Jumat, Mei 25, 2018

Kerandoman di Jumat Siang

5/25/2018 12:22:00 PM 0 Comments
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisaa': 34)

Sebenarnya cuma lagi random di jam-jam istirahat sholat Jumat, yang lalu menyempatkan diri untuk membaca-baca arti dari beberapa ayat di Al Quran dan setelahnya menemukan ayat di atas. Nggak terlalu nyambung, sih. Tapi aku jadi ingat sama kata-kata Murobbi waktu liqo minggu kemarin. Katanya gini, "Asiyah saja waktu disiksa oleh suaminya, beliau tidak malah jadi mendoakan agar suaminya dihukum. Beliau justru berdoa agar diselamatkan dari perbuatan orang-orang yang dzalim. Karena apa? Ya semata-mata karena beliau ingin mendapatkan ridho dari suaminya." Sempat nyari-nyari ayat yang mendukung kalimat di atas juga, dan setelahnya menemukan inidoa yang diucapkan oleh Asiyah, yang juga diceritakan di sebuah ayat.

"Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
― (QS. At-Tahrim: 11)

Yang lalu setelahnya aku jadi kembali merandomkan diri dengan banyaknya pikiran-pikiran yang entah kenapa akhir-akhir ini terus-menerus mendesak saraf-saraf otak untuk terus memikirkannya. Iya, soal bakti seorang istri kepada suami, yang ternyata banyak hal yang memang harus dipelajari dan dipahami sebagai persiapanku sebagai seorang istri kelak. Terlalu random, sih. Tapi itu kan ilmu yang memang harus dipelajari agar tidak terjerumus dan salah dalam melangkah nanti. Kan, ridho suami adalah surga bagi para istri, bukan?

Dan berbicara soal Asiyah, sebenarnya kisah beliau pun akhir-akhir ini sedang aku baca-baca. Hanya saja agaknya waktu sedikit mempersulit keadaan. Allah, ternyata akhir-akhir ini sulit sekali untuk menyempatkan diri untuk membaca-baca buku itu :"


Jumat, 25 Mei 2018; 12.21
Ternyata masih banyak buku yang harus dibaca.

Tidak Ada Usaha yang Tidak Membuahkan Hasil #5

5/25/2018 12:46:00 AM 0 Comments
Sabtu, 26 Maret 2017.
Hehe. Kali ini ceritanya bukan soal perjuangan TA lagi kok. Jadi singkat cerita, setelah selesai mengurus berkas-berkas yudisium yang banyak banget itu, akhirnya aku pun resmi menjadi seorang pengangguran. Iya, pengangguran. Aku udah nggak punya kegiatan apa-apa lagi di kampus. Jadi kerjaanku selama di Bandung itu cuma main ke lab atau jalan-jalan sama anak-anak grup berdelapan itu. Entah ke gunung, makan di punclut, dan sebagainya. Dan aku juga waktu itu belum ada pikiran buat daftar-daftar kerja. Jadinya ya udah, aku benar-benar jadi pengangguran.

Tapi aku jadi penganggurannya cuma sebentar kok, soalnya beberapa hari setelahnya aku harus pulang ke Purwokerto. Iya, aku menghabiskan beberapa minggu di Purwokerto sambil menunggu pendaftaran wisuda Maret itu dibuka. Aku menunggu di rumah tanpa ngapa-ngapain selain sehari-harinya hanya menonton TV dan mengantar-jemput Azizah sekolah. Sebenarnya sama aja sih antara di Purwokerto dan Bandung, malah di Bandung aku lebih punya banyak teman dan tidak merasa kesepian; karena di Purwokerto pun aku terkadang malah ditinggal sama Ummi ke Jakarta. Yang membedakan itu cuma kalau di Bandung, pengeluarannya banyak, dan aku tidak punya uang. Kan kerjaanku di sana cuma main-main doang, hehe. Makanya aku pun lebih memilih untuk pulang ke Purwokerto aja.

Lanjut. Singkat cerita, waktu itu akhirnya pendaftaran wisuda pun di buka di pertengahan atau akhir bulan Februari gitu. Lupa. Dan karena aku sudah agak bosan di rumah, akhirnya aku pun langsung pergi ke Bandung beberapa hari sebelum pendaftaran itu di buka. Kebetulan waktu itu ada beberapa temanku yang kedapatan sidang di periode bulan Februari, jadi rasanya aku kayak pengen datang aja gitu ke sidang mereka. Pengen ngerasain euforianya lagi, sama pengen nyemangatin juga. Tapi sayangnya waktu itu, aku cuma bisa datang ke sidangnya dua orang temanku aja: Nanda dan Caca; karena malah keasyikan main di lab, hehe.

Dan waktu pendaftaran wisuda itu akhirnya dibuka, ternyata banyak berkas yang harus disiapkan juga. Mulai dari harus menyumbangkan buku buat perpustakaan dengan persyaratannya yang cukup banyak, sampai harus ke bagian keuangan untuk meminta form yang menyatakan bahwa aku itu udah melunasi semua pembayaran selama kuliah di Telkom. Pokoknya banyak banget deh yang harus diurus, sampai sekitar ada 5 atau 6 bagian gitu yang harus dikunjungin. Tapi kali ini, proses urus-mengurusnya Alhamdulillah berjalan tanpa adanya drama. Lancar-lancar aja gitu. Malah waktu itu aku sampai sempat jalan-jalan sama grup berdelapan itu, waktu lagi nyari-nyari buku buat disumbangin ke perpustakaan. Jadi ceritanya aku beli buku ditemenin banyak orang gitu, wkwk.

Lanjut lagi. Setelah selesai bolak-balik ke sana kemari dan semua bekas lengkap plus sudah di-approve lagi sama Pak Ajid, waktu itu aku langsung nelpon Abi aku. Intinya aku bilang kalau Alhamdulillah akhirnya aku udah selesai ngurus berkas-berkas buat wisuda Maret dan udah disetujui. Dan aku agak terharu waktu itu sama respon Abi. Waktu itu, Abi aku lagi-lagi kedengeran yang kayak bahagia banget gitu. Bahkan beliau sampai bilang kalau mau mengajak nenek aku yang di Cirebon. Iya, nenek yang Alhamdulillah masih sangat kuat beraktifitas di umurnya yang sudah senja itu. Katanya, biar nenek aku bisa datang ke wisuda satu-satunya cucunya yang sudah sarjana. Allah :"

Dan ya udah, akhirnya beberapa minggu setelahnya pun aku kembali memberi tahu Abi bahwa wisudaku Insya Allah bakal diadain tanggal 26 Maret 2017. Waktu itu Abi aku kayak semangat gitu mempersiapkan semuanya. Bukan cuma Abi aku aja, Ummi aku juga. Ummi aku sampai pesan ke penjahit gitu buat ngejahitin baju gamis yang kembar buat Aku, Ais, Azizah dan Ummi aku sendiri―khusus buat dipake di hari aku wisuda. Pokoknya aku benar-benar yang ngerasa kayak, Allah, ini udah termasuk ke salah satu hasil dari keinginanku untuk membahagiakan kedua orang tua belum, ya?

Terus, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Alhamdulillah semua keluarga kecilnya Bapak Heri bisa datang semua, ditambah sama nenekku juga. Bahkan Ais sampai izin dari sekolahnya buat datang ke wisuda aku, soalnya Ais itu kan sekolahnya modelnya boarding gitu, jadinya nggak setiap akhir pekan ada di rumah. Dan waktu itu yang masuk ke ruangan wisuda aku cuma Ummi sama nenekku, karena memang yang diperbolehkan di undangannya cuma dua orang. Tapi waktu di pertengahan acara wisuda itu, ternyata nenek aku memilih buat keluar dari ruangan dan mempersilahkan Abi aku buat masuk. Katanya, biar Abi aku bisa ngeliat secara langsung acara wisuda anaknya. Walaupun di luar gedung itu ada beberapa monitor yang sengaja dipasang sama pihak kampus buat keluarga lain yang tidak bisa masuk, tetapi katanya ngelihat dari monitor sama langsung itu beda rasanya. Iya juga sih.

Oh iya, Alhamdulillahnya setelah selesai sidang yudisium waktu itu, ternyata aku mendapatkan predikat cumlaude seperti yang memang diharapkan oleh kedua orang tuaku. Dan kalau di kampusku itu, setiap anak yang mendapatkan predikat cumlaude itu bakal dikasih sekuntum bunga gitu setelah proses serah-terima ijazah. Jadi bunganya bakal dikasih waktu kami lagi jalan turun buat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Terus karena aku juga cumlaude, jadinya aku juga dapet bunga deh, hehe. Dan bunga itu katanya bakal dikasihin ke orang tua saat acara hiburan sedang berlangsung; waktu ada sesi dua orang yang nyanyi tentang orang tua gitu.

Dan ya udah, waktu lagu itu mulai dinyanyikan, MC yang di depan panggung pun langsung memberikan isyarat gitu biar anak-anak yang megang bunga segera mendatangi orang tuanya masing-masing. Untungnya waktu itu kedua orang tuaku dapat tempat duduk yang tidak jauh dari tempat dudukku. Jadi emang setiap orang tua tuh udah dikasih nomer khusus gitu, jadi nggak akan bisa sembarangan duduk. Dan kalian tahu, waktu aku jalan ngedatengin kedua orang tuaku? Tahu nggak apa yang aku lihat saat itu? Waktu aku lagi jalan dan ngeliat wajah kedua orang tuaku, aku malah ngelihat wajah Abi aku yang lagi nangis. Iya, Abi aku yang nangis, bukan Ummi aku. Dan waktu aku selesai ngasih bunga ke Ummi aku, aku langsung dipeluk sama Ummi dan Abi aku, ditambah dielus-elus juga kepalanya sama Abi aku.

Allah :" Ini pertama kalinya aku ngelihat Abi aku nangis. Waktu itu aku juga jadinya ikutan nangis. Bahkan lagi nulis cerita ini pun aku juga jadi nangis lagi, hehe. Ya gimana ya. Istilahnya kayak aku tuh belum ngasih apa-apa loh sebenarnya. Aku cuma ngasih hasil bahwa aku bisa lulus 3.5 tahun dengan predikat cumlaude, yang ternyata itu udah cukup buat bikin Ummi sama Abi aku bangga. Apalagi sampai bikin Abi nangis kayak gitu. Ya Allah. Sesederhana itu ya sebenarnya kebahagiaan kedua orang tua, tuh? Padahal, aku sendiri masih ngerasa kayak masih jauh dari kata bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Dan ya gitu, saking senangnya Abi sama Ummi aku waktu itu, Abi aku pun benar-benar yang pokoknya mengabadikan semua momen wisudaku saat itu. Mulai dari waktu awal-awal sebelum masuk ke gedung wisuda, sampai akhirnya menjelajahi hampir semua tempat di kampusku. Pokoknya semuanya di foto, kayak foto yang sempat aku tunjukkin di postingan yang ini. Tapi aku juga tetap dikasih waktu buat ketemu teman-temanku gitu. Jadi dari sekitar jam setengah 1 sampai jam-jam setelah sholat Ashar, aku dibebasin buat kemana aja. Soalnya sehabis Ashar itu aku dan keluargaku bakal langsung pulang ke Cirebon. Dan ya udah, akhirnya aku pun membaur ke teman-temanku yang lain.

Waktu itu, Jihan―sahabatku sejak SMK―juga datang ke wisudaku karena memang waktunya juga sama kayak wisuda pacarnya dia, si Andar yang juga teman SMK-ku itu. Dan di situ aku dikasih kepala boneka yang ada pegangannya gitu, yang itu hasil buatan dia sendiri loh. Duh, terharu~ Terus selain ketemu sama Jihan, aku juga ketemu sama banyak banget teman-temanku yang lain, yang ternyata juga nggak aku sangka-sangka ikutan ngasih aku sesuatu. Iya, aku nggak pernah nyangka bahwa bakal ada banyak orang yang datang dan memberikanku sesuatu di hari itu. Tadinya aku pikir, paling cuma beberapa anak lab dan anak kelas aja yang bakal ngasih sesuatu. Tapi, ternyata aku salah.

Di hari itu, aku malah dapat banyak banget buket bunga, jajanan, dan boneka-boneka. Sayangnya aku pernah ngefotoin barang-barang itu, tapi waktu dicari-cari fotonya ternyata nggak ketemu-ketemu. Tapi ih, pokoknya banyak banget deh, sampai menuhin jok belakang mobilku waktu itu. Aku juga sampai kewalahan waktu ngebawainnya, yang akhirnya barang-barang itu pun dibawain sama beberapa temanku. Iya, beberapa. Barang-barangku itu jadinya dibawain sama Aswan, Anang, Hilmy, dan aku sendiri. Ya walaupun aku cuma bawa satu buket bunga aja sih, tetapi ketiga temanku itu ngebawa banyak banget barang yang sampai kedua tangannya tuh penuh. Benar-benar yang sampai nggak muat lagi di tangan-tangan mereka. Aneh banget kan, karena barang-barang itu ternyata sampai harus dibawa sama tiga orang. Iya emang aneh, sih. Teman-temanku aja sampai heran gitu. Eh, jangankan mereka, aku aja sampai heran. Padahal kan, aku itu dikenal sebagai orang yang nggak begitu punya banyak teman, yang temannya ya itu-itu aja. Tapi ya gitu deh, intinya tepat di hari Sabtu, tanggal 26 Maret 2017, akhirnya aku pun resmi menggenggam gelar SKOM dan berhasil diwisuda dengan lancar. Yeay! Alhamdulillah, terima kasih ya Allah :"

Memang, ya. Tidak akan ada usaha yang tidak membuahkan hasil.

Notes: dan hal yang nggak boleh ketinggalan, akhirnya uang semesteran itu boleh ditarik kembali dari kampus tanpa berubah satu digit pun dari nominal awal. Dan beneran jadi buat aku, hehehehehehe.


- The End.

Kamis, Mei 24, 2018

Tidak Ada Usaha yang Tidak Membuahkan Hasil #4

5/24/2018 11:27:00 PM 0 Comments
Sabtu, 26 Maret 2017.
Iya, waktu itu aku masuk ke ruang sidang dengan beberapa temanku. Kalau nggak salah di ruangan itu ada Sitah, Devi, Anang, Kak Panda, Kak Yasmin, Ike, Sem, dan Keju. Padahal sebelumnya aku udah bilang ke mereka kalau yang boleh menontonku sidang itu cuma Sitah, Devi dan Ike. Tapi mereka benar-benar ngeyel, nggak mau keluar walaupun udah diusir-usir gitu. Ya udah deh, akhirnya aku pun menyerah dan membiarkan mereka semua tetap menontonku sidang. Dan tentu saja, aku tetap merasa grogi dan deg-degan saat itu. Benar-benar grogi. Saking groginya, aku sampai sempet-sempetnya menangis di depan Kak Yasmin waktu lagi nungguin pembimbing dan pengujiku yang belum juga masuk ke ruang sidang.

Sampai sekitar lima belas menit, akhirnya kedua penguji dan satu pembimbingku itu pun mulai satu persatu masuk ke ruang sidang. Iya, pembimbingku cuma satu saat itu. Waktu itu, katanya pembimbing duaku sedang berhalangan hadir sehingga hanya pembimbing satuku yang bisa menemaniku sidang. Dan ya udah, tanpa basa-basi, akhirnya sidangku itu pun dimulai. Rasanya gimana? Takut. Sidangku itu ternyata tidak berjalan mulus. Bahkan aku sampai ngerasa kayak aku lagi sidang di ruangan tertutup. Walaupun banyak orang yang sedang menonton sidangku waktu itu, aku sampai kayak yang nggak merhatiin lagi gitu. Jadi kayak sebenarnya antara ditonton banyak orang dan tidak ditonton sama sekali itu tidak ada bedanya, soalnya kita memang cuma bakal fokus sama pembimbing dan penguji yang duduk di depan kita.

Dan ya gitu. Meskipun aku bisa menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan dengan baik, tetapi ada salah satu pengujiku yang sama sekali tidak merasa puas dengan jawabanku. Aku juga sampai sudah dibela sama pembimbing satuku gitu, tapi beliau tetap juga tidak merasa puas. Selain itu, ada juga satu hal yang lucu saat itu. Perhitungan hasil pengujianku yang sehari sebelumnya sudah aku ubah itu ternyata malah disalahkan oleh kedua penguji dan pembimbingku. Katanya, yang benar itu perhitungan yang sebelumnya. Iya, perhitungan yang memang dari awal sudah aku gunakan...

Lanjut. Singkat cerita, akhirnya proses sidang-menyidang itu pun berakhir hampir dua jam setelahnya. Sidang terlama katanya. Dan setelahnya, seluruh penonton sidang termasuk aku pun dipersilahkan untuk keluar dari ruangan karena kedua penguji dan pembimbingku itu akan melakukan sidang tertutup―sidang yang akan menentukan apakah aku berhasil lulus atau tidak. Kalau kalian tanya perasaanku bagaimana saat itu, aku benar-benar nggak bisa ngejelasinnya. Pokoknya campur aduk nggak karuan, tapi aku sama sekali udah nggak bisa nangis lagi. Malah temanku yang nangis, si Sitah itu (wkwk). Dan ya gitu, sidang tertutup itu pun berjalan sekitar sepuluh menit yang tentu saja setelahnya aku kembali dipanggil untuk masuk ke ruangan. Iya, cuma aku.

"Dengan ini saya menyatakan bahwa mahasiswa dengan nama Hannan Izzaturrofa dengan judul TA blablabla belum layak untuk dinyatakan lulus dari sidang periode blablabla..." DEG! Ya Allah. Aku nangis waktu itu. Nangis, benar-benar nangis. Aku nggak lulus? Ya Allah. Meskipun saat itu pembimbing satuku masih meneruskan kalimatnya, tapi aku yang udah nggak bisa dengar apa-apa lagi. Bahkan aku sampai baru menyadari kalau ternyata di ruangan itu tuh udah ada pembimbing duaku. Dan beliau sedang tertawa gitu melihatku. Ya Allah. Aku ditertawakan? Aku agak sedih dan kesal saat itu. Tapi waktu aku menoleh sedikit dan melihat pembimbing satuku yang duduk persis di sebelah pembimbing duaku itu, rupanya beliau juga tertawa. Aku jadi heran dong. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya saat itu.

"Maaf, Pak. Jadi maksud Bapak tadi itu, saya lulus atau tidak ya, Pak?"

Sedepresi itu pertanyaanku wkwk. Dan ya gitu, setelahnya malah dijawab begini sama pembimbing duaku. "Lulus kalau kamu bisa nyelesain revisi." Hahahaha. Kalian tahu bagaimana perasaanku waktu aku mendengar jawaban itu? Kalian tahu? Tahu nggak? wkwkwkwkwk. Rasanya malu. Malu banget. Maluuuu!! Apalagi melihat kedua pembimbingku yang tidak berhenti tertawa itu. Hiks. Ternyata maksudnya itu aku baru lulus bersyarat karena harus menyelesaikan revisi dulu. Hahahaha. Malu. Kenapa harus pakai nangis dulu, sih. Padahal waktu beberapa minggu sebelumnya, Devi juga diperlakukan seperti ini oleh kedua pembimbingku itu. Kebetulan pembimbing aku dan Devi itu sama, dan sewaktu Devi menangis pun aku juga menertawakannya. Eh, sekarang malah aku yang gantian ditertawakan karena hal yang sama.

Dan ya udah, akhirnya aku pun dipersilahkan untuk keluar dari ruangan lagi karena setelahnya ruangan itu akan dipakai buat sidang yang selanjutnya. Jadi aku jalan ke luar ruangan sambil ngebawa beberapa berkas yang udah dicoret-coret dan laptop yang aku peluk seerat-eratnya. Dan pas aku buka pintu ruangan... Jeng! Jeng! Ternyata beberapa anak lab MM sudah berdiri di depan ruangan dan langsung berteriak gitu, memberi selamat sambil beberapa anak perempuan bergantian melukin aku. Duh, mau nangis tapi malu, orangnya banyak banget, jadinya aku ketawa-ketawa aja waktu itu sambil digiring ke pintu samping yang letaknya di depan lab AI. Iya, aku digiring ke situ buat foto-foto. Emang sih, belum sidang rasanya kalau belum foto di tembok bersejarah itu―katanya.

Ini fotoku sama keluarga lab multimedia~ Dan tembok bersejarah yang dimaksud itu ya tembok yang jadi background di foto ini.
Dan waktu itu aku dikasih macem-macem. Dari mahkota, selempang, jajan, kalung, cokelat, bunga, sampai boneka. Itu semua dari teman-temanku yang ada di foto itu. Tapi kalau balon tulisan SKOM itu bukan buat aku, tapi properti milik lab MM. Katanya lab MM nggak mau ngasih apa-apa selain balon buat properti, jadi setiap ada anak MM yang sidang, bakal difoto pakai balon itu (wkwk). Tapi sayangnya sekarang balonnya udah pada nggak tahu ada dimana karena sering dipinjem-pinjemin ke orang lain. Duh, benar-benar jadi properti, ya. Tapi aku di situ nggak cuma foto sama anak lab MM aja. Aku juga foto sama beberapa anak infinine dan beberapa orang yang kenal aku dan nggak sengaja lewat pas aku lagi foto-foto di situ.

Intinya, waktu itu aku ngerasa senang yang benar-benar senang. Lega aja gitu rasanya. Waktu habis foto-foto gitu juga aku langsung nelpon Ummi sama Abi gitu. Alhamdulillahnya mereka berdua juga kedengeran kayak bahagia banget gitu. Alhamdulillah. Dan Alhamdulillahnya juga berarti uang semesterannya bisa aku tarik kembali. He he he. Tapi meskipun begitu, aku belum boleh terlalu lama bersenang-senang juga. Waktu itu, jarak antara aku sidang TA dan sidang yudisium itu cuma beberapa hari, nggak sampai seminggu. Aku lupa pastinya, tapi yang aku ingat saat itu, kalau aku nggak bisa menyelesaikan revisi dan ikut sidang yudisium bulan itu, berarti aku juga nggak akan bisa wisuda bulan Maret. Atau uangku nggak jadi dibalikin ya? Lupa.

Pokoknya karena itu, aku cuma bisa bersantai sehari aja. Iya, jadi dari sore sampai malam itu aku benar-benar yang istirahat. Aku nonton TV di kamar Sitah sampai sekitar jam 8 malam, terus langsung tidur aja gitu sampai shubuh. Waktu itu badanku rasanya kayak yang capek banget, dan aku juga tidurnya pules banget. Tapi ya gitu, karena emang waktunya terbatas, jadi pagi-pagi sekitar jam 6 pun aku harus kembali ke lab MM untuk menyelesaikan revisiku. Agak sedih sih, soalnya teman-temanku yang lain punya waktu sampai dua minggu lamanya untuk menyelesaikan revisi. Tapi waktu itu aku mikir lagi, Allah itu udah baik banget sama aku. Masa aku mau menyia-nyiakan kebaikan Allah yang besar ini? Jadi ya gitu. Akhirnya hari-hariku pun kembali dipenuhi dengan pengerjaan revisi dan bimbingan.

Tapi Alhamdulillahnya proses revisi dan bimbingan itu pun berjalan dengan mulus. Bahkan pembimbing duaku malah jadi sering membercandaiku ketika kami tidak sengaja bertemu. Katanya, "Ciyee yang udah SKOM." Hahaha. Tapi sungguh, pembimbing duaku itu kan orangnya agak-agak canggung sama perempuan ya. Jadi melihat beliau seperti itu tuh aku malah yang jadi kayak speechless gitu. Nggak tau mau ngerespon atau ngomong apa. Ya jadinya aku pun cuma ketawa-ketawa aja, hehe.

Tapi namanya bukan Hannan ya kalau kehidupannya belum penuh dengan drama. Jadi setelah selesai dengan revisi-revisi itu, berarti saatnya move on ke proses pendaftaran sidang yudisium yang ternyata juga nggak mudah. Aku harus bolak-balik ke admin, kemahasiswaan, dan beberapa bagian-bagian lain untuk mendapatkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Udah gitu, persyaratan sidang yudisium waktu itu tuh banyak banget. Dari mulai harus bikin poster, buku TA yang dijadikan file .pdf, .doc, dan .html. Terus juga harus ada CD yang dikasih cover sesuai aturan. Pokoknya banyak lah, sampai soal pembayaran toga wisuda juga. Dan waktu itu aku harus menyelesaikan itu semua dalam satu hari. Jadi hari itu, aku benar-benar yang gimana ya, sibuk banget gitu. Mondar-mandir ke sana kemari.

Bahkan aku sempat hampir nangis karena ada beberapa berkas yang salah dan kurang karena saking terburu-burunya saat itu. Tapi Alhamdulillahnya waktu itu Pak Ajid yang mengurusi berkas-berkas itu tuh baik banget. Beliau tidak marah sama sekali walaupun aku sudah bolak-balik ke ruang admin untuk memberikan berkas yang terus-terusan salah dan kurang. Apalagi di ruang admin itu tuh ramai banget. Ada banyak mahasiswa yang juga sedang mengurus berkas yudisium, dicampur sama beberapa mahasiswa yang sedang mengurus berkas-berkas geladi. Pokoknya, ruang admin waktu itu tuh sesak banget. Tapi waktu itu aku ditemani sama Sem dan Ike, sih. Padahal mereka udah selesai ngurusin berkas-berkasnya di hari itu. Emang lah ya, mereka itu teman terbaik lah pokoknya.

Dan seperti janji Allah yang tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya; setelah drama-drama itu berlalu, akhirnya aku pun bisa daftar sidang yudisium dan resmi menjadi pengangguran. Yeay! Alhamdulillah.

Tapi, ternyata masih ada cerita lanjutannya, loh.


- To be continued.

Tidak Ada Usaha yang Tidak Membuahkan Hasil #3

5/24/2018 10:09:00 PM 0 Comments
Sabtu, 26 Maret 2017.
Iya, waktu itu pembimbing duaku mempertanyakan hasil kinerjaku selama ini. Katanya, apa yang aku kerjakan selama ini tuh belum layak disebut sebagai TA. Perasaan aku benar-benar nggak karuan saat itu, dan aku juga berusaha biar nggak nangis di situ. Iya lah, masa iya aku nangis di ruangannya beliau? Malu dong, hehe. Dan setelah beliau selesai menceramahiku, aku pun langsung jalan cepat gitu ke lab MM. Niatku waktu itu cuma satu, pengen nonton video-video lucu biar aku nggak nangis. Soalnya waktu itu, perasaanku benar-benar lagi campur aduk banget.

Dan waktu akhirnya aku bisa duduk di depan komputer, tiba-tiba Hilmy yang duduk di sebelahku itu manggil aku. Mungkin karena emang perasaanku yang lagi kacau, mata aku mungkin juga agak keliatan sedikit berkaca-kaca. Jadi ya gitu, Hilmy manggil aku dan nanyain aku lagi kenapa. Ya udah deh, kayak bom aja gitu, aku jadi nggak bisa nahan air mata lagi dan malah nangis di depan Hilmy waktu itu. Malu banget, Ya Allah malu banget. Si Hilmy juga kayaknya jadi bingung gitu ngeliat aku yang tiba-tiba nangis. Dan ya udah, aku cuma bilang ke Hilmy kalau aku belum bisa sidang, terus langsung buru-buru pergi ke kamar mandi buat nangis sejadi-jadinya. Dan setelah puas nangis di kamar mandi, aku langsung pulang ke kos gitu aja dan nggak balik ke lab MM lagi, soalnya masih malu buat ketemu Hilmy. Tapi cuma beberapa menit aja aku bisa tahan di kos karena emang laptop dan hp aku masih di lab, jadinya bingung juga aku mau ngapain di kos. Akhirnya aku pun memberanikan diri balik lagi ke lab, nyalain komputer dan pasang headset; mengabaikan Hilmy yang ketawa-ketiwi di sebelahku.

Tapi meskipun mungkin pembimbing duaku udah nggak percaya lagi sama kemampuanku, tapi aku masih punya harapan di pembimbing satuku. Makanya waktu itu malamnya aku masih tetap berusaha semaksimal mungkin buat ngelanjutin pengerjaan TA-ku itu, soalnya besok aku bakal bimbingan sama pembimbing satuku. Dan memang ya, pembimbing satuku itu benar-benar terbaik. Beliau benar-benar lebih menghargai proses daripada hasil, sehingga sewaktu aku bimbingan beliau sama sekali nggak pernah mengatakan bahwa aku udah gagal. Malah beliau sangat mendukungku untuk tetap mendaftar di sidang periode kedua itu. Tapi bukan berarti pembimbing duaku itu jahat, ya.  Mungkin beliau memang kecewa denganku yang jarang bimbingan, dan memang tidak pernah melihatku mengerjakan TA, sehingga wajar kalau kemarin beliau berkata begitu. 

Dan ya gitu. Alhamdulillah akhirnya aku pun bisa mendaftar di sidang periode itu. Tapi meskipun aku sudah mendaftar sidang, bukan berarti setelahnya aku malah jadi santai-santai. Enggak sama sekali. Setelah berkas-berkas sidang udah lengkap dan di-approve sama Pak Ajid (bapak admin yang paling baik dan tidak jutek di kampus), aku tetap fokus sama pengerjaan TA-ku. Pembimbing satuku itu juga jadi lebih strict dan lebih cerewet dari biasanya. Hasil kodingan, hasil pengujian, buku TA, semua dikomentari-dibahas-dan dicoret-coret. Pokoknya benar-benar udah nggak ada waktu buat main-main lagi. Sampai akhirnya jadwal sidang pun keluar.

Ya Allah. Waktu jadwal sidang itu keluar, aku benar-benar yang kayak deg-degan sampai gemeteran gitu. Iya, aku sampai kayak gitu, nggak tau kalau kalian. Pokoknya aku sampai meluk temanku―Sitah―yang waktu itu pertama kali ngasih tahu kalau jadwal sidang udah keluar. Pengen nangis pun udah nggak bisa, dan teriak juga nggak mungkin. Intinya jadwal sidangku itu sangat dekat dengan hari dimana pengumuman jadwal itu keluar. Aku jadi kalang kabut dong. Dan aku benar-benar nggak tidur beberapa hari itu. Benar-benar ngerjain, ngerjain, dan ngerjain terus. Bahkan aku sampai bimbingan via what*app sama pembimbing satuku itu di pagi-pagi buta, sekitar jam setengah 3 pagi. Bukan aku yang pertama kali menghubungi beliau loh ya, tapi beliau sendiri yang menghubungiku, jadi aku bukan mahasiswa yang tidak tahu diri.

Tapi meskipun sudah sampai segitunya, tetap saja lagi-lagi pembimbing duaku itu kembali membuatku menangis. Jadi waktu itu, aku dipanggil lagi sama beliau buat menemui beliau di ruangannya. Saat itu nggak cuma aku yang dipanggil, tapi ada satu temanku yang sudah sidang dan lagi bimbingan revisi gitu. Terus tiba-tiba, pembimbingku itu bilang gini. "Kamu memangnya udah siap buat sidang besok? Saya nggak khawatir sama TA kamu, saya malah khawatirnya sama kamu. Lihat nih, emang perhitungan begini bisa dipake buat hasil akhir TA kamu?" Begitu pokoknya. Padahal, perhitungan yang aku tulis di buku TA itu tuh udah sesuai sama pembimbing satuku. Tapi ternyata tidak sesuai sama pemikiran pembimbing duaku. Dan aku juga sudah menjelaskan dengan sedetail-detailnya saat itu, tetapi ternyata hasilnya tetap nihil. Aku tetap harus mengganti cara perhitunganku itu. Di saat aku harus sidang besok siang. Iya, besok siang harus sidang, tapi aku harus nge-running ratusan dataset itu lagi untuk pengujian.

