Selasa, Oktober 04, 2016

Tidak Apa-Apa, Sayang

Tidak apa-apa jika ada orang yang menganggapmu lemah dan berpikir negatif tentang dirimu. Mereka tidak tahu bagaimana kamu dan apa yang sebenarnya kamu lakukan. Tidak usah diambil pusing, biarkan mereka berpikir sesuka hati mereka. Tidak apa-apa, sayang. Cukup tetap menjadi diri kamu sendiri dan tersenyum. Jangan lupa bahagia tanpa melupakan apa itu kesedihan. Suatu saat nanti, akan ada masanya dimana kamu akan menemukan seseorang yang mampu memahami diri kamu tanpa harus berkali-kali dijelaskan.

Hannan Izzaturrofa, 10042016 

Rabu, September 14, 2016

Introvertku Sayang, Introvertku Malang

Tidak banyak yang benar-benar mengerti kondisi seorang Introvert. Mereka hanya bisa memaki dan memarahi, atau merasa tidak bisa menerima sifat yang dimiliki seorang Introvert tanpa mau mencari tahu asal usul mengapa sifat tersebut bisa muncul. Padahal, menjadi seorang Introvert bukanlah kemauan diri sendiri. Introvert bukan sebuah pilihan. Sifat tersebut datang dengan sendirinya bersamaan dengan pengalaman sang pemilik sifat tersebut di masa lalu. Dan malangnya, sebagian besar pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang buruk. Bisa jadi sangat buruk.
Selain itu, menjadi seorang Introvert bukanlah hal yang mudah. Ia harus dapat bertahan dengan kesendiriannya. Tidak banyak yang bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh seorang Introvert. Meskipun ia mencoba untuk bercerita, perbedaan kondisi antara seorang Introvert dengan orang normal pada umumnya membuat cerita tersebut tidak sepenuhnya dapat tersampaikan. Terkadang, ia lebih memilih untuk diam dan memendam perasaan dan masalah yang sedang dihadapinya. Ia tidak sepenuhnya dapat berekspresi dengan bebas. Mentalnya begitu lemah dan mudah takut dengan hal-hal yang cukup sepele. Terlebih dengan minimnya orang yang dapat diajak cerita membuat seorang Introvert benar-benar hanya dapat bahagia dengan kesendiriannya.
Dan sayangnya, mungkin, aku mengenal betul seorang Introvert. Dan seseorang itu tidak begitu mempedulikan pandangan buruk orang lain tentangnya, meskipun itu tidak benar.

Rabu, Agustus 31, 2016

To: Someone That Already Gone

To: Someone that Already Gone

I didn't expect that a tight knot can untied in the end. Yes, farewell that I didn't want finally came close. Maybe this moment is the hardest time to me because I always think that we will last longer. But don't worry, I will not blame you. I know that we couldn't getting back together and perfectly know that I couldn't protect precious things that already gone. Right, I was not a good girl for you and I'm always not enough to you. Haha I think I'm such a fool. You were always by my side and cheer me up everytime I'm feeling down. You also tell me everythings about your family and said that there's no one that know your story like I do. But why is that the reason I couldn't recognize that farewell was coming?
I really hate your cold act to me. You used to ask why I didn't came to our favorite place and waited for me, but now you're colder that a stranger. It feels like I can't see your foolish act again and it scares me. Yes, I think now our backs turned against each other and we already looking at different places and about to throw everything away. Maybe it's all my fault because I started to held and trapped you, and maybe you think that my love became more venomous.
But it's okay. I'm letting you go right now. Maybe you're not the right person for me or this is not the right time to falling in love. Just give me some time to forget everythings about us. Maybe it'll take enough time but don't worry, I'll try it. Thanks for everythings.

Selasa, Juni 28, 2016

Selamat Tinggal, Rindu

Selamat tinggal,
Pada masa lalu, pada mimpi buruk
Pada kesakitan, pada air mata
Pada ketakutan, pada kamu

Tidak, dan bukan
Aku tidak membenci, dan bukan menjauh
Aku hanya ingin berubah
Tidak kah memperbaiki diri lebih baik?

Sepatah, dua patah, tidak berhubungan
Kalimat penuh misteri yang terdengar tak berkesinambungan
Tak apa, aku sengaja
Karena pikiran ini tak dapat benar-benar aku tuliskan

Pada intinya,
Maafkan, dan selamat tinggal
Semoga kita berjodoh
Dan percayalah, aku menunggumu
Dan biarkan rindu ini tersampaikan dengan bijaksana

Minggu, Juni 12, 2016

Maaf, Aku Sudah Pergi

Maaf. Mungkin hanya maaf yang dapat tersampaikan. Maaf karena sudah lama pergi. Maaf karena telah menggantung mimpi pada yang lain. Maaf karena membuatmu percaya diri. Maaf dan maaf pada yang lain.

Pada intinya, maafkan, karena mengagumimu bukan berarti aku mampu bertahan.

Kamis, April 28, 2016

Maafkan Untuk Pertahanan yang Semakin Kokoh

Aku bertahan, karna ku yakin cintaku kepadamu.. Sesering kau coba tuk mematikan hatiku.. Takkan terjadi karna ku tahu kau hanya untukku..

Maafkan,
Untuk sebuah pertahanan yang semakin kokoh
Untuk sebuah dinding yang terus terbangun
Untuk sebuah hati yang terlampau membeku

Maafkan,
Aku yang mulai menutup telingaku
Aku yang mulai mengabaikan jeritanmu
Aku yang memilih untuk bertahan dan tak memperdulikan hatimu

Sungguh,
Aku tak pernah menuntutmu untuk membalas hatiku
Aku tak pernah memintamu untuk mulai melirikku
Aku tak pernah memohon untuk mu memberikan hatimu
Sikap dingin dan acuhmu, aku hargai itu

Sungguh,
Cukup membiarkanku tetap menjadi temanmu
Cukup tetap membiarkan rasa yang terlanjur tumbuh
Cukup tak menjauhiku dan mengabaikan kehadiranku
Seperti yang lain, aku tidak akan menuntut lebih

Sikapmu yang berusaha mematahkan hatiku
Sikapmu yang terus menunjukkan letak kebahagiaanmu yang bukan padaku
Sungguh, aku tidak peduli
Karena ini rasaku, hatiku, dan hanya aku yang tahu
Kamu tak berhak menghentikannya


Aku bertahan, ku akan tetap pada pendirianku.. Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku.. Dan aku tahu kau hanya untukku..

(Rio Febrian - Aku Bertahan)

Senin, Maret 28, 2016

SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!

“La tahzan Innallaha ma’ana” - Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. [9:40]
 
Tak disangka semester ini aku memegang amanah dan diberikan nikmat yang cukup banyak oleh Allah. Kedua potongan surah tersebut benar-benar menjadi alarm untukku melangkah saat ini. SEMANGAT!

"Innallaha Ma’ashabirin" - Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar.[8:46]

Jumat, Maret 18, 2016

Belum Saatnya, Kawan

Rasanya baru semester ini aku mengatakan bahwa aku tidak boleh jatuh cinta, namun apa daya, sepertinya rasa itu memang tidak bisa aku cegah kedatangannya. Ia seakan-akan terus hidup meskipun aku berusaha untuk melupakannya. Ah, sosoknya benar-benar mampu menerbangkanku meski akhirnya kini aku dihempaskan secara perlahan. Ya, perlahan.
Mungkin Allah saat ini mematahkan hatiku karena aku sedang mencintai orang yang salah. Cinta ini memang tidak seperti di drama-drama yang akan berakhir bahagia. Cerita cinta ini sungguh berbeda. Lawanku bukanlah seorang yang mendekati sempurna dengan sedikit sisi buruknya. Tidak. Ia adalah seseorang yang bisa dibilang cukup sempurna untuk seorang gadis remaja yang sedang beranjak dewasa. Memang, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Namun, kekurangannya bukanlah sebuah keburukan yang bisa dibandingkan denganku yang mungkin tak sebanding dengan segala kelebihannya.
Ya, mungkin Allah memang sedang memperingatiku karena aku mencintai seseorang di waktu yang tidak tepat. Masih banyak hal-hal lain yang seharusnya menjadi prioritasku saat ini. Tidak seharusnya aku memikirkan soal cinta yang membuatku hanya melangkah di tempat yang sama di setiap harinya.
Ah, rupanya aku memang harus disakiti agar dapat melupakannya.

Jumat, Februari 05, 2016

Apapun itu.

Sekiranya sekitar seminggu ini, ketika aku sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal kuliah dan kegiatan lain, tanpa aku sadari aku mulai mempelajari sesuatu. Ya, sesuatu yang belum tentu orang lain dapat memahami dan menerimanya. Sesuatu yang mungkin, semua orang tidak akan ingin mengalaminya. Sesuatu yang mungkin tampak begitu menyakitkan, namun Insya Allah dapat membuat orang yang merasakannya menjadi lebih kuat.

Kalian tahu? Seminggu ini aku baru mempelajari tentang penyakit lupus. Ya, sebuah penyakit autoimun, atau penyakit dimana sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang itu menyerang tubuhnya sendiri. Antibodi yang seharusnya melindungi tubuh dari bakteri, virus, atau yang lainnya justru menjadi error atau salah respon. Dan yang aku tahu, menurut seorang professor, penyebab dan obat dari penyakit ini belum diketahui dan masih dalam tahap penelitian. Sebenarnya autoimun sendiri bukan cuma lupus. Ada yang rematoid artritis (yang menyerang tulang dan sendi), scleroderma, diabetes tipe 1, syndrome sjorgen, anti pospolipid syndrome (darah cendurung mengental), ITP (menyerang trombosit), dan lain sebagainya.

Odapus (orang yang menderita lupus) biasanya benar-benar tidak bisa terkena paparan sinar matahari secara langsung dan terlalu lama, menderita kelelahan fisik, stress, berada di lingkungan yang salah, dan kedinginan. Kalau saja mereka mengalami salah satu dari itu, maka lupus itu pun langsung menyerang tulang dan sendi, sehingga rasanya linu sekali. Tidak hanya itu, lupus ini pun dapat menyerang jantung (aritmia), saraf (neuropati), dan hemiparese (lebih dominan tubuh bagian kanan). Ada pula beberapa yang timbul lebam-lebam di badan, pingsan (seperti koma), dan kejang-kejang. Kejang-kejang itu sendiri pun ada beberapa jenisnya, seperti tiba-tiba saja bengong atau blank, kejat-kejat (ini yang biasanya kita tahu), gemeretak giginya, dan ada juga yang seperti kesurupan.

Setiap odapus pun memiliki gejala yang berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Selain itu, hormon pun dapat menjadi pemicu kambuhnya penyakit lupus ini. Jadi, saat odapus mengalami masa-masa haid, maka lupus ini pun bisa bangkit kembali. Odapus menjadi moody-an, mudah sedih, mudah marah, atau tiba-tiba senang. Sel-sel yang muncul saat sedih, marah, atau terlalu exciting pun dapat menjadi salah satu pemicu kambuhnya si lupus ini. Odapus sendiri pun tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka mengalami hal-hal tersebut.

Ya, genetika seorang odapus sedang diteliti, namun memang tidak semudah kita mencari tahu tentang penyakit jantung maupun diabetes yang lebih mudah ditelusuri. Lalu, kalau kanker kan yang menyerang sel-sel itu sendiri  ya, sehingga dibutuhkannya peningkatan dari imunitas. Nah, kalau lupus ini justru imunitasnya harus ditekan, dan gejalanya pun menyerupai penyakit lain, jadi benar-benar tidak mudah untuk mendeteksinya. Sedihnya itu, lupus bisa membuat odapus menjadi benar-benar down. Ada yang sampai mengalami kebutaan, lumpuh, menyerang jantung, ginjal, kulit, sendi, tulang, dan paru-paru. Bahkan, ada odapus yang bisa jatuh pada titik nol dimana odapus merasa benar-benar kesakitan dan don’t know how to do.

Kebanyakan orang belum benar-benar mengetahui apa itu lupus ya, sehingga terkadang si odapus dikira manja karena tidak boleh panas-panasan, atau malas karena harus bedrest (saat tulang dan sendi terasa nyeri dan nggak bisa banyak gerak). Kadang juga tuh, sampai dipandang sebelah mata karena mau nggak mau harus tidak masuk sekolah/kuliah/kerja karena lupusnya sedang kambuh, meskipun beberapa menit sebelumnya masih terlihat baik-baik saja.

Ya, orang-orang di sekitar odapus ini benar-benar harus peka dan tidak langsung nge-judge ya, biar si odapus ini nggak jadi makin stress. At least, mereka mau mengerti tentang kondisi si odapus ini. Coba aja bayangin, waktu lagi ulangan atau ngerjain tugas dan tiba-tiba lupusnya kambuh, contohnya tiba-tiba nggak bisa nulis gitu, apa yang harus odapus lakuin coba? Dipaksain pun nggak akan bisa, karena benar-benar tangan kanan itu tiba-tiba lumpuh. Berarti, peran orang-orang di sekitar itu benar-benar penting kan untuk menyemangati si odapus ini saat lupus menyerang tubuhnya?

Inti dari postingan ini sih, aku cuma mau membagi informasi mengenai penyakit lupus ke pembaca sekalian. Ya, setidaknya kalian tahu apa itu lupus dan bagaimana ciri-cirinya, meskipun sebenarnya gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lupus ini terkadang benar-benar mirip dengan penyakit-penyakit lainnya. Dan setidaknya pun kalian bisa menghargai orang-orang yang tiba-tiba kita anggap manja karena tidak mau panas-panasan atau tidak mau bergerak. Meskipun aku tidak berharap itu merupakan gejala dari penyakit lupus, tapi setidaknya kita mau mengerti bahwa mereka memiliki alasan tersendiri mengapa mereka seperti itu.

Dan terakhir, asal kalian tahu, informasi ini aku dapatkan bukan hasil dari googling dari internet. Alhamdulillah, orang-orang yang memberitahu aku pengetahuan ini benar-benar sangat membantu dan pengertian ya. Mereka tidak patah semangat, sehingga odapus pun seharusnya tidak mudah menyerah dengan keadaan yang dialaminya. Benar begitu, bukan? J

Selasa, Februari 02, 2016

Dilarang Jatuh Cinta

Tak terasa sudah 3 (tiga) minggu lamanya aku memasuki semester 6 (enam), dan tak ku sangka bahwa begitu banyak hal yang telah terjadi. Dimulai dari dosen yang entah mengapa pada semester ini terasa semakin ngaco. Ada 4 (empat) dosen yang cara pengajarannya sungguh tidak mengenakkan, sehingga membuat aku tidak lagi dapat bersantai seperti semester-semester sebelumnya. Keempat-empatnya sungguhlah baper (bawa perasaan), membuat kegiatan perkuliahan terasa sangat menegangkan. Selain itu, kelompok pada mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu dosen tersebut sangatlah memprihatinkan, sehingga aku mulai merasa takut dan sedikit putus asa. Berlebihan memang, namun itu apa adanya, lho.
Selain itu, pada semester ini aku mengambil kelas Tugas Akhir (TA), sehingga dibutuhkannya perhatian lebih. Luar biasa bukan? Masalah yang entah mengapa belum juga ketemu membuat judul tak juga kunjung tercipta. Selain itu, salah satu mata kuliah berhasil membuatku pusing, karena materi yang entah mengapa tidak juga dapat aku pahami. Padahal, dosennya termasuk enak, lho.
Pun di semester ini aku sedang suka-sukanya membaca novel, sehingga aku harus membagi waktu yang aku miliki tersebut untuk mencari judul TA, belajar, kuliah, dan membaca novel. Namun, mengapa sebanyak apapun aku membaca, aku tak juga kunjung mendapatkan niat yang kuat untuk menulis, ya? Payah memang.
Ah, rupanya semester 6 (enam) ini lebih berat, sehingga aku dilarang untuk jatuh cinta. Bisa gawat nantinya.

Jumat, Januari 29, 2016

Kembali Memulai

Menutup diri
Bak seorang introvert di tengah keramaian
Kehilangan teman, kehilangan kawan
Entah mengapa terasa lebih menyenangkan

Bahkan, menyendiri
Menutup impian akan sesuatu yang telah usai
Berakhir, pun berbekas
Terkadang sakit, benar adanya

Tidak,
Aku hanya ingin kembali memulai