"Karena kisah ini adalah gertakan dari histori hidup penuh makna."

Selasa, 27 Maret 2018

,
Ya Rabb..

Terima kasih
Hari ini kau telah benar-benar mengajariku
Tentang apa itu arti kehilangan
Bahwa semua adalah milik-Mu
Manusia tak berkuasa, sedang Kau lah Maha Kuasa

Ya Rabb..
Tak ku sangka kepalaku terasa berat
Rasanya hendak tersungkur
Tetapi tanggungjawab masih banyak
Hingga bila mampu ku meminta
Tak ku pinta agar dimudahkan

Ya Rabb..
Harapanku adalah sebuah kekuatan
Agar aku mengerti arti kesabaran
Agar aku kuat dalam setiap ujian
Karena Oh Allah, aku lemah..
Dan kadang-kadang aku susah

Ya Rabb, Kuatkan aku..

Minggu, 18 Maret 2018

,
Kisah ini dituliskan bukan untuk mengumbar aib seseorang ataupun untuk menyalahkan siapapun. Kisah ini dituliskan semata-mata hanya agar tidak ada lagi "aku" yang lainnya, dan berharap agar dapat dijadikan pelajaran bagi siapapun yang membacanya.

*

Sebelum aku mendeklarasikan kebangkitan hatiku, aku ingin menceritakan sedikitnya kisah mengenai perjalanan cintaku. Meskipun akan terkesan penuh dengan kesedihan dan penuh pengorbanan, tidak ada tujuan maupun maksud tertentu dari penulisan kisah tersebut. Pun kisah ini bukanlah alat untuk menghakimi atau mengumbar aib seseorang, karena mengutip perkataan seorang teman, "kata-kata tak akan mampu mengungkapkan makna sebenarnya dari apa yang ada dalam hati." Maka, inilah akan ku suguhkan karya untuk mewakilkan sepersen ungkapan perasaan dalam hati.

Dimulai dari beberapa minggu belakangan ini, rasanya aku seperti dihadapkan dengan berbagai macam masalah secara bertubi-tubi. Mulai dari terungkapnya sebuah kebohongan menyakitkan yang dilakukan oleh sahabatku sendiri, dilanjutkan dengan beberapa masalah 'kecil' seputar keluarga, tempat kerja, dan masalah-masalah lainnya yang hampir membuatku putus asa.

Awalnya aku seperti kehilangan arah dan tujuan. Hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan yang sia-sisa; tidak berguna. Aku hanya membaca komik, menonton variety show korea secara estafet tanpa berhenti, tidak keluar kamar sama sekali seharian penuh, dan menutup akses komunikasi dengan siapapun. Bahkan aku pun tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh ibuku hingga hampir tiga hari lamanya, dan berbohong bahwa terdapat masalah pada ponselku sehingga aku tidak mengetahui bahwa ibuku telah mengirimkanku pesan dan menelponku berulang-ulang.

Puncaknya, adalah ketika aku merasa semua orang mulai meninggalkanku secara perlahan. Sahabatku, teman sekantorku, hingga dirinya; pria yang hampir tiga tahun lamanya telah singgah di hatiku. Saat itu aku benar-benar merasa terpuruk. Aku menangis dan hatiku berkecamuk. Rasanya seperti tak ada lagi tempat nyaman untukku berlabuh. Imanku mulai naik-turun, kembali bermalas-malasan; atau mungkin jauh lebih parah dari sebelumnya. Astaghfirullahal'adzim.

Hingga akhirnya, ditengah kegabutanku, aku menemukan sebuah tulisan dari situs blog lama, milikku, yang sudah tidak pernah aku buka lagi tujuh tahun belakangan ini. Aku benar-benar tidak ingat pernah memiliki blog dengan alamat tersebut, terlebih aku baru menyadari bahwa tulisan tersebut ternyata memiliki isi yang sungguh-sungguh bermakna. Dan dari beberapa bacaan yang ada pada blog itulah, tiba-tiba aku tersadar, bahwa aku telah beranjak terlalu jauh dari Allah.

Tiba-tiba saja aku menangis, jauh lebih deras dari tangisanku yang pernah aku lakukan di malam-malam sebelumnya. Saat itu juga aku langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat untuk sedikit menenangkan hatiku. Namun, aku tidak berhenti menangis. Meskipun setelahnya aku mendengarkan murrotal, aku kembali menangis. Dan malam itu, aku menangis hingga air mataku habis, mataku perih, dan tertidur dengan sendirinya.

Padahal sebenarnya, apa yang aku baca bukanlah sebuah tulisan yang benar-benar menyentuh. Maksudnya, aku sering melihat tulisan-tulisan serupa di timeline beberapa sosial media milikku, namun aku tidak pernah sampai merasa seperti ini. Mungkin karena saat itu aku sedang benar-benar terpuruk? Atau sedang benar-benar merasa tidak memiliki siapapun selain Allah? Entahlah. Tapi yang pasti, aku benar-benar merasa seperti makhluk paling kotor saat itu.

Namun, satu hal yang aku sesali, meskipun aku bersyukur karena seperti tersadarkan di tengah keterpurukanku ini, sejujurnya aku merasa malu. Ya, aku malu karena aku baru tersadar sekarang. Aku malu karena Allah harus menegur dan mengambil apa yang aku miliki terlebih dahulu untuk membuatku tersadar. Aku malu karena masalah percintaanlah yang membuatku kembali mengingat Allah. Aku malu, benar-benar malu. Aku malu padaMu Ya Allah..

Semoga Allah mengampuni aku, hambaMu yang penuh salah dan dosa ini. Aamiin.

*

Dan selanjutnya, adalah sebuah brankas kisah, rangkuman dari cerita tentang aku dan dia; tentang perbedaan yang tak juga menyatu; tentang untaian rindu yang tak pernah sampai; tentang air mata yang terus berurai; dan tentang kobaran kisah klasik yang tak kunjung padam. Sebuah kisah tentang dua orang yang tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya hanya mampu untuk saling menyakiti. Bukan tentang dua orang saling menunggu, namun tentang sebuah rindu yang hanya menjadi sebuah keputusasaan.

Dan untuk kamu yang sedang jatuh cinta, bacalah, agar kamu memahami betapa sakit dan sia-sianya bertahan tanpa tujuan.

Jumat, 16 Maret 2018

,
Tulisan ini ternyata pernah dibagikan oleh seorang kakak kelasku, dulu. Dan aku pun sudah pernah sempat membacanya. 

*

Ini adalah segores surat minimalis dari seorang ukhti yang mendapat hidayah dari Tuhannya. Dan untuk kalian yang mengaku Islam serta takut kepada neraka Allah, belum terlambat untuk bertaubat dari jalan maksiat dengan menghentikan hubungan haram bernama PACARAN!

Bismillah, Assalamu'alaikum ya akhi fillah..

Syukur pada Allah yang masih mengkaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbaharui taubat.

Akhi.. rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik dan lebih segalanya darimu. Yang Tidak Pernah Mengantuk dan Tidak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan denganku di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apa yang kupinta. Dia yang Bertakhta, Berkuasa dan Memiliki Segalanya.

Maaf akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding dengan Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya. Dia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu.. dan akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut hubungan kita selama ini membuatNya murka. Padahal, Dia Maha Kuasa, Maha Gagah, Maha Perkasa, dan Maha Keras SiksaNya.

Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti ditanyakan olehNya. Dia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang memandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena satu ketika dengan asyiknya aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya aku adukan kepadamu atau tentang lamunanku yang selalu membayang-bayangkan wajahmu. Dia bisa marah. Tapi sekali lagi, semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, karena Dia Maha Memaafkan dan Mengampuni.

Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku hanya padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tidak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insya Allah. Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita sholehah. Ya, wanita sholehah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini, seorang wanita yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridho Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.

Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudaraku di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik.

Yakinlah, Islam memberi yang terbaik untuk kita dalam menghadapi 'fitrah' ini agar dipenghujungnya ada keberkahan Allah di dalamnya. Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah.

Wassalam..

Senin, 05 Maret 2018

,
Teruntuk, kamu yang hanya melihat keindahan.

Aku tidak akan menyalahkan.
Karena yang sudah adalah sudah.
Dan yang berlalu akan terus berlalu.
Meski, harus ada pengorbanan,
untuk sebuah pertemanan.
Aku pastikan tak akan ada dendam.

Karena aku mulai memahami,
sejatinya yang membuat nyaman,
tak selamanya mampu bertahan.


Jakarta, 5 Maret 2018
Dari perempuan yang telah kau patahkan hatinya.