Kamis, Oktober 08, 2015

Puitis dan Melankolis


Mungkin kalian heran, mengapa pagi ini aku menulis dengan bahasa yang puitis. Eh, bukan puitis, hanya saja melankolis. Eh, bukan melankolis. Ah, entahlah. Yang pasti aku menulis dengan bahasa yang berbeda. Mengapa? Bukan karena aku ingin meniru para blogger di luar sana. Tidak. Hanya saja aku ingin menulis dengan gaya bahasa yang berbeda. Ya, berbeda.

Aku merasa malu. Aku merasa tersindir. Melihat teman-temanku yang kini sudah jauh melangkah di dunia sastra dan meninggalkanku sendirian. Ya, aku belum bisa move on. Lebih tepatnya, aku belum mencoba untuk melangkah lebih jauh. Aku belum bergerak. Aku tetap diam di tempat tanpa perubahan.

Tapi, ya sudah lah. Setidaknya kini aku sedang mencoba untuk kembali. Aku mencoba untuk mengambil langkah. Doakan saja, semoga aku tidak kembali berhenti.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar