"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Sabtu, 12 Mei 2018

Cerita Tentang Menikah

"Mbak, jadi gimana rasanya menikah?" Tanyaku saat aku sedang mengobrol berdua dengan Mbak Fi (kakak sepupuku) di depan tv; saat sedang menunggu suaminya mbak Fi dan Hilmi yang sedang sholat di masjid. Memang, sore tadi Mbak Fi baru saja sampai ke rumahku setelah perjalanan jauh dari Purwodadi, dan ia datang bersama dengan suami serta satu orang teman suaminya. Rencananya mereka akan menghadiri walimahan seorang kenalan di gedung kampus Unsoed; yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku.

"Wah, ini nih aku mau cerita, Nan." Jawabnya dengan antusias, "Menikah itu ada senangnya, ada sedihnya." Lanjutnya. Aku mengatur posisi dudukku senyaman mungkin, lalu kembali bertanya.

"Gimana tuh senang dan sedihnya, Mbak?"

Bak air yang mengalir di sungai yang jernih, Mbak Fi menjelaskan kepadaku setiap detail kejadian yang ia alami setelah menikah begitu saja. Dimulai dari bagaimana keluarga suaminya, adaptasinya di lingkungan yang baru, kegiatannya di rumah setelah menikah, sampai tentang susah-senangnya hidup berdua. Aku mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun.

Ya, memang banyak hal yang diceritakan Mbak Fi saat itu. Tapi, ada satu hal yang paling aku ingat dari cerita-cerita yang disampaikannya sore itu. Yaitu cerita tentang Mas Rian--suaminya--yang meminta Mbak Fi untuk berdandan di rumah. Mungkin bagi sebagian orang yang belum menikah, permintaan Mas Rian itu terdengar lucu. Jangankan untuk yang belum menikah, Mbak Fi pun mengatakan bahwa awalnya ia tidak setuju dengan pemintaan itu; sampai saat ia mendengar alasan dari Mas Rian saat suaminya itu baru saja pulang kerja.

"Setiap hari Mas di Rumah Sakit ketemu sama perawat-perawat cantik yang suka dandan. Masa pas pulang ke rumah, Mas malah ketemu istri sendiri yang cuma dasteran dengan penampilan seadanya?" Ujar Mbak Fi menirukan gaya berbicara suaminya, yang kemudian disambungnya dengan tawanya yang terlihat malu-malu. "Pokoknya menikah itu enak, Nan." Lanjutnya di akhir ceritanya. Aku mengangguk sambil senyum-senyum sendiri; sebelum akhirnya kembali mengajukan pertanyaan yang lain.

"Terus, udah pernah berantem belum, Mbak?"
"Wah, dari dulu waktu pacaran juga nggak pernah berantem sih, Nan. Apalagi tau kan, Mas Rian tuh gimana orangnya. Yang penting tuh mau sama-sama mengerti, mau sama-sama menasehati tanpa saling menyinggung perasaan masing-masing. Dan pokoknya, masalah rumah tangga ya penyelesaiannya juga harus di rumah, jangan dibawa keluar apalagi sampai ngadu-ngadu ke orang tua." Jawabnya. Aku kembali mengangguk, lalu sejenak mengambil ponsel yang terletak tidak jauh dari tempatku duduk. Rupanya menikah sesederhana itu meskipun beberapa memang terlihat rumit; pikirku.

"Jadi, kamu kapan nyusul, Nan? Kayaknya sepupu-sepupu aku belum ada yang kelihatan tanda-tandanya." Sambungnya. Aku tertawa sambil terus memerhatikan ponselku, menyembunyikan ekspresi kecanggungan yang mungkin timbul.

"Doain aja, Mbak." Jawabku sekenanya. Beruntung setelahnya Hilmi dan Mas Rian sudah kembali dari masjid, sehingga aku langsung mengajak Mbak Fi dan yang lainnya untuk makan; mengalihkan pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan timbul.

Ya, intinya begitulah sedikitnya wejangan yang diberikan oleh Mbak Fi tentang bagaimana kehidupannya setelah menikah. Tapi, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku ceritakan. Tadi malam selepas maghrib, Mbak Fi mengajak aku dan Hilmi untuk berkeliling sejenak sembari mengenal kota Purwokerto. Kami pergi berlima (bersama seorang teman Mas Rian yang juga ikut menginap di rumahku) mengendarai mobil milik Mas Rian. Awalnya kami ingin pergi ke toko buku yang terletak di salah satu mall; namun sepertinya di mall tersebut sedang ada acara sehingga parkirannya penuh sekali. Akhirnya Hilmi pun menawarkan untuk pergi ke Warkop 57; milik temannya; karena sebelumnya Mas Rian pun sebenarnya mengajak kami untuk sekadar duduk-duduk sambil meminum kopi.

Awalnya kami canggung, apalagi di situ ada temannya Mas Rian. Namun, untungnya di warkop itu terdapat banyak mainan, sehingga akhirnya kami pun memutuskan untuk bermain UNO Stacko. Dan ya, keakraban kami pun terus mengalir begitu saja. Dan yang terpenting, biasanya aku suka mengomentari para muda-mudi yang suka berpacaran di depan umum. Namun, melihat Mbak Fi dan Mas Rian yang sebenarnya jika sekilas dilihat masih seperti pada remaja yang sedang dimabuk asmara; aku tidak merasa risih sedikitpun. Malah lucu jadinya, hehe.

*fyi: Mbak Fi dan aku itu umurnya hanya terpaut 6 bulan :)



Purwokerto, pada malam minggu yang rupanya ramai;
ternyata Purwokerto ketika malam minggu macet juga, ya;
dan aku baru mengetahuinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar