"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Rabu, 30 Mei 2018

,
"Semenjak tinggal di Jakarta, gue jadi ngeliat kehidupan yang jomplang tahu, Nan."

Saya berpikir sebentar. "Jomplang gimana maksudnya?"

"Ya gitu. Ada orang yang kaya banget, kehidupannya glamour. Setiap hari bisa belanja sampai berjuta-juta di mall-mall besar. Rumah, pakaian sama mobilnya bagus-bagus dan pastinya mahal-mahal. Tapi ada juga kayak yang tadi kita lihat. Baju compang-camping, yang kayaknya bisa makan sehari sekali aja udah Alhamdulillah, terus tidurnya malah di gerobak pinggir jalan. Jomplang banget, kan?"

Saya mengangguk-angguk, lalu baru memahami alasan mengapa teman saya ini tadi agak sedikit terkejut sewaktu melihat seorang bapak-bapak yang sedang menata barang-barangnya ke dalam gerobakyang di dalamnya juga terdapat seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita.

"Berarti seharusnya kita harus lebih bersyukur dengan apa yang kita punya kan, X?"

"Iya. Sayangnya terkadang kita lupa bersyukur karena terlalu banyak berharap, padahal Allah udah banyak banget ngasih kita nikmat yang kalau dihitung-hitung ya nggak akan bisa, kelewat banyak."


#bagiandarijurnalkajian
mungkin redaksinya berbeda, tapi Insya Allah intinya sama

Senin, 28 Mei 2018

,
Ketika kamu memberanikan diri buat curhat ke Abi setelah selama 23 tahun ini nggak pernah berani curhat. Terus cuma dijawab, "Kata Ummi kamu harus tahan sampai kamu udah nikah." Itu rasanya......
Aku tuh nggak betah, Bi, Mi :(


#maafinblog #daripadacurhatdistoryig #disinilebihsedikityangbaca

Minggu, 27 Mei 2018

,
Sebenarnya ini cuma suatu pemikiran yang sekelebat lewat. Random banget sih, tapi entah kenapa saya jadi kepikiran aja gitu. Pas lagi dikasih waktu buat nge-blogwalking setelah sekian lama susah banget nyari waktu buat ngelakuin itu, tiba-tiba saya nggak sengaja menemukan beberapa tulisan tentang keluarga yang ditulis oleh teman saya. Sebenarnya tulisannya ada banyak, nggak cuma satu atau dua. Tapi intinya teman saya itu menceritakan tentang apa-apa yang terjadi di keluarganya; entah tentang kegiatan sehari-hari bersama keluarganya atau tentang kerinduannya saat merantau beberapa tahun yang lalu. Tulisannya banyak dan cukup menarik, tapi yang benar-benar jadi perhatian saya saat itu adalah beberapa tulisannya yang menceritakan tentang kelucuan adik-adiknya yang Masya Allah, ternyata mereka sudah bisa mengenal Allah di usia yang bahkan angkanya belum mencapai dua digit.

Tentu saja awalnya saya malu. Saya jadi berpikir, sekecil itu saja mereka sudah mulai kepikiran tentang akhirat dan selalu meminta doa untuk kebaikan ummat. Dulu kayaknya waktu saya umur segitu, semua doa saya isinya cuma tentang dunia saja. Yang setelahnya pemikiran itu jadi menghantarkan saya ke pemikiran yang lain. Tentang parenting. Saya jadi kembali berpikir, nanti kalau saya dikasih rezeki dan amanah untuk menikah dan menjadi orang tua, cara mendidik seperti apa yang harus saya ajarkan kepada mereka, ya? Jelas jauh di dalam hati saya, saya ingin anak-anak saya seperti adik-adiknya teman saya itu. Atau minimal seperti kedua adik saya―Aisyah dan Azizah.

Saya ingin mereka kelak bisa memahami bahwa sejatinya tujuan mereka hidup di dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Tapi masalahnya, sampai saat ini pun saya belum tahu pasti bagaimana caranya. Saya tidak mau bohong dan sangat menyadari bahwa sebenarnya saya juga masih jauh dari kriteria itu sendiri. Mungkin tidak hanya jauh, tapi sangat-sangat jauh. Saya terlambat, baru benar-benar belajar mencintai Allah itu di umur yang sudah kepala dua ini. Terlambat sekali. Tapi setidaknya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan, ya? Semoga Allah mau mengampuni kesalahan-kesalahan saya di masa kejahiliyahan saya dulu. Aamiin.

Dan kembali membahas soal parenting, saya jadi ingat obrolan saya dengan Murobbi saya dan suaminya di suatu pagi beberapa bulan yang lalu. Meskipun saya tidak begitu ingat bagaimana kalimat pastinya, tapi pada intinya mereka mengatakan bahwa ilmu parenting itu justru harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum menikah, bukan saat ingin atau sudah menikah, apalagi saat sudah memiliki anak. Katanya anak itu bukan sebuah objek percobaan, jadi memang kita tidak boleh asal coba-coba dalam mendidik anak. Akibatnya akan sangat fatal jika ada sedikit saja kesalahan yang kita lakukan dalam mendidik anak. Apalagi dengan kondisi dunia yang sudah sangat menyeramkan saat ini. Di zaman saya saja dunia sudah sangat menakutkan dan sangat menjerumuskan, lalu bagaimana dengan dunia anak-anak saya nantinya?

Ah, sepertinya saya harus banyak-banyak belajar ilmu parenting.


Jakarta, 27 Mei 2018
Lagi-lagi saya jadi memikirkan hal-hal random
,
Sembari menyunggingkan senyum yang agak sedikit canggung, perempuan itu berjalan ke pojokan surau yang paling belakang; mendekati perempuan lain yang tengah duduk sambil memegangi Al Quran dengan satu tangan. Belum sempat ia mengambil posisi duduk dengan sempurna, tiba-tiba saja perempuan di hadapannya itu langsung mengulurkan tangannyamengajaknya berkenalan. "Nama saya Dizi. Kamu siapa?"

Sejenak perempuan itu terdiam, menatap perempuan berkerudung merah jambu yang tadi dilihatnya itu dengan tatapan yang tampak sedikit keheranan. Tentu saja ia merasa semakin canggung setelah ditodong pertanyaan seperti itu. Namun, melihat senyum tulus yang terpancar di balik wajah perempuan tadi, ia pun menyambut uluran tangan perempuan yang kini sudah sempurna berada di sampingnya. Tentu saja perempuan itu hanya menyebutkan namanya, yang setelahnya langsung meraih ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Ya, perempuan itu tidak begitu suka berbasa-basi, apalagi dengan kondisi pikirannya yang sedang tidak karuan seperti ini. 

Namun, melihat respon yang tidak bersahabat seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu tadi justru kembali tersenyum. Ia kemudian meraih sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan dua buah buku berukuran kecil; buku Al Matsurat. Disodorkannya salah satu dari kedua buku tadi kepada perempuan itu. "Udah dzikir pagi belum? Kalau belum, kita dzikir pagi sama-sama, yuk." Ajaknya.

Sejujurnya perempuan itu merasa tidak nyaman dengan sikap terlalu bersahabat yang ditunjukkan oleh perempuan berkerudung merah jambu itu. Ia pun hanya merespon dengan senyumannya yang tampak setengah-setengah sembari meraih buku Al Matsurat yang disodorkan kepadanya, yang kemudian ia buka-buka isinya dengan malas; berusaha menghargai perempuan yang entah mengapa tetap tersenyum kepadanyamenyebalkan sekali. Dan meski direspon seperti itu, perempuan berkerudung merah jambu itu tidak menampakkan kegoyahannya sama sekali. Ia justru terlihat bersemangat dan malah menuntun perempuan itu untuk mengikuti apa-apa yang dibacanya dari buku kecil itu. Mau tidak mau, perempuan tadi pun akhirnya ikut membacanya; meski dengan setengah hati.

Namun, tidak sampai lebih dari lima menit waktu yang dibutuhkan oleh perempuan itu untuk tetap terfokus pada bacaan dzikir paginya saat itu. Perlahan-lahan ia pun mulai goyah, mengedarkan pandangannya ke pojok-pojok surau seperti yang dilakukannya saat pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam surau sambil bergumam; berusaha tetap mengikuti bacaan yang dilakukan perempuan berkerudung merah jambu itu. Dan diakhir perjalanan pandangannya ke setiap pojok-pojok surau, perempuan itu justru memerhatikan perempuan berkerudung merah jambu yang sedang duduk sempurna di sampingnya.

Cukup banyak yang ia perhatikan saat itu. Mulai dari wajah, tangan, cara berbicara, dan bagian-bagian lainnya. Sesekali ia mengagumi sosok perempuan itu, terlebih karena struktur wajahnya yang terlihat tegas dan berkharisma. Ia mengakui, bahwa perempuan yang berada di sampingnya itu memiliki wajah yang cantikhidung mancung sedikit bengkok di ujungnya, kulit yang putih, alis tebal, bulu mata lentik, dan mata yang dalamyang entah mengapa terlihat seperti campuran arab-sunda. Gamis yang digunakannya pun tampak anggun dengan aksen sulaman di bagian bawahnya.

Dan diperhatikan begitu, perempuan berkerudung merah jambu itu pun menghentikan sejenak bacaannya, yang lalu kemudian bertanya. "Kenapa? Ada yang aneh dengan saya?" Sehingga sempurna membuat perempuan itu terkejut dan menjadi sedikit terbata-bata setelahnya.


- To be continued.

Sabtu, 26 Mei 2018

,
Sebenarnya tadi aku cuma lagi iseng-iseng buka-buka chat grup yang ada di line. Nah tapi pas lagi iseng-iseng ngebukain gitu, tiba-tiba aku nemu satu video yang dibikin sama temanku―Keju―yang isinya tentang wisuda. Kebetulan karena Kamis kemarin aku baru aja menulis sesuatu di sini yang ceritanya nggak jauh-jauh berbeda sama video yang dibikin sama Keju, jadinya hari ini aku pengen nge-share video itu di blog. Sekalian credit buat Keju karena di video itu banyak akunya (wkwk).

Dan video ini juga sebenarnya udah lama banget dibikin dan di-upload di you*ube-nya. Tapi nggak apa-apa lah, ya. So, buat yang penasaran sama videonya, monggo dilihat aja :)


Hehehe. Gimana? Maafkan bentuk dan kondisi wajahku yang berantakan itu ya. Maklum, emang begitu adanya dari sananya wkwk. Tapi tetep, aku sangat mengapresiasi hasil video dari Keju itu. Keju emang terbaiklah, Kordas MM panutanqu. Jangan pernah berhenti belajar dan berkarya ya, Ju. See you on top!

Jumat, 25 Mei 2018

,
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisaa': 34)

Sebenarnya cuma lagi random di jam-jam istirahat sholat Jumat, yang lalu menyempatkan diri untuk membaca-baca arti dari beberapa ayat di Al Quran dan setelahnya menemukan ayat di atas. Nggak terlalu nyambung, sih. Tapi aku jadi ingat sama kata-kata Murobbi waktu liqo minggu kemarin. Katanya gini, "Asiyah saja waktu disiksa oleh suaminya, beliau tidak malah jadi mendoakan agar suaminya dihukum. Beliau justru berdoa agar diselamatkan dari perbuatan orang-orang yang dzalim. Karena apa? Ya semata-mata karena beliau ingin mendapatkan ridho dari suaminya." Sempat nyari-nyari ayat yang mendukung kalimat di atas juga, dan setelahnya menemukan inidoa yang diucapkan oleh Asiyah, yang juga diceritakan di sebuah ayat.

"Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
― (QS. At-Tahrim: 11)

Yang lalu setelahnya aku jadi kembali merandomkan diri dengan banyaknya pikiran-pikiran yang entah kenapa akhir-akhir ini terus-menerus mendesak saraf-saraf otak untuk terus memikirkannya. Iya, soal bakti seorang istri kepada suami, yang ternyata banyak hal yang memang harus dipelajari dan dipahami sebagai persiapanku sebagai seorang istri kelak. Terlalu random, sih. Tapi itu kan ilmu yang memang harus dipelajari agar tidak terjerumus dan salah dalam melangkah nanti. Kan, ridho suami adalah surga bagi para istri, bukan?

Dan berbicara soal Asiyah, sebenarnya kisah beliau pun akhir-akhir ini sedang aku baca-baca. Hanya saja agaknya waktu sedikit mempersulit keadaan. Allah, ternyata akhir-akhir ini sulit sekali untuk menyempatkan diri untuk membaca-baca buku itu :"


Jumat, 25 Mei 2018; 12.21
Ternyata masih banyak buku yang harus dibaca.
,
Sabtu, 26 Maret 2017.
Hehe. Kali ini ceritanya bukan soal perjuangan TA lagi kok. Jadi singkat cerita, setelah selesai mengurus berkas-berkas yudisium yang banyak banget itu, akhirnya aku pun resmi menjadi seorang pengangguran. Iya, pengangguran. Aku udah nggak punya kegiatan apa-apa lagi di kampus. Jadi kerjaanku selama di Bandung itu cuma main ke lab atau jalan-jalan sama anak-anak grup berdelapan itu. Entah ke gunung, makan di punclut, dan sebagainya. Dan aku juga waktu itu belum ada pikiran buat daftar-daftar kerja. Jadinya ya udah, aku benar-benar jadi pengangguran.

Tapi aku jadi penganggurannya cuma sebentar kok, soalnya beberapa hari setelahnya aku harus pulang ke Purwokerto. Iya, aku menghabiskan beberapa minggu di Purwokerto sambil menunggu pendaftaran wisuda Maret itu dibuka. Aku menunggu di rumah tanpa ngapa-ngapain selain sehari-harinya hanya menonton TV dan mengantar-jemput Azizah sekolah. Sebenarnya sama aja sih antara di Purwokerto dan Bandung, malah di Bandung aku lebih punya banyak teman dan tidak merasa kesepian; karena di Purwokerto pun aku terkadang malah ditinggal sama Ummi ke Jakarta. Yang membedakan itu cuma kalau di Bandung, pengeluarannya banyak, dan aku tidak punya uang. Kan kerjaanku di sana cuma main-main doang, hehe. Makanya aku pun lebih memilih untuk pulang ke Purwokerto aja.

Lanjut. Singkat cerita, waktu itu akhirnya pendaftaran wisuda pun di buka di pertengahan atau akhir bulan Februari gitu. Lupa. Dan karena aku sudah agak bosan di rumah, akhirnya aku pun langsung pergi ke Bandung beberapa hari sebelum pendaftaran itu di buka. Kebetulan waktu itu ada beberapa temanku yang kedapatan sidang di periode bulan Februari, jadi rasanya aku kayak pengen datang aja gitu ke sidang mereka. Pengen ngerasain euforianya lagi, sama pengen nyemangatin juga. Tapi sayangnya waktu itu, aku cuma bisa datang ke sidangnya dua orang temanku aja: Nanda dan Caca; karena malah keasyikan main di lab, hehe.

Dan waktu pendaftaran wisuda itu akhirnya dibuka, ternyata banyak berkas yang harus disiapkan juga. Mulai dari harus menyumbangkan buku buat perpustakaan dengan persyaratannya yang cukup banyak, sampai harus ke bagian keuangan untuk meminta form yang menyatakan bahwa aku itu udah melunasi semua pembayaran selama kuliah di Telkom. Pokoknya banyak banget deh yang harus diurus, sampai sekitar ada 5 atau 6 bagian gitu yang harus dikunjungin. Tapi kali ini, proses urus-mengurusnya Alhamdulillah berjalan tanpa adanya drama. Lancar-lancar aja gitu. Malah waktu itu aku sampai sempat jalan-jalan sama grup berdelapan itu, waktu lagi nyari-nyari buku buat disumbangin ke perpustakaan. Jadi ceritanya aku beli buku ditemenin banyak orang gitu, wkwk.

Lanjut lagi. Setelah selesai bolak-balik ke sana kemari dan semua bekas lengkap plus sudah di-approve lagi sama Pak Ajid, waktu itu aku langsung nelpon Abi aku. Intinya aku bilang kalau Alhamdulillah akhirnya aku udah selesai ngurus berkas-berkas buat wisuda Maret dan udah disetujui. Dan aku agak terharu waktu itu sama respon Abi. Waktu itu, Abi aku lagi-lagi kedengeran yang kayak bahagia banget gitu. Bahkan beliau sampai bilang kalau mau mengajak nenek aku yang di Cirebon. Iya, nenek yang Alhamdulillah masih sangat kuat beraktifitas di umurnya yang sudah senja itu. Katanya, biar nenek aku bisa datang ke wisuda satu-satunya cucunya yang sudah sarjana. Allah :"

Dan ya udah, akhirnya beberapa minggu setelahnya pun aku kembali memberi tahu Abi bahwa wisudaku Insya Allah bakal diadain tanggal 26 Maret 2017. Waktu itu Abi aku kayak semangat gitu mempersiapkan semuanya. Bukan cuma Abi aku aja, Ummi aku juga. Ummi aku sampai pesan ke penjahit gitu buat ngejahitin baju gamis yang kembar buat Aku, Ais, Azizah dan Ummi aku sendiri―khusus buat dipake di hari aku wisuda. Pokoknya aku benar-benar yang ngerasa kayak, Allah, ini udah termasuk ke salah satu hasil dari keinginanku untuk membahagiakan kedua orang tua belum, ya?

Terus, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Alhamdulillah semua keluarga kecilnya Bapak Heri bisa datang semua, ditambah sama nenekku juga. Bahkan Ais sampai izin dari sekolahnya buat datang ke wisuda aku, soalnya Ais itu kan sekolahnya modelnya boarding gitu, jadinya nggak setiap akhir pekan ada di rumah. Dan waktu itu yang masuk ke ruangan wisuda aku cuma Ummi sama nenekku, karena memang yang diperbolehkan di undangannya cuma dua orang. Tapi waktu di pertengahan acara wisuda itu, ternyata nenek aku memilih buat keluar dari ruangan dan mempersilahkan Abi aku buat masuk. Katanya, biar Abi aku bisa ngeliat secara langsung acara wisuda anaknya. Walaupun di luar gedung itu ada beberapa monitor yang sengaja dipasang sama pihak kampus buat keluarga lain yang tidak bisa masuk, tetapi katanya ngelihat dari monitor sama langsung itu beda rasanya. Iya juga sih.

Oh iya, Alhamdulillahnya setelah selesai sidang yudisium waktu itu, ternyata aku mendapatkan predikat cumlaude seperti yang memang diharapkan oleh kedua orang tuaku. Dan kalau di kampusku itu, setiap anak yang mendapatkan predikat cumlaude itu bakal dikasih sekuntum bunga gitu setelah proses serah-terima ijazah. Jadi bunganya bakal dikasih waktu kami lagi jalan turun buat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Terus karena aku juga cumlaude, jadinya aku juga dapet bunga deh, hehe. Dan bunga itu katanya bakal dikasihin ke orang tua saat acara hiburan sedang berlangsung; waktu ada sesi dua orang yang nyanyi tentang orang tua gitu.

Dan ya udah, waktu lagu itu mulai dinyanyikan, MC yang di depan panggung pun langsung memberikan isyarat gitu biar anak-anak yang megang bunga segera mendatangi orang tuanya masing-masing. Untungnya waktu itu kedua orang tuaku dapat tempat duduk yang tidak jauh dari tempat dudukku. Jadi emang setiap orang tua tuh udah dikasih nomer khusus gitu, jadi nggak akan bisa sembarangan duduk. Dan kalian tahu, waktu aku jalan ngedatengin kedua orang tuaku? Tahu nggak apa yang aku lihat saat itu? Waktu aku lagi jalan dan ngeliat wajah kedua orang tuaku, aku malah ngelihat wajah Abi aku yang lagi nangis. Iya, Abi aku yang nangis, bukan Ummi aku. Dan waktu aku selesai ngasih bunga ke Ummi aku, aku langsung dipeluk sama Ummi dan Abi aku, ditambah dielus-elus juga kepalanya sama Abi aku.

Allah :" Ini pertama kalinya aku ngelihat Abi aku nangis. Waktu itu aku juga jadinya ikutan nangis. Bahkan lagi nulis cerita ini pun aku juga jadi nangis lagi, hehe. Ya gimana ya. Istilahnya kayak aku tuh belum ngasih apa-apa loh sebenarnya. Aku cuma ngasih hasil bahwa aku bisa lulus 3.5 tahun dengan predikat cumlaude, yang ternyata itu udah cukup buat bikin Ummi sama Abi aku bangga. Apalagi sampai bikin Abi nangis kayak gitu. Ya Allah. Sesederhana itu ya sebenarnya kebahagiaan kedua orang tua, tuh? Padahal, aku sendiri masih ngerasa kayak masih jauh dari kata bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Dan ya gitu, saking senangnya Abi sama Ummi aku waktu itu, Abi aku pun benar-benar yang pokoknya mengabadikan semua momen wisudaku saat itu. Mulai dari waktu awal-awal sebelum masuk ke gedung wisuda, sampai akhirnya menjelajahi hampir semua tempat di kampusku. Pokoknya semuanya di foto, kayak foto yang sempat aku tunjukkin di postingan yang ini. Tapi aku juga tetap dikasih waktu buat ketemu teman-temanku gitu. Jadi dari sekitar jam setengah 1 sampai jam-jam setelah sholat Ashar, aku dibebasin buat kemana aja. Soalnya sehabis Ashar itu aku dan keluargaku bakal langsung pulang ke Cirebon. Dan ya udah, akhirnya aku pun membaur ke teman-temanku yang lain.

Waktu itu, Jihan―sahabatku sejak SMK―juga datang ke wisudaku karena memang waktunya juga sama kayak wisuda pacarnya dia, si Andar yang juga teman SMK-ku itu. Dan di situ aku dikasih kepala boneka yang ada pegangannya gitu, yang itu hasil buatan dia sendiri loh. Duh, terharu~ Terus selain ketemu sama Jihan, aku juga ketemu sama banyak banget teman-temanku yang lain, yang ternyata juga nggak aku sangka-sangka ikutan ngasih aku sesuatu. Iya, aku nggak pernah nyangka bahwa bakal ada banyak orang yang datang dan memberikanku sesuatu di hari itu. Tadinya aku pikir, paling cuma beberapa anak lab dan anak kelas aja yang bakal ngasih sesuatu. Tapi, ternyata aku salah.

Di hari itu, aku malah dapat banyak banget buket bunga, jajanan, dan boneka-boneka. Sayangnya aku pernah ngefotoin barang-barang itu, tapi waktu dicari-cari fotonya ternyata nggak ketemu-ketemu. Tapi ih, pokoknya banyak banget deh, sampai menuhin jok belakang mobilku waktu itu. Aku juga sampai kewalahan waktu ngebawainnya, yang akhirnya barang-barang itu pun dibawain sama beberapa temanku. Iya, beberapa. Barang-barangku itu jadinya dibawain sama Aswan, Anang, Hilmy, dan aku sendiri. Ya walaupun aku cuma bawa satu buket bunga aja sih, tetapi ketiga temanku itu ngebawa banyak banget barang yang sampai kedua tangannya tuh penuh. Benar-benar yang sampai nggak muat lagi di tangan-tangan mereka. Aneh banget kan, karena barang-barang itu ternyata sampai harus dibawa sama tiga orang. Iya emang aneh, sih. Teman-temanku aja sampai heran gitu. Eh, jangankan mereka, aku aja sampai heran. Padahal kan, aku itu dikenal sebagai orang yang nggak begitu punya banyak teman, yang temannya ya itu-itu aja. Tapi ya gitu deh, intinya tepat di hari Sabtu, tanggal 26 Maret 2017, akhirnya aku pun resmi menggenggam gelar SKOM dan berhasil diwisuda dengan lancar. Yeay! Alhamdulillah, terima kasih ya Allah :"

Memang, ya. Tidak akan ada usaha yang tidak membuahkan hasil.

Notes: dan hal yang nggak boleh ketinggalan, akhirnya uang semesteran itu boleh ditarik kembali dari kampus tanpa berubah satu digit pun dari nominal awal. Dan beneran jadi buat aku, hehehehehehe.


- The End.

Kamis, 24 Mei 2018

,
Sabtu, 26 Maret 2017.
Iya, waktu itu aku masuk ke ruang sidang dengan beberapa temanku. Kalau nggak salah di ruangan itu ada Sitah, Devi, Anang, Kak Panda, Kak Yasmin, Ike, Sem, dan Keju. Padahal sebelumnya aku udah bilang ke mereka kalau yang boleh menontonku sidang itu cuma Sitah, Devi dan Ike. Tapi mereka benar-benar ngeyel, nggak mau keluar walaupun udah diusir-usir gitu. Ya udah deh, akhirnya aku pun menyerah dan membiarkan mereka semua tetap menontonku sidang. Dan tentu saja, aku tetap merasa grogi dan deg-degan saat itu. Benar-benar grogi. Saking groginya, aku sampai sempet-sempetnya menangis di depan Kak Yasmin waktu lagi nungguin pembimbing dan pengujiku yang belum juga masuk ke ruang sidang.

Sampai sekitar lima belas menit, akhirnya kedua penguji dan satu pembimbingku itu pun mulai satu persatu masuk ke ruang sidang. Iya, pembimbingku cuma satu saat itu. Waktu itu, katanya pembimbing duaku sedang berhalangan hadir sehingga hanya pembimbing satuku yang bisa menemaniku sidang. Dan ya udah, tanpa basa-basi, akhirnya sidangku itu pun dimulai. Rasanya gimana? Takut. Sidangku itu ternyata tidak berjalan mulus. Bahkan aku sampai ngerasa kayak aku lagi sidang di ruangan tertutup. Walaupun banyak orang yang sedang menonton sidangku waktu itu, aku sampai kayak yang nggak merhatiin lagi gitu. Jadi kayak sebenarnya antara ditonton banyak orang dan tidak ditonton sama sekali itu tidak ada bedanya, soalnya kita memang cuma bakal fokus sama pembimbing dan penguji yang duduk di depan kita.

Dan ya gitu. Meskipun aku bisa menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan dengan baik, tetapi ada salah satu pengujiku yang sama sekali tidak merasa puas dengan jawabanku. Aku juga sampai sudah dibela sama pembimbing satuku gitu, tapi beliau tetap juga tidak merasa puas. Selain itu, ada juga satu hal yang lucu saat itu. Perhitungan hasil pengujianku yang sehari sebelumnya sudah aku ubah itu ternyata malah disalahkan oleh kedua penguji dan pembimbingku. Katanya, yang benar itu perhitungan yang sebelumnya. Iya, perhitungan yang memang dari awal sudah aku gunakan...

Lanjut. Singkat cerita, akhirnya proses sidang-menyidang itu pun berakhir hampir dua jam setelahnya. Sidang terlama katanya. Dan setelahnya, seluruh penonton sidang termasuk aku pun dipersilahkan untuk keluar dari ruangan karena kedua penguji dan pembimbingku itu akan melakukan sidang tertutup―sidang yang akan menentukan apakah aku berhasil lulus atau tidak. Kalau kalian tanya perasaanku bagaimana saat itu, aku benar-benar nggak bisa ngejelasinnya. Pokoknya campur aduk nggak karuan, tapi aku sama sekali udah nggak bisa nangis lagi. Malah temanku yang nangis, si Sitah itu (wkwk). Dan ya gitu, sidang tertutup itu pun berjalan sekitar sepuluh menit yang tentu saja setelahnya aku kembali dipanggil untuk masuk ke ruangan. Iya, cuma aku.

"Dengan ini saya menyatakan bahwa mahasiswa dengan nama Hannan Izzaturrofa dengan judul TA blablabla belum layak untuk dinyatakan lulus dari sidang periode blablabla..." DEG! Ya Allah. Aku nangis waktu itu. Nangis, benar-benar nangis. Aku nggak lulus? Ya Allah. Meskipun saat itu pembimbing satuku masih meneruskan kalimatnya, tapi aku yang udah nggak bisa dengar apa-apa lagi. Bahkan aku sampai baru menyadari kalau ternyata di ruangan itu tuh udah ada pembimbing duaku. Dan beliau sedang tertawa gitu melihatku. Ya Allah. Aku ditertawakan? Aku agak sedih dan kesal saat itu. Tapi waktu aku menoleh sedikit dan melihat pembimbing satuku yang duduk persis di sebelah pembimbing duaku itu, rupanya beliau juga tertawa. Aku jadi heran dong. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya saat itu.

"Maaf, Pak. Jadi maksud Bapak tadi itu, saya lulus atau tidak ya, Pak?"

Sedepresi itu pertanyaanku wkwk. Dan ya gitu, setelahnya malah dijawab begini sama pembimbing duaku. "Lulus kalau kamu bisa nyelesain revisi." Hahahaha. Kalian tahu bagaimana perasaanku waktu aku mendengar jawaban itu? Kalian tahu? Tahu nggak? wkwkwkwkwk. Rasanya malu. Malu banget. Maluuuu!! Apalagi melihat kedua pembimbingku yang tidak berhenti tertawa itu. Hiks. Ternyata maksudnya itu aku baru lulus bersyarat karena harus menyelesaikan revisi dulu. Hahahaha. Malu. Kenapa harus pakai nangis dulu, sih. Padahal waktu beberapa minggu sebelumnya, Devi juga diperlakukan seperti ini oleh kedua pembimbingku itu. Kebetulan pembimbing aku dan Devi itu sama, dan sewaktu Devi menangis pun aku juga menertawakannya. Eh, sekarang malah aku yang gantian ditertawakan karena hal yang sama.

Dan ya udah, akhirnya aku pun dipersilahkan untuk keluar dari ruangan lagi karena setelahnya ruangan itu akan dipakai buat sidang yang selanjutnya. Jadi aku jalan ke luar ruangan sambil ngebawa beberapa berkas yang udah dicoret-coret dan laptop yang aku peluk seerat-eratnya. Dan pas aku buka pintu ruangan... Jeng! Jeng! Ternyata beberapa anak lab MM sudah berdiri di depan ruangan dan langsung berteriak gitu, memberi selamat sambil beberapa anak perempuan bergantian melukin aku. Duh, mau nangis tapi malu, orangnya banyak banget, jadinya aku ketawa-ketawa aja waktu itu sambil digiring ke pintu samping yang letaknya di depan lab AI. Iya, aku digiring ke situ buat foto-foto. Emang sih, belum sidang rasanya kalau belum foto di tembok bersejarah itu―katanya.

Ini fotoku sama keluarga lab multimedia~ Dan tembok bersejarah yang dimaksud itu ya tembok yang jadi background di foto ini.
Dan waktu itu aku dikasih macem-macem. Dari mahkota, selempang, jajan, kalung, cokelat, bunga, sampai boneka. Itu semua dari teman-temanku yang ada di foto itu. Tapi kalau balon tulisan SKOM itu bukan buat aku, tapi properti milik lab MM. Katanya lab MM nggak mau ngasih apa-apa selain balon buat properti, jadi setiap ada anak MM yang sidang, bakal difoto pakai balon itu (wkwk). Tapi sayangnya sekarang balonnya udah pada nggak tahu ada dimana karena sering dipinjem-pinjemin ke orang lain. Duh, benar-benar jadi properti, ya. Tapi aku di situ nggak cuma foto sama anak lab MM aja. Aku juga foto sama beberapa anak infinine dan beberapa orang yang kenal aku dan nggak sengaja lewat pas aku lagi foto-foto di situ.

Intinya, waktu itu aku ngerasa senang yang benar-benar senang. Lega aja gitu rasanya. Waktu habis foto-foto gitu juga aku langsung nelpon Ummi sama Abi gitu. Alhamdulillahnya mereka berdua juga kedengeran kayak bahagia banget gitu. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillahnya juga berarti uang semesterannya bisa aku tarik kembali. He he he. Tapi meskipun begitu, aku belum boleh terlalu lama bersenang-senang juga. Waktu itu, jarak antara aku sidang TA dan sidang yudisium itu cuma beberapa hari, nggak sampai seminggu. Aku lupa pastinya, tapi yang aku ingat saat itu, kalau aku nggak bisa menyelesaikan revisi dan ikut sidang yudisium bulan itu, berarti aku juga nggak akan bisa wisuda bulan Maret. Atau uangku nggak jadi dibalikin ya? Lupa.

Pokoknya karena itu, aku cuma bisa bersantai sehari aja. Iya, jadi dari sore sampai malam itu aku benar-benar yang istirahat. Aku nonton TV di kamar Sitah sampai sekitar jam 8 malam, terus langsung tidur aja gitu sampai shubuh. Waktu itu badanku rasanya kayak yang capek banget, dan aku juga tidurnya pules banget. Tapi ya gitu, karena emang waktunya terbatas, jadi pagi-pagi sekitar jam 6 pun aku harus kembali ke lab MM untuk menyelesaikan revisiku. Agak sedih sih, soalnya teman-temanku yang lain punya waktu sampai dua minggu lamanya untuk menyelesaikan revisi. Tapi waktu itu aku mikir lagi, Allah itu udah baik banget sama aku. Masa aku mau menyia-nyiakan kebaikan Allah yang besar ini? Jadi ya gitu. Akhirnya hari-hariku pun kembali dipenuhi dengan pengerjaan revisi dan bimbingan.

Tapi Alhamdulillahnya proses revisi dan bimbingan itu pun berjalan dengan mulus. Bahkan pembimbing duaku malah jadi sering membercandaiku ketika kami tidak sengaja bertemu. Katanya, "Ciyee yang udah SKOM." Hahaha. Tapi sungguh, pembimbing duaku itu kan orangnya agak-agak canggung sama perempuan ya. Jadi melihat beliau seperti itu tuh aku malah yang jadi kayak speechless gitu. Nggak tau mau ngerespon atau ngomong apa. Ya jadinya aku pun cuma ketawa-ketawa aja, hehe.

Tapi namanya bukan Hannan ya kalau kehidupannya belum penuh dengan drama. Jadi setelah selesai dengan revisi-revisi itu, berarti saatnya move on ke proses pendaftaran sidang yudisium yang ternyata juga nggak mudah. Aku harus bolak-balik ke admin, kemahasiswaan, dan beberapa bagian-bagian lain untuk mendapatkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Udah gitu, persyaratan sidang yudisium waktu itu tuh banyak banget. Dari mulai harus bikin poster, buku TA yang dijadikan file .pdf, .doc, dan .html. Terus juga harus ada CD yang dikasih cover sesuai aturan. Pokoknya banyak lah, sampai soal pembayaran toga wisuda juga. Dan waktu itu aku harus menyelesaikan itu semua dalam satu hari. Jadi hari itu, aku benar-benar yang gimana ya, sibuk banget gitu. Mondar-mandir ke sana kemari.

Bahkan aku sempat hampir nangis karena ada beberapa berkas yang salah dan kurang karena saking terburu-burunya saat itu. Tapi Alhamdulillahnya waktu itu Pak Ajid yang mengurusi berkas-berkas itu tuh baik banget. Beliau tidak marah sama sekali walaupun aku sudah bolak-balik ke ruang admin untuk memberikan berkas yang terus-terusan salah dan kurang. Apalagi di ruang admin itu tuh ramai banget. Ada banyak mahasiswa yang juga sedang mengurus berkas yudisium, dicampur sama beberapa mahasiswa yang sedang mengurus berkas-berkas geladi. Pokoknya, ruang admin waktu itu tuh sesak banget. Tapi waktu itu aku ditemani sama Sem dan Ike, sih. Padahal mereka udah selesai ngurusin berkas-berkasnya di hari itu. Emang lah ya, mereka itu teman terbaik lah pokoknya.

Dan seperti janji Allah yang tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya; setelah drama-drama itu berlalu, akhirnya aku pun bisa daftar sidang yudisium dan resmi menjadi pengangguran. Yeay! Alhamdulillah.

Tapi, ternyata masih ada cerita lanjutannya, loh.


- To be continued.
,
Sabtu, 26 Maret 2017.
Iya, waktu itu pembimbing duaku mempertanyakan hasil kinerjaku selama ini. Katanya, apa yang aku kerjakan selama ini tuh belum layak disebut sebagai TA. Perasaan aku benar-benar nggak karuan saat itu, dan aku juga berusaha biar nggak nangis di situ. Iya lah, masa iya aku nangis di ruangannya beliau? Malu dong, hehe. Dan setelah beliau selesai menceramahiku, aku pun langsung jalan cepat gitu ke lab MM. Niatku waktu itu cuma satu, pengen nonton video-video lucu biar aku nggak nangis. Soalnya waktu itu, perasaanku benar-benar lagi campur aduk banget.

Dan waktu akhirnya aku bisa duduk di depan komputer, tiba-tiba Hilmy yang duduk di sebelahku itu manggil aku. Mungkin karena emang perasaanku yang lagi kacau, mata aku mungkin juga agak keliatan sedikit berkaca-kaca. Jadi ya gitu, Hilmy manggil aku dan nanyain aku lagi kenapa. Ya udah deh, kayak bom aja gitu, aku jadi nggak bisa nahan air mata lagi dan malah nangis di depan Hilmy waktu itu. Malu banget, Ya Allah malu banget. Si Hilmy juga kayaknya jadi bingung gitu ngeliat aku yang tiba-tiba nangis. Dan ya udah, aku cuma bilang ke Hilmy kalau aku belum bisa sidang, terus langsung buru-buru pergi ke kamar mandi buat nangis sejadi-jadinya. Dan setelah puas nangis di kamar mandi, aku langsung pulang ke kos gitu aja dan nggak balik ke lab MM lagi, soalnya masih malu buat ketemu Hilmy. Tapi cuma beberapa menit aja aku bisa tahan di kos karena emang laptop dan hp aku masih di lab, jadinya bingung juga aku mau ngapain di kos. Akhirnya aku pun memberanikan diri balik lagi ke lab, nyalain komputer dan pasang headset; mengabaikan Hilmy yang ketawa-ketiwi di sebelahku.

Tapi meskipun mungkin pembimbing duaku udah nggak percaya lagi sama kemampuanku, tapi aku masih punya harapan di pembimbing satuku. Makanya waktu itu malamnya aku masih tetap berusaha semaksimal mungkin buat ngelanjutin pengerjaan TA-ku itu, soalnya besok aku bakal bimbingan sama pembimbing satuku. Dan memang ya, pembimbing satuku itu benar-benar terbaik. Beliau benar-benar lebih menghargai proses daripada hasil, sehingga sewaktu aku bimbingan beliau sama sekali nggak pernah mengatakan bahwa aku udah gagal. Malah beliau sangat mendukungku untuk tetap mendaftar di sidang periode kedua itu. Tapi bukan berarti pembimbing duaku itu jahat, ya.  Mungkin beliau memang kecewa denganku yang jarang bimbingan, dan memang tidak pernah melihatku mengerjakan TA, sehingga wajar kalau kemarin beliau berkata begitu. 

Dan ya gitu. Alhamdulillah akhirnya aku pun bisa mendaftar di sidang periode itu. Tapi meskipun aku sudah mendaftar sidang, bukan berarti setelahnya aku malah jadi santai-santai. Enggak sama sekali. Setelah berkas-berkas sidang udah lengkap dan di-approve sama Pak Ajid (bapak admin yang paling baik dan tidak jutek di kampus), aku tetap fokus sama pengerjaan TA-ku. Pembimbing satuku itu juga jadi lebih strict dan lebih cerewet dari biasanya. Hasil kodingan, hasil pengujian, buku TA, semua dikomentari-dibahas-dan dicoret-coret. Pokoknya benar-benar udah nggak ada waktu buat main-main lagi. Sampai akhirnya jadwal sidang pun keluar.

Ya Allah. Waktu jadwal sidang itu keluar, aku benar-benar yang kayak deg-degan sampai gemeteran gitu. Iya, aku sampai kayak gitu, nggak tau kalau kalian. Pokoknya aku sampai meluk temanku―Sitah―yang waktu itu pertama kali ngasih tahu kalau jadwal sidang udah keluar. Pengen nangis pun udah nggak bisa, dan teriak juga nggak mungkin. Intinya jadwal sidangku itu sangat dekat dengan hari dimana pengumuman jadwal itu keluar. Aku jadi kalang kabut dong. Dan aku benar-benar nggak tidur beberapa hari itu. Benar-benar ngerjain, ngerjain, dan ngerjain terus. Bahkan aku sampai bimbingan via what*app sama pembimbing satuku itu di pagi-pagi buta, sekitar jam setengah 3 pagi. Bukan aku yang pertama kali menghubungi beliau loh ya, tapi beliau sendiri yang menghubungiku, jadi aku bukan mahasiswa yang tidak tahu diri.

Tapi meskipun sudah sampai segitunya, tetap saja lagi-lagi pembimbing duaku itu kembali membuatku menangis. Jadi waktu itu, aku dipanggil lagi sama beliau buat menemui beliau di ruangannya. Saat itu nggak cuma aku yang dipanggil, tapi ada satu temanku yang sudah sidang dan lagi bimbingan revisi gitu. Terus tiba-tiba, pembimbingku itu bilang gini. "Kamu memangnya udah siap buat sidang besok? Saya nggak khawatir sama TA kamu, saya malah khawatirnya sama kamu. Lihat nih, emang perhitungan begini bisa dipake buat hasil akhir TA kamu?" Begitu pokoknya. Padahal, perhitungan yang aku tulis di buku TA itu tuh udah sesuai sama pembimbing satuku. Tapi ternyata tidak sesuai sama pemikiran pembimbing duaku. Dan aku juga sudah menjelaskan dengan sedetail-detailnya saat itu, tetapi ternyata hasilnya tetap nihil. Aku tetap harus mengganti cara perhitunganku itu. Di saat aku harus sidang besok siang. Iya, besok siang harus sidang, tapi aku harus nge-running ratusan dataset itu lagi untuk pengujian.

Tentu saja waktu itu rasanya aku pengen nangis sejadi-jadinya, tapi lagi-lagi aku tahan kuat-kuat. Apalagi di situ ada temanku yang kelihatannya juga agak kasian gitu sama aku, terlihat dari raut wajahnya sih. Dan pas akhirnya aku keluar dari ruangan pembimbingku itu, aku sengaja ngelama-lamain gitu jalan ke lab MM-nya. Aku berusaha mengatur emosi dan perasaan dulu, takut nanti tiba-tiba ditanya lagi sama anak-anak di lab. Eh, tapi ternyata sewaktu aku sampai di depan proclub, tiba-tiba salah satu temanku―Shamila, yang biasa aku panggil Semkeluar dari ruangan dan memanggilku; menanyakan bagaimana hasil bimbinganku saat itu.

Karena berkaca dari kejadian sebelumnya dan tidak mau itu sampai terulang lagi, aku pun langsung minta ke Sem itu untuk tidak perlu banyak nanya dulu. Tetapi mungkin dia malah jadi semakin penasaran ya, dan malah langsung memegang pundakku dan kembali menanyakan hal yang sama. Alhasil, ya sudahlah, aku kembali menangis saat itu. Benar-benar nangis yang nangis sejadi-jadinya gitu, padahal saat itu aku masih berdiri di depan proclub. Untungnya koridor gedung E lagi sepi waktu itu, jadinya tidak ada satu orangpun yang melihatku menangis selain Sem. Dan Sem pun waktu itu langsung memeluk dan menenangkanku. Iya, dia memang memelukku. Tapi setelahnya dia juga yang menjadikan tangisanku itu sebagai bahan ejekan setiap kali kami bertemu dengan teman-temanku yang lain. Menyebalkan sekali. Tetapi aku tetap sayang Sem, sih, hehe.

Tapi mau bagaimanapun, sesedih dan sekecewa apapun itu, besok aku harus tetap sidang, kan? Makanya malam itu, aku benar-benar tidak tidur. Aku mengulang pengujian dari awal dan mengganti rumus dan hasil akhir di buku TA-ku. Sampai paginya pun aku masih terus ngerjain, sampai sekitar jam 6 pagi. Dan ya udah, setelah itu aku langsung pulang, mandi, dan kembali lagi ke kampus buat nyetak buku TA-ku itu biar bisa dilihat sama penguji dan pembimbingku nanti. Pokoknya aku benar-benar sibuk, dan sampai harus lari-lari juga buat nyari OB yang biasa megang kunci ruang rapat dosen. Iya, jadwal sidangku itu jam 1 siang di ruang rapat dosen. Dan saat itu, aku dibantu oleh teman terbaikkuDeviyang memang sudah sidang seminggu atau dua minggu sebelum aku sidang hari itu.

Singkat cerita, aku baru selesai mempersiapkan semuanya itu sekitar jam 10-an. Dan setelah selesai sholat Dhuha, aku waktu itu cuma duduk-duduk aja di sofa lab MM sambil nunggu jam 1 siang. Soalnya kata teman-temanku yang sudah sidang, beberapa jam sebelum sidang tuh kita nggak boleh stress dan harus menenangkan diri. Makanya waktu itu aku milih buat duduk-duduk aja sambil ngobrol-ngobrol sama Devi, Ike dan Kak Panda. Oh iya, Ike ini dulunya adalah teman SMP-ku yang nggak disangka-sangka juga jadi teman sekelasku di kampus. Dan kalau Kak Panda, beliau ini kakak tingkat yang menjadi kakak semua anak matlab di lab MM. Beliau kakak yang paling care diantara semua kakak yang ada lah pokoknya. Dan waktu itu, kata Kak Panda, wajahku benar-benar kayak mayat gitu, pucat banget. Emang sih, kebetulan hari itu aku juga sedang tidak enak badan karena beberapa hari sebelumnya kurang tidur. Badanku agak panas dan aku juga sedikit flu. Tapi mau bagaimana lagi, siang itu kan aku harus tetap sidang.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Iya, akhirnya aku pun masuk ke ruangan sidang sekitar jam setengah 1 lebih setelah selesai sholat Dhuhur, ditemani beberapa teman-temanku.


- To be continued.
,
Sabtu, 26 Maret 2017.
Jadi saat itu, waktu lagi dalam masa-masa males ngerjain TA, aku sering main ke sekre proclub buat nemuin temankuUmmi. Proclub itu sekrenya orang-orang pintar, yang katanya disebut sebagai student technology competition enthusiasts. Ya, pokoknya bisa dibayangin lah ya isinya orang-orang yang kayak gimana. Sebenarnya Ummi juga bukan dan paling nggak suka kalau dibilang sebagai anak proclub sih, soalnya dia juga awalnya cuma sering main ke proclub aja. Tapi karena jadi dekat sama anak-anak di sana dan emang sering banget ke proclub, jadinya Ummi malah jadi dianggap sebagai 'Ibu'-nya anak-anak proclub. Soalnya sifat Ummi emang keibuan gitu sih, sesuai sama arti namanya, hehe.

Lanjut. Jadi waktu itu tuh aku suka main ke proclub karena pengen refreshing lah istilahnya. Pengen main-main aja, curhat-curhatan sama Ummi. Nah tapi ternyata, di sana tuh Ummi, Caca, sama Mena (teman-temanku yang lain) malah jadi semakin sibuk ngerjain TA. Padahal kan, aku niat awalnya main ke proclub gara-gara jenuh dan pengen keluar dari dunia per-TA-an. Makanya pas ngeliat mereka mulai sibuk ngerjain TA dan keliatan semangat banget, aku mulai jarang ke proclub lagi. Malu gitu, dan males juga kalau ditanya soal progress TA-ku yang nggak jalan-jalan. Apalagi dosen pembimbing TA mereka tuh orangnya baik banget, dan ngebimbing banget, makanya aku juga jadi suka iri gitu. Soalnya jujur, dosen pembimbing pertama aku itu lagi S3 di ITB, jadinya susah banget buat ditemuin. Terus kalau pembimbing kedua, orangnya agak kaku sama perempuan makanya aku jadi agak canggung kalau bimbingan gitu.

Dan ya udah, akhirnya aku mulai ilang-ilangan lagi. Kadang di kosan seharian, kadang ke lab MM cuma buat main-main aja, atau malah jadi sering main sama grup yang berdelapan itu. Pokoknya aku benar-benar udah nyerah lah sama kuliah dan TA tuh. Tapi Alhamdulillah ya, ternyata Allah masih sayang sama aku. Ternyata Allah ngasih aku teman yang luar biasa baiknya saat itu. Jadi karena aku mulai ilang-ilangan gitu, aku mulai dihubungin dan dicariin sama Ummi. Awalnya nanyain kabar, yang lama-lama menjurus ke progress TA. Tapi karena setiap pembicaraan itu sampai ke soal TA dan aku jadi jarang bales, jadinya Ummi ngebahas soal lain, dan isi pembicaraannya juga malah menjurus ke korea-koreaan, hehe.

Tapi setelah beberapa hari itu, tiba-tiba Ummi ngajakin aku buat main ke kosannya. Terus pas aku udah di sana, dia malah cerita tentang alasan dia pengen lulus 3.5 tahun. Dia juga cerita soal Pak Milo, salah satu dosen pembimbingnya yang aku akuin emang orangnya tuh baik dan friendly banget. Beliau itu satu-satunya dosen yang hafal semua mahasiswa yang diajarnya beserta tempat duduk, kebiasaan, dan teman-teman terdekatnya loh. Keren kan? Dan emang Pak Milo ini juga orangnya tuh keliatan masih muda banget walaupun katanya sih udah agak-agak (wkwk, maaf Pak). Jadi Ummi tuh cerita soal gimana perjalanan perkuliahan Pak Milo semasa muda dulu. Pokoknya intinya, Ummi seharian itu ceritaaa terus, yang anehnya malah semakin mendengar cerita Ummi, aku malah jadi ngerasa semakin malu dan gengsi gitu.

Iya, malu dan gengsi. Aku jadi ngerasa malu karena aku kayak nggak punya semangat dan gampang banget gitu nyerahnya. Dan aku juga tiba-tiba aja ngerasa gengsi, kayak yang, ih nanti kalau akhirnya teman-temanku bisa lulus 3.5 tahun dan aku enggak, mau ditaro dimana mukaku ini? Pokoknya gitu deh, susah dijelasinnya. Dan aku juga jadi inget sama niat awal aku, mau ngedapetin bayaran semester 8. Tapi waktu itu, karena Ummi juga cerita soal keluarganya, niat awalku pun perlahan-lahan mulai berubah. Iya, aku jadi pengen lulus 3.5 tahun biar Abi nggak perlu lagi ngebayar kuliah aku, cukup sampai semester 7 aja, terlepas soal dari perkataan Abi yang bakal ngasihin uang semesteran yang tersisa. Sekaligus karena ngerasa malu sama teman-teman kalau ternyata aku nggak jadi lulus 3.5 tahun. Apalagi, aku itu kemana-mana sering sama Devi, yang jadinya juga sering dibanding-bandingin sama Devi. Makanya, aku akhirnya memutuskan buat kembali fokus ngerjain TA.

Tapi waktu itu, aku sempat curhat ke Ummi. Intinya aku bilang, kalau aku itu agak males ngerjain TA di kos. Makanya kadang aku ngerjain TA cuma pas siangnya aja, malemnya pas udah pulang ke kos malah jadi mainan hp doang kerjaannya; karena ngerasa kayak nggak punya teman buat ngerjain. Nah, abis aku cerita gitu, Ummi pun jadinya ngajakin aku buat ngerjain sama-sama di proclub. Katanya, Ummi, Caca, sama Mena mau mulai nginep di proclub. Mereka juga ngerasain hal yang sama soalnya, kalau ngerjain sendirian tuh malah jadi nggak ada semangatnya. Dan emang lebih enak ngerjain di proclub. Yaudah, gara-gara diajak kayak gitu, aku senang banget tuh, dan mulai ikut ngerjain TA di proclub.

Tapi ternyata pengerjaan TA itu tidak semulus apa yang aku bayangkan. Ternyata saat itu charger laptop aku malah bermasalah. Jadi kadang bisa dipake, kadang enggak, suka-suka di charger-nya aja mau gimana. Dan lagi, laptop aku itu lemot banget kalau dipake buat nge-running dataset waktu lagi pengujian. Makanya, pas pagi sampai malam itu aku ngerjain TA di komputer lab, dan malemnya pas jam-jam dekat waktu tidur aku baru pindah ke proclub yang isinya perempuan semua. Iya dong, masa iya aku tidur sendirian di satu ruangan bareng anak laki-laki? Hehe. Soalnya emang lab di gedung E itu biasa dijadiin basecamp sama anak laki-laki gitu, jadi banyak yang nginep. Itu aja, bisa isinya perempuan semua karena proclub emang sengaja dijadiin basecamp sementara sama pejuang TA yang perempuan. Jadi anak proclub yang laki-laki setiap jam-jam dekat waktu tidur selalu inisiatif mengungsi ke lab computinglab yang lain. Dan pejuang TA perempuan dari lab-lab lain juga jadi mengungsi ke proclub kalau mau tidur.

Nah singkat cerita, selama beberapa minggu itu pun aku mulai menghabiskan banyak waktuku di kampus. Jadi dari pagi sampai malam aku ngerjain TA di lab, sekitar jam-jam 10 lebih gitu aku pindah ke proclub dan ngerjain TA lagi sampai ngantuk, dan besok paginya pulang sekitar jam 6-an buat mandi dan balik ke lab MM buat ngerjain TA lagi. Pokoknya rutinitasku gitu-gitu aja. Dan setiap malam juga aku harus kucing-kucingan sama satpam gedung E setiap beliau mau mengunci pintu gedung E. Iya, dulu itu peraturannya ketat banget nggak kayak sekarang. Soalnya aku pernah masih di lab MM jam-jam setengah sebelasanan gitu gara-gara di proclub masih ada acara, dan aku malah dimarahin sama satpam. Diwanti-wanti gitu, katanya, "awas kalau pas saya patroli, saya masih lihat kamu di ruangan ini bareng anak laki-laki. Awas kalau berbuat yang tidak-tidak, ya." Gitu, masa.

Dan soal charger laptop yang suka ngambek itu, setiap kali aku pindah ke proclub aku suka pinjem charger laptopnya Yono―teman labku yang lain, yang juga punya laptop yang sama kayak aku. Kebetulan Yono juga suka nginep di lab dan lebih suka pakai komputer lab, jadinya setiap malam dia ngebolehin aku buat ngebawa charger laptopnya itu. Kadang juga setiap aku mau bimbingan atau ngerjain di kosan sebentar gitu, dia tetap ngebolehin aku ngebawa charger-nya kemana-mana. Pokoknya Yono terbaik lah waktu itu. Dan intinya, Alhamdulillah aku bisa ngerjain TA dan bimbingan tanpa terganggu sama charger laptopku yang suka pms itu.

Tapi ternyata dramanya nggak cuma sampai di situ aja. Setelah beberapa minggu ngerjain TA, mulai deh di akhir-akhir bulan Desember itu mulai dibuka pendaftaran sidang TA. Waktu itu aku dilema banget, soalnya kalau nggak daftar bulan Desember, berarti nggak bisa sidang bulan Januari. Tapi kalau nggak sidang bulan Januari, ya berarti juga harus bayar semesteran lagi. Dan yang jadi masalah juga bukan karena aku belum mau daftar sidang TA bulan itu, tapi karena memang aku belum boleh buat daftar sidang sama pembimbingku. TA aku masih jauh dari kata sempurna waktu itu :( Pokoknya waktu itu tuh aku yang benar-benar udah kacau banget. Rasanya kayak yang gimana ya, udah kayak ya udahlah. Soalnya mau dikejar kayak apa juga emang nggak akan bisa sidang bulan Januari.

Dan itu juga malah ngebuat semangat ngerjain TA aku mulai surut lagi. Padahal, aku selama beberapa bulan itu tuh benar-benar mengerahkan semua energi, pikiran dan waktuku buat ngerjain TA. Bahkan waktu liburan semester 7 tuh aku nggak pulang ke Purwokerto dan malah ngehabisin waktu di kampus yang sepi banget itu. Aku sampai harus nyari satpam setiap kali mau masuk ke gedung E karena memang kalau hari libur tuh gedung-gedung bakal dikunci semua. Udah gitu satpamnya juga sedikit banget, susah banget dicarinya karena memang kalau hari libur panjang kayak gini satpam yang bertugas cuma yang buat patroli aja, nggak sebanyak hari-hari biasanya. Dan paling di gedung E pun isinya cuma beberapa aja yang emang juga lagi sibuk ngerjain TA. Kayak di lab MM aja, isinya cuma ada Hilmy sama Yazid. Itu pun kadang-kadang mereka pergi entah kemana.

Tapi karena kabar itu, aku sama beberapa temanku yang senasib sama aku itu udah yang kayak hopeless gitu. Bahkan aku pun akhirnya memutuskan untuk membayar spp semester 8. Sedih sih, waktu ngomong ke Abi sama Ummi juga aku yang rasanya kayak pengen nangis gitu. Dan aku sama beberapa temanku itu juga sampai curhat ke pembimbing masing-masing. Kebetulan waktu itu pembimbing satuku mulai sering kelihatan di kampus, dan juga mulai suka nyariin aku. Makanya, aku mulai dekat sama pembimbingku itu dan mulai sering curhat. Dan waktu itu, pembimbing aku sebenarnya juga sama sekali nggak ngasih kesimpulan apa-apa soal sidang sih, tapi lebih ke benar-benar ngebimbing aku banget dalam pengerjaan TA ini. Pokoknya kayak yang, mau sidang bulan Januari ataupun bulan-bulan lainnya, yang penting TA-nya tuh selesai dulu. Kalau nggak selesai-selesai, gimana mau bisa sidang? Begitu pokoknya intinya.

Ya udah, akhirnya aku pun mulai fokus ke ngerjain TA aja dan cuma jadi sering-sering berdoa sama Allah biar tiba-tiba dikasih mukjizat gitu, kayak malamnya aku tidur dan besok paginya tiba-tiba aja TA aku udah selesai dengan sendirinya. Emang nggak mungkin terjadi sih, tapi aku tetap berdoa aja gitu minta keajaiban apapun itu lah istilahnya. Dan Alhamdulillahnya juga pembimbing satu aku itu cukup kooperatif sama aku. Setiap kali dia lewat lab MM, dia selalu nyariin aku. Kalau aku ada di lab pun, dia bakal langsung minta aku buat nunjukkin hasil pengujian sama kodingannya. Bahkan kalau ada kodinganku yang salah dan ngebikin hasil pengujiannya jadi berantakan, dia malah jadi duduk di depan komputer aku dan ngutak-ngatikin sebagian kodingan TA aku. Setiap hari juga suka nanyain aku gitu lewat pesan what*app. Suka nyuruh aku ngirimin hasil kodingan dan hasil pengujian. Baik banget kan? Jadi selama beberapa hari itu aku benar-benar fokus ngerjain TA dan banyak-banyak berdoa; banyak-banyak sholat sunnah juga.

Dan memang ya, pertolongan Allah memang akan selalu datang pada orang-orang yang suka meminta pertolongan kepada-Nya. Satu minggu lebih dari berakhirnya waktu pendaftaran sidang buat bulan Januari, tiba-tiba kaprodi jurusanku mengumumkan kalau bakal ada pendaftaran sidang kedua buat periode sidang di pertengahan bulan Januari. Jadi intinya bakal ada dua periode sidang di bulan Januari. Ya Allah. Waktu itu aku sama teman-temanku yang lain, yang awalnya mulai nyerah sama keadaan pun jadi semakin bersemangat gitu. Kita benar-benar yang sampai tidur tuh cuma satu-dua jam aja. Setiap hari isinya ngerjain TA-bimbingan-revisi gitu-gitu terus polanya. Dan beberapa pembimbing TA yang lain pun juga kayak yang emang jadi lebih baik juga gitu. Lebih aktif buat nanyain progress, lebih mudah dihubungin dan kayak yang punya banyak waktu luang buat anak-anak bimbingan TA-nya gitu. Pokoknya, semua kayak yang jadi on fire banget. Demi bisa ngedapetin kesempatan buat sidang di bulan Januari periode kedua.

Suasana gedung E juga jadi benar-benar kayak yang panas banget. Isinya muka-muka orang serius semua. Kalaupun ada yang nggak serius, itu berarti bukan para pejuang TA atau justru orang-orang yang lagi stress (wkwk). Pokoknya intinya suasananya beda aja gitu. Dan dosen-dosen pembimbing pun juga jadi kayak yang nggak mau main-main lagi. Malah kalau Pak Milo, beliau ngerelain waktunya buat anak-anak bimbingannya. Jadi beliau ngasih waktu buat anak-anak bimbingannya itu buat ngelakuin bimbingan sampai malam. Kadang sampai ikutan nginep di kampus juga. Dan Pak Milo juga yang malah ngebantuin anak-anak biar bisa dikasih izin buat nginep dan yang selalu minta izin biar pintu gedung E boleh dibukain setiap hari libur.

Dan ya begitu juga dengan aku. Aku juga jadi semangat banget buat ngerjain TA dan mulai memberanikan diri buat bimbingan sama pembimbing duaku setelah selama ini aku selalu kabur dari beliau. Aku bimbingan terus, setiap hari, sampai akhirnya di hari-hari mendekati hari akhir pendaftaran. Soalnya, hari itu aku malah dibikin nangis sama pembimbingku itu. Katanya, aku belum boleh sidang (lagi), di saat ini benar-benar merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa lulus 3.5 tahun.


- To be continued.
,
Sabtu, 26 Maret 2017.
Seperti janjiku di postingan sebelumnya yang aku tulis di sini, kali ini aku bakal nyeritain tentang perjalanan panjang penuh perjuangan dari pertama kali memutuskan untuk lulus 3.5 tahun sampai akhirnya bisa lulus sidang dan diwisuda. Sebenarnya ceritanya juga bukan cerita yang menginspirasi sih. Tapi nggak tau kenapa aku pengen aja nulisin cerita itu di sini, sekaligus karena kebetulan lagi kedatangan tamu; jadi pengen banyak-banyak nulis mumpung punya waktu, hehe. So, selamat membaca, ya!

***

Jadi, awal keinginan buat lulus 3.5 tahun itu muncul di pertengahan tahun ketiga, tepatnya di akhir semester 5. Tapi waktu itu sebenarnya juga bukan karena mau lulus 3.5 tahun sih, tapi lebih ke aku pengen nanti di semester 7 sama 8 itu lebih santai karena nggak begitu banyak mata kuliah yang harus diambil. Makanya waktu pas pengambilan mata kuliah sebelum semester 6, aku pol-pol-in (tau artinya nggak?) tuh. Jadi aku ngambil mata kuliah sebanyak-banyaknya, sampai sksnya benar-benar penuh. Dan waktu itu aku juga ikutan ngambil mata kuliah proposal TA, ikut-ikutan yang lain, hehe. Soalnya waktu itu, aku mikirnya proposal TA itu salah satu mata kuliah yang paling gampang. Cuma tinggal nyari paper, bikin proposal, selesai. Soal pengerjaannya bisa menyusul, toh ngerjain TA di semester 7 dan 8 juga nggak akan masalah, kan? Segampang itu pikiranku soal proposal TA waktu itu.

Nah, pas lagi menjalani semester 6 itu, nggak tau kenapa setiap aku pulang ke Purwokerto atau nyusulin Abi ke Jakarta, Ummi sama Abi tuh selalu ngebahas tentang nikah, nikah dan nikah. Pokoknya apa-apa nikah, apa-apa jodoh, gitu deh. Jadi waktu itu tuh aku alihin pembicaraannya ke soal teman-temanku yang udah kerja. Eh, malah jadi setelahnya ngomongin project, project, dan project. Nah karena waktu itu aku mikirnya aku masih pengen main-main, jadi aku nggak terlalu suka gitu kalau lagi ngebahas soal nikah dan project. Rasanya kayak ih, nanti waktu bermain aku jadi berkurang (wkwk). Makanya, akhirnya aku pun iseng aja gitu bilang kalau aku pengen lulus 3.5 tahun, jadi di semester 6 dan 7 aku bakal sibuk.

Awalnya aku kira abis itu Abi sama Ummi bakal mikir kalau aku harus fokus buat ngejar lulus 3.5 tahun, jadi nggak boleh diganggu; yang padahalnya mah aku nggak begitu berniat buat ngejar goal itu dan pengen santai-santai aja. Tinggal bilang kalau aku itu nggak sanggup, jadi bisanya lulus 4 tahun aja. Duh, kalau dipikir-pikir sekarang, jahat juga ya? Kayak durhaka sekali, hiks. Nah, tapi ternyata respon Abi tuh mengejutkan waktu itu. Abi malah bilang gini, "Oh yaudah. Kalau kamu bisa lulus 3.5 tahun, nanti uang bayaran semester 8-nya boleh buat kamu."

Ya Allah. Siapa yang nggak tergiur coba? wkwk. Bayangin aja, uang semesteran buat jurusan S1 Informatika di Telkom kan lumayan tuh. Mungkin emang Abi niatnya buat memotivasi aku gitu ya. Tapi karena ya namanya manusia, aku malah jadinya ngejadiin uang semesteran itu sebagai goal aku; bukan lulus 3.5 tahunnya. Jadi waktu itu, aku mulai ngeniatin dalam hati kalau aku itu pengen dapetin uang semesteran (wkwk). Aku jadi mulai serius belajar gitu, dan benar-benar pokoknya harus bisa lulus 3.5 tahun sesusah apapun itu. Nggak mungkin pake kalimat 'bagaimanapun caranya' kan, ya. Nanti jadinya menghalalkan segala cara dong, hehe.

Lanjut. Jadi mulai semester 6 itu, aku mulai benar-benar serius. Serius pilih-pilih kelasnya maksudnya, hehe. Kebetulan waktu pengambilan mata kuliah buat semester 6, aku emang pilih-pilih kelas. Aku ikut-ikutan teman-temanku yang lain gitu, memburu kelas-kelas yang katanya dosennya dermawan nilai. Pokoknya tinggal mengerjakan tugas dan nggak nakal aja, pasti nilainya bakal bagus. Makanya di mata kuliah yang menurutku tidak perlu terlalu diperhatikan, aku cuma fokus ke tugas-tugasnya aja. Kalau lagi pelajaran gitu, aku nggak begitu fokus dan udah jarang nyatet. Padahal, di semester-semester sebelumnya aku dikenal sebagai orang yang catetannya paling lengkap di kelas.

Dan ya gitu, jadi fokusku waktu itu cuma di satu mata kuliah pilihan: Pengolahan Citra Digital. Soalnya mata kuliah ini tuh yang berhubungan sama TA yang bakal aku ambil, makanya cuma di mata kuliah itu aja aku benar-benar serius belajar. Dan di luar kelas pun aku banyak nanya sama senior kalau ada tugas-tugas ataupun materi-materi yang nggak begitu aku pahamin. Intinya, semester 6 aku habiskan buat fokus ke satu mata kuliah dan bermain-main. Kebetulan di semester ini-lah awal terbentuknya grup yang isinya ada 8 orang, yang setiap minggunya minimal bakal ada hari yang dipakai buat jalan-jalan atau sekadar makan di luar bareng-bareng. Terus, ya gitu, semester 6-ku berakhir dengan begitu saja.

Nah, waktu di semester 7, aku mulai kewalahan. Karena aku harus lulus 3.5 tahun, jadi mau nggak mau semua sks yang belum aku penuhin harus dipenuhin saat itu. Makanya waktu di semester itu, aku sampai ngambil tiga mata kuliah pilihan sekaligus. Kayaknya ada satu-dua mata kuliah defaultnya juga, apa enggak ya? Lupa. Intinya di semester itu aku benar-benar yang kuliah tuh jadi kerasa beraaaaaat banget. Apalagi mata kuliah yang aku ambil juga bukan mata kuliah sembarangan gitu kan. Mata kuliahnya tuh mata kuliah yang harus diperhatiin benar-benar, soalnya itu berhubungan sama hitung-hitungan dan dunia perkodingan.

Nah, singkat cerita, karena ada beberapa hal yang terjadi kayak yang aku ceritain sebelumnya soal jadi single fighter waktu ngerjain tugas besar, di pertengahan semester 7 itu aku benar-benar yang kayak stress banget. Bawaannya tuh pengen nangis terus. Terus kan aku di semester itu jadi salah satu asisten laboratorium di lab multimedia (MM) dan juga jadi salah satu yang dianggap bisa matlab di lab, ya. Jadinya kegiatan aku juga semakin banyak. Mulai dari ngurusin berkas-berkas, bikin soal-soal buat pelatihan matlab, ngajar study group matlab, dan lain sebagainya. Jadi pikiran aku tuh kebagi-bagi. Udah gitu, di lab MM juga ada kegiatan focus group (FG) yang dialihfungsikan jadi kegiatan bimbingan kelompok TA-nya Pak Kur, Bu Vanie sama Pak Cok; yang dimana Pak Kur dan Pak Cok itu adalah dosen pembimbing TA-ku.

Yaudah, karena kondisi aku yang lagi banyak pikiran kayak gitu, setiap bimbingan tuh aku justru malah jadi ilang-ilangan. Tapi karena aku selalu kebagian tugas buat nyiapin ruangan bimbingan dan sebagainya, jadi biasanya aku satu jam sebelum FG dimulai tuh bakal udah mulai nyiap-nyiapin. Terus kalau semuanya udah siap, aku langsung kabur deh, hehe. Jadi kadang aku malah ngumpet di pojokan lab, atau malah ke kantin bareng teman-teman, atau juga malah duduk di depan komputer membelakangi yang lagi FG. Kebetulan komputer yang aku pakai buat ngerjain TA di lab itu emang posisinya di pojokan dan kita pasti bakal membelakangi meja utama kalau pas lagi pake komputer itu.

Oh iya, ada satu lagi yang kurang. Sebenarnya waktu awal-awal ngambil proposal TA juga, aku itu diajak sama teman lab aku; namanya Hilmy sama Yazid. Jadi dulu itu mereka sebenarnya yang paling semangat buat lulus 3.5 tahun. Tapi waktu itu Hilmy yang paling semangat ngajak-ngajakin aku. Soalnya dia itu orangnya nggak bisa ngerjain apa-apa sendiri dan sukanya iri (maksudnya liat orang main pengen ikutan, padahal dia harus ngerjain sesuatu). Ya karena aku juga punya tujuan, jadi aku ngiyain aja tuh. Akhirnya komputer kita bertiga berderetan gitu. Tapi cuma Hilmy yang suka ngadu-ngadu ke salah satu seniorku kalau aku mulai keliatan malas-malasan dan malah ngobrol sama teman-teman lab di depan TV. Pokoknya, kalau dia pengen ngerjain TA tapi akunya males, aku bakal disindir-sindir dan dia bakal ngadu-ngadu deh. Tapi kalau akunya yang pengen ngerjain, dia malah mainan dota di sebelahku. Dan mau disindir kayak apa juga nggak mempan, ckck.

Dan yaudah, singkat cerita, karena saking banyaknya pikiran saat itu, beberapa bulan setelahnya aku pun mulai ngerasa pengen nyerah gitu. Aku kayak nggak punya semangat buat ngerjain TA sama sekali. Aku emang duduk di depan komputer setiap hari, tapi bukan buat ngerjain TA. Kadang aku malah ngerjain tugas-tugas orang, mainan fb, nonton drama korea, pokoknya yang gitu-gitu deh. Sampai akhirnya aku bilang ke Hilmy sama Yazid kalau kayaknya aku bakal nyerah aja. Aku mau extend aja, jadi mahasiswa biasa yang lulusnya 4 tahun. Awalnya mereka nggak setuju tuh. Tapi lama-lama mereka juga mulai ikutan males-malesan. Dan yaudah deh, alhasil selama beberapa minggu kami bertiga mulai sibuk sama urusan lain selain TA. Sebenarnya ada satu lagi teman aku yang juga sama-sama ngerjain TA sih, namanya Devi. Tapi karena dia itu orangnya semangat banget buat ngerjain TA dan nggak keliatan malas sama sekali, jadi nggak aku ceritain di sini (wkwk).

Ya pokoknya gitu deh, selama beberapa minggu itu aku benar-benar lepas sama yang namanya TA. Dan itu bertahan sampai tiba-tiba aja ada hal lain yang malah bikin aku jadi semangat banget buat ngerjain TA lagi.


- To be continued.
,
Foto ini diambil pada tanggal 26 Maret 2017, tepat di hari aku wisuda.
Hehe. Jadi ceritanya siang tadi aku lagi iseng-iseng buka-buka galeri foto di hp gara-gara lagi pengen ganti dp line. Nah pas lagi buka-buka galeri gitu, eh tiba-tiba nemu foto-foto waktu zaman abis sidang sama wisuda dulu. Terus tiba-tiba berasa kayak jadi time traveller gitu, kayak aku diajak mengarungi waktu ke masa lalu buat bernostalgia. Kayak ada rasa sedih, terharu, bangga sama bahagianya gitu tiba-tiba. Apalagi waktu inget gimana perjuangan biar bisa sidang dulu yang benar-benar sampai harus ngerasain sakit, kecewa, takut, dan sebagainya.

Sebenarnya dulu itu aku sama sekali nggak ada niatan buat lulus 3.5 tahun. Waktu teman-temanku banyak yang mengambil mata kuliah tingkat atas di semester 3, aku malah masih santai-santai aja. Waktu itu aku mikirnya, ngapain juga aku capek-capek menuh-menuhin sks. Toh jatah kuliah kan 4 tahun, jadi ambil sks normal pun nggak akan masalah. Nah pas di semester 4/5 gitu, karena semakin banyak teman-teman di kelas yang ngambil tingkat atas dan mulai ngambil mata kuliah pilihan, alhasil kelas defaultnya jadi semakin tercampur dong gara-gara banyak mata kuliah yang bentrok. Dan sebagian besar teman-temanku itu pada pindah dari kelas default, sekalian juga karena mau nyari dosen yang 'dermawan nilai' (hehe). Jadinya, waktu itu aku ikut-ikutan ambil satu mata kuliah pilihan gitu biar bisa ngerasain pindah-pindah kelas juga. Soalnya, cuma orang-orang yang kelasnya bentrok aja yang bisa pindah-pindah kelas gitu (bisa gitu ya alasannya wkwk).

Eh tapinya, ternyata waktu itu aku salah ngambil mata kuliah. Mata kuliah yang aku ambil itu Kriptografi, mata kuliah yang paling ditakutin sama anak-anak informatika. Katanya, sedikit banget orang yang bisa lulus dari mata kuliah ini, dan memang sedikit juga orang yang berani ngambil mata kuliah ini. Dan benar aja, waktu hari pertama masuk tiba-tiba dosennya bilang gini. "Kalau diantara kalian ada yang merasa tidak bisa mengikuti kelas saya, kalian boleh kok untuk pindah dari kelas saya. Saya tidak akan memaksa kalian untuk mengambil mata kuliah ini. Mata kuliah ini tuh berat, butuh konsentrasi dan tekad yang kuat. Jadi kalau kalian tidak yakin dengan kemampuan kalian sendiri, saya juga lebih tidak yakin lagi untuk meluluskan kalian." Yaudah, karena hari itu dosennya berkata begitu, akhirnya di pertemuan selanjutnya setengah dari siswa yang mengambil mata kuliah itu pun langsung menyerah, temasuk aku wkwk. Jadi kelas kriptografi waktu itu cuma diisi sekitar 7-8 orang.

Nah di semester selanjutnya, aku ngerasa kayak pengen di semester 7/8-ku itu kosong atau hanya diisi sama beberapa mata kuliah aja. Sebenarnya aku lupa gimana cara aku ngambil mata kuliah atas waktu itu, tapi yang aku ingat kalo nggak salah di semester 5 aku cuma ngambil satu mata kuliah pilihan, dan sisanya ngambil kelas lain yang katanya dosennya enak (nilainya wkwk). Begitu juga di semester 6. Tapi bedanya di semester 6 itu aku juga ngambil mata kuliah proposal TA. Mulai ada keinginan buat lulus 3.5 tahun nih ceritanya. Tapi di situ rasanya aku masih santai-santai gitu, dan menganggap bahwa yang penting proposalnya jadi, papernya lengkap, udah. Urusan gimana ngerjainnya itu mah belakangan.

Tapi itu jangan ditiru ya, teman-teman. Soalnya, waktu di semester 7 aku malah jadi kewalahan. Iya lah, aku ngambil topik dan judul TA yang sebenarnya sama sekali nggak masuk di otak aku. Udah gitu, di semester itu aku juga ngambil tiga mata kuliah pilihan yang susah-susah. Aku ngambil Data Mining, Komputasi Evolusioner sama Sistem Rekognisi (wkwkwkwk). Intinya selama aku kuliah, aku ngambil lima mata kuliah pilihan, yang dimana cuma ada dua mata kuliah yang berhubungan sama topik TA aku: Sistem Rekognisi dan Pengolahan Citra Digital (yang aku ambil di semester 5). Jadi bisa kebayang gimana kewalahannya kan? Ngambil tiga mata kuliah pilihan sambil ngerjain TA. Apalagi, di mata kuliah Komputasi Evolusioner itu aku jadi single fighter waktu ngerjain tugas besar gara-gara dua orang teman sekelompokku itu nggak bisa ngoding dan kurang memperhatikan dosen mengajar (hiks, padahal dua-duanya laki-laki loh).

Nah kalau ditanya kenapa tiba-tiba jadi pengen lulus 3.5 tahun padahal awalnya santai-santai aja, jawabannya panjang banget. Jadi nanti deh ya aku ceritain di postingan selanjutnya. Insya Allah aku bakal ceritain dari awal aku memutuskan untuk lulus 3.5 tahun sampai akhirnya bisa wisuda. Pokoknya penuh perjuangan dan air mata deh (lebay). Soalnya kalau diceritain di sini, nanti malah jadi kebanyakan curhatnya. Kan kan niat awalnya mau nge-share foto-fotonya aja wkwk. Jadi langsung diliat aja ya foto-fotonya~
Ini dua sahabat terbaik aku semasa kuliah, dan foto ini diambil sehabis sidang. Itu selempangnya yang bikin mereka berdua (+ lupa siapa lagi wkwk) loh.
Ini teman-teman Infinine kesayanganku~
Ini teman-teman MM (lab. multimedia)
Dan ini foto sama infinine lagi, ceritanya aku jadi tokoh utamanya, hehe.
Nah, tadi itu foto-foto waktu habis sidang. Yang selanjutnya foto-foto habis wisuda, hehe.
Ini foto dua orang yang paling aku sayang di dunia~
Ini keluarga Bapak Heri
Ini nenek aku tersayang.
Posisi Hilmi di sini kayak santai banget gitu ya.
Sedih gitu ya ngeliat pasang-pasangan di samping :"
Nggak tau kenapa suka ngeliat Hilmi-Azizah di sini.
Apalagi foto Hilmi-Azizah yang ini wkwk.

Ini foto adik-adik aku tersayang versi lebih besarnya hehe.
Terus ini ceritanya Abi lagi iseng gitu. Tapi foto di sini tuh cuma bertahan beberapa menit, soalnya abis itu pada disengat lebah wkwk. Jadi pada lari deh.
Nah kalo ini foto sama Mamak Sitah tersayang~
Terakhir, foto sama keluarga Multimedia di studio MM~
(Atas) Aswan, Noor, Keju, Kak Yasmin, Aku, Lulu, Bayu (?), Imam, Dio (Kiri-Kanan)
(Bawah) Anang, Hilmy, Sitah, Turina, Hanif, Ade (Kiri-Kanan)
Sebenarnya masih banyak banget foto yang belum aku munculin di sini. Tapi segitu aja lah ya. Capek juga milihinnya, dan di laptop ini tuh nggak ada file foto sama sekali makanya aku harus download dari go*gle drive dulu foto-fotonya. Jadi, sekian dulu aja yaa. See you!

Notes: Dan karena keasyikan bernostalgia, akhirnya malah nggak jadi ngeganti dp line wkwk.


Senin, 21 Mei 2018

,
Kau tahu? Pagi ini aku datang ke kantor saat suasananya masih terasa sangat sepi, demi bisa pulang lebih awal dan mengerjakan kegiatan sesuai to do list-ku. Aku harus mengejar delapan jam kerja sesuai aturan, dan mengejar agar bisa pulang di jam-jam setelah ashar, sehingga aku berangkat pagi-pagi sekali meskipun kepalaku terasa sangat sakit saat itu. Ya, rasanya pusing sekali. Apalagi karena pagi tadi rupanya aku bangun kesiangan, sehingga hanya mampu meneguk beberapa gelas air putih yang dilakukan dengan terburu-buru.

Dan, kau tahu, apa yang terjadi setelah itu? Saking jarangnya kini aku memegang ponsel, aku sampai lupa membawa ponselku ke kantor :( Sedih nggak sih....


Tapi aku bersyukur karena ketinggalannya di kosan, bukan di sembarang tempat,
terima kasih Ya Allah :')

Minggu, 20 Mei 2018

,
Mengapa rasanya sulit sekali?

Padahal, saya sudah meniatkannya dengan jelas di dalam hati. Padahal, saya sudah banyak-banyak berdoa dan berusaha sekuat tenaga sampai membuat reminder setiap hari. Padahal, setiap akhir pekan saya sudah tidak pernah lagi berpergian untuk bermain-main. Padahal, saya hanya memiliki waktu tidur maksimal 4 jam sehari. Tetapi, mengapa tetap saja semua ini terasa sangat sulit?

Rasanya, 24 jam dalam satu hari belum cukup untuk melakukan semua hal yang ingin saya lakukan saat ini. Padahal, ada banyak cerita yang sedang berputar-putar di dalam kepala saya, menuntut untuk segera dituliskan. Selain itu, ada banyak buku-buku di samping tempat tidur yang setiap harinya menggoda untuk segera dibaca. Tetapi, sekali lagi, mengapa tetap saja semua ini terasa sangat sulit?

"Mungkin karena kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponselmu."
"Mungkin karena kamu terlalu sering bermain game."
"Mungkin karena kamu terlalu banyak menonton drama korea."
"Mungkin karena kamu terlalu sering tertidur."

Salah. Bahkan semua hal yang saya sebutkan di atas beberapa hari ini sudah tidak pernah lagi saya lakukan. Tapi, mengapa saya tetap merasa seperti tidak lagi memiliki waktu? Maka dari itu, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa rasanya sulit sekali? Sungguh, saya iri dengan orang-orang yang sanggup melakukan semua yang ingin dilakukannya dalam satu hari.

Allah, ini kah yang dinamakan dengan terlalu sibuk? Maafkan jika kesannya saya seperti sedang mengeluh :')