Tentu saja waktu itu rasanya aku pengen nangis sejadi-jadinya, tapi lagi-lagi aku tahan kuat-kuat. Apalagi di situ ada temanku yang kelihatannya juga agak kasian gitu sama aku, terlihat dari raut wajahnya sih. Dan pas akhirnya aku keluar dari ruangan pembimbingku itu, aku sengaja ngelama-lamain gitu jalan ke lab MM-nya. Aku berusaha mengatur emosi dan perasaan dulu, takut nanti tiba-tiba ditanya lagi sama anak-anak di lab. Eh, tapi ternyata sewaktu aku sampai di depan proclub, tiba-tiba salah satu temanku―Shamila, yang biasa aku panggil Semkeluar dari ruangan dan memanggilku; menanyakan bagaimana hasil bimbinganku saat itu.

Karena berkaca dari kejadian sebelumnya dan tidak mau itu sampai terulang lagi, aku pun langsung minta ke Sem itu untuk tidak perlu banyak nanya dulu. Tetapi mungkin dia malah jadi semakin penasaran ya, dan malah langsung memegang pundakku dan kembali menanyakan hal yang sama. Alhasil, ya sudahlah, aku kembali menangis saat itu. Benar-benar nangis yang nangis sejadi-jadinya gitu, padahal saat itu aku masih berdiri di depan proclub. Untungnya koridor gedung E lagi sepi waktu itu, jadinya tidak ada satu orangpun yang melihatku menangis selain Sem. Dan Sem pun waktu itu langsung memeluk dan menenangkanku. Iya, dia memang memelukku. Tapi setelahnya dia juga yang menjadikan tangisanku itu sebagai bahan ejekan setiap kali kami bertemu dengan teman-temanku yang lain. Menyebalkan sekali. Tetapi aku tetap sayang Sem, sih, hehe.

Tapi mau bagaimanapun, sesedih dan sekecewa apapun itu, besok aku harus tetap sidang, kan? Makanya malam itu, aku benar-benar tidak tidur. Aku mengulang pengujian dari awal dan mengganti rumus dan hasil akhir di buku TA-ku. Sampai paginya pun aku masih terus ngerjain, sampai sekitar jam 6 pagi. Dan ya udah, setelah itu aku langsung pulang, mandi, dan kembali lagi ke kampus buat nyetak buku TA-ku itu biar bisa dilihat sama penguji dan pembimbingku nanti. Pokoknya aku benar-benar sibuk, dan sampai harus lari-lari juga buat nyari OB yang biasa megang kunci ruang rapat dosen. Iya, jadwal sidangku itu jam 1 siang di ruang rapat dosen. Dan saat itu, aku dibantu oleh teman terbaikkuDeviyang memang sudah sidang seminggu atau dua minggu sebelum aku sidang hari itu.

Singkat cerita, aku baru selesai mempersiapkan semuanya itu sekitar jam 10-an. Dan setelah selesai sholat Dhuha, aku waktu itu cuma duduk-duduk aja di sofa lab MM sambil nunggu jam 1 siang. Soalnya kata teman-temanku yang sudah sidang, beberapa jam sebelum sidang tuh kita nggak boleh stress dan harus menenangkan diri. Makanya waktu itu aku milih buat duduk-duduk aja sambil ngobrol-ngobrol sama Devi, Ike dan Kak Panda. Oh iya, Ike ini dulunya adalah teman SMP-ku yang nggak disangka-sangka juga jadi teman sekelasku di kampus. Dan kalau Kak Panda, beliau ini kakak tingkat yang menjadi kakak semua anak matlab di lab MM. Beliau kakak yang paling care diantara semua kakak yang ada lah pokoknya. Dan waktu itu, kata Kak Panda, wajahku benar-benar kayak mayat gitu, pucat banget. Emang sih, kebetulan hari itu aku juga sedang tidak enak badan karena beberapa hari sebelumnya kurang tidur. Badanku agak panas dan aku juga sedikit flu. Tapi mau bagaimana lagi, siang itu kan aku harus tetap sidang.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Iya, akhirnya aku pun masuk ke ruangan sidang sekitar jam setengah 1 lebih setelah selesai sholat Dhuhur, ditemani beberapa teman-temanku.


- To be continued.

Follow Us @soratemplates