompetnya baru bisa sampai di Jakarta besok, namun ia tidak memegang uang yang cukup untuk membayar ongkos ojek online saat itu.

"Duh, gimana ya cara aku ke Kebayorannya, kan aku sama sekali nggak pegang uang. Mau pinjem orang yang di sana nggak bisa, kan belum ada yang kenal juga. Mau naik busway aku nggak punya kartunya. Di sana juga fasilitasnya cuma asrama, belum sama makannya. Aku jadi bingung, Mbak."

Aku hanya tersenyum canggung, bingung harus merespon apa. "Kalau naik busway dari stasiun ini bisa cash kok, Mbak. Tadi masih ada pegangan lima ribuan, kan?" Jawabku menyarankan.

"Duh, tapi aku kan nggak tahu jalannya, Mbak. Dan busway pasti lama, kan? Aku tanda tangan kontraknya jam 12, nanti kalau telat sama aja jadi gugur. Atau gimana kalau aku pinjem uang mbaknya dulu, trus kita tukeran nomer? Nanti kalau dompet aku udah sampai, pasti aku ganti, Mbak."

"Duh, maaf Mbak. Tapi aku juga lagi nggak pegang uang sama sekali, dan ini juga pulang sebenernya karena mau ngurus atm yang keblokir. Maaf banget ya mbak, aku nggak bisa bantu, makanya tadi aku nyaranin naik busway ke sananya."

Perempuan itu tersenyum, lalu kembali menerima telepon dari temannya. Aku tidak begitu mendengar jelas, tapi ia seperti menyebutkan Ind*mart. Cukup lama ia berbincang, sampai akhirnya ia kembali mengajakku berbicara.

"Ind*mart dimana ya, Mbak? Katanya uangnya bisa ditransfer lewat situ." Tanyanya.
"Kalau nggak salah ada di sebelah sana, Mbak." Jawabku sambil menunjuk ke arah kanan.
"Oh iya, kalau gitu aku ke sana dulu aja ya. Makasih ya, Mbak." Ujarnya sambil berlalu meninggalkanku.

Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu mengarahkan pandanganku ke pintu masuk peron stasiun. Aku baru menyadari bahwa bapak-bapak yang tadi menitipkan tasnya kepadaku ternyata sedari tadi (sekitar satu jam lamanya) hanya berjongkok di samping tasnya--karena tempat duduknya diambil oleh perempuan tadi. Aku pun memerhatikan bapak itu dengan sedikit kasihan, dan kemudian melemparkan senyum saat kami tidak sengaja bertatapan.

"Mau minum nggak, Mbak?" Katanya sambil menawari minuman yang tadi dibelinya. Aku menggeleng dan berterima kasih, sebelum kemudian bapak itu kembali mengajakku berbicara.

"Mau kemana, Mbak?"
"Ke Purwokerto, pak. Bapak sendiri mau kemana?"
"Sama, ke Purwokerto juga. Naik kereta apa, Mbak?"
"Singasari, pak. Kalau Bapak?"
"Jaka Tingkir."
"Oh, iya itu sebentar lagi kayaknya peronnya mau dibuka. Duduk di sini saja pak, biar tidak capek."
"Iya Mbak, ini sebentar lagi juga mau masuk, jadi saya di sini saja."

Aku kembali tersenyum. Duh, sudah ada berapa kalimat ya yang menjelaskan bahwa aku kembali tersenyum? (hehe). Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Bapak itu, karena ia menitipkan barangnya kepadaku namun aku hanya menjaga barangnya, tidak dengan tempat duduknya sehingga ia harus berjongkok seperti itu. Padahal, dilihat dari raut wajahnya, ia terlihat seperti lelah sekali. Duh, maafkan aku ya, pak.

Dan juga, untuk perempuan tadi, maafkan aku juga ya, Mbak. Jujur, kalaupun saat itu aku sedang memegang uang, pastinya Insya Allah aku bantu; terlepas dari mbaknya bersandiwara atau tidak. Tapi, kenyataannya saat itu memang aku sedang tidak memegang uang, karena memang sesampainya di Purwokerto pun rencananya aku akan dijemput oleh Hilmi.

Duh, semoga Allah mau mengampuni dosaku karena tidak menjaga tempat duduk milik Bapak itu sehingga ia harus berjongkok seperti itu, dan juga dosaku kepada perempuan tadi karena tidak bisa membantunya. Semoga bapak selalu diberi kesehatan ya, pak. Dan semoga mbaknya juga dipermudah tanda tangan kontraknya. Dan semoga semuanya selalu dalam lindungan Allah, Aamiin.



Kamis, di Stasiun Pasar Senen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar