Rabu, Desember 21, 2011

Cerpen Pertamaku

Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 ketika aku baru bangun dari tidurku. Udara terasa lebih dingin dari pagi-pagi yang sebelumnya. Iseng-iseng ku sentuhkan jemari kecilku ke jendela kamar. Dingin. Menjalar ke seluruh tubuhku. Dengan raut wajah setengah mengantuk, ku paksakan beranjak dari kasurku. Malas. Tapi harus ku lakukan. Hari ini, aku ada janji dengan mbak Ninda.
“Pagi sayang, nyenyak kah tidurmu semalam?”, sapa ibu dari ruang tengah.
“Nyenyak bu. Hari ini aku ke rumah mbak Ninda ya bu?”, jawabku balik bertanya. Ibu tersenyum mengangguk. Aku juga tersenyum, kemudian kembali berjalan. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. 20 menit. Aku bersiap-siap pergi.
Di halaman depan, kupanaskan motorku. Hanya Honda model lama. Tapi tidak berarti sudah tidak terpakai lagi. Justru motor inilah yang selalu menemaniku kemana saja. Walaupun terkadang sulit untuk digunakan, tapi inilah motorku satu-satunya. Motor pemberian almarhum ayah dua tahun silam. 10 menit, aku pergi.
Sebenarnya aku agak malas kalau harus keluar pagi ini. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah. Pulang paling cepat jam 9 malam, dan tidur paling cepat jam 2 pagi. Itupun terkadang tidak nyenyak karena terbayang-bayang tugas yang belum selesai. Dan hari ini adalah hari kosong buatku. Hari yang pas untuk beristirahat. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlanjur janji pada mbak Ninda untuk menemuinya hari ini. Tujuanku satu. Menjadi seorang penulis.
Ya, cita-citaku sejak duduk dibangku SMP adalah menjadi seorang penulis. Sebenarnya aku sudah mulai menulis dari kelas 1 SMP. Hanya saja aku tidak PD dengan karyaku. Berkali-kali aku mengirimkannya ke beberapa media cetak, tapi tetap saja tidak ada yang dimuat, ataupun diterbitkan. Malah pernah ada yang membalasnya dengan mengatakan bahwa karyaku tidak layak disebut sebagai karya. Sakit. Tapi itulah kenyataannya.
Cukup 15 menit untuk berkendara ke rumah mbak Ninda. Jalanan Purwokerto masih terbilang sepi. Paling hanya sekali-dua kali terjadi kemacetan. Itupun karena ada pengemudi angkutan umum yang berhenti semaunya. Aku tiba tepat pukul 08.05. Aku terlambat 5 menit. Tapi sepertinya mbak Ninda tidak seperti bu Dian, dosen kampus yang galak itu.
“Pagi Dinda, rupanya kau terlambat 5 menit dari perjanjian”, sapa mbak Ninda mengagetkanku.
“Iya mbak maaf, tadi aku malas sekali untuk bangun”, jawabku.
“Pasti karena tugas kuliah itu ya? Yasudah, aku bukan bu Dian kok”, goda mbak Ninda. Aku hanya tersenyum, lalu berjalan masuk.
Mulai saat itupun aku mulai belajar banyak. Dari mulai mencari inspirasi untuk ceritaku, mengoreksi bahasa yang kugunakan dalam kalimatku, dan cara mengatasi rasa malas. Lengkap. Sempurna. Tidak ada yang terlewatkan. Hingga akhirnya, setelah dua bulan berlalu, mbak Ninda menyuruhku untuk mengirimkan beberapa cerpen yang telah aku buat. Tidak banyak. Tetapi menarik. Begitu katanya. Yang terpenting adalah keselarasan antara satu cerita dengan cerita yang lainnya. Dan permintaan itupun aku turuti. Aku mengirimkan sepuluh buah karyaku. Semuanya aku kumpulkan jadi satu, lalu aku bukukan. Dan mbak Ninda memberiku dua buah alamat penerbit. Awalnya aku ragu. Walaupun sudah dua bulan belajar, tapi aku masih ragu dengan kemampuanku. Aku takut. Ketakutanku sama. Takut ditolak. Takut diejek. Takut dihina.
“Bagaimana caranya kamu bisa jadi penulis jika untuk mengirimkan karyamu saja kamu takut? Memangnya penerbit-penerbit itu bisa langsung tahu tentang karyamu? Tidak kan?”, begitu katanya ketika aku mengutarakan ketakutanku ini.

* * * * *

Oh iya, aku lupa mengenalkan siapa diriku. Namaku Adinda Saputri. Biasanya, orang-orang memanggilku dengan nama pendek, Dinda. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di rumah, aku hanya tinggal dengan ibuku dan kedua adikku. Ayahku sudah lama meninggal karena sakit kankernya. Cukup menyedihkan. Tapi aku harus kuat dengan keadaan ini.
Aku duduk dibangku kuliah. Aku juga menyambi kerja paruh waktu pada sebuah toko kue. Penghasilanku lumayan. Walaupun sebenarnya tetap saja tidak mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan motor Honda butut itu adalah satu-satunya harta warisan ayah yang tersisa. Selain itu, tidak ada.
Kondisi keluargaku yang seperti inilah yang memaksaku untuk bekerja. Dan aku berharap, aku benar-benar bisa menjadi seorang penulis yang kondang. Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu kondisi keuangan keluargaku. Aku tidak tega jika harus melihat ibu berusaha mati-matian untuk membiayai kuliahku, dan kedua adik-adikku yang sebentar lagi akan pindah sekolah. Itu pasti membutuhkan biaya yang cukup banyak.
Kembali pada cita-citaku. Aku telah mengirimkan karyaku itu ke salah satu penerbit yang disarankan oleh mbak Ninda. Dan ternyata usaha pertamaku gagal. Enam bulan lamanya aku menunggu, penerbit itu sama sekali tidak menghubungiku.
“Untuk menjadi seorang penulis, bukan hanya karya yang bagus saja. Tetapi nama juga diutamakan. Mungkin saat karyamu sampai, ada banyak karya-karya dari penulis lain yang sudah memiliki nama. Biasanya, para penerbit mengutamakan mereka, karena pasti karya-karya merekalah yang banyak pembaca cari. Jangan patah semangat. Coba saja lebih sering mengirimkan karya-karyamu. Mbak yakin, pasti penerbit-penerbit itu lama-lama akan tertarik dengan karyamu, karena begitu seringnya namamu muncul disana”, hibur mbak Ninda. Aku hanya tersenyum paksa. Sangat terpaksa.
Tapi bagaimanapun juga, aku bukanlah tipe orang yang gampang berputus asa. Keraguan itu pasti ada, tapi tidak akan membunuh semangatku. Seminggu vakum, aku mulai menulis lagi. Setiap ada waktu senggang, aku menulis apa saja yang ada di benakku. Saat jam kosong, menjaga toko kue, dan lain sebagainya. Tapi tetap aku tidak mengabaikan kewajiban-kewajibanku. Itu selalu aku utamakan.
Tidak lama, hanya tiga bulan berusaha, akhirnya usahaku terbalaskan. Salah satu karya yang aku kirimkan ternyata menarik perhatian salah satu penerbit. Alasannya sama dengan apa yang dikatakan oleh mbak Ninda. Persis. Mirip. Mereka tertarik karena memang ceritaku menarik, dan namaku sering ada dihadapan mereka. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa persyaratan-persyaratan yang harus aku penuhi.
Butuh waktu satu bulan untuk menerbitkan karyaku. Tidak buruk. Walaupun bukan termasuk best seller, setidaknya aku dapat bayaran yang lumayan. Keraguanku mulai hilang, musnah. Kini aku semakin semangat untuk memunculkan ide-ideku. Setahun kemudian, aku bergabung dengan forum dunia tulis. Mbak Ninda lah yang mengajakku untuk bergabung dalam forum itu. Katanya, biar aku lebih bisa mengembangkan bakatku. Lumayan lah, setidaknya aku bisa mewujudkan ceritaku sekaligus membantu ibu. Kalau kata peribahasa, sambil menyelam minum air :-)

Minggu, November 13, 2011

Titip Salam Untuk Bunda


Sunyi senyap dalam kegelapan
Aku termenung dalam kesendirian
Bayangan bunda jelas terpampang
Mengaluni hati yang tergores luka

Lima belas tahun kau menghilang
Apakah kau juga merasa
Hati pilu karena kesepian
Merindukan sebuah belaian hangat


Wahai Engkau Sang Penawar Rindu,
Ku titipkan salam untuk sang bunda
Berikan gambaran senyumku terpampang
Tanda aku masih merindukannya

Tetes Darah yang Terlupakan


Hadi buru-buru masuk kamar. Dicarinya buku sejarah kemerdekaan Indonesia yang biasa ia taruh di atas meja belajar. Haduh, dimana ya buku itu?
“Hadi, nanti temani ibu ke toko sepatu ya?”
“Aduh ibu, nggak lihat apa Hadi lagi sibuk kayak gini. Minta ditemenin sama kak Dinda kan juga bisa bu!”, jawab Hadi sambil terus mengacak-acak meja belajarnya. Kening Hadi berkerut. Ibu hanya melihatnya dengan prihatin.
“Kak Dinda lagi ada kuliah sore ini nak. Sebentar saja temani ibu. Nanti malam ibu ada arisan, ibu tidak punya sepatu”
“Sendiri sajalah bu!”, jawab Hadi sambil berlari menuju ruang keluarga meninggalkan ibu yang hanya bisa menatap bayangannya. Pikiran Hadi dipenuhi rasa cemas. Bagaimana tidak? Bu Gita, guru sejarahnya itu memberikannya tugas untuk membuat rangkuman tentang sejarah kemerdekaan. Dan parahnya buku sejarah yang dimilikinya hilang. Kalaupun mencari referensi dari internet, ia sama sekali tidak punya waktu untuk pergi ke warnet. Jarak warnet dengan rumahnya memakan waktu yang cukup lama.
“Kau lihat kakekmu?”, tegur ibu.
“Di kamar kali bu!”, jawab Hadi sambil terus mencari. Ia sama sekali tidak menatap ibu yang sedang mengajaknya bicara.
“Kenapa tidak kau tanyakan sejarah kemerdekaan itu kepada kakekmu? Daripada mencari buku terus menerus”, usul ibu.
“Eh? Iya benar juga! Makasih ya bu!”
Tanpa banyak kata lagi, Hadi langsung menuju kamar kakek. Di ketuknya perlahan pintu kamar kakek. Biasanya, saat-saat seperti ini kakek sedang tertidur di kamarnya. Dan kakek akan cepat emosi jika merasa terganggu.
“Kek, ini Hadi kek. Ijinkan Hadi masuk ya?”
“Ya, sebentar.”
Beberapa menit kemudian, kakek pun membuka pintu kamarnya. Wajahnya terliat seperti baru bangun tidur. Untung saja kakeknya tidak marah karena tidurnya terganggu oleh kedatangan Hadi.
“Ada apa?”, tanya kakek sambil memakai kacamata.
 “Kakek masih ingat cerita waktu jaman kemerdekaan kan? Hadi ada tugas sejarah kek.”
“Oh, yasudah masuk saja dulu.”, ujar kakek. Pintu kamar dibukanya lebih lebar. Walaupun Indonesia sudah semakin modern, tapi kamar kakek tetap saja seperti dulu. Jam tua, kasur tua, dan barang-barang lainnya yang sudah terlihat tua. Namun barang-barang tersebut masih terlihat awet dan terjaga.
“Ceritain dong kek tentang jaman kemerdekaan dulu.”, pinta Hadi. Sebelumnya ia telah menyiapkan kertas dan bolpen untuk mencatat. Wajahnya terlihat serius untuk mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibir kakeknya.
“Iya baiklah. Ekhm.. Dulu itu para pejuang kemerdekaan kita berjuang setengah mati untuk mempertahankan Indonesia. Orang-orang Eropa, terutama Belanda memanfaatkan kelemahan Indonesia untuk mengambil kekayaan bangsa kita…”
Kakek terus melanjutkan ceritanya. Tidak seperti ketika mendengarkan cerita dari bu Gita, Hadi tidak merasakan kantuk walaupun kakek bercerita terus menerus tanpa henti. Hanya sesekali kakek berhenti untuk meminum kopinya. Itupun hanya beberapa detik.
“Anak-anak muda jaman dulu semangat juangnya tinggi. Tidak seperti anak muda jaman sekarang. Untuk sekolah saja susah. Padahal sekolah itu juga salah satu cara untuk mempertahankan Indonesia.”, ujar kakek di akhir ceritanya. Hadi hanya mengangguk-angguk. Tangannya masih sibuk mencatat.
“Mereka sama saja seperti kamu! Sama saja!”, hardik kakek tiba-tiba. Hadi langsung berhenti menulis. Keningnya berkerut. Takut.
“Hadi kenapa kek?”, tanya Hadi hati-hati.
“Ya, kamu! Hanya kalau ada tugas saja kamu mau mendengarkan sejarah seperti ini. Sama sekali tidak menghargai usaha pahlawan kita!”
Kakek tiba-tiba berteriak tidak karuan. Hadi jadi kalang kabut. Dirayunya kakek sebisa mungkin. Ya beginilah kakek, emosinya bisa dengan cepat terpancing. Kalau tidak diam seharian penuh, pasti kakek akan marah-marah atau mengomel-omel secara tibatiba.
“Hadi bingung kek.”
“Kakek lebih bingung dengan sikap kamu dan anak muda yang lain!”
Hadi terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia takut emosi kakek menjadi lebih besar. Untung saja ibu segera datang. Mungkin terkejut karena tiba-tiba kakek berteriak. Disuruhnya Hadi untuk keluar dari kamar. Hadi tidak tahu apa yang ibu bicarakan di dalam dengan kakeknya. Hanya sesekali terdengar kakek berteriak memaki-maki.

* * * * *

“Semuanya sudah mengerjakan tugas yang ibu berikan minggu lalu kan?”, tanya bu Gita saat pelajaran sejarah.
“Sudah buu!”
“Yasudah, kalau begitu ibu minta tolong sama kamu Pandu, kumpulkan semua tugas teman-temanmu. Urutkan sesuai nomor absen”
“Iya bu”
Dengan cepat Pandu menarik satu persatu tugas teman-temannya dan langsung memberikannya pada bu Gita. Hampir semuanya telah menyelesaikan tugas mereka. Hanya ada beberapa yang masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Namun, Pandu langsung mengambilnya secara paksa.
“Terima kasih Pandu.”
“Iya bu.”
“Oke, kita bahas sejarah yang telah kalian tulis ya? Coba Dion, apa inti dari rangkumanmu?”
“Pahlawan kita tidak mengenal lelah untuk memerdekakan bangsa kita bu!”
“Bagus, kalau kamu Putri?”
“Semangat para pejuang begitu besar bu, walaupun mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan bangsa kita!”
“Iya, jawaban dari Dion dan Putri memang benar. Intinya juga sama. Para pejuang kemerdekaan memang patut kita acungi jempol. Mereka tidak egois, tidak memikirkan dirinya sendiri. Tapi mereka lebih memikirkan nasib bangsa kita. Coba kita bandingkan dengan orang-orang jaman sekarang? Hanya ada beberapa yang mempunyai sifat seperti mereka”
“Iya bu, kata kakek saya orang-orang jaman sekarang terutama yang masih muda memang sangat berbeda dengan orang-orang jaman dulu. Kakek saya saja sering sekali memprotes sikap para anak muda jaman sekarang”, ujar Hadi mengutarakan apa yang kakeknya katakan kemarin.
            “Ya, memang benar. Kalian juga sebenarnya menyadari kan? Kita ambil contoh yang sederhana saja. Seusia kalian, untuk sekolah saja pasti ada rasa malas kan? Padahal sekolah juga untuk kebaikan kalian sendiri. Apa kalian tidak tahu kalau kita sebenarnya masih dijajah?”
“Loh, bukannya kita telah merdeka bu?”
“Ya, kita memang telah merdeka. Namun, sebenarnya kita masih dijajah. Namun memang cara penjajahannya berbeda dengan jaman penjajahan dulu. Jaman sekarang, kita dijajah oleh kebodohan dan kemiskinan”
“Tapi kan banyak bu orang Indonesia yang pinter”
“Tapi jika dibandingkan dengan orang Indonesia yang bodoh dan miskin, lebih banyak mana? Coba kalian pikirkan. Untuk membuat diri sendiri terlepas dari kebodohan dan kemiskinan saja susah. Apa lagi untuk berjuang mempertahankan Indonesia? Berjuang untuk orang lain?”
Deg. Hadi merasa sedikit tersindir. Ia menyadari kalau selama ini memang ia malas sekali untuk sekolah. Apalagi untuk belajar. Rasanya malas sekali untuk berhadapan dengan buku-buku atau bacaan-bacaan yang berbau pelajaran. Hadi pun mengakui kalau prestasinya di kelas memang terbilang cukup buruk karena kemalasannya itu.
“Bu, boleh tanya tidak?”, tanya Hadi sopan.
“Boleh, mau tanya apa?”
“Maaf sebelumnya bu. Ibu kenapa bisa suka sama sejarah?”
Bu Gita hanya tersenyum lalu melepas kacamatanya. Dilapnya kacamata itu dengan hati-hati, lalu dipakainya kembali.
“Kamu mau tahu kenapa ibu suka dengan sejarah?”
“Iya bu!”
“Baiklah. Alasan ibu suka dengan sejarah karena ibu tertarik dengan cerita-cerita perjuangan jaman kemerdekaan dulu. Ini juga termasuk salah satu bentuk penghargaan yang kita berikan kepada para pejuang.”
“Memangnya tidak membosankan ya bu?”, kali ini Dian yang bertanya. Sepertinya tidak hanya Hadi saja yang penasaran dengan alasan bu Gita menyukai pelajaran sejarah.
“Dulu waktu ibu masih sekolah seperti kalian juga ibu merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan. Pelajaran sejarah cuma bikin ngantuk, membosankan, dan lain-lain. Tapi apa kalian tidak memikirkan apa yang para pejuang kita rasakan? Mereka sudah bertaruh nyawa untuk mempertahankan bangsa kita, tapi kita tidak menghargainya sama sekali.”
“Tapi kan kita tetap menghargai mereka bu tanpa harus tahu tentang sejarah”
“Loh, bagaimana caranya kita mau menghargai kalau tentang sejarahnya saja kita tidak tahu?”
Semua menjadi terdiam. Kata-kata bu Gita memang ada benarnya. Kita memang tidak akan bisa menghargai sesuatu jika kita tidak tahu sejarahnya. Apalagi tentang kemerdekaan. Tidak banyak yang tahu sejarah tentang kemerdekaan. Padahal, seharusnya kita sangat berterima kasih kepada para pejuang bangsa yang telah menyelamatkan Indonesia dari para penjajah, bukannya malah melupakan mereka.
Jaman sekarang dengan jaman dulu memang sangat berbeda. Pola pikir jaman sekarang mungkin memang lebih maju dibandingkan dengan jaman dulu. Namun, pola pikir kebersamaan jaman dulu lebih kuat dibandingkan dengan jaman sekarang. Jaman sekarang, hanya kebahagiaan individual saja yang diutamakan. Sedangkan kebersamaan dinomor duakan. Sudah saatnya kita mulai merubah cara berpikir kita.
Hadi masih termenung meresapi kalimat-kalimat bu Gita. Ia jadi tahu alasan mengapa kakeknya sering emosi secara tiba-tiba. Mungkin, kakeknya kecewa dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini.

