"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Selasa, 17 April 2018

Terjebak

Tiga hari ini saya mulai tersadar, bahwa sepertinya selama ini saya sudah salah melangkah. Awalnya saya merasa sedih, karena seperti bertahun-tahun menahan diri untuk tidak menghancurkan persahabatan yang telah terjalin begitu lamanya; dengan mengabaikan segala kesakitan yang ada. Saat itu saya merasa, selama ini saya membiasakan diri untuk tidak memikirkan kesakitan itu, meskipun ada kalanya saya protes di beberapa hari; tapi saya tidak pernah menjauh. Eh, dia baru kemarin merasa hal yang mungkin hampir sama dengan apa yang saya rasakan, langsung memilih menjauh karena merasa tidak kuat. Heuh.

Awalnya ketika ia memutuskan untuk menjauh, saya juga memilih untuk menjauh. Saya juga emosi saat itu. Tetapi dua hari setelahnya, saya jadi merasa tidak enak hati. Bukan maksudnya tidak enak hati karena menjauh, tapi justru seperti merasa bahwa masih ada yang salah. Setelah mencoba menghubungi, ternyata saya justru mendapatkan kekecewaan. Kasarannya saya seperti ditolak. Meskipun katanya ini demi kebaikan saya dan dia, namun saat itu otak saya merasa tidak terima. Namun saya tidak bisa memprotesnya.

Hingga akhirnya karena kesedihan dan kekecewaan saya hari itu, saya pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Selesai sholat maghrib saya langsung pesan ojek online untuk pulang. Dan sesampainya di kosan pun saya langsung beberes dan melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda. Sampai malam.

Namun di sini-lah saya justru merasa seperti terlahir kembali. Saya merasa, saya justru menjadi menemukan apa yang bisa membuat saya bahagia. Saya membaca sampai lupa waktu; sampai hampir tengah malam tanpa bolak-balik mengecek ponsel seperti yang biasa saya lakukan di hari-hari sebelumnya. Bahkan setelahnya saya masih bisa menulis beberapa tulisan yang masih saya simpan di draft karena sedang menunggu waktu yang pas untuk memunculkannya di dalam blog ini.

Ya, saya seperti kembali ke masa lalu. Saat saya hanya menghabiskan waktu di dalam rumah dengan tumpukan buku-buku dan tulisan-tulisan sederhana. Saat itu saya tidak pernah ikut bermain dengan teman-teman, entah itu laki-laki maupun perempuan; apalagi sampai malam. Saya sangat menikmati kesendirian saya, dan saya bahagia.

Dan entah mengapa, setiap ia memutuskan untuk pergi, rasanya saya justru lebih suka menyendiri. Tetapi ketika ia kembali; saya pun tidak mengerti, mengapa saya malah jadi suka bermain dan nakal sekali. Padahal, dia justru orang yang tidak pernah mengajak saya bermain, dan paling tidak suka saya bermain dengan lawan jenis, serta paling bersemangat mendukung saya untuk segera resign karena kondisi kantor yang agak kurang baik untuk saya: menurutnya; yang sepertinya akhir-akhir ini pun saya setuju dengannya.

Entahlah, namun yang awalnya saya merasa kecewa dan tidak terima, sepertinya saat ini saya sudah mulai bisa menerima keadaan. Saya merasa ini memang yang terbaik untuk saya dan dia. Ya, sepertinya pun dia justru menjadi lebih bahagia tanpa saya; dan saya pun melihatnya memang dia baik-baik saja, tidak seperti saya yang awalnya merasa sedih dan kehilangan. Hal-hal yang sepertinya kemarin ia sampaikan, apalagi yang katanya ia seperti tidak memiliki teman, sepertinya sekarang justru menjadi terbantahkan. Entahlah, setiap kami memutuskan untuk tidak berhubungan, saya yang biasanya memiliki banyak teman justru menjadi sendirian. Tapi dia yang biasanya--katanya--tidak memiliki teman, justru jadi lebih sering bermain dan tampak jauh lebih bahagia.

Namun, meskipun saya menjadi sendirian, setidaknya saya jadi lebih terjaga setelah kepergian dia. Saya malah jadi belajar untuk lebih mandiri lho, karena saya akui, saya itu tidak mandiri. Saya banyak bergantung kepada orang lain; ya salah satunya dia itu. Namun akhir-akhir ini saya seperti ingin sekali mencoba hal-hal yang baru sendirian; contohnya seperti pergi ke Islamic Book Fair sendirian, menggunakan busway sebagai transportasinya. Insya Allah; mudah-mudahan bisa terlaksana.

Selain itu, saya pun jadi lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Saya jadi bisa membiasakan diri untuk menulis; menulis untuk berlatih membuat tulisan yang baik dan benar. Ya, dulu saya memang sangat suka menulis. Untuk cerita tentang menulis dan mengapa saya sempat berhenti ini akan saya ceritakan di postingan yang lain; Insya Allah.

Ah, mungkin kemarin-kemarin saya sudah terjebak, ya.


Jakarta, 17 April 2018; 06:59
Saya menulis untuk menghilangkan rasa kantuk;
saya ingin berangkat pagi hari ini;
dan pulang lebih awal. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar