Minggu, Oktober 14, 2012

Daftar Redaksi Penerima Naskah

File tersedia di bawah postingan ini

TEKNIS STANDARD PENGIRIMAN NASKAH

Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.

Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe,gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga. Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.

Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp. Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN . Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim. “Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….” Selesai.

Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin. Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!

BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dantabloid yang menerima kiriman CERPEN. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dan honor pemuatan cerpen/puisi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda. Terima kasih.

1. Republika: sekretariat@republika.co.id, aliredov@yahoo.com
Tidak ada pemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuat puisi. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberapa rekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cair.

2. Kompas: opini@kompas.co.id, opini@kompas.com. Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email. Honor cerpen Rp. 1.100.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak), seminggu setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

3. Koran Tempo: ktminggu@tempo.co.id. Biasanya Nirwan Dewanto—penjaga gawang rubrik Cerpen Koran Tempo, meng-sms penulis terkait pemuatan cepen/puisi jika penulis mencantumkan nomer hp di email pengiriman. Honor cerpen tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp. 700.000,- honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp. 250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer seminggu setelah pemuatan.

4. Jawa Pos: sastra@jawapos.co.id. Jawa Pos menerima karya-karya pembaca berupa cerpen dan puisi atau sajak. Cerpen bertema bebas dengan gaya penceritaan bebas pula. Panjang cerpen adalah sekitar 10 ribu karakter. Honor cerpen Rp. 900.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (referensi Isbedy Stiawan Zs), ditransfer seminggu setelah cerpen/puisi dimuat.

5. Suara Merdeka: swarasastra@gmail.com. Kirimkan cerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal 9.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp. 350.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksi di kota Anda—jika ada.

6. Suara Pembaruan: koransp@suarapembaruan.com. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

7. Suara Karya: redaksi@suarakarya-online.com, amiherman@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

8. Jurnal Nasional: tamba@jurnas.com, witalestari@jurnas.com. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

9. Seputar Indonesia: redaksi@seputar-indonesia.com, donatus@seputar-indonesia.com. Tidak setiap hari Minggu memuat cerpen. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

10. Pikiran Rakyat: khazanah@pikiran-rakyat.com, ahda05@yahoo.com. Cerpen tayang per dua mingguan. Honor cerpen Rp. 350.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

11. Tribun Jabar: cerpen@tribunjabar.co.id, hermawan_aksan@yahoo.com. Selain ada cerpen berbahasa Indonesia setiap Minggu, juga ada cerpen bahasa Sunda setiap hari Kamis bersambung Jumat. Honor cerpen Rp. 200.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

12. Kedaulatan Rakyat: redaksi@kr.co.id, jayadikastari@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

13. Harian Joglo Semar (Yogyakarta): harianjoglosemar@gmail.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

14. Minggu Pagi (Yogyakarta): we_rock_we_rock@yahoo.co.id. Terbit seminggu sekali setiap Jumat. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi

15. Surabaya Post: redaksi@surabayapost.info, surabaya_news@yahoo.com,zahira@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- (potong pajak) hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

16. Radar Surabaya: radarsurabaya@yahoo.com, diptareza@yahoo.co.id. Honor cerpen Rp. 200.000,- (potong pajak) hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

17. Lampung Post: lampostminggu@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau minta tolong teman yang ada di Lampung untuk mengambilkan ke kantor redaksi.

18. Berita Pagi (Palembang): huberitapagi@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

19. Sumatera Ekspres (Palembang): citrabudaya_sumeks@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

20. Padang Ekspres: yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- s/d Rp. 125.000,- honor puisi Rp. 75.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, bisa diambil langsung, atau minta tolong teman mengambilkan honor ke kantor redaksi.

21. Haluan (Padang): nasrulazwar@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- honor puisi Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

22. Singgalang (Padang): hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id. Honor cerpen Rp. 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

23. Riau Pos: budaya_ripos@yahoo.com, habeka33@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

24. Sumut Pos: redaksi@hariansumutpos.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

25. Global (Medan): tejapurnama@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

26. Analisa (Medan): rajabatak@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

27. Sinar Harapan: redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

28. Jurnal Cerpen Indonesia: jurnalcerpen@yahoo.com, jurnalcerita@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

29. Majalah Horison: horisoncerpen@gmail.com, horisonpuisi@gmail.com. Honor cerpen Rp. 350.000,- honor puisi tergantung berapa jumlah puisi yang dimuat, biasanya dikirimi majalahnya sebagai bukti terbit. Hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi, dan kadang honor dikirim via wesel jika tidak ada nomer rekening.

30. Majalah Esquire: cerpen@esquire.co.id. Honor cerpen Rp. 1.000.000,- (potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi

31. Majalah Sabili: elkasabili@yahoo.co.id. Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

32. Majalah Suara Muhammadiyah: redaksism@gmail.com. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

33. Majalah Ummi: kru_ummi@yahoo.com. Tema cerpen seputar keluarga dan rumah tangga. Honor cerpen Rp. 250.000,- ditransfer paling telat satu bulan setelah pemuatan.

34. Majalah Kartini: redaksi_kartini@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 350.000,- dua minggu setelah pemuatan honor ditransfer ke rekening penulis.

35. Majalah Alia: majalah_alia@yahoo.com. Honor cerpen Rp. 300.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi

36. Majalah Femina: kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id

37. Majalah Story: story_magazine@yahoo.com. Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Konfirmasi pemuatan cerpen via telepon dari redaksi Story. Antrian pemuatan panjang, bisa 6 bulan sampai setahun. Honor cerpen Rp. 250.000,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

38. Majalah Annida-online: majalah_annida@yahoo.com. Konfirmasi pemuatan cerpen via email redaksi. Honor cerpen Rp. 50.000,- honor epik (cerita kepahlawanan) Rp. 100.00,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

39. Majalah Bobo: bobonet@gramedia-majalah.com. Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

40. Tabloid Nova: nova@gramedia-majalah.com. Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

RUBIK DI MEDIA YANG MENERIMA TULISAN DARI PEMBACA:

KORAN PIKIRAN RAKYAT (edar di Jawa Barat)
  1. Forum Guru ada hampir setiap hari. Memuat opini-opini guru dan tenaga kependidikan terkait masalah pendidikan, misalnya bimbingan belajar, UN, moral dll. Panjang tulisan 2000-3000 karakter. Email : forumguru@pikiran-rakyat.com. Sertakan foto.
  2. Cakrawala, tulisan tentang pengetahuan... umum. Ada setiap hari kamis, berisi 5-6 artikel.Biasanya satu penulis bisa dimuat 3 judul sekaligus dan masih berhubungan. Tapi bisa juga mengirimkan satu judul, nanti akan dimuat bersamaan tulisan lain yang temanya sama/sejenis. Panjang tulisan 4000 – 6000 karakter. email : cakrawala@pikiran-rakyat.com
  3. Khasanah, berisi tulisan tentang budaya. Bisa berupa cerpen, puisi atau feature. Dimuat setiap minggu.Panjang 4000 – 6000 karakter. email : khazanah@pikiran-rakyat.com
  4. Geulis, berisi tentang tips kecantikan dan kesehatan perempuan. Hadir setiap minggu. Panjang 4000 – 6000 karakter. email : geulis@pikiran-rakyat.com
  5. Kampus, untuk mahasiswa, tulisan seputar kampus dan perkulihan.Panjang 4000 – 6000 karakter. Email : kampus_pr@yahoo.com . Kalau gak salah tiap kamis.
  6. Opini tiap hari ada, kecuali sabtu dan minggu. Panjang 5000-6000 karakter. Kirim berserta foto ke email :opini@pikiran-rakyat.com

REPUBLIKA
Yang saat ini lagi naik daun di kalangan ibu-ibu adalah rubrik leisure. Leisure tayang setiap hari selasa.
  1. Buah hati, berisi tentang pengalaman pribadi yang unik, inspiratif dan bermanfaat dalam mengasuh anak. Tulisan sekitar 2500 karakter + foto
  2. Parenting, berisi artikel dan tips pengasuhan anak, sejauh ini sepertinya ditulis oleh redaktur republika, tapi tidak ada salahnya dicoba. Tulisan sekitar 4000-6000 karakter.
  3. Jalan-jalan, berupa pengalaman perjalanan ke suatu kota atau tempat wisata, bisa local, tidak harus luar negeri. Tulisan sepanjang 7500 karakter beserta foto-foto.
Untuk ketiga rubric di atas bisa dikirim ke leisure@rol.republika.co.id

JAWA POS / INDOPOS
  1. Perempuan Bercerita, tema bebas, 750 kata email ke her_relationship@jawapos.co.id
  2. Gagasan, usulan pendek tentang apa saja, panjang 250 kata, Opini, panjang 850 kata Keduanya email ke opini@jawapos.co.id sertakan CV, no rek, NPWP dan telp. Naskah yg 5 hari tidak dimuat otomatis dianggap kembali ke pengirim.

UMMI 
Majalah Keluarga Muslim yang terbit setiap bulan. Ada beberapa rubrik yang membuka peluang bagi penulis -di luar redaksi- untuk mengirimkan tulisan. Rubrik apa sajakah?
  1. Dunia Wanita: 1 halaman dengan panjang tulisan maksimal 3000 karakter. Berisi pengalaman pribadi, atau opini dengan sudut pandang perempuan. Tips agar dimuat: Manfaatkan tema yg sedang in di bulan tersebut. namun kirimkan naskah tersebut minimal 2 bulan sebelum momen. Misalnya jika ingin menulis dengan tema ramadhan, kirim naskahnya di bulan-bulan April-Mei. Karena proses penggarapan naskah dilakukan 2 bulan sebelum terbit, usahakan untuk mengambil topik atau pembahasan dengan agle yg unik. Misalnya ajakan untuk berbelanja ke warung, saat banyak orang memilih belanja di mal/pasar. tentu dengan didukung argumen yang menguatkan topik tersebut.
  2. Cerpen: 2 halaman dengan panjang naskah maksimal 6000 karakter. Tips: Ambil tema yang unik. Ummi menerima kira-kira 10-20 naskah baik online maupun setak setiap bulannya. namun, jarang yang temanya unik. Konflik juga kurang tergarap jadi cerpen cenderung datang. Cerpen dengan setting suatu daerah yg khas dg dialek lokal, biasanya memiliki satu poin lebih dibanding cerpen yg setingnya tidak jelas. Batasi jumlah tokoh, namun perkuat karakter tiap tokoh dalam cerpen tersebut.
  3. Cerpen Anak: 2 halaman, dengan panjang naskah maksimal 5500 karakter. Tips: pembaca cerpen anak, berusia 5-13 tahun. Usahakan temanya sederhana, bahasanya mudah dipahami dan berhikmah. boleh cerita biasa, imajinasi (misalnya tokohnya debu/awan/angin/pohon) atau fabel.
  4. Perjalanan: 2 halaman, panjang naskah 5700-an karakter. Tips: pilih lokasi/daerah/kota/negara yg unik, bisa karena 'sesuatu' yang tak biasa di sana. boleh juga mengangkat sisi sejarah yang tak banyak orang mengetahuinya. Mungkin ada agle yg berkaitan dengan keislaman, biasanya menjadi poin tambah dari tulisan tersebut. Usahakan deskriptif, sehingga pembaca bisa membayangkan bagaimana perjalanan menuju kesana, suasananya bagaimana (panas/dingin/hangat), gambarkan keunikannya misalnya bentuk rumah, sapaan khas penduduk lokal, dll. Sertakan foto, minimal 5 buah dengan ukuran file, kira2 500 kb- 1 MB. agar tidak pecah ketika di layout. berikan captoin/keterangan di bawah foto tersebut. foto bisa menguatkan isi artikel, bisa juga hal lain yg menarik namun belum termuat di artikel
Oya, naskah bisa dikirim ke kru_ummi@yahoo.com atau dikirim ke redaksi Ummi, Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur
Catatan:
Di Ummi edisi Maret 2012, ada informasi lomba untuk rubrik UFUK DALAM.

Redaksi IRFAN menerima tulisan dari luar untuk rubrik-rubrik berikut ini:
1. Cerpen
Ketentuan:
- Tema cerpen berisi hal-hal yang dapat membangun jati diri anak Indonesia
- Bernuansa Islami meskipun tidak harus melulu dengan simbol-simbol Islam.
- Panjang naskah 600-700 kata (cek word count)

2. Flora
Berisi informasi populer dan menarik tentang dunia tumbuhan.
Ketentuan naskah:
- Diutamakan memiliki unsur keunikan tertentu yang menambah pengetahuan baru.
- Panjang naskah 500-700 kata.
- Lebih disukai bila naskah disertai foto-foto penunjang, besar file masing-masing foto min. 400 KB.
- Sertakan keterangan kepemilikan copyright atau sumber jika menggunakan foto hasil karya orang lain.

3. Fauna
Rubrik yang memberikan informasi populer dan menarik tentang dunia hewan.
Ketentuan naskah:
- Diutamakan memiliki unsur keunikan tertentu yang menambah pengetahuan baru.
- Panjang naskah 500-700 kata.
- Lebih disukai bila naskah disertai foto-foto penunjang, besar file masing-masing foto min. 400 KB.
- Sertakan keterangan kepemilikan copyright atau sumber jika menggunakan foto hasil karya orang lain.

4. English Story
Cerita sederhana dalam bahasa Inggris yang bertujuan mengembangkan kemampuan bahasa Inggris anak-anak (target pembaca kelas 3 SD ke atas).
Ketentuan:
- Panjang naskah 400 – 600 kata
- Menyertakan terjemahan daftar kata sulit

5. Reportase Cilik
Pengisi rubrik ini khusus hanya anak-anak usia SD. Bertujuan untuk melatih kemampuan merangkum pengalaman dan fakta dalam bentuk tulisan.
Ketentuan:
- Panjang naskah 500-700 kata
- Berisi berita ringan tentang pengalaman kunjungan ke tempat-tempat yang menarik seperti museum, tempat bersejarah, wisata alam, sekolah, dan sejenisnya.
- Disertai file foto-foto penunjang dalam format asli (bukan hasil cropping)
- Disertai keterangan kepemilikan copyright foto. Silakan kirim naskah terbaik Anda ke redaksi@majalahanak-irfan.com.
CATATAN: 
1. Naskah dikirim dalam attachment (bukan di badan email)
2. Cantumkan nama rubrik dan judul naskah sebagai subject email supaya redaksi lebih mudah mengklasifikasikan naskah.
Terima kasih.

KAWANKU 
Syarat naskah cerpen 2011:
Cerpen remaja dengan ketentuan:
  1. Maks. 8 halaman A4, ketik 2 spasi, TNR 12.
  2. Kirim dengan subjek cerpen ke: cerpenkawanku@gmail.com
Terbit tiap hari Rabu, dua minggu sekali. Jika dalam waktu 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen tak layak muat.
Harga: Rp.15.000

ANEKA YESS!
Syarat naskah cerpen:
Cerpen remaja dengan ketentuan:
  1. Maks. 7 halaman folio, ketik 2 spasi.
  2. Sertakan surat pernyataan keaslian karya.
  3. Kirim dengan subjek FIKSI ke e-mail: aneka@indosat.net.id atau yess_pals@yahoo.com
Terbit tiap hari Rabu, dua minggu sekali. Jika dalam waktu 3 bulan tidakdimuat, berarti cerpen tak layak muat.
Harga: Rp.17.000

GADIS 
Syarat naskah cerpen:
Cerpen remaja dengan ketentuang:
  1. 6-7 halaman folio, ketik 2 spasi. Percikan (Cerpen Mini), cerpen remaja, maks. 2 hal polio dan ketik 2 spasi.
  2. Info Terbaru! Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN ke: Redaksi.GADIS@feminagroup.com
  3. Atau Kirim via Pos tulis CERPEN di pojok kanan amplop ke: Jl. HR Rasuna Said Blok B Kav 32-33Jakarta 12910 Telp. 021 526 6666
Terbit sepuluh hari sekali. Harga: Rp.17.000, edisi khusus: Rp. 23.000

HAI! 
Syarat naskah cerpen:
Cerpen remaja cowok dengan ketentuan:
  1. 6000-12000 karakter+spasi, ketik 2 spasi, kertas folio/A4 dalam format rtf.
  2. Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN ke: hai_magazine@gramedia-majalah.com / de2ayu@yahoo.com
Terbit tiap Senin. Harga: Rp.15.000, edisi khusus: Rp. 25.000

STORY 
Majalah remaja.
Syarat naskah:
  1. Cerpen remaja romance/sci-fi/horor/humor, 10.000-14.000 karakter+spasi, ketik 2 spasi, kertasfolio. Lampirkan fotomu yang paling keren.
  2. Cerbung: 26.000 – 40.000 karakter + spasi / sekitar 20-30 halaman
  3. Novelet: 30.000 –35.000 karakter + spasi / sekitar 23-35 halaman
  4. Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN ROMANCE/HOROR/HUMOR/SCI-FI tergantung jenis cerita ke: story_magazine@yahoo.com
Terbit tiap tanggal 25. Harga: Rp.18.000

CHIC 
Majalah wanita karir.
Syarat naskah cerpen:
  1. Cerpen metro-pop, maks. 6 – 8 halaman folio, ketik 2 spasi. Atau Maks. 8 halaman A4.
  2. Kirim dengan subjek CERPEN / STORY ke e-mail: chicstory@gramedia-majalah.com / chic_magazine@gramedia-majalah.com
Terbit tiap hari Rabu, dua minggu sekali. Harga: Rp.15.000

FEMINA 
Majalah wanita dewasa.
Syarat naskah cerpen:
  1. 6 – 8 halaman kuarto, ketik 2 spasi, huruf Arial 12.
  2. Kirim dengan subjek CERPEN via e-mail ke: redaksi@feminagroup.com
Terbit 2 Minggu sekali

KARTIKA 
Majalah wanita masa kini.
Syarat naskah cerpen:
  1. 4 – 8 halaman A4, ketik 2 spasi, huruf TNR 12.
  2. Kirim dengan subjek CERPEN via e-mail ke: majalahkartika@yahoo.com
Terbit 2 Minggu sekali

KARTINI 
Majalah wanita dewasa.
Syarat naskah cerpen:
  1. 4 – 8 halaman A4, ketik 2 spasi, huruf TNR 12.
  2. Kirim dengan subjek CERPEN via e-mail ke: redaksi_kartini@yahoo.com
Terbit 2 Minggu sekali

UMMI 
Majalah dewasa/keluarga islami.
Syarat naskah cerpen:
  1. maks. 8 halaman folio, ketik 2 spasi, huruf TNR 12.
  2. Sertakan fotokopi identitas.
  3. Kirim dengan subjek CERPEN via e-mail ke: kru_ummi@yahoo.com Poskan ke: Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur 13120 Telp. 021 858 0569
Terbit 2 Minggu sekali

HORISON (majalah sastra) 
  1. horisonpuisi@gmail.com (untuk pengiriman naskah puisi)
  2. horisoncerpen@gmail.com (untuk pengiriman naskah cerpen)
  3. horisonesai@gmail.com (untuk pengiriman naskah esai)
  4. horisonkakilangit@gmail.com (untuk pengiriman naskah khusus siswa/pelajar) horisonsurat@gmail.com (untuk surat penyurat dan berlangganan)
Catatan: Setiap naskah yang dikirim harus disertakan biodata lengkap, alamat lengkap, nomor telp/HP yang dapat dihubungi, foto, dan nomor rekening (bila ada) untuk mempermudah administrasi pemuatan. Terima kasih.

TABLOID 
Gaul 
Syarat cerpen:
  1. cerpen teenlit, maks. 8 hal. Folio, ketik 1,5 spasi, sekitar 10.000 karakter+spasi.
  2. Via e-mail: tabloid.gaul@yahoo.co.id
  3. Kirim via pos ke: Redaksi Gaul Jl. Kedoya Duri Raya No. 36, Kebun Jeruk, JakartaBarat 11520 Telp. 021 5835 9109
Terbit tiap Senin Harga: Rp.8000, - 10.000

Keren Beken 
Syarat naskah cerpen:
  1. Cerpen remaja, Min. 4 halaman komputer, Maks. 7 halaman folio, ketik 2 spasi.
  2. Sertakan surat pernyataan keaslian karya.
  3. Kirim dengan subjek FIKSI ke-mail: aneka@indosat.net.id Atau Pos ke: Redaksi Keren Beken Jl. Salemba Tengah No. 58, Jakarta Pusat 10440 Telp. 021 230 6188
Terbit dua minggu sekali tiap Senin. Harga: Rp.8000

Teen 
Syarat naskah cerpen:
  1. Cerpen teenlit, maks. 6 hal A4, ketik1,5 spasi.
  2. Kirim via pos ke: Redaksi Teen, Jl. Guru Mughni No. 2, Karet Kuningan, Jakarta Selatan 12940 Telp. 021 527 6325
Terbit tiap Sabtu, 2 Minggu sekali Harga: Rp.15.000

Top Idol
Syarat cerpen:
  1. cerpen teenlit, sekitar 5000 karakter (tanpa spasi?), 12 TNR, ketik 1,5 spasi, 1 hal. kertas A4, Surat Pernyataan Naskah Asli, sekitar 10.000 karakter+spasi.
  2. Via e-mail: redaksi@topidolindonesia.com
Terbit Tiap Senin, 2 Minggu sekali Harga: Rp.7000,

Dear para calon penulis,
Jika Anda memiliki naskah boleh banget mengirimkannya ke redaksi agensi naskah Indscript Creative. Kami mencari naskah JEMPOLAN yang siap kami promosikan ke berbagai penerbitan. Ikuti spesifikasi pengiriman naskah berikut ini:
1. Judul dan nama penulis (dalam satu halaman)
2. Sinopsis
3. Daftar isi
4. Naskah isi
5. Profil penulis
6. Biodata penulis lengkap (jangan lupa karya yang pernah diterbitkan ditulis ya)
Sistematika pengetikan Times New Roman, 12 poin, 1,5 spasi, minimal naskah 120 hal.
Kirimkan ke: indscript.creative@gmail.com, subject: TITIP NASKAH

Selamat menulis dan mudah-mudahan bisa bekerjasama dengan kami,
Redaksi agensi naskah Indscript Creative

Berikut saya lampirkan file yang berisi informasi seperti di atas untuk di download: DOWNLOAD FILE
Sumber : Ae Publishing

Kamis, Oktober 11, 2012

Cara Kirim Tulisan ke Annida Online


Mengutip pertanyaan yang tertera pada situs Annida Online (www.annida-online.com) :

  1. Bagaimana cara kirim tulisan ke annida-online? Rubrik apa saja yang menerima tulisan dan apa saja kriterianya?
  2. Jawab: Cara kirim tulisan ke Annida gampang banget Sob, coba klik KIRIM TULISAN yang ada di bagian bawah web Nida! Download persyaratan tulisannya! Di situ lengkap penjelasan kriteria tulisan dan cara kirimnya juga. Kamu bisa kirim berbagai jenis tulisan ke annida-online Sob! Yang senang tulisan imajinasi alias fiksi bisa ikutan mengisi rubrik Galaxy Fiksi: Cerpen, Cerbung, Cerpen Interaktif, Cerpen Ngocol, Epik.
    Buat yang suka menulis non fiksi, rubrik di Annida terbagi menjadi 2: Dari Nida & Dari Sobat Nida, semua rubrik Dari Sobat Nida berarti bisa kamu ikutan kirim naskah Sob!
    Ada Kisah Sejati; Citizen Journalism; Review Lagu; Travelstory; Info Buku; Dapur Penulis. Semua bisa kamu coba!

  3. Bagaimana cara mengirim puisi?
  4. Jawab: Puisi ada di Forum Cafe Nida, Sob! Nama rubriknya "Secangkir Syair".
    Cara kirim puisi:
    1. Daftar member Cafe Nida (harus dapat approve dari admin dulu)
    2. Posting puisimu langsung di Secangkir Syair
    3. Ajak teman-temanmu untuk ikut memberi komentar!

  5. Bagaimana cara berlangganan majalah Annida?
  6. Jawab: Annida sudah tidak terbit versi majalahnya sejak Juli 2009 Sob.
    Akan tetapi, insya Allah mulai April 2012, Annida akan kembali cetak. Terbit per 3 bulan. Hanya saja sistemnya Printing On Demand, jadi tidak dijual bebas Sob.

  7. Cerpen yang saya kirim sudah diterima belum?
  8. Jawab: Kamu bisa menanyakan di Buku Tamu perihal cerpen yang kamu kirimkan. Insya Allah Buku Tamu dibalas setiap hari kerja Sob.

  9. Bagaimana nasib cerpen saya?
  10. Jawab: Nasib cerpen yang dikirim ke annida-online paling lambat 2 bulan sudah akan mendapat jawaban Sob. Kamu bisa memantau nasib tulisan yang kamu kirim di rubrik Cerpen Rijek.
    Jika sudah masuk Cerpen Rijek, berarti kamu bebas mengirim tulisanmu ke media lain, atau kamu boleh merevisinya kembali sesuai saran/ komen redaktur Nida, kemudian mengirim ulang hasil revisinya ke annida-online untuk diseleksi kembali.

  11. Apakah cerpen yang dikirim ke annida akan mendapat honor?
  12. Jawab: Hati-hati menyimak jawaban Nida:
    Cerpen yang DIKIRIM ke Annida tentu saja tidak mendapat honor, akan tetapi cerpen yang DIMUAT Annida akan mendapat honor Rp. 70 ribu/cerpen (kebijakan 2012).
    Tidak hanya cerpen, tulisan lain pun jika dimuat akan mendapat honor, minimal mendapat bingkisan dari Annida. Untuk lebih jelas, silakan klik KIRIM TULISAN. Kemudian Download Persyaratan Tulisan! Daftar honor rubrik Annida ada di dicantumkan di sana.

  13. Kalau mau kerjasama dengan Annida bagaimana caranya?
  14. Jawab: Nida sangat terbuka dengan berbagai tawaran bentuk kerjasama. Kamu bisa menghubungi Nida dengan berbagai cara:
    1. Telepon ke redaksi 021-8193242 ext. 210
    2. SMS ke redaksi 0838-99-6474-39
    3. Kirim pesan di Fb: Annida Online atau Redaksi Annida
    4. Kirim pesan di twitter: @Annida_Online
    5. Via email ke majalah_annida@yahoo.com

Untuk info cara pengiriman dan aturan penulisan naskah, silahkan klik link ini : Cara Kirim Tulisan

Rabu, September 12, 2012

Ulasan Cerpenku oleh FAM Indonesia

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerpen “tanpa judul” karya Hannan Izzaturrofa, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Purwokerto. Ya, cerpen ini benar-benar tidak berjudul, disengaja oleh penulisnya dan diserahkan ke Tim FAM untuk diulas. Tentu diharapkan nanti cerpen ini diberikan judul. Ibarat tubuh manusia, judul adalah kepalanya. (Sebenernya berjudul, hanya saja judulnya aku jadikan nama file untuk menyimpan naskah cerpen ini-Hannan Izzaturrofa)

Cerpen ini berkisah tentang Dido, seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental. Ia sulit berbicara. Tentu saja ini menjadi kekhawatiran orangtuanya. Bagaimanapun, orangtua pasti ingin anaknya lahir dalam keadaan normal dan bisa menjadi kebanggan keluarga. Namun hal ini tidak terjadi dalam keluarga miskin, yang seharinya-harinya mengais rejeki dengan menjadi pembantu di kediaman pak Suryo.

Ada sebuah pesan yang menarik yang diungkapkan penulis dalam cerpen ini. Diceritakan, ayah Dido sangat marah ketika Dido dihina oleh Tuan Suryo. Ia rela jika dirinya dihina, tapi tidak untuk anaknya. Ini adalah sebuah pesan yang ditujukan bagi siapa pun yang memiliki anak dalam kondisi tidak normal bahwa sebagai orangtua yang baik seharusnya tetap memperlakukan anaknya dengan baik. Jika kita lihat, banyak orangtua yang merasa malu memiliki anak cacat, bahkan ada yang tega membuang dan tidak mengakui anaknya.

Pemilihan kata yang digunakan oleh penulis cukup bagus. Teknik penulisannya juga. Hanya saja, ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan EYD. Misalnya kata ‘ditangannya’ pada paragraf ketiga, seharusnya ditulis ‘di tangannya’. Penulisan kata ‘di’ jika diikuti kata tempat adalah dipisah.
Secara keseluruhan cerpen ini baik, termasuk juga dalam segi ide cerita. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin membaik.
Semangat berkarya!
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

CERPEN (TANPA MENYERTAKAN JUDUL)
Oleh Hannan Izaturrofa   
IDFAM861S Anggota FAM Purwokerto
Pagi itu memang pagi yang indah. Anak-anak yang seharusnya tahu diri membantu orang tuanya malah masih tertidur pulas bercengkerama dengan mimpi masing-masing. Suara adzan subuh yang terdengar lantang itu hanya mampu membuat mereka sedikit bergerak, lalu kembali tertidur pulas. Berbeda sekali dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu.
Anak itu sedang sibuk memetik buah apel berwarna hijau di kebun milik majikannya, Tuan Suryo. Wajahnya serius. Dengan susah payah, tangan kanannya berusaha meraih buah apel tertinggi. Gesit. Terampil tangannya meraih. Ia tersenyum, mengumpulkan apel-apel yang terjatuh, kemudian kembali mencari buah apel yang cukup matang  untuk dipetik. Ia cekatan dan sangat teliti.
10 menit. Ia masih sibuk. Malangnya, tumpuan kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya yang tidak seimbang. GUBRAK! Seketika itu juga apel-apel hijau ditangannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa kayu-kayu. Ia tidak menangis, hanya meringis menahan sakit. Tangan dan kakinya terluka.
 “Baaa.. Maa…”, teriak anak itu. Ia merangkak, berusaha bangkit. Tangan dan kakinya terasa perih.
Dari kejauhan, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya penuh guratan-guratan lelah. Kulitnya hitam legam, terlalu lama terbakar sinar matahari. Wajahnya ramah, sangat bersahabat. Walaupun seketika berubah menjadi cemas.
Dengan sigap, digendongnya anak itu menuju gubuk tua yang tidak jauh dari situ. Gubuk itu memang sudah tua. Pondasinya sudah rapuh, dengan kayu-kayu yang sudah berlubang di sana-sini. Bukan cinta alasan yang tepat untuk tinggal di gubuk tua itu, namun karena tidak memiliki uang lebih untuk membangun gubuk yang lebih layak. Untuk membeli makan saja masih harus berhutang.
Dengan kain abu-abu tua dan air seadanya, dibersihkannya luka-luka itu. Cepat, namun berhati-hati. Anak itu tertawa. Tangannya terangkat meraih. Rupanya ia ingin mengobati lukanya sendiri. Pria itu menggeleng, lalu tersenyum. Tahu keinginannya tidak dituruti, anak itu sontak menangis. Meronta-ronta, menarik-narik apa saja yang ada di hadapannya.
Setelah sekian lama meronta-ronta, anak itu lalu terdiam. Lelah. Ia malah sibuk memandangi luka-lukanya. Mungkin ia terheran mengapa luka itu bisa ada di tubuhnya. Atau mungkin juga sedang mencari tahu mengapa luka-luka itu bisa memerah, terasa sakit ketika disentuh, atau yang lainnya.
“Apa yang terjadi dengan Dido?”, terdengar suara serak parau dari arah dapur. Seorang wanita dengan sehelai kain yang menutupi kepalanya menghampiri dengan senyum yang agak dipaksakan. Wajahnya tidak kalah lelah dengan pria tadi.
“Dido terjatuh. Tangan dan kakinya terluka. Tapi sudah diobati”, jawab pria itu seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Masih sakit?”, tanya wanita itu lembut. Dido mengangguk pelan, menunjukkan tangan dan kakinya yang masih memerah.
“Sebentar lagi pasti sembuh. Ini tidak akan lama”, ucap wanita itu sambil tersenyum. Diambilnya sepiring nasi dan lauk seadanya dari atas meja tua.
“Baaa.. Maa..”, teriak Dido girang. Lahap sekali ia makan. Sepiring nasi aking dan bayam goreng.
***
7 tahun silam. Ketika itu langit masih berwarna kemerah-merahan. Seorang wanita dengan pakaiannya yang lusuh sedang bermain bersama anak semata wayangnya. Tampak di sudut matanya sebuah kekhawatiran. Di ujung sana, sekumpulan wanita paruh baya sedang menyuapi anak-anaknya yang terus berlarian entah kemana. Ada yang berteriak, ada yang saling lempar, dan ada pula yang duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Mereka semua tertawa, menikmati sisa-sisa sinar matahari yang masih ada.
Ada sebersit rasa iri di benak wanita itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Dibelainya kepala anaknya yang masih sibuk dengan gumpalan tanah. Sesekali anak itu berteriak, melempar seluruh tanah yang digenggamnya. Tidak peduli jika tanah yang dilemparnya itu mengenai matanya. Ia hanya tertawa, mengucek-ngucek matanya yang memerah, lalu kembali bermain dengan tanah-tanah itu.
Ya Allah, mengapa anakku berbeda?
Dido, anak semata wayang yang dulu diharapkannya tidak seperti anak-anak lainnya. Entahlah, Dido tidak bisa berbicara dengan lancar. Bibir mungilnya hanya bisa mengucapkan kata ‘Maa’ dan ‘Baa’ setiap kali ia ingin berbicara. Dido juga mengalami keterbatasan mental. Sebuah kenyataan yang buruk jika melihat kondisi keluarganya yang pas-pasan.
Keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalimat itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir dari-Nya.
***
“Itu apel milikku!”, teriak seorang anak laki-laki dari balik pintu bangunan yang megah. Dengan sigap, ia berlari menghampiri Dido dan langsung merebut karung gandum itu. Kasar sekali. Wajahnya tampak garang. Apel-apel di dalam karung gandum itu ditumpahkannya ke tanah.
“Baa.. Maa..”, merasa terganggu, Dido berteriak. Tangannya berusaha mengumpulkan apel-apel yang jatuh ke tanah. Tapi anak itu menghalaunya. Dido menggeram keras.
“Ini apel milikku! Kau tidak boleh mengambilnya!”
“Baa.. Maa..”
Dido menangis. Ia meronta-ronta. Anak laki-laki yang merebut apel-apel itu tertawa mengejek. Dengan santai, ia memakan apel-apel itu, lalu melempari Dido dengan sisa apel yang dimakannya. Kali ini Dido merasa sangat terganggu. Dengan cepat, ia mengambilnya batu di sekitarnya.
Sepersekian detik, batu itu mendarat tepat mengenai pelipis mata anak itu. Sontak ia menangis, berteriak memanggil ayahnya. Lima menit. Seorang pria berkulit putih bersih keluar dari pintu bangunan mewah itu. Berjalan dengan gagah, namun tampak sombong. Wajahnya merah padam.
“Apa yang kau lakukan dengan anakku!”, bentaknya. Ia lalu mendorong Dido keras. Terjerembab. Lukanya yang sudah agak mengering basah kembali.
“Baa.. Maa..”
“Jangan sakiti anakku tuan”, suara lantang itu memecah, terdengar jelas. Pria berkulit hitam itu melangkah menghampiri Dido yang sedang meringis kesakitan.
“Kau membelanya? Apa yang bisa kau banggakan dari anakmu yang cacat ini?!”, hardiknya keras. Jari telunjuknya teracung-acung ke depan.
Sontak saja pria berkulit hitam itu marah. Wajahnya memerah, menggeram garang. Bukan karena keadaannya yang miskin. Bukan. Ia marah karena Dido, anak semata wayangnya dihina. Tidak ada yang boleh menghina Dido.
“Tuan tidak boleh menghina Dido!”, teriaknya lantang. Ditariknya Dido menjauh.
“Akan saya kurangi gaji kau karena telah melawanku!”, teriak Tuan Suryo. Pria itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan beriringan dengan Dido meninggalkan Tuan Suryo dan anaknya.
“Baa.. Maa..”, Dido melawan. Ia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam pria itu. Tuan Suryo dan anaknya sudah berbalik. Dido membungkuk. Diraihnya sisa-sisa apel tadi.
***
“Darimana kau dapatkan apel itu Dido!”, hardik wanita itu. Dengan keras ia menggenggam dan memukul lengan Dido dengan ranting sisa kayu bakar. Sakit. Dido berteriak meronta-ronta. Genggaman itu semakin kuat. Dido berusaha melepaskan genggaman itu.
“Diam! Siapa yang mengajarimu untuk menjadi seorang pencuri! Kau mau memberi Ibu apel hasil curian?!”
“Baa.. Maa..”, tangisan Dido semakin mengeras. Ia kembali meronta-ronta, berteriak mencari pertolongan. Pria yang sedari tadi memperhatikan Dido dan wanita itu hanya bisa meringis mengelus dada. Ia ingin membela, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.
“Kembalikan apel itu! Ayo kembalikan!”, dengan keras, wanita itu menarik lengan Dido keluar rumah. Dido kembali meronta-ronta namun tidak dipedulikan.
Baru beberapa langkah, kaki wanita itu terhenti ketika melihat sebuah pohon apel yang baru dilihatnya. Pohon itu tumbuh tidak jauh dari gubuk tuanya. Tampak cukup besar, namun ia sama sekali tidak menyadari keberadaan pohon itu. Ditatapnya pohon apel itu lumat-lumat. Genggaman tangannya perlahan terlepas. Dido yang merasa sudah terbebas itupun langsung berlari menghampiri pohon apel itu.
“Baa.. Maa..”, teriaknya sambil melambai-lambai.
Wanita itu menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya.
“Mengapa ada pohon apel tumbuh di situ? Bukankah batas kebun milik Tuan Suryo ada di depan rumah kita? Ini kan diluar jalur mereka”, tanya wanita itu terheran-heran.
“Itu bukan milik Tuan Suryo”, jawab pria itu. Pandangannya lurus menatap Dido.
“Maksudnya?”
Pria itu tidak menjawab. Ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Dido yang masih berteriak, tertawa-tertawa. Wanita itu semakin penasaran. Diikutinya langkah suaminya itu.
“Dido yang menanamnya. Ia menanamnya dari sisa apel yang dibuang oleh anak Tuan Suryo. Dia yang merawatnya. Ia sangat sayang padamu. Ia tahu kau sangat menyukai buah apel”
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh wanita itu bergetar. Air matanya tak mampu dibendung lagi, mengalir deras. Tubuhnya melemas. Ia tersungkur persis di depan Dido.
“Baa.. Maa..”, ucap Dido menghampiri. Dijulurkannya buah apel yang baru dipetiknya. Dido tersenyum, manis sekali.
Tangis wanita itu semakin keras. Dipeluknya tubuh Dido. Ia masih bergetar.
Wanita itu tersadar. Sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan, Dido bukanlah seorang pencuri seperti yang ia kira. Dido bukan seorang pengecut. Keterbatasan ternyata tidak menghambat keinginannya untuk memetikkan buah apel, hadiah untuknya. Betapa bodohnya ia, tidak menyadari kesibukan Dido selama ini. Yang ia tahu, Dido hanya bermain dan terus bermain. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Dido telah bersusah payah untuk menanamkan pohon apel untuknya.
Ia sangat menyesal dengan tindakannya. Sangat menyesal. Lihatlah. Dido masih mau dipeluknya. Ia masih mau tersenyum, bahkan kembali memetikkan buah apel untukknya. Padahal, luka di lengannya masih mengeluarkan darah. Perih sekali.
“Maaf sayang.. Maafkan Ibu.. Ibu sayang Dido..”, sesalnya.
“Tidak usah menangis. Lihatlah, Dido tidak suka dengan raut wajahmu yang terlihat sedih”, ucap pria itu. Dibopongnya tubuh wanita itu, bangun.
Ibu sayang Dido.. Ibu akan selalu menjaga Dido.. Sekuat Ibu.

Kamis, Maret 15, 2012

Serial-Fazila:Ada Bintang Jatuh?

 “Eh, katanya sekolah kita bakal kedatangan anak baru. Dan anak baru itu bakal sekelas sama kita loh!”, teriak Fita dari atas meja guru, persis seperti orang yang sedang berdemo. Tapi dari 39 murid yang diteriaki, tidak ada satupun yang menjawab. Semua asyik dengan kesibukannya masing-masing. Hanya ada satu-dua orang yang menoleh, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggerombol dengan geng-nya masing-masing.
Tapi bukan Fita namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia pun kembali berkoar-koar sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.
“Anak baru itu namanya Cikita Lilly, yang suka nongol di TV itu looh!”
Teriakan kali ini ternyata lebih manjur dari yang sebelumnya. Suasana kelas I-3 yang sebelumnya sunyi senyap pun berubah drastis. Ada yang berteriak, ada yang joget-joget nggak karuan, ada pula yang menangis, entah apa alasannya. Fita yang masih setia di atas meja pun tersenyum puas sambil berdecak pinggang. Satu menit, dua menit, pertanyaan demi pertanyaanpun terlontar. Dengan gayanya yang sok elegan, Fita pun turun dari singgasananya dan langsung menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar bak artis yang sedang diwawancarai.
Kabar kedatangan Cikita Lilly ke SMA 44 pun langsung menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Tidak hanya penghuni tetap saja, tetapi abang-abang becak, mbak-mbak kantin, sampai pedagang-pedagang kaki lima pun tahu kabar ini. Mereka para mbak-mbak kantin yang ngakunya terbelakang soal biaya tapi tetap gaul itu pun heboh mempersiapkan segala macamnya. Dari mandi pake kembang tujuh rupa sampai make up yang katanya bisa sedikit memperbaiki wajah. Padahal, lebih mirip ondel-ondel daripada terlihat makin cantik. Abis, menor gituu ..
Tapi jelas, diantara mereka-mereka yang sibuk berlomba-lomba mempersiapkan kedatangan Cikita ke sekolah, kelas I-3 lah yang terlihat paling sibuk. Bukan hanya sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing, tetapi mereka juga sibuk menghebohkan kelas lain. Bagaimana tidak? Menurut sumber yang terpercaya, kepala sekolah akan menempatkan Cikita di kelas mereka. Tentu saja ini membuat iri kelas lain.
Walaupun begitu, dari beribu-ribu murid yang tampak heboh dengan segala sesuatunya, ternyata ada secuil murid yang cuek, atau malah terkesan masa bodo dengan kedatangan artis yang lagi ngetop-ngetopnya itu. Kalau kita tanya alasannya, pasti mereka dengan santai menjawab, Lah, sama-sama manusia, makan nasi juga, ngapain sampe heboh gitu, ya toh?
Sebenarnya kalau kita mau berfikir sedikit, pendapat mereka juga banyak benarnya. Artis kan juga manusia. Sama-sama makan nasi walaupun kadang lauk-pauknya terlihat berkelas. Sama-sama manusia ciptaan Allah. Pokoknya banyak kesamaannya deh dengan orang bias. Tapi ya, walaupun begitu, artis tetap saja artis. Memiliki penggemar atau umumnya disebut  fans merupakan hal yang wajar bagi dunia per-artisan.
* * * * * *
“Mereka itu norak!”, komentar Tami saat jam kosong. Bu Dian, guru mata pelajaran Biologi yang seharusnya sekarang mengajar sedang berhalangan hadir.
“Setuju!”, jawab Tika antusias. Tangannya yang mengepal diangkatnya ke atas, persis seperti orang-orang yang sedang berdemo. Untung saat itu kelas sedang sepi.
“Mereka kayak nggak pernah ketemu artis aja ya!”, balas Fina, gadis subur yang baru sebulan ini memantapkan diri untuk memakai jilbab. Kedua tangannya sibuk menggenggam berbagai macam jenis coklat.
“Emang kamu pernah ketemu sama artis? Dimana? Dimana?”, kali ini Tika memasang wajah serius. Tangannya yang cukup lama terangkat itu pun dilipatnya di atas meja.
“Penyah dong! Di TV kan seying!”, jawab Fina mantap sambil mengunyah coklat. Fina yang sudah capek-capek serius langsung memasang wajah kecewa. Sedangkan Fazila yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bertiga pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Diantara keempat cewek berjilbab ini, memang Fazila lah yang paling terkesan pendiam. Mau bagaimana lagi? Ketiga temannya itu kelewat cerewetnya. Satu kalimat saja bisa jadi bahan obrolan sehari semalam.
“Udah ah, jangan ngomongin orang mulu. Cikitanya aja belum tentu dateng, udah pada heboh gitu”, kali ini Fazila ambil suara. Ditatapnya wajah teman-temannya sambil tersenyum.
“Ah kamu, ini masalah penting tau!”, jawab Tika dibarengi anggukan kedua temannya. Mereka terlihat gemas dengan sikap tenang Fazila. Dikroyok begitu, Fazila hanya cengengesan yang tentu membuat ketiga temannya bertambah gemas.
“Pentingan mana sama tugas bu Dian? Jam kosong begini jangan dibuat ngerumpi dong!”, balas Fazila sambil ngeloyor pergi meninggalkan ketiga temannya yang terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, terdengar suara koor teriakan mereka.
“Jangan dikumpulin dulu dooong, belum nyontek niih..!!!”
* * * * *
“Fazila nggak setia kawan nih!”
“Iya, setuju!”
“Setuju banget!”
Serempak ketiga jilbaber itu berdemo kecil-kecilan sesaat setelah disetrap oleh bu Dian karena tidak mengumpulkan tugas. Fazila hanya tertawa kecil menanggapi sikap ketiga temannya. Mereka pun jadi semakin jengkel. Melihat perubahan sikap dan wajah ketiga temannya yang semakin menyeramkan, Fazila pun angkat bicara.
“Iya deh maaf, habis kalian ngerumpinya nggak berhenti-berhenti sih”
Tika, yang paling jengkel dengan Fazila gara-gara bu Dian menambahkan hukumannya karena ketahuan memiliki kuku yang panjang pun buru-buru menjawab.
“Tapi kan nggak usah pake pelit cotekan gitu!”
Fazila langsung diam melihat Tami dan Fina yang mengangguk dan mendukung penuh kalimat Tika barusan. Sebenarnya, Fazila bukannya sengaja membuat ketiga temannya itu di hukum oleh bu Dian. Ia hanya ingin membuat mereka tidak selalu mengandalkan contekan. Hanya saja, mungkin bukan di waktu yang tepat.
“Iya deh maaf”, jawab Fazila tertunduk. Serempak ketiga temannya itu tertawa.
“Bercanda kaliiii..”
“Kita nggak semarah itu kok! Cuma lain kali jangan pelit contekan gitu dong!”
 Fazila pun terdiam, bingung. Kejadian lima menit setelah itu juga membuat Fazila bertambah bingung. Namun kali ini, Fazila tidak sendirian. Ketiga temannya yang sejak tadi menertawakan Fazila juga ikut bingung. Mungkin malah lebih bingung dibandingkan dengan kebingungan yang dialami oleh Fazila. Saking bingungnya, mereka jadi terlihat membingungkan. Nah lhoo, kalian ikut bingung juga nggak? Hihi ..
Kembali ke topik cerita. Yang membuat keempat gadis remaja itu bingung adalah kejadian di luar kelas yang dengan tidak sengaja mengundang perhatian mereka. Dari arah ruang Kepala Sekolah, tampak Fita sedang berlari diikuti gerombolan murid-murid dari berbagai kelas. Sepertinya dari kelas satu sampai tiga ada.
“Ada apaan sih?”, tanya Tika yang sudah nangkring di depan kelas. Kebetulan, saat itu Agus sang ketua kelas sedang berhenti di depan kelas sambil berdecak pinggang.
“Cikita Lilly yang selama ini jadi bahan omongan ternyata bukan artis! Mending kalo cakep, nah ini mukanya berbintang!”, jawab Agus sambil mengatur nafasnya yang naik turun nggak karuan. Wajahnya yang agak putih berubah menjadi merah karena saking marahnya.
“Lah terus kenapa Fita yang dikejer-kejer gitu? Kan katanya dia dapet informasi dari sumber yang terpercaya”, tanya Fina menimpali. Jilbabnya yang menjuntai ke bawah diikatnya di leher.
Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal, Agus pun menjawab dengan nada ketus. “Orang yang Fita sebut sumber yang terpercaya itu ya Fita sendiri! Dia cuma nggak sengaja nguping pembicaraannya Kepala Sekolah sama guru-guru!”.
“oooo..”
“Bantuin Fita dong, kasian tuh, kamu kan ketua kelas”, ujar Fazila menimpali. Raut wajahnya tampak prihatin.
“Ogah ah! Gue udah kesel berat!”, jawab Agus sambil ngeloyor pergi. Tampaknya memang Agus termasuk orang yang paling dirugikan dari kejadian ini. Maklum, Agus termasuk salah satu fans beratnya Cikita. Terlebih lagi, doi udah rela menghabiskan uang jajannya di salon untuk menyambut kedatangan sang bintang remaja itu.
“Trus gimana dong?”, Tami yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun buka suara. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ini menandakan bahwa Tami sedang berfikir keras.
“Yah, berhubung Agus udah nggak bisa diandalkan lagi. Berarti kita yang harus membantu Fita”, jawab Fazila sambil berjalan menghampiri kerumunan pada demonstran itu. Bukannya ikut menghampiri, ketiga gadis modis itu malah saling berpandangan. Satu menit, dua menit, terdengar teriakan koor mereka.
“Kita bantu dengan doa yaa..!!”
Saat itu juga, Fazila langsung berbalik badan dan menatap sinis ketiga temannya itu. Ditatap begitu, bukannya menghampiri, mereka malah ngacir tak tentu arah. Fazila pun hanya bisa mendengus kesal sambil menatap punggung ketiga temannya yang berlari dengan arah yang berbeda-beda.

Minggu, Februari 19, 2012

Kenangan

Pernah aku mengingat
Sebuah nama, sebuah cerita
Indah manis madu menyengat
Hidup bagai di hamparan awan angkasa

Sakit, memang sakit
Tapi itu manis, meski teriris-iris
Aku lelah, aku letih
Ketidakberdayaan membelengguku
Mengikat kuat asaku

Kenangan, tinggal-lah kenangan
Yang dulu indah, kini menjatuhkan
Sebesar apapun aku berangan-angan
Kenangan, tetaplah kenangan

Ingatan Masa Lalu (bagian 1)

Sore itu, langit begitu gelap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30. Tapi, suasana sekitar perumahanku sudah tampak seperti malam. Dzaaar!! Terdengar suara petir menyambar dengan kerasnya. Tubuhku menggigil, takut. Ku raih selimut untuk menutupi wajahku. Namun, petir kembali menyambar. Yang ini lebih keras dari sebelumnya. Badanku seperti membeku. Padahal AC di kamarku sudah kumatikan. Terbayang kembali peristiwa sepuluh tahun lalu, peristiwa yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku.
Waktu itu, aku dan keluargaku hendak pergi ke Jakarta untuk berlibur. Tidak ada perasaan atau prasangka yang buruk akan hari itu. Sepanjang perjalanan, kami bercanda ria dan tertawa. Hingga akhirnya sebuah truk dari arah berlawanan hilang kendali sehingga menabrak bagian depan mobil kami. Aku yang masih berumur tujuh tahun hanya diam. Bibirku terasa kaku, aku ingin berteriak. Tapi tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibirku. Aku merasa takut, benar-benar takut saat itu.
Truk itu telah merenggut kebahagiaanku! Kebahagiaan kami! Tak henti-hentinya aku menangis ketika melihat kedua orang tuaku telah terbujur kaku. Aku memang masih sangat kecil waktu itu. Tapi aku tahu, kalau kedua orang tuaku kini telah meninggalkanku. Kedua kakakku sedang mengalami masa kritis. Aku sangat takut. Begitu takut. Apa yang harus aku lakukan jika aku nantinya tidak memiliki siapa-siapa lagi? Dengan siapa aku harus berbagi kisah? Tetapi, Allah masih baik padaku. Kedua  kakakku masih bisa diselamatkan walaupun kini kondisinya masih sangat parah.
Tapi aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Ah, andai saja waktu itu aku tidak memaksa ayah untuk berlibur ke Jakarta, pasti tidak akan begini jadinya. Sampai sekarangpun, jika aku kembali meningat akan kejadian itu, aku pasti akan menangis. Aku rindu, rindu sekali dengan kedua orang tuaku.
“Re, kamu kenapa?”, tanya kak Rian membuyarkan lamunanku.
“Rere takut kak, Rere takut.. Peluk Rere kak, peluk..”, jawabku sambil terus meringkuk di atas tempat tidurku. Aku masih merasa takut, kedinginan, dan badanku masih menggigil.
“Kamu keinget peristiwa itu lagi ya?”, tanya kak Rian lembut. Tangannya membelai rambutku.
“Iya kak.. Rere, Rere takut.. Rere juga kangen kak..”, jawabku. Air mataku terus saja mengalir di kedua pipiku. Kejadian itu, benar-benar terbayang jelas di pikiranku.
“Sabar sayang.. Udah ya? Nggak usah di pikirin lagi.. Udah adzan tuh, sholat dulu yuk?”, ajak kak Rian sambil menggapai tanganku, menyuruhku berdiri dengan lembut.
Setelah berwudhu, aku merasa lebih tenang. Badanku sudah berhenti menggigil walaupun aku masih merasa kedingingan. Dalam sujudku, aku menangis. Sampai saat kak Rian selesai berdoa, aku masih menangis. Berdoa untuk kedua orang tuaku agar mereka ditempatkan di sisi-Nya. Kak Rian yang melihatku menangis hanya bisa menatapku. Hatinya mungkin juga menangis.
Ku usap kedua air mataku. Ku tatap kak Rian yang sedang tersenyum di hadapanku.
“Mau baca Qur’an sayang? Biar hatimu lega..”, kata kak Rian sambil menyodorkan Al-Qur’an padaku.
“Iya kak..”, jawabku sambil meraih Al-Qur’an di tangan kak Rian. Kak Rian tersenyum.
“Yaudah, habis baca Qur’an, ke ruang makan ya?”
“Iya kak..”
Aku pun memulai membaca ayat demi ayat. Ku lantunkan bacaan-bacaan indah itu dengan sangat tenang. Ya, hatiku merasa jauh lebih tenang. Ku sempatkan pula membaca arti dari ayat-ayat yang telah ku baca tadi. Sungguh, aku menjadi sangat tenang. Aku bisa mengontrol emosiku sehingga tidak ada lagi air mata yang mengalir di kedua pipiku. Terima kasih Ya Allah, Engkau perkenalkan aku dengan ayat seindah ini, ucapku dalam hati.
Setelah melipat mukenah, sajadah, dan menaruh Al-Qur’an, aku pun keluar kamar menuju ruang makan. Di sana kak Rian sudah menungguku, begitu pula dengan istrinya. Ku lahap dengan perlahan makanan yang telah di sediakan. Alhamdulillah..
“Kak, aku mau sholat isya dulu ya. Habis itu aku mau langsung tidur..”, kataku sambil meraih peralatan makan yang ada di hadapanku.
“Kakak saja yang nyuci ya, kamu langsung sholat saja..”, katanya lembut sambil mengibas lembut kedua tanganku. Ku pandang kak Rian yang masih makan. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum. Ku balas senyumannya dan langsung mengambil air wudhu.
Selesai sholat, aku langsung membaringkan badanku di kasur. Capek rasanya mata ini setelah cukup lama menangis. Ku pejamkan kedua mataku. Namun, kejadian itu, kejadian sepuluh tahun lalu kembali merasuki pikiranku.
“Kaaaak.. Kak Riaaan!”, teriakku. Suaraku serak, mungkin karena aku menangis.
“Apa sayang? Kok teriak-teriak?”, tanyanya lembut sembari mengusap air mataku.
“Rere.. Takut lagi.. Kejadian itu.. Kejadian itu..”, jawabku sambil terus menangis.
“Yaudah sini sayang, malam ini kakak tungguin deh sampai Rere tidur. Tapi jangan takut lagi ya? Nggak ada apa-apa kok. Lagian ada kak Rian di sini..”, balas kak Rian menenangkanku. Ia tersenyum. Ku pandang dalam-dalam wajah Kak Rian. Tuhan, rasanya aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan kak Rian. Seperti halnya Kau memisahkanku dengan kedua orang tuaku, batinku. Dan saat itu pula, air mataku mengalir kembali.
Malam itu, benar-benar malam yang menakutkan untukku. Petir menyambar dengan sangat kerasnya. Hujan pun turun dengan sangat derasnya, benar-benar deras. Mungkin, alam tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.