Minggu, Oktober 23, 2011

Hujan

Pagi ini aku merasa seperti sebuah robot. Ya, sebuah robot yang hanya bisa bergerak apabila diperintah oleh pemiliknya. Di kantor, aku hanya mengetik ulang naskah cerpen yang akan diterbitkan bulan depan. Padahal sebenarnya kerjaanku masih menumpuk. Entah mengapa saat ini aku malas untuk melakukan kegiatan apapun.
Aku memandang kosong ke luar jendela. Di luar, hujan turun dengan sangat derasnya. Tampak beberapa pengojek payung cilik berlari kesana-kemari mengejar setoran. Mereka rela mandi hujan dan melawan dinginnya suasana saat itu hanya untuk mendapatkan uang seribu rupiah. Itupun kalau ada yang memberi, karena tak jarang setelah sampai ke tempat tujuan orang-orang itu akan langsung pergi tanpa mempedulikan mereka yang sedang menggigil kedinginan.
Sudah sekitar sejam lamanya hujan turun dengan derasnya. Namun belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku masih asyik melamun memandang suasana siang itu. Pikiranku campur aduk seperti gado-gado. Mataku seperti melihat dengan jelas peristiwa yang tidak asing bagiku, namun aku tidak pernah tahu tentang peristiwa itu. Dan tiba-tiba kepalaku terasa sakit, sangat sakit.
            “Dian, kamu kenapa? Trus, kok tulisannya aneh gitu?”, tegur Syifa membuyarkan lamunanku.
            “Ah.. Eh.. Iya maaf syif, aku lagi nggak konsen”, jawabku terbata-bata. Tangan kananku sibuk menghapus tulisan-tulisan “aneh” itu dengan tangan kiri tetap memegang kepala, menahan sakit.
            “Kamu lagi sakit? Atau lagi ada masalah?”, tanya Syifa prihatin.
            “Ah engga, aku cuma lagi nggak enak badan aja”, jawabku seraya meninggalkan Syifa yang heran dengan sikapku.

* * * * * *

Sore ini, aku dibebastugaskan dari segala macam pekerjaan di kantor karena kantor tempat aku bekerja akan direnovasi. Bukan gedungnya yang akan dibongkar, melainkan perabotannya akan diatur ulang agar menimbulkan isnpirasi dan suasana baru. Aku yang sedang menganggur menghampiri mama yang sedang asyik membaca novel di halaman belakang.
“Ma, kemarin peristiwa aneh itu datang lagi ke pikiranku. Tapi kali ini beda, aku seperti melihat dua mobil yang saling bertabrakan. Penumpangnya tidak ada yang selamat kecuali seorang anak perempuan. Umurnya kira-kira 9 tahun gitu. Serem deh ma..”, kataku sambil memperagakan kejadian itu dengan kedua tanganku. Mama hanya melirik, lalu melanjutkan membaca novelnya.
“Idih mama aku kan lagi cerita, masa nggak didengerin gitu sih?”
“Mama bosan mendengar kamu bercerita khayalan-khayalan itu setiap hari. Sudahlah!”
Setelah menaruh kembali novel yang tadi dibacanya, mama bergegas menuju kamarnya. Mama tidak menghiraukanku yang terus memanggilnya. Sebenarnya aku merasa sedikit curiga dengan sikap mama akhir-akhir ini. Sekalipun karena memang ia menganggap cerita-ceritaku itu hanya sebuah khayalan, tidak seharusnya ia bersikap dingin seperti ini setiap kali aku memulai cerita tentang hal itu.
Karena saking penasarannya, ku hampiri mama yang entah sedang melakukan apa di kamarnya. Tok.. Tok.. Tok.. Ku ketuk pintu kamar mama perlahan, takut mengganggu.
“Siapa?”, tanya mama dari dalam kamar. Suaranya terdengar lirih.
“Dian ma.. Boleh Dian masuk?”
“Boleh nak..”
Ku buka pintu kamar mama perlahan. Astaghfirullah.. Ternyata mama sedang menangis. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi dengan mama. Padahal, tadi ia bersikap biasa saja, hanya mungkin kesal dengan ceritaku. Tapi aku tidak menyangka kalau mama sampai menangis seperti ini.
“Mama kenapa?”
“Mama nggak papa nak..”
“Mama harus cerita.. Mama kenapa?”
Mama terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan harus darimana ia bercerita. Aku melihatnya dengan prihatin.
“Maafkan mama nak.. Maafkan mama..”
“Emang kenapa ma? Mama nggak salah apa-apa kenapa harus meminta maaf?”
“Sebenarnya..”
Mama mulai menceritakan peristiwa yang mirip dengan peristiwa yang sering muncul tiba-tiba di pikiranku. Ternyata, gadis kecil yang selamat dalam peristiwa itu adalah aku sendiri. Ya, peristiwa yang sering muncul dipikiranku mungkin adalah sisa-sisa ingatan tujuh tahun yang lalu, saat aku masih berumur sembilan tahun. Dan pada kenyataannya kini aku bukan anak kandungnya.
Aku menangis, benar-benar menangis. Air mataku keluar dengan derasnya tanpa bisa dibendung lagi. Sebenarnya aku marah, sangat marah dengan mama yang menyembunyikan ini semua dariku. Namun aku tidak terlalu lama memendam amarah itu. Aku cukup sadar bahwa mama adalah satu-satunya orang yang mau merawatku sejak peristiwa tragis itu terjadi.
“Dian.. Kamu nggak marah sama mama kan?”
Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku langsung memeluk mama sekencang-kencangnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan menyakiti mama dan akan menjaga mama seperti mama menjagaku.

Minggu, Agustus 07, 2011

Engkau Kekasih Sejatiku

Ketika hati mengenal kata cinta
Sejuta pria datang menghampiri
membawa diri bertuliskan janji
Mengharap semua terbalas oleh hati

Wahai Kekasih Sejatiku,
Beri aku kekuatan untuk ini
Agar aku tetap bersandar pada cintaMu
Pada cinta yang tidak pernah mendustaiku
Atau cinta yang tidak pernah meninggalkanku

Wahai Kekasih Sejatiku,
Izinkan aku tetap berada dalam pelukanMu
Tanpa mengenal kata cinta selain cintaMu
Atau pada janji selain janjiMu
Hingga pada saatnya nanti
Engkau akan melepasku dengan kekasih pilihanMu