Minggu, November 13, 2011

Titip Salam Untuk Bunda


Sunyi senyap dalam kegelapan
Aku termenung dalam kesendirian
Bayangan bunda jelas terpampang
Mengaluni hati yang tergores luka

Lima belas tahun kau menghilang
Apakah kau juga merasa
Hati pilu karena kesepian
Merindukan sebuah belaian hangat


Wahai Engkau Sang Penawar Rindu,
Ku titipkan salam untuk sang bunda
Berikan gambaran senyumku terpampang
Tanda aku masih merindukannya

Tetes Darah yang Terlupakan


Hadi buru-buru masuk kamar. Dicarinya buku sejarah kemerdekaan Indonesia yang biasa ia taruh di atas meja belajar. Haduh, dimana ya buku itu?
“Hadi, nanti temani ibu ke toko sepatu ya?”
“Aduh ibu, nggak lihat apa Hadi lagi sibuk kayak gini. Minta ditemenin sama kak Dinda kan juga bisa bu!”, jawab Hadi sambil terus mengacak-acak meja belajarnya. Kening Hadi berkerut. Ibu hanya melihatnya dengan prihatin.
“Kak Dinda lagi ada kuliah sore ini nak. Sebentar saja temani ibu. Nanti malam ibu ada arisan, ibu tidak punya sepatu”
“Sendiri sajalah bu!”, jawab Hadi sambil berlari menuju ruang keluarga meninggalkan ibu yang hanya bisa menatap bayangannya. Pikiran Hadi dipenuhi rasa cemas. Bagaimana tidak? Bu Gita, guru sejarahnya itu memberikannya tugas untuk membuat rangkuman tentang sejarah kemerdekaan. Dan parahnya buku sejarah yang dimilikinya hilang. Kalaupun mencari referensi dari internet, ia sama sekali tidak punya waktu untuk pergi ke warnet. Jarak warnet dengan rumahnya memakan waktu yang cukup lama.
“Kau lihat kakekmu?”, tegur ibu.
“Di kamar kali bu!”, jawab Hadi sambil terus mencari. Ia sama sekali tidak menatap ibu yang sedang mengajaknya bicara.
“Kenapa tidak kau tanyakan sejarah kemerdekaan itu kepada kakekmu? Daripada mencari buku terus menerus”, usul ibu.
“Eh? Iya benar juga! Makasih ya bu!”
Tanpa banyak kata lagi, Hadi langsung menuju kamar kakek. Di ketuknya perlahan pintu kamar kakek. Biasanya, saat-saat seperti ini kakek sedang tertidur di kamarnya. Dan kakek akan cepat emosi jika merasa terganggu.
“Kek, ini Hadi kek. Ijinkan Hadi masuk ya?”
“Ya, sebentar.”
Beberapa menit kemudian, kakek pun membuka pintu kamarnya. Wajahnya terliat seperti baru bangun tidur. Untung saja kakeknya tidak marah karena tidurnya terganggu oleh kedatangan Hadi.
“Ada apa?”, tanya kakek sambil memakai kacamata.
