bts, let-go, lirik, lyrics

Let Go

4/27/2018 01:09:00 AM
Before we say goodbye, let go, but I’m lost in the maze of my heart;
from stereo to mono, that’s how the path splits.

If my fate is to disappear like this, then this is my last letter;
penned words, written then erased feelings for you;
so many to let go, unpuzzle my lego at a level where it can’t return to its original shape;
so be it, don’t cry, I’mma let you go and fly.

Hectic days, keeping myself busy, distraction filled schedule;
burned into the back of my mind like tattoo;
we can’t return to those days, if I could I’d call your name;
no… but I’ll accept your blame, it really is time to say goodbye.

In order to release your hand right now;
I gotta let you know, that I need to let you go;
hard to say goodbye, but I can’t run;
I’m ready to let go.

What have you been up to lately?
Who are you thinking of so far away?
Life without you is really, unbelievable, but even so I still gotta go;
to the person I loved too much, to the red thread that got too entangled in itself.

I couldn't reach you, so I'll walk a separate path, for that reason I’ll say goodbye.

At first every day is like that, beyond the tears hidden in the rain;
I’ll wait for you, let’s start over;
so that in the future, I can meet you again with a smile.

The color of the sky we saw together;
the scent of the path we walked down together;
don’t forget them :)


This lyrics is from BTS, Let Go;
ditulis pada Jumat, di malam yang sebenarnya pagi;
yang saya tidak menyangka, pertama kalinya saya mengoding;
sampai lupa waktu, dan tiba-tiba terputar lagu ini;
keren sekali comeback Jepangnya.

bipolar, karya, puisi

Aku Ini Monster

4/24/2018 10:15:00 AM
Aku ini monster.
Tapi topengku sangatlah cantik.
Bak bunga di musim semi.
Senyumku mampu hilangkan pilu.

Aku ini monster.
Terlahir dari sebuah penyakit.
Bermuka dua penuh kepalsuan.
Demi bertahan untuk tidak dikucilkan.

Aku ini monster.
Lalu mereka mulai membenciku.
Tapi tidak dengan topengku.
Karena aku ibu peri dengan itu.

Aku ini monster.
Dan sempat terbesit dalam hati.
Apakah menghilang pilihan terbaik?
Karena tak selamanya aku menyembunyikan itu.


Selasa, 24 April 2018;
saat menulis ini, aku bertanya dalam hati;
apakah cinta hanya memandang bahagianya saja?
secepat itu melepaskan hati; meninggalkan luka;
tanpa peduli apa yang telah tergoreskan.
karya, puisi

Biasanya, Dia...

4/24/2018 01:37:00 AM
Dia yang selalu bahagia;
biasanya yang paling sedih hatinya.

Dia yang selalu tersenyum;
biasanya yang paling sering menangis di malam-malamnya.

Dia yang selalu ceria;
biasanya yang paling terpuruk harinya.

Ya, dia;
yang lebih suka menutup diri,
yang pandai menyembunyikan rasa,
hanya akan terbuka pada dirinya,
atau setidaknya hanya satu orang,
yang sangat disayangkan,
biasanya tak dapat menerima, kekurangannya;
biasanya yang paling butuh dukungan untuk hidupnya.

Karena dia yang sebenarnya lemah;
biasanya hanya dicintai karena topeng cantiknya.


Selasa, pada malam-malam yang panjang.
brankasRindu, curhat, diary

Brankas Rindu: Kota Metropolitan

4/23/2018 04:13:00 PM
Jika aku menilik balik kisah-kisahku di masa lalu, sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki satupun kenangan indah dari pengalaman hidup di kota metropolitan ini. Mungkin aku belum mampu untuk mengingat apapun saat usiaku baru menginjak angka 2 hingga 5 tahun; namun, saat ini pun ketika aku sudah memiliki kemampuan untuk merekam secara detail setiap hal yang terjadi dalam hidupku, nyatanya aku tetap merasakan hal yang sama, tanpa ada perubahan sedikitpun.

Entahlah, mungkin kota Jakarta terlalu keras untukku. Aku masih mengingat kejadian dimana aku sempat menolak untuk dipindah tugaskan ke kota ini; ketika aku masih bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi yang terletak di Bandung. Saking 'phobia'-nya terhadap kota metropolitan ini, aku justru memilih resign dari tempat kerjaku dan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Terlalu berlebihan ya? Entahlah. Sebenarnya aku pun tidak tahu secara pasti apa penyebab dari ketakutanku ini. Jangankan penyebabnya, aku bahkan tidak pernah ingat bahwa Abi pernah memiliki pekerjaan sampingan sebagai penjual kaos sablonan; tidak ingat dimana letak dan bagaimana suasana rumah lamaku; dan tidak ingat siapa saja teman-temanku. Tapi, ada satu hal yang masih aku ingat hingga sekarang; sebuah kenangan ketika aku tinggal di sebuah daerah di pinggiran kota Jakarta.

Saat itu, seingatku, aku mengenal seorang teman; perempuan, yang setiap harinya selalu membangga-banggakan saudara-saudaranya di hadapanku. Ya, dia memiliki dua-tiga kakak yang aku lupa secara pasti berapa jumlahnya; yang hal itu selalu ia pamerkan kepadaku. Dan seperti yang kalian tahu, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara; saat itu, sedangkan hampir semua teman-temanku memiliki kakak. Bahkan, aku tidak diperbolehkan olehnya untuk ikut bermain; karena kondisiku yang merupakan anak pertama saat itu. Aku dikucilkan, hanya karena aku adalah seorang anak pertama. Bahkan, adik laki-lakiku pun diperbolehkan ikut bermain oleh mereka.

Namun, seingatku pula, beberapa temanku yang juga merupakan anak pertama tetap ia perbolehkan untuk ikut bermain bersamanya. Entahlah; aku juga tidak mengerti mengapa hanya aku yang dikucilkan saat itu. Tapi, aku masih ingat sekali kalimat itu. Kalimat yang pada saat itu, di masa itu, dengan umurku yang masih segitu, mampu membuatku menangis meraung-raung di pojok lapangan; dengan posisi dia yang duduk di tangga-tangga lapangan sambil terus meneriakiku dengan olokan-olokannya. Kejadian yang mungkin saat ini terbaca begitu sederhana, namun sangat membekas di memoriku.

Mungkin hal itu yang membuatku tidak begitu menyukai kota ini; meski pada kenyatannya aku kini bekerja di sini.


Jakarta, 23 April 2018; 16.13
Aku menulis untuk menghilangkan sedih;
aku menulis untuk menghilangkan sepi;
aku menulis untuk membahagiakan diri;
meski apa yang aku tulis adalah sebuah kesedihan.