Senin, Maret 28, 2016

SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!

“La tahzan Innallaha ma’ana” - Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. [9:40]
 
Tak disangka semester ini aku memegang amanah dan diberikan nikmat yang cukup banyak oleh Allah. Kedua potongan surah tersebut benar-benar menjadi alarm untukku melangkah saat ini. SEMANGAT!

"Innallaha Ma’ashabirin" - Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar.[8:46]

Jumat, Maret 18, 2016

Belum Saatnya, Kawan

Rasanya baru semester ini aku mengatakan bahwa aku tidak boleh jatuh cinta, namun apa daya, sepertinya rasa itu memang tidak bisa aku cegah kedatangannya. Ia seakan-akan terus hidup meskipun aku berusaha untuk melupakannya. Ah, sosoknya benar-benar mampu menerbangkanku meski akhirnya kini aku dihempaskan secara perlahan. Ya, perlahan.
Mungkin Allah saat ini mematahkan hatiku karena aku sedang mencintai orang yang salah. Cinta ini memang tidak seperti di drama-drama yang akan berakhir bahagia. Cerita cinta ini sungguh berbeda. Lawanku bukanlah seorang yang mendekati sempurna dengan sedikit sisi buruknya. Tidak. Ia adalah seseorang yang bisa dibilang cukup sempurna untuk seorang gadis remaja yang sedang beranjak dewasa. Memang, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Namun, kekurangannya bukanlah sebuah keburukan yang bisa dibandingkan denganku yang mungkin tak sebanding dengan segala kelebihannya.
Ya, mungkin Allah memang sedang memperingatiku karena aku mencintai seseorang di waktu yang tidak tepat. Masih banyak hal-hal lain yang seharusnya menjadi prioritasku saat ini. Tidak seharusnya aku memikirkan soal cinta yang membuatku hanya melangkah di tempat yang sama di setiap harinya.
Ah, rupanya aku memang harus disakiti agar dapat melupakannya.

Jumat, Februari 05, 2016

Apapun itu.

Sekiranya sekitar seminggu ini, ketika aku sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal kuliah dan kegiatan lain, tanpa aku sadari aku mulai mempelajari sesuatu. Ya, sesuatu yang belum tentu orang lain dapat memahami dan menerimanya. Sesuatu yang mungkin, semua orang tidak akan ingin mengalaminya. Sesuatu yang mungkin tampak begitu menyakitkan, namun Insya Allah dapat membuat orang yang merasakannya menjadi lebih kuat.

Kalian tahu? Seminggu ini aku baru mempelajari tentang penyakit lupus. Ya, sebuah penyakit autoimun, atau penyakit dimana sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang itu menyerang tubuhnya sendiri. Antibodi yang seharusnya melindungi tubuh dari bakteri, virus, atau yang lainnya justru menjadi error atau salah respon. Dan yang aku tahu, menurut seorang professor, penyebab dan obat dari penyakit ini belum diketahui dan masih dalam tahap penelitian. Sebenarnya autoimun sendiri bukan cuma lupus. Ada yang rematoid artritis (yang menyerang tulang dan sendi), scleroderma, diabetes tipe 1, syndrome sjorgen, anti pospolipid syndrome (darah cendurung mengental), ITP (menyerang trombosit), dan lain sebagainya.

Odapus (orang yang menderita lupus) biasanya benar-benar tidak bisa terkena paparan sinar matahari secara langsung dan terlalu lama, menderita kelelahan fisik, stress, berada di lingkungan yang salah, dan kedinginan. Kalau saja mereka mengalami salah satu dari itu, maka lupus itu pun langsung menyerang tulang dan sendi, sehingga rasanya linu sekali. Tidak hanya itu, lupus ini pun dapat menyerang jantung (aritmia), saraf (neuropati), dan hemiparese (lebih dominan tubuh bagian kanan). Ada pula beberapa yang timbul lebam-lebam di badan, pingsan (seperti koma), dan kejang-kejang. Kejang-kejang itu sendiri pun ada beberapa jenisnya, seperti tiba-tiba saja bengong atau blank, kejat-kejat (ini yang biasanya kita tahu), gemeretak giginya, dan ada juga yang seperti kesurupan.

Setiap odapus pun memiliki gejala yang berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Selain itu, hormon pun dapat menjadi pemicu kambuhnya penyakit lupus ini. Jadi, saat odapus mengalami masa-masa haid, maka lupus ini pun bisa bangkit kembali. Odapus menjadi moody-an, mudah sedih, mudah marah, atau tiba-tiba senang. Sel-sel yang muncul saat sedih, marah, atau terlalu exciting pun dapat menjadi salah satu pemicu kambuhnya si lupus ini. Odapus sendiri pun tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka mengalami hal-hal tersebut.

Ya, genetika seorang odapus sedang diteliti, namun memang tidak semudah kita mencari tahu tentang penyakit jantung maupun diabetes yang lebih mudah ditelusuri. Lalu, kalau kanker kan yang menyerang sel-sel itu sendiri  ya, sehingga dibutuhkannya peningkatan dari imunitas. Nah, kalau lupus ini justru imunitasnya harus ditekan, dan gejalanya pun menyerupai penyakit lain, jadi benar-benar tidak mudah untuk mendeteksinya. Sedihnya itu, lupus bisa membuat odapus menjadi benar-benar down. Ada yang sampai mengalami kebutaan, lumpuh, menyerang jantung, ginjal, kulit, sendi, tulang, dan paru-paru. Bahkan, ada odapus yang bisa jatuh pada titik nol dimana odapus merasa benar-benar kesakitan dan don’t know how to do.

Kebanyakan orang belum benar-benar mengetahui apa itu lupus ya, sehingga terkadang si odapus dikira manja karena tidak boleh panas-panasan, atau malas karena harus bedrest (saat tulang dan sendi terasa nyeri dan nggak bisa banyak gerak). Kadang juga tuh, sampai dipandang sebelah mata karena mau nggak mau harus tidak masuk sekolah/kuliah/kerja karena lupusnya sedang kambuh, meskipun beberapa menit sebelumnya masih terlihat baik-baik saja.

Ya, orang-orang di sekitar odapus ini benar-benar harus peka dan tidak langsung nge-judge ya, biar si odapus ini nggak jadi makin stress. At least, mereka mau mengerti tentang kondisi si odapus ini. Coba aja bayangin, waktu lagi ulangan atau ngerjain tugas dan tiba-tiba lupusnya kambuh, contohnya tiba-tiba nggak bisa nulis gitu, apa yang harus odapus lakuin coba? Dipaksain pun nggak akan bisa, karena benar-benar tangan kanan itu tiba-tiba lumpuh. Berarti, peran orang-orang di sekitar itu benar-benar penting kan untuk menyemangati si odapus ini saat lupus menyerang tubuhnya?

Inti dari postingan ini sih, aku cuma mau membagi informasi mengenai penyakit lupus ke pembaca sekalian. Ya, setidaknya kalian tahu apa itu lupus dan bagaimana ciri-cirinya, meskipun sebenarnya gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lupus ini terkadang benar-benar mirip dengan penyakit-penyakit lainnya. Dan setidaknya pun kalian bisa menghargai orang-orang yang tiba-tiba kita anggap manja karena tidak mau panas-panasan atau tidak mau bergerak. Meskipun aku tidak berharap itu merupakan gejala dari penyakit lupus, tapi setidaknya kita mau mengerti bahwa mereka memiliki alasan tersendiri mengapa mereka seperti itu.

Dan terakhir, asal kalian tahu, informasi ini aku dapatkan bukan hasil dari googling dari internet. Alhamdulillah, orang-orang yang memberitahu aku pengetahuan ini benar-benar sangat membantu dan pengertian ya. Mereka tidak patah semangat, sehingga odapus pun seharusnya tidak mudah menyerah dengan keadaan yang dialaminya. Benar begitu, bukan? J

Selasa, Februari 02, 2016

Dilarang Jatuh Cinta

Tak terasa sudah 3 (tiga) minggu lamanya aku memasuki semester 6 (enam), dan tak ku sangka bahwa begitu banyak hal yang telah terjadi. Dimulai dari dosen yang entah mengapa pada semester ini terasa semakin ngaco. Ada 4 (empat) dosen yang cara pengajarannya sungguh tidak mengenakkan, sehingga membuat aku tidak lagi dapat bersantai seperti semester-semester sebelumnya. Keempat-empatnya sungguhlah baper (bawa perasaan), membuat kegiatan perkuliahan terasa sangat menegangkan. Selain itu, kelompok pada mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu dosen tersebut sangatlah memprihatinkan, sehingga aku mulai merasa takut dan sedikit putus asa. Berlebihan memang, namun itu apa adanya, lho.
Selain itu, pada semester ini aku mengambil kelas Tugas Akhir (TA), sehingga dibutuhkannya perhatian lebih. Luar biasa bukan? Masalah yang entah mengapa belum juga ketemu membuat judul tak juga kunjung tercipta. Selain itu, salah satu mata kuliah berhasil membuatku pusing, karena materi yang entah mengapa tidak juga dapat aku pahami. Padahal, dosennya termasuk enak, lho.
Pun di semester ini aku sedang suka-sukanya membaca novel, sehingga aku harus membagi waktu yang aku miliki tersebut untuk mencari judul TA, belajar, kuliah, dan membaca novel. Namun, mengapa sebanyak apapun aku membaca, aku tak juga kunjung mendapatkan niat yang kuat untuk menulis, ya? Payah memang.
Ah, rupanya semester 6 (enam) ini lebih berat, sehingga aku dilarang untuk jatuh cinta. Bisa gawat nantinya.