 “Kakek masih ingat cerita waktu jaman kemerdekaan kan? Hadi ada tugas sejarah kek.”
“Oh, yasudah masuk saja dulu.”, ujar kakek. Pintu kamar dibukanya lebih lebar. Walaupun Indonesia sudah semakin modern, tapi kamar kakek tetap saja seperti dulu. Jam tua, kasur tua, dan barang-barang lainnya yang sudah terlihat tua. Namun barang-barang tersebut masih terlihat awet dan terjaga.
“Ceritain dong kek tentang jaman kemerdekaan dulu.”, pinta Hadi. Sebelumnya ia telah menyiapkan kertas dan bolpen untuk mencatat. Wajahnya terlihat serius untuk mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibir kakeknya.
“Iya baiklah. Ekhm.. Dulu itu para pejuang kemerdekaan kita berjuang setengah mati untuk mempertahankan Indonesia. Orang-orang Eropa, terutama Belanda memanfaatkan kelemahan Indonesia untuk mengambil kekayaan bangsa kita…”
Kakek terus melanjutkan ceritanya. Tidak seperti ketika mendengarkan cerita dari bu Gita, Hadi tidak merasakan kantuk walaupun kakek bercerita terus menerus tanpa henti. Hanya sesekali kakek berhenti untuk meminum kopinya. Itupun hanya beberapa detik.
“Anak-anak muda jaman dulu semangat juangnya tinggi. Tidak seperti anak muda jaman sekarang. Untuk sekolah saja susah. Padahal sekolah itu juga salah satu cara untuk mempertahankan Indonesia.”, ujar kakek di akhir ceritanya. Hadi hanya mengangguk-angguk. Tangannya masih sibuk mencatat.
“Mereka sama saja seperti kamu! Sama saja!”, hardik kakek tiba-tiba. Hadi langsung berhenti menulis. Keningnya berkerut. Takut.
“Hadi kenapa kek?”, tanya Hadi hati-hati.
“Ya, kamu! Hanya kalau ada tugas saja kamu mau mendengarkan sejarah seperti ini. Sama sekali tidak menghargai usaha pahlawan kita!”
Kakek tiba-tiba berteriak tidak karuan. Hadi jadi kalang kabut. Dirayunya kakek sebisa mungkin. Ya beginilah kakek, emosinya bisa dengan cepat terpancing. Kalau tidak diam seharian penuh, pasti kakek akan marah-marah atau mengomel-omel secara tibatiba.
“Hadi bingung kek.”
“Kakek lebih bingung dengan sikap kamu dan anak muda yang lain!”
Hadi terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia takut emosi kakek menjadi lebih besar. Untung saja ibu segera datang. Mungkin terkejut karena tiba-tiba kakek berteriak. Disuruhnya Hadi untuk keluar dari kamar. Hadi tidak tahu apa yang ibu bicarakan di dalam dengan kakeknya. Hanya sesekali terdengar kakek berteriak memaki-maki.

* * * * *

“Semuanya sudah mengerjakan tugas yang ibu berikan minggu lalu kan?”, tanya bu Gita saat pelajaran sejarah.
“Sudah buu!”
“Yasudah, kalau begitu ibu minta tolong sama kamu Pandu, kumpulkan semua tugas teman-temanmu. Urutkan sesuai nomor absen”
“Iya bu”
Dengan cepat Pandu menarik satu persatu tugas teman-temannya dan langsung memberikannya pada bu Gita. Hampir semuanya telah menyelesaikan tugas mereka. Hanya ada beberapa yang masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Namun, Pandu langsung mengambilnya secara paksa.
“Terima kasih Pandu.”
“Iya bu.”
“Oke, kita bahas sejarah yang telah kalian tulis ya? Coba Dion, apa inti dari rangkumanmu?”
“Pahlawan kita tidak mengenal lelah untuk memerdekakan bangsa kita bu!”
“Bagus, kalau kamu Putri?”
“Semangat para pejuang begitu besar bu, walaupun mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan bangsa kita!”
“Iya, jawaban dari Dion dan Putri memang benar. Intinya juga sama. Para pejuang kemerdekaan memang patut kita acungi jempol. Mereka tidak egois, tidak memikirkan dirinya sendiri. Tapi mereka lebih memikirkan nasib bangsa kita. Coba kita bandingkan dengan orang-orang jaman sekarang? Hanya ada beberapa yang mempunyai sifat seperti mereka”
“Iya bu, kata kakek saya orang-orang jaman sekarang terutama yang masih muda memang sangat berbeda dengan orang-orang jaman dulu. Kakek saya saja sering sekali memprotes sikap para anak muda jaman sekarang”, ujar Hadi mengutarakan apa yang kakeknya katakan kemarin.
            “Ya, memang benar. Kalian juga sebenarnya menyadari kan? Kita ambil contoh yang sederhana saja. Seusia kalian, untuk sekolah saja pasti ada rasa malas kan? Padahal sekolah juga untuk kebaikan kalian sendiri. Apa kalian tidak tahu kalau kita sebenarnya masih dijajah?”
“Loh, bukannya kita telah merdeka bu?”
“Ya, kita memang telah merdeka. Namun, sebenarnya kita masih dijajah. Namun memang cara penjajahannya berbeda dengan jaman penjajahan dulu. Jaman sekarang, kita dijajah oleh kebodohan dan kemiskinan”
“Tapi kan banyak bu orang Indonesia yang pinter”
“Tapi jika dibandingkan dengan orang Indonesia yang bodoh dan miskin, lebih banyak mana? Coba kalian pikirkan. Untuk membuat diri sendiri terlepas dari kebodohan dan kemiskinan saja susah. Apa lagi untuk berjuang mempertahankan Indonesia? Berjuang untuk orang lain?”
Deg. Hadi merasa sedikit tersindir. Ia menyadari kalau selama ini memang ia malas sekali untuk sekolah. Apalagi untuk belajar. Rasanya malas sekali untuk berhadapan dengan buku-buku atau bacaan-bacaan yang berbau pelajaran. Hadi pun mengakui kalau prestasinya di kelas memang terbilang cukup buruk karena kemalasannya itu.
“Bu, boleh tanya tidak?”, tanya Hadi sopan.
“Boleh, mau tanya apa?”
“Maaf sebelumnya bu. Ibu kenapa bisa suka sama sejarah?”
Bu Gita hanya tersenyum lalu melepas kacamatanya. Dilapnya kacamata itu dengan hati-hati, lalu dipakainya kembali.
“Kamu mau tahu kenapa ibu suka dengan sejarah?”
“Iya bu!”
“Baiklah. Alasan ibu suka dengan sejarah karena ibu tertarik dengan cerita-cerita perjuangan jaman kemerdekaan dulu. Ini juga termasuk salah satu bentuk penghargaan yang kita berikan kepada para pejuang.”
“Memangnya tidak membosankan ya bu?”, kali ini Dian yang bertanya. Sepertinya tidak hanya Hadi saja yang penasaran dengan alasan bu Gita menyukai pelajaran sejarah.
“Dulu waktu ibu masih sekolah seperti kalian juga ibu merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan. Pelajaran sejarah cuma bikin ngantuk, membosankan, dan lain-lain. Tapi apa kalian tidak memikirkan apa yang para pejuang kita rasakan? Mereka sudah bertaruh nyawa untuk mempertahankan bangsa kita, tapi kita tidak menghargainya sama sekali.”
“Tapi kan kita tetap menghargai mereka bu tanpa harus tahu tentang sejarah”
“Loh, bagaimana caranya kita mau menghargai kalau tentang sejarahnya saja kita tidak tahu?”
Semua menjadi terdiam. Kata-kata bu Gita memang ada benarnya. Kita memang tidak akan bisa menghargai sesuatu jika kita tidak tahu sejarahnya. Apalagi tentang kemerdekaan. Tidak banyak yang tahu sejarah tentang kemerdekaan. Padahal, seharusnya kita sangat berterima kasih kepada para pejuang bangsa yang telah menyelamatkan Indonesia dari para penjajah, bukannya malah melupakan mereka.
Jaman sekarang dengan jaman dulu memang sangat berbeda. Pola pikir jaman sekarang mungkin memang lebih maju dibandingkan dengan jaman dulu. Namun, pola pikir kebersamaan jaman dulu lebih kuat dibandingkan dengan jaman sekarang. Jaman sekarang, hanya kebahagiaan individual saja yang diutamakan. Sedangkan kebersamaan dinomor duakan. Sudah saatnya kita mulai merubah cara berpikir kita.
Hadi masih termenung meresapi kalimat-kalimat bu Gita. Ia jadi tahu alasan mengapa kakeknya sering emosi secara tiba-tiba. Mungkin, kakeknya kecewa dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini.