Selasa, Desember 22, 2015

Seseorang Bercerita Padaku Pada Umur 20

Seseorang pernah bercerita padaku, dan beginilah ceritanya.
**
Jumat kemarin, saat ummi berkunjung ke Bandung, aku sempat bercerita dengannya sebelum tidur. Aku menceritakan tentang teman-temanku yang akan dan sudah menikah. Undangan yang bertumpuk-tumpuk dan meminta saran bagaimana untuk mendatanginya. Sepuluh menit, obrolan itu masih mengalir seperti biasanya, hingga sebuah kalimat tiba-tiba keluar dari bibir miliknya.
"Kalau kamu, kapan nikahnya?" Aku langsung tertawa seraya mengalihkan pembicaraan dengan mencari topik lain. Namun, sepertinya kali ini ummi tidak mau kalah.
"Umur sudah 20, kapan nikahnya?"
"Nggak tahu, mi. Masih lama mungkin, jodohnya aja belum kelihatan." Jawabku sekenanya. Kali ini ummi yang tertawa, dan membiarkanku berkutat dengan berbagai macam pikiran-pikiran yang berkemelut di otakku.
**
Menikah. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai sebuah hal yang tabu. Apalagi, bagi 'masyarakat modern' diumur dua puluhan yang masih duduk di bangku kuliah. Pikiran akan tugas akhir dan kuliah lanjutan yang akan dituju, ataupun perkantoran yang sesuai dengan minat dan kemampuan seakan menutupi salah satu list kehidupan tersebut. Namun, terdapat sebagian orang yang juga menganggap menikah merupakan sesuatu yang harus dipikirkan ketika sudah memasuki kepala dua.
Aku tidak tahu masuk ke dalam bagian yang mana. Namun, kalau dibilang aku sudah memikirkan mengenai hal itu, tentu saja sudah. Aku sudah lelah dengan cinta yang menye-menye dan hanya menyakitkan hati. Rasanya ingin menikah saja, merasakan menjadi istri dan ibu muda. Duh, sayangnya, aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah siap atau belum untuk menjalani hal tersebut. Sebagian hati kecilku terkadang berkata hal yang berbeda dengan bagian yang lain.
Aku jadi teringat saat aku masih duduk di tingkat 1, saat seseorang berkata bahwa ia telah serius padaku. Ia sudah menabung dan mempersiapkan semuanya. Pun, rencana untuk bertemu dengan orang tuaku sudah diutarakannya. Namun, aku menolaknya. Jujur, aku akui jika sebagian kecil dari alasan aku menolak adalah karena aku belum siap. Aku baru memasuki masa kuliah dan masih ingin bermain. Rasanya aku baru lulus SMK kemarin, dan belum siap untuk menghadapi semuanya. Tapi, tidak hanya itu saja. Karena seseorang itu hanya ingin mengungkapkan keseriusannya pada orang tuaku dan menyuruhku untuk menunggu hingga ia lulus kuliah, orang tuaku pun ikut menolaknya. Katanya, boleh bertamu, namun tidak ada ikatan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, namun, aku lebih memilih menolaknya terlebih dahulu sebelum ia bertamu pada orang tuaku.
Ah, kalau saja saat itu aku menerimanya, pasti saat ini akan ada orang yang intens menghubungiku. Menanyakan kabar serta menaruh perhatian lebih padaku. Mengisi hari-hari sepiku dengan pesan-pesan tak bermutu. Bertemu di kampus pun tidak akan canggung dan saling membuang muka. Ya, penyesalan pasti ada. Tapi itu sudah menjadi masa lalu yang sepertinya sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan masa depanku. Toh, saat ini ia telah bahagia dengan 'calon'-nya yang baru, walaupun terkadang aku harus mengelus dada karena melihat mereka berduaan atas nama taaruf yang mereka genggam. Kalau dipikir-pikir, ada baiknya juga, karena bukankah itu sama saja dengan berpacaran? Ah, kali ini aku harus berpegang teguh pada prinsipku. Harus.
Kembali ke topik.
Kata menikah yang sepertinya sudah tidak asing lagi di semester ini sepertinya mulai merasuki hidupku. Rencana kehidupan yang ingin menikah muda rasanya sudah mulai membuatku enek. Rasanya ingin cepat-cepat, namun takut. Takut melangkah dan terkesan terburu-buru. Namun, hati dan pikiran seakan resah menanti kedatangan pangeran berkuda putih yang tak kunjung datang. Ah, galau deh. Sebenarnya masih panjang, namun aku bingung bagaimana merangkai kata-katanya. Jadi, aku sudahi saja ya.
Intinya, seseorang mengatakan bahwa ia tidak ingin buru-buru menikah. Tetap ada target. Namun, jika ada yang ingin melamarnya sekarang, ia sudah siap. Insya Allah. Adek sudah cukup lelah bang, begitu katanya.

"Berdoa saja, semoga Allah mempermudah jalan yang akan dilalui oleh jodohmu. Tak perlu resah, tunggu saja. Jodohmu sedang mempersiapkan kapal terbaiknya untuk berlabuh bersama keluarga kecilmu. Kamu juga harus mempersiapkan pakaian dan makanan terbaik untuknya." - Ummi

-Seseorang pada umur 20 (Desember, 2015)-


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar