Kamis, Maret 15, 2012

Serial-Fazila:Ada Bintang Jatuh?

 “Eh, katanya sekolah kita bakal kedatangan anak baru. Dan anak baru itu bakal sekelas sama kita loh!”, teriak Fita dari atas meja guru, persis seperti orang yang sedang berdemo. Tapi dari 39 murid yang diteriaki, tidak ada satupun yang menjawab. Semua asyik dengan kesibukannya masing-masing. Hanya ada satu-dua orang yang menoleh, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggerombol dengan geng-nya masing-masing.
Tapi bukan Fita namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia pun kembali berkoar-koar sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.
“Anak baru itu namanya Cikita Lilly, yang suka nongol di TV itu looh!”
Teriakan kali ini ternyata lebih manjur dari yang sebelumnya. Suasana kelas I-3 yang sebelumnya sunyi senyap pun berubah drastis. Ada yang berteriak, ada yang joget-joget nggak karuan, ada pula yang menangis, entah apa alasannya. Fita yang masih setia di atas meja pun tersenyum puas sambil berdecak pinggang. Satu menit, dua menit, pertanyaan demi pertanyaanpun terlontar. Dengan gayanya yang sok elegan, Fita pun turun dari singgasananya dan langsung menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar bak artis yang sedang diwawancarai.
Kabar kedatangan Cikita Lilly ke SMA 44 pun langsung menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Tidak hanya penghuni tetap saja, tetapi abang-abang becak, mbak-mbak kantin, sampai pedagang-pedagang kaki lima pun tahu kabar ini. Mereka para mbak-mbak kantin yang ngakunya terbelakang soal biaya tapi tetap gaul itu pun heboh mempersiapkan segala macamnya. Dari mandi pake kembang tujuh rupa sampai make up yang katanya bisa sedikit memperbaiki wajah. Padahal, lebih mirip ondel-ondel daripada terlihat makin cantik. Abis, menor gituu ..
Tapi jelas, diantara mereka-mereka yang sibuk berlomba-lomba mempersiapkan kedatangan Cikita ke sekolah, kelas I-3 lah yang terlihat paling sibuk. Bukan hanya sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing, tetapi mereka juga sibuk menghebohkan kelas lain. Bagaimana tidak? Menurut sumber yang terpercaya, kepala sekolah akan menempatkan Cikita di kelas mereka. Tentu saja ini membuat iri kelas lain.
Walaupun begitu, dari beribu-ribu murid yang tampak heboh dengan segala sesuatunya, ternyata ada secuil murid yang cuek, atau malah terkesan masa bodo dengan kedatangan artis yang lagi ngetop-ngetopnya itu. Kalau kita tanya alasannya, pasti mereka dengan santai menjawab, Lah, sama-sama manusia, makan nasi juga, ngapain sampe heboh gitu, ya toh?
Sebenarnya kalau kita mau berfikir sedikit, pendapat mereka juga banyak benarnya. Artis kan juga manusia. Sama-sama makan nasi walaupun kadang lauk-pauknya terlihat berkelas. Sama-sama manusia ciptaan Allah. Pokoknya banyak kesamaannya deh dengan orang bias. Tapi ya, walaupun begitu, artis tetap saja artis. Memiliki penggemar atau umumnya disebut  fans merupakan hal yang wajar bagi dunia per-artisan.
* * * * * *
“Mereka itu norak!”, komentar Tami saat jam kosong. Bu Dian, guru mata pelajaran Biologi yang seharusnya sekarang mengajar sedang berhalangan hadir.
“Setuju!”, jawab Tika antusias. Tangannya yang mengepal diangkatnya ke atas, persis seperti orang-orang yang sedang berdemo. Untung saat itu kelas sedang sepi.
“Mereka kayak nggak pernah ketemu artis aja ya!”, balas Fina, gadis subur yang baru sebulan ini memantapkan diri untuk memakai jilbab. Kedua tangannya sibuk menggenggam berbagai macam jenis coklat.
“Emang kamu pernah ketemu sama artis? Dimana? Dimana?”, kali ini Tika memasang wajah serius. Tangannya yang cukup lama terangkat itu pun dilipatnya di atas meja.
“Penyah dong! Di TV kan seying!”, jawab Fina mantap sambil mengunyah coklat. Fina yang sudah capek-capek serius langsung memasang wajah kecewa. Sedangkan Fazila yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bertiga pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Diantara keempat cewek berjilbab ini, memang Fazila lah yang paling terkesan pendiam. Mau bagaimana lagi? Ketiga temannya itu kelewat cerewetnya. Satu kalimat saja bisa jadi bahan obrolan sehari semalam.
“Udah ah, jangan ngomongin orang mulu. Cikitanya aja belum tentu dateng, udah pada heboh gitu”, kali ini Fazila ambil suara. Ditatapnya wajah teman-temannya sambil tersenyum.
“Ah kamu, ini masalah penting tau!”, jawab Tika dibarengi anggukan kedua temannya. Mereka terlihat gemas dengan sikap tenang Fazila. Dikroyok begitu, Fazila hanya cengengesan yang tentu membuat ketiga temannya bertambah gemas.
“Pentingan mana sama tugas bu Dian? Jam kosong begini jangan dibuat ngerumpi dong!”, balas Fazila sambil ngeloyor pergi meninggalkan ketiga temannya yang terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, terdengar suara koor teriakan mereka.
“Jangan dikumpulin dulu dooong, belum nyontek niih..!!!”
* * * * *
“Fazila nggak setia kawan nih!”
“Iya, setuju!”
“Setuju banget!”
Serempak ketiga jilbaber itu berdemo kecil-kecilan sesaat setelah disetrap oleh bu Dian karena tidak mengumpulkan tugas. Fazila hanya tertawa kecil menanggapi sikap ketiga temannya. Mereka pun jadi semakin jengkel. Melihat perubahan sikap dan wajah ketiga temannya yang semakin menyeramkan, Fazila pun angkat bicara.
“Iya deh maaf, habis kalian ngerumpinya nggak berhenti-berhenti sih”
Tika, yang paling jengkel dengan Fazila gara-gara bu Dian menambahkan hukumannya karena ketahuan memiliki kuku yang panjang pun buru-buru menjawab.
“Tapi kan nggak usah pake pelit cotekan gitu!”
Fazila langsung diam melihat Tami dan Fina yang mengangguk dan mendukung penuh kalimat Tika barusan. Sebenarnya, Fazila bukannya sengaja membuat ketiga temannya itu di hukum oleh bu Dian. Ia hanya ingin membuat mereka tidak selalu mengandalkan contekan. Hanya saja, mungkin bukan di waktu yang tepat.
“Iya deh maaf”, jawab Fazila tertunduk. Serempak ketiga temannya itu tertawa.
“Bercanda kaliiii..”
“Kita nggak semarah itu kok! Cuma lain kali jangan pelit contekan gitu dong!”
 Fazila pun terdiam, bingung. Kejadian lima menit setelah itu juga membuat Fazila bertambah bingung. Namun kali ini, Fazila tidak sendirian. Ketiga temannya yang sejak tadi menertawakan Fazila juga ikut bingung. Mungkin malah lebih bingung dibandingkan dengan kebingungan yang dialami oleh Fazila. Saking bingungnya, mereka jadi terlihat membingungkan. Nah lhoo, kalian ikut bingung juga nggak? Hihi ..
Kembali ke topik cerita. Yang membuat keempat gadis remaja itu bingung adalah kejadian di luar kelas yang dengan tidak sengaja mengundang perhatian mereka. Dari arah ruang Kepala Sekolah, tampak Fita sedang berlari diikuti gerombolan murid-murid dari berbagai kelas. Sepertinya dari kelas satu sampai tiga ada.
“Ada apaan sih?”, tanya Tika yang sudah nangkring di depan kelas. Kebetulan, saat itu Agus sang ketua kelas sedang berhenti di depan kelas sambil berdecak pinggang.
“Cikita Lilly yang selama ini jadi bahan omongan ternyata bukan artis! Mending kalo cakep, nah ini mukanya berbintang!”, jawab Agus sambil mengatur nafasnya yang naik turun nggak karuan. Wajahnya yang agak putih berubah menjadi merah karena saking marahnya.
“Lah terus kenapa Fita yang dikejer-kejer gitu? Kan katanya dia dapet informasi dari sumber yang terpercaya”, tanya Fina menimpali. Jilbabnya yang menjuntai ke bawah diikatnya di leher.
Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal, Agus pun menjawab dengan nada ketus. “Orang yang Fita sebut sumber yang terpercaya itu ya Fita sendiri! Dia cuma nggak sengaja nguping pembicaraannya Kepala Sekolah sama guru-guru!”.
“oooo..”
“Bantuin Fita dong, kasian tuh, kamu kan ketua kelas”, ujar Fazila menimpali. Raut wajahnya tampak prihatin.
“Ogah ah! Gue udah kesel berat!”, jawab Agus sambil ngeloyor pergi. Tampaknya memang Agus termasuk orang yang paling dirugikan dari kejadian ini. Maklum, Agus termasuk salah satu fans beratnya Cikita. Terlebih lagi, doi udah rela menghabiskan uang jajannya di salon untuk menyambut kedatangan sang bintang remaja itu.
“Trus gimana dong?”, Tami yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun buka suara. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ini menandakan bahwa Tami sedang berfikir keras.
“Yah, berhubung Agus udah nggak bisa diandalkan lagi. Berarti kita yang harus membantu Fita”, jawab Fazila sambil berjalan menghampiri kerumunan pada demonstran itu. Bukannya ikut menghampiri, ketiga gadis modis itu malah saling berpandangan. Satu menit, dua menit, terdengar teriakan koor mereka.
“Kita bantu dengan doa yaa..!!”
Saat itu juga, Fazila langsung berbalik badan dan menatap sinis ketiga temannya itu. Ditatap begitu, bukannya menghampiri, mereka malah ngacir tak tentu arah. Fazila pun hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung ketiga temannya yang berlari dengan arah yang berbeda-beda.